Header Ads Widget

Chapter 51-55 ; Raja Iblis

 

Episode 51: Sang Raja Iblis

◆◆◆

Di sebuah ruangan di dalam Kastil Raja Iblis, pemandangan berantakan tersaji. Ruangan itu sengaja dibiarkan porak-poranda oleh pemiliknya.

"Sialan! Sial!! Semuanya benar-benar tidak berguna!!"

Raja baru Kerajaan Iblis, Megid, berteriak-teriak marah sambil menendang perabotan di ruang kerjanya.

Ia sangat murka karena pasukannya baru saja gagal total dalam misi membunuh seorang pemanggil baru yang dipanggil Kerajaan Admos. Mengingat si pemanggil belum lama tiba di dunia ini, Megid berpikir bahwa ini adalah kesempatan emas untuk melenyapkannya sebelum ia bertambah kuat.

Namun rencana itu hancur berantakan, salah satunya karena pergerakan dan kekuatan tak terduga dari si pemanggil itu sendiri. Sang Raja yang merancang dan memerintahkan operasi itu kini mengamuk tak karuan.

"Y-Yang Mulia, mohon tenangkan diri Anda..."

Para penasihat raja berusaha membujuk, tetapi ucapan mereka justru menyiram minyak ke dalam api amarahnya.

"Bagaimana mungkin aku bisa tenang?! Ini semua salah kalian yang melarangku pergi! Makanya sejak awal aku bilang aku sendiri yang akan memimpin pasukan di garis depan!!" raung Megid.

Mendengar itu, para penasihatnya segera membantah dengan panik.

"T-Tentu saja tidak boleh, Yang Mulia! Anda adalah Raja dari seluruh Kerajaan Iblis! Tidak masuk akal jika seorang Raja mempertaruhkan nyawa turun langsung ke garis depan!"

"Diam!! Kalau saja bawahan kalian becus menjalankan tugas, semua ini tidak akan terjadi!!"

Raja baru ini memang merupakan entitas terkuat di seluruh Kerajaan Iblis dalam hal kemampuan sihir dan tempur, tapi... sayangnya, otaknya tidak sejalan dengan ototnya. Ia sangat kekurangan visi dan strategi. Bahkan sampai detik ini pun, ia tidak paham posisi politiknya sendiri dan benar-benar yakin masalah apa pun bisa selesai kalau ia sendiri yang turun tangan menghajarnya.

Melihat tingkah rajanya yang seperti anak kecil tantrum, penasihat utama diam-diam menghela napas lelah tanpa sepengetahuan sang Raja.

Megid, yang tidak menyadari helaan napas kecewa dari bawahannya, akhirnya tampak mulai kehabisan tenaga. Ia menjatuhkan diri ke kursinya dengan napas terengah-engah dan menggaruk kepalanya dengan kasar.

"Aargh!! Kalau aku tahu akhirnya bakal merepotkan begini, aku tak akan pernah mau jadi raja! Bukankah sudah hukum alam kalau yang terkuatlah yang memimpin?! Tapi kalau raja malah dilarang bertarung, itu sama saja menyia-nyiakan kekuatan tempur terbesar kita!"

Tidak, tentu saja bukan begitu konsepnya, batin sang penasihat muak.

Sejak awal, tidak ada hukum di Kerajaan Iblis yang menetapkan bahwa yang terkuat otomatis menjadi raja. Hukum suksesi yang berlaku hanyalah satu: Raja selanjutnya adalah penerus yang ditunjuk langsung oleh raja sebelumnya.

Meileen—sang Ratu terdahulu—memang tidak ditunjuk langsung oleh ayah mereka. Setelah sang ayah (Raja Iblis sebelumnya) dibunuh oleh Kenta, tongkat kekuasaan yang menjadi simbol Raja Iblis diserahkan oleh Kenta kepada Meileen. Karena Meileen memegang simbol itu, para bangsawan iblis pun mengakui legitimasinya dan mengangkatnya menjadi Ratu.

Para bangsawan lokal saat itu menaruh harapan besar pada kecerdasan dan kebijaksanaan Meileen. Selama ini, Meileen selalu menentang keras kebijakan ekspansi gila ayahnya dan lebih mengutamakan kedamaian dalam negeri. Para bangsawan percaya bahwa Ratu Meileen mampu membangun kembali kerajaan iblis yang hampir hancur ini.

Menjawab harapan tersebut, Meileen langsung bergerak cepat menstabilkan negara yang porak-poranda akibat perang panjang dengan manusia. Semua orang optimis bahwa di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Iblis akan segera bangkit kembali.

Namun, harapan itu pupus dalam waktu singkat.

Adik laki-laki Meileen, Megid, melancarkan pemberontakan (kudeta) terhadap kakak kandungnya sendiri. Megid berpegang teguh pada prinsip kolot bahwa 'Raja Iblis haruslah sosok dengan kekuatan militer absolut'. Karena Meileen tidak punya kekuatan militer untuk mengintimidasi lawan, Megid mengerahkan faksi militernya untuk menggulingkan Meileen dari takhta dengan paksa.

Ketika berita kudeta itu tersebar, para bangsawan moderat sangat terpukul. Mereka tak menyangka pria yang ototnya lebih besar dari otaknya itu kini malah duduk di atas singgasana.

Sejak Megid berkuasa, baru saja Kerajaan Iblis berhasil memulihkan sedikit kekuatan militernya, Megid langsung memerintahkan pasukannya untuk kembali mencampuri urusan kerajaan manusia di perbatasan. Serangan terhadap negara Weimar tempo hari adalah salah satu contohnya. Ia nekat menyulut perang baru padahal stabilitas di dalam negerinya sendiri masih sangat rapuh.

Akibatnya, di dalam internal Kerajaan Iblis—terutama di kalangan bangsawan intelektual—ketidakpuasan terhadap Megid terus menumpuk. Bahkan ada desas-desus yang mengatakan, "Andai saja Ratu Meileen yang masih memimpin, beliau pasti bisa memulihkan negara ini dua kali lipat lebih cepat dibanding si tiran otot Megid."

Kalau dibiarkan terus seperti ini, si keras kepala itu pasti akan membawa Kerajaan Iblis menuju kehancuran total. Kita harus melakukan sesuatu sebelum terlambat...

Begitulah momentum pemberontakan yang perlahan mulai terbangun dari bawah. Sayangnya, Megid sendiri sama sekali tidak menyadarinya.

Bagi Megid, sosok ideal seorang raja mutlak harus seperti mendiang ayahnya, yang selalu dipuja sebagai Raja Iblis terkuat sepanjang sejarah. Ayah mereka memang memiliki kapasitas sihir luar biasa yang tak tertandingi oleh iblis manapun. Megid yakin seyakin-yakinnya bahwa ayahnya bisa berkuasa murni karena kekuatannya yang absolut.

Padahal kenyataannya, selain kuat, mendiang Raja Iblis sebelumnya adalah seorang jenius taktik yang brilian. Ia memang sesekali turun ke medan perang jika situasi mendesak, tapi kelebihannya yang paling utama adalah kemampuannya memimpin bawahan, meracik strategi, dan kelihaiannya dalam mengatur administrasi negara.

Sayangnya, Megid dengan bodohnya mengabaikan semua sisi intelektual ayahnya itu. Ia hanya fokus pada kekuatan destruktif semata, menganggap begitulah seharusnya wujud sejati seorang raja.

Alhasil, bukan cuma memicu percikan kudeta di dalam negeri, kecerobohan terbarunya yang gagal membunuh pemanggil manusia ini juga memancing reaksi keras dari dunia internasional.

Raja ini sudah tidak bisa diselamatkan lagi, pikir penasihat utamanya. Namun masalahnya, para jenderal faksi militer yang setia pada Megid memiliki kekuatan sihir yang sangat besar, sehingga melakukan kudeta terhadapnya bukanlah hal yang mudah.

Yang bisa dilakukan sang penasihat saat ini hanyalah menatap Megid yang sedang menggerutu sendirian dengan tatapan putus asa campur jijik.

Terdorong rasa penasaran akan apa yang sedang digerutukan rajanya, sang penasihat menajamkan pendengaran...

"Sial... kalau tahu bakal repot disuruh diam di istana begini, mending dulu takhtanya kuserahkan ke kakakku saja biar aku bisa bebas mengamuk di garis depan..." gumam Megid pelan, menyesal yang sangat terlambat.

Mendengar gumaman itu, sang penasihat melongo saking terkejutnya. Ia baru sadar bahwa dari awal, rajanya tidak pernah paham esensi pembagian tugas!

Terus buat apa kau repot-repot kudeta menggulingkan kakakmu kalau kau sendiri tidak mau mengurus negara, bodoh?!

Andai saja sedang tidak ada orang lain di ruangan itu, sang penasihat pasti sudah meneriakkan makian itu keras-keras dan menghela napas panjang saking stresnya. Namun ia menahan diri sekuat tenaga karena rajanya ada tepat di depan mata.

Tiba-tiba, mata Megid membelalak seolah baru mendapat ilham. Ia langsung berdiri.

"Benar juga! Aku tinggal cari kakak perempuanku, lalu memaksanya jadi Ratu lagi untuk mengurus istana!!" seru Megid dengan wajah berseri-seri seolah itu adalah ide paling jenius abad ini.

Seluruh penasihat dan bawahan di ruangan itu serempak terdiam kaku.

Kau sendiri yang menggulingkannya dengan kudeta berdarah, lalu kau pikir dia mau menuruti perintahmu begitu saja?! batin mereka kompak.

Namun, kalau mereka nekat mengatakan hal itu pada Megid, bisa-bisa kepala mereka melayang. Melihat betapa gembiranya rajanya atas ide bodoh itu, sang ajudan tak tega merusak mood-nya dan berniat memberi nasihat secara halus, ketika...

"Permisi, Yang Mulia!"

"Ada apa?!"

"Hamba membawa laporan darurat dari unit intelijen pusat!"

"Cepat bacakan."

"Siap!"

Prajurit intelijen itu membungkuk hormat lalu membacakan laporannya dengan lantang.

"Menurut informasi terbaru, sang pemanggil baru dari Kerajaan Admos telah menantang pemanggil pendahulu untuk bertarung... dan dia mengalami kekalahan telak!"

"Hah?! Kau serius?"

Pemanggil dari Kerajaan Admos itu baru saja sukses membuat Megid frustrasi karena gagal dibunuh, lalu tiba-tiba dia dikalahkan oleh pemanggil sebelumnya?

Mendengar berita itu, Megid sontak berdiri tegang.

"Lalu? Apa bocah itu masih hidup atau mati?"

"Menurut sumber intelijen yang beredar, ia tewas dalam pertarungan tersebut."

"..."

Mendengar konfirmasi itu, Megid langsung terempas jatuh kembali ke kursinya, seolah seluruh tulangnya dicabut.

"Yang Mulia?"

"Ah, tidak apa-apa... Cuma... rasanya kesal saja mangsaku malah direbut dan dibunuh oleh orang lain. Jadi gagal balas dendam."

"Ah... begitu rupanya..."

"Tunggu dulu. Bukannya pemanggil pendahulu itu berasal dari dunia dan negara yang sama dengan bocah pemanggil Admos itu? Kok bisa-bisanya dia membunuh rekan senegaranya sendiri semudah itu hanya karena beda kubu di dunia lain?"

Megid mengerutkan kening dalam, terlihat berpikir keras.

"Pria itu jelas bukan anomali yang bisa kita abaikan begitu saja. Dia juga yang membunuh ayahku... Cepat atau lambat, aku harus menghabisi orang itu dengan tanganku sendiri."

"Hamba sependapat, Yang Mulia! Pemanggil pendahulu itu memang sosok yang sangat berbahaya. Tampaknya pihak manusia juga berpikir hal yang sama."

"Maksudmu?"

"Kerajaan Admos dikabarkan berencana melakukan ritual pemanggilan dari bumi sekali lagi untuk mencari pengganti demi membunuh Tuan Kenta Maya."

Mendengar laporan tambahan itu, Megid menatap tajam penasihat utamanya.

"Hei, bagaimana pendapatmu soal ini?"

"Maaf, apanya yang 'bagaimana', Yang Mulia?"

"Ini sudah pemanggilan pahlawan yang ketiga kalinya dalam rentang waktu yang sangat singkat. Padahal ritual semacam itu dulunya hanya terjadi puluhan tahun sekali. Apa kau yakin tidak akan ada efek samping yang berbahaya?"

"...Mohon ampun, tapi hamba kurang paham dengan apa yang Anda khawatirkan, Yang Mulia."

Karena bawahannya tidak bisa menangkap maksudnya, Megid menggaruk kepalanya kasar—kebiasaan yang sering ia lakukan saat bingung merangkai kata.

"Yah, aku juga bingung cara menjelaskannya dengan kata-kata... aku cuma punya firasat buruk soal ini."

Megid memang sama sekali tidak punya kapasitas otak untuk mengurus negara, tapi jika menyangkut insting bertarung, ia sangat ahli dalam 'membaca' hawa bahaya dan merasakan anomali sekecil apa pun di udara. Saat Megid bilang ia punya firasat buruk, berarti ada sesuatu yang benar-benar tidak beres, meski ia tak tahu persis apa itu.

"...Sepertinya kita tidak boleh lengah," gumam Megid serius.

"Yang Mulia?"

"Hei, bukankah altar sihir untuk ritual pemanggilan dunia lain itu cuma ada di ibu kota Lindor?"

"Ah! Benar, Yang Mulia!"

"Kalau begitu, kirim seluruh unit intelijen terbaik kita ke Lindor untuk mengawasi. Kalau terjadi sesuatu yang aneh, segera laporkan padaku tanpa tunda."

"Dimengerti, Yang Mulia! Kalau begitu, hamba undur diri untuk memberi perintah!"

Setelah prajurit itu keluar, ekspresi Megid berubah drastis dari yang tadinya meledak-ledak marah menjadi sangat dingin dan serius.

"...Sebenarnya, apa yang membuat perasaanku sangat tidak enak begini?"

Melihat rajanya bergumam pelan sambil menatap ke luar jendela dengan sorot mata setajam pemangsa, sang penasihat akhirnya memutuskan untuk setia mendampingi rajanya sedikit lebih lama lagi.


Episode 52: Ah, Benar Juga, Itu Pekerjaan Lamaku

"Berdasarkan rumor yang beredar, sepertinya Admos akan menyewa Lindor lagi untuk melakukan ritual pemanggilan tahap ketiga dalam waktu dekat."

Ivern menyampaikan berita itu sambil menurunkan tas perbekalannya sekembalinya dari kota.

Melihat banyaknya barang belanjaan yang dibawa Ivern, Nara menatapnya dengan pandangan menilai.

"Tuan Ivern, Anda benar-benar kelihatan persis seperti pedagang keliling (traveling merchant)."

"Hah? Kau juga ikut-ikutan mengejekku?"

Ivern langsung memiting leher Nara (headlock).

"Gyaaah! Ampun! Lepaskan, Tuan Ivern!"

"Berisik! Rasakan ini, dasar bocah kurang ajar!"

Keduanya saling bergulat dengan tawa dan candaan.

"Sudah, sudah, berhenti main-main. Cepat bereskan barang-barang itu. Sebentar lagi kita akan kedatangan dua anggota baru yang bakal menumpang tinggal di sini, pasti barangnya akan tambah banyak."

Mendengar perintahku, keduanya langsung berhenti bergulat dan menghampiriku.

"Maaf, maaf."

"Iya, maaf."

Keduanya pun mulai membongkar barang belanjaan. Sambil memperhatikan mereka, aku menyadari sesuatu.

"Kalian berdua ini benar-benar cepat akrab ya. Kok bisa-bisanya kalian jadi begitu dekat?"

Nara baru saja pindah ke sini beberapa hari yang lalu. Tapi entah kenapa, interaksi Ivern dan Nara sudah luwes layaknya kakak-adik perguruan yang sudah saling kenal bertahun-tahun.

"Kenapa, kau tanya...?" Ivern tersenyum miring. "Yah, karena kami berdua punya satu kesamaan mendasar."

"Kesamaan apa memangnya?"

Melihatku memiringkan kepala bingung, senyum Ivern semakin lebar.

"Kami berdua adalah orang-orang yang dulu berniat memusuhimu, tapi entah bagaimana kami berhasil selamat dan hidup untuk menceritakannya."

"Bisa ku bunuh kalian berdua sekarang juga, tahu."

Jangan berani-beraninya kalian membangun ikatan persaudaraan dari hal konyol macam itu.

"Hahaha, jangan marah. Tapi serius lho, Kenta. Fakta bahwa kau tidak membunuh kami saat kami menantangmu membuktikan bahwa sebenarnya pola pikir kita itu tidak jauh berbeda, kan?"

"...Apa iya begitu?"

"Iya, begitulah adanya."

Terus terang, aku masih tidak paham apa hubungannya.

Sambil mengobrol santai, aku memilah barang bawaan yang dibeli Ivern. Rumah baru untuk Nara dan teman-temannya masih belum selesai kubangun, jadi untuk sementara mereka menumpang tidur di rumahku. Karena itu pula, kami jadi ikut berbagi persediaan logistik bersama Nara.

"Ngomong-ngomong, rumah barunya sebentar lagi selesai kan, Maya-san?"

"Ya."

"Sihir itu benar-benar ajaib ya! Bisa membangun satu rumah utuh dalam waktu secepat itu!"

"Bicara soal sihir, bagaimana perkembangan latihanmu, Nara? Apa kau sudah mulai terbiasa mengendalikan mana sihirmu?"

Ya, aku memang sedang membangunkan rumah untuk kelompok Nara menggunakan sihir tanah dan kayu. Saat Nara melihatku membangun rumah dalam sekejap, matanya berbinar takjub seperti anak kecil yang baru melihat sulap.

Melihat antusiasme di matanya, aku merasa lega karena tampaknya dia sudah jauh lebih stabil menjaga kewarasannya dibanding saat pertama kali datang dengan mata kosong seperti ikan mati. Karena dia begitu tertarik pada sihir yang kudemokan, aku pun memutuskan untuk mengajarinya.

Tentu saja itu bukan murni karena kebaikan hati. Semakin banyak variasi sihir yang bisa dia gunakan, kekuatan tempurnya akan semakin besar dan dia bisa jadi pion yang berguna. Mumpung dia sedang sangat termotivasi, kurasa dia akan cepat belajar.

Tapi masalahnya, karena selama ini Nara dilatih di Admos—negara manusia yang sama sekali tidak paham sihir—dia benar-benar buta huruf soal mengalirkan dan memanipulasi mana di dalam tubuhnya, yang merupakan syarat mutlak sebelum bisa membentuk mantra sihir.

Jadi, aku mengajarinya kontrol mana dasar terlebih dahulu. Meski latihannya sangat repetitif dan membosankan, bagi Nara yang merupakan pemuda dari bumi modern tanpa sihir, sensasi merasakan 'energi magis' di tubuhnya benar-benar terasa seperti mimpi yang jadi nyata. Ia berlatih dengan sangat rajin setiap hari sejak kuajarkan teorinya.

"Sihir itu benar-benar luar biasa! Aku sudah jauh lebih lancar mengendalikan aliran sihir di seluruh tubuhku!" lapor Nara antusias.

Eit, jangan salah paham dulu, Nara. Itu belum bisa disebut 'sihir'. Itu cuma sekadar latihan senam peregangan untuk menyiapkan pembuluh mana sebelum kau benar-benar merapal sihir.

Yah, percuma juga menjelaskan hal itu padanya yang masih pemula, malah nanti motivasinya turun. Jadi aku sengaja tidak mengoreksinya. Mungkin karena itulah Nara terlihat sangat bahagia menjalani hari-harinya akhir-akhir ini.

"Oh, baguslah kalau begitu. Terus tingkatkan," kataku.

Mendengar pujianku, Nara tersenyum kecut. "Tapi lucu juga ya kalau dipikir-pikir. Dulu aku sangat yakin manusia mustahil bisa sihir dan bahkan tidak pernah mencobanya. Sekarang aku malah diajari sihir yang benar olehmu."

"Oh, maksudmu si pemanggil yang satu lagi?"

"Iya. Dulu Ota sering menyombong bilang kalau dia akan jadi penyihir terkuat dan tak terkalahkan, padahal ujung-ujungnya dia tak belajar apa-apa sama sekali. Dan aku sama sekali tidak menyangka ternyata sebelum bisa nembak bola api keren, kita harus latihan pernapasan aneh begini berhari-hari..."

Nara berkonsentrasi sejenak, dan sebuah pendar energi biru tipis mulai berkumpul dan menyelimuti telapak tangannya.

"Tentu saja. Sihir tidak akan bisa tercipta kalau bahan bakarnya (mana) tidak ada. Ibaratnya konsol game portable—sekeren apa pun konsolnya, kalau baterainya kosong ya tidak bakal menyala."

Nara mengangguk setuju dengan metafora itu. "Benar! Kalau energi sihir itu ibarat kapasitas 'baterai', lalu mana 'konsol' dan 'kaset game'-nya?"

"Tubuh fisik dan sirkuit mana di badanmu itu 'konsol'-nya. Sedangkan 'kaset game' atau software-nya itu adalah rumus konstruksi (mantra) untuk membentuk sihirnya."

"Ah, jadi mirip seperti nulis program coding?"

"Tepat. Tergantung coding rumusnya, kau bisa memunculkan api, es, atau petir. Tapi itu semua cuma bisa terwujud kalau tubuhmu ('konsol') punya kapasitas baterai yang cukup kuat untuk mengeksekusi rumusnya."

"Mengerti! Kalau begitu aku akan fokus upgrade kapasitas bateraiku dulu!"

"Lanjutkan."

Cara penjelasanku menggunakan analogi barang elektronik bumi sangat mudah dipahami oleh Nara. Namun sebaliknya, bagi Ivern dan orang-orang asli dunia isekai ini, obrolan kami terdengar seperti bahasa alien.

"Jujur saja, dari dulu aku sama sekali tidak paham apa yang kalian bicarakan setiap bahas teori sihir," keluh Ivern geleng-geleng kepala.

"Wajar. Teoriku itu mengambil referensi sains dari dunia asal kami, jadi kau tidak akan paham."

Hanya orang yang bereinkarnasi atau dipanggil dari bumi yang akan mengerti konsep 'coding' dan 'baterai'.

"Lebih penting dari itu, Ivern. Kalau benar mereka mau melakukan pemanggilan pahlawan lagi untuk menggantikan posisi Nara, kira-kira siapa pemanggil cadangan yang bisa mereka andalkan di sini?"

Mendengar pertanyaanku, Ivern mengangkat bahu malas. "Kau nanya padaku? Siapa lagi coba?"

"Jangan bilang kau yang mau maju jadi summoner-nya?"

"Oh? Kenapa tidak? Kau menantangku?"

"Boleh saja, tapi kau bakal mati."

"Hahaha, aku menolak kalau begitu."

Nara menatap interaksi santai kami dengan senyum kaku. "Kalian berdua ini benar-benar akrab ya..."

"Hah? Akrab dari mana? Kami kan baru saja membahas soal saling bunuh," kilahku.

Ivern tertawa masam melihat keherananku. "Ayolah, itu kan sudah jadi semacam salam andalanmu. Masalahnya, kau itu tipe orang sinting yang akan benar-benar membunuh orang secara random setelah bilang begitu."

"Wah, komentar yang sangat tajam," balasku datar.

"Sudah, sudah. Cepat bantu aku beres-beres," potong Ivern.

Setelah selesai membongkar barang, kami berkumpul di ruang tamu untuk bersantai dan merokok. Eva, sang putri pelarian dari Admos, juga ada di sana.

Sebagai seorang putri sejati, Eva tentu saja tidak pernah memegang sapu atau mencuci piring seumur hidupnya. Jadi dalam urusan pekerjaan rumah tangga, dia benar-benar nol besar dan tidak bisa diandalkan.

Tapi di sisi lain, Eva sangat aktif menawarkan diri untuk mengasuh dan bermain bersama Leon dan Aira. Berkat usahanya menjaga para balita, Meileen dan Yulia akhirnya punya sedikit waktu luang untuk beristirahat, sehingga mereka sangat berterima kasih pada Eva.

...Tapi kalau boleh jujur, menurutku Eva cuma sangat gemas dan memang ingin main dengan bayi-bayi itu.

Yah, karena Eva sukses jadi guru daycare (taman kanak-kanak) andalan di rumah ini, wajar kalau dia ikut bersantai bersama kami di ruang tamu sekarang.

Kami lalu memberi tahu Eva bahwa kerajaan asalnya, Admos, sedang berusaha keras untuk kembali memanggil pahlawan baru dari dunia lain. Saat Ivern menceritakan informasi yang didapatnya di kota, Eva terdiam kaget sejenak sebelum wajah cantiknya berubah merah padam karena marah.

"Apa-apaan tindakan biadab itu?! Ayahanda benar-benar menganggap nyawa manusia sebagai mainan yang bisa dibuang kapan saja!! Memang keputusan yang tepat aku kabur dan memutuskan hubungan keluarga dengannya!!" maki Eva tanpa ampun.

Sebagai putri bungsu yang dimanja dan dibebaskan, Eva tumbuh menjadi gadis yang tidak pandai berprasangka buruk pada orang lain. Selain itu, karena ia sangat menyukai cerita kepahlawanan sejati, ia sangat membenci kelicikan politik yang mengorbankan rakyat kecil. Tampaknya dia tak bisa mentolerir ide gila ayahnya yang mau menumbalkan remaja bumi tak berdosa hanya karena pion utamanya (Nara dan Ota) gagal, sampai-sampai dia tak segan mengutuk ayah kandungnya sendiri.

"Lalu, apa rencanamu sekarang? Apa kita mau diam saja menunggu pahlawan baru itu datang menjemput nyawaku? Atau..."

Aku sengaja menggantung kalimatku, memancing reaksi mereka.

Nara menyeringai nakal khas protagonis berandalan.

"Sudah pasti kan? Kita datangi mereka dan kita acak-acak ritual pemanggilannya!"

Sesuai dugaanku, Nara sangat antusias menggagalkan ritual pemanggilan tersebut. Motifnya mungkin campuran antara ingin membalas dendam pada kelicikan Admos dan rasa simpatinya agar tidak ada remaja dari bumi yang bernasib tragis seperti dirinya.

Sebenarnya, secara pribadi aku tidak terlalu peduli mau ada pahlawan baru atau tidak. Malahan, aku agak penasaran ingin melihat secara teori apa efek samping yang ditimbulkan jika ritual sihir pemanggilan skala benua itu dipaksakan dalam waktu seberdekatan ini. Padahal waktu pemanggilan ke-2 tempo hari saja sudah anomali (menarik 2 orang sekaligus: Nara dan Ota).

Namun, sang putri pelarian kita menolak keras.

"Tentu saja kita harus menggagalkan ritual jahat itu! Tidak, lebih baik kita hancurkan saja lingkaran sihir pemanggilannya sekalian!! Dengan begitu, tidak akan ada lagi korban tak berdosa dari bumi yang menderita seperti Tuan Kenta dan Mitsuhiko-sama!!" seru Eva berapi-api.

(Kasihan, si Ota benar-benar tidak dianggap eksistensinya oleh putri ini.)

Yah, karena aku tidak punya alasan kuat untuk menolak, dan sepertinya Eva serta Nara sudah sangat terbakar semangat untuk menghentikan ritual itu, akhirnya kami semua sepakat untuk menggerebek Lindor.

"Oke, kalau begitu kita tinggal mencari tahu kapan tepatnya rombongan Admos akan berangkat ke Lindor. Ivern, tugasmu untuk cari informasi ke sana."

"Jangan bercanda. Mana mungkin aku bisa dapat informasi level itu," tolak Ivern mentah-mentah.

"Lho, kenapa tidak? Kau kan biasanya sangat jago mencari bocoran informasi?" sahut Nara heran, sependapat denganku.

"Itu beda level, bodoh! Aku ini cuma mantan petualang yang jago nguping gosip receh di kedai minuman kota! Mana mungkin aku bisa dapat jadwal rahasia kenegaraan dari dalam istana!"

Tch, ternyata tidak bisa diandalkan.

Kami semua terdiam, memiringkan kepala bingung memikirkan cara mendapatkan jadwal mereka. Tiba-tiba...

"Kalau begitu, biar saya saja yang menyusup ke sana."

Mona mengajukan diri dengan tenang. Ah, benar juga! Orang ini kan ahlinya!

Ivern langsung mengangguk lega menyetujui usulan Mona. Namun Nara yang belum tahu identitas asli Mona malah memiringkan kepalanya bingung.

"Tunggu, kenapa Mona-san? Memangnya dia bisa bela diri?"

"Asal kau tahu saja, Mona itu adalah mantan komandan unit intelijen elit (mata-mata) Kerajaan Iblis."

"Haaaah?!" Nara melongo saking kagetnya.

Mona membungkuk hormat layaknya maid profesional di hadapan Nara.

"Sebagai mantan mata-mata, tugas infiltrasi dan pengumpulan intelijen adalah spesialisasi saya. Mohon serahkan misi krusial ini ke tangan saya."

Melihat Mona sangat meyakinkan, aku memberikan izin.

"Oke, kuizinkan. Pergilah menyusup ke Admos dan cari tahu kapan pastinya mereka akan tiba di altar Lindor."

"Dimengerti, Tuan Kenta."

Usai menjawab, Mona menegakkan tubuhnya, berjalan mendekat, dan menyodorkan telapak tangannya ke arahku seperti meminta uang jajan.

"Apa?" tanyaku heran.

"Sesuai standar operasional, bukankah sebaiknya Anda meminjamkan saya alat magis yang bisa mempermudah misi ini?"

"..."

Beraninya maid ini meminta jatah perlengkapan padaku.

Yah, harus kuakui rumahku ini memang penuh dengan alat sihir aneh dan tidak lazim ciptaanku sendiri. Sebagai mata-mata, wajar kalau Mona berpikir pasti ada satu atau dua alatku yang berguna untuk misi spionase. Dan faktanya, memang ada.

"Kau ini memang pintar mencari kesempatan dalam kesempitan, ya. Nih, ambil ini."

Aku melemparkan sebuah benda kotak kecil. Mona menangkapnya, tapi menatap benda itu dengan bingung.

"Alat apa ini, Tuan?"

"Itu..."

Aku tidak langsung menjawab, melainkan berjalan ke sudut ruangan menuju meja kerjaku. Aku mengambil benda kotak yang sama persis bentuknya, lalu menekan tombol kecil di sampingnya. Beep.

"Benda yang kau pegang itu adalah alat komunikasi yang memungkinkanmu berbicara dengan orang yang memegang alat ini dari jarak yang sangat jauh."

"!!" mata Mona membelalak kaget.

Benda yang kuberikan pada Mona adalah prototipe alat komunikasi jarak jauh ala "HT" (Walkie-Talkie). Aku membuatnya iseng-iseng karena merasa repot tanpa ponsel di dunia ini, dan lagipula aku cuma butuh untuk menghubungi beberapa orang saja.

Sebenarnya aku bisa menggunakan sihir khusus semacam 'Telepati'. Masalahnya, sihir telepati itu super sulit dan cuma aku yang bisa merapalkannya. Mona tidak bisa. Jadi aku menanamkan formula sihir telepati itu ke dalam alat ini sehingga siapa pun bisa menggunakannya. Kelebihannya, alat komunikasi magis ini tidak terpengaruh oleh jarak sama sekali, sejauh apa pun kau berada dari lawan bicaramu.

"...Ini benar-benar luar biasa. Dengan ini pelaporan intelijen real-time akan jadi sangat mudah," gumam Mona dengan mata berbinar, jiwa mata-matanya meronta girang melihat gawai (gadget) sekeren ini.

"Oh, mumpung kau ke sana, bawa yang ini juga sekalian."

Aku melemparkan barang kedua pada Mona. Benda itu berbentuk lempengan kayu panjang yang melengkung di kedua ujungnya.

"Papan kayu apa ini?"

"Cara pakainya begini... Kau letakkan papannya di tanah. Lalu kau kaitkan kakimu di tali pengaman ini... dan kau alirkan sedikit kekuatan sihirmu..."

Begitu Mona mencoba mengalirkan mana-nya, wussh! Papan kayu itu tiba-tiba mengambang di udara, membuat Mona sedikit terhuyung kaget.

"!? P-Papannya melayang?!"

Ini adalah purwarupa papan selancar udara, atau gampangnya, Hoverboard ajaib. Tentu saja tanpa roda karena ia terbang memakai gaya tolak magis. Cocok sekali untuk mobilitas jarak jauh tanpa membuat kaki pegal.

"Makasih banyak! Dengan alat-alat ini, tugas mata-mata akan jauh lebih efisien!" ujar Mona ceria.

"Awas, jangan sampai ada warga sipil yang lihat kau terbang di udara pakai papan itu."

"Saya jamin aman, Tuan. Saya akan latihan sebentar di luar sebelum berangkat."

Mona langsung memeluk Walkie-Talkie dan Hoverboard itu erat-erat dan berlari keluar rumah. Dengan perlengkapan itu, kita bisa dapat informasi secara langsung dari lapangan. Bagus.

Puas karena semua masalah beres, aku menoleh kembali ke arah teman-temanku. Betapa terkejutnya aku saat melihat Nara menatapku dengan mata membulat penuh harap, persis seperti anak anjing yang minta diajak main.

"Maya-san! Maya-san!"

"Apaan?"

"Aku juga mau satu dong!!"

"Hah? Mau yang mana?"

"Yang terbang tadi!!" rengek Nara.

"Ah, maksudmu hoverboard?"

"Pokoknya yang bisa melayang itu!!"

"Enggak. Lagian buat apa kau pegang alat tempur begitu kalau cuma numpang diam di rumah?"

"Tentu saja buat main!!"

Ah, astaga. Sisi remaja SMA dari diri Nara langsung memberontak minta mainan baru.

"Tidak."

"Pelit! Buatkan aku satu jugaa!!" rengek Nara sambil menarik-narik lenganku.

"Berisik. Sana bikin sendiri."

"Maya-emoooon! Tolong akuuu!!"

"Ada masalah apa, Mitsuta-kun?" balasku otomatis.

Melihat kelakuan bodoh Nara yang merengek persis seperti Nobita merengek pada Doraemon, aku merasa seolah-olah melihat kacamata bundar ajaib mendadak muncul di wajah Nara. Aku menghela napas pasrah. Pada akhirnya, aku luluh pada rengekan bocah itu dan memberinya satu prototipe papan terbang sebagai mainan untuk membunuhnya waktu luangnya.

Melihat Nara yang langsung kegirangan dan berlari keluar menuju halaman untuk main skateboard terbang, Ivern cuma bisa menggelengkan kepalanya pasrah.

"...Ngomong-ngomong, siapa itu Maya-emon dan Mitsuta-kun?" tanya Ivern penasaran.

"Sudah, abaikan saja, kau tak perlu tahu."


Episode 53: Akal Sehat di Dunia Isekai

"Aduh, aduh..."

Nara meringis kesakitan sambil mengoleskan salep pada luka-luka lecet di lengan dan kakinya, duduk merana di sofa ruang tamu.

Seperti yang bisa ditebak, karena terlalu asyik main Hoverboard dengan gaya sok pro tanpa pengalaman, ia malah hilang keseimbangan dan jatuh terguling spektakuler di tanah berdebu.

Saat melihat Nara jatuh terseret di tanah, Eva hampir pingsan saking paniknya. Tapi uniknya, Nara sendiri malah tertawa lepas sambil telentang di tanah, "Ahahaha! Seru banget!"

Jujur, awalnya kukira otaknya sedikit bergeser karena benturan. Tapi setelah dipikir-pikir, fasilitas hiburan di dunia isekai ini benar-benar nol besar (tidak ada game, tidak ada internet). Ini mungkin pertama kalinya Nara bisa main gila-gilaan seperti remaja normal lagi sejak diculik ke sini. Melihat tawanya yang begitu lepas, aku yakin beban stres traumanya selama ini telah jauh berkurang.

"Hei, Maya-san, tolong obati lukaku pakai sihir penyembuhan dong. Perih nih."

Nara menodongku sambil menunjuk lututnya yang masih merah.

Tanpa basa-basi, aku berjalan mendekatinya dan mengangkat tangan tepat di depan dahinya.

"Wah, makasih, Maya-san!"

Nara yang polos mengira aku akan merapalkan mantra suci, dengan senang hati mencondongkan wajahnya padaku. Tapi alih-alih menyembuhkannya...

"Rasakan ini!"

TAK!

"Gyaaaah!!"

Aku menjentikkan dahinya dengan sekuat tenaga (porsi tenaga pahlawan cheat). Menerima serangan tak terduga yang kekuatan hantamannya setara dengan ditabrak sepeda motor itu, tubuh Nara langsung terpental jungkir balik ke belakang ala tokoh anime komedi, lalu mendarat mencium lantai dengan posisi telungkup menyedihkan.

"Ahahaha!"

"Yaaa!"

Melihat kekonyolan itu, Leon dan Aira yang sedang main di lantai langsung bertepuk tangan dan tertawa girang.

Di sisi lain, korban kekerasan rumah tangga (Nara) masih tepar telentang di lantai tanpa daya.

"M-Mitsuhiko-sama!!" panik Eva.

"Ah, tenang saja, Eva. Status fisiknya sudah di-buff dari sananya (Bonus Pemanggilan dari Bumi), tulang tengkoraknya tidak akan pecah cuma karena disentil begitu," ujarku santai menenangkan sang putri.

"B-Benar sih, tapi..."

Eva bergegas lari dan berjongkok di samping tubuh Nara yang tak berdaya. Ia tampak kebingungan tak tahu harus menolong bagaimana, karena toh korban masih bernapas dan bergerak-gerak kecil seperti kecoa yang disemprot obat serangga.

Ngomong-ngomong, omonganku tadi agak keliru. Eva terbukti sama sekali tak protes atau histeris padahal aku baru saja menyentil dahi calon suaminya sampai terpental. Kesabarannya diuji keras.

"Aduh... Sakit banget!! Oi, Maya-san!! Setan apa yang merasukimu tiba-tiba menyentilku sekeras itu?!" sungut Nara akhirnya bangkit duduk sambil memegangi dahinya yang memerah.

Oh, syukurlah, ternyata dia sudah aktif 100% lagi. Nyawanya tebal sekali berkat Buff Isekai.

Tanpa mempedulikan omelannya, aku mengambil Walkie-Talkie.

"Jadi, Mona. Bagaimana kondisi papan terbangnya? Apa kau sudah mulai terbiasa memakainya?" tanyaku pada radio.

( "Sudah lumayan, Tuan! Tapi sepertinya saya masih butuh sedikit adaptasi lagi sebelum bisa manuver tajam. Terus terang papannya sangat berguna," ) sahut suara jernih Mona dari seberang.

"Bagus. Kalau rusak nanti kubuatkan yang baru lagi."

( "Eh, sayang biayanya kan, Tuan?" )

"Tak usah sungkan. Anggap saja itu anggaran investasi untuk misi."

(Aslinya, bahannya kan gratis, aku tinggal potong kayu pakai sihir saja.)

"Setelah kau sampai di ibu kota Admos nanti, prioritaskan mencari info tentang rencana keluarga kerajaan, lalu kalau sempat, cari tahu sekalian tentang kabar sang summoner satu lagi (Ota)."

"Tunggu sebentar, kau seriusan nyuekin aku dari tadi?!" potong Nara dengan wajah kesal karena diabaikan.

( "Dimengerti, Tuan Kenta. Tapi masalahnya, hamba tidak tahu ciri-ciri fisik sang pemanggil yang satunya." )

"Oh, benar juga. Hei, Nara-kun."

"A-Akhirnya... akhirnya kau menatapku lagi..." lirih Nara dengan wajah memelas seakan habis teraniaya batin.

"Kenapa matamu berkaca-kaca begitu sih?" tanyaku risih.

Nara memelototiku dengan mata berkaca-kaca, "Ini karena daritadi kau asyik teleponan dan nyuekin aku tahu!!"

"Nyuekin? Tadi kan aku baru saja memberimu sentilan kasih sayang di dahi gara-gara kau bicara omong kosong. Masa aku nyuekin kau."

"Malah parah kalau disebut 'sentilan kasih sayang'!! Sentilanmu nyaris bikin leherku patah!!" protes Nara jengkel. Ia menarik napas panjang menenangkan diri, lalu melotot padaku lagi. "Lagian, memangnya bagian kalimat mana yang bodoh?! Aku kan cuma minta disembuhkan karena habis jatuh!"

"Minta diobati pakai sihir penyembuhan cuma karena luka gores dan memar kecil, itu hal paling bodoh yang pernah kudengar," balasku ketus.

Meskipun sudah kujelaskan, Nara tetap memiringkan kepala bingung tak paham.

"Lho? Kenapa? Kan Maya-san bisa pakai sihir penyembuhan? Kalau luka kecil kan malah makin gampang disembuhkan dalam sedetik tanpa bekas. Apa yang salah dengan logika itu?"

Ah, benar juga. Anak ini kan baru diculik dari bumi beberapa bulan yang lalu. Dia belum tahu bahaya side-effect (efek samping) ilmu sihir dunia ini.

"Kau belum pernah diajari soal antibodi dan daya regenerasi super tubuh manusia ya?"

"Enak saja, mentang-mentang aku bodoh, aku juga belajar biologi SMA tahu."

Tentu saja dia tahu. Semua anak bumi yang masuk kelas 2 SMA minimal paham konsep penyembuhan diri (healing factor alami tubuh).

"Dengar baik-baik. Kalau kau memanjakan tubuhmu pakai sihir penyembuhan untuk setiap luka kecil, imun dan kemampuan regenerasi alami sel-sel tubuhmu akan menurun drastis. Tubuhmu bakal malas bekerja menyembuhkan diri. Itulah sebabnya, pantangan nomor satu di dunia ini adalah: Dilarang keras memakai sihir penyembuhan tingkat tinggi cuma untuk luka lecet receh!" jelasku panjang lebar.

Nara melongo kaget. "A-Aku baru tahu ilmu lore semacam itu..."

"Makanya belajar. Lihat saja Eva, dari tadi dia diam saja dan tidak menuntutku memulihkanmu, kan?"

Nara menoleh pada Eva yang sedang telaten mengompres dahi merah Nara dengan handuk basah dingin. "...Iya juga sih."

"Ahahaha... Mohon maaf, Tuan Mitsuhiko. Di dunia kami, larangan sihir penyembuhan itu adalah pengetahuan mendasar anak SD. Jadi saya sama sekali tidak menyangka kalau Anda tidak tahu," jelas Eva dengan senyum canggung sambil terus menekan kompresnya ke dahi sang pujaan hati.

Meski berstatus tuan putri, Eva jelas lebih melek literasi medis dunia isekai daripada si pahlawan cheat. Ia sadar betul luka lecet dan memar kecil cukup diatasi secara alami dengan kompres es dan betadine ala kadarnya.

"Tunggu dulu," potong Nara, baru menyadari lubang logika lainnya. "Bukankah dari awal manusia di dunia ini tidak bisa menguasai sihir? Lalu kenapa aturan 'dilarang pakai sihir medis untuk luka kecil' bisa jadi pengetahuan umum buat manusia? Aneh kan?"

Ah, itu pertanyaan yang bagus.

"Kata siapa ras manusia di sini tidak bisa menggunakan sihir?"

"Hah? Bukannya kau sendiri yang bilang begitu kemarin?!"

"Bukannya manusia tidak bisa pakai, tapi mereka sangat kesulitan (susah mengontrol kapasitas mana) dan sihir tempur bukan bakat mayoritas mereka."

"Oh... begitu faktanya..."

"Tentu saja. Sebagai gantinya, beberapa manusia dengan kapasitas mana sedikit di atas rata-rata biasanya membuka praktik sebagai dokter atau tabib spesialis sihir penyembuhan tingkat rendah di kota-kota besar."

"Oh, ya? Kenapa cuma sihir penyembuhan?"

Mendengar pertanyaan polos itu, aku membuat gestur simbol mata uang (lingkaran jempol dan telunjuk) dengan tanganku sambil tersenyum licik ala kapitalis.

"Karena bisnis kesehatan itu lahan basah yang sangat cuan (menguntungkan). Orang sakit dan terluka itu pasti selalu ada. Kalau kau bisa sihir medis, kau bebas mematok biaya berobat setinggi langit dan mereka tetap akan bayar demi sembuh. Makanya semua manusia yang punya sedikit bakat sihir pasti memilih jadi tabib."

"Oh... ujung-ujungnya bisnis ternyata..." gumam Nara miris dengan realita kehidupan isekai yang keras.

Ngomong-ngomong, tadi kita bahas sampai mana ya?

( "Ahem. Tuan Kenta, mumpung Tuan Mitsuhiko ada di sana, tolong tanyakan rupa fisik target yang bernama Ota itu," ) potong suara Mona dari Walkie-Talkie, kembali ke topik awal.

Ah, benar juga.

"Nara-kun, si Ota itu mukanya seperti apa?"

"Hmm? Si Ota? Rambutnya hitam pendek berantakan... wajahnya pas-pasan, standar NPC figuran banget pokoknya. Kira-kira begitu."

Tolong dong, deskripsi macam apa itu?

"Deskripsi jelek begitu tak akan berguna untuk identifikasi, bodoh."

"Ya mau bagaimana lagi. Dari dulu di bumi wajahnya memang tidak memorable, dan sejak dipanggil ke sini kerjaannya cuma kelonan sama cewek penghibur terus di kamar. Mana sempat kuperhatikan detil wajahnya."

"Memang sih beralasan. Bagaimana, Mona? Kau bisa menangkap ciri-cirinya?"

( "Apakah wajahnya... tipe orang yang sangat susah mengekspresikan emosi, dan ekspresinya terlihat lebih datar dari wajah Anda, Tuan Kenta?" )

"Oh! Benar banget! Persis seperti itu!" sahut Nara semangat.

( "Baiklah, ciri-cirinya sudah masuk ke dalam profil kepala hamba." )

"Seriusan kau bisa tahu cuma dari deskripsi abstrak begitu?" takjubku pada siasat intelijen iblis ini.

( "Tentu saja, Tuan." )

Buset. Insting para mantan perwira intelijen ini benar-benar tidak masuk akal ngerinya.

Mona yang baru beberapa hari latihan kilat hoverboard udara dan komunikasi radio sudah berani nekat terbang menembus awan malam menuju jantung ibu kota Admos sendirian. Kira-kira info plot twist apa lagi yang bakal dia temukan nanti?


Episode 54: Kehebatan Mona Sang Mata-mata

"Ini Mona. Laporan masuk, hamba telah berhasil mendarat di ibu kota Admos. Hamba akan segera memulai operasi penyusupan ke dalam area istana."

Suara jernih Mona terdengar dari speaker Walkie-Talkie yang kuletakkan di atas meja.

Tadi Mona berangkat dari rumah kami selepas makan siang, dan sekarang langit baru saja gelap. Artinya, dia sukses tiba di Admos dalam hitungan beberapa jam saja.

"Gila... padahal naik kuda saja butuh seminggu... Cepat banget melayang pakai Hoverboard itu..." gumam Nara dengan raut wajah melongo.

Ya iyalah. Kau kan harus menebas hutan berhari-hari, kalau dia kan cuma tinggal ngebut di atas awan. Kecepatannya jelas beda level. Wajar saja kalau kau merasa sedih membandingkan nasibmu yang jalan kaki.

"Kerja bagus, Mona."

( "Semua ini berkat alat luar biasa ciptaan Anda, Tuan Kenta. Dengan kecepatan dan stealth (stealth: kamuflase menghilang) alat ini, hamba bisa menyusup ke negara mana pun tanpa terdeteksi." )

"Wah, Maya-san, ternyata kau ini keren banget...!" puji Nara dengan mata berbinar kekanak-kanakan.

Bocah ini... waktu pertama kali bertemu denganku kemarin dia terlihat waspada layaknya tokoh protagonis menghadapi 'Boss Terakhir' yang misterius, tapi sekarang karakternya malah downgrade jadi cuma karakter 'adik kelas bawahan' yang memuja seniornya.

Yah, bisa dimaklumi sih. Berbeda dengan nasib tragisku dulu, sekarang di sini Nara tidak kekurangan makan, punya pacar yang bucin, punya teman party yang asyik, bahkan punya pelindung sesama orang bumi (aku) yang overpower. Semua beban stres dan trauma perangnya seolah menguap begitu saja, digantikan dengan rasa aman. Karena merasa 'pulang', sifat aslinya yang santai pun keluar.

Tapi menurut cerita Eva secara rahasia, mental Nara sebenarnya masih jauh dari kata sembuh total dari PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Ia terkadang masih terbangun dengan keringat dingin dan berteriak ketakutan karena dihantui mimpi buruk membantai iblis.

Jujur, aku ini cuma anak kelas 2 SMA yang kebetulan dapat kekuatan cheat, bukan psikiater profesional. Aku tidak punya obat magis untuk menyembuhkan trauma kejiwaannya.

Satu-satunya solusi yang bisa kulakukan hanyalah memberikan waktu agar lukanya sembuh sendiri... atau, opsi paling pahit: dia akan mulai terbiasa dan menjadi 'mati rasa' seperti diriku sekarang.

...Aku sejujurnya merasa opsi kedua jauh lebih mudah dijalani di dunia gila ini. Tapi kalau sampai Nara menjadi sesadis diriku, otomatis dia juga akan diburu dan dibenci seluruh dunia ini. Itu nasib yang terlalu kejam buat anak sebaik dia.

( "Ini Mona. Hamba telah berhasil menembus pengamanan dalam istana. Hamba akan segera merapat ke ruang arsip dan ruang kerja perdana menteri." )

"Oh, sudah sampai dalam? Mulus banget."

( "Berkat Hoverboard ini, hamba bisa mengakses lantai atas istana dari jendela secara vertikal tanpa harus melewati penjagaan di lorong-lorong." )

"Baguslah kalau alatnya berfungsi maksimal. Aku tunggu laporan selanjutnya."

( "Dimengerti. Agar tidak terlacak sihir deteksi istana, hamba akan mematikan gelombang komunikasi untuk sementara waktu." )

"Oke, hati-hati."

Klik. Sambungan transmisi radio terputus.

"Menyusup masuk sendirian ke jantung istana... bukannya bahaya aslinya baru dimulai dari sini?" komentar Ivern dengan kerutan di dahi, cemas membayangkan bahaya memata-matai istana negara manusia seorang diri.

Tapi Ivern terlalu meremehkan kapabilitas Mona.

"Tenang saja, kau lupa ya dia ini siapa? Dia itu mantan elit unit operasi intelijen Kerajaan Iblis yang sudah training spionase sejak kecil. Menyusup tanpa ketahuan sambil merapal sihir penghilang eksistensi (stealth) itu kemampuan dasarnya."

"Astaga, si Mona ini juga ternyata punya kemampuan cheat (curang) yang tidak masuk akal ya?" gerutu Ivern heran dengan betapa 'overpowered' semua orang di sekitarnya.

"Bukan cheat (curang) dong."

"Kalau begitu apa namanya? Dia terlalu sakti!"

Hah, dasar orang udik isekai.

"Hei, Nara-kun, kau ngerti kan maksud omonganku?"

"Y-ya? Oh... soal kata 'cheat' itu kan?"

"Nah, jelaskan padanya kenapa dibilang curang itu kurang tepat."

"Istilah 'Curang' (Cheat) di dunia kita (bumi) kan biasanya identik dengan perilaku jahat yang main kotor, seperti memakai aplikasi ilegal (hack) untuk memenangkan pertandingan dengan curang tanpa usaha. Maksud Maya-san, menyebut skill Mona sebagai curang sama saja tidak menghargai kerja keras latihannya," terang Nara.

Aku mengangguk setuju. "Tepat sekali. Dulu waktu di bumi, aku gamer FPS (First-Person Shooter) garis keras. Jadi aku paling jijik kalau kerja kerasku dituduh 'cheater' atau main hack murahan."

"Ooh, ternyata begitu lho, Tuan Ivern."

Nara mengangguk-angguk hormat mendengar prinsip gamer ku yang tinggi. Tapi sesaat kemudian Ivern tersenyum meledek yang merusak mood kami.

"Oh ya? Tapi bukannya kalian berdua memang murni dibekali kekuatan 'cheat' dari lahir pas dipanggil ke sini? Itu namanya curang dong."

"Hei! Itu kan bukan salah kami!! Kami juga cuma korban sistem gacha sialan istana ini kan, Maya-san?!"

Karena disudutkan oleh fakta tak terbantahkan Ivern, Nara panik dan memintaku untuk membelanya.

"Yah, harus kuakui kalau soal volume mana yang super besar dan buff fisik (Bonus Stats) dari pemanggilan itu memang bisa dibilang cheat sistem bawaan."

"Lho?! Kok Maya-san malah setuju sama dia?!" teriak Nara merasa dikhianati rekan setimnya.

"Tapi, punya bonus status tinggi tidak otomatis bikin kita jadi tak terkalahkan dari awal. Kau pikir kekuatan kita ini gratis? Kita bisa bertahan sejauh ini karena kita memutar otak dan mati-matian mengubah 'cheat' mental mentah itu menjadi teknik yang mematikan lewat latihan gila-gilaan, penderitaan darah dan air mata, serta trial and error. Kau tahu buktinya kan? Ada lho orang lain yang diberkahi bonus stat yang sama persis seperti kita, tapi hidupnya malah tidak berguna sama sekali?"

Mendengar argumen skak-matku, Nara menepuk tangannya kencang. "Ah!"

"Itu si Ota! Ngomong-ngomong, apa kabarnya si benalu itu ya?"

"Harusnya sebentar lagi Mona akan menyelidiki kabarnya juga."

"Benar juga."

Logikanya sangat sederhana. Admos sampai repot-repot mengirim utusan ke Lindor untuk melakukan ritual pemanggilan pahlawan yang ketiga kalinya (menggantikan Nara). Itu jelas berarti mereka sudah membuang summoner lama yang dianggap cacat produksi alias tidak berguna.

Karena orang-orang yang diculik dari bumi punya fisik dan regenerasi yang sedikit lebih alot dari ksatria biasa, mengeksekusi mereka bakal makan tenaga (selain risiko dibalas). Jadi kemungkinan terbesar pihak istana Admos hanya akan membuangnya ke jalanan ibukota atau mengusirnya dari istana.

Tepat saat kami sedang asyik menduga-duga nasib malang Ota, suara panggilan dari radio kembali berbunyi.

( "Ini Mona. Hamba baru saja meretas berkas dokumen internal, dan datanya bisa didapatkan dengan sangat mudah." )

"Wah, luar biasa cepat. Jadi, apa isi intelijennya?"

( "Sesuai dugaan, proposal Admos untuk meminjam altar Lindor telah disetujui. Raja Admos beserta delegasinya akan berangkat ke Lindor minggu depan." )

"Bisa-bisanya kau meretas tanggal pastinya dengan mulus begitu?"

( "Bisa dibilang, divisi anti-intelijen negara ini terlalu amatir. Mereka sama sekali tidak punya sistem counter-intelligence yang memadai. Berkasnya nyaris tergeletak bebas." )

"Wajar sih, manusia kan tidak ada yang bisa merapal sihir stealth (penghilang hawa keberadaan) level tinggi, jadi mereka merasa pengawalan fisik ksatria saja sudah cukup. Oh iya, ngomong-ngomong, apa kau dapat bocoran kabar soal si Ota?"

( "Benar tebakan Tuan. Ota secara resmi telah diusir paksa dari lingkungan istana karena dinilai sebagai benalu penghabis anggaran yang tak berguna." )

Cih, sudah kuduga. Persis seperti prediksiku.

( "Hamba akan coba keliling ibukota sebentar untuk mencari tahu ke mana perginya Ota ini, setelah itu hamba akan langsung pulang." )

"Bagus. Mumpung lagi di ibukota orang, kalau kau mau main-main dan kulineran dulu buat cuci mata juga tak apa-apa lho."

( "......" )

Sambungan mendadak hening.

"Mona?"

( "...Mohon ampun Tuan, tapi hamba menolak. Hamba hanya akan mencari info sekilas soal Ota lalu segera meluncur pulang. Hamba... hamba jujur sangat cemas kalau harus meninggalkan rumah terlalu lama tanpa pengawasan hamba." )

"Ah, iya, masuk akal juga kekhawatiranmu."

Mengingat demografi penghuni wanita di rumah ini: Meileen (Mantan Ratu Iblis yang tak pernah menyentuh panci), Eva (Putri Kerajaan yang tak pernah memegang sapu), dan Yulia (Mantan Party petualang elit yang masakannya cuma standar survival). Semua tugas krusial kerumahtanggaan bertumpu pada pundak Mona. Menu makan malam lezat yang baru saja kusantap juga hasil masakan Mona yang disiapkan sebelum ia berangkat, aku cuma tinggal menghangatkannya saja. Wajar kalau dia khawatir rumahnya kebakaran saat dia tak ada.

"Oke, hati-hati di jalan. Aku akan matikan gelombang panggilannya. Kontak lagi kalau ada keadaan darurat."

( "Siap." )

Sambungan radio ditutup. Namun anehnya, hanya jeda hitungan menit, Mona kembali mengontakku.

( "Tuan Kenta?" )

"Lho? Cepat banget. Ada masalah?"

( "...Hamba sudah menemukan lokasi Ota." )

Mendengar laporan kilat itu, aku dan Ivern saling bertatapan tak percaya.

"Sebentar, itu terlalu cepat bukan? Kau pakai cheat GPS ya?"

( "Tidak, Tuan. Saat hamba iseng masuk ke gedung Asosiasi Penjelajah Pusat untuk mengumpulkan rumor jalanan, ada seorang Penjelajah amatir yang sedang marah-marah dan menceramahi petugas resepsionis..." )

"Hoo... terus?"

( "Hamba coba menguping. Pria itu menyombong dengan keras, kurang lebih begini: 'Heh, suatu saat aku pasti jadi Rank S terkuat yang bakal menopang Guild ini! Lebih baik kalian layani aku dengan hormat dari sekarang!' Begitu katanya." )

"Ah, tipikal halu abis..."

( "Saat hamba tanya ke resepsionis, ternyata pria arogan itu baru saja daftar, dan namanya adalah Ota. Wajah dan deskripsinya juga 100% cocok dengan ciri-ciri yang disebutkan Nona Eva dan Tuan Mitsuhiko tadi siang." )

Padahal baru saja diusir secara tidak hormat dari kastil karena dianggap benalu tak berguna, tapi Ota masih bisa berlagak sombong dan optimis setinggi langit? Dia ini otaknya terbuat dari apa sih?

...Ah, jangan-jangan...

"Biar kutebak apa isi kepalanya. Dia pasti lagi coping mechanism dan berpikir: 'Dasar Raja bodoh! Padahal aslinya kekuatan tersembunyiku (Hidden Status) ini sangat mematikan. Istana pasti nyesal telah membuang pahlawan sejati sepertiku!', iya kan tebakanku?"

( "Hah?!" )

Suara Mona terdengar sangat shock dari seberang radio.

"Kenapa? Tebakanku salah ya?"

( "...Luar biasa. Hamba merinding. Kalimat yang Tuan Kenta ucapkan barusan 100% persis kata per kata dengan kalimat yang Ota gerutukan sendirian waktu dia keluar dari gedung Asosiasi..." )

"Hah, seriusan?!"

( "Saat hamba coba korek info lebih lanjut dari resepsionis soal track record petualangnya, resepsionis itu membocorkan bahwa Ota sama sekali tidak berguna dalam pertarungan tim. Meski dia bisa menembakkan sedikit sihir, tapi aim-nya hancur dan serangannya nyasar ke mana-mana. Singkatnya, party manapun menganggap dia cuma jadi beban penghalang." )

"Buset, padahal baru beberapa hari aku dan Nara menculik Eva dari istana, kan?"

( "Benar, Tuan. Baru sekitar 3-4 harian." )

"Tapi rumor buruk soal kinerja busuknya di Asosiasi sudah menyebar luas secepat itu di kalangan petualang... Ota benar-benar hancur reputasinya. Kasihan juga ya?"

Mendengar empatiku, Nara dan Eva langsung memajukan bibir, merengut tak suka.

"Biarin saja! Pria sampah pengecut itu memang pantas membusuk!" cibir Nara masih dendam.

"Hamba juga sangat jijik dengan kelakuan Ota!" sahut Eva tak kalah galak mendukung kekasihnya.

Yah, wajar saja mereka murka. Di saat Nara sudah latihan gila-gilaan sampai berdarah-darah, dan Eva menjunjung tinggi keadilan ksatria, melihat Ota yang cuma ongkang-ongkang kaki di kelab malam istana dan cuma modal bacot memang memancing emosi siapapun yang punya akal sehat. Itu sudah takdir sifat alami manusia yang benci melihat orang malas yang sok hebat.

Biarpun kau diberi Cheat kebangkitan status terhebat di dunia, kalau kau cuma malas-malasan dan berharap musuhmu mati sendiri, skill itu takkan ada gunanya di medan pertempuran nyata.

Melihat situasinya, sepertinya membiarkan Ota bebas berkeliaran takkan jadi masalah. Dia terlalu lemah dan bodoh untuk jadi ancaman bagi kami.

Keputusan final pun diambil malam itu. Beberapa jam setelah rapat kecil kami berakhir, Mona sukses mendarat kembali di rumah dengan selamat di larut malam.

Sulit dipercaya, dia berhasil terbang lintas negara, meretas rahasia dokumen paling vital di negara musuh, dan kembali di hari yang sama tanpa ada yang menyadari. Hebatnya lagi, saking overachiever-nya (terlalu berdedikasi), Mona bahkan masih sempat membuatkan kami adonan sarapan untuk besok pagi sebelum ia pergi tidur pulas.

...Maid iblis ini, apakah dia sejenis Terminator atau Cyborg? Stamina dan efisiensinya benar-benar di luar nalar manusia.


Episode 55: Rahasia Lingkaran Sihir Pemanggilan

"Nah, kalau laporan intelijen curian Mona tadi akurat, harusnya besok rombongan raja Admos yang mem- booking altar Lindor bakal lewat di jalan utama sekitar sini..." gumamku menerawang dari balik teropong sihir.

"Wah, sesimpel itu ya rencananya?" sahut Nara yang bersiaga di sampingku sambil menunjuk ke arah dataran di bawah bukit.

Aku kembali memastikan sekeliling dengan radar sihir pendeteksiku.

"Tenang saja, penjagaannya takkan seketat yang kau bayangkan. Mengirim ratusan pasukan elit ke tanah terpencil sejauh ini hanya akan membuang biaya logistik, lagipula misi pemanggilan ini sifatnya sangat rahasia kan."

"Berarti rencananya tetap lanjut sesuai strategi awal ya," Ivern merespons dari arah belakang.

Iya, hari ini Ivern yang sedang libur ikut turun ke lapangan bersama kami. Saat ini, kami bertiga sedang camping (berkemah) tersembunyi di atas bukit batu yang jaraknya tak jauh dari lokasi reruntuhan kuil kuno penyimpan Lingkaran Sihir Pemanggilan, yang letaknya tersembunyi di perbatasan Kerajaan Lindor.

Berdasarkan jadwal rahasia yang diretas Mona, kami sudah mengkalkulasi waktu tempuh perjalanan rombongan Raja Admos dari ibukota menuju kemari. Untuk memuluskan rencana sabotase 'Penggagalan Pemanggilan Pahlawan' ini, kami sudah menyergap area ini sejak H-2 kedatangan mereka.

Hari ini, kami tidak membawa Mona karena dia memaksa harus tinggal untuk menjaga dua bayi dan dua nyonya besar di rumah. Lagipula, kehadiran Ivern jauh lebih dibutuhkan sekarang. Sebagai mantan Petualang Rank S, Ivern adalah suhu urusan survive dan berkemah di alam liar. Dulu saat masih jadi budak korporat militer sebagai Pahlawan, urusan logistik dan masak-memasak saat invasi semuanya sudah diurus koki tentara, jadi aku sama sekali tak bisa masak pakai kayu bakar. Apalagi Nara yang murni anak rumahan.

Berkat keahlian memasak darurat Ivern, kami para pria bisa menikmati api unggun hangat sambil memanggang daging hasil buruan seperti layaknya piknik outdoor. Yah, di sela-sela rencana makar penggulingan negara ini, quality time para lelaki di alam bebas begini sangat menyegarkan mental. Sesekali healing memang perlu.

Di saat Ivern sedang membongkar pasak tenda sembari mengintai titik api rombongan raja dari kejauhan, Nara menyeletuk santai.

"Ngomong-ngomong, Maya-san, kan kamu ini jenius sihir. Masa kamu tidak bisa merapal sihir Item Box atau Inventory Space (Kantong Ajaib) gitu? Kan enak kalau kita mau camping bawa barang berat tinggal masukin ke dimensi kantong, bebas repot," celetuk Nara yang pemahamannya soal isekai terlalu dipengaruhi oleh game RPG.

"Tentu saja aku pernah memikirkan dan mencoba menciptakan sihir ruang dimensi semacam itu."

"Eh, lalu kenapa tidak kau pakai sekarang? Jangan bilang eksperimennya gagal total?"

"Bukan gagal dalam artian tidak tercipta. Aku sukses membelah ruang untuk menciptakan dimensi kosong buat menaruh barang. Masalahnya... semua barang yang kumasukkan ke dalam lubang itu langsung hilang melayang entah ke mana dan tidak bisa dikeluarkan lagi."

Nara langsung merinding bergidik ketakutan.

"Seram banget... Jangan-jangan barang itu kesedot ke celah antar dimensi dan melayang abadi di sana..."

"Mengingat keajaiban macam 'memanggil manusia dari dunia paralel' itu benar-benar eksis di lore dunia ini, teori horormu itu kemungkinan besar sangat akurat."

Untung saja waktu tes pertama, aku sengaja cuma memasukkan batu kerikil random yang kupungut di jalan. Coba bayangkan kalau aku sok ide langsung memasukkan emas tabunganku atau pedang pusaka ke sana, aku bisa menangis darah. Semenjak itu aku mem- blacklist sihir kantong ajaib dari daftar sihir buatanku.

"Tapi ada untungnya juga sih. Sihir gagal itu sangat ampuh kalau kau ingin membuang barang bukti kriminal atau menyembunyikan mayat musuh dengan sempurna tanpa jejak." kataku menyeringai sadis.

Mendengar ide psikopatku, Nara dan Ivern langsung saling tatap canggung.

"Oke, aku anggap aku barusan mendadak tuli dan tidak dengar apa-apa," sahut Nara kaku.

"...Jadi ke sana larinya para mayat musuh yang tak bisa kutemukan..." gumam Ivern pucat pasi menyadari rahasia kelamku.

Hei, hei, kalian ini peka banget sih soal mayat.

"Sudah, lupakan saja hal sepele begitu. Ngomong-ngomong... hei, Nara." panggilku mengalihkan topik dengan nada serius.

"Ya? Kenapa tiba-tiba serius begitu?"

"Sejak pertama tiba di bukit ini kemarin, ada satu hal janggal yang terus mengganggu pikiranku. Aku mau memastikannya denganmu."

"Hal apa?"

"Coba ingat-ingat. Saat pertama kali kau dipanggil (di-summon) ke dunia ini beberapa bulan yang lalu dan berdiri di tengah reruntuhan kuil itu... apa kau ingat situasi sekelilingmu?" tanyaku menunjuk kuil batu di lembah bawah.

Nara tampak kesulitan mengingat, wajahnya terlihat canggung.

"...Mohon maaf, jujur saja ingatan visualku waktu itu sangat blur. Semua terjadi terlalu cepat dan aku sedang panik berat diculik tiba-tiba. Aku benar-benar tidak ingat detailnya."

"Yah, wajar saja sih, kau baru pertama kali di-summon pasti kagetnya bukan main. Tapi setidaknya, coba pejamkan mata dan bayangkan hawa tempatnya. Apakah suasananya terasa sama seperti tempat gersang berdebu di bawah kita ini?"

"...Maksudmu ada yang berbeda?" Nara menatap horison sekitar, mencoba mencocokkan ingatannya yang samar.

"Ya. Sangat berbeda. Aku memang di-summon empat tahun yang lalu, jadi ingatanku juga mungkin sedikit memudar ditelan waktu. Tapi aku masih sangat yakin 100%," ucapku tegas sambil menunjuk hamparan tanah tandus di sekeliling reruntuhan kuil.

"...Saat aku pertama kali ditarik ke dunia ini empat tahun lalu... dataran ini bukanlah tanah mati kerontang yang dipenuhi pasir kering kerontang tanpa ada sehelai rumput pun seperti sekarang."

Mata Nara sontak terbelalak kaget.

"B-Benar juga...! Pemandangan pas pertama aku datang rasanya tidak begersang ini! Aku sangat ingat ada banyak sisa lumut hijau dan pepohonan rimbun yang mengelilingi pilar-pilar kuil!"

"Sesuai tebakanku."

Aku menatap lekat-lekat pada reruntuhan kuil di dasar lembah. Firasat buruk mulai merayapi tengkukku. Waktu dipanggil dulu, aku memang masih linglung karena kepalaku pusing akibat transfer dimensi, lalu langsung diseret paksa naik kereta kuda oleh prajurit Lindor. Tapi aku tidak mungkin amnesia soal fakta bahwa tempat ini dulunya adalah area berhutan lebat dengan tanaman liar yang rimbun!

Tapi sekarang? Semua pepohonan, rumput liar, bahkan lumut di batu pun musnah tak bersisa. Tanah seluas bermil-mil persegi di sekitar kuil ini berubah jadi tanah kering berpasir bagai gurun mati. Tanah ini kehabisan nyawa!

Artinya... mekanisme di balik lingkaran sihir pemanggilan itu adalah...

"!!??"

Dalam sekejap mata, sebuah hipotesis gila terangkai di kepalaku. Seakan puzzle teka-teki pembunuhan berantai yang kepingannya saling terkait. Fakta mengerikan tentang ritual 'Isekai Summoning' yang tidak akan pernah disadari oleh pihak manusia dunia ini!

Sesaat setelah teori gila itu terpikirkan, telapak tanganku bergerak sendiri secara refleks, merangkai sebuah Formula Sihir Destruksi tingkat tinggi.

Aku sama sekali tidak peduli lagi pada rombongan Raja Admos yang belum tiba! Persetan dengan rencana sabotase diam-diam!

"Hancur leburkan tempat ini!!"

Aku merapalkan sihir api ledakan dengan kekuatan destruktif yang telah dipadatkan ke ambang batas. Bola api raksasa meluncur dari tanganku menembus udara, menabrak tepat di pintu masuk utama reruntuhan kuil.

BBBOOOOOOOOOOOMMMMMM!!!

Ledakan maha dahsyat mengguncang lembah, membakar seluruh bangunan batu kuil hingga hancur berkeping-keping ditelan kobaran api neraka.

"Gyaaaaa!!" jerit Nara kaget.

"Woii, woi, woi!! Kesurupan apa kau ini tiba-tiba, Kenta?!!" Ivern ikut berteriak panik karena hampir terkena efek kejut ledakan.

"Ivern! Barang-barangnya sudah masuk koper semua kan?!" teriakku di tengah deru angin ledakan.

"S-Sudah! Memangnya kenapa?!"

"Pegang barang-barang itu kuat-kuat! Kita cabut dari sini sekarang juga!!"

Melihat kobaran api yang menggila dan insting survival liarku yang sudah menyala, Ivern tak banyak tanya. Ia langsung menyambar tas ranselnya dan mencengkeram bahu kiriku, sementara Nara langsung memeluk lengan kananku erat-erat dengan wajah ketakutan.

Detik berikutnya, diiringi kobaran api yang menghanguskan sisa-sisa reruntuhan kuil kuno di bawah bukit, aku membengkokkan ruang dan menteleportasi kami semua langsung menuju ruang tamu rumahku.

Wussh!

"Lho? Kalian sudah pulang...? Eh, ada apa dengan wajah pucat kalian?" sambut Meileen yang kebetulan sedang duduk di sofa ruang tamu. Ia memiringkan kepalanya heran melihat kami bertiga muncul dengan napas terengah-engah dan keringat dingin bercucuran seperti baru saja melihat hantu.

Namun Nara yang paling syok langsung melepaskan cengkeramannya dan memelototiku dengan mata memerah.

"O-Oi, Maya-san! Tolong jelaskan padaku!! Kenapa kau mendadak menghancurkan kuil itu tanpa aba-aba?!" cecar Nara yang masih trauma dengan jumpscare ledakan random barusan.

"Iya, Kenta, jelaskan apa yang barusan terjadi. Jantungku nyaris copot tahu," keluh Ivern sambil menjatuhkan ransel beratnya.

Didesak dua sekutu yang kebingungan, aku mengatur napas dalam-dalam, merapikan sedikit pikiranku yang berantakan, lalu membuka suara dengan nada berat dan suram.

"Apa yang akan kubilang ini mungkin cuma murni tebakan gilaku saja, tapi... setelah kucocokkan dengan logika, kurasa tebakanku ini 99% benar."

Mendengar nadaku yang sangat serius, bukan cuma Meileen, tapi Eva, Mona, dan Yulia yang berada di ruang sebelah langsung bergegas berkumpul ke ruang tamu. Mereka ikut duduk diam, menunggu penjelasanku dengan tegang.

"Saat aku pertama kali di-summon empat tahun lalu, kuil itu masih dikelilingi semak belukar hijau dan sebuah hutan lebat," ucapku perlahan memecah keheningan.

"!?"

"Hah...?"

Perbedaan reaksi langsung terlihat. Para wanita yang tidak turun langsung ke lokasi memiringkan kepala bingung karena tak paham arah pembicaraanku. Tapi Nara dan Ivern—yang baru sedetik lalu melihat langsung pemandangan aslinya—langsung menyadari kejanggalan mengerikan dari pernyataanku.

"T-Tunggu sebentar... Maya-san, kau di-summon empat tahun lalu, kan?" suara Nara bergetar.

"Iya."

"D-Dengar... seburuk apapun ingatanku waktu itu, aku sangat yakin dengan satu hal. Waktu aku tiba di altar bulan lalu... sudah tidak ada pohon lebat seperti yang kau deskripsikan tadi! Di sekeliling kuil itu rasanya sudah tandus!"

Kesaksian Nara mengunci hipotesisku. Ini bukan lagi sekadar teori kebetulan, melainkan fakta pahit yang mematikan.

"Melihat reaksi kalian berdua, kurasa Ivern dan Nara sudah menangkap intinya. Dengar... aku sangat yakin lingkaran sihir pemanggilan itu... menyerap 'Energi Kehidupan' (Mana Alam) dari tanah dan lingkungan biologis dalam radius berkilo-kilometer persegi sebagai bahan bakar utama untuk mengaktifkan perpindahan dimensi!"

Ruangan langsung hening mencekam.

"Pembuat lingkaran sihir di masa lalu pasti sangat sadar akan risiko ini, makanya aturannya sangat ketat: ritual pemanggilan pahlawan dari dunia paralel cuma boleh dilakukan satu kali dalam beberapa puluh atau ratusan tahun! Tujuannya supaya energi alam dan pepohonan punya waktu panjang untuk beregenerasi pulih kembali. Tapi sayangnya..."

"Dua ritual pemanggilan beruntun dilakukan dalam waktu kurang dari lima tahun..." gumam Ivern pucat pasi menyambung kalimatku.

"Akibatnya, kekuatan ekosistem dan nyawa bumi di radius sekitar kuil benar-benar terkuras habis dan mati..." lanjut Nara menutup wajahnya dengan kedua tangan, shock mengetahui fakta bahwa kedatangannya telah membunuh alam seluas itu.

Mata Nara bergetar ngeri menatap meja. "Astaga... kalau Admos sampai memaksakan ritual pemanggilan pahlawan yang KETIGA kali di atas tanah yang energinya sudah sekarat itu... aku tak bisa membayangkan seberapa luas radiasi kematian tanah yang akan terjadi di sana... Mungkinkah bisa mematikan satu desa atau satu kota terdekat karena tanahnya diserap?!"

"Jadi, karena itulah kau panik dan memutuskan untuk langsung meledakkan seluruh situs kuno itu sampai rata dengan tanah agar ritualnya tidak bisa dipakai lagi?" simpul Ivern akhirnya memahami jalan pikiran gilaku.

"Seratus persen benar. Muka tampanku ini masa dituduh hobi ngebom situs bersejarah tanpa alasan sih?" balasku mencoba mencairkan suasana dengan candaan.

"..."

"..."

Semua orang di ruangan itu menatapku dengan raut wajah 'Iya sih, muka dan kelakuanmu memang cocok jadi teroris bom'.

Ya sudahlah, abaikan saja tatapan mereka.

Yang terpenting, setelah mendengar penjelasan logis tentang risiko ledakan ekologis (kerusakan alam) massal yang ditimbulkan dari mesin pemanggil buatan masa lalu itu, para wanita akhirnya memahami gentingnya situasi.

"Tindakan yang tepat dan mengerikan..." gumam Mona kagum dengan analisaku.

"Lalu bagaimana nasib altar Lingkaran Sihirnya?! Apa sudah hancur lebur juga?" desak Meileen.

Berbeda dengan Meileen yang cemas akan nasib sihir kuno itu, Eva justru lebih cemas pada hal lain.

"Entahlah. Aku melempar sihir kompresi ledakan paling kuat yang bisa kubuat dalam waktu singkat. Kalau melihat damage kuilnya, kurasa batuan altarnya pasti hancur berkeping-keping. Masalahnya, aku tidak sempat melihat hasilnya karena takut kalau kita berlama-lama diam di sana, hawa keberadaan kita bakal ketahuan sama pasukan Admos yang sedang menuju ke arah kita. Jadi aku langsung pencet tombol escape (teleport)."

"Pantas saja napasmu sampai mau putus begitu." Meileen menggeleng pelan sambil mengelap keringat di dahiku pakai saputangan.

"Yah, karena terburu-buru, aku gagal mengeksplorasi total radius kerusakannya. Untuk memastikan apa lingkaran sihir itu benar-benar tak bisa dipakai lagi... kurasa butuh infiltrasi dan survei lanjutan."

Aku menatap lurus ke arah Mona, mata-mata andalan kami.

Mona yang peka langsung mengangguk patuh. "Dimengerti, Tuan. Hamba akan jadwalkan investigasi lanjutan ke lokasi besok lusa." Ia benar-benar cekatan.

Tepat saat aku hendak merencanakan strategi survei udara untuk melihat seberapa luas radius tanah mati di sekitar kuil, pertanyaan polos Yulia menyadarkanku pada satu plot hole besar yang kami lupakan.

"Hei, tunggu sebentar. Kalau rombongan Raja Admos dan Raja Lindor hari ini sedang jalan beriringan menuju kuil itu... lalu Kenta tiba-tiba ngebom kuilnya jadi lautan api..." Yulia memiringkan kepalanya dengan polos. "Apa mereka semua ikut mati hangus terkena radius ledakan apimu?"

"……Eh."

Bulu kudukku langsung merinding. Benar juga. Saking fokusnya pada teori kerusakan alam, aku sampai lupa memastikan posisi kordinat rombongan target kami sebelum melempar bom.

"!?"

Eva, sang putri kandung Raja Admos yang membelot itu, langsung membelalak kaget. Bagaimanapun bencinya ia pada ayahnya secara politik, pria itu tetap ayah biologisnya yang merawatnya sedari bayi.

Menyadari keterkejutan Eva, Nara langsung berdiri panik mencoba menetralisir situasi agar tidak berubah jadi tragedi pembunuhan keluarga (Parricide).

"A-Aha, tenang saja Eva! Ledakan Maya-san kan sangat terkonsentrasi di mulut kuil! Lagian rombongan kereta rajamu masih berjarak puluhan kilometer dari bukit! Mustahil radiasinya sampai kena mereka! Mereka pasti baik-baik saja!" bujuk Nara mati-matian, padahal kalimatnya terdengar sangat canggung persis seperti scene film yang dipotong sebelum ledakan besar.

Melihat usahaku dan Nara yang terlihat kikuk karena hampir membunuh ayahnya tanpa sengaja, Eva terdiam kaget sejenak. Namun sedetik kemudian, dengan elegan ia merapikan rambutnya yang panjang, memulihkan postur anggunnya, dan menatapku dengan mata tegas tanpa keraguan.

"Tidak apa-apa, Tuan Kenta. Anda tak perlu cemas. Toh sejak awal saya sudah membulatkan tekad tidak akan pernah menemui pria itu lagi seumur hidup saya. Malahan, mengingat kebijakan egoisnya yang selalu menyengsarakan dunia manusia dengan peperangan dan intrik kejam demi kekuasaannya sendiri... mungkin kalau dia mati jadi arang akibat ledakan Tuan Kenta barusan, dunia ini akan jadi tempat yang jauh lebih damai."

Eva menyatakan deklarasi kemerdekaannya dari ikatan darah dengan nada sangat dingin tanpa setetes pun belas kasih di matanya.

"T-Tuh kan! Bakal ketahuan hasilnya dari berita koran besok! Tenang saja!" ujarku mencoba tersenyum, agak takut dengan ketegasan putri pelarian yang satu ini.

Mendengar argumen Eva barusan, Nara menyikutku dan berbisik lirih.

"Maya-san... dialog Eva barusan vibes-nya mirip banget sama salah satu karakter antagonis cewek dari anime Evangelion..."

"Serius? Yasudah kalau gitu, kita skip (lupakan) saja masalah bapaknya mati apa nggak, ya kan?" bisikku balik.

"Jangan di-skip gitu aja dong urusan nyawa orang...!" rengek Nara frustrasi dengan ketidakpekaanku.

Haaah... Kenapa setiap kali menyusun rencana jenius yang berjalan mulus, selalu saja diakhiri dengan tumpukan plot merepotkan yang baru di garis finish?

Yang terpenting sekarang adalah mengutus Mona kembali untuk meninjau radius ledakan dan memastikan apakah sisa-sisa energi magis dari Altar Kuno Pemanggil Pahlawan itu sudah musnah total atau belum.

Sebab, jika energi altarnya masih bisa beregenerasi dengan menyedot nyawa di sekelilingnya... krisis yang lebih buruk mungkin baru saja akan menimpa seluruh daratan Lindor.

Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments