Header Ads Widget

Side Story 10 - TAMAT

 

Cerita Sampingan 10 — Selesai

Aku hampir mati. Benar-benar hampir mati.

Seekor kadal raksasa—menurut anak-anakku, itu namanya salamander atau apa begitu—mengejar kami, dan kami bahkan menabrak babi hutan.

Bukan cuma itu. Pada satu titik, seekor burung yang namanya tak kutahu menyerang kereta, dan kami melewati sarang yang dipenuhi ular. Aku bahkan melihat sesuatu yang menyerupai tanaman merambat (sulur) bergerak dengan sendirinya. Saat melihatnya, rasanya jantungku mau berhenti.

Kadal raksasa, burung yang dengan keras kepala menyerang manusia dan kereta, serta monster bertanduk aneh itu, semuanya adalah makhluk hidup dalam satu dan lain bentuk. Tapi bagaimana mungkin ada sulur yang bisa bergerak sendiri?

Sepanjang hidupku, belum pernah aku mendengar hal semacam itu. Jujur saja, kalau aku satu-satunya yang melihatnya, aku pasti mengira itu cuma halusinasiku. Tapi nyatanya tidak. Anak-anakku juga melihat sulur yang menggeliat itu, dan mereka ketakutan setengah mati.

Entah makhluk apa itu sebenarnya, satu hal yang pasti. Benda itu memang eksis di dunia ini.

"Huu, aah. Huu, aah. Huu, aah."

Aku menarik dan membuang napas beberapa kali. Bagus. Aku sudah tenang sekarang. Dan saat aku mulai tenang, aku berpikir di dalam hati.

Inilah sebabnya mengapa hanya sedikit pedagang yang datang ke Wynwood.

Tapi jika dilihat dari sisi lain, justru itulah letak peluangnya. Karena ini adalah tempat yang sangat berbahaya.

Aku pertama kali mengetahui tentang Wynwood berkat sebuah produk yang tak sengaja kulihat saat berkelana di daerah perbatasan. Barang itu sangat unik. Sebuah mangkuk yang diberkahi perlindungan Santa, yang isinya tidak akan pernah tumpah. Harganya agak mahal, tapi sepertinya barang semacam itu akan sangat disukai oleh para kolektor barang aneh.

Pedagang keliling sudah lama menjadikan bisnis sampingan untuk menjual barang-barang seperti itu kepada para penghobi dan bangsawan. Penghobi dan bangsawan tidak meributkan harga. Mereka membayar dengan senang hati. Mereka adalah pelanggan yang baik.

Jadi, setelah bertanya-tanya, hasilnya sungguh mengejutkan. Barang itu berasal dari Barony Wynwood (Wilayah kekuasaan Baron Wynwood). Rupanya, Wynwood adalah kota yang dipimpin oleh sang Pahlawan (Hero).

Pedagang itu yakin barang ini akan laku keras. Bukan hanya unik, ini adalah barang dari kota sang Pahlawan. Kalau barang seperti ini tidak laku, berarti tidak ada barang di dunia ini yang bakal laku.

Setelah berkeliling dan menyelidiki lebih jauh, ia menemukan bahwa ada peluang yang lebih besar daripada sekadar mangkuk yang bertebaran di sana. Dalam penyelidikannya, ia tahu bahwa ada orang-orang yang rela membeli manisan buah Winwood tanpa menawar harga, dan manisan itu memiliki khasiat yang sangat istimewa.

Untuk saat ini, rumor tentang manisan itu baru beredar di daerah perbatasan, belum menyebar ke wilayah pusat. Mungkin karena Wynwood lebih terkenal sebagai kota Pahlawan ketimbang karena barang-barang hasil produksinya.

Pedagang dan anak-anaknya melihat celah ini dan mempertaruhkan segalanya dalam bisnis ini. Selama ini mereka hanya berdagang keliling di desa-desa perbatasan yang miskin, tapi jika kali ini berhasil, mereka pikir mereka akhirnya bisa kaya raya dan membuka toko yang layak di kota.

Itulah sebabnya mereka berangkat dengan tekad siap mati jika gagal.

Sang pedagang menarik napas dalam-dalam. Perjalanan ini benar-benar berbahaya. Tak peduli seberapa bagus peluangnya, tak peduli seberapa menggiurkan barang dagangannya, semuanya akan berakhir kalau kau mati. Pedagang itu memejamkan mata dan berterima kasih kepada Tuhan atas fakta bahwa ia masih hidup. Anak-anaknya yang ada di sisinya juga memanjatkan doa yang tulus kepada Tuhan.

Orang-orang mungkin mengira pedagang tidak punya iman, tapi nyatanya, merekalah yang paling rajin menyembah Tuhan dibanding siapa pun. Dunia ini penuh dengan terlalu banyak bahaya. Tanpa perlindungan Tuhan, seseorang bisa mati dalam sekejap.

Mungkin karena mereka berdoa begitu khusyuk untuk mengusir rasa takut, perasaannya jadi sedikit lebih lega. Entah apa yang akan terjadi saat mereka harus kembali nanti, tapi setidaknya untuk sekarang.

"Itu pasti Wynwood."

Mendengar kata-kata si pedagang, anak-anaknya membersihkan debu dari lutut mereka dan berdiri.

"Syukurlah kita sampai." "Kukira kita bakal mati sebelum sampai." "Tadi itu benar-benar hampir saja."

Kelima anak laki-lakinya menghela napas panjang. Sang pedagang ikut menghela napas bersama mereka. Tapi mereka tidak bisa terus-terusan seperti ini. Selagi matahari masih tinggi, mereka harus masuk ke kota dan mengamankan barang dagangan serta mitra bisnis.

Ini bukan kota besar, jadi mungkin mereka harus memberikan sedikit uang pelicin kepada sang penguasa wilayah (Lord). Meski ia seorang Pahlawan, belum tentu ia orang yang bersih dari suap.

"Ayo, kita masuk."

Mendengar instruksi sang pedagang, anak-anaknya menyahut.

"Baik, Ayah." "Semoga semuanya lancar." "Bagus banget kalau kita bisa dapat kontrak tetap."

Benar sekali. Karena mereka sudah mempertaruhkan nyawa untuk datang jauh-jauh ke sini, mereka harus mendapatkan hasil. Setelah semua anaknya naik ke kereta, ia memacu keledainya maju.

Saat mereka mendekati kota, pedagang itu tiba-tiba teringat pada seorang pria bertubuh besar yang pernah ia temui dulu sekali. Seorang pria yang ia temui di sebuah desa miskin, bepergian bersama istrinya yang rapuh dan seorang gadis kecil. Pria yang gaya bicaranya agak kaku itu juga memiliki rambut dan mata yang nyaris hitam pekat, seperti sang Pahlawan.

Pedagang itu menggelengkan kepalanya dan membuang jauh-jauh pikiran itu. Entah kenapa pria itu tiba-tiba terlintas di benaknya, tapi ini bukan saatnya memikirkan hal yang tidak berguna. Masa depan mereka bergantung pada hal ini.

Pedagang itu memacu keledainya dan bergegas menuju gerbang kota.

Juhwan sedang berpikir bahwa Dorothy seharusnya sudah akan pulang. Ia penasaran apa yang dimainkan putrinya hari ini, dan lalu, dari kejauhan, suara Dorothy terdengar nyaring. Anak itu memanggil Ayahnya.

Tadi katanya dia mau pergi mengalahkan monster dan menyelamatkan si sulur. Apa petualangannya sudah selesai?

Juhwan menatap ke kejauhan dengan senyuman, lalu wajahnya membeku.

Aneh sekali. Kelihatannya Dorothy sedang menunggangi seekor salamander raksasa.

Apa yang sebenarnya terjadi? Ia menatap sulur merambat yang menggeliat di dekatnya. Ia sudah memerintahkan sulur itu untuk selalu menjaga Dorothy agar tidak berada dalam bahaya.

Sulur itu sepertinya bisa membaca pikiran Juhwan. Ia memiringkan ujungnya ke satu sisi. Lalu, entah kenapa, sulur itu mulai menari. Apakah tarian ini adalah jawabannya? Apa ia mencoba bilang bahwa ia sudah melindunginya dengan baik?

Yah, melihat Dorothy menunggangi salamander dengan ekspresi begitu ceria, anak itu jelas tidak terlihat seperti habis berada dalam bahaya. Sulur dan Oz pasti sudah menjaga Dorothy dengan baik.

Tapi dari mana datangnya salamander itu?

Saat Juhwan berdiri di sana dengan wajah bengong, Dorothy semakin dekat. Dia sepertinya bersenang-senang. Wajahnya berseri-seri. Ketika Dorothy tiba tepat di depan Juhwan, dia tiba-tiba melompat ke udara.

"Wah!"

Tepat saat Juhwan terkejut, sulur itu menangkapnya. Sambil dililit sulur, Dorothy melayang ke arah Juhwan seperti pesawat kertas dan berteriak,

"Ayah! Aku nemu kadal raksasa. Yang ini namanya Kua. Soalnya dia nangis 'Kuaaa', jadi aku kasih nama Kua. Boleh pelihara dia, kan?"

Nangis Kuaaa? Kedengarannya itu bukan tangisan yang ramah. Sepertinya ia harus mendengarkan cerita petualangan Dorothy dari awal sampai akhir dan memastikannya dengan saksama.

Pipi sedang duduk santai di atas kepala salamander itu. Sesuai dugaan, ini sepertinya ibu Pipi, dan makhluk ini benar-benar seekor salamander. Apa dia mengikuti jejak Pipi sampai ke sini? Menilai dari pemandangan di depannya, makhluk itu sepertinya tidak berniat kembali ke sarang asalnya. Mungkinkah ia pernah dipelihara manusia sebelumnya? Ia terlihat terlalu tenang.

Rupanya, Lizzie, orang tuanya, dan Toby telah mendengar suara antusias Dorothy. Mereka semua keluar. Semuanya menatap salamander itu seolah membeku menjadi patung es.

"Dorothy... Aku sudah pernah memikirkan ini sebelumnya, tapi dia sepertinya sangat disukai oleh makhluk hidup. Terutama monster ajaib."

Mendengar perkataan ibunya, Juhwan setuju. Mungkin itu karena pengaruh kehidupan masa lalunya. Bagaimanapun, di kehidupan sebelumnya, Dorothy adalah monster dari seorang dewa jahat.

"Ayah, Ibu, Nenek, Kakek! Boleh ya aku pelihara? Dia ini anak-kadal-rakun-pengubah-wujud yang sangat, sangat, sangat luar biasa. Dia bahkan bisa menembakkan api."

Dorothy memohon lagi. Dia masih dililit sulur dan melayang di udara.

Lizzie, yang tadinya kaku, tertawa kecil. "Kurasa kita tidak bisa menolaknya. Dia kelihatan tenang."

Padahal salamander seharusnya bukan makhluk yang tenang. Tapi, karena situasinya sudah begini, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Saat semua orang dengan enggan memberikan izin, Dorothy melemparkan kedua lengannya ke udara.

"Horeee! Kua, kamu Bawahan Nomor Tiga! Hebat banget, pokoknya hebat!"

Tentu saja, Dorothy dan salamander itu kelihatannya tidak bisa berkomunikasi dengan kata-kata. Saat Dorothy bersorak gembira, salamander itu berbalik dan mulai bergerak menjauh dari rumah.

Tapi setelah berjalan sedikit, ia berhenti. Pipi telah turun dari tubuh ibunya dan berlari kencang ke arah Dorothy. Ah, jadi itu alasannya ia datang ke rumah mereka. Gara-gara Pipi. Karena dia tidak punya pilihan lain.

Dalam hatinya, Juhwan memberikan perintah kepada sulur dan Oz. Tolong berhati-hatilah agar tidak ada yang terluka karena salamander ini.

Sulur-sulur di dekatnya kompak menganggukkan ujung mereka sekaligus, seolah mengerti. Karena gerakan itu, Dorothy yang melayang di udara pun ikut mengangguk-angguk.

"Wahahahaha!" Tawa Dorothy mengudara.

Juhwan benar-benar berterima kasih kepada para sulur dan Oz. Berkat mereka, Dorothy selalu bisa menghabiskan hari-harinya dengan bahagia.

Sepertinya petualangan Pasukan Petualang Cilik belum berakhir. Sekarang mereka harus mencari tempat tinggal untuk si salamander.

Dibawa oleh sulur, Dorothy dipindahkan kembali ke punggung salamander. "Maju! Ayo kita cari rumah Kua!"

Mendengar seruan Dorothy, salamander, Oz, dan para sulur mulai bergerak. Saat Juhwan sekali lagi meminta dalam hati agar mereka memastikan tidak ada hal berbahaya yang menimpa Dorothy, Oz dan para sulur merespons hampir bersamaan. Oz menjawab dengan "Ppi!" dan para sulur menjawab dengan menganggukkan ujung mereka.

Kalau anak-anak itu yang menjaganya, semuanya akan baik-baik saja.

"Kalau begitu, kurasa aku harus ke guild," gumam Juhwan seraya berbalik.

Hari ini adalah jadwal mengantarkan kulit dari bengkel Lizzie ke guild. Kulit di kota mereka dibuat oleh pengrajin yang belajar dari yang terbaik. Mangkuk buatan para Santa, serta manisan buah dan sayur yang dibuat dari salju yang turun saat putra kecilnya menangis, memang barang berharga di desa mereka, tetapi kulit ini juga laku keras.

Di dunia ini, bulu dan kulit berkualitas tinggi sangatlah berharga. Saat ia tiba di bengkel, kulit-kulit itu sudah dikemas. Sambil Juhwan memanggulnya, para wanita masing-masing mengatakan sesuatu padanya.

"Terima kasih seperti biasa." "Anda tidak perlu melakukannya sendiri, Tuanku." "Kami bisa melakukannya." "Anda bahkan bisa menyuruh suami-suami kami melakukannya."

Para wanita itu selalu merasa segan, tetapi Juhwan melakukan ini karena ia menyukainya. Ini adalah alasan untuk pergi berkencan. Ketika Juhwan mengatakan hal itu, wajah Lizzie memerah padam. Istrinya masih sangat polos, bahkan setelah sekian lama.

Sementara para wanita di bengkel menggoda mereka, Juhwan berjalan bersisian dengan Lizzie. Di rumah besar maupun di desa, mereka jarang mendapat kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua saja. Kehidupan yang hangat dan ramai itu memang menyenangkan, tapi momen seperti ini, saat mereka bisa berjalan berdampingan atau bersantai berdua, juga sangat berharga.

Dalam perjalanan singkat dari kediaman sang Lord menuju desa, ketika tidak ada yang melihat, Lizzie akan menggandeng lengan Juhwan seperti anak manja, atau menunjukkan rasa malu-malu layaknya gadis muda. Lizzie kini lebih sering tampil sebagai sosok ibu dan ibu rumah tangga yang anggun, tapi di saat-saat seperti ini, dia sepenuhnya adalah wanita milik Juhwan.

"Banyak sekali yang berubah dalam waktu singkat sejak kita datang ke sini," gumam Lizzie tiba-tiba. Ia menatap Juhwan dan tersenyum cerah. "Aku benar-benar bahagia, Juhwan."

"Aku juga."

Segala hal yang sangat ia dambakan di Bumi ada di sini. Terkadang, ia begitu bahagia sampai merasa cemas, bertanya-tanya apakah ini benar-benar kenyataan.

Ketika Juhwan mengatakan itu, Lizzie menekuk jarinya, memberi isyarat agar ia merendahkan tubuh. Juhwan menuruti permintaannya dan merendahkan wajahnya. Lizzie mencium pipinya, lalu berjalan mendahului seolah sedang melarikan diri. Telinga dan bahkan lehernya sudah berubah merah padam.

Istrinya benar-benar menggemaskan. Juhwan tersenyum lembut sambil mengikuti Lizzie dari belakang.

Setibanya di desa, ia melihat sebuah kereta kuda asing yang terparkir di sana. Beberapa pria sedang berjalan mondar-mandir di sekitar kereta, menanyakan sesuatu kepada penduduk desa. Dilihat dari keretanya, mereka sepertinya adalah pedagang keliling. Kota mereka dulunya milik negara musuh, dan lokasinya sangat jauh dari pusat wilayah, jadi masih sedikit pedagang yang lalu-lalang.

Kalau ada pedagang yang datang dan mengambil barang-barang mereka, itu akan sangat menguntungkan. Tapi aneh. Ia merasa pernah melihat mereka sebelumnya di suatu tempat. Lizzie sepertinya memikirkan hal yang sama. Dia memiringkan kepalanya.

Pada saat itu, pria yang terlihat paling tua di antara para pedagang menoleh ke arah mereka. Matanya terbelalak.

Melihat wajahnya, Juhwan pun ingat. Dia adalah pedagang penipu yang pernah mengunjungi desa tempat pertama kali Juhwan bertemu Lizzie. Lizzie sepertinya ingat juga. Dia mengeluarkan suara "Ah" kecil.

"A-Anda...!"

Pedagang paruh baya itu berseru kencang, lalu berlari menghampiri dengan ekspresi sangat gembira.

"Pahlawan! Tuanku! Apakah Anda mengingat saya? Saya pedagang keliling yang dulu pernah mengunjungi desa yang dihancurkan goblin itu. Saya pernah membeli barang dari Anda, Pahlawan. Kalau tidak salah ingat, saya membayar Anda dengan sangat bermurah hati saat itu. Apakah Anda ingat?"

Sepertinya masa lalu pria ini dan Juhwan berada di dimensi paralel yang berbeda. Seingat Juhwan, orang ini dulu mencoba menipu mereka.

Lizzie memalingkan wajahnya dan tertawa kecil. Pedagang paruh baya itu juga tertawa "Ahaha" dan menundukkan kepalanya canggung. Rupanya, ingatan mereka tidak berasal dari dimensi paralel. Dia ingat dengan sangat jelas.

"Dulu saya mungkin menjalani hidup yang agak bodoh, tapi manusia bisa berubah, bukan? Akhir-akhir ini, saya adalah pedagang yang sangat murah hati dan adil."

Benar-benar urat malunya sudah putus. Juhwan tertawa tak percaya, dan si pedagang ikut tertawa bersamanya. Ya sudahlah. Saat ini, kota mereka butuh sebanyak mungkin pedagang keliling.

Namun—

"Jangan pernah berpikir untuk menipu siapa pun di sini."

Mendengar teguran Juhwan, pedagang paruh baya itu tersenyum lebar. "Tentu saja, Pahlawan! Saya tidak akan pernah melakukan hal seperti menipu!"

"Bagus. Kalau begitu pergilah ke guild. Kalau kau mendiskusikannya di sana, mereka akan merekomendasikan barang yang cocok atau menghubungkanmu dengan para produsen."

"Terima kasih, Pahlawan! Benar-benar terima kasih!"

Pedagang paruh baya itu membungkuk beberapa kali, lalu bergegas kembali menuju keretanya.

Ketika kepala desa melihat Juhwan, ia mendekat bersama beberapa pria. "Oh, Tuanku. Anda harusnya menyerahkan hal-hal seperti ini kepada kami."

Sambil berkata begitu, orang-orang itu mengambil kulit yang dibawa Juhwan. Tapi seperti yang sudah diduga—Mereka terhuyung.

Yang lain mungkin baik-baik saja, tapi lain ceritanya dengan kepala desa.

"B-berat."

Kepala desa ambruk ke tanah dengan suara berdebuk seperti katak yang tergencet.

"Anda tidak apa-apa?"

Ketika Juhwan mengangkat beban itu dengan satu tangan, kepala desa menatap kosong pada tangan Juhwan.

"Saya tidak apa-apa, Tuanku." Ia menghela napas pelan, lalu menyerahkan sebagian bebannya kepada orang lain. "Waktu masih muda, saya bisa membawa lebih dari sepuluh gulung ini."

Kepala desa menghela napas lagi dan lagi. Tidak, tidak mungkin. Bahkan Juhwan pun tidak bisa membawa sebanyak itu. Masalahnya bukan pada beratnya, tetapi pada ukurannya yang besar.

Sementara Juhwan dan Lizzie tertawa, orang-orang membawa kulit itu ke guild.

Karena urusannya sudah beres, Juhwan tidak punya kerjaan lagi. Berpikir mereka bisa jalan-jalan berdua di sekitar kota, ia melingkarkan tangannya dan menyodorkannya. Lizzie langsung menggandeng tangannya.

Jarang sekali dia melakukan hal semacam ini di tempat orang lain bisa melihat. Mungkin Lizzie juga menjadi sedikit lebih berani.

Saat keduanya berjalan bersisian, aroma bunga dan rumput tercium dari suatu tempat. Harumnya terasa sangat dekat, dan saat Juhwan bertanya-tanya dari mana asalnya, Lizzie tertawa kecil.

Kelopak-kelopak bunga berjatuhan dari langit. Juhwan mengangkat kepalanya dan melihat ke atas. Para sulur memetik kelopak bunga satu per satu dari tempat yang tinggi dan menaburkannya ke bawah. Mereka mengikuti jalan yang dilalui keduanya.

Karena perbedaan tinggi badan, Lizzie pasti sudah melihatnya lebih dulu saat menatap Juhwan.

"Apa yang mereka lakukan?" Lizzie bertanya, tapi Juhwan juga tidak tahu.

Terdengar suara benturan keras, dan saat ia menoleh, pedagang paruh baya itu tergeletak telentang di depan guild. Sepertinya ia pingsan setelah melihat sulur-sulur itu.

Ya ampun. Penduduk kota mereka mungkin sudah terbiasa dengan hal itu sekarang, tetapi bagi orang luar, pemandangan sulur-sulur merambat yang hidup pasti terlalu mengejutkan.

Juhwan dan Lizzie saling bertatapan lalu tertawa. Dari suatu tempat, suara riuh anak-anak terdengar.

"Ada kadal raksasa!" "Ada monster muncul!" "Pertarungan antara sulur dan kadal raksasa!" "Hajar!" "Kalahkan dia!"

Salah satu suara anak-anak itu adalah suara Dorothy. Sepertinya anak-anak itu sekarang sedang bermain dengan para sulur dan bahkan si salamander.

Seolah-olah berkata, "Astaga," sulur itu menggelengkan ujungnya dari sisi ke sisi. Walaupun itu juga kemungkinan salah satu sulur yang sedang bermain dengan anak-anak.

"Apa kita harus ke tempat anak-anak bermain?" Mungkin karena khawatir dengan salamandernya, Lizzie mengatakan ini dan mempercepat langkahnya.

Langkah Juhwan pun ikut sedikit lebih cepat. Sepanjang perjalanan menuju tempat anak-anak, para sulur membentuk ibu jari acungan jempol dengan ujung-ujungnya, seolah menyuruh Juhwan untuk memercayai mereka.

Ia memang percaya pada mereka, tapi tetap saja.

Juhwan tertawa lembut. Berduaan saja itu menyenangkan. Bertiga itu menyenangkan. Berlima atau berenam juga menyenangkan.

Kota mereka dan rumah mereka, yang selalu ramai dan sibuk, membuatnya merasa begitu bahagia. Saat Juhwan mengedarkan pandangan ke sekeliling kotanya yang masih sederhana ini, dari lubuk hatinya ia berharap hari-hari seperti ini akan terus berlanjut selamanya.


Previous Chapter | LIST

Post a Comment

0 Comments