Dia tumbang.
Juhwan benar-benar tak sadarkan diri.
Jantung Yeonhwa mulai berdebar kencang.
Pii… pii… pii…
Jeritan bayi kelinci bertanduk itu bergema menembus udara malam. Kekhawatiran bercampur dengan mana yang mengalir dari makhluk kecil tersebut.
Lizzie dan Dorothy bergegas menghampiri Juhwan yang tumbang, tetapi pria itu tetap terbaring di atas tanah yang dingin, tak bergerak sedikit pun.
Pria tua yang terluka dan pemuda itu mencoba mengangkatnya. Sepertinya mereka berusaha untuk memindahkannya ke suatu tempat. Namun tubuh lemas Juhwan terlalu berat bagi mereka. Keduanya tidak mampu mengangkatnya dengan benar.
Apakah aku telah membuat kesalahan?
Manusia itu memang lemah.
Tetapi, kontraktor Sinterklas tidak mati semudah itu. Semakin besar mana yang dimiliki seseorang, maka akan semakin kuat pula daya tahannya, dan tidak ada yang memiliki mana sebesar kontraktor Sinterklas.
Lagi pula, bayi kelinci bertanduk itu ada di sisinya. Walaupun masih muda, anak itu sudah mulai menggunakan kekuatannya. Yeonhwa pikir itu sudah cukup untuk melindungi tuannya. Dia mengira, asalkan Juhwan dan kelinci bertanduk itu bekerja sama, semuanya akan baik-baik saja.
Itulah sebabnya dia menilai bahwa dengan hanya mengawasi saja sudah cukup. Juhwan harus tumbuh dan berkembang, jadi dia merasa tidak seharusnya ikut campur.
Tetapi, mungkin dia telah salah.
A-apa yang harus kulakukan?
Hatinya terasa sesak karena dia tidak bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada Juhwan.
Setiap Rudolph di dunia ini memiliki tuan. Hati mereka saling terhubung, sehingga tanpa tuannya perlu mengucapkan sepatah kata pun, mereka sudah tahu apa yang diinginkan tuannya dan bagaimana kondisinya. Mereka dapat dengan sendirinya mengikuti kehendak tuannya.
Namun, Yeonhwa masih belum memiliki seorang tuan.
Hatinya belum terhubung.
Karena itulah, memahami manusia dan berbaur dalam kehidupan bermasyarakat selalu menjadi hal yang terlalu sulit baginya. Dia telah berusaha keras untuk mempelajari aturan-aturan yang harus dipatuhi manusia serta hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh manusia, namun dia selalu saja penuh dengan kesalahan. Dia tidak pernah benar-benar berbaur dengan manusia dan selalu hanya melayang-layang di luar dunia mereka.
Yeonhwa memang seekor Rudolph, namun dia belum menjadi Rudolph seutuhnya. Sejak tiba di dunia ini, dia hanyalah eksistensi yang tidak sempurna.
Yang didoakan wanita itu adalah sosok pelindung bagi putranya. Bukan untuk dirinya sendiri. Wanita itu tidak menginginkan sosok yang bergerak demi keinginannya sendiri, melainkan sosok yang bergerak demi putranya. Itulah alasan mengapa wanita itu tidak bisa menjadi tuan Yeonhwa.
Meskipun dia adalah kontraktor Sinterklas, dia bukanlah tuan Yeonhwa. Tuan Yeonhwa adalah putranya, Juhwan.
Namun Yeonhwa masih belum terhubung dengan Juhwan. Hatinya terasa gelisah dan bergejolak.
Dia ingin segera terhubung. Dia ingin berguna bagi Juhwan. Dia juga ingin menyampaikan pesan-pesan yang pernah dititipkan wanita itu kepadanya.
Wanita itu telah menceritakan begitu banyak hal tentang Juhwan padanya. Mulai dari tingkah lucunya, kebaikannya, masa-masa saat dia bertingkah menyebalkan, hingga masa-masa saat dia menjengkelkan… Yeonhwa mengetahui banyak kisah manis tentang Juhwan.
Ah, benar. Dia juga harus memberitahu Juhwan bahwa ibunya sangat, sangat menyayanginya. Wanita itu pernah meminta Yeonhwa untuk menyampaikannya suatu hari nanti, jika mereka diberi kesempatan untuk bertemu.
Yeonhwa segera melompat berdiri.
Bagaimana jika, saat dia menunggunya tumbuh, Juhwan malah menjadi tua dan berkeriput sepertinya? Bagaimana jika dia jatuh sakit? Bagaimana jika dia mati karena hal itu?
Ketidaksabaran melonjak di dalam dirinya hingga dia tidak bisa lagi diam di tempat. Dia tidak mau hanya sekadar menonton. Dia ingin berada di sisinya. Hati dan tubuhnya gemetar karena dorongan yang kuat untuk bertindak.
Tepat pada saat itu, seutas benang tipis perlahan mulai muncul dari kepala Yeonhwa. Benang itu berwarna merah.
Hah? Apakah ini…?
Ketika Sinterklas membuat kontrak dengannya, beliau telah menarik seutas benang dari baju merahnya. Beliau melilitkannya pada tanduk Yeonhwa yang saat itu masih kecil dan berkata kepadanya:
"Aku akan memberimu seutas benang ini. Saat anak ini siap untuk menerima tuannya, benang ini akan terhubung dengan sendirinya. Pada saat itu tiba, anak ini akan mengabulkan permintaanmu yang sesungguhnya."
Persis seperti apa yang dikatakan Sinterklas pada saat itu, benang merah Sinterklas melayang di udara di depan mata Yeonhwa dan melesat terbang ke arah Juhwan.
Ujung benang yang panjang dan membentang itu masuk dan menembus ke dalam jantung Juhwan.
Tak satu pun dari manusia di sana yang menyadarinya. Namun, bayi kelinci bertanduk itu membelalakkan mata hitamnya dan menatap lurus ke arah benang tersebut.
"Hehehehehehe."
Tawa pelan meluncur dari mulut Yeonhwa.
Berhasil. Dia telah menjadi seorang Rudolph sejati. Hatinya kini telah terhubung dengan tuannya.
Dan sekarang, dia tahu segalanya.
Juhwan belum mati. Dia memang terluka, namun dia akan baik-baik saja. Tubuhnya sudah mulai menyembuhkan luka-lukanya secara perlahan. Dia hanya kehilangan kesadaran karena mana-nya telah terkuras habis untuk penyembuhan.
Yeonhwa melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dan mulai berlari sekuat tenaga menuju Juhwan.
Tubuhnya, yang tadinya berbentuk gadis manusia, mulai berubah kembali ke wujud aslinya. Sebuah tanduk tumbuh dari dahinya, dan kedua tangan serta kakinya berubah menjadi kaki-kaki panjang. Surainya tumbuh memanjang menuruni lehernya dan berkibar lembut tertiup angin.
"Neeeeigh!"
Ringkikan yang kuat menggema dari mulutnya.
Wajah Juhwan sangat pucat hingga terlihat jelas meskipun di dalam kegelapan. Lizzie menjatuhkan dirinya di atas tubuh Juhwan yang tak berdaya.
"Juhwan! Juhwan!"
Seluruh tubuh Juhwan bersimbah darah.
Tangannya, pergelangan tangannya—ada luka yang sangat dalam hingga tulangnya terlihat. Wajah dan bahunya pun tak jauh berbeda. Sayatan panjang dari cakar monster buas itu menutupi sekujur tubuhnya.
Ya Tuhan.
Rasanya seolah-olah jantungnya baru saja dilemparkan ke dasar jurang yang gelap.
Tuhan, kumohon, jangan ambil pria ini. Hanya dialah yang kumiliki.
Lizzie berdoa dengan putus asa di dalam hatinya. Napasnya tersengal-sengal, sementara suara isakannya tertahan di tenggorokannya. Hatinya terasa begitu sakit hingga dia nyaris tidak bisa bernapas.
Dorothy mencengkeram bahunya dengan erat.
"Ibu, Ayah baik-baik saja, kan? Ayah itu sangat kuat. Ayah pasti baik-baik saja."
Suara anak itu yang bergetar menahan tangis terdengar hampir seperti jeritan.
Aku tidak bisa seperti ini.
Dia harus tetap tegar. Karena dialah ibunya.
Tapi dia tidak bisa. Dia tidak akan bisa hidup tanpa Juhwan. Hanya karena Juhwan ada di sisinya lah dia akhirnya bisa merasa seperti manusia. Seorang manusia yang utuh.
Tanpa Juhwan, dia bukanlah apa-apa. Hanya sekadar cangkang pohon keropos yang telah membusuk.
Jack mencoba mengangkat Juhwan, tetapi tenaganya habis dan dia pun jatuh terduduk. Dia menahan tubuhnya dengan tangan di tanah dan menggelengkan kepala.
"Aku setidaknya ingin menggendongnya kembali ke rumah, tapi aku tidak bisa. Pria ini terlalu besar. Tenagaku tidak cukup untuk memindahkannya."
Pria tua yang tampaknya adalah guru Jack mengangkat kelopak mata Juhwan. Kemudian dia meletakkan jari-jarinya di leher Juhwan dan terdiam sejenak. Sesaat kemudian, dia menghela napas lega.
"Dia baik-baik saja. Dia hanya pingsan."
Baru setelah mendengar kata-kata itulah Lizzie bisa kembali bernapas.
Rasanya seolah beban berat yang menekan kepalanya baru saja terangkat. Tenaganya seketika terkuras habis.
Baru saat itulah dia menyadari kondisi pria tua itu.
Keadaannya juga sangat memprihatinkan. Sepertinya bahu kirinya terluka parah. Pakaiannya robek, dan salah satu sisi tubuh bagian atasnya basah kuyup oleh darah. Dalam keadaan normal, dia mungkin akan merasa kasihan atau bersimpati.
Tetapi saat ini, dia tidak merasakan apa-apa.
Dengan keadaan Juhwan yang terluka parah, satu-satunya hal yang bisa menarik perhatian Lizzie hanyalah segala sesuatu yang berkaitan dengan suaminya. Lizzie pun kembali memusatkan perhatiannya pada Juhwan.
Pria tua itu memang bilang dia baik-baik saja, namun Juhwan tetap terbaring kaku, tak bergerak, seperti mayat. Hatinya kembali terbakar oleh kecemasan.
Apakah dia benar-benar baik-baik saja?
Dengan penuh ketakutan, dia dengan hati-hati meletakkan jarinya di bawah hidung Juhwan. Embusan napas yang sangat pelan perlahan menyapu jarinya secara teratur.
Dia baik-baik saja. Dia masih bernapas.
Lizzie merobek kain dari roknya dan membalut luka-luka Juhwan. Dia berdoa agar pendarahannya bisa berhenti, meskipun hanya sedikit. Dia berdoa agar rasa sakitnya berkurang, meskipun hanya sedikit.
Dengan doa yang terus terucap dalam hatinya, dia membalut tubuh suaminya dengan hati-hati.
Tanpa dia sadari, darah yang tadi mengalir deras kini hampir sepenuhnya berhenti.
Syukurlah... syukurlah... Dia mulai sembuh. Kekuatan Juhwan sedang menyembuhkannya. Dia tidak akan mati.
Air mata mengalir deras dari matanya.
Lalu, Oz tiba-tiba menjerit.
"Pii."
Suaranya berbeda dari saat kelinci itu sedang manja. Itu juga bukan jeritan peringatan, namun ada nada yang aneh dalam suaranya.
Apakah ada monster buas lain yang muncul?
Begitu pikiran itu terlintas di benaknya, Lizzie langsung menggenggam erat karambitnya dan berbalik. Dia harus melindungi Juhwan. Dia harus melindungi Dorothy. Saat ini, hanya dialah satu-satunya orang di sini yang bisa melindungi mereka berdua.
Namun, mata Lizzie membelalak seketika saat dia berbalik.
Melalui pandangannya yang kabur oleh air mata, dia melihat seekor kuda putih seputih salju berlari mendekati mereka. Sebuah tanduk panjang tumbuh dari dahi kuda itu. Bahkan di tengah kegelapan, tubuhnya memancarkan cahaya lembut. Partikel-partikel bercahaya tampak berjatuhan dari tubuhnya dan melayang bebas di udara.
"Ya Tuhan. Apakah itu... seekor unicorn?" gumam Jack.
Sebelum ada yang bisa memberikan reaksi, unicorn itu sudah berlari mendekat dan berhenti tepat di hadapan mereka.
"Neeeeigh!"
Unicorn itu meringkik lantang. Seolah-olah sedang bersemangat, makhluk itu mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi dan menendang udara sebelum akhirnya kembali merendahkan tubuhnya.
"Ah!"
Terkejut, Lizzie langsung mengacungkan karambitnya.
Unicorn itu mendorong tanduk di kepalanya ke bawah tubuh Juhwan.
Sesaat, jantung Lizzie mencelos, bertanya-tanya apakah unicorn cantik ini juga bermaksud untuk menyerang Juhwan.
Namun sebelum Lizzie sempat bertindak, tubuh Juhwan sudah terangkat ke udara. Tubuh yang sejak tadi gagal dipindahkan oleh Jack berkali-kali kini melayang naik dengan seringan kapas.
"T-tunggu! Apa yang akan kau lakukan pada Juhwan?"
Sementara Lizzie yang panik berusaha berdiri, unicorn itu sudah menempatkan Juhwan di atas punggungnya dan mulai berjalan menjauh dengan langkah kaki yang pelan dan stabil.
"Oz! Ayah dibawa pergi!" teriak Dorothy.
Namun Oz sama sekali tidak berusaha menyerang unicorn itu. Biasanya, dia pasti sudah melakukan sesuatu, namun kini Oz malah melompat-lompat mengikuti dari belakang.
Tangan dan kaki Juhwan bergoyang-goyang karena dibiarkan menggantung di kedua sisi tubuh unicorn itu. Dengan panik, Lizzie segera meraih tangan Juhwan.
Bagaimana jika guncangan itu membuatnya kesakitan? Bagaimana jika dia terjatuh? Hatinya berdebar cemas.
Unicorn itu tampaknya berjalan perlahan, namun gerakannya jauh lebih cepat dibandingkan dengan langkah kaki Lizzie. Sambil terus menggenggam tangan Juhwan, Lizzie pun mempercepat langkahnya.
Dorothy juga berlari di samping mereka, dengan lantang menyuruh Oz untuk menyelamatkan ayahnya.
"Pii, pii."
Seolah mencoba menenangkannya dan memberitahunya bahwa semuanya baik-baik saja, Oz memekik pelan dan melompat ke atas kepala Dorothy.
Dorothy, yang kebingungan harus berbuat apa, mengangkat kedua lengannya lalu menurunkannya lagi. Saat dia terus berlari mengikuti unicorn itu, sesekali dia menatap Lizzie dengan wajah yang siap untuk menangis.
Anehnya, entah bagaimana, Lizzie merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Saat dia mendengar jeritan pelan Oz, dia merasa seolah-olah unicorn itu bukanlah musuh, melainkan salah satu dari sekutu mereka.
Sebenarnya, unicorn itu memang tidak menunjukkan tanda-tanda ancaman sedikit pun. Saat memperhatikan gerakannya dari dekat, Lizzie bisa melihat bahwa makhluk itu berjalan dengan sangat berhati-hati, memusatkan perhatiannya agar Juhwan tidak sampai terjatuh.
Ditambah lagi, tatapan mata unicorn itu begitu lembut, seolah-olah dia akhirnya bertemu dengan seseorang yang telah sangat dirindukannya untuk waktu yang sangat lama.
Aneh. Entah bagaimana, Lizzie merasa seolah-olah dia pernah melihat unicorn ini di suatu tempat sebelumnya. Jika dia pernah melihat unicorn secantik ini, tidak mungkin dia akan melupakannya.
Sungguh aneh.
Unicorn itu perlahan mendekati kereta dan menggunakan tanduknya untuk membuka pintu. Kemudian, dia mengibaskan tubuhnya dengan pelan.
Sepertinya dia mencoba untuk memindahkan Juhwan ke dalam kereta. Namun tanpa tangan, sangat sulit baginya untuk melakukan tindakan yang begitu teliti hanya dengan mengandalkan tubuhnya.
Jack, yang terus mengikuti mereka, perlahan mendekati sisi unicorn itu sambil mengawasi reaksinya.
Tatapan unicorn itu tampaknya sedikit menajam.
"Aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya ingin membantu," ucap Jack seolah memberikan alasan. Unicorn itu mendengus dan menggelengkan kepalanya. Surai putihnya menebarkan serpihan cahaya ke udara malam, tampak indah layaknya pemandangan dari dalam mimpi.
"Uh... apa kau menyuruhku untuk bergegas?" gumam Jack, lalu meletakkan kedua tangannya ke tubuh Juhwan.
Unicorn itu menempelkan tubuh Juhwan ke dekat pintu kereta, sedikit membungkuk, dan mengibaskan tubuhnya.
Memanfaatkan momentum itu, Jack menarik Juhwan masuk ke dalam kereta. Tetapi tenaganya tidak cukup kuat. Tepat ketika tangan Jack tergelincir, unicorn itu dengan cepat menolehkan kepalanya dan mendorong tubuh Juhwan. Tubuh berat Juhwan pun meluncur masuk ke dalam kereta dengan mudah.
Syukurlah.
Lizzie segera melompat ke dalam kereta, sementara Jack melangkah mundur.
Lizzie membasahi sehelai handuk dengan air dan menyeka darah dari tubuh Juhwan.
Entah sejak kapan, luka-luka Juhwan mulai menutup. Dagingnya yang terkoyak dari dalam secara perlahan mulai menyatu kembali dengan tulang dan ototnya.
Syukurlah.
Lizzie menggenggam tangan Juhwan dan menempelkan dahinya pada tangan suaminya itu. Air matanya menetes, satu per satu, jatuh membasahi lantai kereta.
"Ibu... Ayah? Ayah kan kuat, jadi Ayah pasti baik-baik saja, kan?" tanya Dorothy dengan suara pelan yang ketakutan.
"Ayah baik-baik saja. Ayah punya kekuatan penyembuh, ingat? Luka-lukanya sudah mulai menutup. Ayah tidak apa-apa. Ayah hanya sedang tidur."
Dorothy terduduk lemas di lantai kereta dan bergumam.
"Dorothy sudah tahu. Ayah itu sangat kuat."
Suara anak itu masih bergetar.
Lizzie menarik anak itu ke dalam pelukannya dengan sebelah tangannya. Air mata Lizzie menetes dan jatuh membasahi wajah Dorothy.
Dorothy memeluk Lizzie erat-erat dan kembali bergumam.
"Dorothy sudah tahu. Aku tahu Ayah sangat, sangat kuat, jadi Ayah pasti akan baik-baik saja. Aku sudah tahu."
Bocah kecil itu pun terisak pilu dalam pelukan ibunya.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments