Bara di Pelabuhan Southleaf
Pulau Southleaf memang tidak terlalu besar, namun ia memiliki pelabuhan yang terawat dengan baik. Hal ini wajar, mengingat nadi kehidupan sebagian besar penduduknya bergantung pada kekayaan laut.
Biasanya, pelabuhan itu akan dipenuhi kapal nelayan yang berderet rapat bagaikan kelopak bunga sakura yang hanyut di atas genangan air. Namun saat ini, tak ada satu jiwa pun di atas kapal-kapal itu. Kesunyian yang mencekam menyelimuti dermaga.
Satu-satunya tanda kehidupan hanya terlihat di atas kapal lapis baja ukuran sedang milik Ksatria Templar—sebuah kapal kokoh dengan penguat baja pada lambungnya.
"Segar sekali rasanya. Tidak ada satu pun Beastman yang terlihat." "Kau benar. Waktu kita sampai, tempat ini penuh dengan mereka. Membuatku merinding saja."
Dua orang ksatria berdiri di dek kapal, menatap pelabuhan yang kosong. Seperti kapal feri sebelumnya, kapal perang mereka tidak bisa merapat karena dasar laut yang dangkal. Sebagai solusinya, mereka membangun jembatan darurat dari deretan perahu kecil yang dirantai bersama.
"Perahu jembatan itu sepertinya goyang. Lihat, salah satu perahu yang kita pakai." "Mungkin cuma ombak." "Mungkin saja. Ngomong-ngomong, kau sudah lihat senjata milik petualang di sini?" "Sudah! Benar-benar lelucon. Beberapa pedangnya bahkan karatan. Bayangkan memakai barang seperti itu dan berani menyebut diri petualang. Hidup di desa terpencil memang santai, ya." "Hanya orang rendahan yang mau jadi petualang." "Benar seka—hngh?!" Wajah salah satu ksatria itu mendadak meringis kesakitan. "Aaahhh!" "A-ada ap—hei!"
Sambil menjerit, ksatria itu melontarkan dirinya dari dek ke dalam air. Kakinya menderita luka robek yang dalam. Rekannya baru saja akan bereaksi saat ia menyadari ada serangan.
"Penyusup—aaahh!"
Meski sudah waspada, ksatria kedua itu justru terjungkal dan terlempar dari kapal, jatuh ke laut dengan bunyi debuman air yang keras.
"Sial, kemampuan Assassination memang menjijikkan seperti biasanya."
Kemampuan Assassination pada Soul Board mampu menulis ulang takdir, memberikan serangan dengan daya rusak mematikan jika dilakukan tanpa disadari lawan. Hikaru telah memaksimalkan kemampuan ini; cukup dengan dorongan lengan dan sentakan kecil, seorang ksatria berzirah logam bisa terlempar jauh ke udara.
Melukai mereka dan melemparkannya ke laut—strategi ini jauh lebih efektif daripada langsung membunuh mereka. Tanpa melepas zirah, mustahil bagi mereka untuk mengapung, dan mereka harus menolong rekan yang terluka. Kekuatan tempur mereka akan berkurang drastis. Hikaru memang sengaja membiarkan para ksatria ini tetap hidup demi sebuah tujuan.
"Ada apa di luar?!"
Hikaru segera menyelinap dalam bayang-bayang saat sekelompok orang keluar dari kabin menuju dek. Ada dua puluh ksatria yang berjaga di kapal ini—jumlah yang cukup besar. Karena merasa jijik jika harus tidur di kota yang penuh dengan Beastman, mereka memilih beristirahat di dalam kapal secara bergantian.
"Ada orang jatuh ke laut!" "Apa?! Ayo bantu—ack!"
Hikaru mendorong lima orang sekaligus dari belakang, membuat mereka meluncur melewati pagar kapal dan terjun ke air. Orang terakhir yang tersisa ia tebas lengannya sebelum terlempar juga.
Tersisa tiga belas ksatria. Sepuluh di antaranya tidak menunjukkan tanda-tanda pergerakan, kemungkinan besar masih tertidur lelap.
Hikaru melirik ke arah dermaga; tempat itu masih tampak sepi, tapi dengan penglihatan tajamnya, ia melihat beberapa bayangan bersembunyi di balik bangunan. Apakah warga melihatnya? Meskipun ia berada di dek yang terang benderang, ada kemungkinan besar ia tidak terlihat berkat kemampuan Stealth-nya.
Hikaru masuk ke dalam kabin kapal. Sebagai kapal militer, interiornya terasa suram namun tertata rapi. Pintu-pintu kabin berjajar di kedua sisi koridor sempit. Ia melihat beberapa orang sibuk di dapur, sepertinya sedang menyiapkan makan siang.
Menurunkan tangga, Hikaru menuju ke area penyimpanan kapal, di mana senjata-senjata hasil sitaan dari para petualang ditumpuk sembarangan.
"Fuuuh... Bagaimana cara membawa semua ini?"
Senjata adalah bongkahan logam. Singkatnya, mereka sangat berat. Mengingat jumlah petualang yang ada, total senjata ini mencapai sedikit di atas lima puluh buah. Beberapa item seperti busur memang ringan, tapi bentuknya yang panjang membuatnya sulit dibawa sekaligus.
"Tapi ini bukan waktunya mengeluh," gumam Hikaru.
Untuk gelombang pertama, Hikaru mengikat dua puluh lima pedang dengan tali dan memanggulnya di punggung. Berat, tapi bagi Hikaru yang sudah mengalokasikan dua poin pada status Muscle Strength (Kekuatan Otot), beban ini masih bisa ditangani. Ia berlari secepat angin, namun para ksatria yang tertidur tetap tidak terbangun.
Saat mendekati dek, suara-suara samar mulai terdengar—suara kepanikan dan pertanyaan seperti, "Kalian tidak apa-apa?" Beberapa ksatria rupanya berhasil muncul kembali ke permukaan.
Hikaru memposisikan diri di bagian kapal yang tertutup bayangan, tidak terlihat dari arah dermaga.
"Di sebelah sini."
Sebuah perahu kecil terapung di dekat sana. Hikaru sudah menginstruksikan Daigo untuk membawa perahu tersebut begitu para ksatria dilempar ke air. Ini adalah tugas berbahaya yang mempertaruhkan nyawa jika ketahuan. Hikaru awalnya ingin meminta bantuan pekerja pelabuhan, tapi Daigo bersikeras melakukan tugas itu sendiri.
"Ini adalah pertempuran untuk merebut kembali otonomi Pulau Southleaf," ujar Daigo. Seperti biasa, kata-katanya sama sekali tidak terdengar seperti ucapan anak kecil.
Daigo datang dengan perahu lincah agar mudah bermanuver. Hikaru menurunkan tumpukan senjata menggunakan tali, dan Daigo menangkapnya. Perahu itu berderit dan bergoyang saat menerima beban logam tersebut.
"Dua kali lagi," bisik Hikaru. Daigo mengangkat jempolnya. Setelah satu kali perjalanan lagi, Hikaru mengambil sisa senjata terakhir dan menuju ke lokasi berbeda, bukan dek.
Ruang kemudi—dan tempat itu kosong. "Hmm... Sesuai dugaan."
Hikaru berharap menemukan satu benda di sini: lonceng alarm atau alat komunikasi darurat. Di dunia ini, alat itu berbentuk tabung bicara sihir. Tabung itu tergantung di dinding dengan tulisan "Komunikasi Darurat" dan sebuah tuas. Tanpa ragu, Hikaru menarik tuas itu.
Suara melengking memekakkan telinga terdengar, diikuti oleh dentuman lonceng yang menggetarkan seisi kapal.
"S-Sial, berisik sekali!" Hikaru bahkan tidak bisa mendengar suaranya sendiri. Ia membuka setiap penutup tabung bicara dan berteriak, "Seluruh kru, tinggalkan kapal! Darurat! Saya ulangi, seluruh kru segera tinggalkan kapal!"
Hikaru segera keluar dari ruang kemudi. Kegaduhan bergema di koridor. Para ksatria yang masih memakai baju tidur berhamburan keluar dari kabin mereka dengan wajah panik.
Hikaru melompat kembali ke dek, mengaitkan tali, dan turun bersama sisa senjata ke perahu Daigo.
"Daigo, tancap gas!" "Dimengerti!"
Begitu Hikaru naik ke perahu yang kelebihan beban itu, air laut nyaris mencapai bibir perahu. Hikaru meraih tombak terpanjang yang ada di sana, menusukkannya ke lambung kapal ksatria, dan mendorong perahu kecil mereka maju dengan kuat.
Ia kemudian mengayunkan tombak itu ke arah daratan—sebuah sinyal.
Dari balik sebuah bangunan, sebuah siluet gelap muncul—kemungkinan besar itu Lavia. Bahkan di siang bolong, sulit untuk melihatnya karena ia menggunakan kemampuan Imperceptibility. Sebuah lingkaran sihir mulai tercipta di sekelilingnya.
"Daigo, lebih cepat!" Daigo mendayung sekuat tenaga, tapi beban senjata yang luar biasa menghambat kecepatan mereka.
Clang, clang, clang!
Suara lonceng kapal terdengar semakin jauh. Saat para ksatria mulai memadati dek dengan bingung, Hikaru berteriak dari perahunya.
"Ada serangan! Lari!"
Para ksatria yang terkejut mendongak ke langit dan melihat sebuah bola api raksasa meluncur ke arah mereka.
Dalam sekejap, jeritan memenuhi udara. Sihir api Lavia menghantam bagian dek yang kosong dari ksatria, memicu getaran hebat. Kapal itu berguncang dahsyat, membuat para ksatria terjatuh kembali ke laut.
"Wah..." Daigo bergumam pelan. Angin panas dari ledakan sihir itu mengacak-acak rambutnya.
"Sekarang giliran kalian," ucap Hikaru. "Oh, benar! Semuanya, sekarang!" teriak Daigo.
Penduduk yang sedari tadi bersembunyi di balik bayangan bangunan pelabuhan keluar sekaligus. Mereka menaiki perahu masing-masing dan mendayung bersama-sama. Pemilik perahu-perahu kecil yang tadi dijadikan jembatan oleh para ksatria mulai beraksi; mereka menendang para ksatria yang mencoba naik kembali ke darat agar jatuh lagi ke air.
Sementara itu, perahu Daigo mencapai dermaga. Ia segera menurunkan Hikaru dan tumpukan senjata itu.
"Apakah kami benar-benar hanya perlu menunggu di tempat terbuka seperti ini?" tanya Daigo ragu. "Ya," jawab Hikaru. "Hanya itu yang perlu kalian lakukan."
Hikaru melepas Daigo saat perahu bocah itu bergabung dengan armada perahu penduduk lainnya untuk menjauh dari dermaga—sebuah tugas pengalihan yang dipercayakan Hikaru kepadanya.
Api kini mulai melahap kapal ksatria. Meskipun memiliki penguat baja, interior kapal tetap terbuat dari kayu dan sangat rentan terhadap sihir api skala besar. Hikaru tidak perlu menghanguskan kapal itu sampai habis; melumpuhkannya agar tidak bisa berlayar sudah lebih dari cukup.
Di dalam air, para ksatria yang kesulitan mengapung mulai saling bantu untuk berenang ke darat. Bahkan mereka yang tadi mencoba memadamkan api pun menyerah; mereka menyelamatkan barang berharga dari kabin dan menceburkan diri ke laut.
"Blokade pelabuhan selesai."
Dengan ini, tidak ada satu pun kapal yang bisa digunakan di pelabuhan. Pelabuhan yang tadinya sibuk itu kini mati sunyi, menyisakan pemandangan satu kapal perang yang sedang membara di tengah laut.
Bab: Kembalinya Sang Prajurit dan Kesombongan Sang Penakluk
Hikaru, Lavia, dan Paula datang membawa tumpukan senjata yang sangat banyak.
"B-Bagaimana kalian bisa...?" Gogo terbata-bata, matanya melotot menatap bergantian antara Hikaru dan tumpukan senjata itu. "Sudah kuduga, tidak ada yang mustahil baginya," ujar Jillarte dengan senyum bangga.
Para petualang yang sudah berkumpul di gang-gang sempit segera mengambil senjata mereka. Kabar tentang situasi ini sudah disebarkan oleh Gogo dan Jillarte. Mereka menerima senjata itu dengan sukacita; beberapa bahkan mendekap pedang mereka ke pipi dengan penuh rasa rindu. Tak peduli seberapa keras para ksatria mengejek mereka, bagi seorang petualang, senjata adalah kawan hidup yang tak ternilai.
Sebelumnya, mereka menyerahkan senjata tanpa perlawanan karena percaya pada janji Guild Petualang untuk bernegosiasi. Mereka tidak pernah menyangka bahwa para staf guild akan dibantai tanpa ampun dalam semalam. Kini, dengan senjata di tangan, kepercayaan diri mereka kembali bangkit, mengubah rasa lega menjadi tekad tempur yang membara.
"Dengarkan semuanya!"
Suara lantang Gogo membungkam kerumunan. Ada lebih banyak orang dari yang Hikaru antisipasi—hampir seratus orang. Bukan hanya petualang; ada juga kaum Beastman yang bersenjatakan pisau dan pemukul. Ini adalah kekuatan persatuan dari mereka yang memiliki kemampuan bertarung.
"Pertama, Esrat akan memimpin skuad berisi dua puluh orang menuju kediaman Gubernur. Dia mungkin cuma 'anjing' penjilat Bios, tapi dia tetap sesama Beastman. Ada beberapa ksatria yang berjaga di sana, dan kita tidak ingin dia dijadikan sandera. Kami mengandalkanmu, Esrat!" "Dimengerti." "Sisanya ikut aku. Kekuatan utama musuh pasti sedang berkumpul di pelabuhan karena 'hadiah' yang kau berikan tadi." Gogo menatap Hikaru dengan seringai tajam. "Kerja bagus, bocah. Kita akan hancurkan para ksatria sok tahu itu!"
Raungan kaum Beastman mengguncang udara saat mereka mengangkat tinju. "Kita rebut kembali pulau ini dengan tangan kita sendiri! Ayo jalan!"
Kaum Beastman itu segera berpencar, meninggalkan kelompok Hikaru di belakang. "Ayo, Jillarte." "Ya."
Ekspresi Jillarte mengeras. Tujuan mereka adalah Guild Petualang, tempat di mana rekan-rekan Jillarte ditawan.
Harga Diri yang Ternoda
Suasana kota sangat sunyi; hanya teriakan samar dari arah pelabuhan yang terdengar. Mereka tiba di Guild Petualang tanpa hambatan. Pintu guild terbuka sedikit, dan aroma tak sedap yang menyengat langsung menusuk hidung.
"Kalian tidak apa-apa?!" Jillarte merangsek masuk ke dalam kegelapan lobi. Di sana, ia melihat rekan-rekannya tergeletak di lantai dalam kondisi terikat tali.
"Ini aku! Jillarte! Kalian mengenaliku?!" Ia menyiramkan air dari kantong kulit di pinggangnya ke wajah si Beastman macan tutul hitam.
"Ugh... Ji-Jillarte...?" "Kalian hidup. Syukurlah." "P-Pergi! Menjauh dariku!" "A-Apa?!"
Wajah Jillarte memucat karena penolakan mendadak itu. Ia khawatir rekan-rekannya membencinya karena hanya dia yang berhasil lolos sementara mereka disiksa oleh para ksatria.
"Maafkan aku karena melarikan diri sendirian. Tapi tolong, biarkan aku membantu kalian..." "Bukan itu... Pokoknya menjauh!"
Hikaru meletakkan tangan di bahu Jillarte. "Kurasa lebih baik aku yang menangani ini. Kau tunggu di luar saja." "T-Terima kasih, Arcus."
Begitu Jillarte keluar, Hikaru segera memahami situasinya. Sederhananya, para ksatria membiarkan mereka terikat semalaman tanpa izin ke kamar mandi, hingga mereka mengotori diri sendiri. Itulah alasan kenapa para penjaga akhirnya memilih pergi karena tidak tahan dengan baunya.
Hikaru membebaskan sembilan Beastman itu dan membantu mereka membersihkan diri di sumur pintu belakang. Itu adalah pemandangan yang menyedihkan sekaligus heroik: sembilan pria dewasa mencuci pakaian mereka yang kotor dengan wajah serius. Bagi mereka, harga diri lebih penting daripada luka fisik.
Beberapa saat kemudian, para Beastman yang sudah diobati oleh sihir Paula muncul dengan perasaan canggung. Namun, Jillarte menyambut mereka dengan ceria.
"Tidak apa-apa!" seru Jillarte mantap. "Terjebak dalam perangkap kotor tidak akan mengurangi harga diri seorang pejuang!"
Para Beastman itu terdiam dan berkumpul membentuk lingkaran, berbisik-bisik sendiri. "Hei, kenapa dia tersenyum begitu? Apa yang dia pikir terjadi pada kita?" "Aku bilang padanya kalau kalian terlalu malu bertemu dengannya karena gagal melindunginya," sela Lavia dengan wajah polos. "Ooh..." Para Beastman itu menghela napas lega. "Kerja bagus, gadis kecil." "Kau menyelamatkan kami."
Sembilan Beastman itu kemudian berbaris di depan Jillarte. Ketegangan tadi lenyap; kaum Beastman tampaknya sangat ahli dalam membuang perasaan negatif. Si macan tutul hitam bicara mewakili grupnya.
"Jillarte... Bukan, Wakil Pemimpin. Kami meremehkan misi ini dan membahayakanmu. Terlebih lagi, kau yang akhirnya menyelamatkan kami. Kami akan menerima hukuman begitu kembali ke Einbiest. Tapi untuk saat ini, izinkan kami menyelesaikan misi untuk melindungimu dan menghancurkan musuh."
Sembilan Beastman itu secara serentak berlutut dengan satu kaki dan menekan tinju kanan mereka ke tanah—sebuah gestur penghormatan tertinggi kaum Beastman yang hanya diberikan kepada pemimpin klan atau sosok yang sangat dihormati seperti Gerhardt.
"Kalian..." Jillarte terharu.
Rencana Sang Wakil Pemimpin
"Aku juga terjebak perangkap mereka kok," ujar Jillarte rendah hati. "Aku bisa lolos hanya karena keberuntungan yang luar biasa." Ia melirik Hikaru sekilas sebelum melanjutkan dengan senyum. "Kita akan minta maaf bersama-sama kepada Tuan Gerhardt nanti."
Kurasa mereka semua jatuh cinta padanya, batin Hikaru. Sifat Jillarte yang jujur, apa adanya, dan selalu memberikan segalanya memang sangat memikat. Itu juga alasan kenapa Hikaru akhirnya mau membantunya.
"Hikaru," panggil Jillarte. "Jika memungkinkan, aku ingin kau membantu kami sampai pertempuran ini berakhir." "Hah?" Hikaru kaget. Jillarte yang biasanya benci merepotkan orang lain, kini meminta bantuan secara terang-terangan. "T-Tidak boleh ya?" wajah Jillarte tampak sedih. "B-Boleh kok. Tentu, aku akan bantu." "Terima kasih! Dengan kau di pihak kami, kita tidak akan terkalahkan!"
Senyum radiasi Jillarte membuat jantung Hikaru berdesir. Sementara itu, para Beastman kembali berbisik-bisik di belakang. "Apa bocah itu saingan kita?" "Jangan remehkan dia. Kita tertinggal sepuluh langkah darinya."
Sudut Pandang Musuh: Kapten Philip
Kapten Philip, pemimpin Divisi ke-8 Ksatria Templar Bios, menganggap misi ini sangat mudah. Menangkap satu wanita di pulau terpencil? Itu adalah tugas yang membosankan.
Tujuan mereka adalah membawa Jillarte ke pihak Bios. Sebagai sesama manusia, mereka yakin bisa membujuknya untuk mengkhianati kaum "anjing kampung" demi kepentingan Teokrasi. Pendaratan mereka di Southleaf berjalan mulus tanpa hambatan.
Masalah pertama muncul dari labirin; laporan tentang suara aneh yang keluar dari sana. Karena staf Guild Petualang tidak tahu apa-apa, Philip menganggap mereka sampah dan langsung membantainya. Bagi Philip, membunuh Beastman adalah hal biasa, sama seperti membunuh budak di negaranya sendiri.
Masalah kedua datang dari penduduk kota yang mulai membangkang dan melempari ksatria patroli dengan batu. Dan masalah terakhir, yang paling tidak ia sangka, adalah apa yang terjadi pada kapalnya saat ia sedang berada di darat.
Bab: Amarah di Dermaga dan Keajaiban Api Putih
"Apa yang sebenarnya terjadi?!"
Philip berlari kencang menuju pelabuhan, hanya untuk disambut pemandangan dermaga yang kosong dan kapal perang mereka yang tengah dilahap api. Para ksatria yang berhasil berenang ke darat terengah-engah saat menyampaikan laporan.
"K-kita diserang, Sir. Kapal dibakar dengan bola api raksasa. Kapal-kapal nelayan lainnya melarikan diri ke laut lepas."
Philip, yang kini mendekati usia empat puluh tahun, telah menjalani berbagai misi sebagai anggota Ksatria Templar. Ia segera memahami gawatnya situasi ini. Dengan pelabuhan yang diblokade, mereka tidak punya jalan untuk melarikan diri.
Philip menggerutu pahit. "Kalian yang bisa berenang, selamatkan rekan-rekan yang tenggelam! Sisanya, bantu evakuasi!" "Siap, Sir!"
Namun, banyak misteri yang tersisa. Penduduk kota pun menghadapi masalah yang sama—tidak ada jalan keluar, dan mencapai daratan utama hanya dengan perahu kecil adalah tindakan bunuh diri. Apa sebenarnya tujuan mereka?
"Kapten! Mereka menyerang dari—Ugh!" Anak panah melesat menembus udara, menghantam punggung ksatria yang sedang melapor. Meski gagal menembus zirah logam yang tebal, hantaman itu cukup keras untuk membuatnya terhuyung.
"Serangan dari belakang!" "Jangan panik! Tetap pada posisi!"
Bagaimana mungkin kaum Beastman yang baru saja disita senjatanya bisa bersenjata kembali? Mengapa para nelayan dan petualang bisa bergerak secara serempak? Pikiran Philip dipenuhi pertanyaan, namun sekarang bukan waktunya merenung.
"Musuh tidak punya pengalaman tempur! Bertahan di posisi dan gunakan perisai kalian!" perintah Philip lantang.
Sekitar separuh ksatria sedang sibuk dengan operasi penyelamatan di laut, sementara tiga puluh ksatria lainnya bergerak menghadapi para petualang. Ksatria dengan perisai besar merangsek maju, tidak gentar menghadapi hujan anak panah.
"Cih! Serangan sihir!" Seorang petualang tampaknya mengambil alih komando. Sihir elemen seperti bola api dan proyektil batu menghantam perisai besar para ksatria, namun semuanya terpental tanpa arti.
"Bodoh. Perisai Ksatria Templar tidak akan hancur oleh serangan murahan seperti itu," gumam Philip sembari kembali tenang.
"Kalian sudah siap?!" teriak seorang petualang sembari mengangkat kapak ganda, memicu raungan dari kerumunan. "SERBUUUUUU!"
Para petualang merangsek maju, terjun ke dalam badai pertempuran. Meski jumlah petualang jauh lebih banyak, para ksatria memiliki perlengkapan yang jauh lebih superior. Zirah berkualitas tinggi mereka dengan mudah menangkis senjata-senjata petualang yang sudah rombeng.
"Sial! Tuan Gogo, serangan kita tidak mempan!" "Apa?! Kalau begitu gunakan lebih banyak tenaga!" "Jangan konyol!"
Philip terkekeh sinis melihat kebingungan para petualang. Rencananya sederhana: tahan garis depan, dan begitu rekan-rekannya selesai diselamatkan dari laut, mereka akan menghabisi para petualang ini sekaligus. Baginya, nyawa puluhan Beastman tidak ada artinya dibanding nyawa satu rekannya.
"Haaaaahhh!" "Kuh..." "Orang ini merepotkan!"
Namun, beberapa petarung tangguh mulai menonjol. Si Beastman pemegang kapak yang memimpin komando terus mendesak para ksatria dengan kekuatan luar biasa. Meski mereka memakai zirah, serangannya tetap memberikan dampak yang terasa.
"Tahan posisi! Kepung dia dengan tiga orang!" perintah Philip. Seketika, Gogo menyadari dirinya berada dalam posisi sulit.
"Serius? Tiga lawan satu?! Sekarang aku paham bagaimana kalian bisa membunuh staf guild yang tidak bersenjata. Kalian cuma sekumpulan pengecut!" "Jangan biarkan dia memprovokasi kalian. Habisi!" sahut Philip dingin.
Turunnya Sang Wakil Pemimpin
Philip memperhatikan medan laga. Perbedaan pengalaman tempur mulai terlihat. Ksatria Templar dilatih untuk pertempuran antarmanusia, sementara para petualang lebih terbiasa melawan monster. Gogo dan rekan-rekannya, seperti Esrat, mulai terdesak.
"Hmph, hanya kerumunan liar. Tidak perlu panik," dengus Philip. "Bagaimana situasi penyelamatan?" "Sir. Tiga orang pingsan, tapi semuanya sudah ditarik ke darat." "Mereka yang tidak bersenjata bantu evakuasi, yang masih lengkap segera bergabung dalam pertempuran!"
Philip menguap, merasa dirinya bahkan tidak perlu turun tangan. "Oh, kau tampak sangat santai ya!" seru Gogo sembari tersenyum, seolah membaca pikiran Philip. "Santai? Tentu saja. Kehilangan ketenangan saat melawan Beastman rendahan adalah hal yang mustahil bagiku." "Benarkah?! Aku ingin melihat wajahmu saat kau melihat kapalmu yang terbakar itu!" "..."
Urat nadi menonjol di dahi Philip. Itu adalah satu-satunya noda dalam misinya hari ini. Kapal itu adalah milik Ksatria Templar, anugerah dari Yang Mulia Paus. Kehilangannya di tangan Beastman adalah penghinaan luar biasa.
"Aku berubah pikiran. Aku akan mengakhiri ini sendiri," ucap Philip sembari melangkah maju. Gogo menyeringai. "Nah, begini baru seru. Kau tidak sendirian yang punya teman, tahu."
Sesaat kemudian, sekelompok orang—sekitar sepuluh orang—mendekat dengan cepat. Di barisan depan, bukan seorang Beastman yang memimpin, melainkan seorang manusia. Wanita yang selama ini mereka cari.
"Aku adalah Jillarte!"
Berlari secepat angin, Jillarte meliuk di antara barisan Beastman dan menghunus pedangnya tepat di belakang ksatria yang mengepung Gogo. Ia menebas celah sempit pada zirah mereka. Darah memuncrat, diikuti jeritan para ksatria.
"Wakil Pemimpin Einbiest dan pejuang bagi penduduk Southleaf Island!" serunya menantang, berdiri tegak di samping Gogo dengan tatapan tajam tertuju pada Philip.
Sembilan Beastman yang dibawa Jillarte adalah petarung elit. Kehadiran mereka benar-benar membalikkan keadaan. Meski ksatria yang baru diselamatkan dari laut bergabung, jumlah korban di pihak ksatria terus bertambah.
Duel Para Pemimpin
"Minggir! Huh?!" Gogo berguling cepat ke samping, menghindari tebasan pedang panjang yang luar biasa kuat hingga membelah tanah.
Philip muncul di tengah medan laga, menghunus pedang sepanjang dua meter. Kehadirannya seketika membakar semangat para ksatria. "Oh, kau langsung mengincarku ya? Pilihan yang bagus!" seru Gogo. "Tunggu, Gogo!"
Jillarte terlambat memperingatkan. Gogo mengayunkan kapaknya, mencoba mematahkan bilah pedang Philip dengan berat senjatanya. Secara logika, itu adalah pilihan tepat. Namun, Philip tidak menangkisnya secara langsung. Ia menancapkan pedang panjangnya ke tanah, menjadikannya tumpuan untuk berputar di udara, lalu menarik pedangnya kembali—sebuah gerakan akrobatik yang tak terduga dari pria berbaju zirah lengkap.
"Kau terbuka lebar." "Ah—Guhh!"
Tusukan Philip mengarah tepat ke jantung Gogo, namun di detik terakhir, sebuah proyektil misterius menghantam bilah pedang Philip hingga meleset. Bahu kiri Gogo terkena sabetan, darah menyembur keluar.
"Siapa itu?!" teriak Philip geram. Ia tahu seseorang melempar batu dari kejauhan, tapi ia tidak bisa menemukan pelakunya. "Kita harus bekerja sama!" ajak Jillarte.
Gogo dan Jillarte menyerang dari dua sisi. Philip, sang Kapten Divisi ke-8, membuktikan kemampuannya. Meski dikeroyok dua orang tangguh, ia mampu menahan keduanya sekaligus. Kemampuan pedangnya benar-benar berada di level yang berbeda.
"Sial, orang ini kuat sekali!" "Kerja sama amatir tidak akan cukup mengalahkannya."
Pasukan Tak Terpatahkan dan Api Putih
Philip mulai merasa ada yang aneh. "Ada apa dengan kalian?! Kenapa jumlah musuh tidak berkurang?!" "K-Kapten, musuh tidak ada yang tumbang..."
Philip mundur sejenak dari Jillarte dan Gogo. Ia memperhatikan sekeliling. Benar saja, jumlah ksatria terus berkurang, sementara jumlah petualang tetap sama. Padahal, banyak dari mereka yang sudah berlumuran darah, namun mereka tetap mengayunkan senjata dengan semangat yang tidak berkurang sedikit pun.
"Apa yang terjadi? Apa mereka Undead?!" Philip terperangah. "Tentu saja bukan," Jillarte menyeringai. "Mana ada Undead yang bisa berdarah."
Jillarte tahu apa yang terjadi. Terima kasih, Hikaru. Dan Paula. Para petualang yang terluka ditarik diam-diam dari medan laga, disembuhkan dengan sihir Paula, lalu kembali bertempur. Karena tahu mereka "tidak bisa mati", para petualang menjadi sangat agresif dan berani mengambil risiko, membuat para ksatria kewalahan.
Philip meraung frustrasi. "Pusatkan semua serangan pada Gogo dan Jillarte! Jika mereka tumbang, pasukan ini akan hancur!"
Para ksatria mengabaikan lawan di depan mereka dan menyerbu ke arah Jillarte dan Gogo. Gogo mulai panik melihat gelombang ksatria berzirah berat yang merangsek maju.
"Lihat ke atas," ucap Jillarte santai sembari menunjuk ke langit.
Para ksatria mendongak—dan seketika terpaku diam. Sebuah bola api putih raksasa, jauh lebih besar dan berbeda dari apa pun yang pernah mereka lihat, sedang turun dari langit. Itu adalah api yang sama yang menghanguskan kapal mereka.
Keputusasaan merayap di wajah para ksatria. Namun, saat bola api itu menelan mereka... mereka menyadari sesuatu. Tidak panas.
Itu adalah sihir hibrida antara atribut Api dan Suci. Philip yang terkejut kehilangan momentum. Di saat itulah, serangan gabungan Gogo dan Jillarte menghantamnya. Pedang besar Philip patah, dan ia terlempar ke belakang.
Pertempuran telah berakhir. Para ksatria yang tersisa, dalam kondisi terluka dan tanpa senjata, perlahan mundur hingga terpojok di ujung dermaga. Southleaf Island akhirnya bernapas kembali.
Bab: Akhir dari Keangkuhan dan Kedatangan Sang Singa
Bagaimana bisa semuanya berakhir seperti ini? Segalanya terasa berjalan begitu mulus sampai matahari terbit pagi tadi. Philip mencengkeram sisa pedangnya yang patah dan menggigit bibir hingga berdarah.
Bagi Ksatria Templar, mereka adalah kepanjangan tangan dari kehendak Paus—yang berarti setiap tindakan mereka adalah titah suci. Maka, bagi mereka, kaum Beastman yang melawan adalah perwujudan iblis yang harus dimusnahkan.
"K-Kapten..."
Rasa takut kini mencengkeram para ksatria. Kepercayaan diri yang mereka pamerkan pagi tadi menguap tanpa bekas.
"Letakkan senjata kalian, dan kami tidak akan membunuh kalian," ujar Jillarte lantang.
Hasil pertempuran sudah sangat jelas, dan tawaran Jillarte adalah satu-satunya harapan bagi para ksatria yang tersisa. Namun, Philip tidak langsung percaya. Ia telah melihat betapa gigihnya kaum Beastman melawan meski di ambang maut. Dan ia tahu betul rahasia kotor pasukannya: Ksatria Templar sering menjanjikan pengampunan pada musuh yang menyerah, namun tak sekalipun mereka menepati janji itu. Mereka selalu membantai tawanan.
Jika aku harus mati dengan menyakitkan di tangan mereka...
Pikiran Philip menjadi gelap. Ia menatap rekan-rekannya, menyampaikan pesan tanpa kata melalui tatapannya.
"Jatuhkan senjata kalian." "Siap, Sir..."
Bunyi denting logam memenuhi dermaga saat satu per satu ksatria melemparkan pedang mereka ke tanah, dimulai dari Philip sendiri.
"Seperti yang kau lihat, kami sudah menyerah."
Jillarte mengangguk. Ia tidak tahu banyak tentang sejarah kelam antara para ksatria dan kaum demi-human. Sebagai seorang Dragonfolk yang terisolasi dan kemudian menjadi petualang di Ponsonia, pandangannya terhadap konflik ini masih cukup naif.
"Jillarte, aku masih tidak bisa menerima keputusan ini!" gerutu Gogo. "Kita sudah membahas ini, Gogo." "Aku tahu, tapi tetap saja..."
Para petualang ingin menuntut balas atas pembantaian staf guild. Namun, Jillarte telah meyakinkan mereka bahwa balas dendam hanya akan membawa kepuasan sesaat dan tidak akan mengubah situasi politik mereka menjadi lebih baik.
"Biarkan aku yang menangani ini," tegas Jillarte. Gogo akhirnya diam, meski dengan wajah tidak puas. Jillarte kemudian menoleh kembali pada Philip. "Kalian akan kami ikat, tapi itu saja. Federasi Einbiest yang akan memutuskan nasib kalian."
Jillarte melangkah mendekati sang Kapten, sama sekali tidak menyadari rencana licik yang sedang dipersiapkan pria itu.
Sebagai ksatria berzirah berat, Philip tampak tidak memiliki senjata cadangan. Namun, di balik gauntlet (sarung tangan zirah) kanannya, terdapat sebuah pisau rahasia. Dengan satu sentuhan kecil, pisau pegas itu meluncur keluar dengan bunyi klik yang halus.
"Mati kau!"
Philip merangsek maju untuk menusuk leher Jillarte. Namun, sebuah benda jatuh berdebam di depan kakinya sebelum ia sempat bergerak. Philip sangat mengenali benda itu.
Itu adalah lengan kanannya sendiri.
"…Hah?"
Lengannya tertebas bersih tepat di bagian sendi zirah sikunya. Darah menyembur deras dari luka potongan tersebut.
"Ah... AAAAHHHH!"
Rasa sakit yang luar biasa menghantamnya, nyaris membuatnya pingsan seketika.
"Siapa yang mau membunuh siapa?"
Sebuah bisikan dingin terdengar tepat di samping telinga Philip. Ia menoleh, namun hanya sempat menangkap kilasan bayangan hitam yang bergerak sangat cepat di antara barisan ksatria.
Philip tersentak. Batu yang membelokkan pedangnya tadi... Penyusupan ke kapal mereka yang dijaga ketat... Hilangnya senjata sitaan... Dan sekarang, tebasan yang memutus lengannya tepat saat ia akan melukai Jillarte. Segalanya adalah ulah dari satu individu yang sama.
"Pisau tersembunyi, ya?" Jillarte mengerutkan dahi, menatap ngeri pada lengan Philip yang tergeletak di tanah. Ia baru sadar betapa dekatnya ia dengan kematian.
Sambil memegangi pangkal lengannya yang bersimbah darah, Philip mundur ketakutan. "T-Tunggu! Bagaimana kalau begini? Aku akan merekomendasikanmu kepada Yang Mulia Paus! Kau bisa mendapatkan posisi tinggi di Bios! Kau bahkan bisa jadi kapten!"
Jillarte hanya diam.
"A-Aku adalah orang terpandang di negaraku! Itu jauh lebih baik daripada tinggal di lubang kotor yang kalian sebut negara ini!" Philip meracau panik. Keringat dingin mengucur deras di wajahnya yang pucat.
"Jillarte, ada masalah!" seru Gogo tiba-tiba.
Para petualang mulai gaduh saat menatap ke arah laut. Philip ikut menoleh dan matanya membelalak. Sebuah kapal raksasa, bahkan lebih besar dari kapal ksatria, mendekat ke dermaga.
"Itu bukan kapal feri reguler?" tanya salah satu petualang. "Gawat, kapal feri tidak dijadwalkan datang sampai besok. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di pulau ini, jadi tidak mungkin ada kapal bantuan yang datang secepat ini. Hanya ada satu kemungkinan..." "Bala bantuan Ksatria Templar!" teriak Philip girang.
Para ksatria mulai bersorak, sementara wajah para petualang memucat. Namun, Jillarte tetap tenang.
"Tidak... itu bukan kapal Bios," ucap Jillarte. "Jangan konyol! Kau sendiri yang bilang tidak ada kapal lain yang akan datang!" balas Philip. "Kau pikir kapal rongsokan seperti itu milik Bios? Pasukan kalian kan terobsesi dengan perlengkapan mewah," sindir Jillarte.
Saat kapal itu mendekat, terlihat layar yang penuh tambalan dan lambung kapal yang kotor tak terawat.
"Lalu kapal siapa itu?" "Kapal bajak laut," gumam Jillarte heran.
Suasana menjadi kacau. Namun, Gogo menyadari sesuatu yang aneh. "Bukan bajak laut. Jika itu bajak laut, perahu-perahu nelayan di laut itu pasti sudah lari ketakutan. Tapi mereka malah melambai-lambaikan tangan."
Benar saja, para nelayan di perahu kecil justru bersorak kegirangan ke arah kapal raksasa itu.
"JILLARTEEE!"
Sebuah suara menggelegar memanggil namanya dari haluan kapal. Sosok pria raksasa berdiri di sana, dengan surai rambut yang berkibar ditiup angin laut.
"APA KAU BAIK-BAIK SAJA, JILLARTE?!" teriak Gerhardt Vatex Anchor, Pemimpin Tertinggi Federasi Einbiest.
Kedatangan Gerhardt mengejutkan semua orang, kecuali Hikaru, yang diam-diam telah memanggilnya.
Sang Singa Einbiest
Dengan kedatangan Gerhardt yang membawa sekitar 300 prajurit Beastman elit, Ksatria Templar kini benar-benar tak berdaya. Philip dan pasukannya yang kehilangan harapan akhirnya menyerah total dan diikat dengan rantai.
"W-W-Wow…. Itu benar-benar dia... Sang Pemimpin yang asli..." Gogo gemetar melihat Gerhardt melangkah turun ke dermaga. Karisma dan tekanan mental yang dipancarkan Gerhardt begitu kuat hingga membuat para petualang yang tadinya berniat menculik Jillarte kini hanya bisa tertunduk gemetar.
"Tuan Gerhardt, apa yang Anda lakukan di sini?" Jillarte tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Ada pesan jarak jauh yang masuk melalui Guild Petualang semalam," jawab Gerhardt santai. "Pesan jarak jauh? Menggunakan Linga Quill Pen?" "Benar. Pesannya mengatakan Ksatria Templar muncul dan kau dalam bahaya besar."
Linga Quill Pen adalah item sihir komunikasi yang sangat mahal dan biasanya hanya ada di kantor pusat guild. Jillarte segera menyadari pelakunya. Hikaru. Hanya dia yang bisa menyusup ke guild yang dijaga ketat semalam untuk mengirim pesan itu.
"Tapi Anda seharusnya berada di Hopestadt! Bagaimana bisa sampai ke sini secepat ini? Dan dari mana Anda mendapatkan kapal ini?" "Ah, jangan cemaskan hal-hal kecil!" Gerhardt melambaikan tangannya.
Belakangan Jillarte baru tahu bahwa Gerhardt sangat mencemaskan keselamatannya hingga ia nekat melintasi perbatasan tanpa izin menteri-menterinya. Saat ia tiba di pelabuhan selatan Bios semalam, ia kebetulan bertemu dengan kawanan bajak laut. Karena bosan menunggu kabar, Gerhardt memutuskan untuk "membereskan" bajak laut itu dan merampas kapal mereka untuk berlayar ke Southleaf.
Jillarte hanya bisa menghela napas. Rasa kasih sayang Gerhardt yang sudah seperti ayah protektif itu terkadang memang merepotkan, apalagi sampai meninggalkan ibu kota tanpa pengawasan. Jillarte berjanji akan menceramahi pria raksasa itu nanti.
Gerhardt kemudian menatap para tawanan. "Jadi, ini mereka para Ksatria Templar?"
"Pemimpin Einbiest nekat menyusup ke wilayah Teokrasi Bios dan berani menyentuh Ksatria Templar?! Kau cari mati!" Philip berteriak sombong lagi setelah lukanya dibalut. "Kau ingin Einbiest dihapus dari peta, hah?"
"Apa semua Ksatria Templar memang sebodoh ini?" balas Gerhardt dingin. "Apa?!" "Kau pikir aku takut pada Bios?" Gerhardt menyeringai, memicu sorak-sorai dari kaum Beastman. "Kalian akan kujadikan sandera untuk ditukar dengan warga Beastman yang ditangkap secara tidak adil di Bios. Bagaimana rasanya dihargai setara dengan kaum 'rendahan' yang sangat kalian benci itu, hm?"
Philip mengertakkan gigi karena terhina. Gerhardt kemudian memunggungi ksatria itu dan menatap Jillarte dengan lembut. "Kau pasti melewati masa yang sulit, ya?"
"Tidak juga, Tuan. Saya mendapatkan banyak bantuan dari—" Jillarte terhenti. Ia menyadari Hikaru dan kelompoknya sudah menghilang dari kerumunan. Hikaru benci menjadi pusat perhatian. "—Saya dibantu oleh tim yang sangat bisa diandalkan."
Sembilan prajurit Beastman yang dibawa Jillarte berdiri tegak dengan bangga, merasa terhormat disebut sebagai tim yang bisa diandalkan oleh Wakil Pemimpin mereka.
Bab: Perjamuan Kemenangan dan Rahasia Sang Peri Hutan
Menjelang malam, Pulau Southleaf perlahan kembali ke ritme lamanya. Kapal-kapal nelayan yang sempat melarikan diri kini pulang ke pelabuhan, dan denyut kehidupan mulai terasa kembali. Namun, karena Guild Petualang hancur total, bangunan itu akan tetap tertutup sampai personel baru tiba dari pusat. Gerhardt, setelah mendengar apa yang terjadi di dalam guild, mengamuk hebat hingga membuat Gogo dan anak buahnya gemetar ketakutan.
"Bios akan membayar semua ini!" raung Gerhardt.
Setelah itu, sebuah perjamuan besar digelar—gabungan antara perayaan kemenangan dan penghormatan bagi mereka yang gugur. Meja-meja panjang berjajar di jalan utama, dan minuman keras mengalir deras. Kaum Beastman dari seluruh penjuru pulau berkumpul, ingin melihat sekilas sosok Gerhardt, Pemimpin Einbiest yang legendaris.
Jillarte dan sembilan rekannya menceritakan kembali peristiwa yang terjadi dan meminta maaf atas kegagalan mereka. Gogo, yang sebelumnya mencoba menculik Jillarte, mengakui kesalahannya dengan air mata bercucuran di hadapan Gerhardt.
Setelah mendengarkan semua permintaan maaf itu, Gerhardt justru mendengus tidak percaya. "Apa kalian semua bodoh? Pada akhirnya, kalian semua bertempur demi pulau ini. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu!"
Dengan selesainya masalah itu, pesta dimulai. Saat semua orang sedang bersukaria, Jillarte mencoba menyelinap pergi menuju penginapan Biltappo el Debab.
"Jillarte! Ini milikmu." Si Beastman macan tutul hitam menyerahkan sebuah tas. Tas itu milik Jillarte, berisi batu sihir elemen raksasa yang mereka temukan di labirin.
"Siapa yang memberikan ini?" tanya Jillarte. "Gadis yang bersama Hikaru. Kami mengundang mereka ke pesta, tapi mereka menolak karena tidak minum alkohol. Dia menitipkan pesan: 'Bersenang-senanglah.'"
"Begitu ya..." gumam Jillarte. Kali ini berbeda. Tidak seperti saat mereka menghilang tanpa jejak setelah turnamen Ruler’s Rumble. Hikaru masih ada di sini. Besok ia bisa bicara padanya.
"Menjalankan tugasku sebagai Wakil Pemimpin adalah cara terbaik untuk berterima kasih padanya."
"Ada apa, Jillarte?" "Bukan apa-apa. Bisa kau serahkan tas ini pada Tuan Gerhardt?"
"Wah! Tunggu, apakah ini batu sihir elemen?!" Gerhardt yang bermata tajam segera menghampiri. Saat itu hari sudah senja, dan cahaya putih kebiruan dari batu sihir elemen air itu berpadu indah dengan warna merah jingga matahari terbenam. Berita tentang rekor baru di penjara bawah tanah segera menyebar, dan nama Jillarte kembali dipuja sebagai pahlawan.
Awas saja kalau kau menghilang lagi tanpa kata, Silver Face! Tidak, Hikaru! Jillarte berjanji dalam hati akan menemui Hikaru besok untuk mengeluh betapa sulitnya menjaga rahasia identitas pria itu.
Senja di Pelabuhan
"Begitulah. Bagi kami, perahu katamaran ini adalah tunggangan, rekan, bahkan istri kami. Kami tidak boleh kehilangannya." "Terima kasih. Informasi ini sangat berharga."
Di pelabuhan yang temaram, Hikaru berterima kasih kepada salah satu nelayan dan kembali ke tempat Lavia dan Paula menunggu.
"Sudah selesai?" tanya Lavia. "Ya. Aku sudah menanyakan semua yang ingin kuketahui. Apa tasnya sudah sampai?" "Sudah. Aku berikan pada si macan tutul hitam tadi—kya!"
Hikaru tiba-tiba mencengkeram lengan Lavia, membuatnya terkejut. "Apa Beastman itu mencoba merayumu?!" "T-Tidak! Dia hanya mengundangku ke pesta, tapi karena aku tidak minum, aku menolak." "O-Oh... Baguslah kalau begitu."
"Tuan Hikaru tidak ingin ada pria aneh yang mendekati Lavia," goda Paula sembari tertawa. Wajah Hikaru langsung memerah padam.
"Benarkah begitu, Hikaru?" "T-Tidak, bukan begitu!" "Wajahmu merah sekali, Hikaru." "Ini karena cahaya senja!" "Hehehe."
"Pokoknya ini karena senja! Ayo cepat kembali ke penginapan!" seru Hikaru salah tingkah. Lavia hanya terkekeh dan merangkul lengan Hikaru dengan manja.
Sembari berjalan, Lavia bertanya, "Ngomong-ngomong, apa yang kau bicarakan dengan para nelayan tadi?" "Aku penasaran bagaimana mereka bisa bergerak sangat terkoordinasi. Katamaran dan trimaran itu adalah nyawa mereka, dan mereka punya banyak cerita menarik soal itu."
"Oh ya, Tuan Hikaru, bagaimana kau memanggil Tuan Gerhardt?" tanya Paula. Hikaru menjelaskan bahwa ia menggunakan Linga Quill Pen di Guild Petualang semalam. Ia mengirim pesan ke dua guild sekaligus: di Einbiest dan di perbatasan Bios. Mengingat betapa protektifnya Gerhardt pada Jillarte, Hikaru yakin bantuan akan dikirim secepat kilat. Dan benar saja, Gerhardt bahkan sampai membajak kapal bajak laut demi sampai tepat waktu.
Malam Terakhir di Southleaf
"Apa rencanamu besok?" tanya Lavia saat mereka hampir sampai di penginapan. "Masuk ke labirin lagi?" "Kurasa kita akan kembali ke Ponsonia." "Eh? Kukira kau ingin menjelajahi labirin yang sudah berubah." "Aku ingin, tapi setelah Jillarte membawa batu sihir elemen raksasa, labirin itu pasti akan penuh sesak besok. Gogo Zoro dan petualang lain pasti sedang sangat bersemangat. Aku tidak suka keramaian."
"Jadi, malam ini adalah malam terakhir kita di Pulau Southleaf," bisik Paula lembut. "Ya... sepertinya begitu."
Setelah kembali ke penginapan, Hikaru meminta ayah Daigo menyiapkan hidangan mewah untuk malam terakhir mereka. Karena tidak ada tamu lain, Hikaru juga mengundang mereka untuk makan malam bersama.
"Kami hanyalah tuan rumah. Kebahagiaan kami adalah melihat senyum di wajah tamu kami," ujar ayah Daigo dengan ramah.
Hidangan luar biasa tersaji. Udang raksasa panggang yang berubah warna menjadi biru saat dimasak—mirip dengan lobster berduri—menjadi hidangan utama. Sausnya terbuat dari buah-buahan lokal dengan keseimbangan sempurna antara rasa manis dan asam, melengkapi daging udang yang lembut. Ada juga ikan tumis, sashimi dengan taburan garam kristal, dan ayam goreng minyak kelapa bumbu manis-asin kesukaan Hikaru.
Dialog di Balik Meja Resepsionis
Setelah memastikan Lavia dan Paula tertidur pulas, Hikaru turun ke meja depan. Di sana, Daigo duduk sendirian seolah memang sedang menunggu seseorang.
"Aku kurang tidur semalam, jadi aku mengantuk," buka Hikaru sembari duduk di dekat Daigo. "Kau harus istirahat kalau begitu. Kau hebat hari ini," sahut Daigo tenang. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Malam sudah sangat larut. Hanya cahaya lampu sihir temaram yang menerangi mereka.
"Terima kasih atas bantuanmu hari ini, Daigo." "Untuk apa?" "Kau yang memanggil para nelayan itu, kan? Kau meminta mereka memblokade pelabuhan agar para ksatria terpojok." "Bukan masalah besar." "Begitukah?"
Senyum Daigo sedikit memudar saat Hikaru terus menatapnya. "Aku sudah bicara dengan nelayan tadi. Mereka bilang mereka mendengar 'Suara Peri' di kepala mereka dan hanya mengikutinya. Nelayan yang biasanya keras kepala tidak mungkin bisa bergerak seirama itu tanpa komando dari sosok yang jauh lebih agung."
Daigo menghela napas panjang. "Bukannya kami mencoba menyembunyikannya." "Ya, kau bisa saja melakukannya dengan lebih baik jika memang ingin bersembunyi. Aku tahu kau tidak bermaksud jahat. Hanya saja..." "Hanya saja apa?" "Aku penasaran. Mengapa Peri Hutan yang tinggal di Pulau Southleaf malah menjalankan sebuah penginapan?"
Hikaru telah menyimpulkan bahwa Daigo dan keluarganya adalah sosok Biltappo el Debab dalam legenda pulau ini.
"Peri memiliki kecenderungan untuk kehilangan akal sehat dan berubah menjadi monster jahat jika hidup terlalu lama," mulai Daigo. Bayangannya di dinding tampak menari-nari tertiup angin. "Jadi, kami mencari kesenangan hidup agar tetap waras. Kebetulan, keluargaku menemukan kebahagiaan saat melihat orang lain merasa senang. Itulah alasan kami membuka penginapan ini."
"Kalian membukanya demi melihat wajah bahagia tamu, tapi nelayan di sini bahkan tidak tahu ada penginapan ini. Kalian tidak pernah mencari pelanggan." "Kami peri bisa hidup tanpa makan banyak, tapi Beastman butuh uang. Kami tidak ingin mencuri tamu dari penginapan mereka." "Lalu kenapa kau menghampiriku saat kami baru tiba?" "Firasatku bilang kau bisa membantu para petualang di labirin itu."
Hikaru tertegun. Ia mencoba memeriksa Soul Board Daigo, tapi tidak ada respon. Tampaknya Peri memang makhluk yang sepenuhnya berbeda.
"Firasat, ya?" "Dan terbukti benar." "Kau juga tahu aku seorang petualang. Intuisi yang hebat." "Itu karena cara pembawaanmu yang tanpa cela."
Mungkin itu hasil dari latihan neraka bersama Unken. "Begitu ya. Terima kasih. Hanya itu yang ingin kubicarakan," ucap Hikaru. "Hanya itu? Tidak mau menyebutku pembohong atau apa?" "Kenapa aku harus melakukan itu? Tempat ini tenang, suara ombaknya terdengar jelas di malam hari, dan makanannya lezat. Ini adalah penginapan yang luar biasa."
Mata Daigo membelalak, lalu ia tersenyum tulus untuk pertama kalinya. "Aku senang kau puas." "Selamat malam, Daigo." "Selamat malam, Tuan."
Malam itu, Pulau Southleaf menutup kisahnya dengan damai bagi Hikaru dan kawan-kawan.
Selamat Tinggal, Pulau Southleaf
Keesokan paginya, kapal feri tiba sesuai jadwal. Para kru kapal terperangah melihat puing-puing hangus mengapung di pelabuhan—sisa-sisa kejayaan kapal Ksatria Templar yang kini jadi arang. Namun, para nelayan di dermaga justru menunjukkan semangat yang luar biasa, seolah-olah baru saja memenangkan lotre kehidupan, yang lagi-lagi membuat para pelaut itu bingung.
Sementara itu, kapal bajak laut milik Gerhardt sengaja disembunyikan di balik pulau agar tidak memicu kepanikan kru feri. Dentang lonceng yang mengumumkan kedatangan kapal bergema hingga ke area pemukiman.
"Ugh..."
Jillarte bangkit dari tempat tidur yang keras, menekan dahinya yang terasa seperti dihantam palu godam. Hangover. Ia menuangkan air dari teko di meja samping tempat tidur dan meneguknya hingga habis dalam sekali napas. Masih kurang, ia menenggak gelas kedua.
"Fuuuh... aku minum terlalu banyak semalam..."
Perjamuan kemenangan atas Ksatria Templar dan kedatangan Gerhardt berlangsung hingga larut. Jillarte beruntung bisa menarik diri tepat sebelum ia benar-benar tumbang. Ia samar-samar ingat bagaimana ia menyeret kakinya ke penginapan dan ambruk di kasur. Sisanya? Benar-benar buram.
Meski banyak nyawa melayang, mereka berhasil mempertahankan Pulau Southleaf. Karena ini wilayah Bios, ada kekhawatiran soal pembalasan dari Paus, tapi Gerhardt menjamin dia yang akan membereskannya. Dan jika sang Singa Einbiest sudah bicara, maka begitulah adanya. Bios kemungkinan besar akan lebih fokus mengincar Federasi Einbiest yang terang-terangan menyerang mereka ketimbang pulau kecil ini.
Pengejaran di Dermaga
Tiba-tiba, lonceng berhenti berdentang. Detik itu juga, kesadaran Jillarte pulih sepenuhnya.
"Hah? Lonceng ini... feri... hari ini...?" Matanya membelalak. "Hari ini mereka berangkat! Sial, hari ini!"
Jika feri sudah tiba, itu berarti kelompok Hikaru akan segera pergi. Jillarte langsung berlari. Kakinya gemetar karena efek mabuk, tapi ia memaksakan keseimbangan. Di jalan utama, ia melihat kaum Beastman tergeletak di mana-mana karena mabuk berat. Bau alkohol menyengat di mana-mana.
"Maaf, permisi!"
Jillarte melompati beberapa orang yang tidur di depan pintu. Salah satunya tampak seperti si Beastman macan tutul hitam, tapi ia tak punya waktu untuk peduli. Ia tidak tahu bahwa semalam rekan-rekannya sempat melindunginya dari Beastman nakal yang ingin mengambil kesempatan, sampai Gerhardt sendiri yang turun tangan memukul pingsan semua pengganggu itu.
Jillarte berlari di bawah langit biru yang cerah.
"Terakhir kali, aku tidak sempat..." Ia teringat bagaimana Silver Face menghilang begitu saja setelah turnamen Ruler’s Rumble.
"Tidak, tunggu... Silver Face... Hikaru ada di Guild Petualang hari itu! Aku sebenarnya sempat bertemu dengannya!"
Dulu, karena instingnya, ia sempat berpapasan dengan seorang bocah berambut hitam di depan Guild. Saat itu ia tidak acuh—ia mengira Silver Face adalah petarung veteran berusia tiga puluhan—tapi sekarang ia sadar, bocah itu adalah Hikaru. Mereka berpapasan, tapi tangannya gagal menggapai pemuda itu.
"Hari ini berbeda... harus berbeda!"
Janji di Ambang Perpisahan
Ia sampai di tanjakan terakhir menuju pelabuhan. Perahu-perahu kecil mengerumuni feri, memindahkan penumpang dan bagasi ke dermaga. Sebaliknya, mereka yang akan pergi sudah naik ke atas dek.
Dan di sana, ia melihatnya. Bocah berambut hitam itu. Selama ini aku mengejar bayang-bayang Silver Face!
Banyak hal yang ingin ia bicarakan. Banyak pendapat yang ingin ia dengar. Dan di atas segalanya, ia hanya ingin berada di sisi pemuda itu.
"Hikaru!"
Suara Jillarte membelah kebisingan pelabuhan dengan kejelasan yang luar biasa, meski kepalanya masih berdenyut. Bocah berambut hitam di atas dek itu berbalik, tampak sedikit terkejut. Lavia dan Paula yang berdiri di sampingnya saling melirik dan mengangguk pelan pada Jillarte.
Jillarte terpaku. Ia teringat kata-kata Lavia semalam: "Kau tahu aku akan menjadi sainganmu, kan?"
Begitu ya... aku masih punya jalan panjang.
Awalnya, ia berniat melompat ke kapal itu dan meninggalkan segalanya untuk mengikuti Hikaru. Namun saat melihat wajah tenang Lavia, ia berubah pikiran. Hati Jillarte yang bergejolak mendadak tenang. Tatapan Lavia barusan bukan ejekan, melainkan dorongan semangat dalam diam.
"Hikaru!" Jillarte menatap langsung ke mata pemuda itu. "Aku mencintainya. Aku mencintainya dari dasar hatiku!"
Kata-katanya terdengar aneh; ia seolah menyatakan cintanya pada "sosok lain" di depan bocah berambut hitam tersebut. Tapi itu tidak masalah. Inilah batas kemampuannya saat ini.
"Aku memikirkannya setiap hari, dan aku menghabiskan malam-malamku hanya untuk merindukannya!"
Tidak perlu dijelaskan siapa yang ia maksud. Hikaru tetap memasang ekspresi datar, tapi telinganya memerah.
"Tapi aku belum bisa menyatakan perasaan ini padanya. Dia tidak melakukan apa pun selain menolongku, dan aku merasa belum layak berdiri di sampingnya."
Hikaru membuka mulutnya untuk bicara.
"Tunggu. Biarkan aku selesai." Jillarte mengangkat tangan. Ia menarik napas dalam. "Aku akan memperbaiki diriku. Dan saat aku bisa bangga pada siapa aku nantinya..."
Jillarte telah mengambil keputusan. Ia akan hidup untuk mewujudkan impiannya.
"Aku akan datang menemuinya. Tidak peduli di mana pun kau berada di dunia ini, aku akan menemukanmu."
Ia tersenyum. Ia bertanya-tanya apakah senyumnya terlihat cantik. Ia belum menjadi "saingan" yang sepadan bagi Lavia. Ia belum cukup kuat untuk membantu Silver Face berjalan di sisinya. Ini bukan pengakuan kekalahan, melainkan pernyataan tekad—bahwa meski ia harus menempuh jalan yang lebih panjang, ia pasti akan sampai pada pemuda itu.
"Jillarte..."
Jadi, simpanlah wajah cemasmu itu untuk nanti, saat aku muncul di hadapanmu sebagai wanita yang layak memperebutkan cintamu.
Hikaru menatap langit sejenak, lalu kembali menatap Jillarte dengan tatapan yang mantap.
"Aku akan menunggu."
Kata-kata singkat itu memancarkan kelembutan, kehangatan, sekaligus kekejaman yang luar biasa. Namun dengan kata-kata itulah, Jillarte bisa melangkah maju. Ia akan tumbuh menjadi lebih kuat.
Layar yang Terkembang
Clang, clang, clang! Lonceng feri berbunyi. Kapal mulai berangkat.
Hikaru terus menatapnya, dan Jillarte tidak memalingkan wajah. Pemuda itu pergi tepat setelah mereka akhirnya bersatu kembali. Jillarte menahan rasa sakit di dadanya. Ia sanggup menanggung kepedihan ini demi janji masa depan.
"Kerja bagus, Jillarte," bisik sebuah suara rendah—suara Silver Face yang sangat ia kenali.
Pertahanannya runtuh. Emosi meluap tak terkendali. Alih-alih kata-kata, air mata mulai mengalir deras di wajahnya. Kapal itu mulai menjauh, membelah ombak, memperlebar jarak antara mereka.
"Aku bersumpah aku akan menemuimu lagi!" teriaknya. "Ya." "Janji! Jangan lupakan aku! Kalaupun kau lupa, aku akan membuatmu ingat!" "Ya." "Saat kita bertemu lagi nanti—"
Suara kapal yang membelah ombak menenggelamkan sisa kalimat Jillarte. Namun itu tidak masalah. Hikaru tidak pernah melepaskan pandangannya dari Jillarte sampai kapal itu menjadi titik kecil di cakrawala.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments