Tangan Juhwan membeku tepat saat dia hendak melepaskan mana apinya.
Jika dia membakar area di sekitar Orthos sekarang, wanita itu akan mati.
Dia menatap ke dalam kegelapan di kejauhan. Sesuatu di tangan wanita itu berkilat samar.
Wanita itu memegang sebilah pisau.
Tak seorang pun akan berpikir dia bisa membunuh monster buas dengan pisau semacam itu. Juhwan langsung mengerti.
Wanita itu sedang berusaha bunuh diri.
Helaan napas kecil keluar dari mulut Juhwan.
Dia pasti telah kehilangan keluarganya. Dada Juhwan terasa sesak dan sakit. Juhwan tahu lebih dari siapa pun bagaimana rasanya kehilangan keluarga. Dan jika keluarga wanita itu tidak sekadar mati, melainkan diseret dan dimakan hidup-hidup oleh monster buas, maka tentu saja dia ingin mati menyusul mereka.
Juhwan bisa memahaminya.
Juhwan membulatkan tekad dan mengalirkan mana ke dalam obornya.
Terkadang, kematian bisa menjadi sebuah belas kasih.
Sekali lagi, di tengah kegelapan, obor di tangannya memancarkan cahaya yang sangat terang. Dia baru saja hendak melemparkan mana apinya ketika Jack, si murid pemburu monster buas, berteriak dan berlari ke arah wanita tersebut.
"Apa yang kau lakukan?! Bukankah aku sudah bilang jangan pergi ke arah sana?!"
Jack berteriak dengan marah sambil mengejarnya hingga dia berada tepat di belakang wanita itu.
Dia terlalu dekat dengan Orthos.
"Sialan."
Alis Juhwan berkerut tajam. Dia tidak bisa membiarkan pria itu mati juga.
Sebuah umpatan meluncur begitu saja dari mulutnya. Juhwan melirik sekilas ke arah Oz di sampingnya.
"Oz, aku mengandalkanmu."
Hanya satu kalimat singkat, namun maknanya sangat jelas: Jangan tinggalkan sisi Lizzie dan Dorothy.
Juhwan kemudian membuang obornya dan berlari lurus menerjang Orthos. Tidak peduli bagaimana cara dia melawan Orthos, dia tidak boleh membiarkan monster itu mendekat ke arah kereta. Jika dia harus bertarung melawannya, medan pertempuran harus berada sejauh mungkin.
Hanya ada satu kesimpulan yang tersisa. Dia harus maju dan melawannya sendiri.
Selama waktu singkat saat Juhwan berlari ke arah Orthos, Jack mencengkeram wanita itu lalu berteriak, memarahi, serta membentaknya.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" "Apa kau gila? Kembali ke sini sekarang juga!" "Apa urusannya denganmu?!" "Kau pikir aku mau diam saja melihat orang lain dibunuh oleh monster buas tepat di depan mataku?! Dasar wanita bodoh!"
Jack mendaratkan tinjunya ke perut wanita itu.
Saat wanita itu membungkuk kesakitan dan jatuh tersungkur, pisaunya terlepas dari genggamannya.
"Apa kau tahu bagaimana aku harus bertahan hidup setelah orang tuaku dimakan monster? Jika kau mati, apa yang akan terjadi pada keluargamu yang tersisa? Apa kau tahu bagaimana rasanya anggota keluarga yang ditinggalkan harus hidup setelah melihat darah daging mereka sendiri dimakan tepat di depan mata mereka?!"
Jack berteriak, lalu memanggul wanita itu di bahunya. Kemudian dia berlari menjauh.
"Aku menjadi pemburu monster buas untuk menciptakan dunia di mana orang-orang tidak mati karena monster-monster itu!"
Teriakan Jack bergema menembus kegelapan malam.
Setiap orang punya kisahnya masing-masing. Dibandingkan dengan orang-orang malang yang hidup di dunia ini, mungkin apa yang telah dialami Juhwan di Bumi hanyalah hal sepele. Setidaknya, di antara orang-orang yang menyedihkan di dunia ini, dia mungkin salah satu yang paling beruntung.
Amarah yang sempat melonjak di dalam dirinya kehilangan arah dan memudar dengan sendirinya.
Tidak ada yang bisa dia lakukan. Apa yang sudah terjadi, biarlah terjadi.
Untungnya, Orthos sama sekali tidak mempedulikan Jack maupun wanita itu. Monster itu hanya menatap lurus ke arah Juhwan.
Mata binatang buas yang haus akan mana itu berkilat mengerikan di dalam kegelapan. Saat Juhwan semakin dekat, tubuh Orthos—yang tadinya hanya terlihat seperti bayangan—kini mulai terlihat dengan jelas.
Ukurannya sangat besar. Jauh melebihi ukuran anjing biasa.
Kakinya memang pendek, namun tinggi kepala Orthos hampir mencapai bahu Juhwan. Tubuh kekarnya berdiri sambil menggeram ke arahnya. Keempat cakarnya yang besar mencengkeram tanah. Otot-otot di kakinya yang tegang terlihat seolah-olah siap untuk menendang tanah dan melompat maju kapan saja.
Mana merembes keluar dari seluruh tubuh Orthos, menekan dan mengintimidasi area sekitarnya.
Juhwan memang tidak bisa merasakan aliran mana di tubuhnya sendiri dengan begitu jelas, tetapi dia bisa merasakan mana yang memancar kuat dari monster buas tersebut. Rasanya seolah-olah kepadatan udara di sekelilingnya meningkat, mendorong segala sesuatu di sekitarnya layaknya terjangan tsunami.
Pantas saja satu atau dua pemburu monster tidak akan cukup untuk menghadapi makhluk seperti ini. Dia kini mengerti mengapa pihak guild begitu cemas dan ingin segera mengirimkan bantuan tambahan.
Dan dia juga mengerti kenapa jumlah pemburu monster buas sangatlah sedikit. Jika mereka harus memburu makhluk semacam ini, wajar saja kalau hanya sedikit orang yang mau sukarela mengajukan diri. Seberapa besar pun bayarannya, tidak mungkin lebih berharga daripada nyawa mereka sendiri.
Ini tidak akan mudah.
Mulutnya terasa kering. Juhwan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan mana dan menatap tajam ke arah monster buas itu.
Makhluk itu tampak tidak memiliki bulu. Kalaupun ia memiliki bulu, bulu itu pastilah sangat pendek. Dalam kegelapan ia tampak hampir hitam legam, meskipun Juhwan tidak tahu bagaimana warna aslinya jika dilihat di bawah cahaya terang.
Seluruh tubuhnya tampak terbuat dari gumpalan otot. Otot-otot yang keras menonjol padat di sekujur tubuhnya. Setiap kali makhluk itu bergerak, otot-otot itu beriak dan mengembang.
Ia memiliki satu tubuh, tetapi kedua wajahnya bergerak secara terpisah.
Satu kepala memiliki telinga runcing yang berdiri tegak, sementara telinga kepala yang satunya lagi terlipat ke belakang. Meskipun keduanya terlihat sama, ekspresi mereka berbeda. Tidak seperti lengan atau kakinya, kedua kepala ini tampak seolah-olah merupakan dua individu yang sama sekali berbeda.
Dua anjing yang berbeda hidup berdampingan di dalam satu tubuh.
Grrrrr.
Orthos memamerkan deretan taringnya dengan geraman buas. Air liur menetes dari kedua mulutnya. Air liur transparan itu meregang seperti lem kental sebelum akhirnya menetes ke tanah.
Sepertinya makhluk ini benar-benar menganggapku sebagai mangsanya.
Tanpa sadar, Juhwan tersenyum. Perasaan tegang dari beberapa saat yang lalu lenyap, digantikan oleh rasa angkuh yang mulai membara.
Beraninya makhluk sepertimu.
Pikiran itu menguasai seluruh tubuhnya. Rasanya seolah-olah dia kembali ke masa lalu, kembali ke masa SMA ketika dia berkeliaran di jalanan untuk melampiaskan amarahnya pada kehidupan.
Saat itu, siapa pun yang berani mencari masalah dengannya pasti akan dia hajar habis-habisan.
Sekarang pun sama saja. Tidak peduli lawannya itu manusia atau monster buas. Jika makhluk ini berani menyerangnya, dia akan menghadapinya.
Majulah.
Juhwan melebarkan posisi kakinya dan merendahkan pinggangnya dengan luwes.
Orthos tampaknya juga mengerti apa arti postur tersebut. Dengan wajah yang seolah ingin mencibir kesombongan Juhwan, Orthos merendahkan tubuhnya. Otot-ototnya menegang layaknya karet gelang yang ditarik hingga nyaris putus.
Monster itu bersiap untuk menyerang.
Grrrr. Grrrrr.
Geraman Orthos terdengar semakin keras. Air liur terus mengalir deras dari kedua mulutnya yang menganga.
Kemudian, salah satu kepala Orthos yang menghadap langsung ke arah Juhwan memancarkan kilauan samar dari dalam mulutnya. Ada sesuatu di bagian dalam, tepat di pangkal lidahnya.
Sebelum Juhwan bisa memastikan benda apa itu, tubuh Orthos telah melompat membelah udara dan menerjang ke arahnya.
Kedua kepalanya bergegas untuk menggigit Juhwan secara bersamaan. Deretan gigi tajam mendekatinya dari kedua sisi, meneteskan air liur saat mereka bergerak.
Juhwan segera membalut lengannya dengan api.
Salah satu kepalanya melihat kobaran api itu dan tersentak, mundur ke belakang karena terkejut. Juhwan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia melayangkan tinju ke arah kepala Orthos tersebut.
Dengan suara wusss, kepala itu terhempas ke samping. Tetapi kepala yang satunya lagi langsung menerkam dari arah kiri.
Kepala yang ini tidak takut pada api. Jika salah satu dari keduanya adalah sosok pemimpin, kemungkinan besar adalah kepala yang satu ini.
Tinju Juhwan yang berbalut api kembali membelah udara. Suara tumpul dari daging dan tulang yang dihajar bertubi-tubi terdengar bersahutan. Bau daging Orthos yang hangus terbakar terasa sangat memualkan.
Kurururur.
Kepala kanan—sang pemimpin—mengeluarkan suara aneh dan mengincar leher Juhwan. Napasnya yang bau busuk menyapu udara. Tepat saat Juhwan menghindari gigitannya, kepala yang satunya lagi berusaha menggigit tangannya.
Dia dengan cepat menundukkan tubuhnya, tetapi gigi tajam itu menyerempetnya, membuat darah menyembur ke udara. Juhwan segera melancarkan serangan balik, menyarangkan lututnya dengan keras ke leher makhluk tersebut.
Diiringi suara tercekik, mata Orthos memutih.
Juhwan terus menjaga kobaran api yang menyelimuti tubuhnya setiap saat. Setiap kali dia memukul, daging monster itu terbakar, tetapi bagian-bagian tersebut dengan cepat beregenerasi kembali.
Layaknya ekor kadal yang tumbuh kembali, makhluk itu tampaknya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dan memulihkan tubuhnya sendiri.
Cara ini tidak akan berhasil.
Bertarung dengan cara seperti ini adalah hal yang mustahil. Dia tidak akan bisa membunuhnya hanya dengan memberikan luka kecil.
Juhwan lalu mengalirkan mana sebanyak mungkin ke lengannya dan memukul Orthos dengan telak. Api menyembur terang benderang saat tubuh Orthos terdorong paksa ke belakang. Makhluk raksasa itu terhuyung-huyung dan miring ke satu sisi.
Tepat ketika kaki monster itu kehilangan pijakannya di tanah, Juhwan kembali menghajarnya berulang kali. Api dan angin bangkit bersamaan, menghantam Orthos dengan dahsyat.
Orthos tumbang diiringi jeritan yang melengking.
Juhwan membalikkan tubuh makhluk itu, lalu mencengkeram ekor dan salah satu kakinya. Api yang menyelimuti tubuhnya membakar daging Orthos. Binatang buas itu menjerit dan meronta-ronta, tetapi Juhwan menahannya erat-erat. Cakar-cakarnya yang panjang menggores tubuh Juhwan tanpa ampun.
Mengabaikan rasa sakit itu, Juhwan menyeretnya ke arah tempat dia menyembunyikan resin.
Kedua kepala Orthos melolong dan meronta dengan liar di udara. Setelah menyeret monster itu tepat ke atas timbunan resin, Juhwan melepaskannya dan melempar tubuhnya sendiri ke belakang.
Pada saat yang sama, api melesat dari tangannya. Kobaran api itu menembus udara malam dan menyentuh tanah.
Seketika itu juga, api berkobar hebat di sekeliling Orthos. Nyala api yang terang menelan tubuh binatang buas itu dan membumbung tinggi ke langit malam.
Terkejut, Orthos mengeluarkan jeritan yang mengerikan dan mencoba melarikan diri. Juhwan mencabut kapak dari pinggangnya dan melompat maju. Dia mengayunkannya kuat-kuat tepat di antara kedua kepala monster itu.
Kapak itu menancap di area celah tubuhnya. Namun, senjata itu tidak menancap terlalu dalam. Rasanya seolah-olah mata kapaknya hanya mampu menembus kulit dan terhenti oleh lapisan otot keras di bawahnya.
Api yang dia nyalakan dengan resin memanaskan udara dan menerpa seluruh tubuhnya. Berkat mana yang mengelilinginya, dia terhindar dari luka bakar, tetapi hawa panasnya membuat kulit Juhwan terasa perih.
Juhwan bergerak ke belakang Orthos dan mencengkeram ekornya. Dia menarik dengan kedua tangannya, mencegah monster itu melarikan diri, tetapi dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Dia memang bisa melukainya, tetapi dia tidak yakin bisa membunuhnya.
Tiba-tiba, suara mendesak membelah udara malam.
"Pasti ada batu sihir di suatu tempat di dalam tubuhnya! Kau harus menghancurkan batu itu!"
Batu sihir.
Juhwan teringat akan kilauan yang sempat dilihatnya di dalam mulut monster buas itu sebelumnya. Mungkin itulah batu sihirnya.
Juhwan menarik ekor binatang buas itu dengan kuat dan menyeretnya keluar dari lautan api. Jeritan meronta-ronta dari Orthos begitu keras hingga hampir menulikan telinganya.
"Ah, sialan."
Gumam Juhwan, lalu langsung memasukkan tangannya dalam-dalam ke mulut kepala kanan Orthos. Deretan giginya yang keras mencabik-cabik dagingnya. Darah mengucur deras, dan rasa sakit menjalar ke seluruh lengannya hingga terasa mati rasa.
Meski begitu, dia tidak melepaskannya.
Sebaliknya, Juhwan mendorong lengannya lebih dalam ke tenggorokan makhluk itu. Melewati tekstur lidahnya yang licin, tangannya berhasil menyentuh sesuatu yang keras.
Orthos pasti mulai putus asa. Tubuhnya kejang dengan hebat, dan cakar-cakarnya menggores seluruh tubuh Juhwan secara brutal.
Saat monster itu meronta, salah satu cakar Orthos melayang ke arah mata Juhwan. Dia menundukkan wajahnya secara naluriah, tetapi dia tidak bisa menghindarinya sepenuhnya.
Ah. Ini akan mengenai mataku.
Tepat ketika pikiran itu terlintas di benaknya, jeritan tajam Oz terdengar dari kejauhan.
"Piii!"
Pada detik itu juga, beberapa lingkaran kecil—yang lebih kecil dari kuku jari—muncul di gigi Orthos yang sedang menggigit Juhwan. Itu adalah pola berwarna merah. Pola-pola itu lebih kecil dan lebih banyak, tetapi terlihat persis seperti yang dibuat Oz pada Screaming Carrot sebelumnya.
Begitu lingkaran itu muncul, tubuh Orthos langsung menegang kaku. Rasanya seolah-olah monster itu telah membeku menjadi batu.
Juhwan dengan cepat memusatkan mana di ujung jarinya. Ada sebuah batu mungil, sebesar biji kacang, di atas pangkal lidah Orthos. Dia menekannya kuat-kuat dengan mana dan melepaskan seluruh tenaganya sekaligus.
Saat mana mengalir ke dalam batu sihir itu dalam satu sentakan kuat, batu itu pun hancur berkeping-keping di bawah ujung jarinya.
Kueeeeeeh!
Jeritan kesakitan meledak secara bersamaan dari kedua kepala tersebut. Tak lama kemudian, tubuh Orthos terkulai lemas.
Makhluk itu telah mati.
Setelah nyaris tak punya tenaga untuk memastikannya, Juhwan ambruk ke belakang di atas tanah.
Dia telah kehilangan terlalu banyak darah. Pikirannya perlahan semakin kabur.
Suara orang yang memberitahunya tentang batu sihir tadi terdengar semakin mendekat. Mungkin itu adalah pemburu yang sebelumnya pergi ke arah gunung. Dia bukan musuh.
Semuanya baik-baik saja. Lizzie dan Dorothy kini aman.
Juhwan memejamkan matanya. Dari kejauhan, dia mendengar suara tangisan Lizzie. Dorothy juga meneriakkan sesuatu. Dia mendengar langkah kaki yang tergesa-gesa, dan suara mereka berdua perlahan-lahan semakin mendekat.
Apakah Oz melakukan tugasnya dengan baik? Apakah dia melindungi Lizzie dan Dorothy?
Saat pikiran-pikiran itu melayang lembut di benaknya, kesadaran Juhwan pun perlahan-lahan memudar ditelan kegelapan.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments