Nama Terukir dan Pagi yang Mengikat
Ada sebuah istilah dalam dunia sihir: "Nama Terukir" (Engraved Name).
Ini adalah kata yang diketahui oleh setiap penyihir yang berurusan dengan sihir, karena ini merupakan komponen fundamental. Sihir diaktifkan dengan mengubah sebuah idealisme menjadi "tema", lalu mewujudkan tema yang diteliti tersebut ke dalam bentuk ritual.
Dalam proses ini—saat mewujudkan tema ke dalam ritual—"Nama Terukir" digunakan. Agar ritual dapat memahami tema tersebut, kata-kata yang berkaitan dengan tema itu diucapkan, dan kata-kata itulah yang disebut "Nama Terukir". Singkatnya, ini seperti menerjemahkan kata dari bahasa lain ke dalam bahasa ibu kita sendiri.
Tanpanya, sihir tidak dapat diaktifkan, dan perwujudan tema ke dalam ritual menjadi mustahil. Ini bisa diibaratkan seperti satu kepingan puzzle dari berbagai proses yang ada. Tentu saja, karena sihir dibentuk oleh idealisme penggunanya, ada berbagai macam Nama Terukir yang eksis, menghasilkan berbagai jenis sihir di dunia ini.
Phil, sebagai seorang penyihir, juga menggunakan sebuah Nama Terukir. Nama Terukir-nya adalah ─ [Kebebasan Tak Terikat] (Unbound Freedom).
Asal-usul Nama Terukir ini terletak pada esensi sihirnya: ikatan. Ini bermula dari hasratnya akan kebebasan, yang ironisnya menjadikan "ikatan" sebagai temanya.
Ia bahkan menggunakan sihir pengikat ini saat para penyusup menyerang. Dengan menenggelamkan target ke dalam ruang yang ia ciptakan, tindakan mereka dibatasi, tidak menyisakan ruang untuk melawan ataupun bergerak bebas. Lebih jauh lagi, Phil memiliki kebebasan untuk melepaskan dirinya dari ikatan bayangan tersebut sesuka hatinya—sebuah kebebasan yang hanya dimiliki oleh sang pengguna.
Bagi yang melihatnya, ia mungkin tampak seperti sedang menyelam ke dalam lautan bayangan. Mungkin dari sanalah asal mula julukan [Pahlawan Bayangan] disematkan padanya.
Dan Phil, sang pengguna sihir pengikat yang menyandang Nama Terukir [Kebebasan Tak Terikat] itu, kini─
"Dibungkus rapi seperti lemper di pagi buta... kenapa? Apa aku baru saja membangkitkan fetish baru atau semacamnya?"
─entah bagaimana menemukan dirinya sedang terikat.
Ini adalah hari kedua sejak kedatangan Milis, sang Saintess (Orang Suci). Setelah sibuk mengurus pekerjaan administratif di tengah bisingnya suara warga, mengatur perbaikan jendela yang hancur, dan kelelahan menginterogasi para penyerang, Phil yang tadinya berpikir, "Nah, saatnya bangun!" justru disambut oleh situasi ini.
Ngomong-ngomong, interogasi para penyerang berakhir dengan cepat, karena mereka langsung menelan racun yang disembunyikan di dalam mulut mereka. Sepertinya mereka sudah dibekali alat bunuh diri untuk mencegah kebocoran informasi. Gagal mengorek informasi membuat Phil merasakan emosi yang campur aduk.
Yah, menyesal pun tidak ada gunanya. Mari kita pahami situasi saat ini dulu.
Terbungkus rapi di dalam selimut, seluruh tubuhnya diikat kuat dengan tali tebal. Anggota tubuhnya tidak bisa bergerak bebas, hanya menyisakan wajahnya sebagai satu-satunya area yang memiliki sedikit kebebasan.
Kenapa dia ada dalam situasi seperti ini tepat setelah bangun tidur? Apakah ada yang menaruh dendam, atau ini cuma lelucon? Phil tidak bisa berhenti merasa kebingungan.
Lalu, seorang gadis menyembulkan kepalanya dari samping tempat tidur.
"Oh, kau akhirnya bangun juga." "Jangan tunjukkan wajahmu dengan sikap santai begitu, Kahlua. Kita sudah tahu siapa pelakunya. Kalau bisa, aku lebih suka kau memberiku novel misteri biar ada sedikit ketegangan dan keseruan." "Kalau begitu, aku mau ke ruang makan dulu." "Tunggu! Sebelum memecahkan misterinya, mari kita mulai dengan melepaskan tali ini!"
Phil berusaha keras menghentikan si pelaku yang bersiap meninggalkan TKP. Karena tak bisa menggunakan tangannya, ia mengerahkan seluruh ekspresi wajahnya semaksimal mungkin.
"Aku tidak bisa melepaskan talinya, tapi... kalau nanti kau mau berkencan denganku, aku bersedia menemanimu di kamar ini." "Kalau talinya tidak dilepas, apa gunanya diam di kamar ini, coba?" "Yah, mau bagaimana lagi. Ada keadaan yang tak terhindarkan." "Hmm...?"
Phil menunjukkan ketertarikan pada ucapan Kahlua. Sesuatu yang mengikat Phil—pria yang sangat memuja kebebasan—sampai harus diikat secara fisik. Terlebih lagi, alasan yang membuat pelayannya sampai mengikat majikannya sendiri—ini benar-benar memancing rasa penasarannya.
Alasan macam apa itu? Lebih terdorong oleh rasa penasaran daripada krisis, wajah Phil yang tadinya konyol berubah serius.
"Sebelum aku memberitahumu alasannya, ada yang ingin kutanyakan ─ apa rencanamu hari ini?" "Sederhana saja, sarapan, pergi ke rumah bordil, bekerja dengan pikiran yang segar... lalu berencana ke rumah bordil lagi nanti malam?" "B-Begitu ya... Kurasa aku memang tidak perlu melepaskan ikatanmu." "Kenapa!?" Phil memasang wajah tidak mengerti.
Sebagai balasannya, ekspresi Kahlua berubah datar─
"Sang Saintess sedang menginap di mansion ini; mana mungkin kau diizinkan pergi ke rumah bordil." "Apa hubungannya?" bantah Phil cepat. "Kau ini bodoh, ya? Mengabaikan tugas menjamu Saintess dan membiarkan tuan rumah pergi ke rumah bordil? Apa kau sudah membuang akal sehatmu yang lucu dan klise itu entah ke mana?" "Bukannya akal sehat selalu bersemayam di dalam hatiku?" "Serius, apa yang kau bicarakan dengan wajah datar begitu..."
Kahlua memijat pelipisnya. Gara-gara majikannya, sakit kepalanya bertambah hari ini. Dan ─
(...Kenapa aku saja tidak cukup baginya?) "Hah? Kau bilang sesuatu?" "Bukan apa-apa!"
Kahlua tiba-tiba memalingkan wajahnya dari Phil. Pemuda itu memiringkan kepalanya bingung melihat reaksi tersebut, tapi memutuskan untuk menyimpannya di benaknya untuk saat ini.
"Pokoknya, bisakah kau lepaskan tali ini dulu? Kalau begini terus, boro-boro ke rumah bordil, pergi ke toilet untuk memetik bunga saja aku tidak bisa. Rasanya aku seperti kembali ke masa kecilku yang indah." "Kau sangat manis waktu itu, Phil. Kenapa kau tidak tunjukkan wujud menggemaskan itu lagi di sini?" "Apa, kau mau memaksa majikanmu ngompol di kasur!? Dan seingatku aku tidak punya kenangan masa kecil bersamamu, Nona pelayan!?"
Lebih khawatir ngompol di usianya sekarang daripada gagal ke rumah bordil, Phil mulai meronta panik. Jika dia tidak melawan, noda memalukan seumur hidup akan menyebar di atas seprai. Kahlua menahan simpulnya kuat-kuat, tidak membiarkannya longgar. Bisa dibilang, tindakannya ini agak iblis.
Tepat saat itu─
"Ehm... Tuan Phil? Apakah Anda sudah bangun?"
Pintu kamar terbuka tanpa peringatan. Meskipun Phil ingin memprotes karena gadis itu tidak mengetuk pintu, ini bukanlah saat yang tepat untuk memusingkan hal itu, apalagi jika melihat situasi di dalam kamar saat ini.
Lalu─
"Wah... ini situasi yang cukup, um, unik ya..."
Melihat pemandangan di depannya, Milis hanya bisa tersenyum kaku.
"Sepertinya majikanku suka permainan semacam ini." "Begitukah!?" "Tutup mulut pelayan kotor yang mencoba mencoreng harga diriku ini!!!"
Butuh waktu sekitar satu jam sampai tali itu akhirnya dilepas. Dan butuh waktu sedikit lebih lama lagi untuk meluruskan kesalahpahaman sang Saintess.
Strategi dan Bom Waktu Rumor
Hari berikutnya setelah insiden pagi itu. Meskipun perbaikan belum selesai dan angin berhembus masuk ke mansion, hari-hari damai yang biasa pun berlanjut. Yah, tentu saja kata "biasa" di sini sangat relatif, dimulai dari tragedi diikat layaknya lemper di pagi hari tadi. Sebuah kesialan kecil setelah hancurnya ruang tamu yang membuat Phil secara tak sengaja membuat Saintess salah paham.
Semenjak Saintess datang... atau lebih tepatnya, sejak identitasnya terbongkar, tidak ada hal baik yang terjadi—meski Phil hanya menyimpan keluhan ini di dalam hati. Dengan warga kota yang masih seramai biasanya sehingga ia tak bisa keluar dari perkarangan mansion, Phil menyantap sarapan dan bekerja dengan tenang.
"Ya ampun... Tingkat kejahatan semakin parah, ya? Apa saja sih kerjaan para prajurit itu?" gumam Phil sambil memegang laporan di satu tangannya.
"Bukankah kita memang kekurangan personel? Memburuknya ketertiban umum tidak selalu berarti kondisi keuangan kita memburuk," sahut Kahlua yang ikut mengintip laporan itu dari sampingnya. "Bisa jadi justru karena keuangan kita sedang bagus. Ekonomi di sini tumbuh pesat, dan populasi meningkat. Tidak aneh kalau banyak pemuda berandalan dari wilayah lain berdatangan ke sini."
Meski pandangannya sempat teralih pada bulu mata Kahlua yang lentik, wajahnya yang cantik, dan bibirnya yang berwarna ceri, Phil bukanlah bocah polos yang tidak mengerti pesona wanita. Sayangnya, Kahlua merasa sedikit tidak puas karena Phil tidak memberikan reaksi apa-apa.
"Kalau begitu, untuk menangani para pemuda merepotkan itu, mari kita perbanyak figur ibu di sini. Anggaran kita masih sisa, jadi aku akan membuka rekrutmen untuk prajurit tambahan juga." "Oh, sepertinya Zan juga termasuk di antara pemuda merepotkan itu... Lihat, ini ada surat keluhan darinya." "Siapa juga yang mengirim surat keluhan langsung ke meja penguasa wilayah? Apa yang dia harapkan kalau aku melihatnya?"
Entah dia ini jujur, bodoh, atau tantrum Zan memang separah itu? Yang jelas, bagi orang yang bertindak sebagai wakil penguasa wilayah, ini murni merepotkan. Terdengar hela napas panjang dari mulut Phil.
"Tuan Phil, kalau Anda terus menghela napas, kebahagiaan akan kabur, lho? Buka mulutnya, aaa~"
Duduk manis di pangkuan Phil, Milis mengambil sepotong buah kecil dan menyodorkannya ke mulut Phil.
(Adegan beralih)
Sambil terus membaca laporan, Phil tanpa sadar membuka mulutnya, "Aaa," saat Milis menyuapinya.
"Tapi kelihatannya ketertiban umum tidak seburuk itu kalau melihat semua orang rukun dan bahagia di luar sana," komentar Milis. "Itu benar, mereka semua sangat ramah di luar sana, terus berteriak 'Tuan Pahlawan Bayangan!'. Beberapa bahkan datang memakai ikat kepala dan ban lengan berlambang dirimu," tambah Kahlua dengan nada datar. "Tuan Phil, Aaa~" "Itu masalahnya. Kenapa mereka malah makin berevolusi padahal aku bahkan tidak menampakkan wajahku? Bukannya mereda, situasinya malah makin parah." "......" "Bolehkah saya menyuapi Anda lagi?" "Aaa... Ya ampun, beri aku keringanan. Kapan Nona Privasi bakal kembali padaku?" "......"
Sementara Phil bekerja keras, Kahlua berangsur-angsur menjadi semakin diam di sebelahnya. Sebagai gantinya, urat kekesalan di pelipisnya bertambah banyak. Tidak menyadari perubahan sehalus namun sesignifikan itu, Phil tetap santai.
Hingga akhirnya─
"Hei...?" "Hmm?" "Kapan kau akan berhenti membiarkannya menyuapimu?"
Kahlua akhirnya angkat bicara melalui gigi yang terkatup rapat dan alis yang menukik tajam karena frustrasi. Di matanya yang tajam, terpantul bayangan Phil yang duduk memangku Milis dan dengan santainya bekerja seolah tidak terjadi apa-apa. Sekilas, mereka terlihat seperti pasangan mesra yang memancarkan kasih sayang. Postur tubuh mereka dengan terang-terangan memamerkan keintiman kepada lingkungan sekitar.
"Mau bagaimana lagi, Nona Milis bersikeras ingin membalas budi." "Iya! Saya sudah lama ingin membalas budi Anda, jadi tolong biarkan saya melakukannya!" "Begitu ya..." "Hei..."
Semua ini bermula dari keinginan Milis untuk "membalas budi". Karena tidak ada hal khusus yang ia butuhkan, Phil dengan sopan menolaknya. Tapi Milis keras kepala. Selain utang nyawa di masa lalu saat Phil menyelamatkannya─ada juga rasa bersalah karena ia kini menumpang di mansion ini setelah insiden penyerangan.
"Karena masa menginap saya kemungkinan akan diperpanjang... saya akan merasa bersalah kalau cuma bermalas-malasan menumpang," alasan Milis. "Yah, kau mungkin bakal diserang lagi kalau keluar sekarang. Aku tidak bisa menjamin keselamatanmu di jalan pulang. Jadi untuk sementara, lebih baik kau tetap di sini melihat situasi." "Benar! Karena itu, dengan apa yang bisa saya lakukan...! Saya pikir saya akan mencoba melakukan sesuatu yang mungkin Anda sukai!" "Pfft hahaha, niat yang sangat mulia."
Phil mengelus kepala Milis. Saat gadis itu dengan gembira bersenandung "Ehehe~" dan bersandar pada tangannya, pesona menggemaskan layaknya hewan peliharaan kecil terpancar darinya. Apakah punya adik perempuan rasanya seperti ini? Bibir Phil melengkung membentuk senyuman.
Sementara itu─
"Hmph..." "Aw aw aw, Nona Kahlua, berhenti mencubit punggungku!"
(Setelah terang-terangan menolaknya tadi... Kau gampang banget tergoda cuma karena dia manis.)
Kahlua menggembungkan pipinya dengan tidak puas sambil mencubit punggung Phil. Cubitan itu sangat presisi—sakitnya menyebalkan namun sulit diabaikan—sehingga Phil terpaksa menyingkirkan tangannya dari kepala Milis.
(Ayolah Kahlua, jangan marah begitu. Ini bagian dari strategi.) Phil mengirimkan isyarat lewat matanya. Kahlua mengerutkan kening. (Strategi?) (Iya... Pertama, aku akan membiarkannya melakukan apa yang dia mau di sini untuk meningkatkan angka kesukaannya padaku.) (Uh huh.) (Lalu setelah kami makin akrab, aku akan bilang begini─ 'Aku sangat terganggu karena terus dipanggil Pahlawan Bayangan'. Pengaruh Saintess sangat kuat di kalangan bangsawan dan rakyat jelata. Kalau aku tidak bisa lagi menutupi kekuatanku, setidaknya aku butuh bantuannya untuk mengalihkan perhatian orang-orang.)
Jika Saintess yang berbicara, semua orang pasti akan berpikir, "Oh, ternyata begitu," alih-alih, "Ah, dia pasti bohong." Karena sudah jelas dia tidak bisa lagi membodohi gadis di pangkuannya ini, Phil memilih untuk mendapatkan kerja samanya.
(Satu lagi orang yang tahu masih bisa ditangani...! Di titik ini, anggap saja memang tidak ada pilihan lain kalau berurusan dengan Saintess! Aku akan mendapatkan keuntungan apa pun yang bisa kudapat, lalu pelan-pelan menghilang!!!)
Tidak ada hasil tanpa risiko. Begitulah prinsip Phil.
(Jadi pertama, aku akan fokus memperbaiki hubungan. Kalau tingkat keintiman kami naik, dia mungkin mau mendengarkan kalau aku memohon padanya, 'Tolong jangan sebar rumornya!'. Begitulah rencanaku, jadi jangan terlalu cemburu, oke?) (Terserah... Kau harus menebusnya nanti!) (Iya, iya, aku tahu.)
Setelah mendengar alasannya, kekesalan Kahlua sedikit mereda. Hati seorang gadis memang merepotkan.
"Tetap saja, Nona Milis ini terlalu manis sampai aku tidak tahan..." "Ehhh!? K-k-kenapa tiba-tiba!?"
Wajah Milis langsung bersemu merah padam mendengar pujian dadakan itu. Di balik rasa malunya, ada ekspresi yang tampak sangat kebingungan.
"Sudah mulai menggoda Saintess rupanya...? Ke mana perginya obrolan strategis kita barusan?" sindir Kahlua. "Bukan begitu, kau menganggapku apa sih?" "Orang mesum yang mau pergi ke rumah bordil pagi dan malam." "Tidak salah, sih. Aku senang kau memahamiku dengan sangat baik, Partner. Makanya aku kepikiran ide untuk menggoda, dan itu menyedihkan."
Sambil menepuk pelan kepala Milis yang masih memerah, Phil melanjutkan.
"Yah, dengan gadis semanis ini, Zan mungkin bakal bertindak nekat..." "Ah begitu, maksudmu soal itu." "Iya, dia gampang sekali bergerak kalau melihat gadis yang dia suka. Apalagi selain manis, dia juga menginap di mansion ini... Aku tidak bisa tidak khawatir."
Apa yang akan terjadi jika Zan berani menyentuh Saintess? Kalau atas dasar suka sama suka sih tidak masalah. Tapi, jika hubungan itu dipaksakan padanya, Milis dan pihak Gereja yang sangat menjunjung tinggi kesucian akan menganggapnya sebagai bentuk permusuhan. Lebih jauh lagi, kerajaan yang selama ini menjaga hubungan baik dengan Gereja pasti akan menjatuhkan hukuman berat.
Bagaimanapun juga, pengaruh Gereja terlalu masif; melindungi satu bangsawan bejat tidak sepadan dengan risiko memusuhi mereka. Kalau dampaknya hanya pada Zan saja tidak masalah, tapi kemungkinan besar percikan apinya akan menyambar orang tuanya dan Phil sendiri.
Oleh karena itu, Phil sangat berharap—tolong jangan sampai si idiot itu bertindak sejauh itu.
"Dengar, Nona Milis... Berjanjilah pada Kakak kalau kau tidak akan pernah mau ikut kalau ada anak babi kotor yang menggodamu dengan permen, oke?" "Saya bukan anak kecil!"
Milis mengerucutkan bibirnya tanda protes. Melihat pemandangan semenggemaskan itu, tak ayal Phil hanya bisa membatin, "Ya mau bagaimana lagi?"
(Siang harinya...)
"Ehm, Tuan Phil... Jumlah warga yang berkumpul di perkarangan mansion sudah terlalu banyak sampai mulai merepotkan. Bisakah Anda melakukan sesuatu?"
Sekitar jam makan siang, datanglah keluhan dari salah satu pelayan mansion yang tampak panik melihat situasi.
"Hei, bukankah aku tidak melakukan kesalahan apa-apa di sini?" keluh Phil.
Setelah menyelesaikan sebagian pekerjaannya, Phil duduk di bangku taman bersama Kahlua. Angin sejuk membelai pipinya, kicauan burung pedesaan berpadu dengan teriakan warga, "Tuan Pahlawan Bayangan!". Phil benar-benar ingin percaya bahwa suara-suara bising yang merusak sore damainya ini hanyalah halusinasinya belaka.
"Bukannya niat Phil yang ingin pergi ke rumah bordil itu yang salah?" "Tidak ada niatan membela majikanmu sama sekali, ya."
Kahlua merespons dengan acuh tak acuh. Sang pelayan duduk dengan anggun sambil merapikan rambut merahnya yang berkilau, terlihat persis seperti sebuah lukisan.
"Lagipula... aku tidak menyangka warga bakal bikin keributan sampai ada keluhan masuk. Apa mungkin ada lebih banyak orang di luar sana selain yang kulihat mengintip dari balik pagar?" "Benar. Kudengar tidak hanya berkerumun dan mengintip, beberapa dari mereka bahkan nekat menerobos masuk ke halaman mansion." "Apa aku ini semacam Idol? Bagaimana ceritanya aku tiba-tiba punya basis fans fanatik sebanyak ini?" "Para penjaga keamanan sampai menangis memohon 'Kapan ini akan berakhir?'. Tidak bisa menyalahkan mereka yang frustrasi karena kerumunan terus bertambah tidak peduli seberapa keras mereka menahannya. Haruskah kita naikkan gaji mereka?" "Akan kupertimbangkan dengan serius..."
Phil menatap langit. Angin sejuk ini seharusnya membawa kedamaian, tapi keributan di sekitarnya malah memancing rasa melankolis.
"Aneh, kan? Identitasku sebagai 'Pahlawan Bayangan' seharusnya cuma rumor tak berdasar, tapi kenapa malah jadi sensasi besar yang terus membesar begini?"
Phil tidak pernah secara resmi mengumumkan dirinya sebagai [Pahlawan Bayangan]. Dia cuma tak sengaja membocorkannya pada seseorang. Benar bahwa baju hitam dan topengnya yang sedang dijemur bisa dilihat dari balik pagar. Tapi kecuali mereka ada di lokasi penyelamatan, tidak ada yang bisa memastikan bahwa itu adalah properti sang [Pahlawan Bayangan].
Ditambah lagi, tidak semua orang yang diselamatkannya melihat wajahnya. Seheboh apa pun gosip itu menyebar, imajinasi warga tentang sosok [Pahlawan Bayangan] pada dasarnya masih berupa desas-desus. Hanya kumpulan elemen yang tidak pasti, tapi mampu memicu keributan seolah mereka punya keyakinan mutlak... Rasa janggal itu terus mengganjal di benak Phil.
Namun─
"Ya ampun, kau tidak tahu rupanya?" "Ada apa dengan nada bicara pertanda buruk itu!?" "Sang Saintess datang berkunjung, kan? Itu sebabnya."
Kahlua melirik sekilas ke arah Milis di sisi lain taman.
"Gara-gara saya...?" "Seorang Saintess mendadak muncul padahal tidak ada bencana alam atau jadwal ziarah─ Kunjungannya ke tempat Phil sendiri sudah menjadi validasi tertinggi atas rumor tersebut." "Begitu ya, jadi aku sudah kena Skakmat sejak dia menginjakkan kaki di sini... Kh!" "Eh? Kenapa skakmat?"
Milis yang tidak tahu soal rencana Phil yang ingin ke rumah bordil, memiringkan kepalanya bingung. Dan tentu saja Phil tidak mungkin menjelaskan, "Karena aku terjebak dan tidak bisa mengunjungi Kakak-kakak kesayanganku di rumah bordil!"
"Lagipula..." tambah Kahlua. "Masih ada lagi!? Jangan bilang masih ada faktor pendukung lain!? Hei, hentikan... Siapa sih yang hobi menindas dan menyiksa anak tak berdaya sepertiku!? Kalau kau suka main play begitu, cari orang lain saja sana!" "Sepertinya beberapa orang yang datang ke mansion ini ikut memanaskan rumornya di kota."
Mendengar kata-kata itu, sesuatu di dalam sensor otak Phil bereaksi. Yang kemudian berubah menjadi satu pertanyaan─
Bukannya orang-orang yang seharusnya ada di sini malah menghilang hari ini?
"Nona Milis." "Y-Ya, ada apa!?" "...Ke mana perginya para ksatria pengawalmu?"
Benar, ksatria pengawal yang datang untuk melindungi Milis. Orang-orang yang seharusnya menempel ketat dan menjaga sang Saintess dari bahaya apa pun yang terjadi. Namun, Phil belum melihat wajah mereka sama sekali sampai detik ini, padahal sang Saintess ada di sini!!!
"Para ksatria dari Gereja juga memuja [Dewi] yang sama dengan kami. Oleh karena itu, masing-masing dari mereka memikul tugas untuk menyebarkan [Aristolianisme]." "Oh, begitu, begitu." "Karena kami sudah jauh-jauh datang ke sini, kemungkinan besar mereka sedang melakukan kerja misionaris saat ini juga!" "Hah, jadi tidak ada pengawal sama sekali?" "Mereka mungkin menilai bahwa saya akan aman-aman saja selama ada Tuan Pahlawan Bayangan di sini! Saya juga sudah memberi mereka izin!" "Hei, bukannya kalian baru saja diserang belum lama ini!? Bisa-bisanya mereka bolos kerja sementara aku setengah mati mengurus semuanya... Benar juga, sepertinya mereka perlu sedikit pelajaran." "Jangan marah cuma karena rumornya menyebar. Sini, duduk."
