Bab 2
"Apa!?"
Setelah menyelesaikan pekerjaannya hari itu, Wilfred kembali ke istana dan tanpa sadar melebarkan matanya. Entah mengapa, istrinya sedang berlutut dengan kedua tangan tergenggam di depan dada dan kepala tertunduk dalam postur yang jelas-jelas menunjukkan bahwa ia sedang menunggu hukuman, layaknya seseorang yang memohon pengampunan atas kesalahan besar.
Selama dua tahun menjadi raja, ia telah melihat banyak menteri pengkhianat yang merendahkan diri seperti ini, namun ia tak pernah menduga hal ini dari istrinya.
"Apa yang sedang kau lakukan, Alicia?"
"Saya telah mempermalukan diri saya sendiri. Saya benar-benar minta maaf!"
Wajahnya, yang hampir menangis, menatap ke atas dengan penuh rasa bersalah sebelum ia kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Untuk saat ini, angkat saja kepalamu. Apa yang terjadi?"
"Sebenarnya, aku mengadakan pertemuan dengan Lady Eleanor hari ini..."
"Ah, masalah itu. Aku sudah menerima laporan dari Cedric, tapi..."
Eleanor dan putranya datang untuk memeriksa Istana Timur dan kebetulan berpapasan dengan Alicia saat ia sedang jalan-jalan. Tampaknya, Alicia telah merespons dengan cara yang tidak pantas bagi seorang ratu.
Bagi Wilfred, itu adalah masalah sepele sehingga ia benar-benar melupakannya, namun tampaknya hal itu sangat membebani Alicia.
"Ya, dan setelah Lord Cedric menjelaskannya padaku, wajahku memucat."
"Ah..."
Pada suatu titik, Eleanor menyebutkan tentang niatnya mengunjungi Istana Utara. Jika seseorang menerima kata-katanya secara mentah-mentah, hal itu akan terlihat seperti janji kunjungan biasa. Namun, ini adalah istana kerajaan, tempat di mana rubah licik dan orang-orang licik mengintai di setiap sudut. Sebagian besar kata-kata memiliki makna tersembunyi.
Maksud tersembunyi di balik kunjungan Eleanor? Ia berniat untuk pergi ke Istana Utara. Dengan kata lain, seolah-olah ia telah menyatakan niatnya untuk menjadi salah satu selir Wilfred.
"Dan aku meresponsnya dengan senyum cerah dan berkata, Dengan senang hati!..."
"Sejujurnya, kupikir sebagian besar orang tidak akan mengerti apa yang ia maksud."
Wilfred sendiri sama sekali tak tahu sampai Cedric menjelaskannya padanya. Istana kerajaan dipenuhi dengan pernyataan-pernyataan berbelit-belit, di mana orang jarang mengungkapkan niat mereka yang sebenarnya. Mengharapkan seseorang untuk memahami semua itu sungguh tidak masuk akal.
Wilfred paham bahwa mayoritas orang di istana memiliki pola pikir "membaca yang tersirat," namun ia pernah melakukan penyelidikan untuk melihat seberapa akurat orang bisa memahami nuansa halus ini. Walaupun beberapa orang bisa merasakan makna umumnya secara samar-samar, hanya sekitar separuh yang mengerti intinya, dan kurang dari 10% yang memahaminya dengan benar.
Kemampuan untuk membaca yang tersirat ternyata sebegitu terbatasnya. Mengharapkan orang untuk memahaminya, pada kenyataannya, sangat tidak masuk akal.
Dan justru karena kesalahpahaman yang tak terkendali inilah, serta kecenderungan untuk membiarkan hal-hal berlalu tanpa komunikasi yang baik, fondasi negara ini mulai runtuh.
"Tapi aku ini ratu. Aku seharusnya mengerti hal semacam itu," kata Alicia, menggigit bibirnya dengan keras.
Ia mungkin terkadang terlihat seperti orang bodoh, tapi pada kenyataannya, ia cukup serius, bertanggung jawab, dan sering kali terlalu keras pada dirinya sendiri.
"Lord Cedric selalu mengingatkanku bahwa kesalahan seorang istri akan membawa aib bagi suaminya. Menarik turun seorang suami pekerja keras sungguh tak bisa dimaafkan!"
Kemungkinan besar sifat penyayangnya yang membuatnya merasa seperti ini.
Tapi dari sudut pandang Wilfred, fakta bahwa gadis itu setuju untuk tidak memiliki anak dengannya saja sudah lebih dari cukup. Ia tahu bahwa cepat atau lambat, akan ada komentar kejam dari orang lain tentang keputusan itu. Memikirkan masa depan, ia tidak punya niat untuk menuntut apa pun lagi darinya.
"Aku tidak tahu apa yang dikatakan Cedric padamu, tapi kau tak perlu khawatir tentang hal itu. Hal semacam ini tidak akan menahanku."
Itu tidak dimaksudkan sebagai penghiburan, melainkan hanya fakta sederhana.
Wilfred telah melanggar tradisi yang tak terhitung jumlahnya, beberapa di antaranya telah berlaku selama berabad-abad. Di belakang punggungnya, orang-orang berbisik seperti, "Brat udik yang lahir dari seorang selir itu tak punya rasa hormat pada adat istiadat kita yang sudah berumur seribu tahun."
Pada titik ini, bahkan jika Alicia sedikit mengacaukan etiketnya, ibarat pergi dari minus 100 ke minus 101. Itu sama sekali tak menjadi masalah.
Sejujurnya, itu bukan masalah besar.
—Atau begitulah pikirku.
"Anda terlalu baik, Yang Mulia. Tapi aku tidak butuh penghiburan Anda!"
Alicia balas menatapnya dengan tekad yang kuat di matanya.
Ah, ini tidak baik, Wilfred segera menyadarinya.
Saat Alicia memiliki sorot mata seperti itu, ia bisa menjadi sangat keras kepala. Begitu keras kepalanya, bahkan tekanan mengintimidasi dari Wilfred—sang "Raja Iblis yang Tirani," yang ditakuti baik di dalam maupun di luar negeri—tak bisa menggoyahkan tekadnya.
"Aku tak bisa hanya duduk diam setelah mempermalukan Anda, Yang Mulia! Kumohon, hukumlah aku sepuasnya tanpa ragu sedikit pun!"
"Menghukummu, heh..."
Wilfred tertawa kecil tanpa sadar, merasa sedikit bingung. Ia pernah mendengar bahwa beberapa bangsawan menyukai hal semacam itu, tapi ia bukan salah satu dari mereka.
Namun, jika ia tidak melakukan sesuatu, istri keras kepalanya ini tidak akan puas.
Saat ia memikirkan apa yang harus dilakukan, sebuah ide muncul di benaknya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kau membuatkan pot-au-feu lagi?"
Perutnya sedikit bergemuruh, dan ia memutuskan untuk memanfaatkannya dengan memberikan saran tersebut.
"Hanya itu?" tanya Alicia, terkejut.
"Ya. Pot-au-feu yang kau buat sebelumnya sangat lezat. Aku ingin menyantapnya lagi."
Ia tak sekadar mengatakannya untuk berbasa-basi—ia benar-benar bersungguh-sungguh.
Ada sesuatu tentang pot-au-feu itu, kehangatan yang aneh di dalamnya. Tentu saja, secara fisik rasanya hangat karena itu adalah sup, tapi tidak hanya itu. Sup itu memiliki cara untuk menghangatkan hatinya, bukan sekadar perutnya.
Sejujurnya, ia ingin merasakan perasaan itu lagi, sebanyak mungkin.
"Aku senang mendengarnya. Dengan senang hati," ucap Alicia dengan senyum cerah saat ia berdiri.
Wilfred merasa bersyukur dua kali lipat—ia tak hanya bisa mencicipi hidangan yang menenangkan itu lagi, tetapi melihat gadis itu berlutut di depannya seperti itu juga membuatnya merasa agak canggung.
"Hmm, tapi jika aku akan memasak, aku juga ingin mencoba membuat sesuatu yang berbeda. Aku sebenarnya cukup percaya diri dengan masakanku."
"Ibumu yang mengajarimu, bukan?"
"Ya, masakan ibuku adalah yang terbaik," jawab Alicia dengan senyum bangga, wajahnya berbinar saat ia berbicara tentang ibunya.
Wilfred merasakan sedikit rasa sakit di dadanya, tapi perasaan hangat yang ia dapatkan karena bersamanya dengan cepat menutupi rasa sakit itu.
"Hmm, aku memang menginginkan pot-au-feu itu, tapi ide untuk mencoba sesuatu yang baru memang sangat menggoda."
Wilfred, yang biasanya selalu tegas, mendapati dirinya bimbang yang tak seperti biasanya. Di satu sisi, ia sangat menginginkan pot-au-feu itu, namun di sisi lain, ada kemungkinan bahwa sesuatu yang bahkan lebih enak—atau setidaknya sama lezatnya dengan cara yang berbeda—sedang menantinya.
Kedua pilihan itu sama-sama menggoda, dan ia tak bisa memutuskan.
Itu adalah pilihan yang sulit. Bahkan dalam masalah-masalah penting negara, ia jarang ragu-ragu sebanyak ini...
"Bagaimana kalau kubuatkan dua-duanya?" tawar Alicia.
"Ah, itu bisa jadi pilihan. Tapi aku tak mau membuatmu repot."
Secara teknis, ini seharusnya menjadi sebuah "hukuman," namun kenyataannya, itu hanyalah cara untuk menenangkannya. Sejauh yang Wilfred pedulikan, ia sudah berutang padanya lebih dari yang bisa ia bayar kembali.
Ia tidak ingin terlalu membebaninya.
"Sama sekali tak merepotkan. Lagipula, aku suka memasak."
"Begitukah?"
"Ya. Apalagi karena Yang Mulia tampaknya sangat menikmati makananku, hal itu membuat semuanya terasa lebih berharga."
"Apa aku benar-benar terlihat sangat menikmatinya?"
Ia tak bisa tidak bertanya balik.
Tentu saja, ia memang merasa masakan gadis itu lezat. Namun, ia bukanlah tipe orang yang sering menunjukkan emosinya secara terang-terangan. Sifat itu, kenyataannya, sangat cocok baginya sebagai seorang raja yang terkadang perlu mempertahankan wajah datarnya.
"Ya, Anda benar-benar terlihat seperti itu," jawabnya.
Entah mengapa, gadis itu sepertinya bisa melihat menembus dirinya.
Kalau dipikir-pikir, saat ia membunuh adiknya, gadis itu adalah satu-satunya yang menyadari emosi yang bahkan Wilfred sendiri tak menyadarinya. Saat gadis itu pertama kali bertemu saudaranya, Richard, ketika semua orang terpesona olehnya, gadis itu sendirian merasakan ada yang tidak beres.
Ia tak bisa lagi menepis persepsi gadis itu sebagai sekadar kekeliruan biasa.
"Itu karena, Yang Mulia, Anda sangat mudah ditebak."
"...Hah?"
Sebuah suara ketidakpercayaan lolos dari mulut Wilfred. Otaknya secara naluriah menolak kata-katanya.
Saat ia memproses apa yang gadis itu katakan, ia seketika ingin menarik kembali pemikirannya sebelumnya untuk tidak mengabaikannya sebagai orang buta.
"Aku... mudah ditebak?"
Bagaimana tepatnya gadis itu melihatnya, pikirnya. Pada titik ini, ia hampir cukup penasaran untuk mengintip ke dalam pikiran gadis itu.
"Ya, awalnya cuma sedikit sulit membedakannya. Tapi begitu Anda terbiasa, Anda sebenarnya cukup mudah ditebak."
"...Dan apa sebenarnya trik untuk memahamiku ini?"
"Ah, apa aku baru saja mengatakan sesuatu yang tak seharusnya kukatakan?" tanya Alicia, tiba-tiba merasa khawatir.
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Anda berubah dari mode santai ke mode raja."
"Tepat sekali."
Sepertinya gadis itu memang bisa melihat isi kepalanya.
Nyatanya, hal ini sama sekali bukan hal yang dilebih-lebihkan—ini menyangkut masalah negara yang genting. Sebagai raja, ia tak jarang berada di meja perundingan. Begitu seseorang menguasai rahasia membaca gerak-geriknya, transparansi emosinya seketika bakal berbalik menjadi bumerang.
Ini tak ada bedanya dengan bermain poker dengan mempertaruhkan nasib negara sambil membeberkan kartunya pada lawan—sungguh suatu keadaan yang amat berisiko.
"Sebagai seorang raja, aku harus segera mengidentifikasi trikmu ini dan melenyapkannya."
...Sebagian kecil dari dirinya, hanya sedikit, merasakan sentilan kesedihan atas hal tersebut, namun sebagai seorang penguasa ia tak boleh menunjukkan keraguan.
"Wow, menjadi raja memang pekerjaan yang berat ya," keluh Alicia.
"Kebiasaan apa yang kumiliki?"
"Uh, yah, sulit menjelaskannya... Aku hanya bisa memahaminya begitu saja," ucap gadis itu, terlihat kebingungan.
"Tolong cobalah mengungkapkannya dengan kata-kata."
"Ya, um... kalau harus dibilang... rasanya seperti... suasananya?"
Itu sama sekali tak spesifik.
"Maaf, tapi bagiku itu terlalu samar untuk dijadikan acuan."
"Aku paham, tapi... rasanya aku seperti bisa melihat ada ekor di belakangmu."
"Ekor?"
Ia seketika memutar tubuhnya dan melihat ke arah pinggangnya.
Tentu saja, tak ada hal semacam itu.
"Oh, itu cuma kiasan saja! Sepertinya... Aku bisa tahu saat Anda mengibaskan ekor karena gembira atau menegakkannya saat sedang waspada."
"Begitu rupanya."
Sejujurnya, penjelasan itu tidak terlalu membantu. Namun, menyadari bahwa hal itu berasal dari intuisi uniknya, setidaknya itu adalah sesuatu yang bisa ia pikirkan.
Untuk saat ini, tampaknya tidak ada bahaya yang mendesak. Tentu saja, hal ini bukanlah isu yang dapat ia abaikan sepenuhnya, jadi ia berencana untuk membahasnya lebih lanjut dengan Cedric nanti.
"Heh, awalnya kau menyamakanku dengan seorang petugas kebersihan, dan sekarang kau membandingkan seorang raja dengan seekor anjing. Kau sungguh aneh."
"Oh tidak! A-Aku minta maaf!"
"Tidak perlu meminta maaf. Tetaplah seperti ini."
Sikapnya yang berani, mendekati ceroboh, merupakan hal yang menurut Wilfred tak ada habisnya menghibur dan menyenangkan. Hal itu membuatnya merasa tak seperti seorang raja, melainkan layaknya pria biasa pada umumnya.
"Apa kau sedang mengolok-olokku? ...Bukan, sepertinya bukan begitu."
"Benar."
Selagi menjawab, bibir Wilfred membentuk lengkungan senyum yang menawan.
Gadis itu sanggup membaca isi pikirannya layaknya sebuah buku yang terbuka lebar.
Normalnya, orang yang dengan mudah memahaminya akan merasa tidak nyaman sekaligus terancam, tetapi ketika bersama dengan gadis itu, ia justru menikmatinya. Sensasi yang sangat ganjil.
Gadis ini sungguh luar biasa.
Kruuuk...
Perut Wilfred mendadak mengeluarkan suara.
"Oh, iya. Anda lapar, kan?"
"Ya, sepertinya begitu," jawab Wilfred sambil memegangi perutnya.
Ia sadar bahwa air liurnya lebih banyak keluar dari biasanya. Rupanya, ia bahkan lebih tak sabar menantikan masakannya lebih dari yang ia bayangkan.
"Setiap kali kita berbicara, obrolannya sepertinya selalu melenceng dari topik utama."
"Ah... m-maafkan aku."
"Tak masalah. Sepertinya aku tak membenci obrolan santai ini denganmu."
Tatkala bertugas resmi, ia selalu menuntut agar semuanya disampaikan dengan jelas. Tetapi, itu tidak berlaku tatkala sedang berbincang dengan istrinya. Justru ia mendapati bahwa ketika pembicaraannya melenceng, ia malah lebih asyik. Ada hawa hangat dan nyaman yang unik dalam pembicaraan tersebut.
"Um, Yang Mulia, itulah yang kumaksud. Itulah yang membuat Anda terkadang sulit dimengerti."
"Hm?"
"Daripada mengatakan Anda tidak membencinya, katakan saja Anda menyukainya."
Istrinya mengangkat jari telunjuknya seakan-akan tengah mengoreksi dirinya.
"Oh, begitu ya."
Memang masuk akal—jika ia mengatakan bahwa ia tidak membenci suatu hal, bisa jadi itu juga akan meninggalkan kesan bahwa ia juga tidak menyukainya. Ia baru saja menyadari bahwa ia lebih sering melontarkan sesuatu dengan menyangkal sisi negatif dibandingkan mengonfirmasi sisi positifnya. Melontarkan pujian secara terang-terangan kepada orang lain pasti akan meninggalkan kesan yang lebih baik.
"Tunggu, bukankah kau baru saja mengatakan kalau aku mudah ditebak sebelumnya?" tanyanya kebingungan.
"Yah, di situlah letak kerumitannya. Mirip seperti, Anda itu agak rumit, tapi juga mudah ditebak... Ah! Kita melenceng lagi! Yang lebih penting adalah apa yang ingin Anda makan," tegas Alicia yang tersadar.
"Ah, iya," ucap Wilfred yang tertawa kecil.
Kendatipun ada yang mengganjal atas pertentangan antara perilaku rumit namun mudah ditebak, rasa laparnya kian sulit diredam. Di samping itu, jika ia menuruti saran istrinya...
"Aku sangat ingin menyantap masakanmu secepatnya," ucapnya penuh harap.
Alicia mengangguk gembira.
"Ya, begitulah cara mengatakannya. Jadi, selain pot-au-feu, apa lagi yang ingin Anda makan?"
"Sejujurnya, apa pun buatanmu aku akan suka."
Ia menyampaikan maksud hatinya dengan terus terang, namun entah karena apa, rona pipi Alicia memerah.
"A-Anda tidak bisa begitu saja mengucapkan kalimat semacam itu, Yang Mulia! Jangan pada wanita!"
"Memangnya kenapa?"
Ia termangu—bukankah gadis itu baru saja memintanya agar terus terang? Kenapa sekarang malah melarang.
"Soalnya... Soalnya itu terdengar seperti... seolah-olah Anda menyukaiku atau semacamnya!"
"Aku memang menyukaimu."
Ia mengutarakannya dengan jujur, tiada sedikitpun keraguan. Lagipula ia benar-benar menyukainya. Karakteristik kepribadiannya membuat banyak orang mudah terpikat padanya. Ia menduduki peringkat teratas dari para wanita yang pernah ditemuinya.
Justru akan sangat aneh jika ia tidak menyukainya.
Tentu saja—
"Ya, ya. Aku paham. Maksud Anda sebagai teman, bukan sebagai wanita kan?"
"Ah."
Tak urung sudut bibir Wilfred terangkat serta mengangguk. Sebagaimana biasanya, gadis itu benar-benar mengerti dirinya. Itulah yang membuatnya merasa begitu senang.
"Astaga, apa jadinya jika aku menanggapi hal itu dengan serius?"
"Silakan saja jika kau ingin menanggapi dengan serius. Sungguh, aku sangat menyukaimu."
"Eek! Ya ampun, ya ampun!"
Muka Alicia seketika bersemu merah menyala sembari memukul pelan pria tersebut. Itu sama sekali tidak terasa sakit.
"Jangan pernah melontarkan kalimat seperti itu pada wanita lain. Mereka akan salah sangka. Pria perayu!"
"Tenanglah. Aku tak akan melontarkan kata-kata semacam itu kepada orang lain selain dirimu."
"Ah!! Astaga, astaga, astaga, astaga!"
Raut mukanya berubah jadi merah merona kala tangannya mulai memukuli dada pria itu, lebih keras daripada sebelumnya.
"Aku tak tahan denganmu! Ugh!"
Pada akhirnya ia menyembunyikan parasnya di balik kedua tangannya sembari berjongkok, tak sanggup menyembunyikan kegugupannya.
Sebaliknya, Wilfred pun mulai ikut panik. Usai mendengar ucapan "Aku tak tahan denganmu" dari gadis itu membuat dirinya merasa lebih terluka daripada yang diperkirakannya.
"M-maafkan aku. Kalau aku mengucapkan kata-kata yang membuatmu kesal, aku minta maaf. Tapi sejujurnya, aku tidak tahu apa salahku. Bisakah kau menjelaskannya padaku?"
Wilfred bersungguh-sungguh ingin menyampaikan permohonan maaf, tetapi—
"Apa Anda benar-benar memintaku menjelaskan rasa maluku dengan rinci?!"
Tampaknya usahanya justru membuat suasana makin runyam.
"Rasa malu?"
Ia masih belum tahu mengapa sang istri sampai begitu marah. Lagi-lagi, ia sadar betapa kacaunya pemahamannya terkait kerumitan perasaan.
Meskipun demikian, kebodohan tak bisa dijadikan pembenaran.
"Bagaimanapun juga, aku minta maaf. Aku tahu meminta maaf tanpa memahami kesalahanku sama saja tak berguna, tetapi aku sungguh-sungguh menyesal telah membuatmu kesal."
Berhubung ia tidak tahu apa kesalahannya, maka Wilfred hanya dapat memohon maaf dengan sepenuh hatinya sebisa mungkin.
"A-Aku tidak begitu kesal…" bisik Alicia yang dilanjutkan dengan embusan napas sambil beranjak bangkit.
Pancaran rona keletihan sangat kentara dari wajahnya, dan ia benar-benar bersedih akan hal tersebut.
"Tak masalah. Aku tahu Yang Mulia memang seperti ini orangnya."
"B-Begitu ya."
"Omong-omong, mari kita sudahi persoalan itu. Lekas beritahu aku apa yang ingin Anda santap. Ayo cepat, cepat."
Alicia memaksa sembari menampakkan muka agak kesal. Sungguh konyol betapa lancangnya ia menunjukkan muka seperti itu kepada seorang raja, akan tetapi bahkan Wilfred pun tahu bahwa mempermasalahkannya sekarang bukanlah ide yang bagus.
"Baiklah... Bagaimana kalau yang gurih-gurih."
Semenjak kecil ia dibesarkan di sebuah daerah pelosok di pinggiran laut, Wilfred pun terbiasa dengan lidah asin yang sangat pekat. Selama bertahun-tahun, mengarungi daratan selaku pendekar dan mengabdi di ranah ketentaraan, makanan kesehariannya didominasi oleh makanan asin dan makanan kaleng. Olahan sedap masakan istana, berbahan dasar kaldu dari tulang babi atau sapi serta diracik dengan berbagai dedaunan dan rempah, lezat bila dimakan secukupnya, namun sebenarnya, sulit untuk memakannya tiap hari.
Kalau bicara mengenai sajian sehari-hari, tiada yang menandingi kelezatan yang akrab di lidah dari masa kanak-kanak.
"Tidak bisakah Anda menyampaikannya pada kepala koki?"
"Andaikan aku memesan daging bakar asin biasa atau semangkuk bahan dan rebusan yang dibumbui dengan garam, ia menatapku bak hidupnya tak berguna."
Sangat logis bagi orang yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia memasak serta mengasah bakat bertahun-tahun. Lagi pula, Wilfred selaku seorang raja sering kali menyelenggarakan pesta megah untuk para petinggi bangsawan serta duta luar negeri. Momen-momen demikian cukup krusial secara politis, serta menurut koki tersebut, andai saja mereka tak terus-menerus mempraktikkannya, maka keterampilan mereka dapat melemah.
"Dan dengan dalih semacam itu, tak ada kata menyerah."
"Koki tersebut sungguh tangguh."
"Ya, seorang ahli sejati."
Untuk memegang teguh keyakinannya di depan Wilfred, yang oleh masyarakat awam sering disapa "Raja Iblis yang Tirani" merupakan suatu pencapaian yang tak dapat diremehkan. Mempercayakan penyiapan pesta perjamuan ke tangan seseorang dengan tekad yang kuat seperti itu sangatlah menenangkan bagi Wilfred.
"Dengan demikian kau dapat mengerti alasanku mengapa aku tidak mengatakan pada koki itu kalau aku ingin makan daging kering dan roti untuk makan malam."
Meski ia payah dalam membaca karakter hubungan sosial yang pelik, tapi ia paham kebanggaan sang koki. Wilfred pun punya kebanggaannya sebagai pesilat, maka ia paham kalau semua itu tidak dihargai.
"Hmph, kupikir Anda benar," ucap Alicia sambil mengangguk mantap.
"Baiklah, aku akan membuatkan sesuatu untuk Anda, tetapi apa Anda yakin tak apa kalau aku yang memasak? Ini adalah sajian raja, kan."
"Tak masalah. Tak terhitung banyaknya kaum perempuan dari golongan aristokrat yang menggemari kegiatan memasak maupun mengolah kue dan menyajikan hidangan buat suami dan anak mereka."
Bukankah masak itu sendiri kerap jadi pilihan tepat untuk menghilangkan kepenatan. Bagi kalangan elite, yang mana mereka saling berlomba melempar senyuman pura-pura seraya bergerilya di medan intrik percaturan kekuasaan, tak ayal berujung pada rasa sumpek. Rasanya maklum belaka bila segelintir perempuan elite melampiaskannya dengan bersuka ria di dapur, memasak dan membuat roti.
"Hah, baru tahu aku. Kupikir cuma para abdi yang turun tangan untuk hal semacam itu."
"Yah, begitulah adanya," aku Wilfred.
"Akan tetapi, hal tersebut bukannya tidak mungkin terjadi, maka tidak apa-apa."
Terdengar embusan napas panjang dari mulut Alicia. Akhir-akhir ini, sepertinya ia sangat menjaga penilaian publik terhadapnya, boleh jadi karena—sebagaimana yang dilontarkan istrinya—ia tak ingin merepotkan Wilfred.
Menyaksikan beban yang ia bebankan pada pundak istrinya, terlintas rasa bersalah dalam benak Wilfred, tapi secara bersamaan, ia tak bisa menahan senyuman tatkala terlintas di benaknya.
(Rupanya aku memang suka dengannya.)
Supaya lebih terang, itu bukanlah bermakna ke arah yang berlawanan jenis. Jauh sebelum ia naik takhta, impian semacam itu telah sirna. Perasaannya terhadap istrinya semata-mata adalah persahabatan.
Ia tak menduga kalau kebaikannya, berikut keluguannya, bersih tanpa ada motivasi tersembunyi, sangat menenangkan juga amat mudah dicerna.
"Hm, aku mesti membikin apa... aku perlu merincinya lagi."
"Hmm, kalau bisa aku lebih suka makanan laut, tapi sulit dicarinya di ibukota."
Avalon, sebagai pusat negara, teramat renggang dari wilayah maritim, sehingga dikhawatirkan ikan bisa saja hancur di tengah perjalanan. Di sekitar Avalon memang mengalir sungai-sungai, akan tetapi ikannya didominasi oleh tulang belulang yang dipenuhi cita rasa lumpur, sehingga kurang menggoda selera. Akibatnya, sapi, babi, serta domba jadi olahan dominan di wilayah tersebut.
"Apa Anda sedang ngidam seafood?" tanya Alicia.
"Aku dilahirkan di tepi pantai Hanover, maka makanan sehari-hariku selalu berisi ikan."
"Aku paham, tak ada yang menandingi sensasi pulang kampung," ujar Alicia dengan senyum lebar. Begitupula dengan dirinya yang diantar ke negeri asing oleh guliran nasib yang menjauhkan dirinya dari negeri asalnya. Tentu saja, ia paham betul akan perasaan tersebut.
"Apa kau rindu cita rasa kampung halaman juga?" sahut Wilfred.
"Oh, tentu saja. Ada kalanya aku memasaknya sendiri."
"Kau bikin sendiri?"
"Ya, aku membawa sedikit denganku. Ah, aku baru saja punya ide."
Lekas Alicia menjentikkan jarinya, kentara kalau ia terinspirasi. Apabila satu tujuan saja yang terpancang, ia sigap mengeksekusi aksinya.
"Tunggu sebentar, ya?"
Ujarnya seraya bergegas beranjak dari ruangan.
Sesuai yang disampaikan di atas, beberapa perempuan bangsawan acap kali memanjakan dirinya di dapur, lantas di sisi utara bangunan tersebut tersedia sarana dapur bagi hal tersebut. Kemungkinan besar ia menyasar sarana itu.
Beberapa saat kemudian—
"Maaf karena membiarkan Anda menunggu!"
Kini Alicia muncul dengan sebuah baki berisi sepasang mangkok, salah satu di antaranya terisi pot-au-feu sesuai pesanan sang raja. Yang lain menyemburkan aroma semerbak tiada bandingannya.
"Apa ini?" tanyanya penasaran.
Dengan senyuman lebar, seakan-akan ia sedang menantikan pertanyaan itu. "Ini dia menu warisan keluarga kami, diturunkan dari ibu—sup miso!"
"...Tapi, ini hanya cita rasa keluargaku, jadi aku tidak yakin apa akan cocok dengan selera Anda, Yang Mulia... Ini cuma masakan rakyat biasa... dan sekarang ada dua sup... apa yang kupikirkan, aku bodoh, bodoh, bodoh..."
Berawal dari rasa percaya diri yang tinggi, seketika nyali Alicia ciut kala suara dan gerak-geriknya pudar. Sebagaimana lazimnya, rona mukanya sangat ekspresif, itulah yang menarik simpati Wilfred.
"Tidak, aku akan dengan senang hati memakannya," ucapnya meyakinkan, mengambil semangkuk sup miso itu. Ia menghirup aroma yang tak dikenalnya, menikmatinya sejenak.
Aromanya tak seperti yang pernah ia cium sebelumnya, namun entah mengapa, aroma ini membangkitkan sedikit rasa nostalgia.
"...Aromanya samar, tapi aku bisa mencium aroma laut," komentarnya.
"Oh, Anda menyadarinya? Aku membuat kaldunya dengan rumput laut," jawab Alicia dengan riang.
"Rumput laut!?" Mata Wilfred membelalak karena terkejut.
Bagi Wilfred, rumput laut tak lebih dari rumput laut pengganggu yang sering tersangkut di tali pancing atau jangkar perahu. Gagasan untuk menggunakannya dalam masakan bahkan tidak pernah terlintas di benaknya, dan bukan hanya baginya, tapi juga bagi masyarakat di kampung halamannya di pesisir pantai.
"Menarik."
"S-silakan dicoba," desak Alicia.
"Aromanya menenangkan," catat Wilfred, masih terpesona oleh aroma sup miso yang aneh namun tak asing baginya.
Ia menyesapnya.
"Bagaimana!?" Alicia mencondongkan tubuhnya ke depan, agak terlalu dekat, namun tak ada niat menggoda—hanya kekhawatiran tulus tentang apakah masakannya sesuai dengan seleranya.
"Enak," ucapnya singkat, mengungkapkan dengan tepat apa yang ia rasakan.
"Benarkah!? Anda tidak sekadar mengatakannya, kan!?"
"Kau tahu aku bukan tipe orang yang suka memuji," jawabnya.
"Oh, benar juga! Syukurlah!" Alicia menghela napas lega, wajahnya berbinar-binar kegirangan.
"Baiklah, aku akan mulai makan juga. Selamat makan!" ucapnya seraya duduk di hadapannya dan mulai menyantap pot-au-feu serta sup misonya.
"Oh, ngomong-ngomong," Alicia memulai, "sesuatu terjadi di halaman hari ini..."
Sembari makan, ia mulai menceritakan hal-hal kecil dan sepele yang terjadi padanya hari itu. Biasanya, Wilfred mungkin akan menganggap obrolan ringan semacam itu membosankan, namun tidak untuk saat ini.
Sebaliknya, ia mendapati dirinya tak bisa mengalihkan pandangan darinya, terpikat oleh senyum cerah yang mengiringi kata-katanya. Isi ceritanya tak penting—yang terpenting adalah kegembiraan yang terpancar saat ia berbicara.
"...Dan kemudian aku tak sengaja menabrak dinding dan jidatku terbentur. Syukurlah tak ada yang melihat!"
"Pfft, yah, setidaknya itu sebuah anugerah kecil," ia tertawa, terkejut pada dirinya sendiri karena menganggap lelucon sekonyol itu lucu.
Ia menyadari dirinya lebih mudah tertawa di dekat gadis itu, sesuatu yang belum pernah ia rasakan di masa lalunya.
"Aku akan makan siang."
Setelah menyelesaikan sebuah tugas, Wilfred berdiri.
"Pergi menemui Yang Mulia Ratu lagi, saya rasa?" tanya Cedric.
"Ya," angguk Wilfred.
Akhir-akhir ini, Wilfred selalu bersantap dengan Alicia. Selama ini, ia menganggap makan tak lebih dari sekadar untuk memulihkan energi. Namun entah mengapa, setiap kali bersantap dengan gadis itu, makanannya terasa jauh lebih lezat.
Jika kau harus makan, lebih baik kau nikmati saja. Dengan pemikiran seperti itu, selama seminggu terakhir, ia selalu meninggalkan kantornya pada jam makan siang menuju istana dalam hanya untuk bersantap dengannya.
"Senang sekali kalian berdua akur. Selamat menikmati makanan Anda."
"...Ya."
Ia menangkap kehangatan bernada sedikit menggoda di mata dan suara Cedric, tetapi Wilfred tak menghiraukannya, tak ingin diganggu, dan melangkah menuju istana dalam. Di tengah perjalanan, matanya tertuju pada taman di halaman.
Saat itu awal musim panas, dan pepohonan dipenuhi dengan dedaunan hijau, sementara bunga-bunga bermekaran.
"...Apakah selama ini selalu secerah ini?"
Taman yang ia ingat rasanya kurang berwarna. Namun hari ini, langit biru sempurna tanpa awan, jadi mungkin pencahayaannya saja yang membuat semuanya tampak lebih cerah.
Meski begitu, ia tak bisa menepis perasaan bahwa pemandangan ini tak pernah seindah ini sebelumnya. Ini merupakan kejutan yang menyenangkan, seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang istimewa.
"Oh wow, benarkah? Sekarang aku juga ingin melihatnya!" Ketertarikan Alicia tergugah ketika ia menyebutkan tentang taman setelah tiba di istana dalam.
"Kalau begitu, mari kita pergi?"
Halaman itu hanya berjarak satu atau dua menit dengan berjalan kaki, sebuah cara yang pas untuk melewatkan waktu sambil menanti makan siang dihidangkan.
"Ya! Kalau seindah itu, aku tak ingin melewatkannya!"
Antusiasme Alicia sungguh tak terbantahkan. Ia seorang gadis—tentu saja ia menyukai hal-hal yang indah.
"Bahkan lebih berwarna dari sebelumnya," puji Wilfred, puas saat ia mengamati pemandangan itu sekali lagi.
Ia merasakan kebahagiaan yang hening karena dapat berbagi momen ini dengan Alicia.
"...Tapi,"
"? Benarkah? Bagiku kelihatannya sama saja seperti biasa," jawab Alicia, memiringkan kepalanya karena bingung.
Wilfred berkedip karena terkejut.
"Aku tak meragukan kemampuanmu dalam membaca orang, tapi dalam hal ini, aku harus mempertanyakan penilaianmu. Ini terlihat benar-benar berbeda!"
Mengingat taman itu jauh lebih berwarna dari biasanya, ia tak bisa tidak berpikir bahwa penglihatan gadis itu pasti sangat buruk.
"Hei, Anda menyebutku buta lagi! Tapi untuk yang satu ini aku tak akan mundur. Memang cantik, tapi sama saja seperti biasa!" Alicia mengerucutkan bibir, mempertahankan pendapatnya.
Sebagian besar orang kemungkinan besar akan merendah dan menyanjung Wilfred di depannya, sang raja. Namun, kenyataan bahwa gadis itu mengutarakan pikirannya tanpa ragu-ragu sungguh menyegarkan.
Ia sangat menghargainya, tapi,
"Bukan, ini jelas-jelas sudah berubah! Aku tak pernah melihatnya secerah ini sebelumnya."
Perbedaannya dengan ingatannya hampir seperti siang dan malam. Mirip seperti membandingkan sayuran segar dengan sayuran yang sudah layu.
Ia tak bisa membayangkan mengapa gadis itu tidak bisa melihatnya.
"Mungkin Anda cuma tidak memperhatikan? Yang Mulia, Anda belum pernah terlihat tertarik pada hal-hal semacam ini," tunjuknya.
"Hmm."
Wilfred mendapati dirinya tak mampu berkata-kata.
Sejujurnya, gadis itu benar. Ia memang belum pernah menunjukkan ketertarikan pada keindahan bunga dan tanaman sebelumnya. Faktanya, ia sering menganggap taman yang mewah ini sebagai simbol dari kemewahan keluarga kerajaan yang berlebihan dan menganggapnya jelek.
Karena itu, hingga hari ini, Wilfred belum pernah sekali pun berhenti untuk menikmati pemandangannya.
"Lihat kan? Sudah kubilang!"
Melihat raut wajah Wilfred, Alicia tersenyum penuh kemenangan.
Dengan dengusan sombong, ia melanjutkan, "Berbeda dengan Anda, aku berjalan-jalan di sekitar sini setiap hari. Aku bahkan sudah cukup akrab dengan tukang kebunnya!"
Ia membusungkan dadanya dengan bangga.
Wilfred tak bisa tidak bertanya-tanya kapan hal itu terjadi.
Tetapi sekali lagi, mengingat sifatnya yang ramah, itu tidaklah mengejutkan.
"Akulah yang sering berjalan-jalan di sini, jadi aku tahu apa yang kubicarakan. Kelihatannya sama seperti biasanya."
"Hmph."
Wilfred mengeluarkan dengusan kecil.
Alicia tampaknya sangat yakin dengan pendapatnya.
Secara objektif, besar kemungkinan bahwa gadis itu lebih benar daripada dirinya, mengingat ia tak pernah terlalu memperhatikan taman tersebut.
Meskipun begitu, Wilfred masih memiliki keyakinan besar pada persepsinya sendiri.
"Kalau begitu mari kita panggil Cedric untuk memastikannya. Ia tak akan menahan pertimbangan aneh apa pun terhadapku."
"Boleh juga! Mari kita buktikan!"
Alicia menyetujui dengan antusias.
Walaupun kata-katanya terdengar menantang, ada senyuman usil di wajahnya.
Barangkali ia merasa yakin akan memenangkan perdebatan ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini...?"
Tak lama setelah itu, Cedric tiba dan menghela napas panjang, seakan menunjukkan kalau hal ini agak merepotkan.
Bagi Cedric, yang kebetulan sedang istirahat, hal ini barangkali menjadi gangguan tersendiri, namun Wilfred beranggapan bahwa tanpa ada konklusi yang jelas, ia akan kesulitan memfokuskan dirinya pada pekerjaan sepanjang sisa hari itu.
Memang sedikit merepotkan Cedric, tapi itu adalah kewajibannya selaku Kepala Sekretaris.
"Kalau begitu, bagaimana tanggapanmu perihal taman ini?" tanya Wilfred.
"Hmmm? Kelihatannya tak ada perubahan apa-apa," tutur Cedric.
"Hah! Benar kan!"
Sontak Alicia menepuk lengan Wilfred lalu mengepalkan tangannya seolah sedang merayakan sesuatu dengan gegap gempita.
Aksi tersebut tampak tidak mencerminkan sikap seorang Putri Barrois sekaligus ratu pewaris sah Kerajaan Windsor, dan tak dipungkiri Wilfred pun sedikit gemas atas polahnya.
(Apa iya aku gampang kesal oleh perkara sepele ini?)
Meski begitu, justru hal inilah yang membuatnya tersentak.
Sesuatu yang sama sekali di luar nalarnya jika dibandingkan dengan dirinya yang dulu.
Meskipun telah dikhianati oleh adik kandungnya Richard, yang ia rasakan hanyalah rasa kecewa yang kecil tanpa diikuti oleh amarah.
Mungkin berkat cara gadis itu menyikapinya, beberapa rasa kebal di hatinya mulai sirna.
Berpikir demikian, kekesalannya pun berangsur-angsur menjadi sesuatu yang menyenangkan.
"Hehe, tampaknya akulah sang jawara!" seloroh Alicia bangga.
"...Tampaknya begitu," ucap Wilfred tenang sambil menanggapi senyum kebanggaan Alicia.
"Oh? Anda yang sering menyebutku tidak pandai menilai sesuatu. Lantas, mana yang salah?"
Sindiran Alicia, tampak begitu menjiwai aksinya tersebut.
Sontak, ia merasa terhibur dengan energi baru ini, akan tetapi sindirannya tetap menyisakan rasa kesal di hatinya.
"Oh? Raut wajah Yang Mulia tampak sedikit masam! Dahi Anda mengerut!" ejek istrinya.
Cibiran Alicia tak kunjung ada habisnya.
Dengan suara ceria, ia menyentuh jidat Wilfred dengan jari telunjuknya, menusuk-nusuk jarak di sela-sela alisnya.
Sungguh berani bagi seseorang yang ditakuti sebagai "Raja Iblis yang Tirani" untuk diperlakukan sedemikian kasarnya.
Yah, barangkali ia hanya tak memikirkan dampaknya.
Atau mungkin saja ia merasa aman, berpikir kalau ia itu adalah orang yang "baik," maka tidak akan jadi masalah.
Sebetulnya, tak terbesit sedikit pun di benaknya niat untuk menghukumnya atas masalah ini... meskipun begitu, ia mengakui butuh tekad yang kuat untuk melakukan hal tersebut.
"Y-Yang Mulia, sepertinya Anda harus menghentikannya..."
Cedric, dari sudut matanya, tampak memucat saat melihat semua itu.
Yah, mungkin reaksi seperti ini adalah yang paling wajar.
"Tapi aku selalu ditertawakan oleh Yang Mulia! Bukankah aku boleh bersenang-senang sekali saja?" jawab Alicia tanpa merasa malu.
Hal ini benar-benar mencerminkan perilaku seseorang yang tidak takut pada dewa.
Namun pada saat yang sama, Wilfred tak bisa menyangkal kalau kata-katanya mengandung kebenaran.
Telah sering mentertawakannya, jika kini ia kesal saat ditertawakan, ia tak ada bedanya dengan para bangsawan yang sangat ia benci.
(Aku tidak percaya aku merasa kesal karena sesuatu yang begitu sepele. Aku harus lebih banyak berlatih.)
Ia tak bisa membiarkan dirinya jatuh ke level mereka, karena hal itu akan bertentangan dengan harga dirinya.
Karena itulah ia harus menahan godaan ini tanpa mengeluh.
"Maka aku tak akan menahan diri! Hai, kau, dengan mata yang buta!"
"—!?"
Saat ia mengejeknya sambil menari mengelilinginya dengan gerakan aneh, Wilfred tak bisa menahan rasa kesalnya.
Apakah ia sudah menjadi selemah ini dalam menghadapi ejekan? Sedikit rasa benci pada diri sendiri muncul ke permukaan, namun pada saat yang sama, ia secara tak dapat dijelaskan menemukan kepuasan aneh dalam kekesalan ini.
(Alicia benar-benar membuatku menemukan sisi diriku yang tak pernah kutahu.)
Sepertinya setiap kali ia bersama gadis itu, emosinya menjadi lebih kuat—dan lebih rumit.
"Jika Anda mendapat pelajaran dari ini, mungkin Anda akan berhenti memanggilku dengan mata buta dan—?!"
Tepat saat Alicia akan mengatakan sesuatu dengan bangga, ia tergelincir dan jatuh dengan keras ke tanah.
Keheningan sesaat menyelimuti area tersebut, menciptakan atmosfer yang tak bisa dijelaskan.
"Ah, ha ha ha ha ha!"
Tawa Wilfred meledak, bergema di seluruh halaman.
Setelah diejek begitu banyak, sungguh memuaskan menyaksikan ini.
Bahkan Wilfred, yang dikenal dengan pembawaannya yang tak kenal kompromi, merasa tak kuasa menahan tawa melihat hal ini.
"K-kenapa dari sekian banyak waktu aku harus tersandung sekarang?!"
Cara gadis itu cemberut karena frustrasi sungguh terlalu lucu, membuatnya tertawa terbahak-bahak sekali lagi.
Bagaimana bisa gadis ini membangkitkan emosinya begitu kuat?
"Kau bisa berdiri?" ia bertanya, masih tersenyum saat mengulurkan tangannya pada gadis itu.
"Mmm—"
Alicia meraih tangannya namun cemberut, terlihat jelas kalau ia tidak puas.
"J-Jangan pikir ini artinya Anda menang!"
"Pfft."
"Ah! Anda tertawa lagi!"
"Aku tak bisa menahannya! Mustahil untuk tidak tertawa mendengar balasan klasik seperti itu."
"Uuugh~!"
Alicia menggembungkan pipinya, tampak cemberut dengan menggemaskan.
Ia benar-benar seorang anak yang ekspresinya sangat mudah berubah. Setiap ekspresinya lucu dan menggemaskan.
Bersamanya terasa tak akan pernah ada saat-saat membosankan. Selalu saja rasanya ia akan tersenyum.
"Oh, apa yang sedang kalian berdua lakukan di sini?" sebuah suara merdu tiba-tiba bergema.
Meskipun suaranya jernih dan indah, rasa dingin merayap di tulang punggungnya.
Warna-warna cerah dari pepohonan dan bunga-bunga di sekitarnya tampak memudar.
"Sudah lama sekali, Yang Mulia. Saya datang untuk menjenguk sang putri, dan merupakan suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda," ucap Eleanor, calon ratu, dengan senyum anggun.
"Putri, seperti yang dijanjikan beberapa hari yang lalu, saya datang untuk menjenguk. Atau apakah saya mengganggu waktu Anda bersama sebagai suami istri?"
"A-apa?! T-tidak, sama sekali bukan gangguan..."
Alicia menggelengkan kepalanya kuat-kuat pada Eleanor, yang melontarkan pertanyaan itu dengan senyum usil.
Dengan helaan napas yang tak didengar oleh siapa pun, Wilfred mendecakkan lidahnya pelan.
Menggunakan kata yang sangat kuat seperti "gangguan" membuatnya ingin langsung membantahnya. Itu adalah taktik licik yang mempermainkan psikologi manusia.
"Saya senang mendengarnya. Apakah tidak apa-apa jika Yang Mulia bergabung dengan kita?"
"Tolong tahan diri Anda. Dengan segala hormat, waktuku yang dihabiskan untuk bercakap-cakap dengan istriku harus lebih diutamakan daripada mengobrol dengan Anda, demi kebaikan kerajaan."
Di sisi lain, Wilfred adalah tipe orang yang tak mempedulikan suasana. Ia menyatakan maksudnya dengan gamblang.
Pada kenyataannya, ia benar dari sudut pandang politis. Mempertahankan persekutuan dengan Kerajaan Barrois tetangga sangatlah vital bagi situasi Kerajaan Windsor saat ini.
Membina hubungan baik dengan Alicia, putri kerajaan tersebut, adalah prioritas utama.
"A-apa?! B-begitu ya..."
Mata Eleanor melebar karena terkejut; ia tak menduga tanggapan yang begitu lugas.
Terlihat gelisah, Eleanor melemparkan pandangan pada Alicia.
"Oh, a-aku tak keberatan. Aku juga ingin mendengar tentang Pangeran Arthur," tawar Alicia ragu-ragu, mengulurkan bantuan pada Eleanor.
Tanpa sadar Wilfred menghela napas.
Apa gunanya membantu musuh? Ia hampir mengatakan hal itu, namun ia menahannya.
Saat gadis itu meminta bantuan, ia tak bisa tidak mengulurkan tangan.
(Gadis itu terlalu baik hati.)
Itulah sebabnya ia mendapati gadis itu dimanfaatkan seperti ini.
Dan mengenai Eleanor, yang memanfaatkannya kebaikannya—ia merasa muak.
Tapi—
"Demi Alicia, aku akan mengizinkannya kali ini," ucap Wilfred, memberikan izin untuk bergabung dengan mereka dengan kesan enggan.
Sejujurnya, ia lebih suka menolaknya lagi secara langsung, namun kedudukan Alicia di istana sangat berkaitan dengan dukungan dari sang raja. Istana adalah tempat di mana desas-desus menyebar dengan cepat.
Jika ia menolak permintaannya dan merusak nama baiknya, hal itu akan mengundang mereka yang ingin merendahkannya.
Sebaliknya, dengan menghormati Alicia di sini, ia bisa memperjelas bahwa siapa pun yang menganiaya gadis itu akan mengundang murka sang raja.
Hal ini akan mengurangi kemungkinan terjadinya pelecehan yang aneh atau desas-desus buruk yang beredar.
Ia berutang banyak pada Alicia.
Wilfred merasa sudah menjadi tugasnya untuk memastikan gadis itu bisa hidup dengan nyaman di istana ini.
"Ah, terima kasih! Saya menghargai kemurahan hati sang raja!"
Sikap Eleanor berubah dari malu-malu menjadi ceria saat ia mengucapkan rasa syukurnya. Jelaslah sekarang bahwa semuanya adalah sandiwara untuk menarik simpati Alicia.
Sungguh menjengkelkan.
"Jika Anda akan berterima kasih kepada seseorang, Anda harus mulai dengan Alicia. Saya hanya melakukan apa yang ia minta," jawab Wilfred dingin, memotong ucapannya.
Meskipun ia tak ingin reputasi Alicia memburuk, ia tidak punya keraguan mengenai dirinya sendiri.
Ketakutan itulah yang menguasai para bangsawan dan birokrat.
"Ah, y-ya. Terima kasih, Putri Alicia," ia tergagap.
"Tidak apa-apa, tolong jangan sungkan," jawab Alicia, meskipun senyumnya sedikit kaku.
Tampaknya ia agak terkejut dengan sikap Wilfred yang kasar.
Yah, meskipun begitu, hal itu tidak menimbulkan masalah.
Ia tidak ingin Alicia tidak menyukainya, tapi gadis itu memiliki kecenderungan untuk melihatnya terlalu sebagai orang baik.
Mengingat hubungan jangka panjang mereka, akan lebih baik baginya untuk menurunkan ekspektasinya sejak awal demi masa depan mereka.
"Hehe, sudah lama sejak saya mengunjungi istana, tapi taman ini benar-benar megah," ucap Eleanor dengan senyum menawan, tampak tidak menyadari sikap kasar Wilfred.
Sulit dipercaya bahwa wanita yang pernah mendominasi perebutan kekuasaan wanita di istana tidak akan menyadarinya. Mungkin itu merupakan cerminan dari rasa percaya dirinya bahwa ia dapat menangani apa pun dengan kecantikannya.
"Begitukah? Saya rasa pemandangannya cukup membosankan," jawab Wilfred, seperti yang terlihat olehnya sekarang.
Ia menelan kata-kata, "Karena Anda."
Bagaimanapun juga, Eleanor tidak melakukan tindakan tidak sopan apa pun menurut tata krama istana. Bukan gayanya untuk memarahi wanita itu secara emosional karena hal sesepele itu.
"Yah, saya dengar Anda tumbuh di perbatasan. Anda pasti lebih menyukai bunga-bunga liar yang mekar di alam?" ia melanjutkan.
"Saya sama sekali tidak tertarik dengan hal itu," ujarnya singkat.
"Saya mengerti. Lalu bagaimana dengan teater? Saya sangat menyukainya..." desaknya.
"Saya sama sekali tidak tertarik dengan hal itu," jawabnya terus terang.
"Oh, begitu. Ngomong-ngomong, tren gaun sudah benar-benar berubah selama dua tahun terakhir. Gaun seperti apa yang Anda sukai, Yang Mulia?" tanyanya.
"Saya sama sekali tidak tertarik dengan hal itu," ulang Wilfred.
"Tolong jangan berkata begitu! Mencoba sesuatu yang baru bisa menambah warna dalam hidup..." lanjutnya, dengan lembut mencoba meletakkan tangannya di atas tangan Wilfred.
Namun, Wilfred dengan mulus menarik tangannya untuk menghindari sentuhannya.
"Anda seharusnya tidak sembarangan mencoba menyentuh tangan pria yang sudah menikah, apalagi di hadapan istrinya," tegur Wilfred.
"S-Saya sungguh minta maaf! Saya tidak bermaksud menyinggung, tapi orang-orang sering bilang saya terlalu dekat dengan orang lain," ia meminta maaf, walau Wilfred hanya bisa mencibir alasannya di dalam hati.
Jelas tidak ada apa-apa selain niat terselubung di balik tindakannya.
"Ah, ah~! Kapan makanannya akan datang? Aku lapar sekali!" Tiba-tiba Alicia berseru dengan nada yang sumbang.
"Mungkin kalau aku makan sedikit udara, itu akan membantu menghabiskan waktu?!" tambahnya, dengan gerakan seolah-olah memasukkan makanan ke dalam mulutnya sambil menggembungkan pipinya dan mulai mengunyah.
Bagi seorang bangsawan, tingkah laku semacam itu tidaklah pantas dan tidak terpuji, namun ia tampak menggemaskan seperti seekor tupai.
"Pfft, apa yang sedang kau lakukan?" Wilfred tak bisa menahan tawanya.
Tampaknya, karena ia adalah orang yang baik hati, ia lebih mengutamakan mencairkan suasana ketimbang rasa malu yang mungkin ia hadapi.
Namun, perhatian itu...
"......."
Sepertinya Eleanor belum menyadarinya. Ia menatap keheranan, matanya terbelalak seolah melihat makhluk aneh. Lalu, raut wajah meremehkan muncul di wajahnya.
Namun, karena menyadari bahwa ia sudah melampaui batas, ia segera menutupinya dengan senyuman dan berkata, "Fufu, Yang Mulia, Anda sungguh pandai bergurau."
Namun, ada kilatan sikap merendahkan yang tersirat di matanya.
"Cih."
Kejengkelan mendidih di dalam dada Wilfred. Ia tak dapat membendung amarahnya terhadap Eleanor, yang sama sekali tak memahami niat baik Alicia dan bahkan membalasnya dengan komentar yang melecehkan.
(Tapi marah, heh?)
Di satu sisi, hal ini dirasa sangat janggal. Ada banyak manusia seperti wanita itu di kalangan kaum elite—mereka yang hidup bergelimang harta yang didanai oleh keringat rakyat jelata, namun menyepelekan mereka.
Wilfred biasanya tak merasakan apa-apa selain rasa jijik yang ringan terhadap orang-orang semacam itu. Ia biasanya terlalu jengkel bahkan untuk merasa marah. ...Atau setidaknya, begitulah seharusnya, tapi kalau menyangkut Alicia, segalanya berbeda.
Dadanya terasa sesak karena frustrasi.
Ia punya dorongan untuk membuang tata krama dan alasan serta menuntut agar Eleanor pergi.
"Tapi sepertinya Yang Mulia tidak suka jika waktu Anda bersama sang putri terganggu. Saya akan datang di lain hari," katanya, nada bicaranya menyiratkan bahwa ia masih mencoba menyelamatkan harga dirinya.
Sepertinya meskipun Eleanor tidak menyadari kebaikan hati Alicia, ia merasakan suasana hati Wilfred yang buruk. Dengan senyum menawan, ia membungkuk dan bergegas pergi.
Wilfred telah berkali-kali menemui wanita yang mengincar kekuasaan dan harta benda sebelumnya.
Biasanya, saat lamarannya ditolak, mereka akan terus bersikeras. Namun, begitu mereka sadar tak ada lagi harapan, mereka bakal mundur tanpa pikir panjang.
Mereka tak membuang energi untuk sesuatu yang percuma.
Tindakan ini sepenuhnya sudah bisa diprediksi.
Namun, hal itu juga membuatnya kesal karena membiarkannya pergi begitu saja.
Eleanor harus menanggung konsekuensi karena meremehkan istrinya.
"Tunggu. Alicia ingin mendengar kabar tentang Arthur, kan? Anda harus memberitahunya," ujar Wilfred, secara tak langsung mendesaknya untuk duduk dengan lirikan ke kursi yang kosong. Tak mungkin ia membiarkan fakta bahwa Eleanor telah menolak permohonan Alicia begitu saja.
Bagi Wilfred, Arthur juga merupakan kandidat pewaris takhta berikutnya. Ia ingin mengumpulkan informasi mengenai dirinya.
"Y-Ya, Yang Mulia," jawab Eleanor, menyadari bahwa ia tak bisa menolak perintah raja dan mengambil tempat duduknya.
Tak diragukan lagi, itu adalah momen yang canggung baginya, namun itu bukan urusan Wilfred. Ia telah sengaja mengganggu waktu mereka sebagai pasangan, menghalangi istirahatnya, dan menghina penolongnya.
Ia harus membayar harga atas perbuatannya; jika tidak, itu sama sekali tak sepadan.
"Jadi, bagaimana kabar Arthur?" tanya Wilfred, menopang dagunya dengan tangannya.
"Bagaimana kabar anakku? Dia baik-baik saja, seperti biasa," jawabnya.
"Begitu ya."
Orang-orang secara mengejutkan sangat sensitif terhadap perubahan di lingkungan mereka.
Meskipun hal itu mungkin tidak langsung terlihat, bahkan perubahan kecil dapat menjadi sumber stres, yang menyebabkan ketidaknyamanan fisik atau mental. Jika bukan itu masalahnya, hal itu akan menjadi yang terbaik.
"Hmm, apa ia makan dengan baik?" tanya Wilfred.
"Ya, hidangan yang disiapkan oleh koki kelas satu yang Anda atur sangat luar biasa. Saya yakin putra saya sangat puas. Sungguh, itu luar biasa, terutama daging sapi panggang dari sapi Maru itu—kualitas daging dan sausnya sempurna. Saya selalu menyukai daging sapi Maru. Kelembutan dagingnya dan marbling-nya yang halus... dan disiapkan oleh koki ternama..."
"Ngomong-ngomong, makanan apa yang disukai Pangeran Arthur?" tanya Alicia ragu-ragu.
Eleanor, yang sedang dalam suasana hati yang baik saat disela, sedikit mengerutkan kening.
Namun, mengingat bahwa ia sedang berbicara dengan sang ratu, ia dengan cepat membalasnya dengan senyuman.
"Apa yang disukai Arthur? Yah, saya yakin ia menikmati daging sapi Maru, sama seperti saya."
"Anda yakin?" tanya Alicia.
"Ya, kelezatan daging sapi Maru telah diakui oleh semua orang," Eleanor menegaskan dengan percaya diri, namun Alicia tampak tak sepenuhnya yakin dan sedikit mengerutkan alisnya.
Dengan ekspresi cemas, Alicia mendesaknya lagi. "Apakah Pangeran Arthur mengatakan itu?"
"Saya bisa menebak tanpa harus bertanya. Bagaimanapun juga, saya adalah ibunya."
"...Begitu ya."
Diberitahu secara terang-terangan oleh seorang ibu membuat Alicia, yang pada dasarnya adalah orang asing yang kurang mengenalnya, tak punya pilihan selain mengangguk.
Namun, raut wajahnya tetap murung. Jelas sekali bahwa ia tak sepenuhnya puas.
"Tidakkah itu terasa aneh bagi Anda!?"
Sesaat sesudah Wilfred pulang ke istana usai bekerja, Alicia menyergapnya dengan pertanyaan itu.
Sontak ia tergelak menyaksikan semangat istrinya.
Namun, sudah bisa ditebak. Wilfred cukup mengenalnya dan menyadari kalau ia bukan tipe yang mudah menyerah.
"Apa kau membicarakan Eleanor?"
"Iya!"
Gadis itu mengangguk tegas, kepalanya terangguk-angguk berulang kali.
"Ha."
Wilfred menganggap kelakuannya lucu dan tak bisa menahan senyum.
"? Apa yang lucu?" ia bertanya, menyipitkan matanya curiga.
"Bukan, aku cuma berpikir kau mirip burung pelatuk," jawabnya.
"Burung pelatuk?"
"Ya, caramu terus-menerus menggelengkan kepala."
"!?!? Anda mengolok-olokku lagi!"
Alicia melotot ke arahnya dengan mata setengah terbuka.
"Tidak, aku hanya merasa itu imut."
"Itulah yang namanya mengolok-olokku! Aku cuma berpikiran dangkal, bagaimanapun juga!"
Membusungkan pipinya, ia memalingkan wajahnya dengan kesal.
Sikap itu juga imut dan lucu bagi Wilfred. Terutama pipinya yang membusung itu yang mengingatkannya pada seekor tupai.
"Buhyuh?!?!"
Tiba-tiba, suara aneh keluar dari mulut Alicia.
Baru saat itulah Wilfred menyadari bahwa ia telah menusuk pipi gadis itu dengan jari telunjuknya.
"Yang Mulia?"
"Oh, maaf. Aku tak bermaksud…"
Itu benar-benar tak disengaja.
"...Apa ada hal buruk yang terjadi di tempat kerja?" ia bertanya.
"Tidak, bukan itu... Aku cuma berpikir pasti lucu menusukmu."
"Apa Anda mencoba mencari gara-gara denganku?"
"Aku jamin itu bukan niatku…"
Sejujurnya, ia hanya bisa mengatakan tubuhnya bergerak sendiri.
Dalam pertarungan pedang, hal-hal seperti itu bisa saja terjadi.
Gerakan-gerakan yang dilatih ke dalam tubuhnya terkadang bisa keluar sebagai refleks, lebih cepat dari yang bisa ia pikirkan.
Namun, menusuk pipi Alicia adalah sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Ia sama sekali tak mengerti mengapa tubuhnya bergerak seperti itu.
"Untuk saat ini, aku minta maaf kalau aku membuatmu kesal. Aku benar-benar tidak bermaksud mengolok-olokmu."
Ia menawarkan permintaan maafnya yang tulus, tapi—
"Sekalipun Anda tak bermaksud begitu, Anda tetap saja mengejekku, kan?"
Tampaknya permintaan maaf saja tak cukup untuk membangkitkan semangat istrinya.
Alicia memajukan bibirnya dan memalingkan wajahnya dengan kesal.
"...Kurasa aku tak bisa menyangkalnya."
Itu bukan sesuatu yang ia lakukan secara sadar.
Itu murni tak disengaja, tapi ia tak bisa tak menyadari bahwa ia memiliki kecenderungan ingin menggoda istrinya.
Reaksinya sungguh terlalu lucu.
Sambil masih merajuk, Alicia berkata, "Kita benar-benar harus membicarakan masalah ini dengan serius nanti, Yang Mulia. Tapi untuk sekarang, kita harus fokus pada Eleanor!"
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Ada banyak hal yang menggangguku! Bukankah itu aneh?!?!"
Alicia menggebrak meja dengan tangannya.
Frustrasinya sangat terasa.
"Aneh, heh?"
"Apa Anda tidak menyadarinya, Yang Mulia?!?"
Mata Alicia membelalak tak percaya.
Wilfred tersenyum masam, "Ada banyak wanita seperti itu di istana. Walaupun begitu, aku sepenuhnya setuju kalau itu tidak menyenangkan."
"Banyak?!? Aku tak percaya itu benar!"
"Memang begitu."
Alicia tampak terkejut, namun Wilfred menjawab dengan tenang. Ya, ada banyak sekali wanita seperti itu.
Ibunya adalah salah satu dari mereka.
Setelah menjadi komandan pasukan daerah dan kemudian naik takhta, tak terhitung banyaknya wanita yang datang mengerumuninya.
"Aku tak percaya. Aku pikir seorang bangsawan pun punya rasa kasih sayang terhadap anak mereka sendiri..."
"Hmm? Anak? Apa kau bicara soal rayuan Eleanor?"
"Maaf? Rayuan?"
Alicia mengedipkan mata, bingung.
Tampaknya apa yang membuatnya marah adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.
"Eleanor terus-menerus merayuku, padahal kau ada di sini. Kupikir itulah yang membuatmu marah."
"Jadi itu sebabnya?!?!"
Mata Alicia membelalak kaget, ia jelas tak menyadarinya sama sekali.
"Yah, sejujurnya, Yang Mulia dan aku kan belum jadi pasangan yang sebenarnya, jadi aku tidak akan marah karena hal seperti itu."
"...Yah, itu memang benar."
Wilfred mengangguk mendengar ucapan Alicia, namun ia merasakan sedikit rasa tak nyaman di lubuk hatinya.
Ucapan istrinya memang masuk akal dan tak dapat disanggah.
Namun entah mengapa, ia sedikit merasa kesal.
Rasanya aneh.
Bersama gadis itu membuatnya menjumpai sisi lain dari dirinya yang tak pernah ia sadari sebelumnya, dan hal itu membuatnya bingung.
"...Hmm, yah, kupikir itu sedikit menyebalkan, jujur saja."
"Hmm."
Tiba-tiba rasa sakit di dadanya sirna.
"Kendati begitu, aku tidak punya kuasa untuk menghentikannya."
Ia merasakan kekesalan yang tak asing itu muncul kembali.
Apa yang terjadi di sini?
"Anda adalah istri sahnya. Saya yakin Anda punya hak untuk melarangnya."
Meredam gejolak di dalam dadanya, Wilfred berbicara dengan tenang.
Wilfred dan Alicia telah melangsungkan prosesi pernikahan mereka di hadapan Paus Altrius bertempat di Katedral St. Mitchell yang megah di ibu kota Windsor, dengan dihadiri oleh berbagai kalangan elite kerajaan sebagai saksi.
Mereka telah mematuhi segenap prosesi formal warisan nenek moyang mereka, jadi seharusnya tidak ada yang diragukan.
Singkatnya, secara de jure, ia adalah istri sah di mata negara yang tak bisa ditawar-tawar lagi.
Kendati sudah menjadi kebiasaan apabila sang raja memiliki lebih dari seorang wanita simpanan, pengesahan status wanita simpanan menjadi "istri sah kedua atau setelahnya" mesti mendapat izin dari Alicia yang tak lain adalah istri sahnya.
Tentu saja, istri sang raja dipinang dari kalangan para putri di negara tetangga maupun putri dari kaum aristokrat terpandang di dalam kerajaan.
Mengabaikan istri seperti itu sama saja dengan tidak menganggap keluarganya.
Maka dari itu, istri sah dianugerahi hak-hak istimewa untuk membela kehormatannya, baik secara hukum positif maupun adat.
"...Maka, seperti yang bisa Anda lihat, Anda punya hak formal untuk melarangnya."
Wilfred menjelaskan hal tersebut pada Alicia.
Meski benar bahwa beberapa raja masa lalu pernah terjebak dalam kehidupan yang penuh dengan kebebasan, dengan mengesampingkan nilai-nilai semacam itu, ia adalah seorang raja yang menjunjung tinggi hukum. Apabila ia sendiri melanggar hukum, ia takkan mampu memberikan teladan bagi rakyatnya.
Ia bermaksud untuk mematuhi hukum tanpa kompromi.
"Yah, mungkin itu benar secara tertulis, tapi... lagipula, kita kan bukan pasangan sungguhan, jadi bukankah menurutmu aku tidak berhak menggunakan hak itu?"
"Karena itulah aku bilang kau punya hak itu. Itu adalah hak sah yang diakui oleh hukum."
"Tapi aku tak sedang membicarakan soal hukum..."
Alicia memiringkan kepalanya, bingung bagaimana menjelaskannya. Lalu, dengan sebuah kesadaran yang tiba-tiba, matanya terbelalak.
Ia bahkan memasang wajah sedikit jahil dan bertanya, "Mungkinkah Anda ingin aku menghentikannya?"
Mendengar kata-katanya, Wilfred mengerjapkan matanya kebingungan.
"Oh, tak mungkin itu benar! Lagipula hubungan kita tak seperti itu. Hahaha!"
Alicia tertawa riang melihat reaksi Wilfred, mengira itu hanya lelucon kecil.
Namun, Wilfred merespons, "...Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, mungkin saja itu benar."
"Hah?"
Kali ini, Alicia berkedip kaget, suaranya terdengar agak linglung.
Wilfred melanjutkan, "Aku hanya berniat menjelaskan kewenangan sahmu kepadamu, tapi setelah dipikir-pikir, mungkin aku memang ingin kau menghentikannya."
Ia menutupi mulutnya dengan satu tangan dan menatap kosong, berbicara seolah sedang larut dalam pikirannya sendiri.
Rasanya tak seperti ia sedang berbicara dengan Alicia, tapi lebih seperti ia bergumam pada dirinya sendiri.
Wilfred memang memiliki kebiasaan seperti ini. Ketika ia mendapatkan momen pencerahan atau kesadaran, ia akan menjadi sangat fokus hingga ia tenggelam dalam menyortir pikiran-pikirannya.
Alhasil, bahkan dalam situasi rumit, ia mampu dengan cepat dan akurat menyusun buah pikirnya serta membuat pertimbangan yang matang.
Atau, ia mampu menelurkan jalan keluar yang kreatif sekaligus masuk akal.
Keahlian ini jadi landasan gelar menyeramkan yang dimilikinya sebagai "Raja Iblis yang Tirani," tetapi bagi orang-orang di sekitarnya, hal itu justru menjadi sedikit ganjil.
Tanpa permisi ia akan tenggelam dalam pikirannya sendiri dan mulai meracau tanpa acuh pada siapa pun di sekitarnya.
Dan apa yang dikatakannya sekarang sangatlah penting:
"Aku memang ingin kau menghentikannya. Akan tetapi, aku tak butuh bantuan Alicia hanya untuk menolak wanita itu. Aku sanggup mengurusnya sendiri. Lalu mengapa aku ingin kau, dari semua orang, yang melarangnya dan bukan Cedric atau para penjaga?"
Meskipun ia tak sengaja, isi pikirannya terasa hampir menyerupai sebuah pernyataan cinta.
Alicia berada dalam keadaan sangat bingung.
Ia berniat membahas sikap aneh Eleanor terhadap Arthur, namun entah bagaimana ia disajikan dengan apa yang terasa seperti sebuah pernyataan cinta.
(Apa yang sedang terjadi?!? Aku tak mengerti sama sekali! T-Tunggu, apakah Yang Mulia merasakan sesuatu padaku!? E-eh!? Kenapa, kenapa, kenapa!?)
Sederet tanda tanya bertebaran di benaknya.
(Oke, oke, tenanglah, Alicia!)
Ia mengingatkan dirinya sendiri untuk tenang, lalu meneguk banyak-banyak dari teko air di dekatnya dan mulai menarik napas dalam-dalam.
(Dia adalah Yang Mulia, Raja Windsor! Dia bisa memilih wanita cantik jelita mana pun yang dia inginkan. Tak mungkin orang seperti dia menyukaiku! Tak mungkin! Itu pasti sebuah kesalahpahaman!)
Ia menampar pipinya untuk menepis segala pikiran tentang harga diri.
Alicia sangat menyadari posisinya.
Meskipun ia pikir penampilannya tak terlalu buruk, bahkan seorang anak kecil pun bisa melihat bahwa ibunya adalah wanita cantik dengan senyuman yang manis.
Orang-orang bilang ia mirip ibunya saat masih muda, jadi ia pikir ia lumayan menarik.
Faktanya, Wilfred juga pernah berkata demikian.
Namun, kalau dibandingkan dengan wanita-wanita cantik jelita yang terkadang berjalan-jalan di sekitar istana, ia merasa benar-benar kalah telak.
Kecantikan Eleanor, khususnya, sungguh luar biasa.
Rasanya seperti sebuah persaingan yang tak mungkin ia menangkan.
Jika Eleanor adalah seekor angsa, Alicia merasa tak lebih dari seekor bebek, dan ia sangat mempercayainya.
(Baiklah! Aku sudah tenang. Ini pasti sebuah kesalahpahaman, kesalahpahaman!)
Wilfred adalah seorang raja, pria yang dikejar-kejar oleh wanita-wanita berparas jelita yang tak segan mendekatinya.
Mustahil baginya untuk jatuh hati pada wanita sepertinya.
Sungguh tidak mungkin.
Pria itu pastinya memiliki pemikiran mendalam yang luput dari pemahamannya, dan ia mungkin saja keliru mengartikan perkataan di permukaan pria itu.
Pastinya seperti itu—tetapi—
"Hm, bila ditelusuri lebih jauh lagi, kuingat aku merasa dongkol manakala ada wanita lain yang mendekatiku, apalagi lantaran Alicia tampak benar-benar tak tertarik."
"Hah?!?"
"Sebaliknya, tatkala kau mengungkapkan rasa tidak nyamanmu, aku sedikit senang. Rasanya aneh. Bagaimana mungkin aku bahagia jika membuat seseorang tak nyaman? Kecuali kalau aku membencimu, yang mana jelas-jelas tidak. Jelas-jelas ini tak masuk akal."
"Ahh..."
Sejauh mana ia memahaminya, hal itu seolah menyiratkan bahwa Wilfred menyimpan perasaan kasih sayang kepadanya.
Hempasan rasa malu yang mendalam serta kesadaran dirinya mengakibatkan wajahnya bersemu kemerahan secara spontan.
"...Hmm, biarpun aku memikirkannya dalam-dalam, aku masih tak bisa mencerna semua ini. Kau sungguh penuh teka-teki."
"Bukankah Anda yang membingungkan dan penuh teka-teki, Yang Mulia?!" seru Alicia tanpa sadar.
Jujur saja, ia nyaris tak sanggup mendengarkannya lebih jauh lagi.
"Hmm? Ah, maafkan aku. Aku tadi sejenak asyik melamun."
"Tampaknya begitu..."
Jawab Alicia dengan tampang kelelahan.
Minimal ia telah kembali ke dunia nyata; sungguh melegakan.
Tingkah laku ini jauh lebih dari sekadar memalukan—benar-benar memalukan.
"Nah, sampai mana kita tadi? Ah, ya, mengenai Eleanor."
"Iya. Aku mengkhawatirkan perlakuannya pada Yang Mulia Arthur..."
Saat Wilfred mengingat topik pembicaraan tersebut, Alicia membalas dengan anggukan.
Kendatipun rasa keingintahuannya bergejolak mengenai perasaan sesungguhnya lelaki itu padanya, ia ragu mentalnya sanggup menghadapi fakta-fakta yang lain.
Untuk saat ini, memprioritaskan isu utama adalah hal yang terpenting.
"Hm, apa sebenarnya yang mengganggu pikiranmu?"
"Dugaannya."
Sekalipun terdapat beberapa selisih janggal yang mengganggunya, hal tersebut adalah persoalan pokok bagi Alicia.
"Hm, ya, aku mengerti. Tingkah laku Eleanor memang terkesan agak mengada-ada."
"Iya..."
Dengan roman muka yang muram, Alicia mengiyakan.
Ia merasa karena ia menggemari daging sapi Maru, putranya pasti turut menggemarinya.
Atau mungkin saja lantaran mayoritas orang menyukai daging sapi Maru.
Atau boleh jadi ia cuma merasakannya karena nalurinya sebagai ibu.
Sekalipun begitu, seluruh pandangan tersebut terkesan bersumber dari asumsinya belaka, bukan merupakan interaksi tatap muka dengan Arthur, hal itulah yang membebani pikirannya.
"Aku tahu kalau Anda suka pot-au-feu dan sup miso buatanku."
"Oh ya, itu adalah masakan kesukaanku."
Sontak Wilfred menganggukkan kepala seraya setuju.
Melihat rasa bahagianya yang tulus, seulas senyum tersungging di bibir Alicia, dan tawanya pecah.
Biarpun terkesan arogan, bagi Alicia, sisi kekanak-kanakan Wilfred cukup menggemaskan.
Akan tetapi, ia pantang membiarkan topik obrolannya terputus, oleh karena itu ia lekas memulihkan kembali mimik mukanya yang serius.
"Ya, tapi itu karena aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri dan mendengarnya dengan telingaku sendiri. Itu bukan karena aku menyukainya, atau karena semua orang juga menyukainya, atau karena Cedric yang mengatakannya, atau bahkan karena aku adalah istri Yang Mulia."
"Ya, itu benar."
"Mungkin sangat tak sopan mengatakan hal ini tentang seseorang yang baru kutemui dua kali, tapi..."
Alicia mengawali pernyataannya dengan ragu-ragu.
Ia merasa sedikit bersalah karena mengkritik seseorang yang baru dikenalnya.
Ia tak ingin Wilfred menganggapnya sebagai seseorang yang gampang menjelek-jelekkan orang lain.
Meskipun begitu—
Alicia tidak bisa menepis rasa khawatirnya terhadap anak itu.
"Apa orang itu benar-benar melihat Pangeran Arthur?"
Ia tak bisa membuang keraguan itu.
Tidak mungkin hal itu benar.
Namun, meskipun ia berusaha menyangkalnya, berbagai perasaan tak nyaman menolak gagasan itu.
"Kupikir ia bisa melihatnya secara normal... tapi mungkin yang ingin kau katakan bukan tentang penglihatan secara harfiah, melainkan makna kiasan."
Sambil berbicara, Wilfred tersenyum tipis menertawakan ketidakpahamannya sendiri tentang nuansa emosional semacam itu.
"Ya. Sepertinya ia melihat sesuatu yang bukan Pangeran Arthur. Seperti itulah kelihatannya."
"Sesuatu selain Arthur... Begitu ya."
"Ya, aku tak bisa memastikan apa sebenarnya yang ia lihat..."
"Tidak, sekarang setelah kau mengatakannya, aku sebenarnya mengerti. Pandangan seperti itu jauh lebih tak asing bagiku."
"Eh?"
Saat Alicia berkedip karena terkejut, Wilfred mendengus pelan.
"Kekuasaan dan otoritas, dan kehidupan istana yang glamor, kurasa."
Ia mengatakan ini dengan nada yang diwarnai rasa jijik, seolah-olah membuang jauh pikiran itu.
Alicia mengangguk setuju dalam diam; perasaan tak nyaman itulah yang tepatnya ia rasakan dari Eleanor.
Bahkan tak melihat anaknya sendiri, hanya melihat itu...
Batin Alicia.
Tidak ada jejak kebencian dalam suaranya, melainkan sentuhan kesepian dan ejekan pada diri sendiri.
Maka, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menguatkan diri, Alicia menatap lurus ke mata Wilfred dan berkata,
"Aku melihatmu dengan sungguh-sungguh, kau tahu."
"....…"
Mata Wilfred melebar karena terkejut.
Ini pasti yang orang maksud ketika mereka mengatakan seseorang terlihat kaget seperti burung dara yang dipukul dengan kacang.
"Aku melihatmu bukan sebagai Raja Kerajaan Windsor, bukan juga sebagai Raja Iblis yang Kejam, tapi sebagai seseorang yang bernama Wilfred Ivan Windsor."
"Eh, um..."
Untuk pertama kalinya, Wilfred sepertinya kehabisan kata-kata.
Kemudian, ia tiba-tiba memalingkan wajahnya.
Alicia panik, bertanya-tanya apakah ia telah menyinggung perasaannya, namun pria itu dengan ragu-ragu berkata,
"Terima kasih."
Sepertinya ia tidak marah, meskipun ia berbicara dengan canggung.
Setelah diperhatikan lebih dekat, ia menyadari pipi pria itu sedikit memerah.
Mungkinkah ia... tersipu malu?
(Ini bisa jadi kesempatanku untuk sedikit membalas dendam!?!?)
Alicia tiba-tiba mendapat pencerahan.
Pria itu baru saja membuatnya melalui saat-saat yang memalukan, jadi sedikit balasan pasti bisa diterima.
Senyum nakal merayap di wajahnya.
"Hei di sana, apakah kau mungkin merasa malu?"
Sambil menggoda, Alicia bergerak menghadap ke arah di mana pria itu memalingkan wajahnya—
dan segera menyesalinya!
Ia benar-benar terlihat malu.
Tidak hanya itu, namun matanya juga berkaca-kaca.
"Y-Yah, tidak mungkin itu benar," ucap Alicia, tertawa canggung dan pura-pura tak melihat.
Ayah mertuanya sering kali mengatakan,
"Pria tidak ingin wanita melihat mereka menangis."
Meskipun ia hanyalah istri sementara, ia berpikir suaminya juga tak ingin seperti itu.
"Ha, kau masih sama payahnya dalam berakting seperti biasa," ujarnya, langsung menangkap basah dirinya.
Tampaknya ia tak pandai sama sekali dalam akting semacam ini.
"A-Aku minta maaf," ia menyerah, memutuskan untuk jujur.
Sangat mudah untuk melupakan bahwa Wilfred, yang selalu tampil tenang dan terkendali, memiliki sisi rapuhnya sendiri.
Kali ini, ia merasa telah melangkah terlalu jauh ke dalam ranah privasinya.
"Kumohon jangan minta maaf. Aku tak pernah menduga akan berkaca-kaca karena hal seperti ini. Aku juga heran pada diriku sendiri," balasnya, mengangkat sebelah tangan untuk menenangkannya.
Air mata telah raib dari pelupuk matanya, berganti dengan raut wajah muramnya yang khas.
Ia mengaku terkejut, namun ia tampak sangat tenang.
"Sepertinya berada di dekatmu membuat batasan emosional saya mudah terlepas. Aku seolah tak bisa menjadi diriku sendiri."
"Aku benar-benar minta maaf karena menjadi istri yang aneh," jawab Alicia, yang sudah terbiasa digambarkan seperti itu oleh Wilfred.
Ia sangat sadar bahwa, sama halnya saat ia mengundang Eleanor ke istana dalam tempo hari, ia sering tak memahami adat istiadat istana, yang menyebabkan masalah yang tak perlu bagi Wilfred.
"Hmm? Tolong jangan meminta maaf untuk itu. Malahan, aku menganggapnya cukup menyegarkan."
"Apakah diam-diam Anda seorang masokis, Yang Mulia? Oh tidak! Aku minta maaf!"
Menyadari ia baru saja mengatakan sesuatu yang keterlaluan kepada seorang raja, ia pun panik.
Setelah kesalahannya sebelumnya sebagai petugas kebersihan, ia merasa sangat malu begitu menyadari kesalahannya.
"Aku cenderung melontarkan apa pun yang terlintas di pikiranku…"
Di kota pelabuhan kecil, sikap seperti itu mungkin terkesan menggemaskan, tetapi di istana, ceritanya berbeda.
Satu saja salah ucap bisa berakibat fatal, seperti yang telah diperingatkan Cedric berulang kali padanya.
Nyatanya, ia telah memberi Eleanor alasan yang sempurna untuk muncul di istana dalam.
"Jadi kau benar-benar berpikir aku ini seorang masokis?"
"Ahhh!??"
Ia tak menyangka betapa cerobohnya dirinya!
"…Pfft! Hahaha! Hahahaha!!!"
Alih-alih marah atau terlihat kesal, ia malah tertawa terbahak-bahak, memegangi perutnya sambil tertawa keras.
Setelah semenit penuh tertawa, ia akhirnya bertanya, dengan air mata di pelupuk matanya, "Ngomong-ngomong, apa yang membuatmu berpikir begitu?"
"Hei, bukankah Anda tadi memalingkan wajah karena tak ingin aku melihat air mata Anda?"
Alicia merasa sedikit tidak puas dengan itu, namun ia memutuskan untuk menjawab pertanyaannya.
"Soalnya, sejak kita bertemu, aku cuma melakukan hal-hal buruk padamu."
"Hal-hal buruk?"
Mata Wilfred terbelalak kebingungan.
Ia menengadah ke langit-langit, berpikir sejenak, lalu berkata, "Sejujurnya, aku tidak ingat kau pernah melakukan hal seperti itu."
"Itu mustahil! Sejak pertemuan pertama kita, Anda mendapat sikutan di pelipis!"
"Oh, benar, aku ingat itu. Itu pasti sakit. Kaulah satu-satunya yang pernah memukulku dengan telak seperti itu, baik sebelumnya maupun sesudahnya."
Apa maksudnya itu?
Membaca kata-kata itu saja, "baik sebelumnya maupun sesudahnya," rasanya seperti sebuah kalimat yang akan membuat wanita mana pun luluh, namun itu sama sekali tidak membuatnya senang.
Namun alih-alih memikirkan hal itu, ia mendesak dengan percakapan.
"Setelah itu, aku sangat membuat Anda takut, membuat Anda merasa tidak nyaman dan menyusahkan Anda."
"Ah, aku ingat itu, tapi sejujurnya, matamu yang penuh tekad meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam bagiku. Aku pikir mata itu sangat indah."
"Eh!?!??"
Lagi-lagi pujian tak terduga lolos dari bibirnya, dan ia mengeluarkan suara yang aneh.
Indah!?!? Dan sangat indah!?!?
Apa sebenarnya yang ia bicarakan?
"Yang Mulia… Anda benar-benar payah dalam menilai kecantikan, ya?"
Alicia berbicara dengan sungguh-sungguh, merasakan sedikit kesedihan atas kata-katanya sendiri. Sulit dipercaya bahwa seseorang akan mengatakan hal seperti itu tentangnya; itu adalah satu-satunya kesimpulan yang bisa ia dapatkan.
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Karena kalau Anda berpikir aku sangat cantik, mata Anda pasti payah. Ada begitu banyak orang yang jauh lebih cantik dariku di istana ini."
"Aku tidak sedang membicarakan fitur wajahmu. Aku sedang membicarakan matamu. Saat kau dipenuhi tekad, matamu bersinar dengan indah. Tak ada permata yang bisa menandingi kilauannya."
"~~~~Apa!"
Seketika Alicia merasakan wajahnya memanas.
Rasa malu dan kikuk sontak membuatnya menutupi parasnya dengan kedua tangannya tanpa sadar.
Ada apa ini?!
Mengapa ucapan suamiku mendadak semanis ini!?!?
(Dan parahnya, aku tahu dia tak sekadar membual.)
Kendati kebersamaan mereka baru seumur jagung, ia mampu merasakan setidaknya hal itu.
Wilfred bukan tipe orang yang mudah mengumbar rayuan manis semacam itu.
Dialah yang dengan santainya menyebut gadis itu "cantiknya standar" di malam pernikahan mereka. Mendengar kata-kata itu diucapkannya dengan penuh keyakinan, dari lubuk hatinya yang paling dalam, membuatnya merasa sangat salah tingkah! Sungguh bikin malu!
Namun yang paling utama, ia juga merasa sangat bahagia.
Bagaimanapun juga, Alicia adalah seorang perempuan muda.
Mendengar seseorang yang ia kagumi mengucapkan kata-kata manis tentang kecantikannya tak ayal membuatnya merasa tersanjung.
(Tadinya kukira itu hanya kesalahpahaman belaka, namun mungkinkah ini berarti ia menaruh hati padaku? Tak sebatas teman, melainkan rasa cinta?)
Alicia mencuri pandang ke wajah Wilfred melalui sela-sela jarinya, perasaannya berkecamuk antara bingung dan canggung. Lelaki itu tampak terkejut melihat reaksinya, namun raut mukanya tak lama berubah seakan menyadari sesuatu.
"Uh... kumohon jangan salah paham. Aku tak bermaksud merayumu atau semacamnya," ujarnya seraya menggaruk pipi merasa bersalah.
"Oh, begitu. Tadi aku sempat kaget," ucap gadis itu, menyadari bahwa rasa hangat di wajahnya memudar dengan sangat cepat.
(Apa mungkin aku agak sedikit kecewa?)
Alicia tertegun atas kesadarannya itu.
"Mungkin itu terdengar seperti kalimat yang memicu prasangka, tapi sungguh, menurutku matamu memancarkan pesona," lanjutnya.
"Itu dia yang kumaksud!"
Ia tak sanggup untuk tidak menyela. Andaikan pria itu sungguh tak menyimpan perasaan apa-apa padanya, maka ucapan itu sama sekali tak berdasar.
"Maaf soal itu."
"Apa ini artinya Anda sebenarnya seorang pria penakluk wanita?"
"Itu juga salah paham. Aku tak pernah mengucapkan kalimat itu pada wanita lain selain dirimu."
"Itu dia! Itulah yang sedang kubicarakan!"
Alicia melengkingkan suara yang hampir menyerupai sebuah jeritan. Naik dan turun, naik dan turun, perasaannya berkecamuk tak menentu.
Sejujurnya, ia hampir tak mampu membendung emosinya.
Kalaulah pria itu bukanlah seorang raja, mungkin ia sudah mendaratkan sebuah sandal atau benda lain tepat di kepalanya.
Meski begitu, andai ia betul-betul melakukannya, pria itu paling-paling bakal tertawa seraya berkata, "Aduh! Untuk apa itu?"
Alicia mencermati jika senyuman Wilfred bukan lagi seringai sinis dan merendahkan diri yang biasa ia tunjukkan. Sebaliknya, hal itu merupakan pancaran aura yang lebih tenang, lebih natural yang rupanya mencerminkan secercah kebahagiaan.
"Apa—!?"
Saat rona senyum itu terbersit di pikirannya, detak jantungnya terpacu kencang, berdebar kencang di dalam dadanya.
Jantungnya terus berdebar kencang laksana genderang yang ditabuh kencang.
(Gawat, ini gawat, ini sangat gawat! Inilah yang orang bilang cinta!)
Kendatipun itu merupakan pengalaman pertama buatnya, ia merasakan adanya semacam firasat yang kuat di dalamnya.
Melirik sekali lagi lewat jemarinya untuk memandangi paras Wilfred, ia menyadari jika sang suami tampak gemilang disoroti latar pemandangan di baliknya.
(Lihat? Apa kata ibuku benar! Bila kau dimabuk cinta, pasanganmu akan terlihat jauh lebih tampan! Semesta ini terlihat lebih cerah!)
Begitulah ciri-ciri yang persis ia dengar selama ini. Sepertinya ia memang benar-benar kasmaran pada pria ini.
(Namun... Aku tak mampu menahannya!)
Dalam hati, Alicia menjerit keras.
Memang, pada kesan pertama, Wilfred bisa jadi terkesan lumayan menakutkan, namun kenyataannya, ia adalah orang yang ramah. Ada kalanya ia tak peka, tetapi Alicia yakin itu hanyalah luapan ketulusan hatinya semata.
Lebih dari itu—
Ia melakukan hal yang diyakininya baik bagi rakyat dan juga negerinya, tak memedulikan apakah rakyat yang ia ayomi membencinya atau memakluminya.
Ia menganggap pendiriannya yang kokoh, sikapnya yang benar-benar baik dan berjiwa besar, sangat menawan.
Masakan ia tak menaruh hati pada sosok sehebat itu yang menyanjungnya cantik dan memesona (sekalipun itu sekadar pujian pada orang biasa)?
(Akan tetapi, perasaan ini harus kusimpan rapat-rapat...)
Alicia mafhum bahwa dirinya dan Wilfred terikat tali perkawinan yang sah, dan tak ada larangan bila ia mencintai suaminya. Bahkan, itu adalah sesuatu yang lumrah. Walau begitu, Wilfred tak mengharapkan hubungan mereka berubah seperti itu.
Ketika ia memproklamirkan pernyataan tersebut pada malam pernikahan mereka, asa dan semangat pantang menyerah yang berhulu dari kelamnya masa lalu terasa begitu kental.
Terdapat banyak perkara yang mesti diselesaikan Wilfred melebihi hal apa pun.
Ia tak ingin melimpahkan masalah asmaranya kepada sang suami, lebih-lebih ia begitu penyayang dan kelak bisa-bisa membebani pikirannya.
"Aku sungguh menyesal. Bukan itu yang kumaksudkan," sahutnya dengan nada sedikit muram.
"A-Aku mengerti," sahutnya, kendati kata-katanya—bahwa itu bukanlah tujuannya—menusuk ke relung dadanya.
Mengabaikan hal itu, di luar nalar ada pesona yang tak bisa dipungkiri ketika melihat raut wajah Wilfred yang tertunduk lesu bagaikan seekor anjing besar.
Oh tidak, ini gawat.
Dalam semenit, ia merasa semakin mengaguminya.
(Apa mungkin aku mampu menyembunyikannya?)
"Cinta bukan sesuatu yang kau cari; cinta adalah sesuatu yang menjebakmu saat kau tak pernah menyadarinya."
Ia ingat ibunya mengatakan sesuatu seperti itu. Memang, hal itu sepertinya benar-benar nyata.
Meski itu adalah perasaannya sendiri, ia merasa tak mampu mengendalikannya.
Cinta itu tak tertahankan. Sekali ia menyergapmu, rasanya tiada jalan lain selain melangkah maju.
Itulah perasaan meluap-luap yang tak bisa ia hindari.
Wilfred juga merasa gundah.
Saat berhadapan dengan Alicia, ia tak bisa menjadi dirinya yang biasa.
(Apakah aku... benar-benar pria senaif ini?!)
Ia tak bisa menahan rinding kala mengenang kalimat yang baru saja ia utarakan.
Acara kumpul-kumpul...
Bermesraan sesaat... Apa pun penafsirannya, kedengarannya persis seperti rayuan pria hidung belang yang menyebar gosip di sebuah pesta malam.
Namun ia bersumpah, ia tidak pernah memendam niat untuk berbohong.
Dari lubuk hatinya yang terdalam, Wilfred dengan tulus mengagumi kecantikannya.
Saat pertama kali mereka berjumpa, ia memandang gadis itu setidaknya cukup lumayan, namun sekarang, saat memikirkannya lagi, ia merasa ingin memaki dirinya sendiri karena begitu naif.
Kini ia yakin bahwa tak ada satupun sosok di kolong jagat ini yang secantik dan memikat layaknya gadis itu. Tentu, bila kau hanya memandangi setiap lekuk wajahnya, kau bisa saja berkata bahwa punya Eleanor lebih rupawan.
Namun hanya itu saja—sebuah rupa yang kaku dan tak berjiwa.
Kau akan bosan memandanginya dalam tempo tiga menit saja.
Sebaliknya, rona wajah Alicia begitu memikat.
Raut wajahnya akan senantiasa silih berganti, membuatnya sangat menyenangkan untuk dipandang. Kau takkan pernah merasa bosan.
Raut mukanya yang rupawan membuat hatinya seakan dihangatkan, dan ia merasa gadis itu sungguh memikat.
Namun, manakala secercah determinasi yang membara terpancar di matanya, seluruh figurnya sontak berbalik 180 derajat.
Kegemilangan itu membuatnya terbuai, nyaris membuatnya tak sanggup memalingkan wajah.
Ia akan begitu terpesona hingga ia hanya akan berdiri di sana, sepenuhnya terpikat.
Ia sejujurnya berpikir—tanpa berlebihan sedikit pun—bahwa makhluk seindah itu bisa ada di dunia ini.
Ya, jika dibandingkan dengan keindahan Alicia yang memukau dan terus berubah-ubah, kecantikan Eleanor benar-benar biasa dan membosankan!
Ibarat menyandingkan bulan dengan kura-kura lumpur. Takkan ada sedikitpun tandingannya.
(Hmm, ini bukan berarti diriku yang aneh ya.)
Sudah tak terbantahkan bahwa Alicia dianugerahi paras rupawan yang bahkan Eleanor, yang dahulu santer diagung-agungkan laksana permata yang sanggup meluluhkan banyak bangsa, takkan mampu menyamainya.
Ia tak membual sama sekali.
Alicia sungguh memukau, sehingga, bahkan saat meluapkan isi hatinya secara jujur pun membuat dirinya terdengar tak ubahnya bajingan murahan.
Itulah garis besar yang bisa ditarik Wilfred, hanya saja ia luput akan satu hal.
Bagi khalayak ramai, hal ini lazim disebut "berlebihan."
Sangat tidak peka, ia masih belum menyadari perasaannya sendiri pada saat ini.
"J-Jadi, iya! Lady Eleanor!"
Seketika, Alicia berdiri, berteriak dengan gaya yang berlebihan dan canggung.
Yah, berkat komentar Wilfred sebelumnya, suasananya menjadi sedikit tegang.
Gadis itu berusaha memecahkan suasana canggung tersebut. Ia tak bisa melewatkan kesempatan untuk menemaninya.
"Ah, ya, itulah yang sedang kita bicarakan."
"Benar. Jika, seperti yang dikatakan Yang Mulia, dia hanya terfokus pada kehidupan istana yang mewah, maka agak mengkhawatirkan bagi Pangeran Arthur."
"Yah, ia mungkin merasa sedikit kesepian," ujar Wilfred dengan senyum tipis.
Ia cukup mengerti perasaan itu.
Ibunya selalu saja memikirkan sesuatu yang lain—sesuatu yang lain selain dirinya.
Kenangan masa lalu itu terbayang kembali.
"Dia hanya sedang ditipu oleh orang-orang di sekitarnya. Suatu hari, ia akan menyadari cinta sejatinya dan datang mencariku."
"Akulah satu-satunya orang yang benar-benar ia cintai. Namun karena statusku yang rendah, orang-orang di sekitarnya memisahkan kami."
"Dia bermaksud menjadikanmu raja berikutnya. Kau ada di sini untuk melindungi kami dari orang-orang jahat. Memang berat, tapi kau harus bertahan."
"Rambut hitam dan mata hitam itu adalah bukti bahwa kau dipilih oleh para dewa! Kau akan menjadi raja besar, yang akan dikenang dalam sejarah!"
Perkataan ibunya menggema di dalam benaknya.
Bahkan semenjak kecil, ia paham jika ucapan ibunya itu tak masuk akal.
Mereka telah ditinggalkan.
Toh, sang raja tak pernah menjenguk mereka, dan tidak secarik surat pun pernah ia layangkan.
Ia pernah memohon tak terhitung banyaknya.
"Aku tak sudi diangkat jadi raja."
Ia memohon kepadanya untuk membuang mimpi yang tak masuk akal itu dan hidup tenang di Hanover.
Sayang seribu sayang rintihannya tersebut selalu menguap begitu saja.
Bagaikan orang yang kemasukan setan, ibunya terus mendesak bahwa Wilfred bakal menjadi raja kelak.
Lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi...
(Sungguh ironis. Pada akhirnya, aku menjadi raja, jadi kurasa "ramalannya" menjadi kenyataan.)
Tidak, dari sudut pandang Wilfred, itu bukanlah sebuah nubuat, melainkan lebih menyerupai sebuah kutukan.
Ya, kutukan.
Gambaran itu sangat pas.
Hal tersebut dipaksakan kepadanya oleh sang ibu, dan kini ia mafhum bahwa apa yang selama ini diperjuangkannya tak pernah sejalan dengan asas-asas cinta.
"Yang Mulia, apakah ada yang salah?"
"Oh, tidak, bukan apa-apa. Aku hanya teringat masa lalu."
Sambil membalas ucapan istrinya, otaknya tak henti berpikir.
Ia telah memperlihatkan kepeduliannya pada istrinya itu.
Sukacita dan rasa syukur atas hadirnya sosok yang senantiasa menemani hari-harinya. Biarpun bukan dilandaskan rasa saling memiliki, setidaknya ia merasakan limpahan afeksi yang tak ia dapati dari rahim ibunya.
"Masa lalu Anda, ya?"
"Ibuku juga terobsesi untuk menjadi istri raja dan menjadikanku raja."
Mereka telah melewati banyak waktu bersama.
Akan tetapi, selama apa pun kau menghabiskan waktu bersama orang yang tak meresap ke kalbumu, percuma saja kau mengemis afeksi darinya, yang ada kekosongan itu kian membumbung tinggi.
(Ah, kurasa begitulah rasanya kesepian.)
Baru sekarang ia menyadarinya.
Kelihatannya hatinya telah mati rasa. Hal itu sudah menjadi kenyataan hidupnya sehari-hari begitu lama hingga ia lupa bahwa itu adalah sesuatu yang menyakitkan.
"Begitu ya..." Alicia tersentak pelan.
Melihat tatapan simpati di matanya, ia berpikir, Seharusnya aku tidak mengatakan itu.
"Maafkan aku. Kita sedang membicarakan Arthur, bukan masa laluku."
Ia segera mencoba untuk mengarahkan pembicaraan kembali, tapi ekspresi Alicia tetap murung.
"Ya, aku khawatir dengan Pangeran Arthur, tapi aku juga mengkhawatirkan Anda," tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.
Ia merasa bersalah karena membuat gadis itu terlihat seperti itu.
"Itu sudah berlalu. Membicarakan hal itu tidak akan merubah apapun, dan kita sudah cukup melenceng dari pembicaraan. Mari kita lanjutkan," ucap Wilfred sambil melambaikan tangan sebagai tanda berakhirnya topik tersebut.
Entah mengapa, setiap kali Wilfred berbicara dengan Alicia, arah pembicaraannya seakan melenceng.
Biasanya, ia bisa tetap fokus pada satu topik dan memandu diskusi sebagaimana mestinya. Namun entah kenapa, hal itu tidak terjadi saat ia sedang bersama Alicia.
"Anda benar. Mari kita bahas Pangeran Arthur dulu. Tapi tolong, aku masih ingin mendengar lebih banyak tentang masa lalu Anda suatu hari nanti," ucap Alicia dengan senyum lembut.
"Kupikir itu bukan cerita yang menarik untuk didengar," jawab Wilfred.
"Meskipun begitu," desaknya. "Seperti yang kubilang sebelumnya, kalau itu bisa sedikit meringankan hatimu, aku ingin mendengarnya."
"Kau aneh seperti biasa," komentarnya.
"Benarkah? Bukankah wajar jika seseorang yang Anda sayangi merasa lebih ringan dengan berbagi bebanku?"
"Hm, mungkin kau benar. Bisa jadi. Tapi sejujurnya, aku tidak lagi menderita. Semuanya sudah berlalu."
Saat ia mengatakan hal itu, Alicia menatapnya dengan tatapan sedikit jengkel.
Raut wajahnya seolah berkata, Oh, dia mulai lagi.
"Ahhh, Anda orang yang sulit dimengerti," keluhnya keras.
Tampaknya tebakannya tepat sasaran.
Seperti biasa, ia mudah dibaca.
"Oleh sebab itu aku harus mendengarkan ceritamu. Anda tipikal manusia yang selalu membutuhkan kawan bicara. Tak akan kubiarkan lolos—kesempatan berikutnya, ceritakan semua hal padaku," pintanya mantap.
"Uh... baiklah," sahut Wilfred terkesiap mendengar permintaannya yang dadakan itu.
Walaupun sehari-harinya ia menampilkan persona yang ringkih nan bersahaja, namun seringkali ia memancarkan wibawa yang tak tertahankan, sama seperti saat ini.
"Jadi, tentang Pangeran Arthur..."
"Ya?"
"Bahkan Yang Mulia, senaif-naifnya Anda, pernah merasa sepi, jadi aku yakin Pangeran Arthur juga merasakan hal yang sama."
"Itu penilaian yang cukup kejam."
Wilfred tak kuasa menahan senyum simpulnya.
Bahkan Raja Iblis yang tirani pun tak berdaya di depan gadis ini, pikirnya. Walaupun hal itu sama sekali tak mengganggunya.
"Namun, bukankah itu kenyataannya?"
"Aku tak menyangkalnya."
Sebelum pertemuannya dengan Alicia, hatinya bagaikan es yang membeku dan mati rasa. Baru-baru ini, berkat kehadirannya, kebekuan itu mulai mencair, walaupun ia sadar kepekaannya masih jauh di bawah batas normal.
"Pangeran Arthur baru berumur sepuluh tahun. Kuharap ada yang bisa kita bantu."
"Sudah kuduga, Anda benar-benar... yah, Anda itu suka mencampuri urusan orang lain—bukan, maksudku, Anda sangat perhatian."
"Ah, b-begitu ya, jadi aku memang suka ikut campur, heh..."
Pundak Alicia merosot. Tampaknya ia menyadarinya. Mungkin pernah ada orang yang mengingatkannya.
"Yah... itu mungkin ikut campur, tapi... itu bukan hal yang buruk. Aku hanya berdiri di sini hari ini berkat ikut campurmu, bagaimanapun juga."
"A-apa!?? Diselamatkan adalah kata yang terlalu berlebihan! Aku tidak melakukan hal sebesar itu!!"
Alicia menggelengkan kepala dan tangannya kuat-kuat, jelas-jelas kebingungan. Hal itu tidak terlihat seperti kerendahan hati—ia benar-benar meyakininya.
Ia benar-benar gadis yang rendah hati.
Orang-orang biasanya melebih-lebihkan hal-hal yang mereka lakukan untuk orang lain dan meremehkan apa yang orang lain lakukan untuk mereka. Tapi tidak dengannya.
"Yang kulakukan hanyalah memberikan sedikit kenyamanan. Ini adalah hal yang akan dilakukan siapa saja, khususnya wanita."
"Tapi hal yang sederhana dan biasa itu ternyata menjadi sesuatu yang mengubah hidupku."
"Mengubah hidup!? Bukankah itu berlebihan!?"
"Tak juga. Kau membantuku menemukan sesuatu yang selama ini kucari."
"Sesuatu yang Anda cari?"
"Sesuatu yang hilang dari hatiku."
Wilfred tertawa mengejek dirinya sendiri.
Ia telah mencari begitu lama—sangat, sangat lama—hingga terasa tak ada habisnya. Untuk sesuatu yang tampaknya dimiliki orang lain, tetapi tak dimilikinya.
"Sesuatu yang hilang dari hati Anda…? Bisakah Anda memberi tahuku apa itu?"
"Sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata."
Selain itu, ia ragu Alicia akan mengerti. Bagaimanapun juga, ia memiliki begitu banyak hal itu.
Dan akan terasa tidak tulus, bahkan konyol, untuk mencoba menjelaskannya. Itu bukanlah sesuatu yang dangkal seperti simpati atau empati.
Jika ia harus menamainya, itu adalah... cinta tanpa pamrih.
Cinta yang tak didasarkan pada untung rugi, bukan sebuah transaksi memberi dan menerima, melainkan sebuah pengabdian yang murni dan sepihak.
Cinta yang tak berkurang meski menghadapi penolakan—cinta yang penuh dengan kebaikan yang tak tertandingi.
Normalnya, itu adalah sesuatu yang hanya diberikan oleh orang tua.
Itu bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan dari orang lain, sama sekali bukan.
Tapi dia, Alicia, telah membiarkannya merasakan sedikit dari hal itu.
Gadis itu telah menunjukkan padanya bahwa cinta seperti itu memang ada.
Dan itu adalah sesuatu yang membawa kehangatan dan kedamaian di hatinya.
Hal itu mengisi kekosongan yang menganga di dalam dirinya—kekosongan yang selalu membiarkan angin dingin masuk dan membuatnya hampa.
"Ya, mungkin yang dibutuhkan Pangeran Arthur adalah seseorang sepertimu."
"Hah?"
Alicia berkedip kaget, dan ekspresi matanya yang terbelalak benar-benar menggemaskan.
Kehangatan yang dipancarkannya, seperti sinar matahari di hari yang tenang, adalah apa yang dibutuhkan anak-anak.
Masih ada waktu bagi Pangeran Arthur.
Karena begitu Anda dewasa, menyadari bahwa kehangatan itu ada tidak selalu membantu mengisi kekosongan.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments