"Aku tidak tahan lagi!"
Teriakan lantang itu menggema di seluruh aula mewah tempat pesta akhir semester berlangsung. Suara yang kasar itu seketika membekukan suasana; para pemuda dan wanita bangsawan yang hadir terdiam seribu bahasa. Semua orang menahan napas, menajamkan telinga demi menangkap drama yang sedang terjadi di pusat ruangan.
"Elizabeth von Brauberg! Mulai hari ini, aku nyatakan pertunangan kita batal!"
Pffft—! Uhuk! Uhuk!
Tepat saat pengumuman dramatis itu meluncur, seorang pemuda menyemburkan isi minumannya dengan cara yang sangat spektakuler. Pemuda berambut merah itu bernama Randolph Viktor. Ia terbatuk-batuk hebat, membungkuk dalam upaya menyelamatkan koktail di tangannya agar tidak tumpah lebih banyak ke lantai marmer.
(Pembatalan pertunangan? Dia benar-benar mengatakannya di tempat seperti ini?)
Randolph menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Namun, saat ia mendongak, ia menyadari puluhan pasang mata justru menatapnya dengan curiga—bahkan orang-orang yang berada di pusat kekacauan pun ikut menoleh ke arahnya.
Randolph buru-buru menundukkan kepala, berusaha menciutkan tubuhnya yang malang. Ia menyesali postur tubuhnya yang jangkung, yang membuatnya menonjol satu kepala di atas orang lain. Tepat ketika ia memutuskan untuk menjadi "tak terlihat"...
"E-Elizabeth von Brauberg! Mulai hari ini, pertunangan kita... aku batalkan!"
Pernyataan itu diulangi untuk kedua kalinya, kali ini dengan wibawa yang sedikit luntur akibat gangguan Randolph tadi. Randolph meringis dalam hati. Ia merasa bersalah karena merusak momentum sang pangeran, meski di sisi lain, ia menganggap melakukan deklarasi bodoh seperti itu di depan umum adalah kesalahan pangeran itu sendiri.
Setelah berhasil menyatu dengan kerumunan, Randolph kembali menguping. Kini ia bisa melihat pelakunya dengan jelas: seorang pria arogan yang berdiri dengan dada membusung di depan seorang wanita yang terkepung.
(Wanita itu... kalau tidak salah dia adalah...)
"Elizabeth von Brauberg! Katakan sesuatu!" bentak sang pria.
Benar, itu namanya. Dengan rambut pirang platinum yang mempesona dan mata biru sedalam samudra, wanita itu dikenal jarang tersenyum. Bagi siswa biasa seperti Randolph, ia lebih populer dengan julukan "Putri Es".
Bahkan di bawah tekanan publik yang begitu berat, Elizabeth tetap tenang tanpa ekspresi sedikit pun. Di hadapannya berdiri sang Putra Mahkota, Edgar Roa Alexander, yang dikelilingi oleh antek-anteknya. Edgar merangkul posesif bahu seorang mahasiswi lain, seolah sedang melindungi kekasih sejati dari sang penjahat.
(Sepertinya mereka tidak berniat mundur sedikit pun,) pikir Randolph.
Keadaan menjadi semakin canggung saat gadis berambut merah muda yang dipeluk Edgar mulai angkat bicara.
"Edgar-samaaa~" suara gadis itu terdengar menjilat, tubuhnya sengaja digesekkan ke lengan sang pangeran.
Gadis itu mengenakan gaun berenda dengan belahan dada yang sangat rendah—penampilan yang jauh dari kata pantas bagi seorang wanita bangsawan. Randolph bisa merasakan tatapan dingin yang dilemparkan oleh para wanita muda lainnya di ruangan itu.
(Ada apa dengan gadis bodoh itu? Kenapa dia bertingkah seperti di dalam novel picisan?)
Berbeda dengan Randolph yang merasa risi, Edgar justru tampak sangat menikmati perannya sebagai pahlawan bagi gadis malang tersebut. Situasi ini benar-benar menggelikan.
Pesta akhir semester. Pangeran yang arogan. Gadis polos yang manipulatif. Dan pembatalan pertunangan yang dramatis.
(Aku sudah sering mendengar pola cerita seperti ini... di kehidupan lamaku.)
Randolph menyadari bahwa ini adalah klise yang sangat berbahaya. Begitu ia paham bahwa skandal ini nyata, ia tidak punya alasan untuk tetap tinggal. Ia menyambar sepotong sandwich dari meja terdekat, lalu mulai berjingkat menjauh dari aula, menghindari aura pertikaian yang mulai memanas dengan kata-kata seperti "deportasi" dan "pengasingan".
Di pintu masuk, ia melewati penjaga yang tampak bingung. Randolph hanya memberikan senyum sopan, lalu mempercepat langkahnya menuju kereta kuda yang sudah menunggu.
"Oh, Tuan Muda Randy? Anda sudah kembali?" sapa Harrison, sopir sekaligus pelayan pribadinya.
"Ah, aku harus segera pergi. Ada badai besar di dalam sana."
Harrison menoleh ke arah aula dengan dahi berkerut, namun Randy segera memberi instruksi.
"Jangan penasaran, Harrison. Kita hanyalah bangsawan rendah dari negara kecil. Jika kita terlibat dalam urusan domestik negara besar seperti ini, kita akan hancur lebur."
Harrison mengerti, lalu memacu kudanya meninggalkan area pesta. Randy bersandar di kursi kereta, menatap bayangan aula yang perlahan menjauh dari jendela. Ia tidak ingin terlibat. Sebagai putra bangsawan dari negara kecil yang sedang belajar di luar negeri, berpihak pada siapa pun hanya akan membawa petaka bagi keluarganya di rumah.
Randy menggumamkan sesuatu yang sudah lama tidak ia ucapkan.
"Status: Terbuka."
Sebuah jendela semi-transparan muncul di hadapannya, menampilkan statistik dirinya. Pemandangan yang mengingatkan akan gim video dari dunianya yang dulu.
Ya, dia adalah seorang pria yang meninggal karena kerja berlebihan dan bereinkarnasi ke dunia yang mirip dengan gim favoritnya.
(Aku ingin hidup santai kali ini. Menikmati kehidupan yang damai...)
Namun, Randy menghela napas panjang dan ambruk ke kursinya.
"Masalahnya... ini memang dunia gim, tapi ini bukan gim simulasi kencan biasa."
Randolph Viktor, tujuh belas tahun. Di musim panas ini, ia baru menyadari bahwa ia bukan sekadar reinkarnator biasa, melainkan karakter latar belakang dalam sebuah Otome Game yang penuh dengan konflik berdarah.
| LIST | NEXT CHAPTER