Cerita Sampingan: Hidup Selalu Kejam
Musim gugur yang lalu, para prajurit dari Kerajaan Tyrone di seberang perbatasan menjarah desa tersebut.
Tragedi itu merenggut nyawa kedua putri seorang wanita. Mereka dinodai dengan sangat keji oleh para prajurit. Satu putrinya meninggal tak lama setelah kejadian itu, sementara yang satunya lagi memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Sekalipun putrinya itu tetap hidup, tidak ada masa depan yang baik yang menantinya. Perlakuan brutal para prajurit itu telah menghancurkan tubuhnya tanpa sisa.
Tepat sebelum musim dingin tiba, seekor monster buas mulai memangsa penduduk desa. Pada hari salju pertama turun, sang suami tewas di tangan monster buas berkepala dua itu.
Makhluk itu menggigit lehernya. Namun, anehnya, bahkan setelah lehernya digigit dan tubuhnya diseret pergi oleh sang monster, suaminya masih hidup. Wanita itu tidak mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi. Darah mengucur deras dari tubuh suaminya, namun pria itu terus menjerit kesakitan saat diseret menjauh.
Kini, satu-satunya anggota keluarga yang tersisa hanyalah putra kecilnya yang baru berusia enam tahun.
Di desa terpencil semacam ini, anak yang baru lahir sering kali mati dengan cepat. Sangat jarang ada anak yang bisa bertahan hidup hingga usia tiga atau empat tahun. Putranya adalah satu-satunya anak yang dilahirkannya yang berhasil bertahan hidup. Tubuhnya sangat kurus, tetapi bagi seorang wanita yang telah kehilangan suami dan anak perempuannya, bocah itu adalah satu-satunya kerabat sedarah dan keluarga yang ia miliki.
Wanita itu mengemis dari pintu ke pintu untuk memberi makan putranya, bertekad keras untuk menjaga anak itu tetap hidup dengan cara apa pun.
Ketika benar-benar tidak ada lagi yang bisa dimakan, ia menggali tanah, merebusnya dengan air, dan memakannya. Namun, dari hari ke hari, ia bisa melihat anaknya perlahan-lahan sekarat.
Beberapa hari yang lalu, kepala desa yang masih muda mengadakan pertemuan warga. Ada beberapa desa yang, ketika keadaan menjadi sangat putus asa, warganya mencoba menenangkan para dewa dengan mengorbankan manusia. Di tempat-tempat seperti itu, syarat utamanya adalah sang tumbal harus menyerahkan nyawanya dengan sukarela. Mereka percaya bahwa hanya dengan cara itulah kemarahan dewa akan mereda dan berkat akan diturunkan.
Oleh karena itu, desa-desa tersebut sering kali mencari orang yang bersedia menjual diri mereka secara sukarela alih-alih menggunakan budak paksaan.
Kepala desa mengatakan bahwa ia menerima kabar ada desa semacam itu yang sedang mencari seseorang. Jika keadaan terus begini, seluruh warga di desa mereka akan mati kelaparan. Semua orang pun sepakat bahwa untuk bisa bertahan hidup, mereka tidak punya pilihan selain mengorbankan seseorang.
Jika mereka mengirimkan satu orang, mereka akan menerima sedikit gandum sebagai gantinya. Makanan itu tidak akan cukup untuk semua orang. Tujuannya hanyalah untuk menyelamatkan nyawa beberapa penduduk yang lebih muda demi masa depan desa. Dengan gandum tersebut, setidaknya mereka bisa bertahan melewati sisa musim dingin.
Mereka memilih korban dengan cara mengundi menggunakan batang kayu. Beberapa batang kayu tipis dimasukkan ke dalam wadah besar. Salah satu batang telah diberi tanda warna.
Kepala desalah yang menandainya. Hanya dia yang tahu batang mana yang berwarna. Dari luar, tidak ada yang bisa membedakannya.
Setelah mengocok wadah tersebut untuk mengacak isinya, para wanita berusia di atas empat puluh tahun berbaris dan mengambil satu batang kayu. Para pria dan wanita muda tidak ikut diundi. Mereka harus tetap hidup untuk bekerja dan melahirkan anak demi masa depan desa.
Beberapa wanita mengambil batang kayu dan menghela napas lega. Dan pada akhirnya, orang yang menarik batang kayu berwarna itu adalah dirinya.
Putranya, yang akan segera menjadi sebatang kara, rencananya akan diadopsi oleh kepala desa dan dibesarkan hingga dewasa. Keberangkatannya dijadwalkan dalam beberapa hari, saat orang-orang dari desa pemuja dewa itu datang untuk menjemputnya.
Sebagai imbalan dari pengorbanannya, ia menerima sedikit tepung dan daging kering. Masing-masing penduduk desa menyumbangkan sedikit dari apa yang mereka miliki. Untuk sekali ini, ia berpikir akhirnya bisa memberi makan anaknya sampai kenyang.
Di bawah cahaya sore yang remang-remang, saat ia sedang merebus air dan memasukkan daging kering untuk membuat sup, monster buas itu masuk ke desa.
Putra kecilnya yang berusia enam tahun direnggut.
Ia hanya bisa menatap nanar saat kilau kehidupan memudar dari mata bocah itu ketika tubuhnya diseret pergi. Ia berdiri kaku di sana, menatap kosong ke wajah anaknya.
Ia tahu ia harus menyelamatkannya, tetapi kakinya gemetar begitu hebat karena ketakutan hingga ia tak bisa melangkah maju. Pemburu monster buas tiba tak lama setelah itu, tetapi ia sadar bahwa sudah terlambat untuk menyelamatkan putranya.
Ibu macam apa dia ini? Padahal anak itu sangat berharga baginya.
Nyawanya sendiri—yang bagaimanapun juga akan berakhir dalam beberapa hari—ternyata terasa begitu berharga hingga membuatnya menjadi pengecut yang tak mampu menyelamatkan anaknya.
Sejak saat itu, setiap kali malam tiba, wanita itu duduk meringkuk di luar rumahnya dengan sebilah pisau di tangan, menunggu sang monster buas kembali. Ia membungkus tubuhnya dengan selimut terakhir yang ia miliki dan menatap hampa ke udara.
Kali ini, ia meyakinkan dirinya sendiri, aku pasti akan menerjang monster itu.
Dan akhirnya, monster buas itu muncul.
Ia melihat makhluk itu lewat tanpa suara di hadapannya. Monster itu tampaknya tidak menyadari keberadaannya.
Aku harus bangun. Aku harus menusuknya sekarang. Ia berpikir begitu, namun rasa takut kembali mengikat erat tubuhnya. Bau busuk menyengat menguar di udara. Di tengah kegelapan, mata monster itu berkilat terang.
Entah karena ia sudah terlalu lama terpapar udara dingin, atau karena ia terlalu ketakutan, tubuhnya benar-benar tak mau bergerak.
Saat tubuhnya sedikit tersentak, monster buas itu menoleh ke arahnya.
Ia telah ketahuan. Sekarang, ia pasti akan mati.
Namun, bahkan setelah melihatnya, makhluk itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Seolah-olah ia hanya melihat seekor serangga di pinggir jalan. Atau seolah-olah ia hanya melihat sebutir kerikil yang tak bernyawa dan tak berarti.
Monster itu dengan acuh tak acuh memalingkan pandangannya.
Ah. Saat itulah wanita itu mengerti.
Ternyata, sejak awal monster ini sudah tahu bahwa ia ada di sana. Makhluk itu hanya tidak peduli. Ia mengabaikannya karena menganggap wanita itu sama sekali bukan ancaman baginya.
Dengan tenang, monster buas itu menggerakkan tubuhnya yang berwarna segelap malam, lalu berjalan melewatinya.
Mata putranya kembali terbayang di benaknya. Wajah penuh ketakutan itu tidak mau hilang dari pandangannya, tidak sedetik pun, tidak sekejap pun.
Jika ia membiarkan monster buas ini pergi sekarang, ia akan terus dihantui oleh tatapan putranya itu sampai tiba saatnya ia mati sebagai tumbal.
Wanita itu seketika melompat berdiri dan berlari menerjang sang monster buas.
"Dasar monster!"
Mati. Mati. Mati.
Ia mengayunkan tangannya yang menggenggam pisau dengan membabi buta.
Tolong, makanlah aku. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi.
Walau begitu, aku terlalu menyayangi nyawaku sendiri hingga tak mampu melindungi anakku. Jadi kumohon, cabik-cabiklah aku dengan taring kejammu itu dan bunuhlah aku.
Namun, hidup ini selalu kejam. Ia tidak bisa mati di saat ia sangat menginginkannya.
Beberapa hari kemudian, dituntun oleh orang-orang dari desa lain, wanita itu diseret ke sebuah tebing pengorbanan.
Ia harus menjatuhkan dirinya dari tebing itu secara sukarela. Itulah syarat utamanya.
Ia melangkah maju selangkah dan memejamkan matanya rapat-rapat.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Lalu, pada satu titik, tubuhnya terjerembap ke bawah.
Brak.
Suara benturan bergema ke seluruh tubuhnya. Saat tubuhnya terhempas dalam ke atas tanah di dasar tebing, ia akhirnya terbebas.
Pada akhirnya, ia akan mati. Pada akhirnya, ia bisa meninggalkan dunia yang tandus ini dan menyusul keluarganya.
Ia merasa lega.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments