Header Ads Widget

Chapter 96-100 ; Orang-orang Tak Tahu Malu

 

Episode 96: Orang-orang Tak Tahu Malu

Sementara Kenta mendiskusikan rencana masa depan bersama Nara dan Ivern, Raja Admos tengah mendengarkan sebuah laporan di salah satu ruangan istananya.

"Begitu rupanya. Jadi, saat ini seluruh dunia benar-benar telah menganggap Kenta-Maya sebagai musuh," ucap Sang Raja.

"Benar, Yang Mulia. Fakta bahwa ia mengepung Nona Nara yang awalnya datang untuk mengalahkannya, lalu menculik Putri Evangeline, adalah puncak dari segalanya. Kini, suara-suara di luar sana sepakat bahwa Kenta-Maya tidak pantas dimaafkan."

Mendengar laporan tersebut, Raja Admos menyeringai puas. Nadanya terdengar sangat gembira. "Heh heh heh... Ini akibatnya jika kau berani mempermalukanku, Kenta-Maya."

Bagi Raja Admos, Kenta bukan sekadar orang yang mencuri summoner (pemanggil) terkuat dari pasukannya, tetapi juga dalang di balik penculikan Putri Evangeline. Terlebih lagi, ketika Raja Admos mencoba memanggil Kenta untuk kedua kalinya, ia justru terhempas oleh sihir pemuda itu hingga menderita luka yang hampir merenggut nyawanya.

Di mata Sang Raja, keberadaan Kenta adalah dosa yang tak termaafkan. Kini, setelah Kenta resmi dianggap sebagai musuh dunia, Raja Admos merasa sangat puas melihat musuh bebuyutannya itu dipermalukan.

Sambil menatap seseorang di ruangan itu, Sang Raja berkata dengan angkuh, "Jadi, kau sudah membesar-besarkan masalah ini. Kau pasti akan menang, kan?"

Orang yang ditanya membalasnya dengan seringai arogan. "Kau baru saja melihat kekuatanku, kan? Menurutku, kekuatanku dan sihir Maya itu setara. Di kubu mereka hanya tersisa Nara, yang cuma bisa mengandalkan pedang. Jika Nara tidak bisa menggunakan sihir, kita bisa dengan mudah menundukkannya menggunakan keunggulan jumlah pasukan. Aku yakin seratus persen."

Orang itu adalah Ota. Ia berdiri bersandar di dekat jendela dengan tangan bersilang, memancarkan aura santai yang sama sekali tidak elegan.

"Hmm..." Raja Admos bergumam ragu sejenak saat mengingat reputasi buruk Ota di masa lalu. Namun, kekuatan magis yang Ota dapatkan di Kerajaan Iblis memang nyata.

Raja dan seluruh rakyat Admos sempat tercengang melihat lonjakan kekuatan sihir Ota. Padahal, sekitar setahun yang lalu, mereka mengusirnya karena dianggap tidak berguna. Fakta bahwa Ota berkembang sepesat itu dalam waktu singkat sungguh luar biasa. Itulah alasan Raja Admos mau menerimanya kembali, meskipun Ota dulunya diasingkan.

Tentu saja, mereka tidak benar-benar melupakan masa lalu. Ota kembali ke Admos semata-mata karena ia tidak punya tempat tujuan lain, sementara Raja Admos hanya menginginkan kekuatannya. Keduanya sama-sama tak tahu malu, tetapi entah bagaimana, kerja sama ini terasa sempurna untuk situasi sekarang.

Mengesampingkan keraguannya, Sang Raja memutuskan untuk memercayai Ota. "Baiklah. Kalau begitu, segera kirim utusan ke Weimar! Mereka pasti mau mengirimkan bantuan militer untuk menumbangkan Kenta-Maya, musuh dunia ini, bukan?"

"Baik, Yang Mulia!" Pelayan itu segera undur diri untuk melaksanakan perintah.

Sambil menatap punggung pelayannya yang menjauh, Raja Admos bergumam pelan. "Sekarang, apa yang akan kau lakukan, Weimar? Jika kau bergabung membentuk pasukan gabungan, itu bagus. Tapi jika kau berani melindunginya..." Sang Raja menyeringai licik. "...maka Weimar juga akan dicap sebagai musuh dunia."

Raja Admos masih menyimpan dendam terhadap Weimar akibat kekalahan dalam perang sebelumnya. Karena itulah, ia sengaja mengajukan permintaan yang akan memaksa Weimar mengambil posisi sulit.

"Heh heh heh... Silakan pikirkan baik-baik pilihan kalian," kekehnya.

Namun, di tengah suasana serius itu, Ota tiba-tiba melontarkan komentar yang merusak suasana. "Ngomong-ngomong, Yang Mulia... Negara ini punya beberapa putri, kan?"

"Hah? Oh, lalu kenapa?"

"Begini, sebagai imbalan atas bantuanku, bagaimana kalau kau mengenalkanku pada salah satu putrimu?"

Raja Admos terdiam. Kesimpulannya cepat terbentuk: Sebesar apa pun kekuatan sihir yang ia miliki sekarang, Ota tetaplah Ota yang menjijikkan.

"Sayangnya, mereka semua sudah menikah," jawab Sang Raja dingin.

"Apa?! Cih, sialan. Jadi sudah tidak ada yang perawan..." Ota mendecak kesal. Gumamannya pelan, tapi terdengar sangat jelas di telinga Raja Admos.

Mendengar itu, Sang Raja hampir meledak dalam amarah. Namun, ia berhasil menahannya, menyadari bahwa pria di hadapannya adalah summoner dengan kekuatan mematikan.

"Maaf soal itu. Sebagai gantinya, aku akan memanggilkan wanita-wanita dari rumah bordil. Bersabarlah sedikit," bujuk Sang Raja.

"Ya, ya, terserah. Ah, aku penasaran, apa di luar sana ada putri perawan yang mau tergila-gila padaku?" oceh Ota.

Raja Admos menatapnya dengan muak. Seperti dugaanku, para summoner ini tidak bisa dipercaya. Ia pun membuat keputusan dalam hati: Jika kita berhasil membunuh Kenta kali ini, aku akan memanfaatkan kekacauan untuk menyingkirkan Ota sekalian.

Tanpa disadari, niat Raja Admos ini sama persis dengan niat Raja Lindor terhadap Kenta sebelumnya, meski dengan alasan yang berbeda.

Episode 97: Ini Bukanlah Pilihan Terakhir

Di ruang konferensi Kastil Weimar, Putri Victoria menatap tajam sepucuk surat di atas meja.

"Apa yang akan Anda lakukan, Yang Mulia? Jika Anda memenuhi tuntutan Kerajaan Admos, itu artinya kita akan mengangkat senjata melawan Nona Maya..." tanya salah satu asistennya ragu.

"Memangnya kalian berani melawan orang itu?" balas Victoria.

Sang asisten langsung membuang muka, tak berani menjawab. Menyadari reaksi tersebut, Victoria menghela napas tipis dan mengalihkan pandangannya ke arah para petinggi kerajaan di ruangan itu.

"Sejujurnya, permintaan Admos ini hanyalah bentuk provokasi licik," ucap Victoria dengan ekspresi jijik. "Mereka pasti sedang tertawa membayangkan kita kebingungan. Di mata Admos, ini mungkin dilema besar bagi kita, tapi jawabanku sudah bulat sejak awal."

Para pejabat senior menunggu dengan napas tertahan.

"Kita tidak akan memenuhi permintaan Admos," tegas Victoria.

Tidak ada satu pun yang berani membantah. Dari sudut pandang Victoria, rencana Admos terlalu naif. Sangat konyol menganggap Ota—yang dulu dipanggil bersamaan dengan Nara—sebagai pahlawan suci. Dan jelas mustahil Ota, yang dulu dengan mudah dikalahkan oleh sihir Kenta, kini berada di level yang sama dengannya. Victoria justru curiga Admos sedang ditipu mentah-mentah oleh Ota.

"Apa mereka pikir, selagi Ota menahan Nona Maya, mereka bisa mengalahkan Nona Nara hanya bermodalkan jumlah pasukan?" gumam seorang pejabat.

"Tepat sekali. Lagipula, apa mereka pikir Nona Maya membiarkan Nona Nara begitu saja tanpa pelatihan?" sahut yang lain. "Memang, saat berada di Admos, Nona Nara tidak bisa menggunakan sihir. Tapi sudah berapa lama waktu berlalu? Mengingat Nona Nara kini berada di pihak Nona Maya, sangat masuk akal jika kekuatannya telah berkembang pesat."

"Aku juga curiga Admos sedang diperalat oleh pemanggil bernama Ota itu. Bukankah dia yang membuat keributan memalukan di depan gerbang kastil kita beberapa hari lalu?"

Mengingat keributan itu—dan menyadari kemungkinan bahwa Kenta mungkin sedang mengawasi mereka dari jauh—membuat seluruh petinggi di ruangan itu bergidik ngeri.

"Intinya, kita, Weimar, tidak akan tunduk pada Admos. Bergantung pada situasinya, kita justru akan berpihak pada Nona Maya," putus Victoria. Seluruh pejabat serentak mengangguk setuju.

"Apakah ini berarti kita resmi bergabung dengan kubu musuh dunia?" tanya seorang menteri dengan nada bercanda yang getir.

Namun, yang lain menanggapi dengan serius. "Demi melindungi rakyat Weimar, jauh lebih masuk akal untuk berada di pihak Nona Maya. Lagipula..." Menteri senior itu menatap ke luar jendela, ke arah hutan tempat Kenta tinggal. "...pasukan manusia sebesar apa pun bisa dimusnahkan tanpa sisa hanya dengan satu mantra dari Nona Maya."

Ruangan itu mendadak hening. Para pejabat teringat pada insiden terbunuhnya Putri Wimple (putri kedua Weimar). Wajah mereka pucat pasi mengingat teror yang mereka rasakan saat itu. Padahal, itu hanyalah sebagian kecil dari kekuatan Kenta. Kenta mampu meratakan seluruh ibu kota ini dalam sekejap jika ia mau, sama seperti saat ia menghancurkan separuh ibu kota Kerajaan Lindor.

Memberontak melawan Kenta? Victoria dan para pengikutnya sama sekali tidak punya keberanian konyol seperti itu.

"Sampaikan pesan ini kepada utusan Admos: Weimar tidak akan menoleransi omong kosong Kerajaan Admos. Jika kalian terus memaksa, kami akan berpihak pada Nona Maya," perintah Victoria tegas.

"Baik, Yang Mulia!" Para pelayan segera bergegas keluar.

"Yah, sekarang sudah tidak ada jalan untuk mundur," gumam Victoria pasrah. Ia lalu berdiri dari kursinya. "Aku akan segera meminta audiensi dengan Nona Maya. Hubungi penjaga hutan dan minta mereka menyampaikan pesan ini kepada Tuan Ivern."

Melalui perantara Ivern, Kenta menyetujui pertemuan tersebut, dan Victoria pun berangkat menuju hutan.

Episode 98: Tetap Bersikap Ambigu

Saat ini, Putri Weimar sedang duduk tepat di hadapanku.

Karena rahasia identitas Meileen sudah terungkap ke semua pihak, tidak ada gunanya lagi menyembunyikannya. Itulah alasan mengapa sang putri beserta rombongannya berani datang langsung ke rumahku hari ini.

Duduk di seberang meja, sang putri terus melirik ke sekeliling dengan gelisah. Jelas sekali ia sangat gugup.

"Saya mohon maaf karena ini adalah pertama kalinya saya menunjukkan wajah secara langsung, Yang Mulia Victoria, padahal Anda sudah berkali-kali datang ke sini," sapa Meileen.

"T-tidak apa-apa! Jangan khawatirkan hal itu!" jawab Victoria gugup. "Kami juga sangat memikirkan keselamatan Putri Meileen, jadi kami lega mengetahui Anda selamat."

Wah, Putri Victoria ternyata sangat menghormati mantan putri Meileen.

Pandangan Victoria kemudian beralih ke arah Eva yang sedang duduk santai di sofa. "Dan... saya sama sekali tidak menyangka Anda juga ada di sini, Putri Evangeline."

"Hehe. Terkejut melihatku, Yang Mulia Victoria?" goda Eva riang.

Admos dan Weimar adalah negara bertetangga, jadi wajar jika keduanya saling kenal. Melihat Eva yang tersenyum tanpa beban, Victoria memijat dahinya dan menghela napas panjang.

"Apa sebenarnya yang sedang Anda lakukan...? Anda ini seorang putri kerajaan, bukan?" tegur Victoria sambil melirik perut Eva yang mulai membesar.

Eva, yang tidak menyangka akan diomeli, langsung memberutut. Wajah cerianya berubah masam.

Melihat Eva disudutkan, Meileen ikut angkat bicara. "Oh, jika Anda berkata begitu, maka saya juga berada di posisi yang sama. Tolong jangan terlalu menekan Eva."

"B-bukan begitu maksud saya! Putri Meileen diasingkan dari istana, sedangkan Eva melarikan diri atas kemauannya sendiri. Itu dua hal yang sangat berbeda!" bantah Victoria panik.

"Kalau Anda mengatakannya seperti itu, saya malah merasa nasib saya lebih menyedihkan," balas Meileen dingin.

"Ah... B-bukan begitu maksud saya...!" Victoria akhirnya menundukkan kepala, menyerah di bawah tekanan kata-kata tajam Meileen.

Meileen terkikik pelan, tapi sorot matanya sama sekali tidak tersenyum. Sepertinya ia benar-benar kesal karena sahabatnya ditegur. Aku menoleh ke arah para pengiring Victoria, mengira mereka akan marah karena putri mereka dipermalukan. Namun anehnya, wajah mereka justru pucat pasi dan menunduk dalam-dalam.

Ada apa dengan mereka? Padahal waktu berhadapan denganku, mereka cerewet sekali.

Di tengah keheningan yang canggung itu, suara Nara tiba-tiba terdengar dari belakangku. "Meileen, kau menakutkan..."

Nara, beraninya kau berkata begitu?

Victoria tersentak dan mendongak, menatap Meileen dengan wajah yang semakin pias. Mungkinkah semua orang pucat karena aura intimidasi Meileen? Memang sih Meileen sedang kesal, tapi bagaimana bisa mereka setakut itu pada gadis secantik dia? Sungguh tidak sopan.

"Hehe, sepertinya aku terlalu menakut-nakuti mereka," ucap Meileen santai.

Mendengar itu, Victoria dan para pengiringnya bernapas lega. Sepertinya Meileen baru saja menarik kembali tekanan auranya—meski aku sendiri tidak merasakannya karena tidak ditujukan padaku.

Setelah suasana sedikit mencair, aku kembali ke topik utama. "Jadi, apa tujuanmu datang kemari hari ini?"

Victoria menatapku dengan ekspresi serius. "Sebenarnya, Admos menekan Weimar. Mereka memaksa kami memilih: berpihak pada Anda atau bergabung dengan pasukan mereka."

"Hmm." Raja itu pasti sangat mendendam padaku. Masuk akal, sih. Aku mengambil Nara, menculik Eva, dan membuatnya luka parah. "Lalu? Apa jawabanmu?" tanyaku santai, sebenarnya tidak terlalu peduli.

Namun, Meileen malah memotong. "Tentu saja, Weimar menolak bergabung dengan Admos, kan?"

Victoria mengangguk pelan. "Ya, kami menolak."

"Lalu, apakah Anda akan bergabung dengan pihak kami?" kejar Meileen.

Victoria membuang muka. "Saya belum memberikan pernyataan yang sejelas itu."

"Jadi, Anda sengaja membiarkan posisi Weimar tetap ambigu?"

Victoria tersenyum canggung. "Wilayah ini masih berada di dalam perbatasan Weimar. Jika ada serangan di sini, itu berarti negara kami juga dalam bahaya. Kami akan mengambil tindakan yang sesuai."

Ah, aku mengerti.

Weimar tidak ingin secara terang-terangan membantu kami, karena itu bisa membuat mereka ikut dicap sebagai musuh dunia. Intinya, mereka tidak akan ikut campur, tetapi jika Admos berani melewati perbatasan, Weimar akan melawan.

"Jika mereka mencoba menerobos perbatasan, kami akan melawan. Tapi kami tidak akan pernah menentang Nona Maya. Itulah pesan yang kami sampaikan kepada Admos," jelas Victoria.

"Um, kenapa Putri Victoria begitu baik pada Maya?" celetuk Nara polos. "Dari yang kudengar, Maya hanya membawa masalah bagi Weimar."

Nara, mulutmu itu lho.

"Nara, kau akan menyesali ucapanmu nanti," tegurku.

"Tunggu! Emangnya aku salah?! Aku bingung kenapa kalian sangat menghormatinya, padahal dia itu sangat arogan dan cuma bikin rugi Weimar!"

Mendengar kepolosan Nara, Victoria menatap berkeliling sejenak dengan tatapan pasrah, lalu berbisik jujur, "...Karena aku takut padanya."

"Ah..." Nara terdiam. Ternyata kau baru sadar, Nara?

"Kami lebih memilih berperang melawan Admos daripada harus bermusuhan dengan Nona Maya. Kami tidak ingin berurusan dengan kemarahannya lagi," ucap Victoria sambil menunduk, diikuti anggukan serempak dari para pelayannya.

Melihat pemandangan itu, Meileen menoleh padaku. "Hei, Kenta."

"Hmm? Ada apa?"

"Jika Admos benar-benar menyerang, apakah kita bisa melindungi perbatasan Weimar sendiri?" tanyanya. "Aku... akan merasa sangat bersalah jika Weimar sampai terseret ke dalam perang karena kita."

Ke mana hilangnya aura mengintimidasi Meileen yang tadi? Sekarang ia menatap Victoria dengan penuh rasa bersalah.

"Aku sih tidak masalah," jawabku, lalu menoleh ke arah Eva. "Tapi, bagaimana denganmu, Eva? Itu negaramu sendiri, lho."

Mantan Putri Admos itu menatapku dengan ekspresi datar. "Aku sama sekali tidak peduli. Sejujurnya, aku belum memaafkan ayahku atas apa yang dia lakukan pada Mitsuhiko. Aku tak peduli nasib orang-orang yang sudi mengikuti perintah ayah yang seperti itu."

"...Begitu rupanya." Gila. Kupikir dia cuma gadis ceria, ternyata dia punya sisi gelap yang mengerikan.

"Baiklah. Kalau Meileen yang meminta, aku tidak bisa menolak. Eva juga sudah memberi izin. Jika Admos menyerang, aku yang akan menghancurkan mereka," janjiku.

"Benarkah?! Kalau begitu, mari kita bahas strategi dan metode komunikasi militer sekarang juga—" seru Victoria antusias.

"Ah, tidak perlu repot-repot," potongku.

"Hah? T-tapi kita butuh jalur komunikasi jika Admos tiba-tiba menyerang..."

"Tenang saja, semuanya akan beres. Lagipula, jika kau tidak ingin dunia tahu bahwa Weimar bekerja sama denganku, sebaiknya kau jangan menyiagakan terlalu banyak pasukan di perbatasan."

"Apa?! Tapi itu akan membuat pertahanan negara kami terbuka lebar!"

"Kan sudah kubilang, tidak usah khawatir. Serahkan saja padaku."

"B-baiklah..."

Wajah sang putri kembali pucat. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Mungkin kata-kataku terdengar terlalu kasar?

Kupikir para pengiringnya tidak akan berani protes setelah ditekan Meileen tadi, tetapi saat aku melirik mereka, mereka justru menatapku dengan sorot mata penuh kebencian. Lah, kenapa malah aku yang dimusuhi?

Episode 99: Kekhawatiran Tak Beralasan Para Putri

Setelah pertemuan dengan Kenta selesai, Victoria dan rombongannya bertolak kembali ke ibu kota. Di dalam kereta kuda yang melaju, Victoria menghela napas sangat panjang.

"Ada apa, Yang Mulia?" tanya salah satu pengiring setianya dengan cemas.

Victoria menoleh perlahan dan tersenyum getir. "Apakah kalian melihat siapa yang ada di pangkuan Putri Meileen tadi?"

Raut wajah para pelayan seketika berubah suram.

"Ya... dia ada di sana," bisik salah satunya. "Anak itu... sangat menggemaskan."

Benar. Sepanjang pertemuan tadi, meski tidak dibahas, ada seorang balita duduk manis di pangkuan Meileen. Balita itu terus menatap tamu-tamu mereka dengan penuh rasa ingin tahu, berusaha mencari perhatian. Meileen dengan luwes menenangkan anak itu, secara tidak langsung menegaskan statusnya sebagai ibu sang balita.

Victoria bersandar lemas di kursi kereta. "Sekarang aku mengerti mengapa Kerajaan Iblis begitu gigih mencoba menghubungi Tuan Kenta."

Meileen adalah anggota keluarga kerajaan iblis. Fakta bahwa ia kini memiliki seorang anak berarti anak tersebut memiliki hak sah atas takhta Kerajaan Iblis.

"Anda pikir mereka ingin merebut anak itu? Bukan untuk melenyapkannya?" tanya sang pengiring bingung.

Victoria menggeleng tegas. "Bukan. Raja Iblis sendiri pernah mencoba menghubungi Kenta secara resmi. Kami bahkan meminjamkan wilayah kita sebagai tempat negosiasi. Tapi setelah itu, Raja Iblis berhenti mencoba melakukan kontak langsung. Ini berarti, pasti ada semacam kesepakatan rahasia yang telah dibuat mengenai anak itu."

"Hah? Kalau sudah ada kesepakatan, lalu kenapa pasukan iblis terus-terusan melakukan invasi ilegal ke wilayah kita akhir-akhir ini?"

Para pelayan kebingungan. Mereka mengira invasi itu bertujuan untuk membunuh si bayi pewaris takhta. Namun, Victoria menyadari konspirasi yang jauh lebih besar.

"Aku sangat ragu bahwa faksi Raja Iblis yang sekaranglah yang terus mencoba menghubungi Kenta," ucap Victoria.

Sang pelayan tersentak. "Maksud Anda..."

"Kerajaan Iblis sedang tidak bersatu."

Kereta kuda itu kembali hening.

"Dunia ini benar-benar penuh kekacauan," gumam Victoria lelah.

Operasi pemusnahan Kenta yang dipimpin oleh Admos akan segera dimulai. Di saat yang sama, potensi perang saudara di dalam Kerajaan Iblis sudah di depan mata. Perdamaian sepertinya hanyalah mimpi yang sangat jauh.

"Apa yang akan terjadi pada dunia ini selanjutnya...?" keluh sang pengiring dengan wajah penuh kekhawatiran.

Victoria tersenyum tipis. "Semuanya, termasuk masa depan dunia ini, kini sepenuhnya berada di tangan Kenta."

Kenyataan itu terasa sangat menyesakkan bagi para pelayan. Membayangkan nasib dunia berada di tangan pria yang menjadi perwujudan ketidakadilan itu sungguh tragis.

"Kita pasti akan bentrok dengan Admos, dan Kenta pasti akan memenangkan pertempuran itu," lanjut Victoria.

"Jadi, Anda sangat yakin Tuan Kenta akan menang?"

"Ya. Masalahnya bukan itu..." Victoria menjeda ucapannya. Saat para pengiringnya menahan napas, ia mengucapkan sesuatu yang mengerikan. "Masalahnya adalah... mustahil untuk memprediksi seberapa besar kerusakan yang akan ia timbulkan ke dunia ini saat ia menang nanti."

Mendengar itu, sebuah visualisasi mengerikan terlintas di benak sang pelayan: Kenta berdiri sendirian di tengah medan perang yang dipenuhi gunungan mayat, menyeringai dengan kejam.

"...Sebenarnya, siapa pria itu? Dia lebih terasa seperti iblis ketimbang seorang pemanggil," bisik sang pelayan ngeri.

Victoria tersenyum getir. "Dewa Iblis, ya? Mungkin julukan itu memang paling cocok untuknya."

Kereta kuda itu terus melaju membelah jalanan menuju ibu kota Weimar, diselimuti bayang-bayang kesuraman yang pekat.

Episode 100: Kenalan Nara

"Tuan Maya..."

"Ada apa?"

Beberapa hari setelah kunjungan Putri Weimar, suara rengekan Nara menggema di ruang tamu kami.

"Aku bosaaan. Boleh tidak aku memantau tempat lain saja?" keluhnya.

"Tentu saja tidak boleh. Terus awasi titik itu," balasku tegas.

Sejak pertemuan hari itu, aku menugaskan Nara dan Eva untuk memantau area perbatasan antara Weimar dan Admos. Kami menggunakan alat sihir pengintai terbang—mirip drone—yang sebelumnya kugunakan untuk memata-matai Ota. Eva bertugas di pagi hari saat Nara bekerja di ladang, lalu Nara mengambil alih shift setelah ia pulang.

Bagi Eva, ini adalah cara yang menyenangkan untuk membunuh waktu. Namun, Nara ternyata sangat mudah bosan.

"Habisnya aku terus-terusan melihat tempat yang sama! Kalau aku menggerakkan alatnya sedikit ke tempat lain, setidaknya aku tidak akan se-bosan ini," protes Nara.

"Lagipula, kau mau melihat apa di tempat lain?"

Nara terdiam. Yah, wajar saja, dia belum punya banyak pengalaman militer sejak tiba di dunia ini.

"Hehe. Baiklah, mari kita periksa jalur utama menuju perbatasan," usul Eva. "Jika Admos benar-benar ingin menyerang Weimar, mereka pasti akan melewati rute itu."

"Kalau jalurnya sejelas itu, bukannya mereka malah gampang disergap? Kenapa mereka harus pakai jalan itu?" tanya Nara bingung.

"Karena tidak ada pilihan lain. Sangat sulit menggerakkan pasukan militer besar melewati medan yang belum dibuatkan jalan," jelasku.

"Oh, begitu ya?"

"Terkadang militer memang mengambil rute memutar melalui wilayah tak terpetakan untuk serangan kejutan. Tapi dalam kasus ini, pasukan pengintai Admos pasti sudah tahu bahwa perbatasan Weimar tidak dijaga ketat," tambahku.

"Maksudmu, Weimar benar-benar menuruti kata-katamu untuk tidak menempatkan pasukan di perbatasan?"

"Tepat. Jadi, Admos pasti akan berbaris melewati jalur utama itu dengan penuh rasa percaya diri..."

Tiba-tiba, Eva menghentikan penjelasannya. Matanya terpaku pada layar.

"...Mereka sudah datang! Maya! Pasukan Admos sudah tiba!" seru Eva.

"Cepat sekali," gumamku. "Belum lama sejak putri Weimar datang kemari, kan?"

Sepertinya Admos tidak memedulikan apa pun jawaban Weimar dan sudah memberangkatkan pasukannya sejak awal. Jika tidak, mustahil mereka bisa tiba secepat ini.

"...Aku benar-benar muak padamu, Ayah—ah, maksudku Raja Admos. Ternyata kau memang tidak pernah peduli pada jawaban Putri Victoria!" geram Eva. Kelicikan sang ayah membuat mantan putri Admos itu murka. Mungkin justru karena ayahnyalah yang berulah, Eva jadi sangat membenci tindakan ini.

"Eva, di mana posisi persis mereka? Apa sudah terlihat dari perbatasan?" tanyaku.

"Um... sepertinya pasukan penjaga perbatasan belum bisa melihat mereka. Tapi sebentar lagi mereka akan masuk jarak pandang."

Karena kami menggunakan alat sihir dari langit, jangkauan pandang kami jauh lebih luas. Penjaga di darat belum menyadari kedatangan pasukan itu.

"Maya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Nara. Nada suaranya yang biasa kekanak-kanakan mendadak berubah serius.

Aku teringat sesuatu. Nara pernah bilang bahwa orang-orang di militer Admos memperlakukannya dengan sangat baik. Ia pasti merasa berat hati jika harus menyerang mereka.

"Kita tidak boleh membiarkan pasukan ini mendekat sampai pihak Weimar menyadari kehadiran mereka. Kita tunggu sampai mereka membuat sedikit keributan di perbatasan," jawabku.

"Dimengerti."

"Aku yang akan menangani serangannya. Nara, kau punya kenalan di pasukan Admos, kan? Kalau kau merasa keberatan, kau tidak perlu ikut campur," ujarku lembut.

Mendengar itu, wajah Nara tampak sedikit lega. "Oke. Kalau begitu, aku akan fokus memantau pergerakan mereka saja."

Ketegangan Nara langsung mencair setelah tahu ia tidak harus menyerang secara langsung. Sambil mengoperasikan drone sihirnya, ia memperbesar gambar di layar. Tiba-tiba, ia mengerang dan wajahnya berubah masam.

"Si brengsek itu... berani-beraninya dia menampakkan wajah di sini..." gerutu Nara.

Kalau Nara bereaksi seperti itu, pasti Ota ada di sana.

"Coba kulihat," ujarku penasaran, lalu mengintip layar dari balik bahu Nara.

"Pfft—!" Aku langsung menyemburkan tawa.

Bagaimana tidak?

"Menyilaukan sekali...!"

Ota terlihat mengenakan baju zirah super norak yang terbuat dari logam perak mengkilap, dihiasi ukiran emas mentereng di berbagai sisi. Lebih parahnya lagi, karena ia tidak bisa menunggang kuda, ia duduk angkuh di atas kereta kuda tanpa atap yang didesain mirip mobil cabriolet. Penampilannya benar-benar mencolok seperti badut di tengah medan perang.

"Astaga, ada orang sebodoh itu di sana," ejekku.

Nara langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "...Apa-apaan itu? Aku yang malah merasa malu melihatnya..."

Aku memahaminya. Kalau Ota itu orang asing, mungkin ini cuma akan jadi tontonan lucu. Tapi karena Ota adalah mantan teman sekelasnya dari dunia asal mereka, Nara pasti merasa ikut menanggung malu.

Ota, kau benar-benar menyiksa batin Nara dengan cara yang tak terduga.

"Dilihat dari posisinya, apakah Ota yang menjadi panglima tertinggi? Meskipun sihirnya kuat, dia sama sekali buta soal taktik perang," gumamku.

"Benar juga. Biar kuperiksa," ucap Nara, lalu menggeser sudut pandang kamera ke arah orang-orang di sekitar Ota.

"Ah... Komandan..." panggil Nara pelan. Wajahnya seketika diliputi kesedihan saat melihat seorang pria paruh baya tertangkap kamera.

"Kau mengenalnya?" tanyaku.

Nara mengangguk lemah. "Ya. Dia Komandan Ksatria Admos... Beliaulah yang mengajariku ilmu pedang. Dia orang yang paling tulus merawatku selama aku berada di Admos."

"Hmm." Jadi pria itu adalah pahlawan bagi Nara.

"Sepertinya dia sedang berdebat dengan Ota. Aku penasaran apa yang mereka bicarakan..."

Alat sihir ini sebenarnya bisa menangkap suara, tapi kami harus menurunkannya sangat dekat dengan target. Risiko ketahuannya terlalu besar, meski ada sihir penyamaran.

"Ota terlihat tertawa lebar, sementara wajah Komandan tampak sangat tertekan," gumamku mengamati layar.

Melihat situasi ini—dan menyadari betapa berharganya pria itu bagi Nara—aku berpikir sejenak.

"Aku akan mengubah rencananya," putusku.

Awalnya, aku berencana menggunakan alat sihir ini untuk langsung melancarkan serangan jarak jauh begitu pasukan Admos terlihat. Namun, setelah melihat situasinya, aku memutuskan untuk menggunakan taktik lain.

Saat aku membeberkan rencana baruku, Nara tampak terkejut, namun kemudian mengangguk mantap.

"Baiklah. Kita tunggu mereka sedikit lebih dekat, lalu kita jalankan rencananya," ucap Nara.

Lantas, bagaimana hasil dari operasi ini?

...Sejujurnya, meski aku sendiri yang mencetuskan ide ini, aku punya firasat kuat bahwa semuanya akan berakhir menjadi kekacauan yang merepotkan.


PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER

Post a Comment

0 Comments