Header Ads Widget

Chapter 91 - Kemampuan Sang Rudolph

 


Chapter 091: Kemampuan Sang Rudolph

Bandit yang tadinya berguling-guling di tanah bersama Oz tiba-tiba berhenti bergerak.

Saat Oz melompat menjauh dari tubuhnya, wajah bandit yang kaku itu mulai terlihat. Tampaknya pikirannya masih sadar, tetapi tubuhnya tidak bisa lagi digerakkan. Hanya matanya yang berputar-putar dengan panik ke kiri dan ke kanan.

Pola-pola terukir di sekujur tubuhnya, bukan hanya di leher dan punggung tangannya, tetapi menjalar bahkan sampai ke ujung jari-jarinya.

Itu baru permulaannya.

Satu per satu, para bandit di dekatnya mulai membeku di tempat. Pria-pria itu terdiam di sana-sini layaknya patung hidup.

Sama seperti bandit yang baru tumbang itu, mereka bahkan tidak bisa menggerakkan bibir. Hanya mata mereka yang melesat ke sana kemari. Dalam sekejap, setiap bandit telah menjadi kaku layaknya manekin.

Juhwan berbalik dan menatap si unicorn. Tanduk putih unicorn itu berkedip merah seperti lampu sinyal.

"Apakah kau yang membuat semua pola itu?"

Unicorn itu mengibaskan surainya dengan bangga dan menatap Juhwan. Makhluk itu sepertinya sedang menunggu pujian.

Juhwan kembali menatap para bandit.

Mereka tidak bisa bergerak sedikit pun. Tidak sehelai rambut pun, tidak satu jari pun. Mereka tampak benar-benar lumpuh. Namun, pikiran mereka sepenuhnya sadar, dan mata mereka dipenuhi dengan teror.

Tanduk merah yang berkedip adalah ciri khas seekor Rudolph. Itulah yang pernah Juhwan dengar.

Namun, ia belum pernah mendengar bahwa makhluk itu bisa menciptakan pola aneh seperti ini, atau bisa membuat orang berhenti bergerak sama sekali.

Tidak, yang lebih penting lagi, dia sama sekali tidak mengerti mengapa makhluk seperti ini mengikutinya sejak awal. Dia sudah memiliki Oz sebagai Rudolph-nya.

"Zentangle…"

Tiba-tiba, dia teringat pada gadis yang dibawa oleh ketua guild. Anak itu pernah mengatakan sesuatu yang aneh tentang "zentangle".

Saat itu, Juhwan tidak mengerti apa yang dia maksud, tetapi sekarang setelah dia melihat para bandit itu, kata itu terasa sangat pas. Gadis itu menggambarkannya dengan sangat akurat.

Gambar-gambar yang terlukis di sekujur tubuh para bandit itu bukanlah huruf.

Itu terlihat seperti pola-pola tak bermakna. Bunga, bulan, bintang, garis lengkung, garis lurus, cangkang siput, garis geometris—hal-hal semacam itu berulang tanpa henti menutupi seluruh tubuh mereka.

Bahkan ada pola-pola yang terselip padat di celah sempit seperti kelopak mata mereka.

"Ah. Jadi mereka tidak bisa menggerakkan bagian tubuh yang digambari pola itu?"

Apakah itu sebabnya mata mereka masih bisa bergerak? Mengapa bisa begitu? Ini benar-benar aneh.

"Tapi… kau benar-benar sangat membantuku."

Setelah memastikan sekali lagi bahwa tak satu pun dari para bandit itu bisa bergerak, Juhwan mendekati sang unicorn. Ketika dia mengelus surainya dan berterima kasih kepadanya, unicorn itu menggelengkan kepalanya dengan bangga.

"Ngomong-ngomong, apa yang harus kulakukan dengan orang-orang ini sekarang?"

Juhwan menatap para bandit itu dan menghela napas.

Dia tidak mungkin meninggalkan mereka begitu saja di sini dengan pola aneh yang membekas di sekujur tubuh mereka. Dalam kondisi seperti ini, bahkan sekadar mengikat dan meninggalkan mereka, atau memberi tahu penjaga agar mereka ditangkap, akan menjadi hal yang mustahil.

Bahkan bagi Juhwan sendiri, mereka terlihat mengerikan.

Jika para bandit dalam kondisi aneh ini dilihat oleh orang lain, dia tidak tahu rumor macam apa yang akan menyebar atau seberapa buruk situasinya nanti. Jika keadaan menjadi kacau dan berubah menjadi semacam 'perburuan penyihir'… Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk berdiri.

Saat Juhwan menatap para bandit itu dengan perasaan gundah, sang unicorn meringkik dan menoleh ke arah Oz. Caranya mengibaskan surainya membuatnya seolah-olah sedang memberi tahu Oz sesuatu.

"Pii."

Oz mengeluarkan cicitan kecil, seakan menjawab sang unicorn.

Kemudian tubuh kecilnya yang berbulu halus itu bergoyang-goyang berlari mendekati si bandit pemanah.

Pemanah itu membeku sambil masih memegang busur dan anak panahnya. Matanya berputar liar ke sana kemari. Urat-urat pembuluh darah merah telah muncul di bagian putih matanya, membuatnya terlihat seolah-olah dipenuhi darah.

Tanpa sadar, Juhwan mengeluarkan suara dan segera memeriksa para bandit yang lain. Mata mereka semua juga memerah.

Juhwan memperhatikan mereka sejenak. Tak satu pun dari mereka menggerakkan kelopak matanya.

Tak satu pun dari mereka berkedip. Mata mereka tetap terbuka lebar.

"Sihir ini bahkan menghentikan kelopak mata mereka agar tidak bergerak?"

Pola-pola aneh itu tampaknya memaksa bahkan gerakan refleks dari kelopak mata untuk tetap diam. Para bandit tidak bisa menutup mata mereka. Mereka bahkan tidak bisa berkedip.

Saat ini, sihir itu baru menghentikan pergerakan luar mereka. Tapi mungkin saja sihir itu juga bisa mengendalikan segalanya, mulai dari tarikan napas di hidung hingga proses pencernaan. Jika pola-pola itu bisa digambar bahkan pada organ dalam yang tidak terlihat oleh mata telanjang, maka hal itu sangat mungkin terjadi.

Kalau dipikir-pikir lagi, dia tidak mendengar satu erangan pun sejak gerakan para bandit itu berhenti.

Apakah sihir itu menghentikan pita suara mereka juga? Ini benar-benar bisa memengaruhi bagian dalam tubuh.

Rasa dingin merayap di tubuh Juhwan.

Juhwan kembali menatap sang unicorn. Tanduk yang tadinya menyala merah kini telah kembali ke warna aslinya.

Saat matanya bertemu dengan mata Juhwan, wajah kuda putih itu dipenuhi dengan kegembiraan. Meskipun itu adalah seekor hewan, dia merasa bisa memahami ekspresinya. Anak ini benar-benar menyukainya.

Tetapi…

Apakah benar-benar aman untuk terus membawa unicorn itu bersamanya? Saat hubungan mereka baik, itu memang tidak masalah.

Tapi bagaimana jika Dorothy membuat unicorn itu kesal? Bagaimana jika Lizzie tanpa sengaja memancing amarahnya karena ketidaktahuannya? Bagaimana jika unicorn ini merasakan sesuatu seperti kecemburuan? Apakah masih akan tetap aman?

Siapa yang bisa menjamin bahwa, tanpa disadari Juhwan, unicorn itu tidak akan melukai Lizzie atau Dorothy?

Jika ada pola yang diam-diam digambar pada organ dalam mereka, Juhwan tidak akan pernah tahu sampai keduanya kehilangan nyawa. Bisakah dia benar-benar membiarkan makhluk dengan wajah secantik ini, namun mampu menenggelamkan orang ke dalam teror yang begitu besar, untuk tetap berada di sisi keluarganya?

Seolah-olah menyadari pikiran Juhwan, unicorn itu dengan lembut mengibaskan surainya.

Hiiing. Hiiing.

Ia meringkik dengan suara yang sedikit menyayat. Suaranya terdengar seolah-olah ia sedang berjanji bahwa ia tidak akan pernah menentang kehendak Juhwan.

"Aku sudah curiga dari tadi, tapi anak ini benar-benar bisa membaca pikiranku."

Hal itu juga membuat Juhwan merinding. Ini berbeda dengan Oz. Perasaan aneh dan tidak menyenangkan meresap ke seluruh tubuhnya.

"Mungkin aku harus menyingkirkan anak ini saja—"

Tepat saat dia memikirkan hal itu, Oz mencicit.

"Pii!"

Ketika Juhwan menatap Oz, makhluk kecil itu mendongak menatapnya dengan sepasang mata bulat dan mengendus-endus hidungnya. Telinganya sedikit terkulai ke depan.

Dia terlihat sedikit murung.

"Kalau dipikir-pikir, Oz juga bisa menggambar pola-pola ini."

Untuk saat ini, Oz hanya bisa membuat lingkaran kecil. Tapi seiring berjalannya waktu, akankah Oz juga mampu menggambar pola-pola aneh di sekujur tubuh seseorang layaknya unicorn ini? Mungkin Oz tiba-tiba terlihat sedih karena dia berpikir Juhwan akan membencinya jika hal itu terjadi.

"Tidak apa-apa."

Juhwan mengulurkan tangannya kepada Oz. Anak ini baik-baik saja. Oz selalu bersama Dorothy. Tidak peduli apa yang terjadi, Oz tidak akan pernah mengkhianati mereka. Dia adalah Rudolph milik Juhwan. Juhwan percaya penuh bahwa dia tidak akan pernah menyakiti Lizzie atau Dorothy.

Oz melompat ke arah Juhwan. Kemudian dia melompat naik dan mendarat mulus di pelukan Juhwan.

Dia tampak senang. Oz mengedutkan hidungnya dan dengan hati-hati mempelajari ekspresi Juhwan. Lalu dia menoleh ke arah si pemanah.

"Piiib!"

Oz berteriak sekuat tenaga. Seluruh tubuhnya bergetar saat dia menatap tajam ke arah anak panah milik sang pemanah bandit itu.

Dia melipat telinganya rata ke belakang dan melotot tajam ke arah anak panah itu. Tubuh mungilnya tegang dan kaku, seolah-olah dia mengerahkan seluruh kekuatannya.

"Apa yang sedang kau lakukan, Oz?"

Apakah dia mencoba meniru sang unicorn? Karena kelihatannya keren?

Melihat Oz menggeram dan meregangkan seluruh tubuhnya terlihat sangat konyol, sehingga Juhwan tanpa sadar tersenyum.

Kemudian, tanduk Oz mulai bersinar dan berkedip-kedip. Terlihat persis seperti lampu pohon Natal.

"Piiib!"

Ketika Oz kembali berteriak dengan susah payah, beberapa pola merah muncul di ujung anak panah logam yang dipegang oleh pemanah tersebut.

Itu adalah pola bundar, seperti pola cangkang siput mungil. Ukurannya sangat kecil.

Pola melingkar itu dengan cepat menyebar ke seluruh bagian mata panah layaknya tanaman rambat. Seluruh mata panah kini tertutupi oleh desain bundar. Terlihat seolah-olah sekawanan semut merah telah mengerumuni dan menutupi mata panah itu dengan rapat.

Mata Juhwan membelalak.

Mata panah yang sekarang tertutup pola merah itu tampak sedikit bergetar. Kemudian ujungnya membengkok ke bawah seiring dengan sebuah ketukan kecil.

"Pii! Pii! Piiib!"

Oz menggoyangkan tubuh mungilnya yang berbulu halus dengan penuh kegembiraan, menggeliat bahagia. Dia menggosokkan wajahnya ke lengan Juhwan. Seolah-olah dia sedang memohon untuk dipuji.

"Oz, kau…"

Sang unicorn bisa melumpuhkan makhluk hidup seperti manusia. Dan Oz bisa membengkokkan benda keras seperti logam?

Juhwan menatap Oz, lalu kembali menatap unicorn itu.

Mungkin ini hanya perasaannya saja, tetapi unicorn itu terlihat murung. Ia mungkin mengharapkan pujian, namun malah membuat Juhwan ketakutan pada akhirnya.

Juhwan kembali menatap Oz dan bergumam. "Kau bisa membengkokkan benda yang keras."

Tempat di mana Oz menciptakan pola pada monster Orthos waktu itu adalah di bagian giginya. Mungkin, bahkan jika pola itu tidak terlihat dari luar, pola tersebut telah muncul di suatu tempat di dalam tubuh makhluk itu, yaitu pada struktur tulangnya.

Juhwan menatap wajah Oz lekat-lekat. "Lalu wortel yang menjerit itu..."

Ah, jadi begitu. Juhwan mengerti dan mengangguk.

Tidak peduli apakah targetnya tak bernyawa seperti logam atau gigi. Jika sesuatu, bahkan sebuah tanaman, cukup keras, kelinci kecil ini rupanya bisa membengkokkan apa saja.

Juhwan tidak tahu persis bagaimana dia melakukannya, tapi Oz pasti telah memanipulasi lapisan luar yang keras dari wortel raksasa waktu itu dan menjebak kekuatan mana di dalamnya.

Oz mengedutkan hidungnya. Dia memiringkan kepalanya dan menatap Juhwan.

Kenapa kau belum memujiku? Sepertinya itulah yang sedang dia tanyakan.

Juhwan dengan lembut membelai bulu lembut Oz dengan jemarinya. Oz menutup matanya dengan rasa nyaman dan menyerahkan dirinya pada usapan tangan Juhwan. Jika ia adalah seekor kucing, ia pasti sudah mendengkur pelan.

"Jadi seperti itu rupanya."

Oz dan si unicorn adalah sama. Mereka adalah jenis makhluk yang sama.

Kemampuan yang bisa mereka gunakan memang berbeda, namun keduanya mampu membaca pikiran dan keduanya memiliki kekuatan yang mengerikan.

Kata-kata gadis kecil itu kembali terngiang di benaknya. Rudolph adalah zentangle, begitu katanya.

"Jadi itu alasannya."

Entah gadis itu memahaminya secara mendalam atau tidak, siapa pun yang pertama kali menyematkan istilah "zentangle" pada para Rudolph mungkin tidak melakukannya hanya karena sekadar pola-pola itu semata.

Semua Rudolph mengaktifkan kemampuan mereka dengan menggambar pola. Itulah sebabnya mengapa Rudolph disebut sebagai zentangle.

Namun, hakikat mereka mungkin sangat berbeda dari hewan atau monster biasa. Mereka adalah entitas yang sepenuhnya asing. Jadi mungkin kata itu mendefinisikan bahwa Rudolph—baik dalam hal kepribadian maupun kemampuannya—memang berbeda secara keseluruhan dari hewan pada umumnya.

Rudolph adalah zentangle. Tidak ada bedanya.

Oz dan sang unicorn adalah eksistensi yang sama. Semua Rudolph itu sama.

Juhwan hanya merasa lebih aman jika bersama Oz. Itu saja. Keduanya adalah makhluk dengan nalar yang tidak akan bisa dipahami sepenuhnya oleh manusia.

Apakah rentetan pemikiran ini juga tersampaikan kepada Oz dan sang unicorn?

Keduanya mungkin tidak benar-benar bisa merangkai pikiran secara harfiah layaknya manusia. Kemungkinan besar mereka hanya bisa menangkap gelombang emosi.

Juhwan menghela napas pelan. "…Aku akan memercayai Oz."

Jika Oz telah menerima sang unicorn, maka pasti ada alasannya. Dia tidak tahu mengapa Oz telah membuka hatinya kepada makhluk itu sejak pandangan pertama, tetapi jika kuda itu tidak dapat dipercaya, Oz tidak akan membiarkannya masuk ke dalam lingkaran keluarga mereka.

Ya, pasti begitu.

Selain itu, ini memang baru sebatas tebakan, namun sesama Rudolph sepertinya bisa berkomunikasi satu sama lain. Sebelum Oz membengkokkan mata panah tadi, unicorn itu jelas terlihat mendorong dan menyemangatinya untuk melakukan hal tersebut.

Mungkin ia yang telah mengajari Oz cara menggunakan kekuatannya. Atau mungkin ia sekadar memberinya dukungan moril dan menyuruhnya untuk memberanikan diri.

Dia tidak tahu pasti, tapi Juhwan merasa bahwa unicorn itu mengambil peran seperti seorang kakak perempuan atau pembimbing bagi Oz.

"Atau jangan-jangan unicorn ini adalah ibu Oz."

Sekalipun spesies wujud mereka berbeda, mereka berdua sama-sama Rudolph. Mungkin Rudolph bisa bereproduksi lintas spesies. Siapa yang tahu? Barangkali seekor unicorn Rudolph pernah melahirkan seekor kelinci bertanduk, dan kelinci itu pun tumbuh menjadi seekor Rudolph.

Hiiing.

Unicorn itu meringkik dengan nada sedih.

Juhwan tidak bisa membedakan apakah itu berarti sangkaan liarnya tadi salah, atau apakah ia sedih karena hanya Oz yang mendapat pujian.

Ketika Juhwan melangkah mendekat dan mengelus surainya, unicorn itu menggosok-gosokkan kepalanya ke tubuh Juhwan beberapa kali.

Ia sekarang benar-benar bisa mengerti mengapa pihak guild begitu heboh mengenai Kontraktor Santa dan para Rudolph. Jika makhluk dengan kemampuan semengerikan ini benar-benar ada, wajar saja jika orang-orang akan membuat keributan besar.

"Haa…"

Entah bagaimana ceritanya, sekarang ia malah ketambahan satu Rudolph lagi sehingga punya dua. Juhwan tanpa sadar menengadah menatap langit.

Pikirannya terasa campur aduk.

Jika dua makhluk ini terus bersama, apakah mereka akan terus mengundang satu demi satu insiden gila? Ia sudah mulai merasa khawatir akan masa depan perjalanannya.

Namun bagaimanapun juga, dia tidak punya waktu untuk terus melamun di sini. Dia harus membereskan urusan dengan para bandit ini.

Helaan napas demi helaan napas terus meluncur.

Unicorn itu dengan lembut menyundul tubuh Juhwan menggunakan kepalanya. Ia tampak khawatir karena majikannya terus-terusan mendesah.

Setelah menyundulnya beberapa kali, unicorn itu tiba-tiba meringkik. Matanya, yang seolah-olah sedang memeriksa kondisi Juhwan hingga beberapa detik yang lalu, kini mulai berbinar cerah.

Apakah berlebihan jika dikatakan bahwa makhluk itu seolah-olah baru saja mendapatkan ide yang brilian?

Hiiing.

Unicorn itu meringkik lagi, terdengar penuh kemenangan, dan tanduknya mulai memancarkan pendar cahaya pucat.

"Ada apa lagi kali ini?"

Merasakan firasat aneh, Juhwan dengan cepat menoleh ke arah sekumpulan bandit tersebut.

Pada detik itu juga, bruk, bruk, bruk—tubuh para bandit itu berjatuhan ke tanah.

Semua itu terjadi dalam satu tarikan napas. Belasan bandit yang tersisa ambruk di tempat mereka berdiri, bagaikan jangkrik yang merayap keluar dan meninggalkan cangkang kosongnya.

Setelah itu, tak satu pun dari mereka bergerak lagi.

Saat Juhwan mendekat dan memeriksanya, mata mereka masih terbuka lebar, tetapi mereka semua sudah tak bernyawa.

Semuanya. Tak ada satu pun yang tersisa.

"Bahkan tidak butuh waktu satu detik."

Ini benar-benar terjadi dalam sekejap mata.

Dan seolah-olah tugasnya kini telah tuntas, pola-pola yang terukir menutupi kulit para bandit itu perlahan-lahan mulai memudar. Dari wajah dan punggung tangan mereka, dari antara gambar-gambar yang tak terhitung jumlahnya, satu per satu pola lenyap, menyisakan ruang-ruang kosong yang menyebar.

Hingga pada akhirnya, tidak ada satu pun pola merah yang tersisa. Tidak ada jejak apa pun. Seolah-olah apa yang baru saja dia saksikan hanyalah fatamorgana.

Ketika dia menoleh ke arah si unicorn, makhluk yang tadinya mendengus kegirangan itu tiba-tiba mematung.

Ia tampaknya mengira bahwa ia telah melakukan satu kesalahan lagi. Unicorn itu sedikit menundukkan kepalanya dan melirik dengan cemas ke arah wajah Juhwan.

Tidak apa-apa. Kau sudah bekerja dengan sangat baik.

Juhwan mencoba membisikkan kalimat itu tulus dari dalam hatinya.

Raut wajah unicorn itu langsung kembali cerah. Ia dengan bangga mengangkat kepalanya dan mengibaskan surai putihnya yang berkilau sehalus benang sutra.

Ia jelas bisa membaca pikiran Juhwan. Namun, sepertinya ia tidak bisa mengawasi atau merasakan setiap hal dan detik pemikirannya setiap saat.

Juhwan menghampiri kereta dan mengetuk pintunya.

"Lizzie, sekarang sudah aman. Tapi jangan buka pintunya dulu. Tunggu sebentar lagi, baru kau boleh melihat ke luar."

Dia tidak ingin mempertontonkan pemandangan mayat bergelimpangan kepada istri dan anaknya. Meskipun mereka kini hidup di dunia yang keras, bukan berarti mereka harus membiasakan diri melihat pemandangan kejam seperti ini. Cukup bagi mereka untuk tahu bahwa seperti inilah ancaman di dunia luar. Mereka tidak perlu menyaksikan dengan mata kepala sendiri hal-hal yang Juhwan saksikan di setiap jam dan waktunya.

Suara Lizzie terdengar merespons dari balik pintu yang kokoh. "Baiklah, Juhwan. Apakah kau terluka?"

"Aku baik-baik saja. Aku tidak terluka sama sekali."

Oz melompat kembali ke arah kursi kusir. Ketika tubuh mungilnya menyelinap ke celah kereta, omelan Dorothy langsung terdengar.

"Oz! Tadi itu bahaya. Ayah sudah bilang, kan? Kamu tidak boleh keluar. Kita baru aman kalau kita diam di sini sama-sama! Kalau kamu tidak mau dengar kata-kata Ayah seperti itu, kamu bakal jadi kelinci yang nakal. Kamu mengerti?"

Setelah bekerja begitu keras membantunya, sepertinya Oz malah diomeli habis-habisan oleh Dorothy.

Yah, Dorothy dan Lizzie sama sekali tidak tahu situasi di luar, jadi mau bagaimana lagi. Teringat akan wajah kelewat bangga Oz setelah berhasil membengkokkan anak panah tadi, Juhwan tertawa pelan. Mungkin tadinya Oz ingin menyombongkan kemampuannya pada Dorothy juga.

Dug, dug, dug.

Suara entakan kaki kelinci di lantai kereta terdengar samar, seolah-olah Oz memprotes tak terima.

"Oz! Itu perbuatan yang nakal! Keretanya kesakitan sekarang. Coba pikirkan betapa sedihnya kereta ini nanti!" Sekali lagi, Dorothy kembali menceramahinya.

Juhwan terkekeh pelan, lalu berkeliling memunguti senjata-senjata peninggalan para bandit.

Bukan hanya senjata milik sang pemimpin, tapi senjata milik anak buahnya yang lain juga memiliki kualitas yang lumayan bagus. Mungkin itu karena mereka bukanlah bandit rendahan biasa, melainkan kelompok perampok yang cukup terorganisir.

Memang tak satu pun dari mereka mengenakan zirah pelindung besi yang mewah, tetapi beberapa dari mereka mengenakan zirah model rompi kulit. Baju zirah itu jelas tidak akan muat untuk tubuh Juhwan yang besar, tetapi toko senjata dulu juga mau membeli zirah bekas semacam ini.

Barang-barang ini bisa ditukar menjadi uang.

Setelah melucuti semua senjata dan zirah yang bisa dibawa, Juhwan naik ke atas kursi kusir dan mengentakkan tali kekang.

Klotak, klotak, klotak.

Suara derap tapak kaki kuda yang berirama ceria kembali bergema menyusuri jalan pegunungan.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments