Header Ads Widget

Chapter 56-60 ; Rabun Jauh Raja Lindor

 


Episode 56: Rabun Jauh Raja Lindor

◆◆◆

"Saya mohon maaf karena telah merepotkan dan mengajukan permintaan yang sangat tidak masuk akal kali ini, Raja Lindor."

Di sebuah ruangan di dalam Istana Kerajaan Lindor sementara, Raja Admos mengucapkan hal itu kepada Raja Lindor dengan nada dermawan.

Sikapnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia merasa bersalah, melainkan lebih seperti seseorang yang sedang memberi bantuan. Dan faktanya, karena Kerajaan Lindor memang telah menerima banyak sekali kucuran dana bantuan dari Admos, Raja Lindor tak punya posisi untuk membantah atau merasa tersinggung.

"Tidak, tidak perlu sungkan, Raja Admos. Anda selalu berbaik hati membantu negara kami. Permintaan ini bukanlah apa-apa," balas Raja Lindor merendah.

"Baguslah kalau begitu," sahut Raja Admos singkat, tampak sangat puas dengan sikap patuh rekannya itu.

Raja Lindor ini dulunya hanyalah seorang bangsawan tinggi yang memiliki sedikit ikatan darah dengan keluarga kerajaan lama yang melarikan diri. Karena ia tidak memiliki darah murni keturunan raja, posisinya cukup lemah. Oleh karena itu, ia rela membuang harga dirinya dan bersikap ramah tamah pada Raja Admos. Jangankan cuma menundukkan kepala, ia rela melakukan hal yang jauh lebih rendah asalkan suasana hati donaturnya itu tetap baik.

"Kalau begitu, haruskah kita langsung menuju Reruntuhan Pemanggilan sekarang?" tawar Raja Lindor.

"Ya. Waktu saya terbatas. Saya harus menyelesaikan urusan ini secepatnya lalu segera pulang."

Menyetujui hal itu, Raja Lindor dan Raja Admos pun berangkat menuju lokasi reruntuhan kuil bersama rombongan pengawal.

Normalnya, menyambut kepala negara asing membutuhkan rangkaian upacara penyambutan dan perjamuan resmi yang memakan waktu berhari-hari. Namun Raja Admos menolak semua protokoler itu. Sebenarnya menunda satu atau dua hari tidak akan mengubah apa-apa, tapi obsesi gila Raja Admos untuk segera mendapatkan 'pahlawan panggilannya' yang baru membuatnya tak sabar.

Rupanya, kehilangan Nara merupakan pukulan telak dan kekecewaan yang teramat besar bagi Raja Admos. Tentu saja, pria egois itu dengan mudahnya melupakan fakta bahwa dialah yang sengaja mengirim Nara yang belum matang ke markas Kenta—murni karena cemburu buta dan dendam pribadi.

Saat rombongan bersiap menuju kereta kuda, salah satu penasihat kepercayaan Raja Lindor mendekat dan berbisik di telinga rajanya.

"...Yang Mulia, bolehkah hamba berbicara sebentar dengan Anda?"

"Hmm? Ada apa? Oh, mohon maaf, Raja Admos. Silakan Anda naik ke kereta terlebih dahulu, saya akan segera menyusul."

"Baiklah," angguk Raja Admos.

Setelah Raja Admos masuk ke keretanya, Raja Lindor menarik penasihatnya menjauh dari rombongan.

"Ada apa sebenarnya memanggilku di saat penting begini?" tegur Raja Lindor dengan nada kesal tertahan.

Sang penasihat menjawab dengan suara bergetar dan wajah sangat serius.

"...Yang Mulia... apakah Anda benar-benar yakin tentang keputusan ini?"

Kalimat penasihatnya jelas menyiratkan sebuah peringatan keras. Intinya: Haruskah kita terus menuruti tuntutan gila Raja Admos ini secara membabi buta?

"Oh, maksudmu soal laporan 'itu'?"

"Benar, Yang Mulia... Hamba sendiri sudah turun langsung untuk menyelidiki area di sekitar reruntuhan, dan kondisinya sangat... tidak wajar. Hamba sangat menyarankan agar kita menunda ritual ini dan mengawasi situasinya untuk sementara waktu."

"Aku mengerti kekhawatiranmu, tapi..."

Raja Lindor bukannya bodoh. Ia tahu peringatan penasihatnya sangat beralasan dan ia tidak sepenuhnya mengabaikan hal itu. Namun realitas politiknya jauh lebih pahit: Lindor hanya bisa bertahan bernapas saat ini berkat aliran dana dari Admos.

Mustahil bagi Lindor untuk menolak permintaan donatur utamanya. Apalagi syarat dari Admos ini sangat menggiurkan—hanya dengan memberikan 'izin pakai' atas lingkaran sihir pemanggilan yang sama sekali tidak memakan biaya materi Lindor, mereka bisa mengamankan kucuran dana bantuan selanjutnya.

"Lagipula, begitu ritual pemanggilan ini selesai, obsesi Raja Admos akan terpuaskan dan dia pasti akan tenang. Masalah efek samping di area reruntuhan itu takkan jadi masalah besar," kilah Raja Lindor membenarkan keputusannya.

"Hamba hanya bisa berdoa semoga firasat buruk ini salah..."

Tentu saja, penasihat itu hanya setia pada negaranya dan Raja Lindor. Ia sama sekali tidak menaruh rasa hormat apalagi kepercayaan pada Raja Admos. Bagaimana bisa ia mempercayai raja ceroboh yang telah mengorbankan pahlawannya sendiri dengan bodohnya?

Usai perbincangan singkat itu, Raja Lindor masuk ke keretanya dan rombongan pun berangkat menuju situs kuno pemanggilan pahlawan.

Namun, di sepanjang perjalanan mendekati lokasi reruntuhan, pemandangan dari luar jendela kereta sukses membuat napas Raja Lindor tercekat.

"I-ini..."

"Hmm? Ada apa, Raja Lindor?" tanya Raja Admos yang duduk di depannya.

"Hah? O-Oh, tidak ada apa-apa..."

Raja Lindor memang sudah membaca isi laporan dari penasihatnya tadi pagi. Tapi, membacanya di atas kertas dan melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri adalah dua hal yang berbeda. Ia sampai kehilangan kata-kata saking terkejut dan ngerinya.

Pemandangan di luar jendela hanyalah hamparan tanah mati yang gersang dan sunyi. Tak ada satu pun rerumputan, pepohonan, apalagi makhluk hidup di sana. Seolah tanah itu sudah dikutuk menjadi abu.

Raja Lindor yang berniat memeriksa keadaan di sekitar reruntuhan terus menatap ke luar jendela dengan tegang. Berbeda dengan Raja Admos yang sama sekali tak menyadari perubahan alam yang mengerikan itu karena hanya asyik duduk bersandar di keretanya.

Di dalam hatinya, Raja Lindor menjerit bimbang. 'Apa yang harus kulakukan?! Apa aku harus tetap membiarkannya melakukan ritual pemanggilan dunia lain di tanah ini? Kalau dipaksa... bukankah fenomena tanah mati ini akan menyebar lebih luas lagi?! T-Tapi... aku tidak mungkin berani menolak permintaan Admos...'

Tepat saat pikirannya sedang kacau balau karena ketakutan... ledakan itu terjadi.

"!? A-Apa yang terjadi?!"

BBBOOOOOOOOOOOOOOMMMMMM!!!

Suara gemuruh ledakan maha dahsyat terdengar memekakkan telinga, bahkan getarannya terasa sampai ke dalam kereta. Kuda-kuda penarik kereta langsung meringkik panik dan berhenti mendadak, membuat seluruh rombongan berhenti total.

"Hei!! Apa-apaan ini?! Apa yang sebenarnya terjadi di depan sana?!"

Terkejut dan marah oleh suara ledakan mendadak itu, Raja Admos langsung melompat keluar dari keretanya sambil gemetar menahan amarah.

"Oh! Tunggu, Raja Admos, Anda tidak boleh keluar! Sangat berbahaya! Kita harus mengumpulkan informasi dulu..."

Tepat saat Raja Lindor meneriakkan peringatan dari dalam kereta, gelombang kejut raksasa hasil ledakan menghantam konvoi mereka.

"Gyaaaaa!!"

"Uwaaahhh!!"

Raja Admos yang nekat berdiri di luar langsung tersapu badai angin dan terpelanting jauh. Sementara Raja Lindor yang masih di dalam, ikut terlempar saat keretanya terbalik dan berguling dengan brutal.

Beruntung, para pengawal pribadinya dengan sigap mendekap tubuh rajanya saat kereta itu berguling, sehingga ia terhindar dari benturan fatal.

"Yang Mulia! Yang Mulia!! Anda tidak apa-apa?!"

"Ugh... aduh... sakit... Oh, kalian langsung melindungiku dengan tubuh kalian ya? Syukurlah, aku tidak terluka parah," rintih Raja Lindor.

Mendengar rajanya aman, para pengawal sedikit bernapas lega. Namun wajah mereka kembali tegang, mengawasi sekeliling kereta yang ringsek.

"A-Apa sebenarnya ledakan barusan itu?" tanya sang Raja.

"Kami belum tahu, Yang Mulia. Mohon tunggu sebentar, hamba akan memeriksa kondisi di luar."

"Baiklah!"

Pengawal itu dengan hati-hati merangkak keluar melalui pintu kereta yang telah hancur. Begitu kepalanya menyembul keluar...

"A-Apa-apaan ini...?!"

Sang pengawal tak kuasa menahan jeritannya saat melihat pemandangan di depannya.

"A-Ada apa di luar sana?! Bahaya apa yang sedang terjadi?! Apa aku boleh keluar sekarang?!" seru Raja Lindor panik dari dalam.

"M-Mohon tunggu sebentar, Yang Mulia..."

Setelah mengedarkan pandangan dan memastikan tidak ada serangan lanjutan, pengawal itu menoleh kembali ke dalam.

"Sepertinya ancaman langsung sudah tidak ada. Anda boleh keluar, Yang Mulia."

"Baik."

Raja Lindor pun merangkak keluar dibantu pengawalnya. Begitu matanya menyesuaikan diri dengan cahaya... pemandangan luar biasa mengerikan langsung menyambutnya.

Bangkai kereta-kereta mewah yang hancur, kuda-kuda yang mati tergeletak, dan puluhan prajurit yang terkapar berserakan di tanah. Rintihan kesakitan terdengar dari segala penjuru. Beberapa kuda yang selamat meringkik panik. Ada prajurit yang masih hidup dan merangkak minta tolong, namun tak sedikit pula yang tergeletak kaku tak bernyawa.

Menghadapi pemandangan neraka tersebut, kaki Raja Lindor langsung lemas.

"I-Ini semua... apa ini..." gumamnya bergetar.

Tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaannya. Situasi di lokasi sangat kacau balau, semuanya sibuk merawat yang terluka.

Di tengah kekacauan itu, pengawal yang sejak tadi mengawasi area sekitar tiba-tiba menyadari sesuatu dan membelalakkan matanya ngeri ke arah satu titik.

"A-Ah! I-Itu!!"

"A-Ada apa lagi?!"

Raja Lindor langsung mengikuti arah pandang pengawalnya yang berteriak histeris, dan... matanya ikut terbelalak seakan mau keluar dari kelopaknya.

"Reruntuhannya... altar pemanggilannya..."

Di dasar lembah sana... Reruntuhan kuil tempat altar pemanggilan berada telah hancur total hingga rata dengan tanah, hangus menghitam tanpa sisa.

"...Jika kita lihat pola kerusakan radial di sekitar kawahnya, ini bukan bencana alam, Yang Mulia. Reruntuhan itu sengaja diledakkan dengan sihir berkekuatan masif dari satu titik pusat."

Mendengar analisa pengawalnya, Raja Lindor perlahan menyadari sesuatu.

"...Menurutmu, siapa orang gila yang sanggup melakukan ini?" tanya Raja Lindor.

"...Hamba rasa kita semua sudah sangat tahu siapa pelakunya karena kita pernah melihat style ledakan brutal ini sebelumnya."

Analisa pengawal itu sudah sangat jelas menunjuk pada satu nama.

"Kau benar. Aku juga berpikiran sama."

Bahkan tanpa perlu berpikir keras, siapa pun pasti bisa menebak pelakunya. Admos berniat melakukan pemanggilan dunia lain untuk menargetkan nyawa Kenta. Jadi sangat logis jika targetnya sendiri yang datang dan menghancurkan altarnya sebelum ritualnya dimulai.

Namun, di tengah kesimpulan logis itu, muncul satu keraguan besar.

"Itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal... Tapi, bagaimana bisa Kenta Maya tahu jadwal rahasia kita hari ini?"

"...Hamba juga tidak tahu pasti, tapi kemungkinan besar ada kebocoran informasi tingkat tinggi dari pihak Admos..."

Tepat saat nama Admos disebut, wajah Raja Lindor seketika memucat. Ia baru teringat satu hal yang amat sangat penting.

"Gawat! Raja Admos ada di sini juga kan tadi?!"

"!?"

Tersadar dari keterkejutan panjangnya, para pengawal langsung panik menyebar ke segala arah untuk mencari tubuh Raja Admos.

Setelah pencarian yang cukup tegang di antara puing-puing kereta, mereka akhirnya menemukan Raja Admos yang tergeletak tak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka. Saat Raja Lindor melihatnya, jantungnya serasa berhenti berdetak karena horor, namun ia langsung menghela napas lega saat memastikan dada pria itu masih naik-turun.

Kematian Raja Admos di wilayah kedaulatan Lindor adalah deklarasi perang terbuka. Itu akan memicu invasi pembalasan besar-besaran dari Admos ke Lindor.

Beruntung nyawanya masih tertolong meskipun lukanya sangat parah. Namun masalahnya belum selesai. Ini membuktikan bahwa sistem keamanan Lindor telah gagal melindungi tamu VIP kenegaraan mereka. Jika Admos menuntut pertanggungjawaban ganti rugi, Lindor pasti tamat.

Karena itu, otak picik Raja Lindor langsung berputar mencari kambing hitam untuk cuci tangan.

"Dengar semuanya!!" teriak Raja Lindor menggelegar ke seluruh pasukannya. "Ledakan yang menghancurkan reruntuhan suci ini sudah dipastikan adalah ulah serangan teroris dari pemanggil pendahulu, Kenta Maya! Dia sengaja meledakkan reruntuhan ini agar kita tak bisa memanggil pahlawan untuk menghukumnya! Serangan biadab ini tidak akan pernah bisa kita maafkan!!"

Begitulah deklarasi resmi yang diumumkannya.

Secara teknis, pelakunya memang benar Kenta. Tapi motif utamanya jauh berbeda. Raja Lindor, yang sama sekali tak paham soal bencana ekologis yang sedang mengancam negerinya, merasa sangat bersyukur karena ia bisa melimpahkan seluruh kesalahan dan tanggung jawab atas cederanya Raja Admos ke pundak Kenta.

Tetapi... pria berpandangan sempit itu sama sekali tidak sadar... bahwa tuduhan piciknya itu baru saja menyalakan sumbu bom waktu yang akan membangkitkan kemurkaan Kenta.


Episode 57: Efek Domino Ritual Isekai

"Hoh... begitu ya?"

Mendengar laporan langsung dari Mona soal situasi di Lindor paska ledakanku, urat di dahiku berkedut kesal. Ini pertama kalinya sejak sekian lama aku benar-benar hampir kehilangan kendali emosi.

"Wah, gawat nih. Ternyata ketahuan ya kalau kau pelakunya," celetuk Ivern.

"Yah, mau bagaimana lagi. Di seluruh dunia ini, manusia sinting mana lagi yang bisa meledakkan situs sejarah dalam sekejap selain Maya-san?" tambah Nara santai.

Kedua orang itu menanggapi laporannya dengan ringan, sama sekali tidak menangkap apa masalah intinya.

"Heh, memang aku yang ngebom, jadi wajar saja mereka tahu. Aku masa bodoh dituduh teroris apalah itu. Lagian aku juga tidak repot-repot membersihkan sidik jariku. Bukan itu yang bikin aku emosi."

"Terus apa?"

"Masalahnya adalah pengumuman resmi kerajaan Lindor. Mereka dengan lantangnya mengumumkan pada dunia kalau alasan utamaku menghancurkan lingkaran sihir pemanggilan itu adalah 'karena aku ketakutan ada pahlawan baru yang bakal di- summon untuk membunuhku'. Begitu kan?"

"Lah, itu kan juga masuk salah satu alasanmu ngebom tempat itu?"

"Itu alasan minor! Alasan terbesarku meledakkan lingkaran sihir itu adalah karena mekanisme parasit alat itu! Kalian lihat sendiri kan? Setiap kali ritual pemanggilan beda dimensi itu diaktifkan, dia bakal menguras habis seluruh energi magis (Life Force) alam dan tanah di sekitarnya."

Akibatnya, area berhektar-hektar di sekeliling reruntuhan berubah jadi tanah mati dan pasir gersang di mana rumput pun tak bisa tumbuh. Ini jelas-jelas ancaman ekosistem skala global yang sangat berbahaya. Makanya aku tanpa ragu menghancurkannya untuk mencegah pengaktifan ritual yang ketiga. Tapi...

"...Rupanya anjing-anjing di Lindor ini benar-benar contoh nyata dari peribahasa 'Air Susu Dibalas Air Tuba'," geramku mengepalkan tangan.

Mendengar gumamanku yang sangat dingin dan penuh niat membunuh, Nara dan Ivern langsung menelan ludah dan menatapku tegang.

"H-hei, Maya-san? Kau tidak berniat mengamuk beneran kan?" bujuk Nara gugup.

"I-Iya, Kenta. Santai sedikit. Respons Lindor memang menyebalkan, tapi wajar saja mereka menyalahkanmu. Mereka kan tidak tahu fakta ilmiah soal tanah mati akibat ritual itu." Ivern mencoba menetralisir keadaan.

Namun aku hanya mendengus sinis mendengar pembelaan naif Ivern.

"Jangan bercanda. Tidak mungkin mereka tidak menyadari perubahan lahan yang sangat ekstrem dan gersang di depan mata mereka. Kalau sampai pihak kerajaan benar-benar tutup mata dan tidak menyadarinya, berarti raja itu murni idiot tulen yang tak pantas hidup."

Aku sangat yakin 100% mereka pasti sadar ada yang salah dengan tanah itu. Buktinya, Mona melaporkan kalau Raja Admos yang saat itu tak sengaja ikut ke lokasi terkena efek ledakanku dan terluka parah.

Begitu mendengar bagian laporan itulah aku langsung paham cara kerja otak licik mereka.

Raja Lindor pasti sengaja memakai namaku sebagai tameng untuk menutupi kelalaiannya sendiri. Lindor butuh aku jadi kambing hitam agar mereka tak disalahkan dan diperangi oleh Admos karena gagal melindungi tamu VIP mereka.

Secara politik, strategi itu memang sangat masuk akal dan cerdas. Tapi aku tak sudi memaafkan fakta bahwa mereka menggunakan namaku dengan niat kotor itu.

Awalnya aku meledakkan altar itu secara spontan karena cemas melihat lahan mati yang meluas. Kalau tanah tandus itu terus meluas seperti kanker dan membunuh lahan pertanian di berbagai negara, imbasnya Meileen, anakku Leon, serta rumah kami pasti akan kena efek kelaparan global. Aku meledakkan tempat itu murni untuk mencegah bencana yang lebih besar bagi dunia ini.

Tapi apa balasannya? Para pemimpin manusia di dunia ini justru seolah sangat menikmati proses mencekik leher mereka sendiri dan menyalahkan orang yang mencoba menghentikan talinya.

"Terus sekarang... enaknya aku harus bagaimana ya?"

Sejujurnya, setelah kebaikan hatiku diinjak-injak untuk kesekian kalinya, godaan untuk meratakan seluruh Kerajaan Lindor dari peta dunia terasa sangat kuat.

"...Ya, kurasa meratakan satu negara bukan ide yang buruk."

Begitu aku menggumamkan ide gila itu, Nara dan Ivern langsung melotot panik menatapku. Tatapan mereka yang mengawasi gerak-gerikku daritadi ternyata bukan tanpa alasan.

"Woi, woi, woi! Otakmu barusan merencanakan hal psikopat apa lagi?!" teriak Ivern.

"...Sial, perasaanku sangat tidak enak melihat wajahnya. Pasti ada hal gila yang mau dia lakukan," gumam Nara mundur perlahan.

"Hah? Nggak kok. Cuma kepikiran buat ngehapus Lindor dari muka bumi ini selamanya," jawabku santai.

"SUDAH KUDUGA KAU BAKAL NGOMONG GITU!!!" teriak Ivern dan Nara bersamaan.

"J-Jangan gila, Maya-san! Kau ini sudah jadi buronan kelas kakap lho! Kalau kau sampai menghapus satu negara utuh, seluruh dunia pasti bakal langsung membentuk Aliansi Militer Multinasional khusus cuma buat membunuhmu!" seru Nara panik membayangkan Perang Dunia.

"Nara benar, Kenta! Memang dengan sihirmu kau mungkin bisa menang sendirian... tapi bayangkan situasi dunianya. Di dunia yang sedang kacau balau dilanda perang global, bagaimana Meileen dan Leon bisa hidup tenang dan aman?!" Ivern mengeluarkan kartu truf mematikannya (membawa-bawa keselamatan keluargaku).

"Ugh... itu poin (counter-attack) mematikan yang sangat akurat."

Tentu saja. Jika perang global pecah, seluruh rantai pasokan pangan dan ekonomi dunia akan hancur lebur. Jika itu terjadi, suplai gandum dan makanan tidak akan pernah bisa kami dapatkan, yang berarti Meileen dan Leon bisa mati kelaparan di tengah hutan terpencil ini.

"...Tch. Yaudah, rencananya kubatalkan. Aku tidak akan ngebom Lindor," keluhku menyerah.

Mendengar itu, mereka berdua akhirnya menghela napas lega yang teramat panjang seakan baru selamat dari kiamat.

"Haaah... Sumpah, jantungan aku tiap kali harus ngerem ide gila Maya-san..." keluh Nara mengelus dada.

"Sama. Anak ini benar-benar bom waktu berjalan. Kalau nggak ada yang mengawasi, dia bisa ngebom bumi tanpa sadar."

"Itu benar banget."

"Mau kubunuh kalian semua sekarang juga?" ancamku dingin pada dua curut yang enak saja mengataiku bom waktu.

Memangnya kalian pikir siapa yang bikin aku mau ngebom negara? Wajar dong aku ngamuk! Gara-gara manuver busuk mereka, sekarang aku masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) dengan tambahan tuduhan: 'Perencana Pembunuhan Dua Kepala Negara'.

Kalau kau bertindak sedikit heroik untuk menyelamatkan dunia ini, inilah balasan pahit yang akan kau terima. Dunia sampah ini memang sudah busuk.

"Jadi? Kesampingkan dulu soal ledakan altarnya, bagaimana dengan situasi target utamanya?" tanyaku pada Mona kembali fokus ke laporan.

Aku memang sudah dengar hasil survei Mona soal lokasi kejadian, tapi jujur saja setelah ini aku merasa masalahnya sudah lepas dari tanggung jawabku.

"Baik, Tuan Kenta, hamba akan melanjutkan laporan. Hamba telah memantau area berhektar-hektar di sekeliling bekas kawah reruntuhan, namun..."

Wajah Mona yang biasanya tanpa emosi itu mendadak berubah sangat muram.

"Ada apa?"

"Tidak... Masalahnya, penyebaran tanah mati itu terbukti sangat cepat. Sebagian besar lahan pertanian dan desa-desa di sekitar area reruntuhan kini telah berubah jadi gurun tandus. Situasi agrikulturnya sangat kritis, tidak ada satu pun tanaman pangan yang bisa tumbuh di sana."

"!!"

"Eh?"

"Ah... kan, sudah kuduga."

Respons kami bertiga sangat berbeda. Aku hanya menghela napas pasrah karena tebakanku 100% benar, sementara Nara memiringkan kepala bingung karena tak paham arti laporan Mona. Berbeda dengan Ivern yang langsung berdiri dari kursinya dengan wajah pucat pasi.

"T-Tunggu sebentar, Mona! Kau bilang sama sekali tak ada tanaman pangan yang bisa tumbuh?! Kalau areanya seluas desa pertanian... itu artinya!!"

Mendengar nada suara Ivern yang panik, Nara akhirnya ikut sadar akan gentingnya situasi.

"Hah? Maksudnya... kelaparan? Bencana kelaparan massal seperti yang kita pelajari di buku sejarah bumi itu?!"

"Tepat sekali, Nara. Berbeda dengan teknologi bumi kalian, alat pertanian di dunia ini sangat kuno dan terbelakang. Kami tidak punya sistem produksi massal, jadi stok cadangan makanan nasional sangat tipis! Kalau sampai banyak desa pertanian di satu negara yang gagal panen serentak... efek dominonya bakal..."

Melihat wajah pucat Ivern dan Nara, aku menyeringai sinis.

"Yap. Bencana kelaparan massal tingkat nasional akan segera melanda mereka."

"Kenapa kau malah ketawa puas begitu?!" protes Nara ngeri melihat senyum sadisku.

"Habisnya hasil akhirnya sudah sangat bisa ditebak sejak awal. Lingkaran Sihir Sialan itu rakusnya bukan main. Dia menyedot habis-habisan semua mana penyokong kehidupan bumi dalam radius puluhan kilometer sampai tanahnya mati."

Di dunia ini, partikel sihir (mana) bukan sekadar senjata, melainkan esensi kehidupan. Tumbuhan dan seluruh ekosistem bernapas dari sirkulasi sihir alam. Jika energi sihirnya tersedot habis, wajar tanahnya langsung jadi gurun mati.

"Tunggu, kalau Maya-san paham akar masalahnya, bukankah seharusnya kau turun tangan membantu...?!" desak Nara dengan insting heronya yang masih tersisa.

Mendengar itu, aku hanya mengangkat bahu santai tanpa dosa.

"Awalnya memang rencanaku begitu. Aku cuma benci pada para penguasa busuknya, bukan pada rakyat jelata tak berdosa. Tapi apa daya? Kerajaan Lindor baru saja mendeklarasikanku sebagai musuh negara nomor satu tanpa bukti jelas. Kenapa juga aku harus repot-repot bersimpati menolong negara yang meludahiku?"

"T-Tapi..."

"Lagipula, pikir pakai logika. Meskipun aku datang ke sana dengan niat baik membawakan solusi makanan atau menyembuhkan tanah mereka, apa kau pikir ada warga yang mau menerima tawaranku? Aku ini musuh publik bagi Kerajaan Lindor... tidak, aku ini Musuh Seluruh Dunia di mata mereka."

Melihat niat baikku selalu diinjak-injak dan dimusuhi, sungguh lucu rasanya. Aku yang mencoba menolong malah tanganku yang ditepis.

"Sayang sekali ya, tapi nasi sudah menjadi bubur. Mereka yang menggali kuburan mereka sendiri."

Karena itu, aku memutuskan untuk tutup mata dan tak akan campur tangan lagi dalam urusan bencana negara ini.

Meileen dan Yulia yang mendengarkan diam-diam di belakangku, tampak mengangguk setuju dengan keputusanku. Mereka tahu persis betapa lelahnya aku terus dikhianati manusia.

Mona yang baru kembali dari lokasi bencana terlihat seperti ingin menyanggah sesuatu—mungkin karena rasa iba melihat langsung penderitaan para petani di sana—tapi pada akhirnya, sebagai abdi setiaku, ia menelan kembali kata-katanya.

Sementara Ivern, Nara, dan Eva saling bertatapan dengan ekspresi rumit campur aduk.

"...Harus kuakui, argumen Kenta 100% sangat valid. Dia sama sekali tidak salah." gumam Ivern.

"Iya sih... aku paham perasaanmu. Tapi kalau di cerita fiksi pahlawan, biasanya sang hero atau saint suci pasti akan tetap membantu orang-orang malang itu biarpun difitnah, kan...?" ucap Nara ragu.

"...Yah, mau bagaimana lagi. Beliau adalah Tuan Kenta-sama." sahut Eva mantap. (Wah, putri ini mulai bawel dan sok tahu soal sifatku ya?)

"Tepat sekali. Aku Kenta Maya."

Aku memberi jeda sesaat, lalu menyatakan sebuah fakta mutlak kepada mereka bertiga yang tampak belum puas dengan sikap egoisku.

"Aku bukan pahlawan suci. Dan aku tidak akan pernah memberikan sepeser pun belas kasihan pada siapapun yang berani menobatkanku sebagai musuh."

Mendengar deklarasi dinginku, mereka bertiga tersentak ngeri, namun pada akhirnya mengangguk paham dan tak pernah lagi membahas topik menolong Lindor sejak hari itu.

Maka dari itu, kuputuskan untuk lepas tangan sepenuhnya dari krisis negara Lindor.

Sebagai catatan, karena aku sudah memprediksi krisis gandum global yang akan terjadi akibat wabah kelaparan Lindor ini, aku diam-diam menyuruh Mona dan Ivern untuk memborong dan menimbun berton-ton stok bahan pangan kering seperti gandum dan beras sebanyak mungkin ke gudang persembunyian kami jauh-jauh hari.

Berkat persiapan hoarding (penimbunan barang) itu, rumah persembunyian kami di hutan sama sekali tak tersentuh efek gila dari krisis pangan massal yang tak lama kemudian melanda Lindor dan mengacaukan ekonomi benua.

Yah, karena aku sudah tahu akar masalah bencananya sejak awal, tentu saja aku sudah punya solusinya untuk keluargaku sendiri.

Jadi, nasib warga Lindor biarlah jadi urusan raja mereka sendiri. Toh, kehancuran itu adalah rute yang dipilih Lindor sendiri.


Episode 58: Akhir dari Kerajaan Lindor

◆◆◆

Di dalam ruang kerja Raja di Istana Kerajaan Lindor sementara.

Raja Lindor duduk sambil memegangi kepalanya yang pusing, matanya menatap kosong pada tumpukan laporan militer dan sipil yang menggunung di mejanya.

"...Kenapa? Kenapa semua ini bisa terjadi padaku..." ratap sang Raja.

Laporan yang terus membanjiri mejanya selama beberapa bulan terakhir ini isinya tak pernah berubah: Bencana.

Fenomena mengerikan 'Pengikisan Lahan' (tanah mati) yang berpusat dari bekas kawah Reruntuhan Pemanggilan ternyata menyebar dengan kecepatan yang tak masuk akal bagai wabah penyakit. Fenomena itu tak cuma menelan seluruh daratan Lindor, tapi radiusnya kini mulai merembet masuk mencaplok sebagian batas wilayah negara-negara tetangga.

Akibat tanah yang kehilangan seluruh elemen energi kehidupan, seluruh lahan pertanian di wilayah Kerajaan Lindor mendadak gersang dan mati serentak. Para petani gagal total memanen makanan pokok vital seperti gandum, bahkan umbi-umbian tahan banting seperti kentang pun membusuk dan menghitam di dalam tanah.

Ketika aparat penagih pajak kerajaan turun ke desa-desa untuk menagih setoran gandum seperti biasa, mereka tak bisa merampas apa pun. Jangankan buat bayar pajak, untuk makan besok saja para petani sudah tak punya stok. Beberapa aparat pajak yang nekat memaksa merampas sisa gandum terakhir dari tangan petani yang kelaparan, akhirnya tewas dikeroyok massa petani yang sudah kalap (amuk massa).

Satu-dua insiden pembunuhan aparatur negara biasanya akan langsung ditindak tegas oleh militer dengan membumihanguskan desa pelaku sebagai contoh hukuman (shock therapy). Tapi masalahnya, insiden serupa meledak secara serentak di ratusan desa berbeda di seluruh negeri. Pasukan kerajaan terlalu kewalahan dan kehabisan jumlah untuk memadamkan kemarahan rakyat.

Gelombang pemberontakan massal pecah di mana-mana. Setiap harinya, Raja Lindor harus membaca laporan menyedihkan soal kantor pemerintahan desa yang dibakar, atau kediaman keluarga bangsawan lokal yang dijarah habis-habisan oleh ribuan rakyat miskin yang lapar.

Kondisi di Ibukota Kerajaan jauh lebih mencekam.

Pasokan rantai pangan dari desa-desa pinggiran berhenti total. Ibukota yang sedang susah payah direnovasi dari sisa ledakan Kenta tempo hari, kini harus menghadapi krisis pangan ekstrem. Harga sekepal gandum kualitas buruk melonjak hingga ratusan kali lipat, memicu perkelahian brutal hingga penikaman berdarah setiap harinya hanya demi memperebutkan sepotong roti keras.

Keamanan kota hancur lebur. Tak ada lagi rasa aman. Arus pengungsi meledak—puluhan ribu warga berbondong-bondong mengemasi barang mereka, melarikan diri keluar perbatasan Lindor untuk mencari suaka di negara lain demi sesuap nasi.

Melihat krisis kemanusiaan ini, negara-negara tetangga yang selama ini mengucilkan dan memboikot Lindor dari pergaulan diplomasi akhirnya mau mengulurkan tangan. Mereka mulai mengirimkan konvoi bantuan kemanusiaan dan stok gandum darurat. Namun, bantuan itu sama sekali tak bisa memperbaiki akar masalah Lindor yang lahan pertaniannya sudah lumpuh total tak bisa berproduksi lagi selamanya.

Yang lebih liciknya lagi, sebagian besar negara tetangga yang tampak seperti "Pahlawan Kemanusiaan" itu sebenarnya tidak memberi gandum secara cuma-cuma. Mereka memberikan bantuan tersebut dalam wujud 'Kredit Berbunga Tinggi'. Usut punya usut, beberapa donatur licik itu ternyata adalah negara-negara yang perbatasannya ikut jadi korban fenomena Pengikisan Lahan. Mereka sengaja mencari celah kompensasi politik untuk menutupi kerugian mereka sendiri.

Raja Lindor tentu saja paham ia sedang diperas dan ditipu mentah-mentah. Tapi negara dalam status Siaga 1 kelaparan, tak ada pilihan selain menerima "pinjaman paksa" tersebut dengan menggertakkan gigi.

Alhasil, dalam hitungan bulan, utang luar negeri Lindor membengkak gila-gilaan hingga menyentuh angka mustahil yang takkan sanggup dibayar negara dalam 100 tahun ke depan. Negara ini resmi bangkrut.

"Kenapa... Kenapa bencana ini menimpaku... Padahal aku tak melakukan dosa apa pun... Aku ini sudah bekerja siang-malam setengah mati demi membangun kembali negara ini..."

Tepat saat harapannya mulai bersemi setelah mendapat suntikan dana segar dari Admos, bencana kelaparan mutlak ini memusnahkan segalanya. Lindor kini sedang berdiri tepat di bibir jurang kehancuran.

"Sialan... Bangsat kalian semua!! Ini semua murni salah keluarga raja terdahulu!! Merekalah yang bodoh mengkhianati Kenta Maya dan malah dibom sebagai balasannya!! Dan parahnya lagi, mereka tidak pernah meninggalkan catatan soal efek kiamat gersang dari ritual pemanggilan antar dimensi itu!! Ini semua salah raja pendahulu! Semuanya!!"

Raja Lindor meraung murka, menyapu habis seluruh dokumen dari meja kerjanya hingga berserakan di lantai, melampiaskan seluruh rasa frustrasi dan keputusasaannya pada keluarga kerajaan masa lalu.

Para jenderal dan penasihat tinggi yang berbaris di ruangan itu hanya bisa diam menunduk, tak satu pun berani menghentikan rajanya yang sedang tantrum. Sejujurnya, di dalam hati, mereka semua mengamini makian Raja.

Secara politik, para menteri saat ini pun beranggapan setidaknya keluarga kerajaan lama dulu harusnya bisa bersandiwara menjilat dan memuja sang Pahlawan Kenta secara munafik, layaknya yang dipraktikkan oleh Raja Admos pada Nara. Fakta bahwa para menteri juga memikirkan taktik manipulasi kotor semacam itu jadi bukti bahwa pola pikir kabinet sekarang tidak beda jauh busuknya dengan raja terdahulu.

Usai mengamuk sejadi-jadinya dan melempar kutukan pada nenek moyangnya, Raja Lindor perlahan kehabisan napas. Ia menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke atas kursi mahoninya yang mewah. Dada pria tua itu naik-turun dengan cepat.

Ia menatap kosong ke langit-langit ruangan yang penuh ukiran emas. Lalu, setelah menghela napas yang sangat berat dan panjang, sebuah kalimat lirih terlontar dari bibirnya.

"...Sudah saatnya kita hentikan semua lelucon ini."

Mendengar kalimat bersayap sang Raja, mata para penasihat dan jenderalnya seketika terbelalak ketakutan.

"A-Ampun, Yang Mulia... apa maksud titah Anda barusan? Anda... tidak bermaksud meninggalkan negara Anda yang sedang sekarat ini kan?" tanya seorang jenderal dengan bibir bergetar pucat.

Raja Lindor menatap jenderalnya, lalu tertawa pelan yang terdengar sangat menyeramkan.

"Buat apa repot-repot memikirkan hal sia-sia? Negara ini usianya tak akan bertahan sampai bulan depan. Semuanya akan hancur lebur dimakan kerusuhan dari dalam. Dan karena tak ada sebatang rumput pun yang bisa tumbuh di tanah terkutuk ini, cepat atau lambat semua manusia pasti akan pergi meninggalkannya. Begitu saja. Tanah ini akan kembali jadi gurun mati raksasa yang tak ada harganya."

Raja Lindor memaparkan nasib kiamat negerinya sendiri dengan senyum lebar dan rentangan tangan santai seolah ia sedang membicarakan drama komedi.

Secara teknis, mungkin dia memang sengaja bergurau gelap. Tapi senyum sinis yang mengembang di wajahnya seakan melepaskan sisa kewarasan terakhirnya. Senyuman yang perlahan berubah mirip ringkisan orang gila itu awalnya membuat para jenderal dan menteri merasa marah sekaligus terhina karena ditinggalkan. Namun, dalam sekejap amarah mereka sirna digantikan oleh kepasrahan, dan mereka menundukkan kepala dalam-dalam tanpa bisa mendebat.

"Baiklah! Karena keputusan sudah bulat, kita harus bergegas! Kalau kita telat kabur sedetik saja, ribuan rakyat lapar di luar sana pasti bakal mendobrak masuk gerbang istana ini dan memangsa kita mentah-mentah," perintah Raja Lindor ceria.

"S-Siap, Yang Mulia! Hamba akan segera menyiapkan pengawalan pelarian VIP rahasia!"

"Kerja bagus. Ngomong-ngomong, menurut kalian, negara sekutu mana yang suasananya paling enak untuk kita jadikan tempat suaka politik...?"

Beberapa hari setelah percakapan rahasia itu, sebuah pengumuman resmi yang menggelegar layaknya petir di siang bolong disampaikan kepada rakyat Lindor.

Raja dan Kabinet Pemerintahan telah kabur ke luar negeri untuk mencari suaka politik, dan menelantarkan negara.

Mendengar kabar itu, rakyat yang sedang didera kelaparan dan kepanikan langsung tersulut amarah massal. Ratusan ribu massa menggeruduk dan menjebol gerbang Istana Kerajaan.

Tapi apa daya, yang menanti mereka di dalam istana mewah itu hanyalah kehampaan.

Istana itu sudah kosong melompong. Para keluarga raja dan bangsawan tingkat tinggi telah membawa lari seluruh brankas kekayaan negara, stok pangan di lumbung istana, hingga perabotan mahal berharga.

Melihat istana megah kebanggaan mereka dibiarkan kosong layaknya rumah hantu, rakyat Lindor terdiam tercengang tak percaya. Pengkhianatan tingkat tinggi ini membuat otak mereka berhenti berpikir sejenak.

Kejutan akan sikap keluarga kerajaan yang luar biasa pengecut dan tak bertanggung jawab ini sempat melumpuhkan mereka. Hingga akhirnya, salah seorang warga berteriak di tengah keheningan, "Sialan! Aku juga bakal kabur ke negara tetangga!!" dan mulai berlari pulang mengemasi barangnya. Seruan itu memicu histeria massal. Ratusan ribu orang serentak berhamburan berlari meninggalkan batas perbatasan Lindor demi bertahan hidup.

Gerakan eksodus (migrasi massal) itu tak hanya terjadi di ibukota. Di pelosok-pelosok desa, para bangsawan lokal yang ditinggal rajanya ikut kabur menyewa kereta kuda, disusul seluruh rakyat miskin yang berjalan kaki melintasi gurun meninggalkan tanah kelahiran mereka selamanya.

Pada akhirnya... tepat empat tahun sejak Kenta Maya pertama kali di- summon dari Bumi ke tempat ini... Kerajaan Lindor resmi lenyap, terhapus dari peta peradaban dunia.

Karena lahan Lindor telah terbukti sangat tandus, beracun, dan tidak bisa ditanami apapun secara permanen, negara-negara tetangga yang awalnya serakah pun sama sekali enggan mengklaim apalagi menjajah wilayah kosong tersebut.

Persis seperti ramalan sang raja gila... Daratan yang dulu pernah berjaya dengan nama Lindor itu kini hanyalah seonggok gurun mati yang menjadi Reruntuhan Negara tanpa ada satu pun nyawa yang berani menginjakkan kaki di atasnya.


Episode 59: Negara Tanpa Penduduk Dinamakan Negara Hantu. Terus...

"Kudengar kabar terbaru dari kota, rupanya semua rakyat akhirnya benar-benar kabur menelantarkan Lindor."

Ivern menyampaikan intel terbarunya sambil menurunkan karung perbekalan.

Mendengar itu, aku menyipitkan mataku menatap Ivern dengan tatapan curiga.

"Hei, kau ini..."

"Ada apa, Maya-san?"

"Kau dapat dari mana bocoran intel setingkat dokumen kenegaraan sedetail itu?"

Walaupun dia memang hobi keluyuran nongkrong di bar buat cari gossip murahan, tapi informasi yang dibawanya akhir-akhir ini akurasinya terlalu menakutkan, mirip sekelas laporan intelijen militer resmi.

Apa jangan-jangan diam-diam Ivern nyambi kerja jadi Makelar Informasi (Information Broker) dunia bawah?

Karena rasa penasaranku yang tinggi, aku langsung bertanya to the point. Ivern hanya menjawab santai dengan gumaman, "Oh itu," sebelum memaparkan darimana ia dapat koneksi gila tersebut.

"Kau masih ingat kan kalau di depan pintu masuk kawasan hutan ini selalu ada pos penjagaan ksatria perbatasan negara Weimar?"

"Oh iya. Mereka yang kerjanya sok rajin ronda sukarela jadi satpam kompleks kita kan?" jawabku acuh tak acuh.

Mendengar jawabanku, wajah Ivern langsung berkerut tak setuju, seolah menatap seorang tiran. Sementara Nara hanya memiringkan kepalanya dengan bingung karena belum tahu lore-nya.

"Hah? Memangnya ksatria negara rela kerja bakti jadi satpam ronda sukarela di hutan terpencil begini?" tanya Nara.

"Tentu saja tidak ada orang bodoh macam itu! Ksatria itu terpaksa jaga karena ditekan dan diancam secara psikologis oleh Kenta waktu itu. Jadi statusnya bukan ronda, tapi pengabdian paksa!" jelas Ivern emosi.

"...Wah, nggak heran sih kalau Maya-san yang melakukan itu," decak Nara mengangguk-angguk hormat, seolah aku baru saja melakukan achievement luar biasa.

"Hei, kenapa reaksimu kayak terpesona begitu? Padahal aku tidak pernah memberi mereka perintah apa-apa kok," balasku membela diri.

Aku kan waktu itu cuma melempar ancaman halus sambil tersenyum: "Awas ya kalau gara-gara poster buronan jelek itu, hidup tenang kami di hutan ini jadi terganggu..." Cuma itu doang kok, beneran. Mereka sendiri yang overthinking sampai membangun pos ronda demi melindungiku dari pemburu hadiah lain.

"Terus hubungannya sama satpam ronda itu apa?" desakku pada Ivern.

"Yah, karena aku kan satu-satunya orang normal yang jadi juru belanja dan sering keluar-masuk hutan ini. Daripada bosan, aku sering nongkrong dan traktir minum sama para komandan penjaga itu. Lama-lama kami jadi bestie (sahabat). Makanya aku sering dapat bocoran soal situasi negara-negara tetangga dari laporan dinas mereka."

"Wah, gila kau..."

Pria pengangguran ini rupanya tanpa sadar sudah menjadikan perwira militer negara asing sebagai kacung kurir informasinya.

"Hebat! Pantas saja informasi Tuan Ivern selalu tajam dan valid!" puji Nara dengan polos dan kekanak-kanakan, sama sekali tidak mencium konspirasi politik di baliknya.

Yah, Nara ini memang otaknya masih terlalu lugu. Dia sama sekali tidak sadar bahwa tidak mungkin ada negara waras yang dengan sukarela membiarkan perwira militernya membocorkan rahasia negara sambil minum bareng warga sipil tanpa ada niat terselubung.

"Haaah... Jadi intinya? Si 'kurir' Weimar-mu itu ngomong apa lagi soal Lindor?" tanyaku menghela napas.

Mendengar kata-kataku, wajah santai Ivern sedikit berubah tegang sesaat.

"Kurir?" ulangnya kaget.

Oh, ternyata dia sadar toh. Tapi pura-pura bego.

"Hanya tebakanku saja."

"M-Maaf, bukan apa-apa. Terus, tadi masalah apa?" Ivern coba mengalihkan.

"Si perwira itu sengaja ngasih bocoran itu, terus dia pancing reaksi balasan darimu kan? Nah, dia nanya apa?"

"Iya, dia memang sempat mancing begitu... tapi tunggu, kok kau bisa nebak dari awal?!"

"Nggak butuh IQ tinggi buat paham. Coba kau pikir: Sebuah desa, kota, dan kini ibukota kerajaan raksasa tiba-tiba kosong ditinggal warganya, tapi semua infrastruktur dan bangunannya dibiarkan utuh tanpa tuan. Menurutmu tempat seperti itu paling cocok dijadikan apa? Sudah pasti jadi surga tempat persembunyian terbaik buat para sindikat kriminal bersenjata, bandit buronan, dan mafia pasar gelap untuk bikin markas utama."

Penjelasanku membuat mata Ivern sedikit melebar, "Ooh" gumamnya tersadar.

"Luar biasa, insting politismu tajam banget, Kenta. Padahal perwira militer itu barusan ngomong hal yang persis sama ke aku."

"Dan kelanjutan obrolannya sudah pasti... 'Gara-gara itu, sebagai negara tetangga Weimar harus mengerahkan banyak batalion tempur ke perbatasan untuk mencegah masuknya bandit dari eks-Lindor. Benar-benar merepotkan ya...' begitu kan curhatnya?" tembakku tepat sasaran.

"Sial, apa jangan-jangan kau nyadap obrolanku ya?" seru Ivern syok.

"Aku bisa baca niat mereka tanpa perlu nyadap."

Weimar sepertinya sedang pusing tujuh keliling mengurus ancaman bandit Lindor, makanya mereka diam-diam memakai Ivern sebagai pion untuk menyelundupkan 'bocoran info krisis Lindor' ke telingaku. Harapan bodoh mereka: siapa tahu aku, si Monster Hutan ini, bakal terpancing iba lalu maju membasmi para bandit di Lindor agar perbatasan Weimar aman. Licik juga taktik lempar batu sembunyi tangan mereka. Aku tak tahu apa kalkulasi akhir politik mereka, tapi yang jelas informasi krisis itu murni disebarkan demi kepentingan mereka.

"Yah, mau seribu info pun yang mereka bisikkan ke aku, itu sama sekali takkan mengubah rencanaku buat santai di rumah."

Jujur, kenanganku soal Lindor isinya cuma kemuakan. Lindor adalah negara brengsek yang sudah berani menculikku dari dunia asalku, lalu mendikte nyawaku dengan kebohongan busuk, dan akhirnya menikamku dari belakang setelah aku susah-payah menyelamatkan eksistensi mereka.

Simpati? Tidak ada setetes pun sisa rasa kasihan di hatiku buat nasib mereka.

Maka dari itu, kuputuskan untuk menyudahi obrolan berat soal politik Lindor dan kembali ke realita mengangkut logistik gandum serta belanjaan berat yang baru dibeli Ivern ke dalam rumah.

Saat aku sedang memanggul dua karung gandum, kulihat Nara berdiri diam mematung, merenung menatap langit seolah mendapat pencerahan gaib.

"Woi, Nara, ngapain kau ngelamun di situ? Cepat angkut tas belanjaannya ke dalam." panggilku menyadarkannya.

Nara tersentak kaget dan buru-buru berlari menghampiriku dengan mata berbinar-binar penuh ide gila.

"Maya-san! Maya-san!!"

"Apa lagi?"

"Semua penduduk kan sudah pergi menelantarkan tanah Lindor, kan?!"

"Iya, terus?"

"Kalau begitu, ini kesempatan emas! Kenapa Maya-san tidak sekalian saja menjajah dan mengklaim eks-Lindor jadi negaramu sendiri?!" usul Nara dengan semangat 'Lord Isekai'.

"Kau ini beneran idiot, ya?"

PLETAK!

Aku mendaratkan jitakan keras langsung ke atas ubun-ubun kepalanya saking kesalnya mendengar ide halunya.

Nara langsung jongkok sambil memegangi kepalanya yang benjol dan mengaduh kesakitan.

"Sudah, jangan jongkok terus di situ. Cepat angkut karungnya," perintahku tanpa dosa.

Sambil jongkok, Nara mendongak menatapku dengan mata berkaca-kaca persis anjing yang habis dipukul koran.

"Aduuuh! Sakit tahu! Padahal itu ide jenius kan?! Kenapa kau malah mukul aku?!" protes Nara tak terima.

"Ide brilian dari mananya?! Asal kau tahu, aku baru saja selesai capek-capek bangunin satu rumah megah buat ditinggali kau dan Eva di sini."

"……Eh." Nara speechless.

Aduh... ini bocah benar-benar ya. Padahal aku sudah susah payah mendesain dan membangun rumah gratis dari kayu kualitas terbaik khusus buat honeymoon dia dan putri Eva, lalu enak saja dia mau ngajak pindahan invasi negara.

"Oh, aku ngerti, aku ngerti maksudmu." Aku tersenyum sangat tulus padanya.

"Baguslah kalau Maya-san paham kalau pergi ke sana jauh—"

"Oke Nara, kalau kau sangat pengen istana, kau saja yang berangkat invasi ke Lindor. Sendirian. Sekarang juga. Semoga berhasil jadi Raja ya." potongku datar mengusirnya.

"T-Tunggu! Maafkan aku! Rencana besarku itu kan syarat mutlaknya harus Maya-san yang jadi komandan tertingginya! Kalau aku yang berangkat sendirian ke sarang bandit, sama aja setor nyawa!"

"Oh, jadi rencanamu itu menjadikan aku kuli kasarnya?"

"B-Bukan begitu! Maksudku, karena Maya-san yang tahu soal trik sihir menanam pohon di lahan tandus, pasti kau bisa me- restore tanah mati itu jadi hijau lagi kan? Jadi kalau kau tidak ikut, proyektor pembangunan ulang negaranya takkan jalan!" kilah Nara panik.

"Kalau begitu proyektor gilamu itu takkan pernah jalan selamanya." putusku telak.

Abaikan ocehan gila Nara, aku memutar badan dan masuk ke dalam rumah sambil membawa belanjaan gandum. Nara kalang kabut mengekor berlari di belakangku, masih berusaha meyakinkanku.

Hei, tunggu, barang bawaanmu kau tinggal di depan halaman semua?!

"Ayolah, Maya-san! Bukannya ideku keren? Dengan kekuatan sihirmu, kau pasti bisa menaklukkan seisi ibukota dengan mudah dan jadi Raja Sejati!"

"Sumpah aku nggak mau ngerjain hal super ribet macam ngurus pajak rakyat begitu. Lagian kalau aku proklamasi jadi Raja Lindor baru, seluruh militer pasukan sekutu internasional bakal langsung rapat darurat buat nge-raid (menyerbu) istanaku!"

Bayangkan saja; sebuah Aliansi Militer dari seluruh benua dipastikan bakal menyerbu masuk menembus padang pasir gurun maut, cuma demi menggempur Kastil Pangeran Kegelapan Kenta Maya. Oh iya, karena aku buronan utama, kemungkinan besar fraksi iblis juga bakal ikutan nyerang karena dendam.

Wah, mantap, aku benar-benar berubah jadi status 'Raja Iblis Boss Terakhir' yang dikeroyok party seluruh dunia kalau begitu ceritanya.

"Duduk santai di ruang tamu sambil minum kopi buatanku ini sudah cukup damai buatku. Aku tak butuh istana mewah yang luas." ujarku final.

"Benar juga sih... Kalau kita ambil alih satu negara sebesar itu, kita bakal kurang manpower (staf) buat bersih-bersih istananya. Bisa gempor nyapunya tiap hari," gumam Nara akhirnya menyadari masalah logistik realistis.

"Nah, bagus kalau kau sudah sadar dari halumu. Tutup obrolannya. Cepat angkut barang bawaanmu yang tercecer di luar tadi." perintahku.

"Siap komandan." jawab Nara menurut dan berbalik ke luar.

Namun, tepat saat tangannya meraih kenop pintu untuk kembali ke luar mengambil tas, entah dapat hidayah dari mana, Nara tiba-tiba berhenti mematung dan menoleh kembali ke arahku.

"Ngomong-ngomong, Maya-san."

"Apa lagi?"

"Kalau satu kota ditinggalkan seluruh warganya bertahun-tahun, istilahnya kan 'Ghost Town' (Kota Hantu), iya kan?"

"Iya, lalu?"

"Nah, kalau yang kosong melompong ditinggal kabur rakyatnya itu level satu negara penuh... istilah kerennya jadi apa dong?"

"MANA AKU TAHU! GOOGLING SANA!!" bentakku emosi.

Ini kan cuma trivia random yang nggak penting sama sekali, tapi kenapa pertanyaannya bikin rasa penasaranku jadi gatal dan kepikiran sih?!

Apa ya namanya? 'Ghost Country' (Negara Hantu)? 'Phantom Nation'?

Belum pernah tuh aku dengar istilah semacam itu sepanjang aku hidup. Maksudku... mustahil kan secara logika geopolitik ada kasus di mana wilayah satu negara berdaulat tiba-tiba dibiarkan kosong tanpa ada satu pun negara tetangga yang berebut mencaplok klaim atasnya?

Ah, kalau sampai kejadian konyol itu benar-benar jadi nyata, berarti tatanan politik dan sejarah di dunia ini benar-benar sudah hancur tak terselamatkan.


Episode 60: Sindrom Endemik Khusus Orang Jepang

Suatu sore di ruang tamu, Nara mendadak mengerang putus asa dan meneriakkan hal yang sangat familier ini.

"Maya-san! Sumpah... aku ingin banget makan NASI PUTIH!!" teriak Nara meratap frustrasi memegangi perutnya.

"..."

Nah, penyakit musiman ini akhirnya datang juga. Inilah dia: Sindrom Kerinduan Karbohidrat Makanan Jepang yang Akut.

Usut punya usut, fenomena "Homesick Nasi" ini rupanya bukan cuma monopoli eksklusif bagi pemuda-pemudi Jepang yang diculik ke dimensi Isekai. Di dunia nyata (bumi) pun, fenomena ini adalah sindrom universal yang diderita 90% ekspatriat Jepang yang dinas atau traveling lama ke luar negeri.

Saking parahnya efek penarikan kafein mental ini, pihak biro travel dan korporat selalu memasukkan wejangan wajib bagi karyawannya yang dinas luar negeri panjang: "Jangan pernah lupa bawa ransum Sup Miso instan, Kecap Asin (Shoyu), dan beras porang."

Apalagi sekarang kita terdampar di dunia fantasi abad pertengahan dengan menu abadi roti gandum alot dan daging panggang hambar. Sudah pasti rindu akan makanan kampung halaman bakal membakar jiwa.

"Yah... kalau kau mau banget makan nasi putih, harusnya sih ada ladang beras di dunia ini." gumamku sambil membolak-balik majalah.

"APAAA?! KAU SERIUS ADA BERAS DI SINI?!" Mata Nara langsung melotot seperti baru dikabarkan menang lotre.

Tampaknya, belasan tahun yang lalu, ada Summoner pahlawan asal Jepang pendahulu sebelum generasiku yang juga terkena sindrom rindu makanan Jepang kronis ini. Saking stresnya tak bisa makan nasi, konon ia mengabdikan sisa umur pahlawannya untuk memburu dan membudidayakan bibit tanaman padi, meracik miso dari kedelai ajaib, dan memfermentasi kecap di dimensi ini. Hasil kerja kerasnya itu membuat tanaman beras eksis di dunia ini.

Sayangnya, ada satu realita pahit di balik eksperimen kuliner pahlawan pendahulu kita itu.

"Iya, tanaman padinya memang ada. Sayangnya... taste (selera lidah) masyarakat lokal di benua ini sama sekali tak cocok. Inovasi kuliner itu gagal total dan tak pernah populer," jelasku menghancurkan harapannya.

"Lho, kenapa bisa begitu?! Padahal rasa nasi hangat yang baru matang itu kan enak gila, bikin ketagihan?!" protes Nara tak terima makanan dewa dihina.

"Itu kan cuma selera lidah kita yang otaknya sudah dicuci sejak lahir pakai doktrin Jepang. Faktanya di bumi saja, banyak turis bule barat yang menganggap bau kaldu rumput laut Sup Miso itu menjijikkan seperti air selokan."

"Hah... mana bisa begitu..." Nara merosot lemas dengan wajah tak percaya.

Karena lidah Bule Isekai tak bisa menerima cita rasa 'Umami', proyek ambisius sang pahlawan pendahulu yang mengira kombinasi sakti 'Beras-Miso-Kecap' bakal meledak laris di pasaran dunia ini akhirnya berujung bangkrut. Petani pun enggan menanamnya, hingga akhirnya budaya kuliner itu benar-benar dilupakan dan punah.

"Lagian Nara, coba jujur padaku. Memangnya selama di Jepang kau ini tipe orang kolot yang harus wajib makan nasi putih setiap hari di tiga waktu makan?" tanyaku sangsi.

Bukannya belakangan ini grafik statistik anak muda Jepang yang mengkonsumsi beras putih makin merosot tajam ya, diganti sama roti isi atau pasta?

"Y-Yah, nggak sih... aku memang tidak makan nasi tiap hari di Jepang. Tapi begitu sadar dengan realita kalau 'Aku tidak akan pernah bisa mencicipi Nasi Putih seumur hidupku', seketika itu juga otaku rasanya menjerit sakaw butuh nasi banget!" kilah Nara mencari pembenaran.

"Dasar alasan bocah yang manja," sindirku datar.

Ya, jujur sih, sebagai manusia normal aku kadang juga rindu kehangatan nasi pulen. Itu wajar. Tapi jujur, karena aku cepat adaptasi, makan roti gandum tiap pagi juga tidak terlalu menyiksa buatku. Lidahku sudah bersahabat.

"Ayolah Maya-saan, masa kau tidak punya link atau sihir rahasia buat dapetin beras? Please!" rengek Nara bersujud menyembahku.

Tepat saat aku memikirkan cara paling elegan untuk menolak permintaan repot bocah ini, tiba-tiba Meileen dan para gadis yang mendengar keributan keluar dari dapur dan ikut nimbrung.

"Oh, lagi asyik bahas apa nih? Kalian sedang ngomongin resep makanan khas dari dunia Kenta, ya?" sapa Meileen tertarik.

"Benar banget, Meileen-san! Kami lagi membicarakan Nasi Putih pulen, Sup Miso hangat, dan Kecap Asin (Shoyu)! Tiga makanan suci pencipta Soul Food warga Jepang asli!" seru Nara berapi-api layaknya duta wisata.

Yang benar saja bocah ini.

Aku kan sudah bilang aku tak terlalu peduli mau makan nasi atau tidak, jadi aku berniat cuek bebek. Tapi di luar dugaan, mata ruby Meileen justru memancarkan kilau rasa penasaran tingkat tinggi.

"Wah, benarkah? Hei Kenta, aku jadi penasaran banget rasanya gimana. Apa bahan-bahan unik itu bisa dibeli di suatu tempat sekitar sini?" tanya Meileen dengan senyum manisnya.

"Nah... kebetulan aku tahu satu lokasi rahasia yang mungkin masih punya stok tanamannya."

Mendengar jawabanku, raut wajah melas Nara seketika berubah cerah seperti melihat malaikat penyelamat.

"Kalau Maya-san tahu titik koordinatnya, berarti kita bisa pakai cheat Teleportasi ke sana kan?! Ayo Maya-san! Berangkat sekarang juga! Tunggu apa lagi!!" seru Nara menarik-narik lenganku dengan kalap.

"Aku juga mau minta tolong dong, suamiku. Anggap saja liburan sesekali. Aku kan cuma pengen merasakan masakan asli yang selalu dimakan suamiku waktu kecil dulu di kampung halamannya," bujuk Meileen dengan puppy-eyes (mata memelas yang sangat mematikan).

Ugh... Demi Tuhan, kalau Istriku Tercinta Meileen yang minta tolong pakai nada semanis itu dengan wajah super imut begitu...

"Sial... Baiklah, oke! Tapi ini khusus buat kali ini aja, ya?!" putusku akhirnya luluh juga.

Tak mungkin kan aku menolak permintaan istri idaman. Karena tak ada opsi kabur lagi, aku akhirnya memutuskan untuk mengajak Nara ikut berteleportasi denganku mengunjungi desa pertanian hidden gem (rahasia) yang masih menjaga tradisi bercocok tanam padi tersebut.

"Maaf ya kalau kesannya egois dan merepotkanmu, Kenta. Tapi jujur, aku beneran penasaran dan ingin mencicipi rasa kampung halamanmu itu walau cuma sekali." ucap Meileen merasa tak enak.

Aku mengelus rambutnya lembut. "Nggak masalah, sayang. Demi memenuhi ngidamnya Meileen, apapun akan kulakukan."

Melihat adegan kami yang sedang asyik bermesraan, si jomblo luntang-lantung (Nara yang LDR dengan Eva) mendengus tak terima dan menyela kami dengan sinis.

"...Hei, bukannya standar pelayananmu beda jauh banget dengan cara kasarmu menolakku tadi?" protes Nara sinis.

Hah? Siapa bocah ini ngomong lancang begitu?

"Hah? Memangnya kau pikir derajatmu setara dengan Meileen-ku tercinta? Punya hak apa kau? Kalau Meileen tidak ngidam minta makan itu, aku tak sudi membuang mana buat mengantarmu, tahu," balasku nyolot dengan tatapan penuh penghinaan.

Bahu Nara langsung ciut. "H-Hamba mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan lidah ini. Hamba janji tidak akan cerewet lagi, jadi tolong antarkan hamba yang hina ini ke petani beras itu, Paduka." Nara langsung sujud minta ampun.

"Gampang banget kau membuang harga dirimu cuma karena disandera ancaman nggak dikasih nasi, ya. Emangnya seberapa ngidam sih kau pengen makan karbohidrat putih itu?"

"Tentu saja sampai mati! Soalnya aku lahir dengan darah dan jiwa Nippon (Jepang)!" deklarasi Nara bangga.

Ya, ya, terserah kau lah wibu. Yang penting aku cepat berangkat membelinya lalu pulang.

Aku dan Nara pun langsung menggenggam tangan dan ber- Teleportasi massal menuju koordinat target ladang padi.

Sawah sasaran kami rupanya bukan terletak di wilayah kekuasaan Lindor, Admos, maupun Weimar. Melainkan tersembunyi nun jauh di sebuah pedesaan pelosok independen di perbatasan 'Negara Tanda'. Karena lokasinya sangat amat jauh dari Lindor, secara geografis tempat subur ini masih aman dari efek penyusutan lahan maut akibat ritual pemanggilan tempo hari.

Aku berteleportasi dengan presisi agar mendarat agak jauh di balik bukit perbatasan desa agar tak membuat warga jantungan, lalu sisa perjalanannya kami tempuh dengan jalan kaki membelah jalan setapak desa.

"Hmm? Ya ampun, Tuan Kenta?! Wah, lama banget tak bersua ya!"

Saat kami baru saja masuk berjalan di pematang sawah area persawahan, seorang kakek tua petani lokal yang sedang mencangkul tanah langsung mengenali wajahku dan melambaikan tangannya gembira.

Aksen bahasa kakek petani ini teramat sangat kental dan medok (kedaerahan), sampai-sampai fitur sistem Translate Bahasa Otomatis (Auto-translation) dari fitur Buff Pemanggilan Isekai di telinga kami kesulitan mencerna logatnya, membuat suaranya agak pecah bagai radio rusak.

"Wah, halo Paman Jonas! Lama tidak main ke mari. Sehat? Aku kebetulan lagi mampir ke area sini cari beras. Panen padi tahun ini masih ada sisa, kan?" sapaku akrab.

"Yo, masih ada lah lumayan! Maklum, beras ginian mana laku dijual ke pasar kota. Tapi kan ngurus padi jauh lebih gampang dan nggak butuh diolah digiling mahal ketimbang panen gandum, jadi warga desa kecil sini rata-rata cuma makan nasi beginian buat ngisi perut harian," jelas Paman Jonas santai.

"Hoo... Berarti beras dijadikan makanan survival warga lokal sini ya?"

Nara yang ikut takjub mendengar obrolan kami, asyik memindai hamparan sawah di sekeliling.

"Hm? Siapa nih anak muda asing yang kau bawa, Kenta?" tanya Jonas heran menunjuk Nara.

"Oh, kenalkan Paman, dia ini junior sebangsaku yang merantau kemari."

"Ooh, sebangsa ya? Terus? Datang jauh-jauh emang beneran mau cari beras toh?"

"Iya, Paman. Belakangan ini mulut di rumahku tambah banyak dan rewel. Jadi kalau Paman masih punya sisa stok berlebih di lumbung, aku mau membelinya buat tambahan. Apa boleh, Paman?"

"Wah, boleh banget! Gampang! Paman masuk ke lumbung rumah sebentar ya buat packing (mengemas), tunggu di saung sini ya."

Jonas melempar cangkulnya lalu berlari santai menuju rumah gudangnya yang ada di ujung ladang.

Sembari menunggu, Nara yang sejak tadi tak bisa diam langsung merapat ke sebelahku dengan mata berbinar-binar seperti anak kecil masuk ke pabrik cokelat Wonka.

"Maya-san! Gila, Maya-san!! Pemandangannya gokil banget! Kanan-kiri isinya sawah menguning semua dan bulir padinya sudah gemuk-gemuk siap panen!!" seru Nara kegirangan jingkrak-jingkrak.

Pedesaan terpencil ini saking pelosoknya sampai mirip 'Desa Ninja Rahasia' yang tidak tercatat di peta negara Tanda, sehingga mereka bebas dari pungutan upeti pajak dipalak kerajaan. Alasan kenapa para petani cerdas ini menanam campuran padi dan gandum adalah murni strategi logistik: Gandum akan ditukar (barter) dan dijual mahal ke pasar luar demi uang tunai (cash), sementara beras padi murni ditimbun di desa buat dikonsumsi perut sendiri. Strategi survival yang luar biasa masuk akal untuk warga kelas bawah dunia fantasi.

Selain beras ajaib ini, usut punya usut resep membuat adonan Miso dan fermentasi saus Kecap Asin juga masih terjaga dengan baik warisannya di gudang fermentasi desa ini. Sekalian saja nanti aku borong semua bahan pelengkapnya itu.

Saat aku sedang asyik memilah budget belanjaku di kepala, Paman Jonas keluar dari gudangnya sambil memanggul sebuab karung goni raksasa di bahunya yang kekar. Brak! Karung itu dihempaskan ke tanah hingga debunya mengepul.

"Yossh! Ini dia pesananmu, Kenta. Segini cukup buat stok anak istrimu?"

Aku melotot horor melihat ukuran karung super besar yang muatannya setara pakan ternak gajah itu. "Satu karung goni full... ini kebanyakan woi, mau bikin pabrik lemper kah..."

"TENTU SAJA TIDAK KEBANYAKAN, PAMAN JONAS!! Wah, terima kasih banyak atas kemurahan hati Anda!!"

Di saat aku sweatdrop melihat timbunan kalori itu, Nara dengan gerak ninja langsung maju pasang badan dan menawarinya dengan senyum sales panci. Ya sudahlah, toh Nara yang bakal ngangkat. Kuambil saja apa yang dikasih dengan pasrah.

"Oh iya, Paman. Untung aku ingat, sekalian mau tanya... Paman masih nyetok adonan Miso fermentasi desa dan Kecap Asin lokal kan? Tolong jual padaku juga ya."

"Hahaha, insting pamanku sudah menduga kamu pasti mau minta bumbu ajaib bau itu juga! Makanya aku sekalian bawa ke depan." kekeh Jonas sambil mengeluarkan gentong kecil dari saku belakang tasnya.

"Wah, Paman Jonas memang andalan banget. Peka banget sih jualan." pujiku.

Setelah transaksi lancar, aku resmi membawa pulang sekarung goni raksasa Beras Mentah, beberapa kendi kecil berisi pasta Miso, dan dua tabung bambu yang aslinya bekas wadah sake yang kini penuh dengan Kecap Asin fermentasi desa.

"Oke Paman, duitnya kutinggal di sini ya! Sampai jumpa lain waktu!"

"Sip! Mampir lagi kapan-kapan, Kenta!"

"Honto ni Arigatou Gozaimashita (Terima Kasih Banyak)!!" teriak Nara membungkuk 90 derajat ala Yakuza berterima kasih pada bos.

Setelah memastikan Paman Jonas kembali mencangkul asyik di sawahnya, aku dan Nara memanggul harta karun tersebut dan berteleportasi pulang.

"Kami pulaaang."

"Selamat datang kembali, suamiku~ Wah, kulihat kalian berhasil membawa banyak barang belanjaannya ya?" sambut Meileen ceria di depan pintu.

"Ya, urusan bisnis logistiknya berjalan sangat smooth dan lancar, Nyonya," ujarku sok keren.

"Baguslah kalau begitu. Makasih banget atas usahanya, Kenta," senyum Meileen tulus memelukku.

"Apa sih yang tidak untuk istriku Meileen tercinta ini."

Saat kami suami-istri sedang asyik menebar aura pink bunga-bunga di lorong rumah, terdengar suara gerutuan dari kuli panggul karung di belakang punggungku.

"...Eh, permisi nih, tapi bukannya secara timeline sejarah, akulah pelopor pertama yang menyetuskan ide nyari nasi ya?" sindir Nara sarkas merasa jasanya tak dihargai.

"Eh? Jangan halu. Aku rela buang tenaga pergi ke pelosok itu murni cuma karena Meileen tiba-tiba bilang pengen makan nasi. Coba kalau yang minta itu kau, Nara, sumpah demi dewa aku takkan mau angkat pantat dari sofa rumah," balasku kejam menembak jatuh mental Nara.

Bahu Nara langsung melorot layu, wajahnya seakan baru saja divonis hukuman mati.

"Tega banget... Oh iya, aku lupa kalau yang ngomong ini Maya-san si iblis..." lirihnya meratapi nasib.

"Beraninya kau memanggil namaku sebagai kata ganti makian. Terus kau mau nyolot? Ya sudah, berarti jatah nasimu kucoret ya?" ancamku sadis.

"SAYA MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA!! Gila kau Maya-san, mentalmu benar-benar sekejam monster! Bisa-bisanya kau mau meng-cancel (memboikot) jatah nasi orang yang pertama kali menggagas pencarian Nasi ini!!" teriak Nara frustrasi memprotes kekejaman aparat.

Karena Nara tak henti-hentinya menempel ke kakiku merengek minta ampun seperti bayi besar minta permen, akhirnya demi ketenangan telingaku, kubatalkan niat jahilku dan memutuskan untuk memberinya porsi nasi gratisan.

"Hah... Mona, sini ke dapur. Nasi dari beras Isekai ini teknik masaknya butuh keahlian suhu dan takaran air (water ratio) yang sangat spesifik, kalau nggak bakal jadi bubur mentah lembek. Karena kau tidak tahu feeling-nya, biar aku saja yang jadi Chef masak nasinya."

"Oh, rumit juga ya rahasia menanaknya. Dimengerti, Tuan Kenta. Kalau begitu hamba mohon izin observasi (mengawasi dan mencatat) proses teknisnya dari pinggir dapur agar nanti hamba bisa masak sendiri." Mona langsung menyiapkan buku catatan.

"Silakan perhatikan baik-baik. Aku tak keberatan."

"Terima kasih banyak atas ilmunya, Suhu Kenta."

Aku mulai membuka karung goni beras organik Jonas, menakar butirannya dengan Cup (gelas takar) kayu yang tadi dikasih Paman Jonas sebagai bonus merchandise, lalu kumasukkan pas ke dalam kuali tanah liat tebal (panci gerabah khusus masak).

Aku menyucinya dua kali dengan air bersih untuk menghilangkan sekam, lalu kutakar level rendaman airnya pas setinggi ruas garis jari telunjuk. Panci itu kunaikkan ke atas perapian magis (magic stove).

Setelah direbus dengan api besar selama sepuluh menit sampai airnya menyusut dan bergejolak, aku menurunkan output (suhu panas) sihir apiku menjadi mode 'Api Super Kecil' (simmer) untuk proses steaming (pengukusan akhir) selama lima belas menit. Ini kunci utama agar nasinya pulen anti kerak bawah.

Sembari uap panas mulai keluar dari celah tutup kuali, Mona memajukan hidungnya, mengendus-endus udara dapur dengan dahi mengkerut.

"...Aroma dari uap ini, agak janggal di hidung ya, Tuan?"

Sebagai mata-mata ras iblis yang seumur hidupnya selalu makan roti gandum Eropa panggang dan daging bakar, wajar saja kalau hidung Mona asing dengan aroma uap manis-gurih khas beras Asia yang sedang dimasak. Buat bule Isekai, baunya mungkin agak langu aneh di awal.

Tiba-tiba, tamu penyusup kedua masuk ke dapur tanpa diundang.

"Wah, ini bau apa ya yang menguar sampai ke ruang tamu? Aku belum pernah mencium aroma manis hangat begini seumur hidupku... Ini beneran aroma makanan kan? Normal kan baunya begini?"

Yulia yang penasaran mengekori bau itu masuk dari pintu depan, mengedus-endus udara penuh selidik.

Tentu saja. Yulia, petualang ras pribumi yang hidup keras, juga tak pernah punya referensi sensorik bau nasi di memori otaknya. Reaksinya yang curiga sangat bisa dimaklumi. Dan lucunya, baik Mona maupun Yulia kompak menyimpulkan bahwa aroma nasi rebus ini "Kurang Menggugah Selera" dan aneh. Kasihan, selera barat mereka tidak relate.

Sambil menunggu timer pengukusan nasi matang sempurna, aku memutuskan mengeksekusi menu kedua: Miso Soup (Sup Miso) otentik!

Panci sebelahnya kuisi air bersih, kudidihkan. Berhubung di dunia fantasi ini mustahil ada supermarket yang jual ikan serut Katsuobushi atau rumput laut Kombu untuk bahan kaldu Dashi dasar, aku harus berimprovisasi pakai jurus substitusi survival. Kucemplungkan saja jamur hutan kering khusus masak yang kubeli dari pedagang keliling. Kaldunya gurih Umami-nya dapat, texture kenyalnya juga masuk. Cerdas!

Selanjutnya, karena aku punya botol Kecap Asin super premium ini, sayang kalau cuma jadi pajangan. Harus kubikin lauk Main Course tumisan (Oseng-oseng) ala warteg kaki lima Jepang.

Maka, kurobek sisa stok kol kubis dari kulkas magis, kuiris-iris memanjang kasar, campur dengan sisa potongan tipis Daging Babi hutan. Semuanya kulempar ke penggorengan panas berminyak dengan api besar, oseng-oseng cepat, lalu sentuhan terakhir: cipratan saus Kecap Asin mengelilingi tepian wajan (wok-hei) biar karamelisasi wanginya keluar. Sempurna.

Nah, selama aku atraksi wok tumisan kecap ini, lucunya, Mona lah yang justru sibuk mengaduk adonan pasta Miso ke dalam sup jamurnya sambil mengukur kekentalan rasanya. Maid iblis hyper-competent ini ternyata otaknya super-computer. Dia cuma ngintip resep cara meracik Miso sebentar dariku dari pinggir, dan detik itu juga dia langsung mengkopi tekniknya secara sempurna jadi Chef De Partie untuk seksi masakan berkuah.

Kring! (Alarm imajiner di otakku). Nasinya sudah matang pulen paripurna.

Tak mau buang waktu selagi makanan masih sizzling panas, kami segera menata semuanya di meja makan besar dan memanggil seluruh anggota penghuni rumah untuk berpesta.

"Ta-daa! Special Dinner malam ini dipersembahkan langsung dari dapur resep legendaris kampung halaman asliku dan kampung halamannya Tuan Nara! Silakan kalian cicipi tanpa sungkan!" seruku bangga memperkenalkan mahakaryaku layaknya presenter masak.

Mendengar instruksi itu, semuanya (termasuk Nara yang sudah ngiler banjir keringat dingin saking ngebetnya) langsung mengambil mangkuk Nasi Putih ngepul, Sup Miso jamur, dan sepiring tumis babi kecap, lalu melahapnya dalam satu suapan besar.

Nara terdiam. Ia mengunyah pelan. Selama beberapa detik pertama, matanya melotot berkaca-kaca menahan air mata haru bak pendaki gunung yang baru menemukan mata air es. Namun selang tiga detik berikutnya, ekspresi wajah Nara mendadak mengerut horor, terlihat shock berat, dan terus mengunyah dengan raut wajah 'Ini makanan apa?!'.

"..."

Hening panjang.

"Nah, sekarang kau sadar kan alasan utamaku kenapa aku malas dan ogah-ogahan makan nasi produk alam Isekai ini, hah?" sindirku sambil tersenyum kecut melihat wajah terpukul Nara.

Nara menganggukkan kepalanya patah-patah dengan brutal seakan tak percaya pada realita.

"I-Ini... Tekstur Nasi di dunia ini sumpah ambyar banget! Kering kerontang dan rasanya bland (hambar parah)!!" ratap Nara patah hati karena ekspektasi selera Cosmo-grade (beras Jepang koshihikari) nya dihancurkan varietas beras miskin isekai.

"...Luar biasa ngecewain. Padahal visual bulirnya gemuk mirip nasi Jepang premium yang pulen mengkilap... tapi pas digigit malah ambyar kasar kayak makan gabus! Ini penipuan publik!" keluh Nara.

"Lalu bagaimana dengan kualitas Sup Misonya?" tanyaku menunjuk mangkuk kuahnya.

Nara mencicipi sesendok kuah sup Miso buatan Mona, mengecapnya pelan, lalu matanya kembali berbinar. "...Wah, gila! Kalau yang Sup Misonya ini Taste-nya Perfect seratus persen! Misonya sangat gurih dan authentic kaya raya bumbu umami desa!"

"Oh, jadi begitu selera review kritikus kuliner gadungan ya."

Aku dan Nara saling pandang dengan senyum masam cringe (meringis canggung) karena sama-sama sepakat kalau nasinya gagal memenuhi standar lidah cerewet wibu Jepang. Ironisnya...

Berbeda 180 derajat dengan keluhan kami berdua si rewel, justru Meileen, Eva, dan Yulia malah terlihat sangat lahap mengunyah nasi itu bagai kelaparan. Mereka sangat menyukai rasa tawar nasinya yang cocok di pairing dengan tumis kecap.

Ajaibnya lagi, kuah Sup Miso yang kami puja-puja sebagai Masterpiece Umami itu malah dibiarkan tersisa banyak di mangkuk para gadis Isekai. Rupanya hidung dan lidah Eropa mereka benar-benar menolak keras sensasi asin fermentasi strong (tajam) khas sup Miso. Mereka menganggap sup itu 'terlalu bau kaldu ikan aneh dan terlalu asin menyengat'.

Sambil menyuap nasiku pelan, aku hanya bisa geleng-geleng kepala takjub melihat perbedaan budaya yang luar biasa ekstrem yang dibentuk dari lingkungan tumbuh (cultural background) pada pallete (lidah perasa) seseorang. Memang benar kata pepatah: 'Makanan Dewa buat satu orang, belum tentu bisa ketelan buat orang lain'.

Di saat aku sedang asyik merenungkan filosofi kuliner antropologi yang berat itu, tiba-tiba Nara membanting mangkuk nasinya ke meja dengan raut wajah super serius seperti seorang jenderal revolusi yang mau merencanakan kudeta militer.

"Ada apa dengan wajahmu, Nara?" tanyaku curiga ada ide halu lagi.

Nara memandang lurus ke mataku dengan semangat api Shounen yang menyala membakar.

"Maya-san! Ayo kita bikin Proyek Pertanian Revolusioner Nasional! Kita bakal memuliakan bibit varitas (Selective Breeding) genetika silang padi di Isekai ini buat nyiptain Beras Koshihikari Super Pulen Kualitas Jepang Mutlak! KITA REVOLUSI LIDAH MEREKA!!" teriak Nara deklarasi perang pada beras isekai.

"Ditolak mentah-mentah. Capek." jawabku sedetik kemudian tanpa ampun.

"LHO KOK GITU?! KENAPA MENOLAK REVOLUSI SUCI INI?!!" protes Nara seakan kiamat sudah dekat.

Melihat tingkah Nara yang overdramatic menangisi nasib beras isekai, aku hanya menyandarkan punggungku ke sofa dan berkata polos.

"Memangnya kau punya skill Agronomi Pertanian DNA dan paham ilmu bioteknologi silang varietas gabah untuk bikin kultivar (bibit unggul) baru di lab genetik? Karena Sumpah demi Tuhan, aku sih nol besar soal bertani begituan."

"..."

Nara freeze kaku mematung bak disambar petir. Mulutnya menganga tak bisa berkata-kata.

"Kau juga sama sekali nggak ngerti ilmunya kan, dasar bodoh?!" semburku menjitak kepalanya dengan gemas.

Previous Chapter | LIST | Next Chapter



Post a Comment

0 Comments