Bab 150: Tempat Lahirnya Dewa Jahat
Hutan itu menangis.
Air mata berkumpul di matamu, dan di mataku.
Akhirnya, air mata telah kembali ke desa ini, sebuah tempat yang selama ini hanya mengembuskan napas kering dan rapuh.
Air liur berkumpul di lidah yang tadinya kering dan kasar. Tenggorokan yang dulunya dipaksa menelan makanan layaknya pasir kering kini akhirnya bisa menerima sesuatu yang lembut.
"Akhirnya... akhirnya... kita bisa memohon ampunan!"
Tetua desa keluar tertatih-tatih dari kuil, melambaikan lengan yang setipis dan sekering cabang mati.
Sejak akhir musim dingin lalu, saat tanah di hutan pertama kali mulai lembap, rutinitas hariannya selalu sama. Begitu dia membuka matanya, dia memasuki kuil dan berdoa. Pagi, siang, dan malam, dia mengurung dirinya di dalam dan menolak untuk keluar.
Penduduk desa lainnya tidak berbeda. Sebagian besar dari mereka bersujud di dalam kuil sempit tersebut, atau di luar, di tanah kosong yang dingin, sambil berdoa.
Beberapa orang, mengira ada seseorang yang mungkin datang, pergi ke luar hutan setiap hari, ke tepian yang terhubung dengan dunia luar.
Seluruh desa menunggu seseorang untuk datang.
Bukan seorang penguasa wilayah.
Bukan seseorang untuk membagikan makanan.
Mereka menunggu seseorang yang akan mengampuni mereka.
Namun tidak ada kepastian di mana pun. Apakah makhluk seperti itu akan benar-benar muncul, atau apakah belum waktunya bagi mereka untuk diampuni, penduduk desa tidak bisa mengetahuinya.
Harapan dan keputusasaan silih berganti setiap detiknya seiring berlalunya waktu.
Satu hari terasa selama sepuluh tahun.
Mungkin mereka harus menunggu seperti ini selama seratus tahun lagi, dua ratus tahun, bahkan seribu tahun. Mungkin keturunan mereka pun akan menderita seperti mereka, dipaksa untuk hidup meskipun mereka tidak bisa mati.
Namun kini mereka tahu.
Mereka tahu karena hutan menangis, dan air mata mulai mengalir dari tubuh orang-orang.
Orang yang bisa mengampuni mereka telah datang ke mari.
Dia ada di suatu tempat di hutan ini.
Yang lainnya juga menyadarinya dan mulai bergerak, mengayunkan anggota badan mereka saat berjalan.
Tubuh mereka, yang telah kehilangan kelembapan sekian lama, melintir dan layu seperti cabang mati. Ketika mereka mencoba bergerak cepat-cepat, kulit keriput mereka terbelah dengan bunyi retakan yang tajam.
Darah kental terlihat melalui celah kulit mereka, namun tak ada satu pun yang memedulikannya.
Mereka semua hanya berjalan, terhuyung-huyung seolah mencoba meraih udara kosong.
Saat mereka melangkah lebih dalam ke hutan, bayangan-bayangan mulai muncul di sela pepohonan, berdiri seolah-olah bersembunyi di antaranya.
Lizzie menarik napas.
Ia berjengit mundur dan merapat pada Juhwan.
Dorothy, yang sejak tadi duduk menghadap ke depan di pangkuannya, dengan cepat memutar tubuhnya. Dia memeluk leher Juhwan dan menutup kedua matanya.
Lalu Dorothy berbisik pelan di sebelah telinganya.
"Ayah, apakah itu monster? Binatang magis? Apa mereka? Mereka tampak mengerikan."
"Bukan, Dorothy. Mereka... manusia."
"Lalu kenapa mereka terlihat seperti itu? Mereka aneh. Mereka terlihat seperti monster."
Juhwan tidak bisa menjawab.
Dia menatap orang-orang tersebut.
Sosok-sosok yang bersembunyi di sela-sela pohon itu terlihat mengerikan.
Mereka tidak memiliki rambut sama sekali. Alis pun tidak ada.
Kulit mereka keriput bagai kulit pohon tua dan menempel ketat pada tulangnya. Mereka terlihat hampir tidak punya otot yang tersisa. Pembuluh darah mereka menonjol jelas di balik kulit dagingnya.
Mereka terlihat seolah-olah cabang mati entah bagaimana berubah menjadi manusia.
Kelima atau keenam dari mereka semuanya seperti itu.
Apakah mereka penduduk Desa Makam?
Mata orang-orang itu membelalak saat menatap Juhwan. Bola mata mereka yang menonjol dipenuhi urat darah.
Sesaat, mereka hanya memandangnya, seakan-akan waktu berhenti.
Kemudian, mereka terlambat mulai menggerakkan tungkai dengan cara aneh.
Mungkin untuk menghindari gesekan kulit mereka, mereka menahan lengan dan kaki sejauh mungkin dari tubuh mereka selagi mengayunkannya. Mereka terlihat bagai laba-laba yang bergerak.
Orang-orang tersebut perlahan keluar dari balik pohon tempat mereka bersembunyi dan mendekati Juhwan.
Gerakan mereka lambat, tapi dengan cara mereka sendiri, mereka seakan sedang terburu-buru. Mereka mengayunkan lengan mereka sekuat tenaga, lengan yang terlihat seolah-olah bisa patah kapan saja jika disentuh.
"Ayah, Ayah, manusia monsternya datang ke sini."
Dorothy berbisik dengan suara penuh ketakutan di samping telinganya. Satu tangan memegang erat leher Juhwan, sementara tangan lain menutup kedua matanya. Tapi celah-celah antar jarinya sedikit terbuka.
"Lizzie, diam di sini sebentar. Aku akan pergi bicara dengan orang-orang itu."
"Tolong berhati-hatilah."
Lizzie mengambil Dorothy darinya dan bicara dengan nada tegang.
"Jangan khawatir."
Juhwan bicara pelan dan turun dari kereta.
Oz dan Yeonhwa masih tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Mereka hanya terlihat mengerikan; para penduduk desa tersebut sepertinya tidak punya maksud menyakiti mereka.
Juhwan berjalan ke arah orang-orang tersebut saat mereka mendekat, lalu berhenti tegas di tempat.
"Aku sedang mencari tempat bernama Desa Makam. Apakah kalian dari sana, kebetulan?"
"Y-ya... i-iya... b-benar."
Suara layaknya kerikil bergesek dengan batu keluar dari salah satu mulut mereka.
Sepertinya ia seorang laki-laki.
Laki-laki tersebut mencekik tenggorokannya sendiri dengan tangan, seolah kaget oleh suara yang dibuatnya sendiri. Jari-jarinya yang tipis, mirip serpihan tulang, mencengkeram lehernya yang dipenuhi kerutan dalam, dan dia diam mematung untuk beberapa waktu.
Sesaat kemudian, sudut bibir pria itu terbuka tipis.
Sepertinya ia mencoba tersenyum.
Bibir keringnya terbelah, dan darah merah muncul.
Namun dia seakan tak menyadarinya.
Pria itu tersenyum lebar tanpa suara.
Jika dilihat lebih dekat, itu bukan sekadar bibirnya. Kulit di seluruh tubuhnya pun retak layaknya kertas sobek.
Bisakah seseorang hidup dengan tubuh seperti itu?
Dengan dada berat, Juhwan memandangi orang-orang itu.
Semuanya memiliki luka serupa yang memenuhi tubuh mereka.
Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh orang-orang ini?
Saat sedang berpikir seperti itu, pria tersebut ambruk ke tanah. Tangannya yang terkulai menggores tanah.
Menyusul pria itu, yang lain pun jatuh satu persatu layaknya batang pohon mati yang patah dan meremuk.
"...Ampuni... ampuni kami... tolong... ampuni kami..."
"...T-tolong... ampuni kami..."
Semuanya menundukkan kepalanya dalam-dalam dan berucap serempak.
Juhwan mengulurkan tangan guna menolong pria itu berdiri, tapi ia menghentikannya.
Jika dia mencengkeram kulit rapuh dan bergesek tersebut, kulit itu bisa saja terkoyak.
Dengan tangan yang canggung setengah menjulur, Juhwan membuka mulutnya.
"Kurasa kalian salah paham akan sesuatu. Aku bukan utusan resmi yang dikirim Penguasa Wilayah atau semacamnya. Aku juga bukan bandit. Aku hanya datang ke sini... yah, sejujurnya aku sendiri tidak yakin mengapa aku datang kemari. Aku hanya kebetulan lewat."
Atas perkataan Juhwan, pria itu mengangkat kepalanya.
Tatapan matanya menyapu wajah, leher, lengan, dan kaki Juhwan sebelum berhenti di kakinya.
Hanya di sekitar kaki Juhwan, cairan berkumpul menjadi genangan basah.
Melihat hal itu, pria tersebut buru-buru menundukkan kepalanya kembali.
"...Anda adalah... seseorang yang kami tunggu. Suara ini, juga... hanya mau keluar sehingga kami bisa memohon ampun padamu. Awalnya, apa yang keluar dari tenggorokan kami bukanlah ucapan semestinya... Tolong ampuni kami... tolong... kasihanilah kami dan ucapkan meski cuma sepatah kata... meski hanya sepatah kata kalau Anda memaafkan kami... tolong... tolong... kami mohon seperti ini..."
Ini situasi yang sulit.
Juhwan menghela napas dan berjongkok di mana dia berdiri.
"Dengar. Aku sungguh tak tahu apa yang sedang terjadi atau apa yang tengah kalian bicarakan. Aku tak tahu desa macam apa tempat ini, atau mengapa hutan ini begitu aneh. Pertama, ceritakan padaku tentang kisah tempat ini."
Di tepi jangkauan Deteksi Sihirnya, dia mendeteksi ada lebih banyak orang lagi.
Mereka mendatangi ke arah sini. Gerakan mereka tidak cepat, namun tidak terasa seperti berjalan juga. Mempertimbangkan betapa pelannya orang-orang ini bergerak, mereka kemungkinan sedang berlari.
"Y-ya. Kisahnya... benar sekali... tolong dengarkan kisah tempat ini."
Wanita di belakang pria tadi—mungkin wanita—berbicara.
Sebab ia tak memiliki rambut atau alis dan kondisinya amatlah layu, sulit memastikannya. Sejujurnya, setiap orang di sini terlihat sama. Mereka tidak memiliki satu pun karakteristik yang mampu membedakan identitas setiap individu.
Meski begitu, sosok yang terbaring di belakang sang pria berbadan lebih kecil, dan tulangnya terlihat kian rapuh.
Wanita itu membuka mulutnya, kemudian merendahkan badannya rebah mencium tanah. Dengan bibir nyaris menyentuh tanah, wanita itu bicara dalam balutan suara kasar dan parau.
"...Ini hanya sebuah tempat yang sederhana... tapi ada sebuah kuil di desa... Bila Anda berkenan ke sana... tolong... jika Anda sudi pergi... kami semua... s-sangat berterima kasih..."
Hanya seusai mendengar tutur wanita itulah yang lain baru tersadar. Mereka seketika menundukkan kepala.
"Tolonglah."
"...Menuju kuil... tolong pergi ke sana... tolong..."
"...Kami sungguh memohon."
Juhwan melirik ke arah Yeonhwa.
Yeonhwa sepertinya tak tertarik sama sekali pada gerombolan manusia ini. Dia sekadar berdiri menatap hampa.
Bila Yeonhwa tidak berjaga-jaga, maka harusnya tak ada masalah.
Ia tidak mengerti mengapa manusia ini berakhir menderita semacam ini, namun besar kemungkinan mereka tidaklah terjangkit virus penyakit menular apa pun.
"Aku juga dari awal ingin mendengar ceritanya... Tolong tuntun aku ke sana."
"Terima kasih."
Orang-orang tersebut terus menunduk dan membungkuk, menempelkan dahi mereka ke permukaan tanah sebelum bangkit tergesa-gesa.
Ayun gerak mereka pun tetap canggung dan merambat lambat.
Orang-orang tersebut berlari melalui jalanan hutan dengan perlahan, seakan sedang meronta-ronta di dalam air.
Juhwan mengisyaratkan Lizzie agar membawa masuk keretanya, lalu mengekori mereka.
Selagi bergerak mendalami rimbunnya hutan, di balik sela pepohonan terlihat puluhan orang berada di jarak tak jauh.
Mereka semua terlihat sama.
Tanpa rambut rontok sedikitpun. Amat kurus. Penuh keriput tipis tapi dalam. Mata melotot dan sekian penuhi urat darah tampak semerah darah.
Sungguh, apa yang sudah terjadi di sini?
Mengapa setiap sosok di sini menyerupai rupa itu?
Seulas rasa menggigil menjalar di tubuhnya.
Desa ini seakan terkutuk.
Tepat di kala ia bergumam demikian, berembus angin yang sangat dingin.
Sadar akan kejadian tersebut Juhwan pun tahu ini kali pertama kalinya semilir angin menyapa dirinya dari saat awal memasuki kawasan hutan ini.
"...Ohh... ohh... ini angin... hembusan angin..."
Pada gerombolan yang belum lama datang itu, sosok yang terlihat paling uzur dan mempunyai jejak guratan terdalam perlahan-lahan mengangkat dua tangannya pada cakrawala saat menggumam pilu.
Juhwan dapat menangkap suara dari beberapa orang menyapanya sebagai tetua desa.
Si tetua melayangkan tatapan ke arah Juhwan bermodalkan pandangan bersimbah tangis dengan berujar,
"Waktu pun berjalan. Genangan tangis menyapu deras, dan tibalah angin menyapa... waktu sekian lama membeku, akhirnya mencair jua... Kepedihan laknat mengalir sirna... Kengerian nestapa menetap di badan akan merambat pergi..."
Di balik tutur mirip racaunya orang gila, pria uzur itu merendahkan diri siap bersujud cium ke permukaan.
Juhwan spontan mencegah aksi sang tetua.
"Kami baru hendak berjalan menuju kuil. Seseorang dari desa ini menginfokan perihal sebuah kuil dan meminta kami menengok ke situ."
"B-benar sekali itu. Kuil tersebut... ya... kita harus berjalan di sana... Itu benar adanya. Ya, sungguh betul."
Buru-buru meluruskan gestur kembali tetua tersebut beralih pulang menapaki arah yang baru dilaluinya.
"Dimohon ke mari Anda datang. Di arah sini. Kumohon ikutilah kami."
Kuil di kampung itu ternyata tak berukuran besar lagi tampak compang-camping.
Menjulukinya sekadar kuil pun sungguh teramat puitis. Tampilannya ibarat balai gubuk yang terpasang berantakan.
Juhwan membiarkan Lizzie serta Dorothy berada dalam keretanya lalu memasuki balai kuilnya seorang diri.
Sebab area ruang bagian di dalam menyempit, cuma sebagian penduduk yang berhasil lolos masuk.
Pria tua tetua serta rombongan segelintir lain mampu menjejaki langkah membuntuti Juhwan.
Penduduk terabaikan di dataran luar pun rela tersungkur mencium bentangan tanah telanjang serta mendengungkan lafal doa di bibir. Jikalau dirasakan dengan saksama seluruh rapalan merujuk, "Kumohon ampunan darimu."
Sejajar di pinggiran dinding tembok depan menempel sejumput makam kerdil.
Sekitar pusara ini dilingkari juntaian unting jerami membikin pagar bagi penolak orang guna tidak mendekat.
Pemandangan kala mengawasi pusara tersebut mematungkan Juhwan.
Tanpa nisan sedikitpun.
Tiada tangkai bunga di atas.
Hanya unggunan peninggi dari onggokan tanah liat bertaut dasar permukaan.
Akan tetapi tumpukan tersebut seratus persen terbalut merah.
Pemandangannya serupa ceceran darah baru saja diguyurkan membilas makam.
"Ini tempat..."
Juhwan memberhentikan kata-katanya sembari membaringkan sebuah genggaman lengan menyentuh dadanya.
Ada janggal menyelimuti.
Jantung berdenyut-denyut penuh pertanda ganjil.
Tetes tangisan menjamah di bawah bola matanya.
Apabila sebelumnya derai tangis berlinang bebas dari kuasa sang tuan punya tubuh, ini kontras berlainan di masa ini.
Kala kini teramat sesak kesedihan di dasar jiwa.
Sukarnya menahan jeda demi menarik satu hirupan nafas.
Terkungkung sesak pada lingkar dada dan serakan tetes derai duka membajak bebas mendarat menerbangi pipinya tiada usai.
Mengitari badan Juhwan rinai bintik butir genangan terwujud menjatuhkan diri mengiringi tempo renyai-renyai bunyian selayaknya rinai mendung hujan.
Bagaikan gentar ketakutan para masyarakatnya membuang badannya terjatuh rebah melandas.
"...Kumohon... ampuni... maafkanlah kami... ampuni semua dosa kami..."
"...Ku minta permohonan... Ribuan waktu silam... hamba bertempat hidup dalam nestapa tobat memohon... Tolong dimaafkan dari dosa semua itu."
Dibanjiri derai air mata mengalir, Juhwan beralih pandang menuju para pendoa tersebut.
"Makam punya siapakah ini semua?"
Di sepersekian sejenak para warga tersebut kaku untuk berbalas sautan.
Menggigil dengan penuh getaran ngeri menyergap, masing-masing bola menonjol cuma sanggup berguling pandang memutar.
Orang perdana membuka lafal adalah si sang tetua desanya.
"Ini sungguh peristirahatan makan buat si nyonya belahan jiwa sang Dewa Jahat."
"Belahan jiwa Dewa Jahat."
"B-benar... Benar sekali ini beliau."
Dewa Jahat.
Jikalau memori otaknya merajut teliti kembali, panggilan hal itu menggambarkan penjelmaan dewata yang mengutuk serta muak terhadap manusiawi umat. Sekian waktu yang belum lewat sempat tertangkap celah bisik kisah begini di indranya.
"...Tidakkah si nyonya kepunyaan si Dewa Jahat juga termasuk penjelmaan dewi pula? Lantas mengapa sang nyonya berdiam di pembaringan sini?"
Si tetua kakek buru-buru menyampirkan lirik ke puncak wajah Juhwan dikawal kedua binar serba berdarah seketika buru-buru menundukkan sorot padangannya tunduk.
Usai mendaratkan pelipis dahi kencang pada tumpuan rebahan si tua meluapkan ujarannya.
"...Sedia mulanya penjelmaan dewa kejahatan hanyalah wujud sejati dewata pemberi asih lagi pemurah budi sayang ke seluruh insan manusiawi. Disampaikan hikayat kecintaannya membuncah terlalu agung tiada terkira jadinya ia memilih terjun hidup bersanding menyatu dengannya... Sebab maknanya bahwa si wanitanya sang istri nyatanya sejatinya sebangsa insan manusia..."
Tetua yang sepuh bergeletar berguncang keras saat dia menggawangi posisi memohon kepalanya ke hadap, menjunjung ganda dua telapak sembari mendaulat tuntunan sebuah permohonan pembebasan diri. Merengkuh sepasang jemarinya ia bermukadimah.
"...Para nusa kami yang salah dan pantas dihukum. Luhur pendahulu pendiri dosa ini... Telah berganti zaman ribuan silam... generasi kita bernapas meneruskan bertahan dalam balutan silih berganti mengharap maaf atas kutuk ini... Kini saat ini... kumohon... hapuskan perih kutukannya... berikan ampun pengampunan tolong... untuk semua kesalahan fatal ini..."
Kakek tetua meneruskan raungannya bertangisan sesenggukan.
"...Tanah letak area pijakan ini titik embrio si Dewa kejahatan bertunas wujud dari rupa lahir. Persisnya lokasi duka belaka imbas terhilangnya belahan duka, tempat si dewa yang merindu puji cinta kasih mengalir pada insan namun mengubah menjadi wujud sejati penjelmaan Dewa laknat Jahat..."
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments