Prolog: Sang Malaikat
Pemandangan di belakangku tampak seolah ditarik menjauh. Aku berlari begitu cepat hingga menciptakan ilusi seakan dunia di sekitarku melambat.
"Anggota Nega Messiah yang muncul di Titik F telah diidentifikasi! Nama kodenya adalah Kairi!"
Sebuah suara panik terdengar dari alat komunikasi di telingaku. Kecepatan langkah kakiku semakin meningkat saat aku menolak tubuh dari aspal. Bahkan sorak-sorai orang di trotoar tertinggal jauh di belakang. Aku berlari melesat di antara kendaraan yang melaju, menyalip mereka dengan mudah.
"Belum ada pergerakan dari target! Namun, mohon segera menuju ke lokasi!"
Suara tegang dari pusat komando komunikasi terdengar jelas. Wajar saja mereka panik, titik kemunculan musuh kali ini adalah lokasi terjauh dari rute patroli.
"Jika dirasa sulit, kita dapat meminta bantuan dari cabang lain." "Tidak perlu."
Aku menyentuh penutup telingaku dan memutus komunikasi dari pusat komando.
Tak lama kemudian, sebuah persimpangan jalan yang besar mulai terlihat. Lampu lalu lintas menyala merah. Namun, aku tak berniat memperlambat langkah. Tepat sebelum garis berhenti, aku menendang aspal sekuat tenaga.
"—Aku sudah di jalan!"
Tubuhku melayang di udara, melewati persimpangan ramai di mana mobil-mobil tengah melintas.
Di tengah jalan di depanku, sosok itu berdiri menanti.
"Target terdeteksi. Waktu kontak—sekitar 10 detik!"
Begitu mendarat, aku kembali berlari kencang.
"Ah! Secepat itu—" "Koneksi akan kuputuskan sementara." "Baik, dimengerti. Semoga sukses dalam pertempuran!"
Kehadiran sang musuh mendekat dengan cepat. Dengan kecepatan yang jauh melampaui batas manusia biasa.
"Aaah!!"
Tinju berlapis sarung tangan besi itu terayun ke arahku, seolah-olah sebuah salam sapaan.
"--Mereka sudah tiba."
Tanpa suara, tinju itu berhasil kutahan di telapak tanganku. Tapi, aku sudah menduga serangan itu.
Musuh di hadapanku, yang mengenakan jubah hitam dengan motif bunga lili laba-laba, adalah Kairi. Dia adalah anggota dari organisasi jahat Nega Messiah, sekaligus musuh bebuyutanku.
Dan gadis yang menghadapinya adalah Hinata Sobayama. Bintang muda andalan dari organisasi keamanan Prim Libra. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam langsung ke mata musuh bebuyutannya.
"Hari ini, aku pasti akan menangkapmu."
Pertarungan antara gadis pembela keadilan dan pemuda dari organisasi jahat pun dimulai lagi untuk kesekian kalinya.
Angin yang bertiup di jalan utama membuat seragam putih Hinata dan jubah hitam Kairi berkibar. Keheningan menyelimuti area tersebut. Keduanya saling berhadapan, tak saling melepaskan pandangan.
Namun, saat ketegangan seolah berada di puncaknya, sang anggota organisasi jahat "Kairi" justru membatin—
—Ahhh, kesayanganku hari ini juga keren banget! Dan imut banget!!
Ya, hari ini pun, seperti biasa, aku sedang sibuk "fangirling" di dalam hati.
Di balik nama kode "Kairi", nama asliku adalah Ibuki. Aku hanyalah seorang otaku. Dan gadis yang berdiri di hadapanku, Hinata Sobayama, tak lain adalah oshi kesayanganku.
Menurut pemahamanku, dunia ini adalah realitas yang diangkat dari serial manga favoritku di kehidupan sebelumnya, "Mimpiku"—atau yang lebih sering disingkat "Watayume".
Watayume adalah kisah tentang Hinata Sobayama, seorang gadis yang bercita-cita menjadi pahlawan dan mengalahkan kejahatan demi keadilan. Seharusnya begitu.
—Dia sudah kelihatan kayak dewi karena saking kerennya, tapi ternyata dia juga imut? Serius? Hinata-chan benar-benar dewi tanpa celah!
Entah bagaimana, entitas pengatur dunia ini telah memanggil seorang otaku sejati sepertiku ke dalam dunia fiksi ini dan mengubahku menjadi karakter yang tragis.
Di dunia ini, aku hanyalah sebuah anomali. Aku sangat menyadari fakta itu. Namun, aku sama sekali tidak berniat menahan diri dari "aktivitas penggemarku". Sejujurnya, terlahir kembali di dunia ini, rasanya sangat tidak sopan kalau aku tidak menikmati kehadiran karakter favoritku dari jarak sedekat ini!
Bagaimanapun juga, karena nasib sudah menjadikanku musuh bebuyutan dari idolaku sendiri, maka aku akan menonton aksi kerennya dari barisan paling depan!
Kisah ini berawal dari satu keinginan sederhana itu.
0 Comments