Episode 86: Misteri yang Akhirnya Terpecahkan
Setelah melewati hutan yang berfungsi sebagai penghalang dan tiba di pintu masuk, aku mendapati diriku berada di tengah situasi yang sangat kacau.
"Dasar bajingan!! Beberapa hari yang lalu kami sudah secara resmi mengajukan protes kepada Negara Iblis!! Kalian mengabaikannya dan malah melakukan tindakan biadab lainnya! Apa ini bukti bahwa kalian sama sekali tidak menghormati negara kami?!"
"Hah? Kenapa penghalang ini tidak hancur?"
"Apa ini saatnya bersikap santai, Ota?! Apa yang sebenarnya ada di otakmu?!"
Wah, Ota sedang dimarahi habis-habisan oleh prajurit Weimar dan para iblis sekaligus.
Kurasa Ota mengira kemampuan sihirnya sudah meningkat drastis, sehingga ia merasa bisa menghancurkan penghalang seperti ini dengan mudah. Sekilas, penghalang ini memang tampak hanya berfungsi untuk membingungkan orang yang masuk ke dalam hutan. Namun, meski efektif untuk mengecoh manusia, penghalang semacam itu pada akhirnya pasti bisa ditembus oleh iblis.
Kenyataannya, beberapa orang yang pernah melihat penghalang ini memang berhasil kembali ke kerajaan iblis dalam keadaan hidup. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi serangan sihir dari para iblis, pihak kerajaan diam-diam telah memasang lapis penghalang tambahan yang juga tahan terhadap serangan sihir.
Tanpa menyadari fakta itu, Ota nekat merapal mantra untuk menghancurkan hutan beserta penghalangnya. Mantranya langsung dipantulkan, dan hanya menghasilkan suara ledakan keras yang bahkan memancing perhatian para penjaga Weimar yang tidak peka terhadap sihir sekalipun.
Tindakan Ota benar-benar sembrono.
Apa dia pikir orang lain tidak punya pemikiran taktis selain dirinya? Padahal, itu adalah hal dasar yang bisa ditebak siapa saja jika mau sedikit berpikir. Sekalipun kita berhasil menembus penghalang itu, suara ledakannya pasti akan membuat para penjaga Weimar menyadari kehadiran kita.
Oh, lihatlah. Para iblis yang datang bersamanya sekarang memegangi kepala mereka dengan frustrasi. Tak lama kemudian, para prajurit Weimar, iblis, dan Ota mulai berdebat sengit.
"Apa-apaan ini? Kalau dari awal aku tidak boleh menggunakan sihir serangan, kalian seharusnya memberitahuku!" seru Ota.
"Sudah kujelaskan sebelumnya, kan?! Kita harus berhati-hati agar tidak ketahuan, karena ada tentara Weimar yang berjaga di sini! Lagipula, seharusnya kau sudah paham situasi tanpa perlu dikasih tahu!!" bentak salah satu iblis.
"Hah? Masa sih kau pernah bilang begitu?" Ota membalas dengan santai.
"K-kau ini benar-benar bajingan..."
Ah, pembuluh darah iblis itu sepertinya akan segera pecah karena emosi. Dia benar-benar tipe sumbu pendek yang bisa meledak kapan saja.
Prajurit Weimar, yang sedari tadi mengamati perdebatan itu, awalnya menatap para iblis dengan simpati. Namun, karena mereka memang menyusup tanpa izin, prajurit itu kembali memasang sikap tegas.
"Mari kita sudahi dulu perdebatan kalian. Kalian telah mengabaikan peringatan negara kami, menerobos masuk, dan melakukan perusakan. Tentu saja, kami akan menangkap kalian!"
Saat prajurit Weimar mulai mengepung, para iblis langsung memasang kuda-kuda bersiap bertarung. Anehnya, Ota tetap tenang. Mereka pasti sangat percaya diri. Bahkan, mungkin saja tentara Weimar memang tidak akan mampu menangkap Ota.
Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?
Saat aku sedang mempertimbangkan langkah selanjutnya, Ota mulai berbicara dengan seringai sombong di wajahnya.
"Hah. Apa kalian benar-benar berpikir bisa mengalahkanku? Jangan melakukan hal yang sia-sia; serahkan saja putri kerajaan iblis itu dengan tenang."
"Hah? Apa maksudmu?" prajurit Weimar kebingungan.
Aku merasa darahku mendidih mendengar ucapan Ota.
Para tentara Weimar tampak kebingungan karena mereka sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan Ota. Orang-orang itu—atau lebih tepatnya, sang putri Weimar sendiri—belum diberitahu bahwa Meileen ada di sini. Wajar saja jika mereka bingung.
Namun, Ota sepertinya mengira para prajurit itu hanya pura-pura bodoh. Dia mengangkat bahu dan mendengus, "Oh, astaga."
Segala sesuatu yang Ota katakan dan lakukan benar-benar membuatku kesal.
"Kalian tidak perlu pura-pura bodoh," lanjut Ota. "Aku tahu ada putri dari kerajaan iblis di sini. Jika kalian menyerahkannya dengan tenang, kalian tidak perlu mati sia-sia, dan aku tidak perlu membunuh siapa pun tanpa alasan. Ini situasi yang menguntungkan semua pihak, bukan?"
Ini sama sekali bukan situasi yang saling menguntungkan. Itu murni sebuah ancaman.
Lagipula, karena tentara Weimar benar-benar tidak tahu soal keberadaan Meileen, kesepakatan ini mustahil terjadi. Ota sepertinya tidak peka terhadap kebingungan di wajah mereka. Dia memang sangat kurang berempati.
"Alasan kalian menyembunyikan putri itu karena kalian diancam oleh pemanggil sebelumnya, kan? Tenang saja, aku bisa mengalahkannya. Kalian bisa bebas dari kendali pemanggil itu."
"..."
Aku bisa melihat para prajurit Weimar mulai goyah mendengar kata-kata itu.
Ugh, sudahlah. Tepat saat aku hendak melangkah maju, suara Ota kembali terdengar.
"Jika aku menyelamatkan putri iblis itu dan menikahinya, aku akan memberikan perhatian lebih pada Weimar. Oh ya, Weimar juga punya putri, kan? Aku akan menikahinya juga."
"!!??"
Oh tidak, ini makin parah. Pria ini benar-benar ancaman. Dia sama sekali tidak sadar betapa menjijikkannya ucapannya, dan dia tidak menyadari bahwa kata-katanya baru saja memancing amarah para tentara Weimar.
Dan pada saat itulah...
"Jadi... ahhh!??"
Mereka bahkan tidak menyadari bahwa aku telah kehilangan kesabaran dan merapal mantra.
"A-apa yang terjadi!?"
Ota, yang terselamatkan oleh penghalang sihir dari iblis lain yang menyadari seranganku, menatapku dengan kaki gemetar.
"Hai. Senang bertemu denganmu, wahai pahlawan yang salah paham," sapaku.
Saat aku memperkenalkan diri dan muncul dari balik bayangan, Ota tersentak. Dia menggumam pelan, "H-Hah..."
Namun, dengan cepat ia menguasai diri, berdiri tegak, dan menatapku dengan tatapan mengejek.
"Kukira siapa, ternyata seniorku yang sudah terjerumus ke jalan yang salah."
"Terjerumus? Siapa yang kau maksud?" tanyaku. Aku sama sekali tidak merasa pernah melakukan hal semacam itu.
Ota mulai tertawa dengan gaya yang sangat berlebihan. "Heh heh heh. Ahahaha. Kau masih bersikeras belum jatuh ke sisi gelap setelah melakukan pembantaian seperti itu? Senpai, ini sudah masuk kategori parah."
Melihat Ota menyeringai, aku langsung mengerti jalan pikirannya.
"Begitu ya. Kau ini tipe orang yang menelan mentah-mentah rumor dan menganggap kebohongan sebagai fakta."
"Hah!? Apa maksudmu!?" Seringai Ota lenyap, digantikan oleh wajah merah padam menahan marah.
"Kau adalah tipe orang yang mudah ditipu oleh berita hoaks di internet, bahkan saat masih di dunia asal kita. Yang lebih parah, kau adalah orang merepotkan yang menyerang orang tak bersalah hanya karena kau yakin berita palsu itu adalah kebenaran."
"Apa?! Jangan samakan aku dengan orang-orang rendahan itu!!"
"Hah? Itu sama saja. Tidak ada satu pun kebenaran dari semua ucapanmu tadi."
Mendengar seranganku, ekspresi marah Ota tiba-tiba berubah, dan dia kembali menyeringai.
"Ya, ya. Kau pasti berbohong. Kau mati-matian berusaha menyangkalnya karena kau takut aku akan merebut putrimu, kan? Hahaha, menyedihkan sekali!"
Tawanya membuat wajah Ota terlihat sangat jelek. Bahkan tentara Weimar dan para iblis yang bersamanya tampak muak melihat tingkahnya.
"Cukup omong kosongnya. Serahkan putri itu sekarang juga! Jelas lebih baik dia bersamaku daripada dengan penjahat sepertimu," desak Ota dengan angkuh.
Karena dia begitu percaya diri, aku memutuskan untuk memukulnya dengan kenyataan yang kejam.
"Oh, ngomong-ngomong, ada satu hal yang kau katakan dengan benar. Memang benar ada seorang putri iblis di sini."
"Haha! Akhirnya kau menyerah!"
"Tapi, sudah tiga tahun sejak kita datang ke dunia ini, kan? Menurutmu, apa yang terjadi ketika seorang pria dan seorang wanita dengan usia yang sepantar menghabiskan waktu bertahun-tahun hidup bersama?"
"!?"
Aku bisa melihat raut wajah Ota menegang. Seharusnya dia sudah bisa menebaknya.
"Sayang sekali tidak ada ponsel pintar di dunia ini. Padahal aku sangat ingin memperlihatkan fotonya padamu," ucapku sambil memberikan senyum licik. "Anakku... yang setiap hari memanggilku 'Papa, Papa' dan selalu manja padaku."
Seketika, wajah Ota berubah dipenuhi rasa jijik yang luar biasa.
"Kau!! Kau merusak sang putri!? Padahal itu adalah niatku!!" Ota meneriakkan sesuatu yang sangat menjijikkan.
Para prajurit Weimar menatap kami dengan ekspresi tak percaya, sementara para iblis saling berbisik, "Sudah kuduga." Sepertinya ini adalah kebocoran informasi yang cukup fatal.
Tetapi...
"Haha. Kau akhirnya menunjukkan sifat aslimu. Jadi, menurutmu kenapa aku memberitahumu rahasia ini sekarang?" tanyaku.
"Apa?! Mana aku tahu!!" Ota berteriak, tak mampu menutupi rasa frustrasinya.
"Baiklah, akan kuberitahu."
Ada satu klise yang selalu membuatku penasaran dalam cerita fiksi: Mengapa seorang penjahat selalu membongkar semua rahasianya di akhir cerita?
Kini, melihat ekspresi terkejut dan frustrasi Ota saat kuberitahu kenyataannya, misteri itu akhirnya terpecahkan.
Rasanya ternyata sangat memuaskan.
"Anggap saja ini sebagai hadiah perpisahan sebelum kau ke alam baka."
Nah, haruskah kita membasmi hama-hama ini sekarang?
Episode 87: Rahasia yang Tak Akan Pernah Kubocorkan
"Ha, haha! Aku tak pernah menyangka kau berniat mengalahkanku, Senpai!!"
Meski sempat terguncang oleh kata-kataku, entah kenapa Ota kembali memasang wajah menantang dan meremehkan. Aku benar-benar terkejut melihat kebodohannya, tetapi aku memutuskan untuk meladeninya sebentar.
"Izinkan aku bertanya: kenapa kau begitu yakin bisa mengalahkanku?"
"Ha! Itu sudah jelas, kan? Karena aku jenius!"
"Hmm. Benarkah begitu?"
Aku melirik ke arah para iblis di belakangnya, dan mereka semua tampak frustrasi. Sesuai dugaanku, Ota hanyalah pion yang dimanipulasi dengan pujian palsu.
Namun, Ota salah mengartikan pandanganku. Dia mengira aku akhirnya mengakui kehebatannya. Dengan bangga, dia membusungkan dada. "Lihat! Bahkan para iblis pun mengakui bahwa aku jenius! Tidak mungkin seorang jenius sepertiku bisa kalah!!"
"Haa... Kau sungguh bodoh dan naif," keluhku sambil menghela napas.
"Hah?! Apa katamu!?" Ota memang tipe yang mudah terpancing emosinya. Sedikit saja provokasi sudah cukup membuatnya meledak.
"Alasan mereka menyebutmu 'jenius' semata-mata karena kau memiliki hak istimewa sebagai seorang pemanggil."
"Lalu kenapa?! Apa pun alasannya, jika itu kekuatan yang kumiliki, berarti itu adalah kekuatanku sendiri!"
"Bukan itu maksudku. Apa kau benar-benar berpikir bahwa di dunia ini, hanya kau satu-satunya orang yang memiliki keistimewaan sebagai pemanggil?"
"A-apa...?"
Ah, kurasa aku terlalu sibuk dengan perkembanganku sendiri sampai-sampai aku hampir melupakan fakta penting ini.
"Jika kau menyebutnya sebagai keistimewaan pemanggil..." ujarku sambil mengumpulkan sihirku dan membentuknya menjadi formula yang kuat. "Aku juga memilikinya."
"Ah..." Mulut Ota ternganga, reaksinya persis seperti karakter figuran yang ketakutan di anime jadul.
Tunggu sebentar, dengan dialog barusan, bukankah aku jadi terdengar seperti penjahat sungguhan? Ah sudahlah, masa bodoh.
"Karena kau sudah tahu rahasiaku, kau harus mati di sini."
Tepat saat aku bersiap melepaskan sihirku, salah satu iblis berteriak panik. "T-tunggu!! Kau akan menyesal jika membunuh kami sekarang!!"
"Hah? Kenapa?"
"Akan kukatakan yang sebenarnya! Kami di sini cuma sebagai pengalih perhatian! Pasukan utama kami ada di tempat lain!"
"Hah?! Apa maksudmu?!" Bukan aku yang terkejut, melainkan Ota.
Dia bahkan tidak diberi tahu soal rencana itu? Begitu menyedihkannya kau, Ota, sampai rekan iblismu sendiri tidak memercayaimu.
Iblis itu melanjutkan dengan napas terengah-engah, "Saat kita bertarung di sini, pasukan utama kami sedang menganalisis penghalang pelindung di rumahmu dan mereka sudah berhasil menembusnya! Aku bisa menghentikan mereka, jadi lepaskan kami!"
"Oh, benarkah? Bagaimana caramu menghentikan mereka dari jarak sejauh ini?" tantangku santai.
"I-itu..." Iblis itu tergagap. Jelas sekali itu hanya ancaman kosong di tengah keputusasaan. Sejauh yang kutahu, belum ada seorang pun di dunia ini yang mampu menggunakan sihir komunikasi jarak jauh sepertiku.
Merasakan ketenanganku, Ota mencoba mencari celah. "Hei, hei. Ada pasukan lain yang sedang menggerebek rumahmu sekarang, kan? Kenapa kau santai sekali?!"
Hanya itu yang bisa dia pikirkan?
"Ya, aku sudah tahu ada unit lain yang bergerak ke sana."
"Apa?! Dan kau membiarkan mereka?! Kau ini benar-benar tidak punya perasaan pada putri itu, kan?! Kalau begitu serahkan dia padaku!!" Ota masih saja dikuasai hasrat mesumnya. Dia benar-benar tak tertolong.
"Jangan salah paham. Aku tidak perlu khawatir," tegasku. "Ada seseorang di sana yang jauh lebih kupercayai daripada siapa pun."
Tentu saja aku tidak akan mengatakannya langsung pada orang di rumah, nanti dia malah jadi besar kepala.
"Jadi... matilah dengan tenang."
"T-tunggu...!"
Tanpa memberikan kesempatan pada Ota atau para iblis itu untuk menyelesaikan kalimat mereka, aku melepaskan mantraku. Ledakan sihir menyapu mereka, menciptakan gelombang kejut hebat yang mengubah lanskap di pintu masuk hutan itu.
Aku menyebarkan jaring sihir pelacak ke sekitar area tersebut. Ada satu reaksi sihir yang tersisa, namun kurasa itu bukan ancaman berarti. Aku pun berbalik menghadap para tentara Weimar.
"Hic..." salah satu prajurit menelan ludah ketakutan.
"Jadi, apa yang kalian dengar barusan adalah rahasia, mengerti?" ucapku dengan senyuman ramah.
Wajah para prajurit Weimar seketika pucat pasi, dan mereka mengangguk serempak dengan penuh semangat. Kurasa mereka sudah paham. Tapi untuk berjaga-jaga, aku menambahkan satu peringatan kecil.
"Kalian boleh melaporkan tentang kedatangan pasukan iblis dan bagaimana aku mengalahkan mereka. Tapi... jika kalian sampai membocorkan pembicaraanku tadi, atau melapor pada Putri Weimar... kalian tahu akibatnya, kan?"
Mereka mengangguk semakin cepat. Ancaman seperti ini sudah lebih dari cukup.
Baiklah, urusan di sini sudah beres. Sekarang, bagaimana keadaan di rumah?
Episode 88: Murid yang Mirip Gurunya
◆◆◆
"Hah? Kenta sudah sampai di pintu masuk hutan, tapi dia belum bertarung dengan Ota dan kelompoknya. Apa yang sebenarnya dia lakukan?" gumam Nara.
Setelah Kenta pergi ke perbatasan hutan, Nara tetap berjaga di rumah dan memantau situasi bersama Meileen.
"Benarkah? Kira-kira ada apa ya?" Meileen mengangkat Leon, yang sedari tadi memeluk kakinya, dan memiringkan kepalanya dengan bingung. "Ah, sepertinya ada energi sihir kecil yang berkumpul... Tentara dari Weimar pasti sudah tiba. Apa mereka datang untuk mengecek lokasi?"
"Tentu saja. Jika Ota melepaskan sihir sebesar itu, suaranya pasti sangat keras. Manusia biasa pun akan menyadarinya," jawab Nara. "Serius, apa sih yang dipikirkan orang itu?"
Saat mereka sedang mengobrol, Yulia yang duduk santai sambil memangku Aira menyahut dengan iri, "Kalian berdua enak sekali ya. Kami ini manusia biasa yang tidak bisa merasakan sihir, jadi kami sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana."
Melihat Yulia cemberut, Meileen hanya bisa tersenyum kecut.
Tiba-tiba, terjadi lonjakan energi magis. Nara dan Meileen tersentak di saat yang bersamaan.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Yulia panik.
"Aku juga ingin tahu!" sahut Eva. Mantan putri itu kini tengah hamil besar, kesehatannya telah stabil, dan ia duduk di sebelah Yulia dengan penuh rasa penasaran.
Nara menjawab dengan raut wajah sedikit tegang, "Ah, ya. Kenta akhirnya bergerak. Tapi... dia malah melepaskan sihir serangan mematikan tepat saat mendekati Ota."
"Eh, ya ampun..." Eva meringis membayangkan kelakuan Kenta yang terkadang di luar nalar.
"Kalau Kenta sampai bertindak sejauh itu, pria bernama Ota itu pasti sudah mengatakan sesuatu yang sangat menyinggung perasaannya, kan?" Ivern yang berdiri di dekat Yulia ikut beropini. Ia sangat tahu bahwa Kenta tidak akan menyerang tanpa alasan yang jelas.
"Kurasa begitu. Tapi kira-kira apa yang membuatnya begitu marah?" gumam Nara.
Sontak, seluruh mata—termasuk Nara—langsung tertuju pada Meileen. Tatapan mereka seolah berkata: Sudah pasti gara-gara kau.
"Satu-satunya hal yang bisa membuat Kenta semarah itu hanyalah sesuatu yang menyangkut Meileen, kan?" tebak Nara, yang langsung diangguki oleh Eva dan Yulia.
"Jangan-jangan ini gara-gara kita..." Ivern bergumam cemas.
"Tidak mungkin," potong Nara cepat. "Aku yakin seratus persen, bahkan jika kita semua mati dibantai, Kenta hanya akan menatap datar dan berkata, 'Yah, mau bagaimana lagi.'"
"...Benar juga. Sayangnya, hanya adegan seperti itu yang bisa kubayangkan," balas Ivern sambil tersenyum pasrah, menyadari kenyataan pahit itu.
"Meski begitu, apa yang dikatakan Ota sampai membuat Kenta murka? Apa jangan-jangan Ota bilang dia ingin menjadikan Meileen miliknya?" tebak Nara.
"Kalau begitu, wajar saja Kenta marah. Bagaimanapun juga, Kenta sangat mencintaiku," ucap Meileen santai.
"Haha, iya, benar," balas Nara canggung. Ia sedikit terkejut melihat Meileen bisa mengucapkan hal semanis itu dengan wajah tanpa dosa, tapi karena itu adalah fakta, ia hanya bisa tersenyum simpul.
Sambil terus memantau, ekspresi Nara dan Meileen kembali menegang secara serentak.
"Ada apa lagi?" Ivern yang menyadari perubahan suasana langsung bertanya.
Nara menjawab dengan rahang mengeras, "...Satu unit pasukan iblis lain baru saja muncul. Mereka bersentuhan dengan penghalang hutan... Ah! Mereka baru saja menerobos masuk!"
"Astaga... padahal penghalang itu tidak bisa ditembus semudah itu..." gumam Ivern.
"Kau ingat unit intelijen dan para bangsawan iblis yang datang beberapa hari lalu? Mereka sempat memeriksa penghalang itu dua kali. Jika mereka mencatat formula sihirnya saat itu, dengan waktu sebanyak ini mereka pasti sudah menemukan cara meretasnya."
"Itu satu-satunya penjelasan logis," Nara menyetujui analisis Meileen. "Tapi yang lebih penting, apa yang sedang dilakukan Kenta? Dia pasti merasakan kehadiran pasukan ini, tapi kenapa dia tidak bergerak kembali kemari?"
Nara tahu betul Kenta tidak akan membiarkan ada ancaman yang mendekati Meileen. Namun anehnya, Kenta seolah diam saja di tempatnya. Sementara Nara merasa curiga, Meileen justru terkikik pelan.
"A-apa yang lucu?" tanya Nara bingung.
"Tidak, aku hanya berpikir... Kenta pasti sangat memercayaimu."
"Apa?"
"Kenta mempercayakan rumah ini padamu, kan? Dia yakin kau bisa mengurus semuanya di sini."
Nara terdiam. Perkataan Meileen benar-benar menampar egonya dengan cara yang positif.
"Benarkah begitu?"
"Tentu saja. Karena itulah dia tidak kembali."
Meileen menghentikan pembicaraannya dan menatap tajam ke arah hutan. "Lakukan yang terbaik, Nara."
Dari celah pepohonan, beberapa sosok iblis muncul dan berjalan mendekat.
Mendengar bahwa Kenta memercayainya, Nara berusaha keras menahan senyum bangganya. Ia mengatur ekspresinya menjadi dingin dan melangkah maju menghadang para penyusup.
"Ini adalah properti pribadi. Memasuki area ini tanpa izin adalah pelanggaran. Apa urusan kalian di sini?"
Mungkin karena tertular kebiasaan Kenta, gaya bicara Nara terdengar sangat meremehkan lawan.
Para iblis yang baru tiba itu tampak kebingungan. Berdasarkan informasi yang mereka terima, seharusnya hanya ada Meileen dan pelayannya (Mona) di rumah ini. Fakta bahwa ada banyak manusia di sana merusak rencana mereka.
Lalu, saat pandangan sang komandan iblis jatuh pada Leon yang sedang digendong Meileen, wajahnya berkerut jijik.
"Sudah kuduga... skenario terburuk benar-benar telah terjadi."
Gumamannya terdengar jelas oleh Nara yang berdiri tak jauh darinya.
"Skenario terburuk? Apa yang kau bicarakan?" tanya Nara tajam.
Para iblis itu menatap Nara dengan pandangan merendahkan, menganggapnya tak lebih dari bocah manusia bodoh yang tak tahu apa-apa.
"Hmph. Aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskan apa pun pada bocah sepertimu," decih salah satu iblis. "Lebih penting lagi, apa hubunganmu dengan pria itu?!"
"Kau mengabaikan pertanyaanku, tapi malah balik bertanya? Kau pikir kau siapa? Apa kau bodoh?"
Mungkin ini juga kebiasaan Kenta yang secara tidak sadar ditiru oleh Nara—ia membalas provokasi itu dengan sangat pedas. Para iblis yang tidak menyangka akan dibantah oleh seorang manusia langsung naik pitam.
"Dasar bocah kurang ajar...! Aku akan mengampuni nyawamu kali ini. Cepat jawab pertanyaanku dengan ngoceh!"
Nara menghela napas panjang, merasa muak dengan arogansi para iblis itu. "Dulu aku sering dengar pepatah bahwa ada banyak orang bodoh dan jahat di dunia ini... Ternyata pepatah itu benar adanya."
"Apa kau bilang?!"
Para iblis nyaris menyerang, tetapi tiba-tiba mereka menghentikan langkah. Mereka merasakan sesuatu yang janggal dari kejauhan.
"Ups. Kukira kau datang untuk menyelamatkan Ota, ternyata kau malah membawa dirimu sendiri ke liang lahat." Nara menyeringai sinis.
Para iblis itu baru saja menyadari bahwa pasukan utama mereka yang menjadi pengalih perhatian (kelompok Ota) telah musnah oleh sihir raksasa.
"Kita tidak punya waktu meladeni omong kosong anak ini! Ayo cepat selesaikan misi kita!" teriak sang komandan.
Saat mereka mencoba menerobos maju, Nara melepaskan aura sihirnya yang sangat besar, menghentikan langkah mereka seketika.
"Misi kalian? Kalian tidak benar-benar berpikir bisa menculik Meileen dari sini, kan?"
"Hah?! S-sihir macam apa ini...?" iblis itu gemetar.
"Jawab pertanyaanku. Apa tujuan kalian ke sini untuk menculik Meileen, atau untuk membunuhnya?" desak Nara.
Para iblis tak mampu menjawab. Kesunyian mereka sudah mengonfirmasi niat buruk mereka.
Nara menghela napas lelah. "Hmph, kalau kalian sampai menyentuhnya, Kerajaan Iblis akan lenyap dari peta besok pagi. Kalian tahu itu, kan?"
"Berhenti banyak bicara!! Memang begini cara kami bertindak! Kau tahu apa soal urusan kami?!" balas si iblis dengan putus asa.
Nara hanya mendengus. "Ha, aku tidak peduli soal urusan kalian. Yang jelas, jika rencana kalian berhasil, posisiku di mata Kerajaan Iblis (dan di mata Kenta) akan terancam. Jadi, untuk saat ini..."
Sambil berbicara, Nara mengubah kekuatan sihirnya yang meluap-luap menjadi sebuah formula kompleks.
"Aku telah memastikan keselamatan Meileen dan Leon, dan sekarang bagian kalian berdua..."
Nara mengangkat tangannya dan merapal mantera singkat.
"Singkirkan."
"A-apa yang—"
Kalimat para iblis itu terputus selamanya. Tubuh mereka menguap tak bersisa, hancur lebur diterjang gelombang kejut murni dari sihir milik Nara.
Setelah memastikan tidak ada jejak sihir musuh yang tersisa di area tersebut, Nara menurunkan tangannya.
"Fiuh, syukurlah. Kalau begini, kurasa Kenta tidak akan memukuliku karena gagal menjaga rumah."
Saat ia berjalan kembali ke arah kelompoknya, Meileen menyambutnya sambil tersenyum hangat, masih dengan Leon di pelukannya.
"Kerja bagus, Nara. Kau benar-benar membuktikan bahwa kepercayaan Kenta padamu tidak salah."
"Ah, itu bukan masalah besar," balas Nara merendah.
"Oh! Oh!" Leon bersorak riang dan mengulurkan kedua tangan mungilnya ke arah Nara.
"Wah, Leon tidak takut padaku?" goda Nara.
"Suka!" celoteh Leon.
"Hahaha, begitu ya," Nara mengacak-acak rambut Leon dengan gemas, membuat anak itu terkikik kegirangan.
Lalu, Eva berlari menghampirinya dengan raut wajah khawatir.
"Nara-sama! Apa kau baik-baik saja?!" serunya panik.
"Aku tidak apa-apa, Eva. Kau lihat sendiri kan? Semuanya sudah aman."
"Bukan itu maksudku!" bantah Eva dengan mata berkaca-kaca. "Bagaimana mungkin seseorang yang baru saja membunuh bisa baik-baik saja secara mental..."
Mendengar itu, Nara tersenyum kecut dan bergumam pelan, "Ah."
"Sayangnya, aku sudah terlalu sering membunuh. Jadi sekarang... aku tidak merasakan apa pun lagi."
"A-ah..." Eva tertegun.
Kata-kata Nara langsung mengingatkan Eva pada masa lalu yang kelam, saat Nara dipanggil oleh Kerajaan Admos untuk berperang melawan iblis. Saat itu, Nara yang telah mencabut begitu banyak nyawa di medan perang mengalami trauma psikologis yang parah. Dan Eva-lah yang pertama kali menemani dan menenangkannya di masa-masa kehancuran mental itu.
"Apa kau takut padaku sekarang? Karena aku bisa membunuh orang dengan ekspresi datar seperti tadi?" tanya Nara pelan.
Eva menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak! Tentu saja tidak! Ayahkulah (Raja Admos) yang mengubahmu menjadi seperti ini! Negara kamilah pelakunya! Seharusnya aku yang merasa bersalah padamu, bukan malah takut!!"
Sambil menangis, Eva memeluk Nara erat-erat.
"Maafkan aku... Seharusnya aku yang mengatakan ini: tolong jangan benci aku..." isaknya.
"Dasar bodoh, mana mungkin aku membencimu," bisik Nara lembut sambil membalas pelukannya.
"Nara-sama..."
Suasana seketika menjadi romantis. Wajah mereka semakin mendekat, bibir mereka nyaris bersentuhan...
"Hah? Kalian sedang apa?"
Suara datar Kenta yang baru saja kembali dari hutan langsung menghancurkan momen itu. Keduanya terlonjak mundur karena kaget.
Melihat kepanikan Nara dan Eva, Yulia dan Ivern meledak dalam tawa, sementara Meileen hanya bisa menutupi mulutnya menahan kekehan.
"Kalian ini bertingkah apa sih?" tegur Kenta sambil mengerutkan kening karena tidak paham situasinya.
Meileen berjalan menghampiri suaminya dan menepuk bahunya lembut. "Namanya juga anak muda. Biarkan saja mereka."
Kenta masih terlihat kebingungan, tetapi melihat semua orang di rumahnya aman dan tertawa, ia menghela napas lega.
Episode 89: Pria yang Tersesat dalam Keputusasaan
◆◆◆
"Hah... hah..."
Seorang pemuda merangkak dengan susah payah menembus semak-semak hutan. Tubuhnya dipenuhi luka gores, sementara pakaiannya robek dan berlumuran tanah. Sekilas, ia tampak seperti korban kecelakaan yang parah.
"A-apa-apaan ini?! Ini konyol! Bukankah seharusnya aku adalah tokoh utama yang jenius dan tak terkalahkan?!"
Pemuda itu adalah Ota. Ia berhasil selamat dari ledakan sihir mematikan yang dilepaskan Kenta.
Saat Kenta merapal mantranya, naluri Ota merasakan bahaya besar. Ia segera mengerahkan seluruh sisa kekuatan sihirnya untuk menciptakan penghalang mutlak, yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya. Kewaspadaan ekstrem ini adalah hasil dari kehidupannya di Jepang, di mana ia selalu bersikap paranoid terhadap orang-orang yang bersikap sinis seperti Kenta.
Kenta, di sisi lain, sebenarnya tahu bahwa Ota selamat. Namun, karena mereka berasal dari kota asal yang sama, dan mengingat kemungkinan bahwa Ota hanyalah korban manipulasi iblis, Kenta memutuskan untuk melepaskannya dengan harapan satu pukulan telak itu sudah cukup memberinya pelajaran.
Tanpa menyadari belas kasihan tersebut, Ota terus berlari sempoyongan menjauh dari lokasi kejadian. Pikirannya berkecamuk.
Di dunia ini, Ota tidak pernah mendapat bimbingan sihir yang layak dari manusia, sehingga ia dicap sebagai produk gagal dan diusir dari kerajaan manusia. Namun, takdir membawanya pada iblis yang mengajarinya sihir kuno. Perkembangannya sangat pesat, jauh melebihi manusia mana pun di dunia ini.
Narasi semacam ini adalah kiasan favorit Ota: "Aku dibuang karena dianggap tak berguna, tapi ternyata akulah yang terkuat."
Para iblis yang awalnya meremehkannya perlahan-lahan mulai memujanya sebagai seorang "jenius". Hal ini membuat ego Ota membengkak. Ia sangat yakin bahwa dunia ini diciptakan khusus untuknya, dan ia adalah sang pahlawan sejati.
Namun, beberapa saat yang lalu, realitas menamparnya dengan sangat keras.
"Sialan... Semua orang telah mempermainkanku..." rutuknya.
Ota tidak pernah menyangka bahwa Kenta ternyata jauh lebih kuat darinya. Mengapa ia bisa salah perhitungan sejauh itu? Jawabannya ada pada Nara—teman sekelasnya yang dipanggil bersamanya—dan para iblis yang menjadi instrukturnya.
Dulu, saat masih di Kerajaan Admos, Nara sama sekali tidak bisa menggunakan sihir (hanya kemampuan fisiknya yang meningkat drastis). Ketika Ota belajar sihir dari iblis, ia membandingkan kekuatannya dengan "Nara di masa lalu" dan merasa sudah melampauinya jauh. Jika Ota bertarung melawan Nara versi lama, Ota pasti menang telak.
Selain itu, iblis instrukturnya yang mengaku pernah bertarung melawan Kenta terus-menerus menyanjung Ota. Iblis itu memuji bahwa sihir Ota jauh lebih mengerikan dari apa pun yang pernah Kenta tunjukkan. Pujian dari "saksi mata" itu membuat Ota semakin yakin bahwa potensinya melampaui Nara, dan bahkan telah melampaui kemampuan si pemanggil asli (Kenta).
Namun kini Ota sadar. Semua pujian dan ilusi tentang "kejeniusannya" hanyalah taktik murahan para iblis untuk menjadikannya umpan sekali pakai saat berhadapan dengan Kenta.
"Dasar iblis keparat... Aku tak akan pernah memaafkan kalian..." desisnya.
Keterkejutan Ota atas pengkhianatan ini begitu besar, sampai-sampai ia lupa melampiaskan kemarahannya pada Kenta.
Sambil terus berjalan tertatih-tatih, Ota melihat cahaya terang dari ujung pepohonan. Ada area terbuka di depannya. Akhirnya ia bisa keluar dari hutan iblis ini.
Namun, pemandangan yang tersaji di area terbuka itu membuat Ota mematung tak percaya.
"Hah?! N... Nara?!"
Matanya terbelalak menatap sosok Nara, teman sekelas yang selama ini diberitakan tewas dalam pertempuran melawan Kenta.
Sesaat, Ota mengira ia sedang melihat hantu. Namun, kejutan yang lebih besar datang saat ia melihat wanita yang berdiri mesra di sisi Nara.
"Oh, tunggu... bukankah itu Putri Evangeline?!"
Ota sangat mengenali sosok itu. Ia adalah Putri Evangeline dari Kerajaan Admos, negara tempat Ota pertama kali dipanggil. Ota pernah mendengar rumor bahwa sang putri menghilang dari istana, namun tidak ada berita bahwa ia telah mati.
Ia ingat bahwa dulu Nara dan Putri Evangeline memang sangat dekat. Dan sekarang, melihat perut sang putri yang membuncit karena hamil besar, semua teka-teki itu terjawab.
Nara memalsukan kematiannya sendiri, melarikan diri ke sini, dan membawa lari Putri Kerajaan Admos. Fakta bahwa Evangeline hamil membuktikan bahwa mereka berdua saling mencintai dan telah menjalin hubungan intim.
Aku hanya bisa menghabiskan malam dengan wanita bayaran, tapi kenapa Nara malah bisa bersama putri kerajaan?!
Rasa cemburu yang luar biasa membakar dada Ota.
Tiba-tiba, suara tawa riang mengalihkan perhatiannya. Di sisi lain halaman, Kenta berdiri bersama orang-orang yang tidak Ota kenal. Di samping Kenta, berdiri seorang wanita cantik luar biasa yang tampak seperti jelmaan peri kegelapan.
Itulah putri dari kerajaan iblis.
Pesona Meileen membuat Ota terpana, terhipnotis sesaat, sebelum akhirnya hatinya kembali hancur berkeping-keping. Rumor tentang kecantikan sang putri iblis sama sekali tidak berlebihan. Ia melihat Kenta dan Meileen tertawa bahagia, bermain dengan anak laki-laki kecil di antara mereka.
Kenta tidak berbohong. Ia memang memiliki keluarga bahagia.
Pemandangan di hadapan Ota menampilkan kebahagiaan yang sangat tulus, sesuatu yang tak pernah sedikit pun Ota rasakan.
Nara dan Kenta. Keduanya sama-sama pemanggil sepertinya. Keduanya sama-sama mendapatkan putri kerajaan yang cantik dan hidup bahagia. Lalu, mengapa hanya dirinya yang bernasib menyedihkan?
"Ini tidak adil..."
Ota menggertakkan giginya dengan kebencian yang mendalam. Ia membalikkan badan dan berlari kembali menembus lebatnya hutan.
"Sialan... sialan!! Aku juga akan menikahi seorang putri! Aku pasti akan mendapatkan putri kerajaanku sendiri!!" jeritnya putus asa di tengah pelarian.
Namun, ia sama sekali tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasinya dari kejauhan.
Episode 90: Aku Paham Kenapa Kalian Suka Mainan Baru
"Yah, dia sudah pergi. Padahal aku sempat berpikir, jika dia mau merenungkan kesalahannya dan meminta maaf, kita mungkin masih bisa menerimanya bergabung di sini."
Ota memang sempat berdiri terpaku menatap kami dari batas hutan, tetapi setelah beberapa saat, ia tiba-tiba berbalik dan berlari pergi sambil meneriakkan sesuatu yang tak jelas.
Alasan Ota bisa sampai sejauh itu adalah karena aku sengaja belum memasang kembali penghalang sihir yang telah dihancurkan oleh iblis-iblis bawahannya tadi.
Meski aku sama sekali tidak mentolerir siapa pun yang berani mengincar Meileen, bagaimanapun juga, Ota berasal dari Jepang, sama sepertiku. Kami sepakat untuk memberinya satu kesempatan. Kami berharap dengan membiarkannya pergi dan menunjukkan kehidupan damai kami di sini, Ota akan sadar, bertobat, dan mungkin tertarik untuk bergabung ke komunitas kecil kami.
Tapi sayangnya...
"Aku benar-benar malu kalau ada orang yang tahu usiaku sama dengan pria itu..." keluh Nara. Wajahnya memerah karena campuran rasa marah dan rasa malu melihat tingkah laku Ota yang murni digerakkan oleh nafsu dan kecemburuan.
Wajar saja Nara merasa begitu. Dia adalah teman sekelas Ota dan dipanggil ke dunia ini bersamanya. Keberadaan Ota kini menjadi beban moral tersendiri baginya.
"Kira-kira apa yang akan dia lakukan setelah ini? Karena dia sangat terobsesi pada putri kerajaan, jangan-jangan dia akan mencari Putri Victoria dari Weimar," tebak Meileen. Ia menatapku dengan sorot mata yang seolah bertanya, "Bukankah sebaiknya kita melakukan sesuatu?"
Nara langsung menatapku penuh harap. "...Kenta, bisakah kau melakukan sesuatu? Kalau dia terus membuat masalah di luar sana, lama-lama aku yang kena getahnya."
Memang benar, jika dibiarkan, Ota kemungkinan besar akan berakhir sebagai alat politik bagi Putri Weimar.
