Bab 4
Debut Alicia di kalangan masyarakat kelas atas, paling tidak, sukses besar. Bisa dibilang pantas mendapat nilai penuh seratus, tidak, bahkan seratus dua puluh. Desas-desusnya sebagai berikut:
"Apa kau dengar? Katanya dia berhasil menaklukkan sang Raja Iblis yang terkenal kejam dan pantang menyerah, pria yang bahkan tak bisa didekati oleh nona muda lainnya."
"Tampaknya hanya pada putri itulah sang Raja Iblis yang kejam dan berhati dingin menunjukkan wajah lembut yang tak pernah ia perlihatkan pada orang lain."
"Benarkah itu? Sulit dipercaya."
"Bagi sang Raja Iblis yang begitu dimabuk kepayang—seberapa cantik sebenarnya dia?"
"Mungkinkah dia reinkarnasi Lady Eleanor, 'wanita tercantik di tiga kerajaan'?"
"Tidak, kudengar Yang Mulia bahkan tidak melirik Lady Eleanor sedikit pun di acara itu."
"Apa!? Apa itu berarti dia bahkan lebih cantik dari Eleanor!?"
"Dan katanya dia memiliki keanggunan yang begitu menakjubkan hingga bangsawan tertua dari Delapan Adipati Agung, Duke Wales, berlutut di hadapannya."
"Wow, itu wajah yang benar-benar ingin kusaksikan sendiri!"
Begitulah, Alicia dengan cepat menjadi buah bibir di istana, bahkan menutupi pesona Eleanor. Fakta bahwa Wilfred telah menunjukkan sisi lembutnya kepada istrinya adalah pengungkapan yang benar-benar mengejutkan bagi masyarakat bangsawan, bagaikan petir di siang bolong.
Adapun bagi orang yang bersangkutan sendiri...
"Lebih cantik dari Lady Eleanor!? Keanggunan yang menakjubkan!? Itu benar-benar terlalu berlebihan!"
Alicia merasa agak kebingungan dengan semua pujian itu.
"Kalau ada yang mendengar rumor itu dan kemudian melihatku secara langsung, mereka pasti akan sangat kecewa."
"Begitukah? Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, kau jauh lebih cantik daripada Eleanor."
"Oh, terima kasih."
Pipi Alicia memerah samar saat ia menerima pujian itu dengan senyum malu-malu nan bahagia.
"Tapi, Yang Mulia, hanya Anda satu-satunya orang yang akan mengatakan hal itu padaku~. Mulai sekarang, setiap kali aku bertemu seseorang, mereka mungkin akan menatapku dan berpikir, 'Hah?' atau 'Cuma begini?' atau 'Kalian bercanda, kan?'"
Ia menghela napas panjang dan berat.
Bagi wanita mana pun, "kecantikan" adalah hal yang sangat penting.
Bahkan Wilfred bisa memahami betapa menyedihkannya melihat kekecewaan di mata orang-orang mengenai aspek sepenting itu.
(Aku benar-benar mengacaukannya.)
Wilfred menggaruk bagian belakang kepalanya, tampak gelisah.
Karena latar belakangnya sebagai rakyat biasa, Alicia selalu berhati-hati agar tak membawa aib atau rasa malu bagi Wilfred.
Itulah sebabnya, untuk menenangkannya, ia mencoba memberi tahu gadis itu bahwa semuanya berjalan lancar dan penerimaan terhadapnya sangat positif. Namun hal itu malah menjadi bumerang. Kerumitan hati seorang wanita memang sulit untuk dipahami.
"Dan di samping itu, 'keanggunan yang menakjubkan'... Itu sama sekali tidak masuk akal bagiku."
"Bukan, aku sejujurnya berpikir kau memang memilikinya," jawab Wilfred dengan wajah datar.
"Permisi? Apa yang Anda katakan? Mana mungkin itu benar! Aku dibesarkan sepenuhnya sebagai rakyat biasa. Kalaupun ada, aku yakin aku punya sedikit aura rakyat biasa, tapi keanggunan...?"
"Itu benar, ini memang berbeda dari jenis keanggunan yang biasanya dibicarakan kaum bangsawan, namun saat kau ada di dekatku, seluruh suasana terasa menjadi lebih cerah, dan itu... menenangkan. Benar kan, Arthur?"
Berhubung itu adalah kesempatan yang bagus, ia menoleh ke tamu muda yang duduk di sebelah mereka, yang telah diundang makan siang sesuai janji di pesta beberapa hari sebelumnya.
Di lingkungan yang tak dikenal, bisa jadi sulit untuk ikut serta dalam percakapan, jadi Wilfred berpikir topik ini mungkin adalah sesuatu yang bisa dipahami oleh anak laki-laki itu dan melibatkannya dalam diskusi.
"Ya, saya setuju dengan Yang Mulia. Itu... menenangkan," Arthur mengangguk dua kali.
Jika ia hanya berusaha menenangkan raja, satu anggukan sudah cukup.
Ini tak diragukan lagi adalah pendapat jujurnya.
Memang benar, bukan hanya Wilfred dan Arthur; siapa pun yang berbicara dengan Alicia tampak menjadi rileks dan tersenyum. Hal ini berlaku baik di kantor maupun di pesta tempo hari.
Bahkan dengan Raja Iblis yang kejam berada di dekatnya, ia mengubah suasana sepenuhnya, mewarnainya dengan kehadirannya.
Itu bukanlah sesuatu yang mudah dicapai.
Pengaruhnya, layaknya hangatnya sinar matahari musim semi, pada dasarnya berbeda dari keanggunan dangkal yang bisa diperoleh siapa pun melalui pelatihan.
Dalam banyak mitologi, dewa matahari dianggap sebagai dewa tertinggi.
Dalam hal itu, gadis itu benar-benar memiliki kualitas dewa, sebuah kualitas yang membuatnya pantas menyandang gelar "ratu," atau setidaknya begitulah pikir Wilfred.
"Itu cuma karena aku agak kikuk dan bodoh," ucap Alicia, tampaknya tak menyadari pengaruhnya, dan menghela napas berat lagi.
Lalu ia menambahkan, "Dan itu hanya membuat orang-orang menertawakanku ke mana pun aku pergi. Ya, termasuk Anda, Yang Mulia."
Gadis itu melotot ke arahnya dari sudut matanya.
"Ah..."
Wilfred ragu-ragu, mengingat saat-saat yang terasa begitu familiar. Kendati ia tak percaya itu adalah satu-satunya alasan di balik suasana yang melunak, tak bisa disangkal bahwa hal itu memainkan peran penting.
"Ibuku bilang bahwa 'Pesona Alicia itu hanyalah sifatnya yang menggemaskan, jadi aku tak perlu mengkhawatirkannya'..."
"Aku setuju," jawab Wilfred sambil mengangguk dengan kuat.
Seperti yang diharapkan dari ibu Alicia; beliau selalu tahu hal yang tepat untuk dikatakan, dan ia tak bisa menahan rasa kagumnya.
Di sebelahnya, Arthur juga ikut mengangguk.
"Meski begitu, aku benar-benar tidak suka menjadi orang yang ceroboh. Ujung-ujungnya itu cuma merepotkan semua orang di sekitarku."
Namun tampaknya Alicia tidak sepenuhnya yakin.
"Merepotkan orang lain, heh? Kurasa kau tidak menyebabkan masalah sebesar itu."
"Oh, tentu saja! Apa Anda lupa apa yang terjadi di pernikahan kita? Aku menyikutmu dengan keras!"
"Tidak, itu..."
"Itu benar-benar terjadi!?!?"
Arthur, yang biasanya berkepala dingin, berseru kaget.
Yah, itu bisa dimaklumi. Memukul sang Raja Iblis yang kejam dengan sikut, apalagi di sebuah pesta pernikahan, adalah sesuatu yang tak seharusnya terjadi.
"Ya, dan tepat di pelipisnya pula. Rasanya aku ingin merangkak ke dalam lubang dan bersembunyi."
"D-Di pelipis!?!?"
"Saking sakitnya aku sampai tersungkur berlutut."
"Yang Mulia!?? Anda sampai tersungkur berlutut!?!?!?"
Arthur tersentak kaget pada setiap pengungkapan, jelas-jelas terpesona.
Wilfred menyeringai main-main, "Ah, semenjak aku naik takhta, hanya Alicia yang pernah melancarkan serangan seperti itu kepadaku."
"Yah, tentu saja," Alicia menghela napas dengan putus asa.
Rona merah tipis di pipinya pastilah karena rasa malu.
"Anehnya, sekarang aku hampir bisa menganggapnya sebagai kenangan manis," Wilfred tertawa kecil bernostalgia.
"Yang Mulia, Anda pasti seorang masokis, kan?"
"Nah, itu jelas-jelas tidak benar," Wilfred langsung menyangkalnya, tapi kemudian ia tersenyum masam.
"Meskipun begitu, aku bisa membayangkan masa depan di mana, bahkan jika kau mencambukku, aku mungkin hanya akan tertawa dan memaafkanmu."
"Jika sampai terjadi hal seperti itu, bahkan aku akan mempertimbangkan untuk pisah rumah," jawab Alicia.
"Aku lebih suka hal itu tidak terjadi."
Mendengar itu, ia hanya bisa mengangkat tangannya tanda menyerah.
Bagi Wilfred, berbincang-bincang dengannya adalah sumber kenyamanan terbesar. Pikiran untuk kehilangan waktu bersama ini sungguh tak terbayangkan.
Arthur, yang tampak bingung, bertanya, "Tapi, Yang Mulia Ratu, Anda berasal dari keluarga Barrois, kan? Itu berarti kalian hampir tidak saling kenal sebelum pernikahan, benar kan?"
"Ya, pernikahan itu adalah pertama kalinya kami bertemu," jawab Wilfred dengan tenang.
Hal ini sering terjadi dalam pernikahan politik para raja.
"Tepat sekali. Awalnya aku benar-benar tegang! Maksudku, kita sedang membicarakan Raja Iblis yang kejam!" Alicia tertawa kecil, menjulurkan jari telunjuk dari kepalanya, meniru tanduk iblis.
Tampaknya begitulah cara gadis itu melihatnya selama pertemuan pertama mereka.
"Wow, dengan permulaan seperti itu, sungguh mengesankan betapa dekatnya kalian berdua dalam waktu sesingkat itu," komentar Arthur dengan kagum.
Wilfred pun berpikiran sama.
Yah, itu semua semata-mata berkat—
"Kepribadian dan pesona Alicia," ucapnya.
Tak ada hal lain.
Wilfred bukanlah tipe orang yang cepat akrab dengan orang lain, ia juga tak punya keahlian untuk itu.
Jika dialah yang melayangkan sikutan, hal itu kemungkinan besar akan dianggap sebagai upaya terselubung untuk mengusir seseorang, dengan kecerobohan yang digunakan sebagai alasan.
"Bukan, itu karena Yang Mulia adalah orang yang baik," Alicia terkadang bersikeras, namun Wilfred tak bisa memungkiri bahwa sebagian besar kebaikan hatinyalah yang membuat hubungan mereka berkembang pesat.
Arthur menatap mereka berdua dengan tatapan sedikit iri, seolah-olah sedang menyaksikan sesuatu yang benar-benar menghangatkan hati.
Sebulan telah berlalu sejak Arthur mulai bergabung dengan Wilfred untuk makan siang.
Pada awalnya, ia ragu-ragu untuk banyak bicara, karena berada di rumah orang lain, dan hanya akan ikut serta dalam percakapan bila ditanya.
"Nah, apa yang harus kubuat besok? Apa ada sesuatu yang ingin kau makan, Pangeran Arthur?" tanya Wilfred.
"Hmm, coba kulihat. Daging Avalon yang kita makan sebelumnya sangatlah lezat, jadi saya ingin memakannya lagi," jawab Arthur.
Setelah sebulan berkunjung, sepertinya ia sudah lebih nyaman dan kini bisa menyuarakan permintaan semacam itu.
Daging Avalon diciptakan sekitar dua puluh tahun lalu di sebuah restoran dan sejak itu menjadi salah satu hidangan khas Kerajaan Windsor.
"Ah, kedengarannya enak. Itu benar-benar lezat. Aku juga ingin memakannya lagi," kata Wilfred.
"Aku sangat menghargainya, tapi..." Alicia tampak ragu-ragu.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Wilfred.
"Um, aku tidak tahu hal ini saat aku menyajikannya sebelumnya, tapi kudengar Daging Avalon dianggap sebagai hidangan yang sangat rendahan di kalangan bangsawan..."
"Oh, benar juga," Wilfred mengangguk menyadari hal itu.
"Apa!?!? Apa itu benar?" seru Arthur, matanya membelalak kaget.
Tampaknya ia tidak menyadari fakta ini.
Wilfred tersenyum masam dan menjelaskan, "Daging Avalon pada awalnya dibuat untuk memanfaatkan daging berkualitas rendah yang memiliki sedikit nilai jual. Ditambah lagi, hidangan itu menggunakan roti lama sebagai salah satu bahannya."
"Dan kemudian berbagai bahan dicampur menjadi satu dan dipanggang, kan? Begitu ya... Jadi, bagi kaum bangsawan, ini adalah hidangan yang mereka anggap terlalu rendahan dan vulgar untuk dimakan," simpul Arthur.
"Tepat sekali."
"M-Maafkan saya! Meskipun aku tidak tahu, aku tak percaya aku menyajikan sesuatu seperti itu kepada Yang Mulia dan Putra Mahkota!" Alicia membungkuk berulang kali, jelas-jelas kebingungan.
Permintaan maafnya yang berlebihan hampir tak pantas bagi seorang ratu.
Memang, menyajikan hidangan semacam itu kepada bangsawan tertinggi, keluarga kerajaan, bisa dilihat sebagai keberanian yang lahir dari ketidaktahuan.
"Jangan khawatir tentang hal itu. Standar-standar picik semacam itu tak lebih dari sampah bagiku," jawab Wilfred, kata-katanya diwarnai dengan penghinaan yang jelas terhadap para bangsawan.
Mereka begitu terpaku pada kesombongan mereka sehingga mereka bahkan tidak akan mempertimbangkan sebuah hidangan yang telah menjadi makanan khas kota, mengabaikannya sebagai sesuatu yang hanya akan dimakan oleh masyarakat kelas bawah.
Mereka terlalu peduli dengan aturan dan formalitas masa lalu, namun acuh tak acuh atau mengabaikan inti masalahnya.
Sikap seperti ini adalah tipikal sebagian besar bangsawan di Kerajaan Windsor, dan insiden dengan Daging Avalon adalah contoh sempurna dari keangkuhan mereka.
Itu adalah kebenaran pahit yang harus diakui.
"Memang, sayang sekali. Rasanya sangat lezat," ucap Arthur, menelan ludah dengan susah payah, mungkin mengingat rasanya.
Tampaknya ia sangat menyukai Daging Avalon.
Wilfred merasa hal ini membesarkan hati. Mungkin karena ia masih muda, atau mungkin karena ia pernah ditempatkan di pinggiran kota, tapi Arthur belum sepenuhnya ternoda oleh nilai-nilai bangsawan.
"Hmm, benar juga. Bagaimana kalau kita membuatnya bersama? Aku juga tertarik," usul Wilfred.
"A-Apa?!?"
Saat Wilfred dengan santai menyarankan ide itu, Alicia melontarkan seruan kaget.
"A-Apa? Aku tak mungkin membiarkan Yang Mulia dan Putra Mahkota memasak!"
"Tidak, sebenarnya lebih baik jika kita melakukannya. Ini juga bagian dari pendidikannya."
"Pendidikan, kata Anda?"
"Akhir-akhir ini, aku menyempatkan diri untuk mengumpulkan kisah-kisah para penguasa hebat dari masa lalu..."
"Betapa rajinnya Anda, Yang Mulia!"
"Tidak, ini cuma hobi," jawab Wilfred. Ia memiliki kecenderungan untuk mendalami apa pun yang menarik minatnya.
Setelah memutuskan untuk menjadi raja dan memperbaiki tata kelola negara, ia secara alami menjadi penasaran tentang apa artinya menjadi penguasa yang hebat dan bagaimana seseorang dapat mencapainya.
Walaupun ada keharusan di baliknya, hal itu sebagian besar didorong oleh rasa keingintahuannya yang tulus; ia sekadar merasa sangat menarik untuk mempelajari hal-hal ini.
Oleh karena itu, ia menganggap pengejaran ini sebagai hobi daripada sebuah pekerjaan.
"Anda terlalu merendah! Yang Mulia, Anda sungguh rendah hati. Anda bekerja sangat keras demi rakyat, jadi Anda harus lebih mempromosikan upaya itu, tahu kan?"
"Bukan, ini bukan untuk rakyat; ini murni hobi."
"Lihat, itulah sebabnya Anda disalahpahami!"
"Ini bukan kesalahpahaman; aku serius soal ini... Tidak, lupakan saja. Ini sudah melenceng dari topik."
Menyadari kesia-siaan mencoba menembus "filter orang baik"-nya, Wilfred memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan.
Seseorang harus tahu kapan harus menyerah.
"Mari kita kembali ke topik. Saat mengumpulkan kisah-kisah para penguasa hebat dari masa lalu, aku menemukan bahwa banyak dari mereka yang hidup di tengah-tengah rakyat jelata saat mereka masih muda."
"Oh, benarkah? Begitukah?"
"'Raja Gandum' Yos Nem, 'Kaisar Cahaya' Shryu, 'Kaisar Ansei' Scheme. Aku bisa menyebutkan banyak nama lainnya hanya dengan satu tangan."
"Sebanyak itu!?!?"
"Ya, aneh memang ada sebanyak ini mengingat penguasa hebat seharusnya adalah keturunan yang langka. Ini mengingatkanku pada ucapanmu: 'Keluarga kerajaan tidak peduli pada kehidupan rakyat jelata.'"
"...Mengingat Anda mengungkitnya, kurasa aku memang mengatakan hal semacam itu." Alicia's ekspresi sedikit memutar, seolah merasa serba salah.
Hal itu kemungkinan besar karena ucapan tersebut muncul ketika Wilfred bertanya padanya tentang reputasi mendiang saudaranya, Richard.
Keberaniannya terutama terkait dengan masalah etiket bangsawan; selain itu, ia benar-benar gadis baik yang sangat penuh perhatian.
"Lalu ada masalah membersihkan toilet. Karena mereka tidak pernah melakukannya sendiri, para bangsawan meremehkan pekerjaan itu dan tidak bisa merasa bersyukur."
"Oh, saat itu, aku menyebut Yang Mulia sebagai petugas kebersihan toilet..."
Alicia menyusut mundur, tampak cukup murung. Tampaknya itu adalah aib yang sangat memalukan baginya.
Harus diakui, memperlakukan raja layaknya petugas kebersihan toilet bisa dianggap sebagai salah satu anekdotnya yang paling berani.
"Sebaliknya, aku menghargainya. Jangan meminta maaf karena hal itu."
Itu memang sebuah analogi yang sangat brilian dan tepat.
Hal itu telah membersihkan beban di hatinya.
Tak ada alasan baginya untuk meminta maaf—hanya rasa syukur yang tersisa.
"Aku senang mendengarnya..."
"Begitu juga denganku. Itu membuatku berpikir. Karena mereka tak tahu apa-apa, sikap merendahkan mereka berasal dari ketidaktahuan. Jadi, bukankah lebih baik bagi mereka untuk mengalaminya secara langsung? Itu ide yang sangat sederhana, bukan?"
"Ah, begitu ya!"
Alicia mengangguk, tampaknya setuju.
"Ada pepatah: 'Mendengar seratus kali tak sebaik melihat satu kali,' tapi jika kita mengatakannya dengan cara lain, 'Melihat seratus kali tak sebaik mencoba satu kali.' Sebenarnya, rajalah yang seharusnya mengambil inisiatif untuk mencoba hal-hal semacam itu."
Dengan benar-benar melakukannya, seseorang dapat memahami kesulitan dan tantangan konkret yang ada di dalamnya, dan mereka tak akan lagi meremehkannya dengan begitu mudah.
Tentu saja, memiliki perspektif yang lebih luas sangatlah penting bagi seorang penguasa.
Apabila seseorang hanya melihat dari sudut pandang rakyat jelata dan terlalu menuruti keinginan mereka, mereka berisiko kehilangan gambaran yang lebih besar. Namun, jika seorang penguasa tak menyadari kehidupan rakyat biasa, mereka tidak akan menangkap informasi penting.
Pengetahuan semacam itu hanya bisa diakui sebagai sesuatu yang dangkal, kurang berisi.
Pada akhirnya, ini menghasilkan kebijakan yang meleset sepenuhnya dan gagal melihat konteks yang lebih luas.
Sebagai raja berikutnya, Arthur seharusnya benar-benar tahu seperti apa kehidupan rakyat biasa.
Pengetahuan ini pastinya akan menjadi aset berharga ketika Arthur naik takhta kelak.
Keesokan harinya, Wilfred, Alicia, dan Arthur berkumpul di dapur istana untuk terjun memasak.
Alicia tampak gugup, berkata, "Aku tahu Anda sangat sibuk, Yang Mulia! A-Aku bisa mengurusnya sendiri dengan baik!" Namun bagi Wilfred, ini adalah cara yang tepat untuk bersantai.
"Baiklah, kita akan membuat Daging Avalon, jadi pertama-tama, mari kita potong bahan-bahannya sampai halus," ucap Alicia, sambil mendemonstrasikan dengan memotong ujung bawang bombai, mengupasnya, dan dengan cekatan menarikan pisau dengan irama tap-tap-tap-tap.
Tangannya yang terampil bergerak dengan sangat luwes, dan dalam waktu singkat, bawang bombai itu sudah terpotong menjadi potongan-potongan kecil.
"Wow!"
Dengan suara yang dipenuhi kekaguman, Wilfred dan Arthur bertepuk tangan.
Tepuk tangan mereka mungkin sedikit kurang antusias, tetapi tetap tulus.
"Um, baiklah, haruskah aku mencobanya?"
Alicia berputar, menukar pegangannya pada pisau dan menyodorkan gagangnya kepada Arthur.
Anak itu mendapati dirinya bertatapan dengan Alicia.
Nah, siapa di antara mereka yang harus mencoba lebih dulu?
"Yah, sudah sepantasnya orang yang mengusulkannya yang mengambil langkah pertama," ucap Wilfred sambil melangkah maju dan mengambil pisau itu.
Jika orang yang mengusulkan sebuah ide tidak mengambil tindakan, orang lain tidak akan mengikuti. Wilfred paham dari pengalamannya bahwa ketidakpuasan akan mendidih jika hal itu terjadi.
Lagipula, bukannya ia tidak pernah memasak sebelumnya.
Dalam hal memegang pisau, ia cukup terampil.
Meskipun ia belum pernah memotong hingga halus sebelumnya, ia pikir hal itu seharusnya bisa diatasi.
Namun, tepat saat ia hendak memulai,
"Ah—tidak, tidak! Itu berbahaya!"
seru Alicia saat ia dengan cepat meraih sebuah bawang bombai dan meletakkannya di atas talenan tepat saat Wilfred hendak memotongnya.
"Berbahaya?" tanyanya, kebingungan.
"Ya. Jika Anda memegangnya seperti itu dengan ujung jari menekan ke bawah, Anda akan sangat mudah melukai diri sendiri."
"Hmm."
Mendengar kata-katanya, Wilfred menatap tangannya.
Memang, jika ia menggerakkan pisau dengan cepat untuk memotong halus, cengkeraman itu bisa sedikit berbahaya.
Walaupun begitu, ia memang perlu menstabilkan posisi bawang bombai itu untuk memotongnya dari awal.
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Gunakan cakar kucing."
"Cakar kucing?"
"Ya, seperti ini!"
Alicia dengan percaya diri menekuk jari-jarinya dan memperagakan tekniknya.
Meskipun itu membantu, Wilfred tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Mengapa kau berpose seperti kucing dengan menggunakan seluruh tubuhmu?"
"Eh? Oh, itu cuma refleks. Itu tak berarti apa-apa," jawabnya.
"Syukurlah."
Wilfred menghela napas lega. Ia sempat terkejut membayangkan bahwa ia mungkin perlu meniru posenya demi alasan yang masuk akal.
Memang terlihat manis ketika Alicia yang melakukannya, namun ia tak urung berpikir bahwa akan sangat sulit bagi pria kasar sepertinya untuk melakukan hal yang sama.
"Baiklah, aku mengerti sekarang. Seperti ini, kan?"
Mengikuti instruksinya, ia menekan bawang bombai itu dengan cengkeraman cakar kucing, tetapi—
"Oh, itu sedikit berbeda."
Saat itu juga, Alicia memeluknya dari belakang.
"!?!"
Terkejut, Wilfred merasakan tangan gadis itu dengan lembut bertumpu di atas tangannya seraya berkata, "Anda harus menekannya ke bawah menggunakan ujung jari, alih-alih bagian belakang jari Anda."
Sambil menjelaskan, ia memperagakannya di punggung tangan Wilfred.
Memang, melihatnya dilakukan seperti ini membuatnya jauh lebih jelas.
Namun, sebagai seorang pria, Wilfred mau tak mau merasa sedikit canggung karena keadaan yang berbeda ini, khususnya sensasi lembut yang ia rasakan di punggungnya.
"Ukurannya kira-kira sebesar telur antara jari-jari Anda dan bawang bombai sebagai takaran yang pas."
"Ah, uh-huh."
Meskipun begitu, raut wajah serius Alicia membuatnya kesulitan menyuarakan pikiran-pikiran yang mengganggu.
Ia perlu fokus sepenuhnya pada instruksi gadis itu.
...Walaupun hal itu jelas-jelas merupakan sebuah tantangan.
"Selanjutnya, pastikan ruas pertama jari Anda menyentuh sisi pisau saat Anda memotong. Nah, silakan dicoba."
Saat ia selesai berbicara, kehangatan di punggungnya menghilang.
Akhirnya bisa berkonsentrasi, Wilfred merasakan campuran antara kelegaan dan kekecewaan, terkejut dengan reaksinya sendiri.
(Fokus, fokus! Jangan sampai teralihkan!)
Ia sedang memegang pisau tajam.
Kehilangan konsentrasi akan sangat berbahaya. Memanfaatkan fokus tajam yang diasah lewat pertarungan, ia memotong bawang secara berirama.
tuk-tuk-tuk.
(Begitu rupanya. Cara memegang seperti ini membuatnya lebih mudah untuk merasakan bentuk bawang bombainya.)
Jauh lebih mudah untuk memperhitungkan bagaimana memindahkan bahan-bahannya dan di mana meletakkan pisaunya.
Terlebih lagi, dengan menjaga ruas pertama jarinya agar menempel pada sisi pisau, ia tak perlu khawatir akan melukai dirinya sendiri tanpa sengaja.
Dengan begitu—
Wilfred dengan cepat memotong bawang bombai itu, tuk-tuk-tuk.
"Wah!"
Dalam sekejap, ia telah mengubahnya menjadi potongan-potongan kecil, memicu seruan kagum dari Alicia. "Luar biasa! Seperti yang diharapkan dari Yang Mulia, Anda menguasainya dengan sangat cepat!"
"Bukan, ini berkat ajaranmu. Bahkan hanya teknik memotongnya saja sudah cukup rasional," jawab Wilfred, sama terkesannya.
Ia tidak pernah bermaksud meremehkan seni memasak, tapi ia merasa sedikit malu karena sempat berpikir bisa menanganinya hanya karena terbiasa memegang pisau.
"Hehe, kan? Ibuku yang mengajariku cara melakukannya!"
"Begitu ya. Ibumu..."
Sesaat, Wilfred merasakan secercah rasa iri terhadap Alicia.
Meskipun ia telah belajar memasak selama perjalanan pelatihannya, semuanya ia pelajari secara otodidak. Pada awalnya, apa yang ia buat hampir tak bisa dibilang enak.
Andai saja ia menerima instruksi dasar sepertinya, mungkin ia tak akan mengalami kegagalan awal seperti itu.
Hal yang sama berlaku pada ilmu pedang; ada segudang kebijaksanaan yang diringkas dalam dasar-dasar yang diajarkan oleh para pendahulu. Perbedaan dalam peningkatan antara diajari dan belajar sendiri sangatlah besar.
"Aku sangat bahagia karena kini aku bisa mengajari Yang Mulia dan Pangeran Arthur seperti ini," ujar Alicia, senyum cerianya memancarkan kebahagiaan.
Itu adalah senyum yang luar biasa menawan.
Namun, perasaan aneh berkobar di lubuk hatinya, sensasi tidak nyaman yang terus mengganggunya.
Melihat senyumnya biasanya mengisi dirinya dengan kehangatan, jadi perasaan ini sungguh tak biasa.
(Perasaan apa ini sebenarnya?)
Ia bersyukur karena bisa belajar sesuatu yang baru, lalu mengapa ia merasa seperti ini?
"Baiklah, kalau begitu mari kita biarkan Pangeran Arthur mencobanya selanjutnya."
"Kedengarannya bagus."
Meskipun masih bergulat dengan kegelisahan yang tertinggal itu, Wilfred menyerahkan pisau itu kepada Arthur.
"Saya agak gugup karena ini pertama kalinya saya memegang pisau," ucap Arthur, namun ekspresinya tetap sangat tenang saat ia menerimanya.
"Hehe, kau memang terlihat agak tegang," Alicia tertawa pelan.
Wilfred menatap lekat wajah Arthur lagi, namun ia tak bisa melihat banyak perbedaan dari dirinya yang biasanya.
Seperti yang telah ia sadari pada dirinya sendiri, tampaknya Alicia memiliki bakat yang luar biasa untuk menangkap bahkan nuansa emosional terkecil pada orang lain.
"Seperti ini?"
Dengan gaya yang jelas-jelas meniru, Arthur mulai memotong bawang menggunakan teknik "cakar kucing". Ia tampak cukup mumpuni.
Ia pasti telah mengamati dengan cermat bagaimana cara Wilfred melakukannya.
Akan tetapi, dari sudut pandang Alicia, ia masih terlihat sedikit kaku.
"Aku bisa melihat kalau kau gugup, tapi cobalah untuk lebih melemaskan bahumu," sarannya, dengan lembut memijat kedua bahu Arthur dari belakang.
"Melemaskan bahuku ya?"
"Iya. Terlalu tegang dalam hal apa pun itu tidak baik. Sungguh, itu akan berujung pada kesalahan konyol."
"Begitu ya. Jadi insiden sikutan pada Yang Mulia juga terjadi karena rasa tegang?"
"Hei, kau tak boleh bicara sembarangan seperti itu!"
"M-Maafkan saya!"
Alicia dengan main-main menarik pipi Arthur, meregangkannya.
Ia tak sungguh-sungguh menariknya dengan keras; itu hanyalah candaan ringan belaka.
Kendati demikian, butuh keberanian yang besar untuk bersikap seperti ini kepada putra mahkota, namun kemungkinan besar itu hanyalah spontanitas cerianya yang biasa.
Perilaku semacam itu diizinkan berkat pembawaannya yang menawan.
Interaksi ceria mereka benar-benar menghangatkan hati.
Namun tetap saja—
"Hmm?"
Wilfred kembali merasakan sensasi kelam bergejolak di lubuk dadanya, meninggalkannya dalam kebingungan. Keinginannya sendirilah yang ingin mengajarkan Arthur tentang kebaikan dan kehangatan manusia.
Ia yakin bahwa Alicia adalah orang yang paling tepat untuk peran tersebut.
Menyaksikan mereka berdua terhubung adalah hasil persis yang ia harapkan.
Jadi mengapa hal itu membuatnya merasa tak nyaman?
Ia sendiri tak begitu memahaminya.
Semenjak saat itu, Arthur mulai berkunjung ke istana di waktu luangnya untuk belajar memasak dari Alicia.
"Mengetahui masalah dan upaya yang dicurahkan ke dalamnya adalah hal yang bagus. Kau tak perlu melanjutkannya jika kau tidak mau," ujar Wilfred padanya, namun tampaknya Arthur terlalu menikmati memasak hingga enggan berhenti. Faktanya, selama sebulan terakhir, kemampuannya telah meningkat secara luar biasa, cukup untuk membuat Wilfred tercengang.
Benarlah apa yang orang bilang: kebiasaan akan menjadi sempurna bila kau benar-benar menikmati sesuatu.
"Sangat menakjubkan melihat bagaimana semakin banyak usaha yang kau kerahkan, rasanya akan semakin lezat. Juga menyenangkan melihat orang tersenyum saat menikmati makanan itu. Aku suka memikirkan cara meningkatkannya di lain waktu," jelas Arthur.
Ia telah mempelajari semua pekerjaan rumah tangga dari Alicia, seperti mencuci pakaian dan membersihkan rumah, namun tampaknya hal-hal itu tak terlalu cocok baginya. Memasak tampaknya menjadi tempat Arthur benar-benar berkembang.
Kendati melihatnya menikmati kegiatannya adalah pemandangan yang indah, Wilfred tetap tak bisa menepis perasaan yang mengganjal ini—
"Ada apa, Yang Mulia? Anda terlihat murung. Akhir-akhir ini Anda cukup sering begitu," sapa Alicia, berkedip karena terkejut saat ia kembali dari dapur, membawa sebuah hidangan.
Arthur mengikuti dari belakangnya dengan patuh, juga memegang hidangan, membuat mereka terlihat layaknya sepasang itik yang mengikuti ibunya—sebuah pemandangan yang benar-benar menawan yang seharusnya menghangatkan hati Wilfred.
"Hanya sedikit mual," jawabnya.
Namun entah kenapa, selagi ia merasa gembira melihat mereka berdua, ada sedikit rasa kesal yang tak bisa ia jelaskan sepenuhnya.
"Anda sering mengatakan itu belakangan ini. Apa Anda bekerja terlalu keras? Aku tahu ada beberapa hal yang hanya bisa Anda kerjakan, tapi kalau Anda tak istirahat dengan benar, itu bisa berdampak bukan cuma pada tubuh Anda, tapi juga pikiran Anda," ucap Alicia seraya menaruh hidangan di atas meja.
"Tidak, semuanya justru berjalan dengan cukup lancar," tegas Wilfred meyakinkannya.
Sebelumnya, ia sering merasa berat dan lesu saat bangun tidur, tapi akhir-akhir ini, sensasi itu telah lenyap sepenuhnya. Barangkali itu karena Alicia telah membantunya mengangkat kekakuan emosionalnya; ia merasa lebih ringan baik secara fisik maupun mental, bahkan penuh dengan energi.
"Apa mungkin semacam penyakit?!?" seru gadis itu.
"Bukan, tampaknya bukan hal semacam itu," sahutnya.
Ketidaknyamanan itu cuma muncul tatkala Alicia dan Arthur sedang berdua. Ia jelas tidak membenci mereka; sebaliknya, sepertinya ia memiliki perasaan yang belum terselesaikan terhadap kedekatan mereka.
(Akan tetapi, perasaan macam apa sebenarnya itu?)
Prinsip Wilfred adalah memperjelas semuanya—mengapa, apa, dan bagaimana. Tanpa mengatasi akar penyebab ketidakpuasannya, jika ia sekadar mengungkapkannya, hal itu mungkin hanya akan membingungkan mereka, dan yang terburuk, berakibat pada frustrasi yang salah arah.
Wilfred ingin menghindari hal tersebut.
"Hmm, aku khawatir. Anda sepertinya tanpa sadar menumpuk ketidakpuasan, Yang Mulia," celetuk Alicia.
"Yah, mungkin saja begitu. Cuma saja aku tak bisa menemukan dengan tepat apa itu," akunya.
Sebanyak apa pun ia memikirkannya, tak ada yang terlintas di benaknya. Ini baru pertama kalinya terjadi. Ia merasa seperti sering menemui pengalaman-pengalaman baru manakala bersama Alicia.
"Begitu ya. Kalau Anda sudah menemukan sesuatu, sekalipun itu hal kecil, kumohon bicarakanlah padaku. Aku pernah bilang sebelumnya kalau berbagi dengan seseorang bisa meringankan hati Anda," sahutnya sembari menatap matanya dengan mimik serius.
Kepedulian sejatinya terhadap suaminya berikut tekadnya untuk membantu sangatlah kentara. Sembari bertatapan dengan istrinya, kegundahan yang membebani sanubarinya mulai luruh secara bertahap.
"Ya, kau benar. Tapi, ini bukanlah sebuah persoalan. Sekadar berbincang denganmu sekarang sudah cukup mengangkat suasana hatiku," timpalnya.
"Kalau begitu syukurlah, tapi..." sahut Alicia, rona mukanya tertutup raut cemas.
Di satu pihak, ia dirundung rasa bersalah telah membuat rona sang istri berubah, namun di pihak lain, ini agak menggemaskan juga menjadikannya bahagia. Wilfred menyadari bila perasaan bersalah ini saling berlawanan sekaligus membingungkan manakala dihadapkan dengan rasa bahagianya pada saat yang berbarengan.
"Ah, begitu rupanya. Khawatir juga adalah sebuah ujud afeksi," ia mendadak sadar.
Berkat afeksi yang dipendam sang istri padanyalah makanya ia dilanda kecemasan. Pendek kata, kekhawatiran semata-mata adalah ujud afeksi yang muncul.
"Maksud Anda?"
Alicia berkedip heran, raut wajahnya mengisyaratkan adukan rupa kebingungan juga keterkejutan.
Berkaca pada parasnya, raut muka itu bak bergumam, "Memangnya apa gerangan ocehan lelaki ini atas hal yang benar-benar jelas begitu?"
Wilfred tak mampu menyembunyikan tawa lirihnya atas gerak-gerik sang istri.
Bagi gadis itu, hal itu pasti benar-benar menjadi masalah yang sangat gamblang yang tidak memerlukan penyebutan.
"Tidak, aku sedikit tertukar antara perhatian atas dasar sopan santun belaka dan simpati yang sesungguhnya," tanggap Wilfred.
Selama ini yang diterimanya condong ke arah yang pertama.
Kenyataan pahitnya, arah yang pertama umumnya adalah tawaran yang lebih pantas.
Sering kali hal itu sebatas puja-puji, tipu muslihat, atau ketika ada motivasi tersembunyi yang turut nimbrung. Sering kali pula simpati yang disodorkan tersebut semata-mata untuk kemaslahatan masalah orang itu sendiri.
Hal tersebut bukan sesuatu yang sepatutnya bisa ia syukuri.
Rasanya teramat sumpek, hingga menjadi naluri alamiah untuk melompati hal-hal yang tidak penting lantas menembus akar permasalahan.
Gegara seringnya berjibaku dengan momen semacam itu, tanpa sadar ia lantas mulai mengesampingkan simpati yang benar-benar ada.
Ia teramat prihatin terhadap Cedric.
"Kau tahu, tertukar atas dua urusan itu agak sadis terhadap Cedric, kau setuju bukan?"
Diiringi sedikit lengkungan kerutan, Alicia menjawab tegas, "Jahat sekali!"
"Ya, itu betul. Nanti akan kupastikan aku memohon maaf padanya."
Walaupun kekhawatiran Cedric asalnya merupakan sebuah urusan sederhana lantaran ia tak sudi berpisah dengan punggawa penggerak reformasi yang mustahil untuk diganti.
Di luar segala urusan, toh mereka sejoli sedari cilik!
Biarpun demikian, perkara ini tak semudah itu.
Mengingat mereka bersahabat dari kecil dan terus bersama selang beberapa musim lamanya, rasanya sebagian besar emosi itu turut terhanyut.
Mengabaikan lantas menyatukannya setara seluruh remah-remah lainnya merupakan tingkah sangat tak beradab terhadapnya.
"Serta berterima kasih pula," tuturnya melengkapi.
"Benar, itu memang pas," respon Alicia diselingi tawa kecil yang merdu, sambil membalas dengan anggukan.
Wilfred semenjak dulu memandang Cedric merupakan orang terdekat semenjak kanak-kanak. Namun, dirinya pula tak menampik adanya tirai tebal yang membentang menengahi kedekatan itu.
Selama ini tebakannya tirai batas itu ditimbulkan dari jabatan sebagai pimpinan dan bawahan yang saling bertubrukan, akan tetapi nyatanya ia segera menyadari bahwa kepribadian dirinyalah yang turut menyumbangkan benih atas bentangan ini.
Sesuatu yang sanggup membuatnya meresapi semua itu—
Sesuatu yang mampu membimbingnya buat mengenali—
"Ah, telah masuk waktu buat makan, bukan? Perut Anda keroncongan rupanya. Hari ini, sajian kesukaan Anda yang terhidang, pot-au-feu Ibu Suri!"
Senyum manis penuh keluguan kembali Alicia pamerkan ke Wilfred.
Tiap kali rona senyum itu merekah, siraman kehangatan senantiasa membuncah.
"Aku sungguh-sungguh bersyukur atas hadirmu. Apakah kau ada permintaan? Alangkah bagusnya jika aku menyuguhkan tanda mata bagi dirimu sebagai imbalan dariku."
Manakala mereka mulai meresapi nikmatnya semangkuk pot-au-feu, lantas ia menyodorkan usulan ini disela-sela obrolan mereka.
Meskipun kesibukannya amat sangat padat demi menuntaskan pemberontakan setelah mati terbunuhnya Richard, penerus pertama pewaris tahta, Wilfred segera menyadari bahwa sangat tidak pantas baginya lantaran ia tak menghadiahi istrinya sepucuk cendera mata sedikitpun.
Toh, kehadiran gadis itu jauh lebih dari cukup membatunya di masa sulit. Meskipun hanya sebagai suami titipan, terselip harapan agar afeksinya ini tersampaikan dengan segala bentuk.
"Apabila Anda hendak memberi balas jasa ke seseorang, Anda sewajarnya memulai dengan membalas budi kepada Cedric, bukanlah dariku. Rasanya seperti itu urutan yang pantas."
Sekalipun begitu, istri satu ini patut dibanggakan dari karakter egoisnya yang sama sekali lenyap.
Pada umumnya, wanita-wanita serta gadis-gadis bangsawan suka memeras pasangannya atau bapaknya yang nilainya melampaui tabungan bertahun-tahun milik rakyat biasa dengan amat santai, namun kerendahan hati Alicia sungguh melegakan.
Terkhusus dikarenakan karakteristiknya itulah makanya ia benar-benar berharap untuk membalas uluran tangannya.
Sekalipun demikian, andaikan ia membangkang dari prosedur yang diajukan istrinya, kecil kemungkinan ia takkan menyetujui bingkisan dari tangannya. Ia telah merangkum semua pemahaman selama melewati rentang periode triwulan terakhir.
"Mengabaikan soal ucapan terima kasih, utangku pada Cedric sudah lunas sepenuhnya."
Oleh karenanya, langkah mulanya akan menitikberatkan masalah Cedric.
"Begitukah?"
"Keinginannya adalah agar aku bisa dinobatkan untuk menaiki tahta."
Memorinya tentang kejadian itu tidaklah pudar.
Dia sempat memintanya duduk di kursi tahta, berhubung ia dan keluarganya akan bersumpah setia mendukung kekuasaannya kelak.
"Seandainya hal buruk ini dipertahankan, maka tak lama negara ini akan lenyap. Aku memohon padamu! Engkaulah orang satu-satunya yang mampu melakukannya!"
Memori kelam di kala gelapnya malam menyusup ke kepalanya di mana Cedric telah mencekik kerah bajunya dan tulus rindu kepadanya.
"Tentu saja, aku bukan sosok semacam itu yang akan mengubah kompas tanpa berpikir panjang akan keinginannya. Menjadi figur sentral bagi urusan gila yang menindas ini selama beberapa tahun terakhir, sungguh di luar logika. Tidak terbayang lagi rentang waktu yang masih dibutuhkan menuntaskan semua ini. Anggapanku sudah berlebih-lebih atas segala ganjaran utang itu baginya kini."
"Begitu rupanya. Kedengarannya hal itu terasa lebih dari cukup," sahut Alicia, melepaskan gelak tawa kering, dan terlihat yakin.
Ia kenal luar dalam bahwa Wilfred amat membenci urusan terkait penobatan kerajaannya.
"Dengan demikian, tibalah kesempatanmu selanjutnya. Kau menginginkan hal apa?"
"Selanjutnya? Tapi pastinya ada orang lain yang berbuat hal lain lebih dari yang sanggup kutuntaskan padamu di atas peranan Cedric."
"Aku jua tuntas membayarkan imbalan pada insan-insan itu dengan memadai. Disertai promosi gelar kebangsawanan berikut kucuran emas."
Seandainya ia kikir kemudian hadiah upah kerja banting tulangnya sungguh timpang, tentu kekecewaan takkan dapat dipungkiri.
Wilfred itu sekadar putra pungut selir, begitupula dengan ibunya yang tergolong rendahan.
Nasab garis turunan keturunannya menjadikannya tonggak sandaran politik pemerintahan yang rentan rubuh, dan seandainya ia dicampakkan dukungan jajaran militer ketentaraan, maka ia bakal jatuh digulingkan dengan amat ringkas.
Dengan alasan itulah, ia percaya sumbangsihnya sangat melimpah ruah berkat uluran tangannya itu.
"Lagi pula, aku pun menampik telah bersikap istimewa," bantah Alicia.
"Ucapan macam apa itu? Kaulah yang menuntaskan mati rasanya jantung di dadaku."
"Tingkah laku yang umumnya di lakukan rakyat lumrah, hal semacam itu mendominasi para deretan hawa."
"? Begitukah yang memang terjadi?"
"Tepat, memang begitu sejatinya."
Alicia mengangguk yakin.
Terlebih di deretan bangsawan putri, merangkul serta mengasihi antarsesama kaumnya sudah bukan fenomena yang mencengangkan.
"Begitu ya. Kalau terkait sudut pandang itu, kelihatannya kalangan puan melampaui kepintaran jajaran pria."
Ia mesti mengevaluasi segala cemoohan di kala masa lalu menyangkut persepsi semacam itu.
Sewaktu-waktu silam, ia memperhitungkan bahwa bermalas-malasan lantas mengayomi sebuah urusan-urusan pelik seakan wujud sisi remeh-temeh, rupanya hal itu berbalik di mana rangkulan insan manusia yang sanggup meluruhkan luka pun perih yang meradang.
Kesimpulannya kian gamblang jika menuntaskan kemelut batin di kepala lekas-lekas lebih bisa dipahami rasionalitas akalnya ketimbang mendera di ruang kosong.
"Di luar pengetahuanku, aku tak menyadarinya sampai seusia ini. Aku benar-benar ingin membalas budimu karena telah mengajariku."
Meskipun mungkin tidak terlihat seperti masalah besar bagi Alicia, itu adalah perubahan monumental dalam kehidupan Wilfred.
Ia merasakan rasa bersalah tentang masalah dengan anak-anak dan beban hidup di istana kerajaan yang tak dikenalnya.
Ia telah menerima begitu banyak hingga mulai terasa membebani; ia perlu memberikan sesuatu sebagai balasan, walau hanya sedikit.
"Apakah sesuatu seperti perhiasan, barang dekoratif, atau gaun? Aku tak keberatan kalau harganya agak mahal. Katakan saja apa yang kau suka."
"Itu terdengar seperti sesuatu yang akan dikatakan raja bodoh, menghambur-hamburkan uang demi wanita," godanya.
"Benar juga. Tapi aku telah menghabiskan dua tahun terakhir bekerja keras tanpa memanjakan diri dengan kemewahan yang sebenarnya. Tentunya, aku punya hak untuk menghadiahi istriku sesuatu yang berharga, kan?"
Wilfred mengangkat bahu dengan ringan.
Ia yakin bahwa ia telah mendapatkan hak istimewa tersebut.
Ia hampir tak pernah menyentuh gajinya sejak ia ditunjuk sebagai marsekal lapangan oleh mendiang Raja John.
Memang, ia punya tabungan yang lebih dari cukup untuk membeli satu atau dua perhiasan, atau satu atau dua gaun.
"Begitu ya. Aku pikir Anda benar-benar memiliki hak itu, tapi apakah Anda yakin tidak apa-apa jika itu untukku?"
Gadis itu tetap rendah hati dan sederhana seperti biasa.
Wilfred tertawa pelan, "Aku lebih suka memberikannya padamu. Aku benar-benar menghargaimu."
"Ya ampun! Diberitahu seperti itu secara langsung agak memalukan, tapi itu membuatku senang," jawab Alicia, tersipu dan tersenyum malu-malu.
Seandainya Wilfred yang dulu diberi tahu hal yang sama, ia akan mengabaikannya, mengklaim bahwa ia belum melakukan sesuatu yang istimewa.
Itulah mungkin perbedaan antara dirinya dan gadis itu.
Wajar saja jika orang-orang menjauhkan diri dari seseorang yang tidak pandai bergaul sepertinya.
"Namun... saat ini, gaya hidupku terlalu mewah jika dibandingkan dengan kemampuanku. Menerima sesuatu yang lebih mahal, sejujurnya, membuatku sedikit takut..."
Alicia mengernyitkan dahinya seraya berpikir keras lalu berseru, "Oh, Yang Mulia, aku sungguh menghargai perasaan Anda! Sungguh!"
Menyadari bagaimana kata-katanya mungkin terdengar, ia mengibaskan tangannya dengan gugup, mencoba menenangkannya.
Meskipun ia tampak agak lancang, sifatnya yang penuh perhatian membawa kehangatan kecil di hatinya.
"Hmm..."
Wilfred menghentikan makannya, terlarut dalam pikirannya.
Mengingat Alicia telah hidup sebagai rakyat biasa begitu lama, ia bisa mengerti mengapa gadis itu mungkin merasa tidak nyaman.
Ketika seseorang tiba-tiba dibawa jauh dari kehidupan sehari-hari mereka yang biasa, wajar jika mereka ingin kembali.
Kehidupan di istana kerajaan pasti terasa terlalu luar biasa baginya.
Meskipun ia memberinya sesuatu yang mahal, ia mungkin akan senang, tapi hal itu juga bisa memperdalam kebingungannya.
Karena ini adalah bentuk rasa terima kasih, ia ingin melakukan sesuatu yang benar-benar akan membuatnya bahagia.
(Kehidupan sehari-hari, heh...)
Tiba-tiba, sebuah ide melintas di benaknya.
Ia yakin ide ini pasti akan menyenangkan Alicia.
Ada keyakinan mutlak di hatinya.
Entah apakah itu bisa diwujudkan masih belum pasti, dan ia tak ingin melambungkan harapannya hanya untuk mengecewakannya, jadi ia menyimpannya untuk dirinya sendiri untuk saat ini.
Kemungkinan besar hal itu akan membutuhkan waktu dan tenaga, tapi jika itu berarti melihat senyumnya yang tulus dari lubuk hatinya, rasanya sangat sepadan untuk dicoba.
"Terima kasih atas makanannya."
Usai menghabiskan hidangan yang tersaji di atas meja, Wilfred menghela napas puas.
Makanan yang disajikan di istana memang lezat, tapi untuk santapan raja, hidangan-hidangan itu sering kali terlalu berlebihan dan boros, yang membuatnya terasa berat di perut jika disantap setiap hari.
Ditambah lagi, setiap hidangan membutuhkan waktu lama untuk disiapkan, yang mana sangat merepotkan. Sebaliknya, masakan Alicia memiliki cita rasa yang sederhana dan ramah di perut. Kalau ia harus makan setiap hari, ia lebih suka masakan istrinya.
"Terima kasih atas makanannya. Bagaimana rasa pot-au-feu hari ini?" tanyanya.
"Mm, enak. Walaupun rasanya agak lebih lezat yang biasa kumakan... Ah..."
Pada saat itu, ia mendadak teringat perkataan Cedric sebelum pernikahan mereka: bahwa wanita hanya mencari kalimat-kalimat persetujuan yang manis.
(Mungkin aku tak seharusnya mengucapkan hal seperti ini?)
Sebelumnya ia tak pernah terlalu menghiraukan hal tersebut, namun tiba-tiba saja ia mencemaskannya. Ia tak ingin merusak hubungannya dengan Alicia gegara persoalan seperti ini.
"Eh? Oh, memang benar banyak wanita cuma ingin afirmasi! Tapi aku malah menghargainya saat Anda berbicara jujur," jawabnya.
"Begitu ya. Sejujurnya, aku merasakan hal yang sama."
Wilfred mendesah lega. Andaikan Alicia berucap bila ia menolak kejujurannya, niscaya ia akan sudi mencoba berubah, namun kebiasaan tak lantas dapat ditinggalkan semudah itu.
Terlebih saat bersama Alicia, ia dilingkupi rasa nyaman yang acap kali membuainya agar melonggarkan batas pertahanannya dari biasanya. Kejujurannya akan lolos terucap bahkan tanpa ia sadari sama sekali.
Di luar itu semua, ia berharap supaya bisa semaksimal mungkin sebisa ia sanggup demi menghindari kebohongan dan tak menutupi sesuatu.
"Apalagi kali ini, Yang Mulia, tebakan Anda jitu sekali!" cetus Alicia antusias.
"Jitu?"
"Sajian pot-au-feu ini disiapkan oleh Yang Mulia Arthur sendiri lho!" pekik Alicia bersemangat, melambaikan tangan menunjuk Arthur dengan heboh.
"Benarkah? Dia meraciknya sendirian? Hebat sekali," sahut Wilfred, nada suaranya dipenuhi rasa kagum.
Paham sudah rasanya melihat mengapa sedari tadi Arthur mencuri-curi pandang sedari awal menyantap masakan; ia terlampau gamblang menanti validasi. Walau benar kualitas masakan Alicia menang tanding, perbedaannya sangatlah tipis, lagipula masakan Arthur ini juga lezat.
"Terima kasih! Yah, saya sekadar menjiplak resep Yang Mulia Ratu persis kok," jawab Arthur sedikit canggung.
"Kalau cuma membicarakan yang satu itu sih, aku jua menyontek resep masakan dari ibuku 100%," tegas Alicia.
"Walau demikian, ini agak menyebalkan. Punya pedoman bahan baku yang setara, bedanya sungguh terpampang begitu kentara," decak Arthur mendesah, raut kesal menghias rona parasnya.
"Hehe, andaikan aku kalah adu masak oleh anak lelaki yang cuma mencicipi dunia masak selama kurang lebih sebulan, rasanya kepalaku tak sanggup tegak," ujar Alicia menantang, merentangkan jemari menyilang di pinggang serta membusungkan punggung bangga.
Hal tersebut dapat dianggap tak sepantasnya jemawa merendahkan anak genap berusia satu dasawarsa, tak urung perangai suka usil itu lumrah melekat di balut pribadinya.
"Apa ciri-ciri pembeda mendasar dibanding dengan buatan Yang Mulia Ratu?" tanya Arthur mendalam.
Wilfred pun terkesiap. Arthur tak menyodorkan gelagat legawa sedikit pun; bahkan kelihatannya anak itu merasa murka tak terima, dengan menggebu-gebu memacu agar berkembang ke level lebih jauh.
Sejumlah orang bakal berpandangan bahwa kekecewaannya di luar kewajaran dan sok pintar, utamanya ia cuma baru berkutat di bidang kuliner satu bulan saja, sekalipun begitu Wilfred tahu berbekal pengalamannya manakala karakteristik setipe Arthur inilah yang naik pangkat menjadi yang terbaik.
"Yah... aku mengira tekstur potongannya relatif agak buruk ketimbang hasil karya Alicia. Aku tak cukup mampu membidik letak biang kerok penyebabnya sih," tanggap Wilfred sesudah berpikir beberapa waktu, membabar terang argumen lurusnya.
"Oh!" Spontan Alicia lekas memahami celahnya.
"Sebabnya kemungkinan bersumber dari teknik cincangan bahan yang diolah. Penampang asahan pisaunya, apa ia melintasi urat selaput tekstur juga arah yang selaras atau tidak, disusul kepekatan cincangannya sangat berdampak kuat mengubah kelembutan masakan itu sendiri," rincinya gamblang.
"Hmm, terdengar identik mirip teknik berpedang," jawab Wilfred yang membalas setuju diiringi anggukan.
Karena tak lebih dari sekadar coba-coba mengaduk dunia perdapuran, Wilfred merupakan master di ring laga pedang. Telah dikuasainya banyak intisari di mana rute bidikan letak yang diserang disusul kecenderungan putaran pisau tebasan berdampak teramat penting guna menghadirkan sabetan yang tepat mematikan.
"Saya menyangka telah sungguh-sungguh mengawasi hal demikian dengan penuh perhitungan," rintih Arthur sembari merajut kekecewaan mendalam dari paras rupanya.
"Menyaksikan hal bahwa masih tercetak rintangan ketimpangan kelezatan yang kontras, sebaiknya tak usah terburu-buru lantas kerahkanlah ketelitian super di masing-masing tahapannya," papar Wilfred sabar merespons.
"Saya itu berupaya untuk benar-benar ekstra cermat!" Arthur tak sabar membangkang.
"Apabila kondisinya seperti itu berarti pengalaman yang kau lalui terhitung sepicak. Bekal pelatihan belakalah rute satusatunya untuk menempanya menjadi terasah," lontar Wilfred ceplas-ceplos.
"Ugh!" Arthur terperanjat frustrasi menekan bibir sembari tak kuat mendongak menatap.
Tampaknya ia urung seratus persen tunduk atas konklusi tersebut.
Momen yang sungguh sangat sering membelai pandangan Wilfred di lingkup para abdinya. Arthur tentu sudah mendaratkan gempuran tekad super gila, namun rupa nyatanya menggores luka mengecewakan berlawanan bersama cita-citanya. Urusan yang susah ditelannya bulat-bulat.
Kendati begitu, betapa pun kesal rengekan keluh Arthur, takdir tak bisa melenceng diubah. Sejatinya, sudah suratan dia merengkuh kenyataan atas tumpulnya kepiawaian dirinya lantas tak lelah berjuang menempa mengulangi prosesi sedemikian rupa tanpa batasan titik.
Setidaknya pandangan Wilfred mengklaim ia pun bernasib serupa, tak luput ada kesimpulan yang menggariskan tidak terdapat arah cabang yang dapat dilintasi untuk meraup keberhasilan.
"Ya, menurutku kau telah berhati-hati, Yang Mulia," ucap Alicia.
"Benarkah!?!?" Arthur segera menimpali ucapan Alicia, harapannya terlihat jelas.
Wilfred berpikir dalam hati bahwa berpegang teguh pada harapan tidak akan mengubah kenyataan, tapi ia memutuskan untuk mengamati situasinya. Ia sekadar tertarik melihat bagaimana seseorang yang ia hormati, seperti Alicia, akan merespons.
"Kau mungkin mencoba meniruku, kan?" tebak Alicia.
"Ya, saya mencoba meniru Anda semirip mungkin," jawab Arthur.
"Ya, aku merasakan hal itu. Kau melakukannya dengan cukup baik. Tapi kau tidak perlu mencoba menyamai kecepatanku, oke?"
"Hah?"
"Aku dulu juga begitu. Aku mencoba meniru ibuku karena aku ingin menyusulnya."
Alicia tersenyum penuh nostalgia pada Arthur yang kebingungan. Lalu, ekspresinya berubah menjadi tawa ringan saat ia menambahkan, "Tapi aku tak pernah bisa menyamai ibuku."
"...Iya..."
"Tunggu!?"
Wilfred tak bisa menahan matanya yang membelalak kaget. Ia mengamati bahwa Arthur, yang tadinya menolak dengan keras kepala, kini dengan mudah mengakui kekurangannya sebagai tanggapan atas kata-kata Alicia.
"Saat aku kesulitan, ibuku berkata kepadaku, 'Pada awalnya, kau cenderung membandingkan dirimu dengan orang lain dan berpikir kau harus lebih cepat! Tapi lebih baik santai saja dan teliti di setiap langkahnya, meskipun lambat. Kecepatan akan datang dengan sendirinya nanti,'" jelas Alicia.
"Kecepatan akan menyusul?" ulang Wilfred, tertarik.
"Ya! Aku benar-benar mengalaminya. Jadi, mari kita tidak perlu terburu-buru. Kita harus memeriksa setiap langkah dan sudutnya satu per satu dengan teliti. Saat aku mengulanginya, sama seperti kata ibuku, aku secara alami menjadi lebih cepat dalam pekerjaanku."
Menunjuk pada dirinya sendiri dengan ibu jarinya, Alicia membusungkan dada dengan bangga.
Wilfred menganggap alasannya sangat meyakinkan dan tak bisa menahan anggukan setuju. Ia teringat saat ia merasakan batas kemampuan berpedangnya sendiri dan melakukan hal yang sama. Ia mengamati gerakannya di cermin, mencari gerakan yang tak perlu, mencoba gerakan yang lebih efisien, dan terus menirunya hingga menjadi kebiasaan alami.
Pada saat itu, yang terpenting bukanlah kecepatan; pada kenyataannya, kecepatan bisa berdampak buruk. Prioritasnya adalah meniru gerakan ideal dengan akurat. Bergerak lambat sebenarnya lebih menguntungkan untuk tujuan tersebut. Hanya setelah mengulangi gerakan-gerakan itu sampai tubuhnya mengingatnya, barulah ia akan fokus pada peningkatan kecepatan.
"Begitu ya... Ya, saya mengerti. Kita akan melakukannya perlahan-lahan, selangkah demi selangkah," ujar Arthur, tampaknya masih mencernanya, namun ia mengangguk seakan meresapi kata-kata itu.
Tidak ada perlawanan; ia tampak menerima pendapat Alicia. Mengingat sikapnya, tampaknya ia akan dengan senang hati mengulangi kata-kata Alicia.
"Mengesankan. Kau akan menjadi guru yang hebat," puji Wilfred dengan tulus seraya bertepuk tangan.
"Eh!?!" seru Alicia, jelas terkejut oleh pujian tak terduga itu.
Meskipun terkejut, wajahnya menunjukkan ekspresi malu tapi bahagia, menandakan bahwa ia menghargai pengakuan tersebut.
"Ta-Tapi, sebenarnya ibukulah yang hebat. Aku cuma meneruskan ajarannya," jawab Alicia dengan rendah hati, tapi Wilfred menggelengkan kepalanya.
"Pastinya, ajaran ibumu memang luar biasa, tapi kupikir kau juga luar biasa dengan caramu sendiri."
Ia mengungkapkan kekaguman tulusnya dari lubuk hatinya yang terdalam. Sebenarnya, ia merasakan tingkat emosi yang sulit untuk diungkapkan. Meskipun kontennya mungkin berasal dari ibunya, cara Alicia dengan mahir menguraikan kekeraskepalaan Arthur sungguh sangat mengesankan.
Kata-kata Wilfred tidak beresonansi dengan Arthur sama sekali, sementara kata-kata Alicia beresonansi. Perbedaannya sangat mencolok, mencerminkan kenyataan yang dihadapi Wilfred saat ia menghadapi Arthur sebelumnya.
Bahkan dari pinggir lapangan pun, ia tak bisa memahami mengapa bisa begitu. Rasanya seolah-olah ia sedang menyaksikan semacam sihir.
"Eh, hehehe, begitukah? Aku akan senang jika aku menjadi sedikit lebih mirip ibuku," ucap Alicia, dengan nada malu-malu di suaranya.
"...Ibumu, heh?" Wilfred bergumam dalam hati, hampir menyarankan bahwa ia pasti akan menjadi ibu yang luar biasa juga, tapi ia menelan kembali kata-kata itu. Lagipula, ia tak bisa memberinya anak.
Ia juga tidak bisa memberinya kebebasan yang pantas ia dapatkan. Sangat tidak pantas baginya, orang yang merampas kebahagiaan yang bisa dinikmati wanita biasa mana pun darinya, untuk mengucapkan kata-kata seperti itu.
"Kau terlihat cukup serius, bukan?"
Saat pikiran-pikiran ini terlintas di benaknya, ia merasakan tusukan lembut di dahinya dengan jari telunjuk istrinya.
"Hmph."
"Aku hampir bisa menebak apa yang sedang Anda pikirkan, tapi tak apa-apa. Aku benar-benar tidak keberatan," katanya, menawarkan senyum cerah untuk membangkitkan semangatnya.
Fakta bahwa senyumnya tidak menyimpan bayang-bayang kesedihan merupakan suatu kelegaan. Namun, hal itu hanya memperdalam rasa bersalah dan ketidakberdayaan yang membebani hatinya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana aku bisa membuat kata-kataku bergema seperti milikmu?"
Malam itu, setelah menyelesaikan tugasnya pada hari itu dan menikmati makan malam yang santai bersama Alicia di istana, Wilfred tiba-tiba teringat sesuatu dan bertanya.
"Hah? Um, apakah itu berarti suaraku terlalu keras?"
"Oh tidak, sama sekali tidak. Aku memang berpikir kau sangat bersemangat, tapi aku tak pernah menganggapmu berisik," jawabnya, mengibaskan tangannya menepis pertanyaan cemasnya.
Entah kenapa, menghabiskan waktu bersamanya selalu lucu dan menyenangkan. Ia mendapati dirinya lebih sering tertawa. Tawa berfungsi sebagai pelepas penat yang hebat, dan itu sudah lebih dari cukup.
"Aku lega mendengarnya. Aku selalu merasa sedikit sadar diri dengan suaraku yang keras... Selama itu tak mengganggu Anda, Yang Mulia, syukurlah."
"Sama sekali tidak mengganggu; faktanya, itu sangat menyenangkan," tuturnya, menyampaikan perasaannya yang sesungguhnya tanpa basa-basi. Ada semacam jaminan dalam suaranya yang meredakan ketegangannya dan membiarkannya bersantai.
"Oh, terima kasih! Um, tentang bagaimana membuat suaraku bergema, kan? Kupikir penting untuk berbicara dengan percaya diri dan jelas," kata Alicia, mungkin untuk menyembunyikan rasa malunya saat ia dengan cepat mengalihkan percakapan.
Ia tetap menggemaskan seperti biasanya. Meskipun hatinya menghangat melihat tingkahnya, Wilfred sedikit menggelengkan kepalanya.
"Bukan, yang ingin kutanyakan bukanlah suaranya itu sendiri, melainkan bagaimana membuat kata-katanya beresonansi di hati."
"Kata-kata, katamu?"
Alicia memiringkan kepalanya, tampak bingung, seolah-olah ia tak mengerti maksud perkataan suaminya.
"Kau ingat apa yang terjadi siang tadi? Kata-kataku sama sekali tak beresonansi dengan Arthur, tapi kata-katamu berhasil," jelas Wilfred.
"Oh! Maksud Anda kejadian tadi? Karena Anda mengungkitnya, ia memang memujiku," jawab istrinya, mengingat kembali kejadian tersebut.
"Tepat sekali. Aku juga bilang 'santai saja dan teliti'. Namun, hanya kata-katamu yang sepertinya beresonansi dengannya. Ini membingungkan. Apa ada trik untuk itu?"
"Trik, Anda bilang?"
"Ya. Lagipula, itu bisa sangat membantu untuk pekerjaanku."
Saat Wilfred merasa kata-katanya tidak sampai pada lawan bicaranya, sering kali terlihat jelas bahwa mereka hanya mendengarkan setengah-setengah. Di saat-saat seperti itu, ia merasa benar-benar tak berdaya.
Bahkan dengan kekuasaan seorang raja, memaksa seseorang untuk mendengarkan tak akan memberikan hasil yang baik. Manusia termotivasi oleh kemauan mereka sendiri, yang mana secara drastis dapat memengaruhi kemampuan mereka, baik secara positif maupun negatif.
Tak peduli seberapa berkuasa seorang raja, ia tak bisa mengendalikan hati orang lain. Ketika seseorang mencapai kondisi pikiran seperti itu, yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu, membiarkan mereka memahami makna kata-katanya dengan berjalannya waktu.
Ia tadinya menyangka bahwa hal ini akan terjadi lagi, namun Alicia dengan mudahnya telah membuka gembok di hati Arthur, membiarkan kata-katanya beresonansi.
Ini adalah sesuatu yang menentang pandangan konvensional Wilfred.
Di Kerajaan Windsor, mengembangkan bakat adalah tugas yang mendesak. Jika Alicia memiliki cara untuk memperpendek proses itu secara signifikan, hal itu mungkin bukan sesuatu yang bisa dicapai dalam semalam, tapi ia sangat ingin belajar.
Saat Wilfred menahan napas dalam antisipasi, Alicia terdiam sejenak, lalu perlahan mulai berbicara.
"Um... Kurasa, entah bagaimana?"
"Apa!? Cuma 'entah bagaimana'?"
Wilfred nyaris pingsan mendengar jawabannya.
Walaupun begitu, ia memahaminya. Itu adalah prestasi luar biasa yang dilakukan murni oleh naluri, sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. Ia telah melihatnya tak terhitung kalinya. Orang jenius sering kali bertindak seperti ini.
Namun, mengingat nasib bangsa dipertaruhkan kali ini, ia tidak bisa menyerah begitu saja.
"Pasti ada sesuatu, kan? Tunggu! Ibumu! Bukankah beliau pernah mengatakan sesuatu?!"
Ia beralih pada ibu istrinya itu sebagai pilihan terakhir. Sebagai seorang wanita bijak yang hidup di luar istana, ia berharap ibunya mungkin bisa memberikan beberapa pencerahan yang berharga.
"Ibuku? Oh, mungkin itu?"
Alicia mengangkat pandangannya, merenung sejenak sebelum menepukkan kedua tangannya.
"Ada sesuatu?!"
"Y-ya."
Meski sedikit kaget dengan antusiasme Wilfred yang tak biasa, Alicia mengangguk.
"Ini bukan secara khusus tentang bagaimana membuat kata-kata beresonansi, tapi aku pernah mendengar nasihat tentang apa artinya menjadi seorang ibu di masa depan. Beliau bilang, 'Ingatlah bagaimana perasaanmu saat masih kecil.'"
"Bagaimana perasaanmu saat masih kecil?"
"Iya. Orang bilang manusia cenderung melupakan panasnya momen tersebut; begitu kau berhasil mengatasi sesuatu yang sulit, kau akan berpikir itu bukan masalah besar."
"Begitu ya, itu masuk akal. Aku bisa memikirkan beberapa contoh."
Wilfred mengangguk setuju.
Bukan cuma mendapati bahwa berbagai hal sering kali tampak sepele saat dipikir-pikir lagi, namun dalam banyak kasus, saat-saat sulit itu berubah menjadi kenangan berharga. Penderitaan itu menjadi sumber kekuatan, sebuah pengalaman yang berharga.
"Tapi perasaan itu datang setelah berhasil mengatasinya; anak-anak belum melewatinya."
"Yah, itu benar."
"Ya, begitu kau berhasil mengatasi sesuatu, kau mungkin berpikir, 'Kenapa dulu aku mengkhawatirkan hal itu?' Tapi sebagai seorang anak kecil, bukankah hal-hal itu terasa seperti peristiwa besar dalam hidup?"
"Hmm, ya, kurasa aspek itu memang ada."
Ia teringat betapa kesepiannya ia saat masih kecil ketika menyadari ibunya tidak peduli padanya. Namun pada akhirnya, ia mulai terbiasa dengan hal itu.
Ia menerima kenyataan bahwa ibunya memang orang yang seperti itu. Ia sangat benci pada desakan ibunya yang tiada henti agar ia menjadi raja. Namun seiring berjalannya waktu, ia pun pasrah. Ia sadar bahwa darah yang mengalir di nadinya tak bisa diubah.
Jika dibandingkan dengan penderitaan rakyat miskin, masalahnya sangatlah sepele. Ia mulai memandangnya seperti itu.
"Itulah sebabnya, ketika seorang anak mengamuk, ibuku menyuruhku untuk mengingat bagaimana perasaanku pada usia tersebut. Pikirkan tentang bagaimana perasaanku, apa yang akan kupikirkan, dan apa yang aku ingin seseorang katakan atau lakukan untukku."
"Begitu rupanya..."
Wilfred bergumam sambil berpikir keras.
Mempertimbangkan sesuatu dari sudut pandang dan perasaan orang lain adalah prinsip dasar dalam negosiasi.
Akan tetapi, ia tanpa sadar telah meremehkan pentingnya hal itu, semata-mata karena ia adalah seorang dewasa yang berurusan dengan seorang anak kecil.
"Saat kau menjadi dewasa, kau cenderung ingin cepat-cepat memberikan jawaban daripada meluangkan waktu untuk menjelaskan," kata Alicia sambil tertawa, tapi Wilfred sama sekali tak menganggapnya lucu.
Rasanya seolah kepalanya baru saja dihantam godam.
Alicia benar seratus persen. Ia cuma melihat "jawaban" bahwa perbaikan memerlukan pengulangan setiap tindakan dengan lambat dan hati-hati. Ia agak arogan karena mengira jawaban ini saja bisa menyelesaikan segalanya.
Namun, hanya memberikan jawaban kemungkinan besar belumlah cukup.
"Alih-alih cuma memberi jawaban, kau seharusnya membagikan cerita tentang kegagalanmu yang serupa. Mungkin terkesan bertele-tele, tapi anak-anak biasanya lebih mau mendengarkan hal itu," jelasnya.
"Kegagalan yang serupa?"
Pernyataan yang tak terduga itu membuat Wilfred mengulanginya secara refleks.
Ia memahami bahwa kegagalan adalah salah satu bentuk pengalaman. Ia juga menyadari kebijaksanaan dalam memetik pelajaran dari kesalahan orang lain.
Namun, apa gunanya berbagi kegagalan yang sama?
"Ya. Dari sudut pandang anak kecil, orang dewasa itu luar biasa. Mereka kuat, besar, dan bisa melakukan apa saja!"
"Yah... Kurasa dulu ada saatnya aku juga memandang hal seperti itu."
Mengenang masa lalu, ia memang punya ingatan samar tentang perasaan semacam itu.
Namun, itu tak lebih dari sekadar ilusi belaka.
Tanpa ia sadari, semua orang di matanya terlihat semakin mengecil.
Ia mulai bertanya-tanya kapan tepatnya ia mulai merasa bahwa bahkan sebagai orang dewasa pun, manusia tetaplah seperti ini.
"Sekalipun orang sehebat itu berkata padamu, 'Kau cuma perlu melakukannya seperti ini,' kenyataannya adalah ada hal-hal yang benar-benar tak bisa kau lakukan, dan itu membuatmu merasa frustrasi!"
"Benarkah begitu?"
Wilfred tidak begitu paham.
Yah, mungkin wajar saja kalau ia tak paham.
Lagipula, tak pernah ada yang benar-benar mengajarinya apa pun saat ia masih kecil.
Ia belajar semuanya—ilmu pedang, gerakan tubuh, teknik bertarung, berburu, dan memasak—semuanya ia pelajari sendiri.
Memang ada orang-orang yang bisa ia panggil mentor, tapi ia baru bertemu mereka setelah bergabung dengan militer, di saat ia sudah mencapai titik di mana ia bisa melakukan sebagian besar hal sendirian.
Karena tak pernah merasakan bagaimana diajari saat ia tak mampu melakukan sesuatu, ia pun tak bisa memahaminya.
"Ya, memang begitu perasaanku dulu! Ibuku, yang bisa melakukan apa saja, tak pernah bisa memahami perasaanku saat aku tak bisa!"
"...Kata-kata itu terdengar sangat tak asing."
Senyum kering dan ironis tersungging di bibir Wilfred.
"Kau tak akan mengerti perasaan orang yang tak mampu melakukannya."
Sedari kecil, Wilfred sering kali diberitahu hal semacam itu.
Dan setiap kali itu terjadi, ia mengabaikannya, berpikir bahwa mereka hanyalah orang yang kurang berusaha keras.
Ia masih tak percaya kalau kata-kata itu salah.
Lagipula, Wilfred sendiri tidak bisa melakukan segalanya dengan sempurna sejak awal; ia agak kikuk dan butuh waktu lebih lama dari yang lain untuk belajar.
Meski begitu, mungkin ada pendekatan yang berbeda.
"Jadi, itukah sebabnya kita membicarakan kesalahan yang sama?"
"Ya. Saat kau menyadari bahwa seseorang yang hebat juga pernah membuat kesalahan yang sama, tiba-tiba kau merasa seolah-olah mereka tidak lagi berada di atas sana, melainkan seseorang yang sama sepertimu."
"Begitu ya."
"Dalam ingatanku, ibuku dulu juga melakukan kesalahan yang sama. Beliau juga punya saat-saat di mana beliau tak bisa melakukan beberapa hal. Jadi saat beliau bilang untuk melakukannya seperti ini, aku berpikir, 'Kalau aku mengikuti nasihatnya, aku bisa menjadi seperti beliau!' Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya sangat sederhana, kan?"
"Aku mengerti sekarang! Itu dia!"
Wilfred mengangguk berulang kali.
Meskipun ia pikir agak arogan untuk mengatakannya sendiri, ia menganggap dirinya sebagai orang yang cakap.
Dan justru itulah alasan terbentuknya sebuah "dinding".
Orang lain tanpa sadar membangun penghalang.
Mereka merasa bahwa ia adalah jenis orang yang berbeda dari orang biasa, seseorang yang terlahir dengan kemampuan bawaan.
Kata-kata dari orang seperti itu terasa tak relevan.
Perasaan seseorang yang tidak bisa melakukan sesuatu tak akan pernah bisa dipahami oleh orang yang bisa.
"Sebelum mengajari seseorang cara melakukan sesuatu, aku perlu meruntuhkan dinding itu."
Inilah tepatnya arti dari membuka mata seseorang.
Dinding itulah yang selalu menangkis kata-kata Wilfred.
Meskipun mereka harus mematuhi perkataan raja, di dalam hati, ia tetap dijaga pada jarak tertentu.
Sudah sewajarnya.
Tak peduli seberapa tinggi statusnya, raja tak bisa mengendalikan hati orang lain. Justru karena itulah ia perlu menyampaikan hal ini terlebih dahulu: bahwa bahkan seorang raja yang heroik sekalipun pada dasarnya hanyalah manusia biasa.
Seseorang yang berjuang, menderita, dan bergulat dengan masalahnya sendiri. Dengan meruntuhkan penghalang yang ada di antara mereka, barulah kata-katanya bisa benar-benar mencapai hati orang lain.
"Ibumu benar-benar luar biasa. Meski itu adalah panduan untuk membesarkan anak, itu pastinya bisa dijadikan panduan untuk melatih bawahan juga."
"Benarkah? Begitukah?"
"Ya, berkat dirimu, aku akhirnya bisa melihat seberkas harapan terkait masalahku."
"Asyik! Senang mendengarnya!"
Sambil menepukkan tangannya, Alicia tersenyum cerah.
Wilfred menatapnya, merasakan apresiasi yang mendalam.
"Kau mungkin benar-benar malaikat pembawa keberuntungan yang dikirim oleh para dewa untukku."
"A-Apa?! Apa yang tiba-tiba Anda katakan?!"
Alicia tampak benar-benar terkejut dengan komentar tak terduga itu.
"Setelah bertahun-tahun berkutat dengan masalah ini, bersamamu membuat semuanya menjadi jelas dalam sekejap."
Wilfred menjawab dengan ekspresi yang sangat serius, karena mulai sungguh-sungguh merasakan hal ini.
"Itu bukan aku; ibukuhlah yang luar biasa!"
"Kalau begitu, mungkin saja ibumu di surga yang membimbingmu. Tidak, tidak mungkin begitu."
Meskipun ia baru saja mengatakannya sendiri, ia merasa sulit untuk memercayainya.
Ia tidak bisa memberikan kebahagiaan yang pantas didapatkan oleh seorang wanita kepada istrinya itu.
Ia bersedia melakukan apa saja untuknya, namun itu adalah satu hal yang benar-benar tak bisa ia lakukan.
Tak mungkin seorang ibu akan membimbing putrinya untuk berada di bawah pengawasan pria sepertinya.
"Bukan, bisa jadi memang begitu kenyataannya," tampaknya Alicia punya pendapat yang berbeda.
"...Apa yang membuatmu berpikir begitu?"
"Karena aku yakin kita berdua punya kecocokan yang baik, kan?"
"Lumayan... Tidak, sebenarnya cukup bagus. Setidaknya dari sudut pandangku, ini adalah kecocokan yang terbaik yang pernah ada."
"T-Tunggu, yang terbaik?!"
Alicia tersipu merah dan salah tingkah.
Walaupun ia mengatakan bahwa mereka serasi, ia mau tak mau bertanya-tanya mengapa gadis itu begitu terkejut mendengarnya.
"Ya, bersamamu sering kali memberiku kebahagiaan, kenyamanan, dan kedamaian. Itu adalah sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya. Mengingat fakta ini, bisa kubilang kita punya kecocokan yang terbaik."
"B-Begitu ya... yang terbaik, heh? Wow, itu luar biasa!"
Alicia menempelkan tangannya di pipi, ekspresinya penuh kegembiraan saat ia mulai berputar-putar dalam tarian yang aneh.
Paling tidak, tampaknya gadis itu benar-benar bahagia.
Diberi tahu bahwa ia, seorang raja iblis yang kejam dan sewenang-wenang, punya kecocokan terbaik dengan seseorang adalah hal yang sangat luar biasa.
Yah, rasanya tidak buruk sama sekali. Nyatanya, hal itu membuatnya bahagia.
Saat pasangan kerajaan itu membenarkan kecocokan mereka di sela-sela makan malam, sepasang individu lain, seorang ibu dan anak, sedang duduk berhadapan di Istana Terpisah Barat, menyantap hidangan.
Namun, tak seperti suasana ceria yang memenuhi meja pasangan kerajaan, hanya ada keheningan mencekam di antara mereka berdua.
"Makanan menyedihkan apa ini?"
Eleanor menatap deretan hidangan di atas meja, wajahnya berkerut jijik. Bagi wanita itu, sebuah jamuan kerajaan seharusnya menjadi lambang kemewahan.
Tidak cukup jika makanannya hanya terasa enak; penampilannya, piring dan gelasnya, dan bahkan taplak mejanya haruslah sangat indah, setiap detail harus dikurasi dengan cermat agar memukau para tamu.
Hidangan itu harus bisa menampilkan kekayaan yang ditumpahkan ke dalamnya, membuatnya sangat jelas betapa mewahnya hidangan itu.
Sebaliknya, makanan di hadapannya, secara halus, sangat mengerikan.
Rona kecokelatan yang mendominasi kurang berwarna.
Tak ada upaya dekorasi atau hiasan untuk menyenangkan mata yang melihatnya.
Secara keseluruhan, hidangan itu sama sekali tidak memancarkan keanggunan.
"A-Aku yang membuatnya. Aku ingin Ibu mencicipinya," ujar Arthur dengan ragu-ragu, dan Eleanor menyipitkan matanya dengan sinis.
Ia tak pernah mengajari anaknya cara memasak, ia juga tidak pernah membiarkan kelakuan seperti itu.
Memasak adalah hal yang ditujukan untuk masyarakat kelas bawah, bukan untuk mereka yang berkedudukan mulia.
"Y-Ya. Aku mempelajarinya dari Yang Mulia Ratu..."
"Dari putri monyet gunung itu?"
Ia bisa merasakan pelipisnya berkedut menahan amarah.
Penghinaan yang dilontarkan wanita itu adalah sesuatu yang tak akan pernah bisa ia lupakan.
Ketika ia mengira ia diundang ke istana dalam (sebuah janji yang setengah memaksanya dari raja), ia diperlakukan dengan sangat tidak sopan oleh pasangan tersebut.
Aku adalah tamu yang diundang ke sini.
Dan lagi, aku juga ibunda dari raja berikutnya.
Hal yang sama juga terjadi pada pesta pergaulan yang diselenggarakan di istana.
Karena ini adalah debut kembalinya ia ke masyarakat, ia mendandani dirinya secantik mungkin untuk acara itu.
Ia bangga dengan penampilannya yang luar biasa.
Reaksi para hadirin pun sangat positif.
Akan tetapi, putri monyet gunung itu pasti memohon secara diam-diam kepada raja, memaksa tetua dari Delapan Adipati Agung, Duke Wales, untuk berlutut, dengan demikian mencuri sorotan yang seharusnya menjadi haknya.
Mendapatkan perhatian dengan menggunakan kekuasaan semata-mata karena dia tak bisa bersaing denganku dalam hal kecantikan, budaya, dan tata krama adalah tindakan dari rubah betina yang benar-benar pengecut.
Apa ia belajar dari wanita itu?
"Jadi, kau mau bilang kalau makanan macam ini yang cocok untukku? Makanan ini yang tak lain hanyalah makanan rakyat biasa?!"
Eleanor mengertakkan giginya. Ini jelas merupakan sebuah deklarasi perang.
Seolah-olah wanita itu berkata bahwa ia tidak boleh bermimpi menjadi ibu suri. Ialah yang akan menjadi ibunda raja. Sampai-sampai menyuruh Arthur menyiapkan makanan ini untuknya—betapa jahatnya kepribadian wanita itu!
"T-Tidak! Yang Mulia Ratu tidak menyuruhku membuat ini! A-Aku membuatnya sendiri..."
"K-Kau bodoh!!!"
Dalam luapan amarah, ia menampar keras wajah Arthur bahkan sebelum ia menyadari apa yang ia lakukan.
Kuatnya pukulan itu membuatnya terhuyung dan terjatuh.
"Disesatkan oleh musuh! Kau seharusnya tahu malu, tahu malu!"
Ia terus melontarkan hinaan kepada anaknya yang tersungkur.
Sementara aku mati-matian berusaha membangun koneksi yang bisa menjadikan Arthur seorang pangeran, di sini ia justru tanpa malu-malu menjadi pion musuh dan membantu menertawakanku—betapa menyedihkannya. Ini benar-benar melambangkan ketidaktaatan seorang anak.
"Musuh!!! Yang Mulia Ratu bukan musuh..."
"Tutup mulutmu!"
"Guh!??"
Ia membungkam putranya dengan menginjak perutnya saat anaknya mencoba membantah, tak menyadari kebodohannya sendiri. Meski ia seorang wanita, ia menumpukan seluruh berat badannya di atas tubuh anaknya; itu pasti sangat menyakitkan.
Namun, bahkan ketika ia menatap wajah anaknya, kemarahan Eleanor sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda mereda.
Sebaliknya, makin ia melihat ekspresi bodohnya itu, makin meluaplah amarahnya.
"Kau idiot! Bodoh! Menyedihkan! Menyedihkan! Benar-benar menyedihkan! Kenapa kau membuatku menderita penghinaan seperti ini?!"
teriaknya sambil terus menginjak-injak anaknya tanpa menahan diri sama sekali.
Saat ini, ratu itu pasti sedang menertawakan betapa mudahnya kami jatuh ke dalam perangkapnya.
Diperdaya oleh seekor monyet gunung yang bodoh dari negara yang baru bangkit adalah sebuah penghinaan yang tak terkira.
Wanita itu telah membuatku menanggung rasa malu yang begitu besar. Ia takkan pernah bisa memaafkan anaknya, tak peduli apa pun yang terjadi.
Sangat perlu untuk menanamkan dengan kuat kepadanya bahwa perilaku semacam ini tak bisa ditoleransi.
"Maafkan aku... Aku sangat menyesal... Aku benar-benar minta maaf...!"
Arthur meringkuk seperti udang, air mata mengalir di wajahnya saat ia berulang kali meminta maaf. Tampaknya ia mulai memahami betapa parahnya tindakannya dan merenungkannya.
Setidaknya itu ada kemajuan.
"Kalau kau sudah mengerti, cepat belajar sana! Kau sudah tertinggal!"
Setelah mengatakan apa yang perlu dikatakannya, ia membelakangi Arthur dan melangkah menuju jendela.
Mungkin karena bulan purnama muncul dua malam lalu, bulan sedikit menyusut. Rasanya seperti cerminan dari situasinya saat ini, yang hanya memicu kemarahannya yang mendidih.
Ketika Arthur menjadi penerus pertama pewaris takhta, ia mengira keberuntungan akhirnya berpihak padanya.
Tapi—
"Aku harus... Aku harus membuat sebuah rencana."
Jika terus begini, ia harus mengakui bahwa peluang Arthur untuk naik takhta sangatlah kecil.
Tentu saja, ratu yang sah akan menginginkan anaknya sendiri yang menduduki takhta.
Tampaknya raja benar-benar terpesona oleh tipu daya sang ratu.
Walaupun ia dipuji sebagai raja iblis yang kejam dan lalim, sangatlah memalukan baginya untuk dijerat oleh pelacur seperti itu.
Di masa yang tak terlalu jauh, seorang pangeran kemungkinan besar akan lahir, dan ketika itu terjadi, peluang Arthur untuk mewarisi takhta niscaya akan menyusut.
Apabila keadaan terus berlanjut seperti ini, ia mungkin mendapati dirinya disingkirkan, dipaksa kembali menjalani kehidupan terkekang di suatu daerah terpencil.
Ia sama sekali tak bisa membiarkan hal itu terjadi.
"Aku pasti akan menjadikan Arthur seorang raja!"
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya menancap ke telapak tangannya, mencurahkan tekadnya.
Andai itu terjadi, keinginannya bakal terwujud seutuhnya.
Ia bisa menjalani hidup elegan di istana kerajaan ini seumur hidupnya.
Keluarga bangsawan dengan keturunan yang lebih tinggi darinya bakal membungkuk dan tunduk di hadapannya.
Ia bisa memandang rendah mereka dengan bangga.
Membayangkan adegan itu saja sudah membuat bulu kuduknya merinding dan memenuhinya dengan kebahagiaan yang menggetarkan.
Itulah satu-satunya pikiran yang menguasai benaknya.
Karena itu, ia tetap tak menyadari apa pun.
Ia tak menyadari fakta bahwa di mata anaknya, secercah keputusasaan, dan rasa kepasrahan, telah mulai mengakar kuat.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments