Header Ads Widget

Chapter 211 - Jalan Menuju Desa Santa

 


Bab 211. Jalan Menuju Desa Santa

Posisi sebagai seorang raja ternyata jauh lebih tidak nyaman daripada yang pernah ia bayangkan. Ini adalah pilihan yang tak terhindarkan agar klannya bisa bertahan hidup. Namun, jika dipikir-pikir lagi sekarang, mungkin lebih baik jika ia melimpahkan beban ini kepada orang lain. Ayahnya, misalnya. Atau kakeknya.

Daniel menatap langit di kejauhan dari balik jendela, lalu tiba-tiba bergumam. "Bukankah lebih baik memberi Tuan Juhwan wilayah lain? Kita tidak perlu memberinya Baroni Winwood secara khusus. Untuk tempat itu, kita bisa saja sekadar memberinya izin masuk selama jangka waktu tertentu."

Ia pernah dengar bahwa Baroni Winwood adalah tanah yang sangat gersang. Penduduknya sedikit, dan lahan pertaniannya pun minim. Lebih buruk lagi, wilayah itu berada tepat di perbatasan. Tidak ada yang tahu kapan perang bisa pecah lagi. Rasanya sulit menganggap tanah tempat orang-orang hidup melarat dan rawan terseret perang sebagai hadiah yang pantas untuk seorang pahlawan perang.

"Yang Mulia, apakah Anda pikir pria itu akan menerimanya? Dia bahkan meminta ranting acak alih-alih sebuah wilayah. Dia hanya menerima Winwood karena Desa Santa ada di sana."

Margrave tersenyum tipis dan meletakkan dokumen berikutnya di atas meja. Itu adalah sebuah laporan yang tebal. Tanpa melebih-lebihkan, tebalnya selebar telapak tangan.

Daniel tidak pernah mengira bahwa menjadi raja adalah posisi di mana seseorang bisa bersantai dan makan enak. Bahkan seorang kepala keluarga bangsawan harus bekerja tanpa waktu untuk bernapas, jadi ia berasumsi menjadi raja pun akan sama sibuknya.

Tapi ini sudah keterlaluan. Begitu ia selesai membaca satu laporan, dua laporan lain langsung diletakkan di hadapannya. Jika ia menemui satu orang, ada lebih dari tiga puluh orang yang sudah menunggu giliran. Setiap hari, jam pertemuannya dipadati oleh orang-orang yang harus ia temui, dan dokumen yang menunggu tanda tangannya menumpuk seperti gunung. Bahkan, ada kereta dorong penuh tumpukan kertas yang terparkir tepat di sebelah mejanya. Parahnya lagi, para pelayan dan pejabat terus membawa dokumen baru dan meletakkannya di sana.

Sebanyak apa pun ia bekerja hari ini, jumlah pekerjaan yang sama akan menunggunya besok. Seolah tidak ada ujungnya. Selain itu, tidak ada seorang pun tempatnya benar-benar bisa mencurahkan isi hati. Bahkan saat bertemu kakeknya, Daniel harus duduk dan menerima salam formal dari sang kakek. Ia bahkan tidak bisa mengobrol santai dengan si kembar, Angelica.

'Aku sudah tahu ini akan terjadi, tapi...'

Meski begitu, ia pikir di ruang privat setidaknya akan ada waktu untuk berbicara dengan santai. Nyatanya, itu hanya mimpi. Dua puluh empat jam sehari, entah itu pelayan, pejabat, atau orang lain selalu berada di sisinya. Bahkan ada yang mengawasinya saat ia tidur.

Margrave sudah memperingatkannya beberapa kali bahwa tidak semua orang di sekitarnya berniat baik. Tentu saja Daniel tahu itu. Ada banyak orang yang ingin menyingkirkannya, seorang bocah tanpa bekingan kuat yang tiba-tiba menjadi raja. Terlalu banyak untuk dihitung. Saat ini, Daniel hanya bisa mempertahankan nyawanya sebagai raja karena Margrave dan Juhwan berdiri di belakangnya. Ia sangat memahami hal itu. Namun, itu tidak membuat hatinya terasa lebih ringan.

Bahkan sikap Margrave yang membiarkannya bersikap santai di sekitar Juhwan, sebenarnya bertujuan untuk menunjukkan sesuatu kepada para bangsawan di negara ini. Itu menunjukkan betapa dekatnya raja muda Daniel dengan Juhwan, sang pahlawan sekaligus kontraktor Santa. Hal itu pada akhirnya akan menjadi sumber kekuatan bagi Daniel.

'Terkadang, rasanya aku sampai tidak bisa bernapas.' Daniel menghela napas.

Setidaknya saat bersama Juhwan, ia merasa bisa sedikit bernapas lega. Ia bisa berhenti menjadi seorang raja. Ia tidak tahu kenapa, tapi Juhwan nyaris tidak menunjukkan rasa hormat yang berlebihan pada keluarga kerajaan. Sikapnya memang sopan, tapi hanya sebatas itu. Entah bagaimana, Juhwan terasa berbeda dari orang lain. Daniel tidak bisa menjelaskannya, namun Juhwan tampaknya menganggap raja tidak ada bedanya dengan orang biasa.

Mungkin karena dia adalah seorang pahlawan. Juhwan pasti terlahir dengan cara berpikir yang sama sekali berbeda dari orang-orang di dunia ini. Meski ia berpijak di dunia ini, mungkin hidup Juhwan masih terhubung dengan dunia asalnya. Itulah sebabnya Daniel bisa bernapas lega di sisinya. Ia tidak menjadi raja, melainkan hanya manusia biasa bernama Daniel.

Tiba-tiba, Margrave menatap Daniel dan berbicara. "Yang Mulia, apakah Anda mengatakan hal ini karena Anda ingin lebih sering bertemu Tuan Juhwan? Apakah Anda pikir jika dia memiliki wilayah yang lebih dekat ke ibu kota, dia akan lebih sering berkunjung?"

Daniel tidak memungkiri bahwa pikiran itu pernah terlintas di benaknya. Margrave mengangguk dan berkata, "Begitu ya. Kalau begitu, penjelasanku sebelumnya kurang lengkap. Yang Mulia, ada alasan mengapa aku sengaja bernegosiasi dengan Tyrone dan bahkan rela menerima kerugian dalam hal pampasan perang demi memberikan tanah itu kepada Tuan Juhwan. Bukan semata-mata karena Desa Santa ada di sana. Urusan negara tidak boleh diputuskan dengan cara seperti itu."

Margrave mengisyaratkan para pejabat dan pelayan di sekitar mereka untuk mundur hingga jarak di mana mereka tidak bisa mendengar pembicaraan itu, lalu kembali berbicara. "Kontraktor Santa adalah manusia. Manusia akan mati bahkan sebelum hidup mencapai seratus tahun. Namun, Rudolph adalah monster ajaib. Mereka terus hidup meski tuan mereka telah tiada dari dunia ini. Meski begitu, hampir tidak ada yang pernah melihat Rudolph setelah kontraktor Santa meninggal. Tahukah Anda mengapa demikian?"

Daniel menatapnya dalam diam.

"Itu karena hati seekor Rudolph hanya tertuju pada tuannya. Ketika tuan mereka mati, mereka tidak lagi memiliki ketertarikan pada dunia manusia. Setelah kematian sang tuan, Rudolph menghabiskan sisa hidup mereka yang panjang hanya untuk melihat apa yang dicintai tuannya, tempat tuannya tinggal, dan apa yang disayangi tuannya."

"Jangan bilang..." Daniel tanpa sadar membuka bibirnya. Ia tahu bahwa Margrave telah mempertimbangkan banyak hal. Jika pahlawan Simoni memiliki wilayah di perbatasan, itu akan menjadi penangkal terhadap Tyrone. Setidaknya, selama Juhwan masih hidup dan sehat, Tyrone tidak akan berani memulai perang. Daniel mengerti sejauh itu.

Margrave mengangguk dengan ekspresi tenang. "Benar, Yang Mulia. Di masa depan, Rudolph milik Juhwan akan tetap berada di dekat wilayah itu dan melindungi negara ini. Mereka tidak akan mentolerir wilayah yang dicintai tuannya, maupun garis keturunan tuannya, diinjak-injak oleh orang lain. Mereka tidak akan lupa bahwa Tuan Juhwan adalah warga Kerajaan Simoni. Di mata para Rudolph, Tyrone akan selamanya menjadi musuh tuan mereka."

Itu cara yang kotor. Bagaimanapun, Juhwan adalah pahlawan yang telah menyelamatkan negara ini. Terlebih lagi, tanpa melibatkan kepentingan pribadi, Juhwan pergi berperang ke perbatasan demi Daniel, bahkan dengan dalih mematuhi perintah. Namun mereka justru memanfaatkannya seperti ini. Rasanya seolah hati Juhwan telah diinjak-injak dengan kaki berlumpur yang kotor.

Margrave tersenyum dengan ekspresi menyesal. "Saya mengerti perasaan Yang Mulia. Tapi, begitulah realita posisi sebagai seorang raja."

Ketika Daniel tidak mengatakan apa-apa, Margrave terdiam sejenak, lalu berbicara dengan suara lembut. "Saya tidak menyuruh Anda untuk melupakan kasih sayang pribadi atau budi baik. Jika hal-hal semacam itu dihilangkan sepenuhnya, politik akan menjadi tak punya hati. Jika itu terjadi, tidak akan ada orang yang benar-benar mengikuti Anda. Maksud saya adalah, Anda boleh memiliki kasih sayang, tetapi pertimbangan politik harus disertakan di dalamnya. Jangan pisahkan keduanya. Selalu pertimbangkan keduanya secara bersamaan. Itulah artinya menjadi seorang raja."

Daniel menundukkan pandangannya ke meja. Ia mengerti apa yang dikatakan Margrave. Kakeknya juga selalu mengatakan hal yang sama. Seorang bangsawan, seorang penguasa, tidak bisa bertindak hanya berdasarkan emosi sesaat. Seseorang harus selalu waspada terhadap kelicikan orang lain, serta memperhitungkan kepentingan keluarga, wilayah, dan rakyatnya sebelum bertindak. Kehidupan dan mata pencaharian seluruh rakyat dan klannya bergantung pada satu keputusan. Itulah yang telah diajarkan padanya.

Sebagai raja, tuntutannya bahkan lebih berat. Kepalanya mengerti. Namun bukan berarti hatinya bisa langsung menerimanya. Daniel teringat wajah Juhwan yang tersenyum padanya tanpa pamrih, dan memejamkan mata karena merasa bersalah.

Seolah ingin menghiburnya, Margrave berkata, "Yang Mulia, Tuan Juhwan kemungkinan besar juga menyadari hal ini. Dia pria yang cerdas. Dia seharusnya bisa menebak motif di balik semua ini."

Daniel diam saja. Bahkan jika itu benar, bahkan jika Juhwan tahu dan menganggapnya tidak masalah, niat mereka tetap saja kotor. Posisi raja ini benar-benar tidak nyaman. Daniel hanya bisa diam menatap hatinya yang kini ternoda oleh rasa bersalah.

Di hari seperti ini, akan seperti apa jadinya jika Angelica ada bersamanya? Pasti akan berakhir dengan pertengkaran dan celotehan konyol, lalu di malam harinya mereka berdua akan duduk berdekatan dan tertawa bersama. Sayangnya, hari-hari seperti itu tidak akan pernah datang lagi. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa seolah ada lubang gelap kecil yang menganga.

Kereta kuda yang terlilit tanaman merambat itu memang terlihat sangat aneh. Setiap orang yang mereka lewati di pinggir jalan sampai jatuh terduduk ketakutan seolah hendak pingsan. Orang dewasa ambruk ke tanah, dan anak-anak menangis histeris saat melihatnya. Reaksi mereka seolah baru saja melihat monster.

Juhwan menghela napas dan menatap tanaman merambat yang menutupi bagian atas keretanya. Kereta itu sudah terlihat aneh sejak mereka pertama kali meninggalkan kabin, tapi entah sejak kapan, bentuknya menjadi semakin aneh. Seiring berjalannya waktu, tanaman merambat itu terus menumbuhkan cabang demi cabang. Sekarang, seluruh kereta tertutup rapat oleh dedaunan merambat hingga ia tidak bisa lagi mengenali apa warna asli kereta tersebut.

Ya, ini sudah pasti sebuah monster. Tidak ada alasan untuk membantahnya.

"Tuan! Sepertinya tanaman ini bukan tanaman merambat biasa. Pang. Ini aneh. Pang." Baru sadar sekarang...? Tanaman ini memang sudah aneh sejak awal.

Lizzie tertawa tak percaya melihat Kutu Santa itu baru heboh sekarang dan mendengung ke sana kemari. Awalnya, mereka sempat berhenti di desa-desa satu atau dua kali dan tidur di penginapan, tapi karena kondisinya jadi seperti ini, pada akhirnya mereka terpaksa harus berkemah di pinggir jalan terus menerus.

"Maafkan aku, Lizzie. Mengingat kondisimu, aku sebenarnya ingin kau beristirahat dengan layak di desa sesering mungkin... tapi dengan keadaan seperti ini, kau jadi tidak bisa tidur nyenyak."

Saat mereka berkemah di luar, pekerjaan Lizzie bertambah tak peduli seberapa keras Juhwan mencoba menangani semuanya. Walaupun keretanya luas, tidur di sana pasti tetap tidak nyaman. Kelelahan pasti akan menumpuk.

Namun Lizzie tersenyum bahagia dan menggelengkan kepalanya. "Semua wanita di dunia ini mengandung anak. Kau tidak perlu terlalu membesar-besarkannya. Kau dan Dorothy lah yang berlebihan. Lagipula, aku lebih menikmati perjalanan seperti ini."

Lizzie berkata begitu, namun suasana hati Juhwan malah menjadi sedikit murung. "Tidak apa-apa, Ayah. Dorothy akan bantu." Dorothy berbicara dengan penuh percaya diri.

Kenyataannya, Dorothy memang terus membuntuti Lizzie seperti anak ayam, menggerakkan tubuh kecilnya ke sana kemari. Saat Lizzie mencoba mengambil air, Dorothy buru-buru menyambar gelas kayunya dan berlari. Saat Lizzie mencoba menyiapkan makanan dengan menyalakan api, Dorothy lagi-lagi bergegas melakukannya lebih dulu.

Niat hatinya memang mengagumkan, tapi apa yang harus Juhwan lakukan jika itu malah membuat pekerjaan semakin banyak? Bahkan tadi, saat berlari untuk menuangkan air ke dalam panci rebusan, Dorothy jatuh sekali, dan saat ia menuangkan air untuk ketiga kalinya, seekor serangga ikut masuk. Saat serangga itu masuk, wajah Lizzie sedikit bingung, namun ia tidak melarang Dorothy. Lizzie bilang di keluarga lain, ini sudah jadi pekerjaan yang memang harus dipelajari seorang anak, dan Dorothy sebenarnya sedikit terlambat mempelajarinya.

'Tetap saja, kalau ada serangganya agak...' Melihat Lizzie diam-diam menyendok serangga itu keluar dengan sendok kayu, Juhwan menghela napas pelan.

Tapi ada masalah yang lebih merepotkan lagi. Saat rebusan mulai mendidih, beberapa cabang tanaman merambat perlahan menjalar turun dari kereta.

"Dia datang! Pang!" Kutu Santa berteriak sambil terbang berputar di dekat api unggun. "Dasar pencuri! Pang! Hari ini, aku pasti akan menghentikanmu. Pang!"

"Pii! Pii!" Sementara Kutu Santa dan Oz melompat dan terbang kesana kemari, Dorothy juga ikut berteriak. "Kamu nggak boleh gitu. Tanaman kan nggak bisa makan sup rebusan. Kenapa kamu begini, Tuan Rambat? Kalau kamu makan yang aneh-aneh, nanti kamu bisa mati lho!"

Entah kenapa, tanaman merambat ini doyan sup rebusan. Ia akan mencelupkan ujung sulurnya ke dalam mangkuk sup seseorang dan menyedotnya. Pada titik ini, Juhwan tidak bisa lagi membedakan apakah ini benar-benar tumbuhan, atau monster ajaib yang kebetulan terlihat seperti tumbuhan.

"Awalnya memang sedikit menakutkan, tapi sekarang..." Iya, sekarang malah agak lucu. Mendengar ucapan Lizzie, Juhwan ikut menatap anak-anak dan tanaman merambat yang sedang bertarung memperebutkan makanan itu.

"Hari ini bakalan berisik selama satu jam ke depan." "Creambero." Lizzie menghela napas kecil dan menyajikan sup untuk Oz dan tanaman merambat di mangkuk terpisah. Jika mereka menaruh sedikit sup di sendok kayu dan meletakkannya di mangkuk kosong, itu adalah jatah Kutu Santa.

Setelah saling bertengkar, akhirnya mereka semua akan makan bagiannya masing-masing. Dorothy duduk dan makan sebentar, lalu berdiri lagi dan kembali bertarung dengan tanaman merambat, mengulangi siklus tersebut. Yeonhwa tidak terlihat di mana-mana, mungkin karena ia pergi berburu monster di sekitar.

"Bulannya terang sekali malam ini." Setelah mereka selesai makan, Lizzie menengadahkan kepalanya jauh ke belakang dan bergumam. "Iya." Dan suara anak-anak yang bertengkar malam ini juga terdengar sangat keras.

Ketika mereka tiba di kota benteng di perbatasan, seorang pejabat yang bertugas memandu mereka ke Baroni Winwood sudah menunggu. Juhwan belum pernah melihat orang itu sebelumnya.

"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Pahlawan. Ah tidak, Maksud saya Baron Winwood." Pejabat itu tersenyum lebar. Kesan wajahnya tajam, tapi entah bagaimana ia terlihat ramah.

"Saya ditugaskan untuk memandu Anda ke wilayah Anda, Baron, dan untuk memeriksa serta menyeimbangkan laporan keuangannya. Yah, mungkin tidak banyak yang tersisa di sana. Apa pun yang bernilai uang kemungkinan besar sudah diambil oleh penguasa sebelumnya. Meski begitu, setidaknya kita bisa mengetahui gambaran kasar kondisinya di atas kertas. Hanya gambaran kasarnya saja, tentu saja."

"Itu sangat membantu, saya berterima kasih. Bukan hanya soal manajemen wilayah; saya sama sekali tidak tahu cara membaca buku laporan keuangan."

Pejabat itu nyengir. "Seharusnya masih ada pejabat yang awalnya bekerja di sana. Tapi mengingat itu dulu wilayah musuh, dan terlebih lagi, mengingat rumor tentang Pahlawan cukup... yah, Anda tahu lah, ada kemungkinan mereka semua sudah kabur."

Rumor macam apa yang beredar sampai membuat orang-orang kabur? Seharusnya tidak ada rumor yang mengatakan bahwa ia adalah monster bertanduk, atau ia akan menusuk orang sampai mati begitu melihat mereka. Juhwan jadi sedikit khawatir.

Mereka menginap di kota benteng untuk hari itu. Semua prajurit yang wajahnya sudah akrab dengannya selama perang datang untuk menyapanya, jadi ia tidak bisa tidur sampai larut malam.

Keesokan harinya, mereka akhirnya memasuki wilayah Baroni Winwood. Jalan dari perbatasan menuju Baroni Winwood awalnya milik wilayah Tyrone yang lain, tetapi tampaknya telah dimasukkan ke dalam baroni ini melalui negosiasi. Karena itu, tentara Tyrone sedang dalam proses menarik diri dari area yang awalnya merupakan perbatasan. Sebagian besar prajurit sudah kembali ke wilayah utama, dan beberapa unit yang tersisa sedang menyelesaikan pembersihan akhir di pos perbatasan.

Ketika Juhwan tiba di sana, semua tentara Tyrone dicekam ketakutan. Tak satu pun dari mereka berani menatap matanya.

'Apakah penduduk Winwood akan bereaksi sama?' Suasana hatinya langsung memburuk. Margrave pernah bilang bahwa memerintah tempat ini akan sulit, namun melihat reaksi para prajurit, Juhwan tidak yakin apakah penduduk akan memperlakukannya seperti sesama manusia, apalagi menerima pemerintahannya.

Saat mereka bergerak menjauhi perbatasan asli dan masuk lebih dalam, tanahnya ternyata jauh lebih kering daripada Simoni. Simoni juga kekurangan air, tetapi Juhwan belum pernah melihat wilayah yang separah ini. Tanahnya sangat gersang sehingga sulit menemukan sehelai rumput pun. Rasanya seolah-olah mereka sedang melintasi gurun yang sunyi.

Pejabat yang menunggang kuda di depan membawa kudanya mendekat ke kereta. "Ini lebih buruk dari yang saya duga. Saya memang pernah dengar sedikit, tapi melihatnya langsung seperti ini, saya yakin semua sumur dan penampungan air sudah mengering. Mulai sekarang, kalau kita ketemu sumur, kita harus memastikan persediaan air kita diisi penuh."

"Ayo lakukan itu." Sebenarnya, Juhwan bisa menciptakan air, jadi tidak perlu terlalu khawatir. Setelah mengatakan itu, pejabat tersebut memeriksa peta dan kembali ke depan.

Tepat pada saat itulah. Kutu Santa tiba-tiba melompat keluar dari dalam tanaman merambat yang menutupi atap kereta. Dengan suara sayap mendengung, ia terbang di atas kepala Juhwan, lalu berteriak di telinganya.

"A-apa, apa! Tuan! Ini dia. Pang. Di sini! Ini adalah area yang pernah kulihat sebelumnya. Pang. Ooooooooh! Apa Tuan melihat tebing curam yang berdiri di kejauhan sana? Pang!" Kutu Santa membuat keributan dan menunjuk ke kejauhan dengan lengan mungilnya. Ada sebuah gunung berbatu, yang ukurannya agak terlalu kecil untuk disebut gunung sungguhan.

"Dulu ada serigala yang tinggal di gunung itu. Pang. Anaknya terguling dari tebing, jadi aku menemani mereka sebentar. Pang."

Dorothy menjulurkan wajahnya melalui jendela di sebelah kursi kusir dan bertanya, "Kamu nolongin serigalanya?" "Tidak. Aku malah tertindih anak serigala itu. Pang. Aku hampir mati. Pang. Mungkin sebenarnya aku memang sudah mati dan hidup lagi. Pang."

Kutu Santa berhenti bicara pada Dorothy dan berteriak lagi pada Juhwan. "Bukan, bukan itu yang penting. Pang. Pokoknya, aku pernah melihat tempat ini sebelumnya. Pang. Ini adalah jalan menuju Desa Santa. Pang." Kutu Santa berteriak bangga dan membusungkan dadanya.



Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments