Header Ads Widget

Chapter 91-95 ; Masalah yang Tak Terhindarkan bagi Seorang Putri

 

Episode 91: Masalah yang Tak Terhindarkan bagi Seorang Putri

"Apa?! Pasukan iblis muncul di hadapan Tuan Kenta lagi?!"

Victoria sudah memiliki firasat buruk sejak menerima kabar dari penjaga hutan tempat Kenta bersembunyi. Namun, laporan yang baru saja didengarnya begitu mengejutkan hingga ia rasanya ingin menutupi wajahnya karena frustrasi.

"Kita baru saja mengajukan protes resmi sebagai sebuah negara beberapa hari yang lalu... Apa sebenarnya yang dipikirkan para iblis itu? Tidak mungkin mereka sengaja memancing peperangan dengan negara kita."

Mengapa Putri Victoria begitu cemas dengan pergerakan Kerajaan Iblis? Secara logika, keputusan politik sebesar ini seharusnya berada di tangan Raja. Namun, ada alasan tragis di baliknya. Sejak saudara perempuan Victoria, Wimple, dieksekusi oleh Kenta, sang Raja terus dihantui rasa takut yang luar biasa. Mentalnya terguncang hebat hingga ia tak lagi mampu membuat keputusan politik yang rasional.

Meskipun belum resmi mewarisi takhta, melihat kondisi ayahnya, naiknya Victoria sebagai Ratu hanyalah masalah waktu. Sebagai wanita yang penuh tanggung jawab, Victoria pun mengambil alih kendali pemerintahan sebagai wakil raja.

Baru-baru ini, Weimar telah melayangkan protes keras kepada Kerajaan Iblis. Namun, mereka justru mengabaikan protes tersebut dan nekat mendatangi kediaman Kenta—yang menurut laporan, lebih pantas disebut sebagai serangan mendadak. Langkah nekat ini membuat Victoria curiga; apakah Kerajaan Iblis sedang meremehkannya, atau mereka memang berniat mengobarkan perang dengan Weimar?

"Tapi, mengapa para iblis begitu terobsesi pada Tuan Kenta? Memang benar Tuan Kenta adalah musuh yang membunuh raja mereka sebelumnya, tapi rasanya sudah terlalu lama berlalu jika ini hanya sekadar rencana balas dendam," gumam Victoria pelan. Namun, suaranya di ruangan yang hening itu terdengar jelas oleh para menterinya.

"Mungkin ada sesuatu pada diri Tuan Kenta yang sangat menarik perhatian Kerajaan Iblis," sahut seorang menteri senior yang telah mengabdi sejak era raja sebelumnya.

Ucapan itu memicu rentetan pemikiran di benak Victoria. Laporan intelijen menyebutkan bahwa pasukan iblis bahkan mengerahkan Ota, satu-satunya pemanggil roh yang tersisa. Mengapa mereka begitu putus asa mengejar ke tempat itu?

Victoria mencoba mengingat kembali kondisi kediaman Kenta. Ia sering berkunjung ke sana dan tahu betul bahwa ada tiga rumah besar yang dibangun di area itu. Sejauh yang ia tahu, penghuninya hanyalah Kenta dan keluarga Ivern (yang bertugas memasok kebutuhan). Jumlah orang dan skala bangunan itu sangat tidak masuk akal.

Satu rumah untuk keluarga Ivern. Satu rumah milik seseorang yang belum pernah dikenalkan kepadanya. Dan rumah terakhir adalah milik Kenta, yang ukurannya terlalu besar untuk ditinggali seorang diri.

"...Jangan-jangan," Victoria memucat saat membayangkan skenario terburuknya.

Kenta tidak tinggal sendirian.

Mengingat waktu yang telah berlalu sejak perang, kecil kemungkinan Kenta sendiri yang menjadi incaran utama. Target sebenarnya pasti adalah teman serumah Kenta. Seseorang yang sangat ingin direbut kembali oleh iblis, sampai-sampai mereka rela mengabaikan protes resmi Weimar.

Weimar diam-diam juga mengetahui bahwa ada seorang tokoh penting yang hilang dari Kerajaan Iblis. Orang ini seusia dengan Kenta dan memiliki nasib serupa: terpaksa melarikan diri dari negaranya. Dan yang paling penting, rumor mengatakan bahwa Kenta berhasil mengalahkan Raja Iblis berkat bantuan 'dia'.

Bagaimana jika dua orang yang pernah bekerja sama mengalahkan musuh besar ini kembali bertemu secara kebetulan dalam pelarian mereka? Jawabannya sudah sangat jelas.

"Tidak, tidak, tidak. Ini pertanda buruk. Hanya skenario mengerikan yang terlintas di kepalaku," gumam Victoria.

"Saya memahami kekhawatiran Anda, Yang Mulia. Jika tebakan itu benar, masuk akal mengapa para iblis bertindak seputus asa ini," ujar seorang menteri.

Setelah mempertimbangkan segala risiko, Victoria akhirnya mengambil keputusan mutlak.

"Tuan Kenta sangat membenci campur tangan dari dunia luar. Oleh karena itu, kita tidak akan mengorek masalah ini. Kita tidak tahu apa-apa. Kalian mengerti?" "Sesuai kehendak Anda, Yang Mulia!" serempak para menteri menjawab.

Berpura-pura tidak tahu adalah langkah paling aman. Victoria sama sekali tidak ingin terseret dalam perebutan kekuasaan Kerajaan Iblis, dan yang terpenting, ia sangat takut memancing amarah Kenta.

"Jadi, Yang Mulia, apakah kita perlu mengirim surat protes kedua ke Kerajaan Iblis?" "Ya, kirimkan. Gunakan namaku sebagai wakil Raja. Jika ini berujung pada perang dengan Kerajaan Iblis, maka biarlah."

Bagi Victoria, amukan Kenta jauh lebih mengerikan daripada perang melawan iblis.

Melihat krisis sedikit mereda, para menteri senior mulai mengutarakan kekhawatiran lain. "Yang Mulia, melihat Kerajaan Iblis yang sedang dilanda krisis suksesi, Anda sebaiknya segera memilih calon suami."

Garis keturunan utama Weimar kini hanya menyisakan Victoria. Para menteri sangat berharap ia segera menikah agar takhta bisa diwariskan dengan aman.

"Hentikan pembahasan ini. Aku tahu ini penting, tapi jika kalian hanya mencari kandidat berdasarkan status dan kekayaan, aku tidak akan pernah mendapatkan pria yang tulus," tolak Victoria tegas. Ia teringat ucapan Kenta: Tidak ada orang baik di antara mereka yang berkuasa di dunia ini. Victoria sepenuhnya setuju.

Tepat ketika Victoria mulai melamun memikirkan adakah pria tulus di luar sana, pintu ruang konferensi mendadak terbuka.

"Permisi, Yang Mulia! Ada laporan darurat!" seorang prajurit masuk dengan wajah kebingungan. "Ada apa? Kau bilang ini darurat, tapi kau tidak terlihat terburu-buru."

Prajurit itu tersenyum canggung, lalu menegakkan punggungnya. "Seseorang yang mengaku sebagai Pemanggil Roh sedang membuat keributan di gerbang istana! Ia menuntut untuk bertemu dengan Anda. Apa yang harus kami lakukan?"

Semua orang di ruangan itu saling berpandangan. "Bagaimana, Yang Mulia? Haruskah kita memanfaatkannya?" usul seorang menteri.

"Aku menolak," jawab Victoria tanpa ragu.

Episode 92: Keajaiban Sihir Jarak Jauh

"Wah... Hah? Gak mungkin, seriusan..."

Ketika Nara kembali dari ladang, ia bergabung dengan Eva yang sedang mengawasi layar proyektor sihir. Tak lama kemudian, ia mulai mengeluarkan suara-suara keheranan.

"Ada apa? Apa ada adegan aneh di layar?" tanyaku. "Mana mungkin aku nonton yang aneh-aneh bareng Eva! Bukan itu. Sesuatu baru saja terjadi persis seperti dugaanku," jawab Nara sambil meringis.

"Jangan bilang Ota nekat mendatangi istana Weimar?" tebakku. Nara mengangguk pasrah. "...Iya, benar."

Ota adalah mantan teman sekelas Nara, jadi wajar jika ia merasa malu melihat kelakuan temannya itu.

"Tingkat kepercayaan dirinya benar-benar mengerikan. Dia pikir dia bisa langsung menuntut bertemu putri raja begitu saja?" kataku tak habis pikir. "Dia mungkin masih mengira dirinya adalah tokoh utama di dunia ini," balas Nara. "Lagi pula, dipanggil ke dunia lain adalah hal yang sangat tidak realistis, wajar jika dia masih terjebak dalam fantasi."

Nara sendiri sudah merasakan pahitnya medan perang di dunia ini. Ia tahu ini bukan kisah pahlawan yang indah. Sayangnya, Ota belum menyadari hal itu.

Aku dan Meileen ikut mendekat untuk melihat layar. "Ck, layarnya terlalu kecil," keluhku.

Aku langsung meretas kode sihir pada alat milik Eva dan memperbesar proyeksi layarnya secara drastis. Di layar, terlihat jelas Ota sedang berteriak-teriak di depan gerbang Kastil Weimar: "Akulah pemanggil roh! Biarkan aku bertemu sang putri!"

"Dia malah terlihat seperti preman murahan," sindirku. "Apakah dia lupa negara mana yang memanggilnya? Admos yang memanggilnya, bukan Weimar."

"Oh, sepertinya tentara Weimar mulai kehilangan kesabaran," potong Eva. Tentara penjaga sudah mulai mengangkat senjata. Weimar kemungkinan besar tahu bahwa Ota telah dibuang oleh Admos karena tidak berguna.

"Hmm... sepertinya membiarkan Ota dihajar tentara Weimar bukan ide yang bagus," gumam Nara, masih memiliki sedikit rasa kasihan pada teman sekelasnya. "...Apa ada yang bisa kau lakukan?"

Aku menatapnya datar. "Kau pikir aku ini robot kucing biru dari masa depan?" Nara langsung membuang muka.

"Baiklah. Aku juga tidak mau nama pemanggil roh makin hancur gara-gara dia. Aku akan menghentikannya," kataku sambil mulai mengutak-atik alat sihirku.

"Ngomong-ngomong, bagaimana caramu menghentikannya? Kau tidak bisa menggunakan sihir dari jarak sejauh ini, kan?" tanya Meileen bingung. Di dunia ini, sihir jarak jauh yang sangat presisi adalah kemustahilan.

"Sihir biasanya dikendalikan lewat mantra dan jarak," jelasku. "Tapi dengan ini... aku tinggal mengumpulkan energi, mengunci koordinat Ota, memilih jenis sihir... lalu menekan tombol ini."

BZZZTT!!

Seketika, kilatan sihir menghantam Ota telak dari langit. Tanpa sempat membela diri, Ota langsung pingsan di tempat.

"Woah! Luar biasa! Seperti yang diharapkan dari Maya-san!" seru Nara kegirangan. Sementara itu, Meileen dan Eva menatap layar dengan wajah pucat dan syok berat.

Meileen menoleh ke arahku dengan ekspresi sangat serius. "Kenta... teknologi ini tidak boleh bocor ke luar. Jika Kerajaan Iblis atau siapa pun mengetahui hal ini, keseimbangan dunia akan hancur total."

"Aku tahu. Tenang saja," jawabku. Jika sihir jarak jauh presisi seperti drone strike ini menyebar, dunia ini akan langsung berubah menjadi neraka.

Di layar, para prajurit Weimar tampak kebingungan mencari asal serangan tersebut, namun karena proyektorku dilapisi sihir penyembunyi kelas tinggi, tak ada yang bisa melacaknya. Meski Victoria mungkin curiga ini adalah ulahku, ia tak akan berani mempermasalahkannya.

Episode 93: Di Bawah Pengawasan

"...Maaf, bisa kau ulangi laporanmu?"

Di ruang konferensi Kastil Weimar, Victoria menatap prajurit pembawa pesan itu dengan tatapan tak percaya.

"Siap! Baru saja, pria yang mengaku sebagai pemanggil roh itu terus membuat keributan. Saat kami hendak meringkusnya dengan paksa, sebuah petir tiba-tiba menyambar pria itu dari langit yang cerah! Dia langsung pingsan, lalu kami membuangnya ke luar ibu kota!" lapor prajurit itu dengan semangat. "Saya yakin itu adalah hukuman dari dewa!"

Victoria terdiam. Hukuman dewa? Ia tahu betul itu bukan ulah dewa.

"Baiklah. Kerja bagus karena telah menyingkirkannya. Kalian boleh pergi," ucap Victoria.

Sepeninggal prajurit itu, atmosfer di ruang konferensi berubah menjadi sangat mencekam. "...Menurut kalian, apa arti semua ini?" tanya Victoria dengan suara bergetar.

"...Ini pasti perbuatan Nona Maya," bisik seorang menteri dengan wajah pucat. "Sudah kuduga! Aku juga berpikir begitu!" seru menteri lain, melupakan semua tata kramanya karena panik.

Victoria memegangi kepalanya, tubuhnya mulai gemetar. "Dari mana dia tahu kejadian di gerbang? Bagaimana dia bisa memantau kita?! Ini sama seperti waktu itu... saat dia tahu tentang rahasia Wimple!"

Trauma itu kembali menghantui Victoria. Suara gemuruh di malam hari, menara yang hancur terbakar, dan ayahnya yang menjadi gila akibat kemurkaan Kenta (Maya).

"...Kita sedang diawasi. Nona Maya mengawasi setiap gerak-gerik kita dari kejauhan," bisik Victoria.

Kepanikan langsung meledak di antara para pejabat elit Weimar. Mereka saling lirik ke sudut-sudut ruangan dengan paranoid. "Apakah... apakah Nona Maya masih marah pada kita?!"

"Tidak! Jika dia masih marah, dia tidak akan sekadar menjatuhkan petir pada pria bodoh itu! Dia malah membantu kita menyingkirkannya! Ini berarti Nona Maya mungkin menaruh hati pada Yang Mulia!" ucap seorang menteri mencoba optimis.

"Jaga bicaramu!" bentak Victoria tajam. "Jangan pernah mengucapkan hal bodoh yang bisa memicu kesalahpahaman! Orang yang tinggal bersama Kenta saat ini sangatlah penting baginya. Jika kau salah bicara... kau akan benar-benar dilenyapkan."

Para menteri langsung mengangguk ketakutan. Victoria menghela napas panjang dan bersandar lemas di kursinya. "...Kenapa dia harus memilih tinggal di negara kita? Wilayah itu sekarang tak ubahnya ladang ranjau," rutuk Victoria hampir menangis.

Di tempat lain, Nara dan Eva yang masih memantau ruang konferensi tersebut merasa kasihan.

"Entah kenapa, aku merasa sangat iba pada Putri Victoria," gumam Nara. "Ya... ini pertama kalinya aku melihatnya serapuh itu. Sebenarnya, apa yang sudah Kenta lakukan sampai mereka sebegitu takutnya pada 'Nona Maya'?" tanya Eva penasaran.

Mereka pun menoleh ke arah Meileen yang sedang bersantai. "Meileen-san, apa kau tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Kenta dan Victoria?"

Mendengar pertanyaan itu, Meileen tersenyum manis. "Oh, itu? Wajar saja mereka ketakutan. Lagipula, Weimar pernah menipu Kenta dan mengkhianati janji mereka, jadi Kenta hanya memberikan sedikit 'hukuman'."

Meileen mengatakannya dengan nada santai, seolah menghancurkan menara dan membuat seorang raja menjadi gila adalah hal yang lumrah. Wajahnya memang tersenyum, tapi matanya memancarkan aura kegilaan yang membekukan darah.

Nara dan Eva menelan ludah. "H-haha... b-begitu ya..."

Hari itu, sebuah fakta mutlak terukir di benak Nara dan Eva: Jangan pernah mencari masalah dengan Meileen.

Episode 94: Rencana yang Berantakan

"Sialan!! Mereka semua bertindak seenaknya sendiri!!"

Di ruang kerja Raja Iblis, Megid mengamuk sejadi-jadinya. Surat protes kedua dari Weimar baru saja tiba. Pada protes pertama, Megid berkilah bahwa itu adalah ulah bangsawan pemberontak dan tidak mewakili kerajaan. Namun, dengan mengabaikan protes tersebut dan tetap menginvasi hutan, Weimar kini punya alasan kuat untuk menganggap Kerajaan Iblis sedang menabuh genderang perang.

Kerajaan Iblis masih belum pulih sepenuhnya dari perang melawan Admos. Membuka front baru melawan Weimar adalah bunuh diri.

"Siput! Bukankah sudah kuperingatkan agar tidak ada yang berani mengganggu Kenta?! Kenapa informasi ini bisa bocor?!" bentak Megid.

Menteri kepercayaannya, Snail (Siput), menunduk hormat dengan tenang meski dalam hati ia merasa tegang. "Kami sudah menyelidikinya, Yang Mulia. Namun, kami tidak dapat menemukan sumber kebocorannya."

"Apa?! Hanya segelintir petinggi yang tahu soal adikku! Cari tahu siapa yang menerima uang suap besar baru-baru ini!" "Tidak ada aliran dana yang mencurigakan, Yang Mulia. Kemungkinan besar... ada pihak yang sengaja memanfaatkan pergerakan kita."

Megid mendecakkan lidah dengan kasar. "Keluarkan dekrit baru! Siapa pun yang memasuki hutan tempat Kenta berada tanpa izin akan dieksekusi di tempat!" perintah Megid. "Dan untuk Weimar... balas bahwa pasukan itu bukan milik kita. Katakan bahwa keberadaan Pemanggil Roh di pihak pasukan tersebut adalah bukti bahwa mereka bukan dari ras iblis."

Snail mengangguk. "Apakah menurut Anda Weimar akan percaya?" "Mereka butuh alasan untuk tidak berperang. Itu sudah cukup," geram Megid.

Megid sangat sadar akan kekuatan Kenta. Menghindari konfrontasi dengan pria itu adalah prioritas utamanya saat ini. "Ngomong-ngomong, surat protes itu menyebutkan soal Pemanggil Roh. Dia muncul di Kastil Weimar, bukan? Tangkap pemanggil itu dan bawa ke hadapanku! Kita akan cari tahu siapa dalang di balik semua ini."

"Sesuai perintah Anda," Snail undur diri.

Namun, di lorong kastil, Snail tersenyum sinis. "Cara bertahan hidup yang menyedihkan... Jika kita menangkapnya hidup-hidup, dia hanya akan merepotkan. Haruskah aku melenyapkannya saja?" batin Snail.

Namun, sebelum operasi penangkapan Ota dimulai, sebuah pengumuman mengejutkan menyebar ke seluruh dunia.

"Kerajaan Admos telah memperbarui kontrak kerja sama dengan Pemanggil Roh, Ota."

Episode 95: Suara Paling Keras yang Akan Dipercaya

"Kenta! Gawat! Terjadi masalah besar!"

Ivern berlari menghampiriku dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi sepulangnya dari kota. Biasanya ia selalu tenang, jadi melihatnya sepanik ini pertanda bahwa ini bukanlah masalah sepele.

"Ada apa? Ini soal Ota?" tebakku. "Iya! Admos baru saja merilis pengumuman bahwa mereka telah memperbarui kontrak dengan Ota!"

Aku menghela napas panjang. "Sial... Dia pasti membeberkan semuanya."

"Benar! Ota membocorkan kepada Admos bahwa Nara masih hidup dan sedang berlindung di sini," jelas Ivern cepat. "Itu pasti karena dia iri pada Nara. Dasar pecundang."

"Bukan cuma itu!" Ivern memotong. "Dia juga menyebarkan rumor bahwa kau menculik Eva! Dan yang lebih parah... kau digambarkan sebagai iblis keji yang memenjarakan mantan putri Kerajaan Iblis, memaksanya melahirkan anakmu, dan merencanakan penaklukan dunia!"

"..."

Aku memijat pelipisku yang mendadak berdenyut. "Seharusnya aku bunuh saja dia saat itu," desisku.

Ini adalah pertama kalinya sejak insiden dengan keluarga kerajaan Lindor aku merasakan hasrat membunuh yang begitu pekat terhadap seseorang dari duniaku sendiri. Niat baikku mengampuni Ota di gerbang istana justru menjadi bumerang telak.

"M-maafkan aku, Maya-san," cicit Nara dengan wajah bersalah. "Jangan minta maaf. Ini bukan salahmu. Ini murni kebodohan Ota," balasku.

Aku menatap Ivern. "Kau dengar berita ini langsung dari para penjaga? Berarti pengumuman ini disebarkan secara publik?" "Benar. Bahkan Kerajaan Iblis pasti sudah mendengarnya. Sialan! Usahaku menemui Raja Iblis jadi sia-sia karena rahasia ini sudah terbongkar!" Ivern mengacak-acak rambutnya frustrasi.

"Lalu bagaimana reaksi Weimar? Mereka pasti merasa tertipu karena kita menyembunyikan identitas Putri Iblis selama dia berkunjung," tanyaku. "Anehnya, rakyat memang terkejut, tapi istana Weimar terlihat sangat tenang dan tidak membesar-besarkan masalah," jawab Ivern.

Tentu saja. Victoria terlalu takut padaku untuk berani protes. Selama mereka diam, Weimar bukan ancaman.

"Masalah utamanya adalah Admos," sela Ivern dengan wajah muram. "Bagi para penguasa dunia ini, keberadaan dua pemanggil roh dan dua mantan putri dari kerajaan besar di satu tempat adalah ancaman yang mengerikan."

Nara menatap kami dengan bingung. "Tunggu, kenapa? Tuduhan Ota itu kan sama sekali tidak berdasar! Bukankah mereka cuma paranoid?"

Aku tersenyum sinis melihat kepolosan Nara. "Nara, sudah pernah kubilang, kan? Orang-orang yang berkuasa di dunia ini adalah sampah. Mereka akan menghancurkan apa pun yang berpotensi mengancam posisi mereka."

Aku menunjuk ke arah kelompok kami. "Dua orang dengan kekuatan pemanggil roh, ditambah dua wanita dengan garis keturunan kerajaan asli. Kau pikir apa yang akan ada di kepala mereka? Mereka pasti berpikir kita akan menggunakan darah kerajaan Eva atau Meileen untuk mendirikan negara baru, lalu menggunakan kekuatan sihir kita untuk menaklukkan dunia."

"T-tapi itu kan cuma klaim sepihak dari Ota! Apa orang-orang akan langsung percaya begitu saja?" bantah Nara.

"Kebenaran tidaklah penting bagi mereka, Nara," jelasku dengan dingin. "Di dunia ini, rakyat biasa sulit mendapatkan informasi. Mereka akan selalu mempercayai suara pertama yang berteriak paling keras—apalagi jika suara itu dilegitimasi oleh pengumuman resmi Kerajaan Admos."

Wajah Nara perlahan memucat saat ia mulai memahami cara kerja politik kotor di dunia ini. Ota telah memberikan alasan sempurna bagi negara-negara yang membenciku untuk bersatu.

"Lalu, apa yang akan terjadi sekarang?" tanya Nara dengan suara bergetar.

"Pertama, Putri Weimar mungkin akan datang ke sini untuk memastikan situasi," ujarku sambil menyilangkan tangan. "Lalu Kerajaan Iblis, yang sudah gagal merahasiakan ini, kemungkinan besar akan mengirim perwakilan resmi. Tentu saja, kita akan menolak mereka mentah-mentah. Tidak ada maaf bagi negara yang mencoba membunuh Meileen."

"Dan... bagaimana dengan Admos?" tanya Nara pelan.

Aku menatap matanya dalam-dalam. "Mengingat kebencian Admos padaku, dan fakta bahwa kau dianggap pengkhianat... aku yakin negara-negara ini akan segera membentuk aliansi militer gabungan untuk melenyapkan kita."

Nara ternganga saking terkejutnya.

Yah, begitulah adanya. Aku tidak mencari masalah, namun masalah yang selalu mengejarku.

Mari kita sambut, "Musuh Dunia, Bab Dua".


PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER

Post a Comment

0 Comments