Tentu saja aku tidak akan pernah berpaling dari Meileen, tapi secara objektif, Putri Victoria memang cukup menarik. Ota pasti akan langsung tergila-gila padanya. Bukan tidak mungkin pihak Weimar akan memanfaatkannya sebagai senjata untuk melawan kami nanti.
Karena Meileen dan Nara sama-sama memintaku, kurasa aku tak punya pilihan lain. Aku tidak akan membuang tenaga untuk mengejar atau memperingatkannya, tapi aku akan menggunakan metode lama. Aku akan mengerahkan alat pengintai sihir yang sama seperti yang pernah kugunakan untuk mengawasi putri bungsu Weimar dulu.
Sambil berpikir begitu, aku mengeluarkan sebuah perangkat sihir berbentuk mirip drone dari inventarisku dan menyalakannya. Melihat alat itu, mata Mona langsung berbinar tajam.
"Apa itu? Tuan Kenta menyembunyikan alat sehebat itu? Kenapa Anda tidak pernah memberitahuku?" desaknya.
Ekspresi Mona saat berjalan mendekat benar-benar serius dan cukup mengintimidasi.
"Tunggu, tunggu, tenanglah dulu," ucapku mundur selangkah. Ia terus maju, dan tepat sebelum wajahnya berada terlalu dekat denganku...
"Mona, kau terlalu dekat!"
Seketika, Meileen mencengkeram wajah Mona dengan iron claw (cengkeraman cakar besi) andalannya, dan menarik pelayannya itu mundur.
"...Maafkan saya, Yang Mulia. Saya sedikit terlalu bersemangat," cicit Mona dari balik jari-jari Meileen.
"Baguslah kalau kau sadar. Lagipula, kenapa kau begitu antusias?" selidik Meileen.
"Alat yang Tuan Kenta pegang itu... itu perangkat sihir yang bisa mengirimkan gambar dari jarak jauh, bukan? Saya hanya berpikir, jika kita punya banyak alat seperti itu, operasi spionase kita akan jauh lebih sempurna."
Ah, benar juga. Bagi seorang spesialis intelijen seperti Mona, alat ini ibarat harta karun untuk memantau pergerakan musuh.
"Tapi alat ini punya keterbatasan, Mona," jelasku. "Ini hanya bisa memberikan umpan video visual, tidak bisa menyadap percakapan atau mengumpulkan rumor seperti yang biasa kau lakukan. Untuk intelijen mendalam, aku tetap lebih mengandalkan kemampuanmu."
Mendengar pujian itu, ekspresi Mona langsung melembut. "Ah, begitukah?" Ia menundukkan kepala dengan sopan dan mundur teratur.
Aku hanya bisa tersenyum kaku melihat tingkah mereka. Entah kenapa, saat Meileen dan Mona sedang dalam "mode serius", aura di sekitar mereka terasa sedikit menakutkan.
Saat aku masih mengamati dinamika majikan dan pelayan itu, Nara berjalan mendekati alat pengintai sihirku dengan mata berbinar-binar bak anak kecil.
"Kenta! Kenta! Itu semacam drone, kan?! Aku juga mau coba menerbangkannya!" rengeknya.
"Kau ini sebenarnya umur berapa sih?" sahutku malas.
Awalnya aku berniat menolak, tapi Nara terus memohon dengan wajah memelas sampai akhirnya aku mengalah. Kuserahkan panel kontrol yang sudah terintegrasi dengan layar monitor kecil padanya.
"Whoaa... ini keren banget..."
Mengoperasikan alat sihir ini sebenarnya sangat mudah. Hanya dalam beberapa menit, Nara sudah mahir mengendalikan drone itu dan asyik menerbangkannya bermanuver di udara dengan lincah.
Hmm. Kalau dia sangat menyukainya, sekalian saja kuberi dia tugas.
"Nara, arahkan drone itu ke Ibu Kota Weimar dan terus awasi pergerakan Ota dari sana," perintahku.
"Apa?! Kau serius memberiku izin mengendalikannya?!" matanya berbinar.
"Iya."
"Asyik!! Aku akan mengerjakannya! Terima kasih banyak, Kenta!" soraknya kegirangan.
Nara langsung fokus menatap layar monitor dan menekan tuas kontrolnya. "Baiklah, ayo kita meluncur ke Weimar!!"
Namun, sedetik kemudian, jari-jarinya berhenti bergerak. Drone itu hanya melayang diam di udara.
"Ada apa? Rusak?" tanyaku.
Nara menoleh perlahan ke arahku dengan senyum kikuk. "...Ngomong-ngomong, arah Ibu Kota Weimar itu ke mana ya?"
"..."
Oh, astaga. Aku lupa bahwa Nara dipanggil ke dunia ini melalui Kerajaan Admos, bukan Weimar. Pantas saja dia tidak tahu. Dia terlihat begitu antusias sampai-sampai aku mengira dia sudah tahu harus mengarah ke mana.
"Ibu Kota Weimar ada di sebelah timur sana," suara Eva menengahi. Sebagai mantan putri Admos yang merupakan negara tetangga Weimar, tentu saja ia sangat paham soal letak geografis.
Berkat arahan Eva, Nara kembali mengudara dan drone itu melesat menuju arah yang benar.
Karena lokasinya sudah dikonfirmasi, kuserahkan sisa tugas ini pada Nara.
"Baiklah, kalau drone-nya sudah sampai sana, tolong ambil alih tugas pemantauan sepenuhnya, ya."
"Siap laksanakan!!" balas Nara penuh semangat.
Mendengar jawaban meyakinkan itu, aku berbalik dan mengajak Meileen serta Leon masuk ke dalam rumah.
Saat aku melangkah masuk, lamat-lamat aku mendengar suara Nara dari luar bergumam pelan.
"...Tunggu, jadi aku disuruh berjaga mengawasi monitor terus-terusan nih?"
Terlambat, Nara. Nikmatilah mainan barumu.
0 Comments