Header Ads Widget

Chapter 9 - Matatabi Rui

 


Matatabi Rui

(Catatan Terjemahan: Matatabi = Catnip / Tanaman kesukaan kucing)

"Ugh…! Kenapa juga aku melakukan ini…?!"

Utsurugi Rui saat ini benar-benar terpojok. Di kamar asramanya yang terletak di lantai atas Cabang Kesepuluh Prim-Libra, ia berdiri di hadapan cermin besar yang jarang sekali ia gunakan. Ia membandingkan pakaian kasual andalannya (kombinasi hoodie dan celana pendek di tangan kanannya) dengan setelan pakaian modis yang tertutup (pakaian yang hampir tidak pernah ia pakai) di tangan kirinya.

—Ini semua salah pria itu…!

Semuanya bermula beberapa hari yang lalu, tepat setelah acara "Open House Cabang Kesepuluh" yang penuh kekacauan itu selesai.

["Apakah kamu ada waktu luang akhir pekan ini?"]

Pertanyaan itu meluncur tiba-tiba dari panggilan telepon, dan niat awal Rui adalah menolaknya dengan tegas.

"Kenapa tidak?"

Namun, entah kenapa, mulutnya berkhianat dan memberikan jawaban yang berbeda. Tepat setelah mengatakannya, alis Rui berkedut kesal.

Ini membuatku terdengar seperti wanita gampangan yang langsung setuju hanya karena alasan sepele!

Sepanjang hidupnya, ia selalu menjaga jarak dari orang lain (kecuali Hinata). Ia tidak bermaksud menjadi serigala penyendiri—ia hanya tidak suka dengan keakraban yang basa-basi (kecuali dengan Hinata). Begitulah dirinya. Ia bukan tipe wanita yang akan dengan santainya pergi berdua dengan pria yang baru dikenalnya sebulan yang lalu!

Apapun balasan pria itu, ia sudah bertekad untuk menolaknya mentah-mentah, tetapi—

["Aku ingin mendengar cerita tentang Hinata-chan semasa kalian di sekolah pelatihan dulu."]

"Aku ikut."

Dan begitulah, Rui mendapati dirinya setuju untuk pergi keluar bersama mantan musuh bebuyutannya—Ibuki Ibusuki.

—Pria itu…! Benar-benar jebakan yang sempurna!

Dalam hati, ia takjub dengan keahlian Ibuki menggunakan Hinata sebagai umpan untuk memancingnya keluar.

Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, hari Jumat—atau lebih tepatnya, hari "sesi curhat sesama penggemar berat"—telah tiba.

"Kenapa aku harus… kebingungan begini…?!"

Hingga pagi ini, ia berencana untuk pergi dengan mengenakan hoodie abu-abu andalannya, celana pendek, dan sepatu kets—gaya santainya yang biasa. Namun, setelah pulang sekolah dan berpatroli di jalanan, mata Rui tertuju pada kerumunan pria dan wanita yang berpakaian rapi dan modis.

Tentu saja. Sakuramura adalah penerus Shinjuku, sang mantan sub-metropolis. Di tempat seperti ini, hampir tidak ada orang yang berani tampil berantakan.

Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu—saat ia terus memperhatikan mereka, perasaan Rui semakin tidak tenang.

—Apa... apa yang harus aku pakai besok...?

Perasaan yang belum pernah ia alami seumur hidupnya kini bergejolak di dalam dada gadis berusia lima belas tahun ini. Begitu sampai di rumah, ia membuka lemarinya lebar-lebar—hanya untuk disambut oleh deretan pakaian yang tergantung rapi.

Meskipun ia sendiri tidak peduli dengan mode, Rui memiliki jumlah pakaian yang luar biasa banyak. Ini semua berkat sahabatnya yang gila mode, Hinata, yang sering memperlakukannya seperti boneka dandan. Sayangnya, hampir semua pakaian itu hanya pernah ia pakai sekali. Ia sama sekali tidak paham tentang tren atau cara memadupadankan pakaian.

Setelah lebih dari tiga jam menimbang-nimbang, ia akhirnya memutuskan sebuah kombinasi pakaian—sebuah blus, rok panjang, jaket tailor tipis, dan sepatu bot bertali—yang memberikan kesan anggun dan dewasa.

Merasa ngeri membayangkan dirinya memakai sesuatu yang sangat jauh dari gaya aslinya, Rui langsung mundur kembali ke zona nyamannya...

Lalu, setelah beberapa saat, ia mengumpulkan sedikit keberanian untuk mencobanya lagi. Hanya untuk kembali kehilangan nyali. Siklus ini berulang selama lebih dari satu jam.

"Ugh! Terserah! Aku pergi pakai baju biasaku saja!"

Dan begitulah, gadis cantik kebanggaan Cabang Kesepuluh itu meledak dalam frustrasi.

"Maaf… aku datang terlalu mepet…!"

Berdiri di hadapan Ibuki adalah sosok wanita yang sangat cantik, begitu berbeda dari gadis yang biasanya ia kenal sampai-sampai Ibuki mengerjapkan mata kebingungan.

Rambutnya jelas masih berwarna biru langit khas Rui, tetapi kini dibiarkan tergerai hingga ke pinggang, dikepang, dan disampirkan di bahu kanannya. Blusnya dihiasi ornamen halus, dipadukan dengan rok panjang berbahan kokoh serta jaket tipis yang disampirkan di bahunya. Bahkan sepatu bot bertalinya, yang mencapai pergelangan kaki, berpadu dengan sangat sempurna.

Namun yang paling menonjol, kecantikannya semakin dipertegas oleh kacamata berbingkai perak, memberikannya aura cerdas yang jauh melampaui sosoknya yang biasa.

"……Eh… Rui… san?"

Ia terlihat begitu dewasa sampai-sampai Ibuki secara refleks menambahkan sapaan hormat "-san".

"Ada apa?"

"Kamu… benar-benar berdandan hari ini."

Rui berpura-pura tidak peduli dengan komentar Ibuki yang terpukau.

"……Ini cuma kamuflase supaya membaur dengan keramaian."

"O-Oh. Pakaian itu… sangat cocok untukmu."

"Terima kasih."

Ia menjawab dengan santai sambil menyilangkan tangan di belakang punggungnya—seolah sengaja memamerkan pakaiannya.

"Eh… jadi, apakah ini baju baru? Aku belum pernah melihatmu memakai pakaian seperti ini sebelumnya."

"Bukan, aku sudah punya ini sejak lama. Biasanya aku berpakaian sembarangan, tapi hari ini aku membongkar lemari untuk mencari kamuflase."

"Kamu sampai repot-repot begitu… terima kasih ya."

"Ini untuk kamuflase."

"Dedikasimu untuk berkamuflase benar-benar mengesankan…"

Yah, mengingat ke mana kita akan pergi hari ini, itu masuk akal juga, pikir Ibuki sambil mengangguk pada dirinya sendiri.

"Baiklah, ayo masuk—ke kebun binatang."

Berbicara tentang Hinata bukanlah masalah sama sekali. Masalah sebenarnya adalah lokasinya. Terakhir kali, tepat setelah open house, mereka bertemu di Harajuku. Logikanya—yang merupakan ide brilian Ibuki—adalah mereka akan membaur di tengah keramaian dan tidak akan menarik perhatian.

Kali ini, konsepnya masih sama. Yaitu— "Jika kita pergi ke tempat yang terlihat seperti tempat kencan, tidak akan ada yang curiga kalau kita hanyalah dua otaku yang sedang mendiskusikan keadilan dan kejahatan."

Ketika Rui mendengar ide ini, ia sempat berpikir: Pria ini... mungkin benar-benar seorang jenius.

……Tentu saja, orang-orang mungkin tidak akan mengira mereka berasal dari faksi yang berlawanan—tetapi bukankah orang-orang justru akan mengira mereka adalah pasangan yang sedang berkencan?!

Butuh waktu satu minggu penuh setelah "kencan" di kebun binatang ini bagi Rui untuk menyadari hal itu. Yang berarti, untuk saat ini, Utsurugi Rui masih sama sekali tidak sadar bagaimana pandangan orang lain terhadap mereka.

"Wah… lihat pasangan itu." "C-Cantik saja tidak cukup untuk mendeskripsikannya…" "Wajah mereka… terlalu menawan……"

Sama seperti di Harajuku, Rui bahkan merasa tatapan orang-orang kepadanya lebih sedikit dari biasanya—membuatnya berada dalam suasana hati yang anehnya cukup baik (tanpa menyadari bahwa perhatian orang-orang sebenarnya terbagi rata kepada mereka berdua).

Namun, perasaan ringan itu hanya bertahan sampai mereka memasuki area kebun binatang.

"…………" "…………"

Ibuki dan Rui berdiri membeku di depan kandang burung. Ibuki memasang ekspresi canggung, sementara Rui terlihat sangat putus asa.

"KAAAK! KAAAK!"

Kawat jaring itu sepenuhnya ditutupi oleh burung—benar-benar membentuk dinding burung. Dan fokus mereka bukanlah pada Ibuki. Melainkan pada Rui.

Alasannya? Itu adalah efek samping dari Umbra miliknya.

Efek dari [Charm] tidak pernah hanya terbatas pada manusia saja. (Kalau dipikir-pikir, buku panduan resmi [Watayume] memang menyebutkan: "Sebagai ganti memanipulasi benda anorganik, dia sangat dicintai oleh semua makhluk hidup.")

Pandangan Ibuki menerawang jauh saat ia mengingat kembali memori dari kehidupan masa lalunya. Ia juga teringat bagaimana sekitar sebulan yang lalu, saat ia pergi ke festival seabad bersama Hinata, gadis itu pernah mengeluh: "Rui-chan sangat populer di kalangan hewan sampai-sampai hewan-hewan itu tidak pernah memperhatikanku..."

(Kasihan sekali Hinata-chan...)

Pemandangan di hadapan mereka sekarang ibarat melempar daging steak Wagyu A5 premium ke dalam kandang raptor yang kelaparan. Tontonan ini—yang mengingatkan pada film horor klasik tertentu—memperjelas seperti apa hubungan Rui dengan hewan pada umumnya.

Pasti Hinata selalu dibiarkan berdiri di samping Rui, menatap dengan penuh kerinduan pada makhluk-makhluk yang justru memuja sahabatnya itu. ……Dan ya, ia memaksudkannya dalam arti yang sangat harfiah. (Bukan sekadar metafora aneh tentang nafsu makan.)

Ngomong-ngomong, burung yang dimaksud adalah burung jalak.

"CANTIK! CANTIK!" "JELITA! JELITA!"

Burung seharusnya tidak mengerti bahasa manusia…… Mungkin.

"J-Jadi begini jadinya, ya…? Haha…"

Sadar betul seberapa besar kebencian Rui terhadap efek samping Umbra-nya, Ibuki merespons dengan reaksi netral yang hati-hati—tidak terlalu positif, tidak juga negatif.

" ………… "

Wajah sempurna Rui berkerut membentuk cemberut tidak senang. Entah bagaimana, ia masih saja terlihat cantik—sesuatu yang sangat mengesankan jika dipikir-pikir.

"……Ayo kita ke tempat lain."

"……Ya."

Dengan putaran cepat, Rui melangkah menjauh dari kandang itu, meninggalkan Ibuki yang harus bergegas menyusulnya.

"TUNGGU! CANTIK!" "Mereka benar-benar tidak paham situasi, ya…?"

—Andai saja penderitaannya berhenti sampai di situ.

"UUK! AAK!" "…………" "…………"

Saat melewati pameran gorila, mereka disambut dengan tabuhan dada dan panggilan kawin yang menembus kaca pelindung.

"GROAAR!" "…………" "………… beruang kutub itu…"

Di dekat kandang beruang kutub, seekor beruang berenang mendekati tepi, mengangkat kepalanya seolah mencoba menempelkan moncongnya ke pembatas.

"PHWOOORT!" "…………" "…………"

Di pameran gajah, sebuah belalai terjulur ke arah mereka—memaksa Rui menghindar dengan ketangkasan layaknya seorang Excia, dan mereka berdua pun lari terbirit-birit.

"Hah… hah…! Taman hiburan mimpi buruk macam apa kebun binatang ini?!"

"……Maaf."

"Hah?"

Saat Ibuki berlutut untuk mengatur napas, ia melirik ke samping—tempat Rui berdiri dengan canggung, satu lengannya menyilang, memasang ekspresi bersalah.

"B-Bukan, bukan!"

Ibuki buru-buru berdiri, menggelengkan kepalanya dengan panik.

"Sejujurnya—ini benar-benar menyenangkan, lho!"

"……Apa?"

Rui memiringkan kepalanya mendengar respons tak terduga itu.

"Menyenangkan?"

"Iya. Aku belum pernah ke kebun binatang yang seperti ini sebelumnya."

"……Begitu ya."

Untuk sesaat, Rui tampak terkejut—lalu diam-diam mengangguk, memberikan senyuman kecil yang kaku.

"Waktu SD dulu… saat karyawisata ke kebun binatang…" "Iya… Oh." "Mhm……"

Ibuki tidak perlu menunggu Rui menyelesaikan kalimatnya. Sudah pasti, kengerian yang terjadi dari jarak dekat itu telah membuat anak-anak malang tersebut trauma seumur hidup…

"Tapi, yah…"

Mata biru safir gadis itu menatap lurus ke arahnya.

"Ini… mungkin tidak seburuk itu."

Gadis itu tersenyum lembut.

"……!"

Sesaat, Ibuki terpana—hingga tatapannya yang mengembara tertuju pada sebuah papan tanda di dekat mereka. Ibuki menunjuk ke arah tanda itu.

"Hei, mau ke sana sebentar?"

"…… "

Rui kini duduk dengan lutut terlipat rapi di atas karpet yang empuk. Dan di sekelilingnya,

"Meong, meong!" "Meong~" "Meong!"

Kucing, kucing, dan kucing dalam jumlah yang luar biasa banyak. Tempat yang ditemukan Ibuki sebelumnya adalah tempat yang disebut ruang interaksi.

Meskipun dilabeli sebagai ruang interaksi, melihat tempat ini juga menjual minuman, pada dasarnya tempat ini tidak jauh berbeda dari kafe kucing. Di tengah-tengah ruangan itu,

"………… "

Kucing-kucing berkumpul mengelilingi gadis cantik itu layaknya mereka tertarik pada catnip. Ibuki berdiri di dekatnya dengan senyum masam memperhatikan pemandangan ini.

Awalnya, ia sedikit panik karena hampir semua kucing di kafe itu mengerumuni Rui, tetapi saat melihat sekeliling, ia sadar bahwa hampir semua pelanggan juga terpesona oleh sang tokoh utama dari "gunung kucing" tersebut, sehingga ia mengabaikan kekhawatirannya.

"Aku benar-benar tidak menyangka akan jadi begini……"

Di pangkuannya, di kedua bahunya, punggungnya, bahkan di tangannya yang diletakkan di lantai, kucing-kucing datang untuk menggesekkan tubuh mereka ke seluruh tubuh Rui.

Sedangkan sang pahlawan wanita catnip itu sendiri,

"──── "

Ia benar-benar membeku. Sepanjang kunjungan mereka ke kebun binatang, Ibuki menyadari bahwa Rui tampaknya tidak terlalu menyukai hewan. Namun, di kafe kucing ini, Ibuki mendapat sebuah ide cemerlang.

"Bukankah kucing ini mirip dengan Hinata-chan?"

Hanya satu bisikan di telinga Rui, itu saja sudah cukup. Reaksinya sangat dramatis. Mata Rui langsung tertuju pada satu kucing berbulu cokelat yang duduk di pangkuannya.

(Hehehe, aku sudah menduga dia pasti akan teringat pada Hinata-chan saat melihat bulu cokelat ini. Karena kita sedang di kebun binatang, aku ingin Rui bersenang-senang juga!)

Ibuki tersenyum puas. Tiba-tiba, sebuah bayangan mendekati kakinya.

"……Hm?"

Melihat ke bawah, ada seekor kucing Ragdoll berbulu putih dengan mata biru tepat di kaki Ibuki. Kucing itu menatap ke arah Ibuki. Saat Ibuki berjongkok untuk membelainya, kucing itu mendengkur dan menggosokkan kepalanya ke tangan Ibuki.

"Kamu lucu sekali…!"

Pada saat ini, ada sepasang mata lain yang mengawasi pemuda yang mulai asyik mengelus kucing tersebut.

"………… "

Itu adalah Rui. Ia telah sepenuhnya lumpuh oleh bisikan iblis yang ditinggalkan Ibuki sebelumnya. Karena,

(Aku tidak bisa menyingkirkan kucing yang mirip Hina ini…!)

Seperti yang diharapkan dari seorang yang mengaku otaku, kucing itu memang mirip Hinata seperti yang dikatakan Ibuki. Di sinilah untuk pertama kalinya, Rui belajar metode untuk mengatasi ketidaksukaannya pada hewan dengan membandingkan mereka dengan manusia.

Tentu saja, ia belum sepenuhnya mengatasi hal itu, tetapi situasi tak terduga sedang terjadi pada Ibuki juga. Kucing Ragdoll yang mendapat kasih sayang dari Ibuki tepat di depan mata Rui itu.

(…………Entah kenapa, bukankah—bukankah itu mirip denganku…!?)

Ya. Bulu putihnya mengingatkan Rui pada pakaian kasual yang biasa ia pakai atau seragam pasukannya, dan mata biru itu hampir sama warnanya dengan matanya.

Kucing yang seperti itu sedang,

"Lucu sekali~"

Dibelai oleh Ibuki. Saat Rui menyadari hal ini.

"~!!"

Wajah Rui memerah padam seperti gurita rebus. Namun dengan pangkuannya yang dikuasai oleh kucing mirip Hinata, Rui tidak bisa memalingkan wajahnya dari pemandangan di depannya.

"Nah, nah~"

Melihat dagu kucing Ragdoll itu dibelai, Rui hanya bisa menghadapi langsung perasaan aneh yang merayap di tulang belakangnya.

"Ah… uh…, ~~~~"

Tanpa pilihan lain, ia menutup matanya erat-erat. Selama beberapa menit setelah itu, suara orang mengelus kucing terus mencapai telinganya. Dalam pandangannya yang tertutup kegelapan, Rui terus mendengar suara-suara itu sambil mati-matian berusaha menepis fantasi tentang apa yang sedang terjadi di depannya.

Setelah itu, Ibuki, yang raut wajahnya sudah membaik, dan Rui, yang kelelahan, benar-benar menikmati (?) kebun binatang tersebut.

Baru beberapa hari kemudian Rui dan Ibuki menyadari bahwa mereka sama sekali tidak membicarakan Hina (Hinata-chan)!

Kata Penutup

Terakhir kali, aku memenuhi kata penutup dengan ucapan terima kasih dan berpikir: "Wah, menulis kata penutup ternyata cukup mudah."

Kesimpulannya, kali ini aku malah kesulitan mencari topik untuk ditulis sejak awal, bahkan bingung harus mulai dari mana (keringat dingin). Aku sudah menulis semua yang ingin kukatakan di cerita utama, dan rasanya aneh jika membahas cerita ini dari luar. Tapi di sisi lain, tidak ada hal menarik dari kehidupan pribadiku untuk dibahas. …Tunggu? Jangan-jangan aku memang tidak punya bahan tulisan sama sekali?

Jadi, mari kita beralih ke ucapan terima kasih.

Tiba-tiba, banyak hal yang ingin kutulis bermunculan. Ada apa ini?

Pertama-tama, terima kasih kepada semua pembaca. Setelah perilisan volume satu, aku melihat banyak laporan pembelian dan... postingan kesan-kesan pembaca. Beberapa di antaranya cukup panjang. Sebagai penulis, aku rasa aku paham seberapa besar energi yang dibutuhkan untuk menulis sesuatu. Aku sangat senang karena bisa menyampaikan "semangat" itu kepada seseorang. Tentu saja, ini termasuk kalian, yang sedang membaca kata-kata ini sekarang. Ini adalah volume dua, jadi aku rasa mereka yang menganggap volume satu menarik telah meluangkan waktu untuk membacanya. Aku merasakan kebahagiaan yang sama mengetahui kalian menikmatinya.

Menyimpang sedikit ke urusan pribadi, aku ingin berterima kasih kepada kenalan-kenalanku yang unik. Kepada seseorang yang menggila dan membeli tiga eksemplar lalu kebingungan sendiri (aku terkesan kamu membelinya dengan benar di Toko Buku TO dan bahkan mengoleksi Cerita Pendek bonusnya), kepada orang-orang di seluruh negeri yang mengirim foto toko buku dan membeli buku dalam jumlah banyak, kepada mereka yang belum pernah membaca light novel sebelumnya tapi membeli dan selesai membacanya... Tanpa bermaksud bercanda, aku membungkuk penuh rasa syukur.

Terima kasih yang sebesar-besarnya juga kepada Shin'ishi-sensei, yang terus bertanggung jawab atas ilustrasi sejak volume sebelumnya. Tak perlu dikatakan lagi, desain dua karakter baru ini sangat luar biasa, dan sepanjang cerita utama, aku terus mendeskripsikan Rui sebagai sosok yang cantik, tetapi berkat ilustrasi indah sensei, aku rasa kita berhasil menyampaikan kata-kata tersebut tanpa kebohongan. Lagipula, di volume ini, pakaian Rui berbeda di keempat ilustrasi sisipan! Aku gemetar melihat kemewahan seperti itu! Meskipun begitu, ilustrasi favorit penulis adalah Hinata yang sedang mengamuk (lol).

Dan kepada editorku yang selalu menjagaku. Karena kita telah mendiskusikan buku ini sejak tahap awal, terima kasih karena telah mengulurkan tangan kepada penulis ini yang kepalanya sudah pusing memikirkan plot bab dua. Aku benar-benar bahagia karena berkatmu, kita bisa merilisnya ke dunia dalam bentuk "volume dua".

Jadi, itu saja. …Aku baru sadar pada akhirnya aku menyentuh topik cerita dan masalah pribadi di dalam ucapan terima kasih ini. Terima kasih telah bersabar dengan kesimpulanku yang tidak jelas ini.

Salam, Tokioka.

Cerita Pendek Bonus: Perjuangan Seorang Multi-Oshi

Saat aku berusia sepuluh tahun—kurang dari setahun setelah aku mendapatkan teman pertamaku—aku menghabiskan sebagian besar sore hariku di rumah Hina. Aku berharap bisa mengundangnya ke rumahku sesekali, tapi… yah, keadaan keluarga membuat hal itu sulit dilakukan.

Kami tidak hanya bermain gim atau membaca manga. Tidak, yang kami lakukan adalah melatih kemampuan Lux kami.

Aku akan melemparkan barang-barang di sekitar ruangan sementara Hina melatih akselerasinya. Tentu saja, kami akhirnya merusak beberapa barang—menabrak dinding, membuat benda-benda beterbangan—sampai ibu Hina yang jengkel akhirnya membuatkan ruangan kedap suara dan tahan guncangan untuk kami.

Kami merasa bersalah, tapi kami jelas memanfaatkan fasilitas itu sepenuhnya. Jika kami ingin masuk ke Sekolah Pelatihan, kami harus bekerja keras. Dan sejujurnya? Tujuan bersama itulah yang mungkin membuat kami menjadi akrab dengan begitu cepat.

Bagiku, ini tentang membuktikan diri. Bagi Hina, ini tentang mewujudkan mimpi. Motivasi yang berbeda, namun di jalan yang sama. Kawan seperjuangan.

Jadi sementara anak-anak SD pada umumnya sibuk bermain, hari-hari kami diisi dengan latihan, latihan, dan lebih banyak latihan.

Itulah sebabnya aku mengingat bahkan hal-hal sekecil apa pun—seperti momen langka saat kami hampir berpapasan dengan anak laki-laki tetangga sebelah. Bukannya kami tidak pernah beristirahat. Di saat-saat langka kami mengambil jeda, Hina yang selalu memilih tempat tujuan kami. Dan pilihannya selalu sama.

"Rui-chan, ayo kita pergi karaoke sepulang sekolah!"

Aku memalingkan wajah. "Tapi… aku tidak punya uang."

"Fufufu~ Lihat ini!"

Dengan seringai penuh kemenangan, Hina mengeluarkan sebuah amplop dan melambaikannya di depan wajahku.

"Ibu memberiku uang saku! Kamu membantu membersihkan rumah kita terakhir kali, ingat? Rak-rak, bagian atas pintu, bahkan di belakang jam—"

"Itu cuma bagian dari latihan Lux-ku."

"Tapi itu membantu kami! Jadi Ibu bilang, 'Pergilah bersenang-senang dengan uang ini!'"

"Tetap saja…"

"Lagipula—"

Ia mencondongkan tubuhnya, suaranya terdengar manis dan membujuk. "Aku benar-benar ingin mendengar kamu bernyanyi, Rui-chan~"

"—Ayo pergi."

◇◇◇◇◇

"Kita dulu sering pergi karaoke seperti itu." "Apakah bagian 'membujukmu' itu benar-benar perlu diceritakan?"

Kami sedang duduk di sebuah meja tersembunyi di dalam kafe. Saat Rui bernostalgia sambil melipat tangan, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyela.

"Kamu luluh hanya dengan satu kalimat." "Hah? Kalau Hina memintamu seperti itu, kamu juga pasti akan bilang iya, kan?" "Iya sih, tapi—" "Kamu menjijikkan." "Mau pinjam cermin?" "Cermin itu cuma akan memantulkan wanita yang cantik." "Wah. Kepercayaan diri yang luar biasa..."

Rui meringis mendengar kata "cantik", tapi—yah, itu memang kenyataannya.

Meskipun begitu, wanita di 'cermin' itu terlihat sedikit berbeda hari ini. Biasanya, sebagai seorang Excia, ia berpakaian putih, yang merupakan warna khasnya.

Namun hari ini? Jaket kulit hitam. Celana pendek denim. Sepatu bot hitam. Gaya tomboi, disempurnakan dengan headphone yang dikalungkan di lehernya.

"…Kamu dari tadi terus-terusan menatapku."

Aku tersadar dari lamunanku dan mendapati Rui menyilangkan kakinya dan memberiku tatapan dingin.

"Apakah kamu suka gaya seperti ini?"

Ia memiringkan kepalanya, salah satu tangannya menarik-narik jaketnya.

"B-Bukan, bukan begitu—!"

Aku melambaikan tanganku dengan panik—tapi di dalam hati? ────Tentu saja aku suka??????

Maksudku, ayolah. Dia juga salah satu Oshi-ku, oke? Sekalipun secara teknis dia adalah musuhku sekarang. Ini bukan sekadar "aura yang berbeda"—ini adalah konten yang belum pernah tayang! Dia tidak pernah berpakaian seperti ini di Watayume! Dulu pernah ada satu ilustrasi bonus toko buku di mana ia terlihat tomboi, tapi ya cuma itu!

Aku datang dua jam lebih awal ke tempat pertemuan kami, tapi ia sudah ada di sana—dan saat aku melihat pakaiannya, jantungku benar-benar berhenti berdetak. Jika aku tidak dikejutkan hingga sadar kembali, aku pasti sudah terkubur enam kaki di bawah tanah sekarang.

Hingga insiden Tur Cabang itu, aku terus mengunci jiwa otaku-ku dalam-dalam karena… yah, alasan yang rumit. Tapi aku selalu menjadikan Rui sebagai Oshi-ku juga.

Yang mana membawaku pada dilemaku saat ini. Setelah pertarungan Tur Cabang, demi mendapatkan kepercayaannya, aku meneriakkan cintaku pada Hinata-chan di depan semua orang.

Jadi, eh. Kalau aku mengaku bahwa aku juga menyukai Rui, apakah ia akan membunuhku?

Tidak semua otaku itu sama. Ekosistem fandom itu sama beragamnya dengan Kepulauan Ogasawara—hanya saja alih-alih harmoni, kami diwarnai konflik internal. Dan konflik antara aku dan Rui? Ini adalah kasus klasik yang dibahas di setiap "Buku Teks Biologi Otaku": ──Solo-Oshi melawan Multi-Oshi.

Dalam skenario ini: – Solo-Oshi: Rui, seorang penganut supremasi Hinata-chan. – Multi-Oshi: Aku, seorang Otaku garis keras Watayume.

Keduanya sama-sama otaku, kan? Jika kamu berpikir "Itu terlalu berlebihan," cobalah ketik "multi oshi" di perambanmu. Di antara saran pencarian teratas, kamu biasanya akan melihat tulisan "kebencian multi oshi". Itu benar-benar menakutkan.

Yah, aku mengerti apa yang coba mereka sampaikan. Aku paham perasaan tidak ingin seseorang yang menggoda berbagai minat (atau yang terlihat seperti itu) memperlakukan Oshi-mu dengan sebelah mata.

Karena aku, yang tadinya murni hanya menjadi otaku untuk [Watayume] di antara sekian banyak manga yang ada, juga bisa disebut sebagai otaku solo-oshi [Watayume]. Aku tidak ingin seseorang yang memuji manga lain ikut berbicara tentang betapa hebatnya [Watayume], oke. …Ah, itu bohong, aku pasti senang jika manganya dipuji. Aku bakal benar-benar antusias.

Namun, berbeda denganku, bagaimana dengan Rui yang merupakan penggemar fanatik Hina (seorang otaku yang antusias dengan daya tembak tinggi)? Ia hampir pasti akan dengan dinginnya (secara harfiah) menampiknya dengan: "Multi oshi? Orang seperti itu pantas mati ribuan kali." Rekonsiliasi adalah hal yang mustahil.

Setelah berbicara panjang lebar, situasiku saat ini pada dasarnya adalah "berada tepat di samping Oshi-ku yang sulit dijangkau sambil berusaha keras agar ia tidak sadar kalau aku adalah penggemarnya."

"…………Ini mustahil!" "Apa?" "Bukan apa-apa……"

Rui menatapku dengan curiga. Lalu ia mengulurkan tangannya, menyesap teh yang ada di meja, dan bertanya kepadaku.

"Jadi, apa ini sudah cukup untuk 'kisah masa lalu Hinata-chan'?"

"—Ah, ini sudah lebih dari cukup."

Sebelumnya aku sudah berjanji untuk pergi ke kebun binatang dan mendengar cerita masa lalu Hinata-chan, tapi itu… banyak hal terjadi dan rencana itu tidak berjalan mulus. Berakhir dengan kami yang hanya mendapat kenangan tentang taman hiburan hewan. Rui tampaknya merasa murung, mengira itu adalah kesalahannya. Bahwa efek samping Umbra-nya telah menghambatnya lagi.

Aku sudah menyangkalnya berkali-kali (maksudku, kalau dipikir-pikir dengan tenang pergi ke kebun binatang bareng Oshi-ku... apaan coba???) tetapi ekspresinya tak kunjung cerah, jadi kami mengatur pertemuan hari ini untuk mengobrol lagi.

Sama seperti sebelumnya dan kali ini, antusiasme Rui untuk berdandan masih menjadi misteri, tetapi suasana hatinya sepertinya tidak buruk sama sekali, jadi aku menganggap itu sebagai pertanda baik.

"Tapi kamu dulu sering berlatih di rumah Hinata-chan. Aneh ya kita tidak pernah bertemu, kan?"

"……….."

"Rui?"

"Hm? ……Iya, benar juga."

Entah kenapa, Rui menatap wajahku lekat-lekat.

◇◇◇◇◇

Suatu hari, dalam perjalananku pulang dari SD, saat berjalan di dekat rumah Hina.

"—Ah" Ia tiba-tiba berhenti dengan suara pelan.

Mengikuti arah pandangannya, seorang anak laki-laki berseragam sedang keluar dari rumah di sebelah keluarga Soehi. Kemudian disusul, seorang gadis berambut hitam yang juga berseragam.

Mungkin mereka mau berbelanja? Mereka tidak membawa tas sekolah, hanya anak laki-laki itu yang membawa tas selempang. Dari kejauhan wajah mereka tidak terlalu jelas, tapi mereka memancarkan atmosfer yang cukup ceria.

Mereka berjalan menjauh ke arah yang berlawanan tanpa menyadari keberadaan kami sama sekali. Sebab.

"Kamu tidak perlu bersembunyi, kan? Hina."

"T-tapi, aku tidak tahu bagaimana cara menyapa mereka……"

Sahabat tersayangku ini tampaknya merasa ada jarak yang jauh hanya karena mereka telah masuk SMP. Hina selalu bersikap seperti ini, jadi aku tidak pernah benar-benar melihat wajah laki-laki itu dengan jelas.

Karena kami bersekolah di SD yang sama, rasanya tidak aneh jika kami pernah berpapasan di suatu tempat, tetapi mengingat ketidaktertarikanku yang total terhadap penampilan manusia, aku sama sekali tidak memiliki ingatan tentang hal itu.

Andai saja kami pernah bertatap muka, aku setidaknya akan berterima kasih kepadanya karena telah memberiku dan Hina kesempatan untuk menjalin ikatan…….

"Ugh, tapi mereka memakai seragam. ……Dia terlihat sangat keren."

Kalau terus begini, kapan mereka akan bertemu? Sekolah Pelatihan itu sepertinya mewajibkan siswanya tinggal di asrama, jadi kalau kami sedang kurang beruntung, pertemuan kami mungkin baru akan terjadi setelah kami masuk SMA.

Pada saat itu, pasti Hina sudah bisa berhadapan dengan "Onii-san" kesayangannya tanpa merasa malu lagi. ……Meski aku tidak tahu apakah hal-hal semacam cinta atau kasih sayang bisa bertahan selama itu.

"Ayo kita pergi, Hina." "Oke……"

Yah, Hina itu manis, jadi aku tidak peduli dengan hal lain. Lagipula laki-laki itu adalah seseorang yang sama sekali tidak ada urusannya denganku.

◇◇◇◇◇

—Atau setidaknya, itulah yang kupikirkan saat itu.

"?"

Rui, melihat wajah bingung pria di hadapannya, tiba-tiba merasa canggung dan memalingkan pandangannya.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa akan datang suatu hari di mana ia, tanpa sepengetahuan Hinata-chan, minum teh bersama "kakak laki-laki sebelah rumah". Tentu saja, ia sama sekali tidak menaruh kecurigaan bahwa otaku yang duduk di seberangnya saat ini sebenarnya adalah penggemarnya.

Apakah hari itu akan tiba, atau apakah itu akan memicu pecahnya perang dunia, masih menjadi rahasia yang tidak diketahui oleh mereka berdua sekarang.



PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER

Post a Comment

0 Comments