Kahlua menahan Phil yang mengepalkan tangan dan hampir berdiri. Pada akhirnya, tampaknya para ksatria Milis-lah yang berkeliling menyebarkan mulut mereka. Karena kabar itu datang langsung dari saksi mata (para ksatria), kata-kata mereka secara alami mendapatkan kredibilitas absolut. Terlebih lagi, orang-orang Gereja dikenal pantang berbohong—itu makin memperkuat kebenaran rumornya.
"Sepertinya rencanaku untuk mengalihkan isu dengan bantuan Nona Milis sudah hancur berantakan... Kalau beritanya sudah menyebar sejauh ini, habislah sudah. Padahal aku sudah susah payah menahan hasratku mengunjungi Kakak-kakak kesayanganku dan mengurung diri di rumah..." "Sungguh pengorbanan yang sia-sia." "Hei, kalau kau sudah tahu situasinya sejak awal saat aku bilang butuh bantuan dia untuk 'mengalihkan isu', kenapa kau tidak menghentikanku? Kau malah mengangguk-angguk seolah setuju, kan?" "Soalnya aku agak kesal melihatmu bermesraan dengannya, jadi aku pikir aku akan menggodamu sedikit." "Kenapa Anda harus menyembunyikannya? Tuan Phil tidak melakukan kejahatan apa pun, Anda melakukan hal-hal yang terpuji... Bukankah tidak masalah kalau tidak disembunyikan?" tanya Milis lembut.
"...Ada banyak alasan."
Sambil kepalanya dielus oleh Kahlua, Phil menatap jauh ke cakrawala. Apa yang terpantul di matanya yang menerawang itu? Setidaknya, itu adalah pemandangan yang sangat jauh dari kebebasan yang ia dambakan.
"Ehm... Apakah saya, mungkin, banyak merepotkan Anda...?"
Milis bertanya dengan suara kecil, merasa bersalah. Matanya tampak basah oleh kegelisahan. Datang tiba-tiba, meningkatkan validitas rumor, diserang penyusup, anak buah yang bermulut ember... Tidak bisa dimungkiri, kehadirannya seolah menjadi parade masalah bagi Phil. Sejujurnya, dia tidak akan menyalahkan Phil jika pemuda itu membencinya, terlepas dari niat murninya.
Namun─
"Tolong jangan dipikirkan. Yah, bohong sih kalau aku bilang ini tidak merepotkan sama sekali... Tapi aku tahu kau tidak punya niat buruk. Aku tidak mungkin membenci orang seperti itu."
Ada banyak orang jahat di dunia ini yang dengan sengaja menyebarkan penderitaan. Justru karena sering melihat manusia-manusia busuk itulah, Phil tidak akan pernah bisa membenci seseorang yang berniat baik tulus sepertinya.
Untuk menenangkannya, Phil mulai mengelus kepala Milis.
(Terima kasih banyak... Anda benar-benar orang yang sangat baik.) gumam Milis dengan wajah bersemu merah.
Sayangnya, kata-kata itu tidak pernah sampai ke telinga sang penerima.
"Kalau begitu! Ini mungkin tidak bisa disebut permintaan maaf, tapi tolong beri tahu saya kalau ada yang bisa saya lakukan untuk Anda! Demi Anda, saya dengan senang hati akan melucuti satu atau dua lapis pakaian saya!" "Hmm... Kalau begitu, bisakah kau perlahan melepaskan bagian atasnya mulai dari leher untuk memperlihatkan ──" "Apa yang coba kau suruh pada Saintess ini, hah?!" "Aw aw aw pelipisku sakiiiiit!!!"
Serangan dadakan bernama cengkeraman besi (Iron Claw) menghantam pelipis Phil, membuatnya menjerit kesakitan.
"Eek! Ada apa ini tiba-tiba!?" Milis panik melihat kekerasan dadakan itu. "Omong-omong, Phil─ Apa rencanamu soal ini?"
Kahlua mengeluarkan sepucuk surat dari celemeknya setelah puas menyiksa majikannya. Sambil menahan tangis dan memegangi pelipisnya yang berdenyut, Phil melirik surat tersebut. Lambang keluarga kerajaan tercetak jelas di atasnya.
"Abaikan saja." "Kau yakin? Mereka tidak akan tinggal diam kalau kau mengabaikan surat dari keluarga kerajaan, lho?" "Aku tinggal bilang 'Aku sedang sibuk menjamu Saintess'. Mereka tidak bisa sembarangan memperlakukan seorang Saintess. Ini cuma masalah siapa yang mau menodongkan lehernya ke dalam masalah yang jelas-jelas merepotkan."
Isi surat itu kemungkinan besar adalah panggilan ke istana. Undangan dari keluarga kerajaan sama saja dengan tiket gratis menuju kehidupan sebagai kuda penarik kereta politik. Eksistensi yang sangat ingin dihindari Phil—sang pengejar kebebasan—dengan segala cara. Apalagi ditambah dengan kekacauan akibat kunjungan sang Saintess...
"Jadi ya, abaikan saja. Sini, lebih baik kita main bersama Nona Milis sebentar." "Apakah tidak apa-apa, Tuan Phil? Padahal itu terdengar seperti panggilan penting─" "Tidak apa-apa. Bagiku saat ini, Nona Milis jauh lebih penting." "Eh!?"
Meskipun sebagian besar ia menggunakannya sebagai alasan, meninggalkan Saintess yang baru saja diserang tidaklah sejalan dengan nurani Phil. Kekhawatirannya pada Milis berasal dari perasaannya yang tulus, tidak diragukan lagi. Lagipula, jika bukan karena kebaikan hatinya, dia tidak akan terus-menerus menolong orang tanpa henti. Ini adalah bukti kebaikan Phil yang murni. Phil sendiri pun menyadari hal itu.
Karena sudah pasrah tak bisa lagi menghentikan rumornya, Phil memilih jalan untuk ngoceh dan bersikap manis.
Dan─
"Ah...!"
Wajahnya langsung merah padam karena deklarasi gamblang Phil, membuat kepala Milis seakan mengeluarkan uap panas.
Dunia Bawah dan Gadis Berpalu Perang
Faktor utama yang memungkinkan [Pahlawan Bayangan]—yang sangat dikagumi massa—untuk menyelamatkan orang di berbagai tempat terletak pada jaringan [Dunia Bawah] (Underworld) milik Phil.
[Seorang bangsawan disergap oleh bandit di jalan raya dekat kaki gunung Wilayah Marquis Amethyst.]
Suara seorang pria muda terdengar bergema di dalam kepala Phil. Hari ini pun telah mencapai penghujungnya, dan waktu tidur sudah dekat.
[Di mana posisimu?] [Tepat di sebelah Anda.]
Dalam pakaian tidurnya, Phil berbicara di dalam pikirannya. Semakin seorang penyihir mendalami bidang sihir mereka, semakin besar pula repertoar mereka dalam memengaruhi peristiwa di dunia ini. Riset berulang di masa lalu telah meningkatkan kekuatan sihir [Pengikat] Phil... dan mengevolusikannya menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat dan praktis.
Bahkan percakapan mental seperti ini pun berasal dari ilmu sihir Phil.
─ [Dialog Bebas dengan Target yang Terikat].
Sebuah kemampuan luar biasa yang tidak dibatasi oleh jarak, memungkinkan percakapan telepati dengan subjek yang terikat. Kekurangannya adalah dia harus mengikat targetnya terlebih dahulu, dan para target tidak bisa berdialog satu sama lain. Namun, manfaatnya jauh melampaui kekurangannya. Jika siapa saja bisa menggunakan sihir ini, para kurir pengantar surat berkuda pasti akan menangis massal dan pensiun dini.
[Kalau begitu jangan bergerak dari sana. Aku berangkat sekarang.]
Setelah berkata demikian, Phil mulai menanggalkan pakaian tidur yang baru saja ia kenakan.
Tepat saat itu─
"Ya ampun, mau keluar lagi hari ini?"
Kahlua tiba-tiba angkat bicara, dengan santainya menikmati teh sebelum tidur di kamar Phil.
"Jangan seenaknya duduk di sana dengan niat menontonku ganti baju...!" "Tega sekali, padahal aku sudah terlanjur ada di sini. Rasanya sayang kalau harus langsung keluar." "Setidaknya berpura-puralah sedikit! Minum teh dengan santainya... Kau sebegitu putus asanya ya ingin melihat tubuhku? Sayang sekali! Celana dalamku tidak akan kulepas!" "Memangnya aku bilang aku mau lihat sesuatu...?"
Kahlua menghela napas panjang lalu berjalan ke lemari pakaian. Ia mengeluarkan setelan baju hitam dan topeng polos dari dalam sana.
"Ehm..." "Ya? Tapi aku harus cepat." "Kau tidak ingin dikenal sebagai [Pahlawan Bayangan], kan?"
Phil menerima baju hitam dan topeng itu dari tangan Kahlua. Sedikit ketidaksabaran terpancar di wajahnya.
"Kalau begitu kau tidak perlu pergi... Bukankah begitu?"
Jika ia tidak ingin rumor liar itu makin menyebar, ia seharusnya menahan diri dari tindakan yang tidak perlu. Jika Phil tidak lagi menolong atau menemui siapa pun, kemungkinan meninggalkan jejak dan terlihat orang akan sepenuhnya menghilang. Lebih dari itu, Phil tidak punya kewajiban untuk menyelamatkan orang asing sejak awal.
Tidak ada kewajiban semacam itu, namun pemuda bernama Phil ini─
"Jangan bicara omong kosong. Aku tidak bisa mengabaikan seseorang yang jatuh dalam penderitaan. Lagipula, apa salahnya berharap agar orang asing yang tidak kukenal pun bisa hidup bahagia?" "Kurasa begitu... Pertanyaanku barusan memang bodoh."
Kahlua memasangkan topeng itu ke wajah Phil. Wajah manis pemuda itu kini tertutup rapat, tapi Kahlua tetap menyukai topeng ini. Senyum perlahan merekah di wajah Kahlua.
"Aku juga pernah diselamatkan oleh kebaikan hatimu itu." "Yah, memang benar aku ini baik hati, tapi... Kekuatan ini diwariskan padaku oleh orang itu─" "Hm?" "Tidak... Lupakan saja."
Setelah selesai berganti pakaian, Phil mengelus lembut kepala Kahlua.
"Ditambah lagi, ini adalah kesempatan bagus─ Sekalian saja aku coba mematahkan rumor itu." "Dengan cara apa?" "Aku akan berteriak 'Namaku adalah anu!' setelah menyelamatkan mereka. Rumor tentang Phil Salemabart sebagai [Pahlawan Bayangan] akan lenyap kalau aku sendiri yang membantahnya, kan? Karena orangnya sendiri yang menolaknya." "Wah, ide yang lumayan masuk akal. Aku sedikit terkesan." "Teruskan pujian itu. Dan setelah ini biarkan aku pergi ke rumah bor─" "Tidak akan pernah." "Ugh."
Terkekeh pelan, Phil merasakan kehangatan dari partner-nya sejenak sebelum menghentakkan kakinya sekali. Lantai kamarnya dengan cepat berubah warna menjadi hitam pekat.
"Oke, aku berangkat." "Ya, hati-hati di jalan, Tuan Pahlawan."
Mengucapkan perpisahan, Phil tenggelam ke dalam kegelapan dan menghilang dari pandangan. Sesaat setelahnya, pintu kamar Phil terbuka tanpa aba-aba.
"Ehm... Tuan Phil, Anda di dalam?"
Milis yang masih mengenakan jubah biarawatinya mengintip malu-malu ke dalam. Sikap ragu-ragunya itu sangat menggemaskan.
"Mohon maaf Nona Milis, tapi Tuan Phil baru saja keluar." "Ehh? Jam segini...?" "Kebaikan hatinya buka 24 jam sehari, 7 hari seminggu."
Menghadapi Milis yang kebingungan, Kahlua mengangkat bahu dan mulai membereskan setelan tehnya. Dia tidak punya urusan lagi berlama-lama jika majikannya tidak ada. Bagaimanapun, alasan Kahlua ada di ruangan itu murni karena ada Phil. Bahkan jika Phil berada di hutan belantara yang tidak cocok untuk seorang wanita, Kahlua pasti akan menyusulnya dengan membawa set teh ini.
"Apakah Nona Milis ada perlu dengan Phil?" "T-tidak! Saya tidak punya urusan khusus... Saya cuma ingin mengobrol saja." "Begitu ya. Kalau begitu, bagaimana kalau Anda menemani saya mandi sekarang?"
(Oh, begini rupanya... Jadi ini yang namanya pesona feminin. Kalau aku punya stat seperti ini, apa Phil bakal lebih memperhatikanku?) batin Kahlua.
Meskipun ia berpikir demikian, standar Kahlua sendiri sebenarnya sudah sangat feminin. Elegan dan cantik jelita, ia memancarkan aura yang memikat siapa saja. Hanya saja, definisi "feminin" menurut Kahlua berbeda dengan persepsi Milis tentang menjadi feminin. Dan mungkin, karena orang yang ia kagumi terlalu unik, itu membuatnya sedikit kehilangan kepercayaan diri.
"Iya, Nona Milis. Kalau Anda tidak keberatan, maukah mandi bersama saya?" "Mandi... berdua dengan Anda, Kahlua-san?"
Ya. Milis masih memakai pakaian biarawatinya. Artinya, dia belum bersiap untuk tidur. Namun, Kahlua jelas-jelas sudah memakai pakaian tidur. Merasa ada yang aneh, Milis memiringkan kepalanya.
"Saya tidak keberatan, tapi bukankah Anda sudah mandi, Kahlua-san?" "Sudah, tapi saya berpikir untuk membuang waktu sampai Tuan Phil pulang. Karena Nona Milis sepertinya belum mandi, saya pikir mungkin Anda mau ikut." "Kalau begitu, mari kita pergi bersama!"
Milis berlari kecil dengan penuh semangat, lalu perlahan menggandeng tangan Kahlua.
"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang, Kahlua-san!" "Fufu, ayo."
Kahlua membiarkan dirinya dituntun oleh Milis keluar ruangan. Meski ada sedikit rasa cemburu, melihat senyum bahagia Milis entah kenapa membuat Kahlua membatin ─ (Kalau aku punya adik perempuan, apa rasanya bakal seperti ini?)
Gadis ini sangat polos dan menawan. Terlepas dari statusnya sebagai Saintess, tingkah Milis yang murni layaknya gadis remaja biasa membawa senyum ke bibir Kahlua.
Meskipun dibilang memiliki dua putra yang tidak berguna, keluarga Count Salemabart tetaplah bangsawan kelas atas.
Melihat betapa megahnya mansion ini sudah cukup membuktikan bahwa fasilitas, dekorasi, dan perabotannya adalah kualitas kelas satu. Tentu saja, hal yang sama juga berlaku untuk pemandiannya.
"Wah! Berapa kali pun saya melihatnya, pemandian rumah Tuan Phil selalu terlihat sangat luas!"
Kira-kira berapa banyak orang yang bisa masuk sekaligus? Area cucinya memiliki ember-ember kecil yang berjejer sangat panjang, sementara bak mandinya sendiri seukuran kolam renang. Air panas segar terus-menerus mengalir dari pancuran berbentuk kepala singa, dengan uap tebal yang mencoba menyembunyikan kemewahan marmernya. Jarang masuk ke tempat seperti ini sebelumnya, Milis menatap pemandian itu dengan mata berbinar.
Menutupi tubuh mungilnya dengan jubah mandi dan membiarkan rambut emasnya yang biasanya tertutup wimple kini tergerai—meski bergelar Saintess, penampilan belianya ini membuatnya lebih terlihat seperti bocah mistis daripada gadis seumurannya.
"Begitukah? Kurasa ini cukup standar..." ujar Kahlua yang masuk ke pemandian mendahului Milis yang masih terpesona. Berbeda dengan Milis, Kahlua dengan santai mempertontonkan tubuh alaminya tanpa ditutupi jubah mandi. Benar-benar gadis yang cukup tomboy.
"Sebagai Saintess Milis, Anda pasti sudah sering melihat pemandian skala seperti ini di berbagai tempat, kan? Mansion Count Salemabart ini kan sebenarnya tidak terlalu luar biasa." "Di Gereja, semua orang diperlakukan setara. Tidak peduli apa gelarku, pemandian selalu digunakan bersama. Pemandian Gereja memang besar tapi... selalu penuh sesak sampai terasa sempit."
Itulah mengapa tempat ini sangat luar biasa! Milis tersenyum lebar sambil memindai seluruh ruangan. Lalu ia langsung menuju area bilas, tampak sangat tidak sabar untuk segera masuk ke air.
(Dengan perjalanan ziarahnya, perlakuan seperti ini seharusnya jadi hal biasa, kan...) Kahlua ragu apakah Milis memang jarang melihat kemewahan seperti ini. Merasa aneh tapi membiarkannya berlalu, Kahlua ikut duduk di area bilas.
Mengambil air dengan ember dan membilas tubuhnya. Setelah suara guyuran air bergema beberapa kali di ruangan itu, Milis yang berada di sebelahnya berdiri dan langsung menceburkan diri ke bak mandi utama. Kahlua tersenyum kecut melihat Milis, persis seperti seorang kakak perempuan yang sedang mengurus adik kecil yang merepotkan.
"Kahluaaa~! Cepat ke sini!" panggil Milis sambil melambaikan tangan berlebihan, dengan setengah tubuhnya terendam di dalam air hangat. "Iya, iya, aku datang."
Merasa nostalgia seakan memiliki adik perempuan sungguhan, Kahlua meletakkan embernya dan berjalan menuju bak mandi sesuai panggilan, lalu segera merendam tubuhnya ke dalam air. Terdengar suara kecipak air yang menyegarkan.
"Haaah... Memang tidak ada yang bisa mengalahkan nikmatnya mandi~"
Berendam cukup dalam hingga rambut emasnya mengambang di permukaan, Milis memejamkan matanya dengan nyaman.
Tepat saat itu─
(Kalau dipikir-pikir...) Kahlua menatapnya. (Ternyata lumayan besar juga, ya.)
Pandangannya tertuju pada dada Milis yang mengintip di atas permukaan air. Saat mengenakan pakaian biarawati, hal itu tidak terlalu terlihat, tapi saat diekspos seperti ini, eksistensinya jadi sangat nyata. Tipikal tubuh yang terlihat lebih langsing jika memakai baju.
(Tapi yang paling penting itu bentuknya...) batin Kahlua, seolah sedang membuat alasan pada dirinya sendiri.
"Omong-omong, saya sangat iri pada Anda." "...Soal apa, jika boleh kutahu?" "Kahlua-san, Anda memancarkan aura kedewasaan yang sangat kuat sampai-sampai saya tidak bisa tidak merasa iri..."
Tanpa menyadari apa yang Kahlua iri darinya, Milis mengatakan hal itu sambil menatapnya. Tetesan air mengalir turun dari rambut merahnya. Proporsi tubuh dengan lekukan yang tegas. Pipi yang sedikit memerah karena uap panas. Ada kesan sensual, dan seperti yang Milis bilang, Kahlua memang memancarkan aura wanita dewasa seutuhnya. Mungkin karena kecantikannya yang tomboy dan gagah, tapi Milis merasa Kahlua terlihat lebih dewasa dari biasanya malam ini.
"Saya juga ingin menjadi lebih dewasa..." "Nona Milis yang sekarang sudah memiliki pesona yang sangat cukup, kok." "Saya sering dibilang begitu, tapi... Saya bercita-cita menjadi wanita dewasa yang anggun seperti Kak Kira kesayangan saya." "Kak... Kira?" "Ah, tidak! Bukan begitu! Saya cuma memanggilnya Kakak, tapi dia bukan kakak kandung saya atau semacamnya! Dan saya juga tidak pernah memanggilnya begitu di depannya!"
Ditanya hal yang tak terduga, Milis buru-buru menyangkalnya dengan panik.
"Dia adalah orang yang selalu menjaga saya. Dia sangat mengerti saya dengan lembut dan hangat... Kak Kira adalah wanita dewasa yang hebat persis seperti Kahlua-san."
Milis membicarakan sosok itu dengan penuh kasih sayang.
Untuk alasan apa dia memasang ekspresi seperti itu? Satu lagi poin kebingungan bagi Kahlua, tapi sang Saintess terus-menerus bepergian untuk ziarah. Wajar jika dia tidak sering bertemu kenalannya.
"Tujuan saya adalah menjadi wanita dewasa seperti Kak Kira! Karena itulah saya akan makan yang banyak!" "Fufu, begitukah." "Iya!"
Tersenyum cerah, Milis beringsut merapat ke arah Kahlua setelah menjawabnya.
"Kalau begitu, mumpung ada kesempatan, bagaimana kalau kita ngobrol banyak hal? Saya terutama ingin bertanya soal Tuan Phil!" "Silakan saja. Majikanku adalah pahlawan yang cukup konyol sampai-sampai kita tidak akan pernah kehabisan topik─"
Lalu, suara tawa riang khas gadis-gadis bergema di dalam pemandian yang dipenuhi uap. Pasangan yang aneh antara seorang Saintess dan seorang pelayan, namun usianya berdekatan. Mungkin itulah sebabnya obrolan ceria mereka berlangsung sangat lama di dalam sana...
Sementara Milis dan Kahlua asyik mengobrol di pemandian, sang pemuda bernama Phil yang selalu berusaha pamer kebaikan dan keadilan kembali memunculkan wajahnya di dunia luar—pemandangan di sekitarnya telah berubah redup.
Angin malam membawa hawa dingin. Jalan raya yang luas dan pepohonan di sekelilingnya memberikan kesan terbuka. Pemandangan yang terbentang ini benar-benar berbeda dengan kamar Phil sebelumnya.
"Terima kasih banyak telah sudi datang, Tuan Pahlawan Bayangan."
Di sebelahnya, berlutut seorang pemuda yang berpakaian tebal menahan dingin. Melihatnya, Phil berkata, "Seperti biasa, angkat kepalamu. Dihormati seperti itu membuatku tidak nyaman."
─ [Pertukaran Bebas dengan Target yang Terikat].
Kemampuan berpindah instan ke berbagai lokasi seperti ini juga memanfaatkan sihir Pengikat milik Phil. Memproyeksikan dirinya ke tempat subjek yang telah diikatnya berada─ Sesuatu yang hanya bisa diturunkan setelah ia mencari konsep "pembebasan" melalui pertukaran.
"Tidak, jika saya tidak menunjukkan rasa hormat kepada Tuan Pahlawan Bayangan yang pernah menyelamatkan nyawa saya... Tolong biarkan saya tetap seperti ini jika memungkinkan."
Seperti yang telah dijelaskan secara singkat sebelumnya, keberhasilan Phil menyelamatkan orang di berbagai tempat sebagian besar berutang pada jaringan [Dunia Bawah] (Underworld). Tersebar di berbagai tempat, mereka akan memberikan informasi jika ada masalah atau pertikaian yang terjadi. Anggotanya terdiri dari orang-orang yang pernah diselamatkan Phil di masa lalu dan dinilai dapat dipercaya.
Lalu, dengan mengikat semua anggota [Dunia Bawah] itu, komunikasi telepati dan teleportasi menjadi mungkin, yang mendorong Phil untuk pergi menyelamatkan lebih banyak orang. Metode pengikatannya pun sangat sederhana. Sihir itu selesai tepat saat Phil memberikan tanda (cap) di bagian mana pun pada tubuh targetnya. Sihir praktis yang sangat mudah digunakan dari ujung ke ujung.
─ Inilah wujud nyata dari kebaikan hati Phil Salemabart. Sebuah organisasi bernama [Dunia Bawah] yang murni didirikan untuk membantu misi penyelamatan. Tentu saja, [Dunia Bawah] mengetahui identitas asli Phil dan mendapat perintah keras untuk tidak membocorkannya. Tapi...
"Jadi Tuan Pahlawan Bayangan... Mereka yang sedang diserang saat ini ada di─" "Kau tidak perlu mengatakannya. Mereka yang sedang diserang ada di sebelah sana, kan?"
Phil menatap lurus ke depan. Di sana, sekelompok besar bandit sedang mengepung sebuah kereta kuda dan beberapa orang pengawal. Dalam jarak pandang yang buruk, suara benturan senjata bergeming, menandakan bahwa pertumpahan darah untungnya belum terjadi.
"Yah, ayo kita selesaikan ini─"
Phil membalikkan badannya dari pemuda itu dan melangkah menuju lokasi pengepungan.
"Kembali menyelamatkan orang hari ini juga." Demi agar orang-orang yang baik hati bisa hidup bahagia. Bagaimanapun juga─ Kebahagiaan melambangkan puncak tertinggi dari kebebasan.
Sudah kubilang kita harusnya membatalkan perjalanan ini, ratap salah satu ksatria yang sedang diserang di dalam hatinya.
Di tengah bunyi dentingan logam yang memekakkan telinga, ksatria yang penuh penyesalan itu mati-matian mengayunkan pedangnya. Dalam jarak pandang yang gelap gulita, ia hanya bisa mengandalkan siluet musuh untuk beradu senjata. Sensasi menembus daging terkadang disertai semburan cairan hangat ke wajahnya, yang hanya menambah rasa jijik, kesal, dan ketakutan.
Setidak masuk akal apa pun jadwalnya, bepergian di malam hari setelah senja mengundang bahaya yang sangat besar. Dan inilah hasilnya. Ksatria yang meratap itu hanya bisa menatap tajam ke arah komandan ksatria yang lokasinya samar-samar, membatin "Akan kuomeli kau habis-habisan nanti!"
"A-Aku juga akan bertarung!"
Tiba-tiba, suara lengkingan terdengar dari kereta kuda di belakang.
"Nona muda, tolong kembali ke dalam!" "Tidak mau, semua orang sedang bertarung... Aku juga harus!"
Seorang majikan yang mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menyemangati ksatrianya—sebuah sikap yang mulia, namun untuk situasi saat ini, itu benar-benar mengganggu. Kebaikan hati itulah yang menjadi alasan sang ksatria bersumpah setia, namun... Apa yang akan terjadi jika orang yang paling butuh dilindungi malah muncul di tengah medan perang?
Itu hanya akan memicu kelengahan, karena mereka tak lagi bisa "terus memantau lokasi target yang dilindungi dengan aman".
Serangan ini ibarat permainan catur di mana beberapa menteri (bishops) harus melindungi bidak raja dari kepungan banyak bidak pion musuh. Sehebat apa pun kekuatan sang menteri, perbedaan jumlah menjamin kerugian besar. Pecatur kawakan pasti paham hal ini. Memotong musuh sebanyak semut itu sangat melelahkan. Dan semut bisa menyusup dari mana saja melewati kakimu untuk menggigit sang raja tanpa ketahuan.
Oleh karena itu─
"Nyawamu adalah milikku, Nona Muda!"
Suara itu tiba-tiba berteriak dari arah belakang. Sang ksatria yang meratap dan rekan-rekannya sama sekali tidak menurunkan kewaspadaan mereka, namun kini mereka sadar bahwa nyawa majikan mereka sedang terancam di detik ini juga.
Di sisi lain─
"Hah...?"
Kebingungan melanda. Meski baru saja melangkah keluar, entah bagaimana sesosok bayangan yang bersiap menebaskan pedang dari belakangnya telah mendekat tanpa ia sadari. Apakah dia bersembunyi untuk menyergap saat aku keluar kereta? Sambil merenungkan hal itu─ Sebuah sensasi lain muncul bersamaan─
"Eek..."
Lumpuh oleh kengerian yang sudah di depan mata. Tangan gadis muda itu sebenarnya menggenggam pedang. Jika saja ia menguatkan tekad untuk melawan dan menolak mati tanpa perlawanan, ia pasti bisa selamat dari serangan instan ini. Tapi, karena tak terlatih untuk situasi seperti ini, ketakutan mengambil alih rasionalitasnya. Saat ini, insting membela diri kalah telak oleh teror─
"Seseorang..." Tolong selamatkan aku—
Hampir tanpa sadar memohon hal itu, gadis muda itu memejamkan matanya erat-erat.
Dan─
"Jangan sok asyik nyoba bunuh cewek, woi... dasar sampah!"
Suara benturan keras terdengar memekakkan telinga.
"Uwoah!?"
Dengan mata masih terpejam menanti tebasan pedang yang tak kunjung tiba, gadis itu dilanda kebingungan. Membuka matanya dengan ragu-ragu, ia melihat seorang pemuda baru saja membanting kepala seorang pria ke tanah tepat di hadapannya.
"Hah...?" "Mari kita simpan sesi tanya jawabnya untuk nanti. Kita lagi tidak dalam situasi santai buat main kuis trivia sekarang."
Pemuda itu berdiri menutupi gadis tersebut sebagai tameng. Jarak mereka cukup dekat hingga sang gadis bisa melihat siluetnya dengan jelas.
─ Pakaian hitam dan topeng polos.
Gadis itu juga pernah mendengar tentang penampilan tersebut. Sang Pahlawan yang selalu berlari masuk saat seseorang menghadapi bahaya, lalu menyelamatkannya. Sangat mirip dengan sosok yang selama ini hanya ia dengar dari rumor.
Pemuda itu lalu bersuara.
"Aku harus menghapus 'kebebasan' yang menganggap menyerang orang lain itu hal yang wajar. Mereka yang menginjak-injak kebahagiaan orang lain butuh di-Ikat dengan benar."
Ktek. Bunyi jentikan jarinya teredam oleh benturan logam di medan perang.
Tepat saat itu─
"Nah, selamat datang di dunia ikatan."
Sesuatu bangkit dari belakang pemuda─ tidak, di belakang gadis itu. Lebih gelap dari pemandangan redup malam itu, kontur bergelombang samar yang menyerupai pilar air yang berdiri tegak. Meluas ke samping, pilar air itu berubah menjadi dinding raksasa yang cukup besar untuk menelan semua orang yang ada di sana.
─ [Lautan luas yang mengundang ke dunia ikatan].
Phil mengaktifkan sihirnya.
"[Lautan Bayangan] (Shadow Sea)."
Seketika kata-kata itu keluar dari mulutnya, dinding bayangan itu mengepung seluruh medan perang seolah ingin menelannya bulat-bulat.
Para bandit. Para ksatria. Gadis itu.
Tanpa bisa bergerak, mereka tak berdaya menahan diri dari hisapan tersebut. Layaknya ombak tunggal yang besar. Sapuan itu menyedot semua yang ada di sana ke dalam alam bayangan.
"Nah, apa kau yang terakhir~"
Phil menarik naik seorang pria berbaju zirah dari dalam ruang bayangan yang ia ciptakan. Adegan ini sangat mirip dengan proses menyelamatkan korban tenggelam di laut, padahal mereka sedang berada di atas jalan raya yang padat.
"M-maaf..." "Tidak usah dipikirkan."
Karena tidak bisa menyortir hanya menyerap musuh di tengah jarak pandang yang buruk, Phil memilih untuk menelan semua orang tanpa pandang bulu, lalu menarik kembali para ksatria dan gadis yang ikut tersedot. Dan dengan pria yang baru saja ia "pancing" ini sebagai yang terakhir, krisis pun berakhir dengan para musuh yang kini ter-Ikat di dalam dimensinya.
"Ehm, terima kasih banyak telah menyelamatkan kami... Atas nama semuanya, mohon terima rasa syukur kami."
Saat itulah, sebuah suara memanggil dari belakang Phil. Terlihat jelas di bawah cahaya obor, pemilik suara itu─
"Sebagai putri tunggal Keluarga Marquis Amethyst, saya adalah Alicia Amethyst. Tuan Pahlawan Bayangan."
Dengan rambut perak berkilau bagaikan mithril, mata berwarna batu amethyst (kecubung), proporsi tubuh yang terbentuk indah, dan wajah yang sangat manis, gadis yang dibalut gaun dari kain tipis nan ringan itu terlihat sangat memesona dan secantik bulan yang bersinar di langit malam.
(Kenapa putri bangsawan atau gadis-gadis di posisi penting... selalu saja berwajah cantik jelita? Bisa dibilang, dunia ini lumayan tidak adil ya?)
Entah itu Kahlua atau Milis, mereka yang berada di posisi tertentu selalu saja diberkahi paras rupawan. Apakah ada rumus pasti di suatu tempat yang mengatur hal ini? Kuota daya tarik wajah di dunia ini rasanya terlalu timpang.
"Tidak usah dipikirkan. Aku melakukannya bukan untuk mendapat ucapan terima kasih."
Memang benar, pada dasarnya, ia harusnya sudah pergi dari tempat ini tanpa sepatah kata pun tepat saat ia selesai menolong. Sebelum sempat diperkenalkan, sebelum sempat diucapkan terima kasih. Seperti yang bisa ditebak dari tindakan-tindakannya selama ini, Phil memang tidak menginginkan hal-hal semacam itu.
Namun, kali ini berbeda!!!!
"Kalau aku sudah diperkenalkan, maka aku juga harus memperkenalkan diriku──"
Ya, semuanya demi memperkenalkan dirinya! Dan ini bukan nama Phil, melainkan nama fiktif!!!
"Namaku adalah Fee. Ingat itu baik-baik!"
Dengan sikap bangga yang mungkin diiringi efek suara ledakan 'BOOM', Phil mendeklarasikannya ke arah Alicia, tepat setelah gadis itu memanggilnya [Pahlawan Bayangan]. Jika orang di depannya tahu bahwa [Pahlawan Bayangan] ada di sini, lalu ia memperkenalkan diri dengan nama lain, maka sosok pahlawan itu tidak akan lagi diasosiasikan dengan pria bernama Phil Salemabart.
Seperti yang dikatakan Kahlua, ini adalah rencana yang cukup efektif. Semuanya demi menyembunyikan identitas asli [Pahlawan Bayangan]! Semuanya demi bisa hidup bebas tanpa terikat oleh apa pun! Oleh karena itu, memanfaatkan kesempatan saat menolong orang ini, ia menjalankan rencana penipuannya dengan sekuat tenaga.
"Jadi, kalian harusnya cepat kembali. Siapa tahu masih ada pertunjukan encore (susulan) dari para penonton tadi." Phil melambaikan tangannya ke arah Alicia dan yang lainnya, "Sana, pergi."
Tentu saja, meskipun ia telah menyelamatkan mereka dari bandit, tidak ada jaminan bahwa gelombang serangan kedua tidak akan datang. Lingkungan sekitar sangat gelap, dan kota masih berjarak cukup jauh. Demi memastikan keamanan, akan lebih baik jika mereka cepat-cepat masuk ke kota.
Salah satu ksatria yang memahami maksud Phil segera menundukkan kepala, lalu membimbing Alicia kembali ke kereta. Demi keselamatannya sendiri, Alicia pun naik ke kereta.
Dan──
"Hah? Suara itu..."
Phil tidak bisa mendengar gumaman terakhir Alicia. Mungkin karena terlalu sibuk tenggelam dalam rasa pencapaian, Phil memandangi kereta Alicia yang mulai melaju menjauh tanpa memikirkan apa pun lagi.
(Nah, sekarang rumor tentang [Pahlawan Bayangan BUKAN Phil Salemabart] pasti akan menyebar, dan Nona Privasi akhirnya akan kembali padaku. Perjalanan dinas yang panjang... Nona Privasi benar-benar sudah jadi orang penting sekarang.)
Jika Alicia, pihak yang ia tolong kali ini, menyangkal rumor itu, informasi tentang identitas asli [Pahlawan Bayangan] akan menjadi simpang siur. Kalau itu terjadi, meskipun tidak semua orang percaya, setidaknya para stalker penguntit yang nongkrong di depan rumahnya akan berkurang. Ini bukanlah tujuan utamanya, tapi Phil merasa sangat puas karena semuanya berjalan lancar.
"Kalau begitu, aku harus cepat-cepat menyiapkan mereka untuk diserahkan ke penjaga kota. Kahlua mungkin sedang menungguku dengan rajin dan menahan kantuk di rumah."
Phil meletakkan kedua tangannya di tanah. Kemudian, saat area sekitarnya perlahan menggelap, tangan Phil yang tenggelam perlahan meraih sesuatu.
"Sebelum mereka kedinginan di dalam, lebih baik kuikat saja mereka secara fisik."
Selama para bandit itu berada di dalam dunia ikatan ciptaan Phil, ia tidak bisa mengikat mereka secara fisik untuk diserahkan ke penjaga kota. Jadi, Phil menarik keluar semua bandit yang pingsan itu satu per satu dan mulai mengikat mereka dengan tali yang ia bawa.
Tepat saat itu───
"Oh, apakah pestanya sudah selesai~?"
Tuk. Tuk. Suara langkah hak sepatu bergema di malam yang sunyi. Di tengah lingkungan yang hanya diterangi cahaya bulan, Phil mendongak dan mendapati seorang gadis berjalan ke arahnya.
"Nona, berbahaya lho jalan sendirian di malam hari."
Phil berdiri, mengarahkan pandangannya pada gadis yang tiba-tiba muncul itu. Pakaian biarawati yang dihiasi ornamen emas memantulkan cahaya bulan. Rambut pirang platinum yang menjuntai keluar dari wimple-nya, serta wajah cantik nan menenangkan yang memikat mata.
Sekilas, ia tampak seperti wanita cantik yang salah tempat jika harus berkeliaran di area rawan bandit. Namun, palu perang (warhammer) berukuran ekstra besar yang dibawanya memancarkan aura 'Jangan main-main denganku' yang sangat kentara.
"Haha! Kalau begitu, maukah kau mengawalku pulang dengan baik? Berkencan sambil menikmati angin malam rasanya cukup romantis, bukan~!" "Kalau saja tidak ada tamu berbahaya yang sedang pingsan di sini, aku akan dengan senang hati menemanimu."
Phil tetap waspada. Tentu saja, ia tidak sebodoh itu untuk mengira seorang biarawati yang muncul di jam segini adalah gadis yang tersesat saat mencari angin malam. Palu perang yang jauh lebih berbahaya dari sekadar bandit itu adalah buktinya.
Dan───
(Pakaian biarawati itu... modelnya sama persis dengan milik Nona Milis, kan?)
Apa arti dari pakaian itu? Jawabannya seharusnya akan segera jelas. Namun, gadis yang baru muncul itu terus berjalan menuju Phil tanpa memedulikan hal-hal tersebut. Bukan, lebih tepatnya, ia berjalan menuju ke arah para bandit yang sedang pingsan.
"Hari ini pun kau membantu orang lagi ya, Pahlawan Bayangan-kun───bukan, Phil Salemabart-kun?" "Aku tidak kenal nama itu. Namaku Fee." "Haha! Anggap saja begitu! Lagipula, hari ini aku tidak butuh Pahlawan Bayangan-kun!"
Gadis yang dibalut pakaian biarawati itu tersenyum manis saat tiba di dekat Phil.
Dan───
"Ini dia♪"
Gadis itu mengayunkan palu perangnya secara horizontal ke arah deretan bandit yang masih pingsan.
"...Hah?"
Bukannya Phil tidak menyadari keberadaan palu perang itu. Jika ada yang mendekat dengan ceroboh, Phil pasti sudah waspada untuk memastikan ia tidak diserang. Namun, kewaspadaan itu hanya ia khususkan untuk melindungi dirinya sendiri.
Saat suara yang menyerupai buah segar hancur dilindas bergema, Phil tanpa sadar hanya bisa menatap takjub bercampur ngeri. Ayunan palu perang itu dengan sangat akurat menghancurkan kepala semua bandit yang terikat.
"Fyuuh... Hari ini pun, aku berhasil mengalahkan orang jahat dengan selamat! Pekerjaan Kakak sudah selesai~! Kalau aku pulang sekarang, pasti sudah ada air mandi hangat dan camilan manis yang menungguku~!"
Genangan merah bercampur putih dan gumpalan daging berserakan di depan gadis itu. Di tengah semua kengerian itu, sang gadis hanya menyeka keringat dari dahinya tanpa peduli sedikit pun pada darah yang tepercik ke wajahnya.
Ini sungguh pemandangan yang mengoyak akal sehat. Kenapa dia membunuh mereka? Jika Phil menyerahkan mereka ke penjaga kota, urusannya seharusnya selesai sampai di situ.
Tapi gadis ini memiliki logika yang berbeda.
"...... Apa?" "Ya ampun...!?"
"Menyelamatkan orang itu memang perbuatan baik, Pahlawan-kun. Tapi───"
Mata gadis itu, yang seharusnya terlihat jernih dan polos, kini menggelap, lalu ia tertawa dengan buas tepat di depan wajah Phil.
(Adegan beralih)
"Tahukah kau kalau menyelamatkan orang itu juga mencakup membunuh orang-orang jahat?"
Gadis itu pergi setelah melempar kalimat perpisahan "Ayo kita bertemu lagi kapan-kapan~", berjalan menjauh, dan meninggalkan Phil sendirian di jalanan yang diterangi sinar bulan.
Pemuda yang dikenal sebagai [Pahlawan Bayangan] itu dibiarkan terdiam di malam yang diterangi cahaya bulan. Bukannya ia tidak memikirkan apa-apa, dan bukannya ia takut melihat pemandangan mengerikan tadi.
"Membunuh atau tidak... itu hal yang normal, kan...? Ya ampun, aku benar-benar tidak paham jalan pikiran wanita."
Ia bingung hanya karena tindakan gadis itu sangat bertolak belakang dengan pemikirannya sendiri.
"Hei, Abi... Kalau itu kau, apa kau bisa memaafkan tindakan tadi? Soalnya, sepertinya jalan pikiran gadis itu dan diriku benar-benar berbeda."
Hanya itu yang ada di pikiran Phil saat ini.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments