Bab 221: Ayah, Katanya Ada Monster di Desa
Wilayah Winwood adalah kota perbatasan yang terletak di ujung paling jauh dari Tyron. Sejak zaman kuno, wilayah ini berbagi perbatasan dengan Bern, sebuah negara yang terkenal kuat dan buas.
Berkat hal tersebut, meskipun kota ini miskin dan kecil, temboknya sangat kokoh dan cukup tinggi. Jika tidak, Winwood tidak akan bertahan bahkan untuk sebulan. Tempat ini pasti sudah ditelan oleh Bern sejak lama.
Ketika kau tinggal bersebelahan dengan seseorang, suka atau tidak suka, kau akan mulai mengenal mereka. Semua orang di Winwood tahu betapa kuat dan brutalnya tentara Bern. Keparat-keparat Bern itu bagaikan roh jahat. Dan seorang pahlawan yang dikagumi di tempat seperti Bern, namanya saja sudah menjadi simbol ketakutan.
Jika dia juga berkeliling memerintah monster... Ya, melihatnya saja sudah cukup mengerikan hingga bisa membuat jantungmu berhenti berdetak.
Meski begitu, karena dia datang sebagai penguasa wilayah (Lord), mereka pikir mereka tidak akan pernah harus melihat Pahlawan Juhwan dari dekat. Di dalam sebuah wilayah barony (kekuasaan baron), seorang Lord adalah eksistensi yang lebih agung daripada Tuhan. Wajar jika penguasa semacam itu tidak akan turun ke desa.
Karena dia lebih agung dari Tuhan. Jika dia menginginkan sesuatu, dia akan mengirim pejabat. Jika dia ingin memberi perintah, seorang pejabat akan datang dan memberi tahu penduduk apa yang harus dilakukan.
Pada kesempatan langka saat Lord turun ke desa, itu hanya terjadi saat keretanya lewat. Kereta itu hampir tidak pernah berhenti di desa, hanya lewat begitu saja. Bahkan jika ada wanita cantik yang menarik perhatian dan mengunggah hasratnya, Lord tidak akan menginjakkan kakinya di tanah yang kotor. Dia hanya akan memberi perintah: Bawa wanita itu malam ini. Hal-hal semacam itu.
Begitu Lord memberi perintah, para pejabat di bawahnya akan mencari cara—entah dengan menciptakan insiden, memasang jebakan, atau mengancam orang-orang—untuk mewujudkannya. Karena hal itulah, rakyat jelata sama sekali tidak punya kesempatan untuk melihat wajah penguasa mereka. Seseorang dengan status bangsawan seperti Lord tidak akan pernah berdiri berdampingan dengan rakyat jelata atau menemui mereka tatap muka.
Mereka pikir penguasa yang baru ini juga akan sama saja.
‘T-tapi kenapa…?’
Kenapa Lord berjalan melewati desa bersama istri, putri, dan seorang anak laki-laki kecil yang mengenakan pakaian aneh? Dan yang lebih gila lagi, menuntun seekor unicorn seputih salju!
"Apakah itu benar-benar unicorn?"
Ketika Lord pertama kali tiba di sini, Kepala Desa belum melihatnya. Tapi dari apa yang dia dengar, unicorn itulah yang menarik kereta monster. Semacam kereta tanaman rambat yang bisa bergerak.
Dia sempat bertanya-tanya apakah itu masuk akal. Tapi siapa yang tahu? Bukan cuma satu orang yang bilang begitu. Semua orang yang dia temui berkata bahwa mereka melihat kereta monster itu dengan mata kepala sendiri. Mereka bilang tanaman rambatnya menggeliat naik-turun, sementara daun dan rantingnya bergoyang di belakang kereta layaknya ekor.
Tapi apa itu benar-benar masuk akal? Tetap saja, tidak mungkin seluruh penduduk desa tiba-tiba gila bersamaan. Mereka pasti melihat sesuatu. Mengingat sekarang dia benar-benar sedang menatap seekor unicorn bertanduk panjang, mungkin benar ada semacam tumbuhan yang menempel pada kereta itu.
Namun, entah itu asli atau palsu, sekarang bukan waktunya untuk penasaran. Kaki Kepala Desa gemetar hebat.
Momen saat Lord muncul di desa, semua orang yang cukup peka langsung lari kocar-kacir. ‘Mereka terlihat seperti bayi laba-laba yang berpencar.’ Dia sudah tinggal di desa ini sejak lama, tapi dia belum pernah melihat orang-orang bergerak secepat itu sebelumnya.
Tapi dia tidak bisa lari. Karena dia adalah Kepala Desa.
Dalam hatinya, dia sudah berlari melewati tembok kota. Bahkan sekarang, dia menekan kakinya dengan kedua tangan untuk mencegahnya kabur. Tapi dia tidak bisa bergerak. Jika dia lari sekarang, kejahatannya hanya akan semakin menumpuk.
‘Seharusnya aku menemuinya di hari pertama Lord tiba.’
Karena semua pejabat sudah kabur, seharusnya dialah yang melakukan itu. Seperti di mana pun, setiap desa dalam sebuah wilayah barony memiliki seseorang yang mengawasinya. Mereka disebut Kepala Desa. Kepala Desa adalah orang yang benar-benar melaksanakan perintah yang diberikan Lord melalui para pejabat.
Dia mengumpulkan pajak dan mengirimkannya ke pejabat, mengumpulkan pendapat penduduk, mengurus warga, dan berjaga-jaga jika ada orang yang mencurigakan atau asing muncul. Dia adalah semacam jembatan antara Lord dan penduduk desa. Dan dia adalah Kepala Desa dari desa tempat kediaman Lord itu berada. Wajar jika dia harus melapor kepada Lord menggantikan para pejabat dan menawarkan bantuan.
Tapi dia terlalu takut. Dia sudah beberapa kali pergi ke dekat kediaman Lord, hanya untuk berbalik pulang setiap kalinya. Lord mungkin akan menanyainya karena gagal mencegah kediaman itu berakhir dalam kondisi hancur seperti itu.
Tidak, Lord pasti akan melakukannya.
Sebagian besar barang berharga telah diambil oleh penguasa sebelumnya. Sisanya dicuri oleh para pejabat. Tapi meski begitu, masih ada gandum, kayu bakar, dan kain yang tersisa. Penduduk desalah yang mencuri barang-barang itu. Tentu saja, Kepala Desa dan keluarganya juga ikut mencuri.
Pada saat itu, yang ada di pikirannya hanyalah, "Jika semua orang mencuri dan aku cuma diam saja, aku yang bodoh."
Seandainya dia tidak mencuri apa pun saat itu, situasinya mungkin akan sedikit lebih baik. Setidaknya dia bisa mengklaim bahwa dia tidak melakukan apa-apa. Dia bahkan bisa melaporkan para penduduk desa. Tapi karena dia ikut serta menjarah kediaman Lord, dia tidak bisa melakukan itu. Seluruh penduduk desa tidak punya pilihan selain tutup mulut rapat-rapat.
‘Seandainya saja aku tidak memakai kapak untuk membongkarnya.’
Penduduk desalah yang merobek setiap pintu dan jendela yang bisa mereka ambil dari kediaman Lord. Tentu saja, dia juga melakukannya. Berkat itu, sepertinya mereka bisa melewati musim dingin ini dengan hangat. Tidak, bukan itu poinnya.
"Apa yang harus kulakukan?"
Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, itu benar-benar tindakan bodoh. Makanan, kain, dan kayu bakar mungkin masih bisa dijelaskan—mereka bisa berbohong kalau mereka mendapatkannya dari tempat lain. Tapi pintu dan jendela dari kediaman Lord sangat mencolok. Bekas kapaknya terlihat jelas, jadi mereka tidak bisa berpura-pura tidak tahu.
Bahkan jika mereka mencoba membuangnya sekarang, satu laporan saja sudah cukup untuk menghabisi mereka.
Akan sangat menyenangkan jika dia setidaknya bisa melarikan diri, tetapi dia tidak bisa melakukannya. Bangsawan dan pejabat bisa kabur dan tinggal di mana pun mereka mau saat negara berubah, tapi penduduk desa dan kepala desa yang terikat pada tanah tidak bisa kabur.
‘Bahkan jika aku lari, aku tidak punya tempat tujuan.’ Jika negaranya berubah, biarlah. Jika penguasanya berubah, biarlah. Mereka harus tetap hidup terikat pada tanah ini. Ketika kepemilikan wilayah berpindah ke negara lain, kepemilikan atas orang-orang yang tinggal di atasnya pun ikut berpindah.
‘Tidak, ini bukan waktunya memikirkan semua itu. Sekarang, aku harus maju ke hadapan Lord entah bagaimana caranya dan memohon ampunan…’
Apakah itu mungkin? Apakah mungkin dia diampuni?
Tatapan Kepala Desa beralih ke arah tanduk unicorn putih itu. Tanduk panjangnya berkilau di bawah sinar matahari. Terlihat seperti permata yang dipoles halus. Sebuah bilah tajam yang terbuat dari permata.
‘Jika tanduk itu menembus dadaku…’
Atau jika dia diinjak-injak di bawah kaki kuda putih yang elegan itu. Dia mungkin mati mengenaskan seperti itu. Atau mungkin, seperti kata rumor, Lord akan menggigitnya. Menurut desas-desus, sang pahlawan mengoyak manusia hidup-hidup dan memakannya.
‘Aku tidak ingin mati.’
Kakinya gemetar sangat parah hingga Kepala Desa itu roboh lemas ke tanah. Tanpa disadarinya, rasa takut telah membuat kepalanya terasa berat. Tatapannya tertunduk ke tanah.
Jadi, dia tidak menyadarinya. Dia tidak memperhatikan kaki kuda putih yang berada tepat di depannya.
Ketika dia sadar bahwa suasana tiba-tiba menjadi gelap dan mengangkat matanya, dia melihat dada kuda yang besar. Otot-otot kuda yang terbentuk sempurna menjulang tepat di depannya. Tanpa berpikir panjang, dia membuka mulut dan mendongak, hanya untuk melihat sosok Lord yang sangat besar tengah menatapnya ke bawah.
Lord menyeringai.
Di dalam bayangan yang dilemparkan oleh Lord dan unicorn itu, gigi putihnya berkilat. Dia akan dimakan. Gigi-gigi itu akan merobek tenggorokannya.
Saat pikiran itu melintas, benaknya mendadak kosong.
"Hiiiiiiiiik!"
Kepala Desa mengeluarkan jeritan aneh dan jatuh terduduk. Pada detik itu juga, pandangannya tiba-tiba menjadi gelap. Ah, aku pingsan. Anehnya, dia menyadari hal itu. Pingsan setelah melihat Lord. Hukuman mati yang sudah pasti. Kepalanya pasti akan dipenggal.
‘Ah, habislah aku.’
Istrinya yang malang, anak-anaknya, cucu-cucunya. Dan selir manis yang dia sembunyikan dari omelan istrinya. Selamat tinggal pada mereka semua.
Juhwan berencana bertanya pada seseorang begitu dia turun ke desa. Seharusnya ada Kepala Desa dan orang-orang yang membantunya bekerja. Jika tidak ada pejabat, dia bisa berbicara dengan mereka dan meminta tolong untuk mengurus perbaikan kediaman Lord. Lalu, sedikit demi sedikit, hubungan mereka akan mencair, dan pertukaran pun akan dimulai.
Itulah yang dia pikirkan.
Tapi agar hal itu bisa terjadi, bukankah dia harus bertemu seseorang dulu?
Dengan ekspresi bingung, Juhwan melihat ke jalanan yang kosong. Dorothy dan Toby, yang sebelumnya menunggangi punggung Yeonhwa, sudah turun saat mereka memasuki desa, dan Lizzie berjalan tepat di sebelahnya.
Hanya mereka berempat yang sedang berjalan. Tidak ada siapa pun di jalanan.
Tempat ini seperti kota hantu di mana setiap orang tiba-tiba menguap. Saking anehnya, dia mencoba mendeteksi kekuatan sihir (mana), dan ternyata ada orang di sana. Memang ada. Mereka hanya tidak berada dalam pandangan Juhwan. Semua orang bersembunyi di dalam rumah atau toko.
‘Apakah seorang Lord benar-benar sangat dibenci dan ditakuti seperti ini?’
Border count (bangsawan perbatasan) pernah berkata bahwa mengatur wilayah ini tidak akan mudah, tapi Juhwan ragu apakah ini yang dia maksud.
Juhwan menghela napas.
Setelah berjalan sebentar, dia menemukan satu pria yang tidak bergerak atau melarikan diri. Pria itu sudah cukup tua. Menilik dari pakaiannya, dia sepertinya memiliki status tertentu di desa.
Takut pria itu ikut lari, Juhwan bergegas menghampirinya begitu melihatnya. Dan kemudian—
"Tuanku." Lizzie menyentuhnya dengan lembut, ekspresinya penuh kekhawatiran. Dia berbisik pelan. "Sepertinya dia sakit."
Tidak, Lizzie. Pria ini hanya pingsan setelah melihat Juhwan. Tidak ada yang salah dengan dirinya. Juhwan menghela napas tanpa sadar.
‘Yah, setidaknya aku berhasil menangkap satu orang.’
Dia tidak boleh tidak sabar. Dimulai dari pria ini, dia bisa mencari Kepala Desa, lalu secara bertahap memperluas jangkauan orang-orang yang dia temui. Penduduk wilayah ini dulunya adalah bagian dari negara musuh. Wajar jika mereka takut pada Juhwan, sang pahlawan Simoni.
‘Tetap saja, sampai pingsan hanya karena melihat orang…’ Suasana hatinya langsung anjlok.
Pada saat itu, Toby, yang berdiri diam di samping mereka, bergumam dengan suara kecil. "Umm... Tuanku... Anda bilang Anda sedang mencari Kepala Desa, kan? Yah... saya pernah melihatnya di kediaman Lord beberapa kali sebelumnya, dan pria ini adalah Kepala Desa."
Dorothy tersenyum cerah sambil memegang tangan Toby. "Ayah, Ayah menemukan Kepala Desanya? Baguslah."
Sebelum Juhwan sempat mengatakan apa-apa, Dorothy menarik tangan Toby. "Kakak, kalau begitu ayo kita pergi ke sebelah sana. Ayah harus melakukan pekerjaan orang dewasa dengan Kepala Desa. Jadi sampai Ayah selesai, kita harus bermain dengan tenang dan aman. Itulah yang dilakukan saat orang dewasa sedang bekerja. Kakak, ikut aku ke sana."
"Eh... Tapi aku seharusnya membantu Tuan dengan pekerjaannya..." "Tidak apa-apa. Kalau Ayah sedang bekerja, Ibu, aku, dan Kakak harus diam dan bermain."
Karena tidak tahu harus berbuat apa, Toby diseret pergi oleh Dorothy. Oz melompat-lompat mengikuti mereka berdua.
"Dorothy benar-benar menyukai Toby," gumam Juhwan dengan sedikit rasa sedih, dan Lizzie tertawa pelan.
"...Ugh... ugh... Monster."
Apakah dia bermimpi selama waktu yang singkat itu? Kepala Desa, yang sempat pingsan sesaat, mengeluarkan erangan lemah. Sepertinya dia akan segera bangun.
Merasakan tatapan penduduk desa yang bersembunyi mengarah padanya dari segala penjuru, Juhwan berjongkok di depan Kepala Desa. Kelopak mata Kepala Desa itu berkedut sedikit, lalu perlahan terbuka.
Agar tidak mengejutkannya, Juhwan berbicara dengan suara pelan. "Halo, Kepala Desa."
"Hiiiiiiiiik!" Kepala Desa, yang baru saja mengangkat matanya, langsung memutar matanya ke belakang.
Tidak, dia tidak boleh pingsan lagi. Juhwan tidak bisa terus bermain petak umpet seperti ini. Sedikit panik, Juhwan mengalirkan sedikit kekuatan sihirnya. Rasanya seperti kejutan listrik yang sangat ringan. Kejutan lemah, hanya cukup untuk membuatnya sadar.
"Kuh-haaaak!" Kepala Desa menarik napas panjang dan membelalakkan matanya. Cara mulutnya terbuka dan tertutup membuatnya terlihat seperti ikan mas yang megap-megap di daratan kering.
Ketika Juhwan melihat keterkejutan kembali memenuhi mata yang melebar itu dan menyadari bahwa pria itu akan pingsan lagi, dia segera mencengkeram bahu Kepala Desa.
Tolong jangan pingsan. "Perbaikan kediaman Lord."
Tepat saat Juhwan mengatakan itu—lebih tepatnya, mungkin saat kata "kediaman Lord" terucap—mata Kepala Desa itu kembali memutih dan dia pingsan sekali lagi.
Apa yang sebenarnya terjadi? Tolong seseorang beri tahu aku ini cuma lelucon.
Tatapan yang diam-diam memperhatikan Juhwan lenyap dalam sekejap. Dari sana-sini terdengar suara jendela dan pintu yang ditutup.
Apakah ini karena Yeonhwa? Mungkin membawa seekor unicorn dengan santai seperti ini telah menyebabkan bencana. Sampai orang-orang terbiasa dengan Juhwan dan Rudolph, seharusnya dia keluar hanya dengan manusia. Dia telah membuat pilihan yang salah.
Saat itulah Dorothy, yang pergi bermain bersama Toby di dekat sana, datang berlari kembali. "Ayah! Ayah! Katanya ada monster di desa. Anak perempuan ini juga harus lari, tapi dia sangat terkejut sampai ayah dan ibunya meninggalkannya."
Ketika menoleh, Juhwan melihat Dorothy menggandeng tangan seorang gadis kecil yang tampak berusia sekitar lima atau enam tahun.
"Hiks… hiks… Ibu… Ayah…" "Tidak apa-apa! Ayahku akan menangkap monsternya untukmu. Ayahku itu pemburu monster. Dia pemburu yang hebat. Dia bisa menangkap hewan buas sihir dan orang jahat dan semuanya!"
Saat Dorothy menyombongkan ayahnya, anak itu menatap Juhwan dengan wajah berlinang air mata. "Hiks… eeeh…"
Lizzie menarik tangan Juhwan dengan lembut dengan ekspresi bermasalah. "Umm… Juhwan… Kurasa monster yang dimaksud Dorothy adalah…"
Ya. Itu aku. Sepertinya memang aku monsternya. Bahu Juhwan langsung merosot.
"Ayah, cepat tangkap monsternya. Kalau tidak, semua orang di desa akan mati. Bakal gawat kalau semuanya dimakan." Sambil memegang tangan Toby dan gadis kecil itu, Dorothy maju ke depan Juhwan.
Toby ragu-ragu, menatap bergantian antara Juhwan, Dorothy, dan anak itu, lalu berbicara pelan. "Umm… Nona. Tentang monster itu…"
Sepertinya Toby tahu siapa monster yang dibicarakan orang-orang. Ya, tentu saja dia tahu. Saat pertama kali bertemu, Toby juga menangis mengira dia akan dimakan.
Tapi Dorothy tidak mendengarkannya. Dorothy memang selalu punya kecenderungan seperti itu jika dia sedang bersemangat. "Kakak, aku bukan Nona. Aku Dorothy. Do-ro-thy. Dan jangan khawatir, Kak. Ayahku benar-benar kuat. Dia akan menangkap monsternya dalam sekejap."
Toby menutup mulutnya, terlihat bingung.
Hah. Apapun itu, dia harus membangunkan Kepala Desa. Juhwan menyelimuti sedikit mana di tangannya dan dengan lembut mengalirkannya ke dalam tubuh Kepala Desa. Mata Kepala Desa itu langsung terbuka.
Kali ini, Juhwan sama sekali tidak akan melepaskannya. Mereka harus bicara dulu.
Juhwan membiarkan tangannya sedikit diselimuti mana dan terus mengalirkannya ke tubuh pria itu. Rasanya seperti merekatkan matanya agar tetap terbuka, memaksanya untuk tetap sadar. Juhwan merasa kasihan, tapi dia tidak punya pilihan.
"Kepala Desa! Dengarkan saya. Saya tidak mencoba menyakiti Anda. Saya hanya ingin menugaskan Anda untuk memperbaiki kediaman Lord."
"Hiiiiii… Tolong ampuni saya. Tolong. Saya tidak melakukannya dengan niat jahat. Sungguh, itu hanya karena… karena semua orang menyerbu masuk dan mencuri barang. Saya pasti sedang dirasuki oleh dewa jahat. Ini semua salah dewa jahat. Sungguh."
Dia tidak mendengarkan. Juhwan menghela napas ringan dan mengulanginya sekali lagi. "Itu tidak masalah. Saya tidak akan mempermasalahkan apa pun yang terjadi sebelum saya tiba. Jadi tolong dengarkan saya. Saya hanya ingin menugaskan Anda dengan per-baik-an kediaman Lord."
"…Eh. Maaf? Perbaikan?" Sepertinya suara Juhwan akhirnya masuk ke telinganya.
"Ya. Saya tidak memakan orang, begitu juga dengan hewan buas sihir saya. Mereka tidak melukai orang." Tentu saja, jika ada perang atau musuh, dia akan membunuh mereka.
Kepala Desa itu berkedip perlahan dan bergumam. "Per… perbaikan… Perbaikan kediaman Lord."
Seolah kata-kata itu akhirnya masuk ke kepalanya, Kepala Desa mengulanginya, lalu pinggangnya langsung lemas seakan semua tenaganya terkuras habis. Sepertinya ketegangannya sudah menguap.
Walau bagaimana pun, akhirnya mereka terlihat bisa berbicara. Merasa lega, Juhwan membuka mulutnya.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments