Bab 079: Rudolph Adalah Sebuah Zentangle
Tidak ada satu pun hal yang ia tinggalkan di Bumi. Paling banter, hanya ada makam orang tuanya dan kenangan masa kecilnya.
Namun, mungkin karena Bumi adalah tempatnya dilahirkan dan dibesarkan. Atau mungkin perjuangan sehari-hari untuk mati-matian mempelajari bahasa asing telah menguras tenaganya lebih dari yang ia sadari. Saat ia mendengar bahasa yang akrab di telinganya, jantungnya berdebar kencang.
Tanpa sadar, Juhwan menatap gadis itu. Ia tampak seperti anak kecil yang biasa ditemui di dunia ini. Satu-satunya hal yang menonjol adalah wajahnya yang sangat pucat pasi dan matanya yang bening.
Namun saat diperhatikan lebih saksama, berbeda dengan kesan pertamanya, ada sesuatu yang sedikit aneh pada dirinya. Sekilas ia tampak biasa saja, tapi jika diperhatikan lebih dekat, ia membawa aura yang sedikit berbeda dari orang-orang pada umumnya.
'Apa yang berbeda darinya?'
Pakaiannya, penampilannya—tidak ada yang jauh berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Gadis itu terlihat sesuai dengan umurnya.
Ah, ternyata itu. Juhwan tiba-tiba menyadari apa yang aneh darinya.
Bahkan Dorothy, saat pertama kali ia temui, memiliki raut wajah yang seolah-olah kerasnya kehidupan telah menggerusnya. Namun, gadis ini tidak terlihat lelah akan hidup. Ia terlihat seperti anak kecil yang dibesarkan di dalam dunia dongeng. Itulah yang membuatnya terasa begitu terasing dari orang-orang lain.
Gadis itu memiringkan kepalanya lagi dan bertanya, "Malam Natal, buat permohonan? Sinterklas orang jahat?"
Juhwan hampir menjawabnya tanpa berpikir panjang. Tapi ia tidak bisa.
Bahasa dari Bumi terasa sepenuhnya berbeda dari bahasa-bahasa di dunia ini. Awalnya ia memang agak ceroboh, tapi sekarang Juhwan tahu persis betapa anehnya bahasa Korea terdengar di tempat ini.
Bahasa Bumi terdengar asing di telinga orang-orang, bahkan jika dibandingkan dengan bahasa asing dari wilayah lain di dunia ini. Jika ia menjawabnya, ia akan langsung menjadi pusat perhatian.
Orang-orang di sekitar mereka mulai kasak-kusuk setelah mendengar ucapan gadis itu. Seseorang berseru, "Apa itu tadi? Bahasa dari negara mana itu? Aku sudah bertemu orang dari berbagai tempat, tapi belum pernah dengar yang seperti itu."
Seperti dugaan, bahasa dari Bumi menarik perhatian. Juhwan menelan ludah membasahi mulutnya yang kering dan sedikit menurunkan pandangannya dari gadis itu.
"Itu bahasa yang sangat tidak biasa."
Saat Juhwan angkat bicara, Lizzie bergerak mendekat dan menempelkan tubuhnya pada pria itu. Ia menyusup ke sisi Juhwan seolah sedang memeluknya. Ia hampir tidak pernah melakukan hal itu di tempat umum.
Saat Juhwan melirik ekspresi Lizzie, istrinya itu tampak cemas. Lizzie mungkin pernah mendengar Juhwan berbicara bahasa Korea dari waktu ke waktu. Itulah sebabnya ia tahu bahwa gadis ini berbicara dengan bahasa yang sama. Cara Lizzie menatap gadis itu terlihat sedikit ketakutan.
Untuk menenangkannya, Juhwan meletakkan tangannya di bahu Lizzie dan meremasnya dengan lembut.
Kepala guild mengibaskan tangannya, mengusir para penonton. "Apa yang kalian lihat? Kembali dan urus pekerjaan kalian sana. Guild akan segera tutup. Kalau kalian tidak cepat, aku akan mengusir kalian semua."
Orang-orang menggerutu sambil kembali ke antrean di depan meja resepsionis. Hal yang sama juga terjadi di konter pembelian. Hampir tidak ada orang yang tersisa di sekitar Juhwan.
Kepala guild menatapnya. "Anda punya waktu sebentar? Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda. Saya juga sudah mencari informasi soal hewan magis (magical beasts). Tentang kelinci bertanduk. Anda mungkin masih belum terlalu paham tentang hewan magis, Tuan Juhwan, jadi pasti ada beberapa hal bermanfaat yang perlu Anda dengar."
Juhwan sendiri kebetulan sudah berpikir bahwa ia perlu belajar lebih banyak tentang hewan magis. Tawaran kepala guild sangat pas untuknya. Satu-satunya hal yang mengganggunya hanyalah gadis yang mengerti bahasa dari Bumi itu.
Sementara kepala guild berbicara, gadis itu menatap tajam ke arah Oz, yang berada di pelukan Dorothy. Oz balas menatap gadis itu dengan mata hitamnya. Bulu-bulu di tubuh Oz tampak sedikit berdiri tegak.
Menyadari hal ini, Juhwan dengan sadar membiarkan sedikit mana mengalir dari tubuhnya. Jika terjadi sesuatu yang tidak terduga, itu akan memungkinkannya bereaksi seketika. Anggap saja sebagai asuransi, untuk berjaga-jaga.
Telinga Oz, yang sebelumnya terlipat ke belakang, sedikit berkedut. Lubang telinganya berputar ke sana-kemari, seolah sedang mengumpulkan suara. Pada saat yang sama, hidungnya bergerak tipis. Kelinci itu tampak seolah sedang memeriksa suara dan aroma si gadis.
Juhwan diam-diam mengawasi gadis itu. Gadis itu bisa saja menyimpan niat jahat. Dari luar ia memang terlihat seperti manusia biasa, tapi ada kemungkinan ia sebenarnya adalah seorang penyihir yang sangat kuat.
Setiap tarikan napas membuat udara terasa kering. Bersamaan dengan napasnya, ketegangan yang tajam seolah merambat di udara layaknya listrik statis. Mulutnya terasa kering. Mungkin ia terlalu tegang. Percikan api kecil berderak dari ujung jarinya, seperti saat menyalakan pemantik api.
Seolah ketegangan Juhwan menular pada mereka, Lizzie dan Dorothy juga ikut menegang.
Lalu gadis itu tiba-tiba tersenyum. Sesaat, matanya terlihat setransparan manik-manik kaca. Mungkin itu cuma ilusi.
"Inilah orangnya." Gumam gadis itu.
Pada saat itu juga, kewaspadaan Oz lenyap. Bulunya yang berdiri tegak kembali rebah, dan postur tegangnya mereda dengan tenang.
Bagi Juhwan, gadis itu tidak terlihat berubah secara khusus. Tapi mungkin Oz melihat sesuatu yang berbeda.
Seolah sudah kehilangan minat, Oz menyusup masuk ke dalam saku Dorothy.
"Oz, kamu mengantuk ya?" Oz pasti menggeliat-geliat dan menggelitiknya. Dorothy meliukkan tubuhnya dan tertawa.
Kepala guild tampak lega mendengar ucapan gadis itu dan menatap Juhwan. "Mari kita naik ke lantai dua dulu. Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu."
Saat Juhwan mengangguk, kepala guild memimpin jalan, dan gadis itu mengikuti di belakangnya. Juhwan dan Lizzie menyusul mereka. Kelompok Red Sword tetap berada di lantai bawah.
Saat pegawai pembelian bertanya apa yang ingin mereka lakukan dengan uang bayaran itu, suara Karin dari belakang menjawab bahwa mereka akan menitipkannya (deposit). Suaranya terdengar sangat bahagia.
Juhwan juga merasa sedikit senang. Namun langkah kakinya saat menaiki tangga terasa berat.
Sebenarnya siapa gadis yang dibawa kepala guild itu? Kenapa dia tahu bahasa dari Bumi? Ketidaktahuannya akan identitas si gadis membuatnya gelisah.
Lantai dua guild tampaknya difungsikan sebagai area penyimpanan barang-barang yang telah dibeli. Itu adalah ruangan luas dengan beberapa dinding pembatas yang menyerupai sekat. Setiap area yang disekat sepertinya punya fungsi yang berbeda-beda.
Beberapa pegawai sedang sibuk memindahkan atau menata barang. Fakta bahwa mereka berkeringat deras padahal saat itu sedang musim dingin menunjukkan bahwa itu adalah pekerjaan fisik yang cukup berat. Ternyata ada lebih banyak orang yang bekerja di guild daripada yang ia perkirakan.
Tempat kepala guild membimbing kelompok Juhwan adalah titik yang paling jauh dari tangga. Setelah menyusuri lorong sempit yang diapit tumpukan barang, mereka tiba di sebuah sudut tempat sebuah meja persegi panjang dan beberapa kursi diletakkan.
Mungkin itu adalah tempat yang digunakan untuk menerima tamu. Agak terlalu kumuh untuk ukuran ruang tamu, tapi mungkin memang seperti inilah rupa area penyambutan di guild pedesaan yang kecil. Ada beberapa kotak yang ditumpuk di dekat sana, membuat tempat itu terlihat agak berantakan.
"Pertama-tama, mari kita duduk."
Mendengar perkataan kepala guild, Juhwan duduk di sebelah Lizzie. Gadis itu duduk di sebelah kepala guild.
"Awalnya, ada satu hal yang ingin saya tanyakan kepada Anda, Tuan Juhwan. Apakah Anda pernah bertemu Santa Roxy? Atau apakah Anda pernah mendengar kata Rudolph?"
Juhwan sudah menduga soal Santa, tapi Rudolph... Masa iya ada desa Santa juga di dunia ini.
Juhwan merasa ia tidak menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya, tapi rupanya kepala guild melihat jawaban itu dari sorot mata pria tersebut. Ia menyeringai.
"Sepertinya Anda tidak tahu banyak soal hewan magis, Tuan Juhwan, jadi saya akan memberitahu Anda apa yang saya temukan lebih dulu. Tidak ada hal yang terlalu luar biasa, tapi informasi ini seharusnya bisa membantu."
Perbedaan terbesar antara hewan magis dan hewan biasa adalah ada atau tidaknya mana di dalam tubuh mereka. Hewan magis disebut hewan magis karena mereka memiliki mana.
Hewan magis adalah omnivora. Mereka memakan apa saja. Oz adalah buktinya. Ia terlihat seperti kelinci, tapi ia tidak cuma makan rumput. Ia memakan daging, nasi, dan roti juga.
Dan hewan magis menyerap mana. Terkadang mereka memperolehnya dari alam atau dari makhluk yang mengandung mana, seperti Screaming Carrot. Jika mereka dipelihara oleh manusia, mereka terkadang menerimanya dari pemiliknya.
"Konon katanya, jika seekor hewan magis sama sekali tidak bisa menyerap mana, ia akan mati. Hewan itu bisa bertahan dalam waktu yang cukup lama, tapi pada akhirnya tetap akan mati. Yah, kabarnya hal ini jarang terjadi di alam liar karena mereka juga bisa menyerap mana dari sana."
Kelinci bertanduk disebut-sebut sebagai jenis hewan magis yang paling sering dilihat oleh manusia. Mereka juga adalah jenis hewan magis yang paling sering diburu oleh para pemburu hewan magis. Namun, bukan berarti mereka mudah ditangkap. Gerakan mereka terlalu cepat. Mereka juga tidak bisa ditangkap dengan perangkap seperti kelinci biasa.
Saat ia menjelaskan berbagai hal tentang hewan magis, mata kepala guild tertuju pada saku depan gaun Dorothy yang menggembung.
"Meskipun kelinci bertanduk adalah hewan magis yang paling sering diburu, bukan berarti jumlahnya banyak. Mereka hanya umum di antara hewan-hewan magis yang bisa dilihat secara nyata oleh orang-orang. Karena itu, ekologi mereka tidak banyak diketahui. Tapi saat saya bertanya kepada seseorang yang paham soal kelinci ini, saya diberitahu bahwa kelinci bertanduk baru mulai menumbuhkan tanduk setelah mereka dewasa, dan tanduk itu akan membesar secara bertahap seiring berjalannya waktu."
"Ah." Lizzie tersiap kaget dan menutup mulut dengan tangannya.
Oz masih terlihat sangat muda, namun ia sudah punya tanduk.
"Benar sekali. Kelinci bertanduk Anda ini sedikit aneh. Jadi saya menyelidikinya, dan rupanya kelinci Anda itu sepertinya adalah entitas yang disebut 'Rudolph'."
Sambil mendengarkan cerita kepala guild, Juhwan mengamati gadis tersebut. Sejak tadi, gadis itu terus mengendus-endus dan menggerak-gerakkan hidungnya. Ia tampak sangat tertarik untuk mengendus aroma Juhwan. Sepertinya ia mencoba melakukannya tanpa ketahuan siapa pun, tapi kalau hidungnya terus-terusan berkedut, tentu saja itu akan menarik perhatian.
Kepala guild pasti melihatnya juga. Tapi mungkin anak ini sedari tadi memang bertingkah seperti itu. Pria plontos itu mengabaikannya dan terus berbicara.
"Rudolph adalah hewan magis yang diciptakan oleh para Kontraktor Santa. Keberadaan mereka tidak diketahui oleh orang biasa. Yah, lagipula kebanyakan orang biasa belum pernah melihat hewan magis sekalipun seumur hidup mereka."
Juhwan menghela napas pelan. Berdasarkan percakapan mereka sejauh ini, sepertinya kepala guild telah mengetahui cukup banyak hal. Tak ada yang bisa Juhwan lakukan untuk mencegahnya.
"Apa itu Kontraktor Santa?"
"Ah, Anda mau mulai dari sana?" Kepala guild tertawa dan mengusap kepalanya yang licin akibat ulah Juhwan tempo hari.
"Ada eksistensi yang dikenal sebagai Pahlawan dan Kontraktor Santa. Seperti yang diketahui banyak orang, Pahlawan adalah orang-orang yang dipanggil oleh keluarga kerajaan melalui lingkaran pemanggilan. Hal itu sudah jadi rahasia umum, tapi... dilihat dari wajah Anda, Tuan Juhwan, sepertinya Anda tidak tahu soal itu juga ya."
Sebaliknya, sangat sedikit orang yang tahu soal Kontraktor Santa. Sebuah kontrak terbentuk saat seseorang bertemu Santa, membuat permohonan, dan Santa memberinya hadiah. Namun, bertemu Santa itu sendiri merupakan kejadian yang amat sangat langka. Orang-orang yang mengetahuinya hanyalah anggota keluarga kerajaan atau bangsawan berkedudukan sangat tinggi.
Kepala guild tampak yakin seratus persen bahwa Juhwan adalah seorang Kontraktor Santa. Ia bahkan tidak repot-repot menanyakan apakah Juhwan benar-benar seorang kontraktor atau bukan. Alih-alih bertanya, ia melirik gadis di sebelahnya.
"Anak ini bilang bahwa ia adalah cucu dari seorang pria yang dulunya sering memburu hewan magis melalui guild ini di masa lalu. Saat aku pergi ke sana untuk mencari informasi tentang Rudolph, pria itu ternyata sudah meninggal, dan anak ini tinggal sendirian di rumahnya."
Saat ia memintanya untuk menceritakan tentang Rudolph jika ia tahu sesuatu, gadis itu malah menggelengkan kepala. Ia bilang ia tidak bisa memberitahu siapa pun yang bukan pemilik Rudolph.
"Sejujurnya, dia sangat melelahkan. Anak ini, maksudku. Dia bilang dia tak mau bicara, tapi lalu tiba-tiba dia mendekatiku dan mengendus-endusku seperti anjing, sebelum akhirnya memintaku untuk mempertemukannya dengan pemilik Rudolph." Kepala guild menghela napas.
"Dan sejak itu dia menempel padaku sepanjang hari. Dua puluh empat jam penuh. Mengendus seperti anjing. Kurasa aku bisa gila. Saat aku mau buang air, saat aku tidur—dia terus mengikutiku dan mengendus. Maksudku, sungguh deh..." Ia mengembuskan napas panjang dan menatap langit-langit.
"Apa kata orang kalau mereka melihatku berkeliaran berduaan dengan anak sekecil ini selama dua puluh empat jam sehari?"
Melihat kepala guild mengatakan bahwa ini adalah bagian yang paling merepotkan, Juhwan tertawa kecil. Dalam hati ia berpikir, sudah kuduga. Gadis ini memang sedikit aneh.
Ada kata-kata yang tidak dimengerti oleh Lizzie. Santa. Kontraktor. Rudolph.
Suaminya itu sepertinya belum pernah bertemu gadis ini sebelumnya, tapi mereka berdua jelas punya suatu kesamaan. Bahasa yang diucapkan si gadis tadi.
Lizzie tidak mengerti apa artinya, tapi itu jelas bahasa yang sama yang sesekali digumamkan oleh Juhwan. Ia sempat mengira bahwa suaminya mungkin adalah seorang bangsawan dari negeri asing. Entah karena alasan apa, ia mungkin berubah menjadi seorang buronan, tapi mungkin pada awalnya ia terlahir dengan status tinggi. Bagaimanapun juga, ia sudah curiga bahwa suaminya bukan orang sembarangan.
Tapi pria itu mungkin adalah orang yang jauh lebih penting daripada yang ia bayangkan. Santa adalah entitas yang dekat dengan dewa. Jika pria ini telah membuat kontrak dengan entitas semacam itu, maka mungkin statusnya jauh lebih tinggi daripada sekadar bangsawan biasa.
Di masa depan, pria ini mungkin akan dikelilingi oleh orang-orang hebat dan melupakan sepenuhnya wanita jelata yang lusuh seperti dirinya. Lizzie menjadi ketakutan.
Rasanya seolah-olah suaminya bisa saja tiba-tiba terbang entah ke mana. Rasanya seolah-olah seseorang yang hebat akan datang, mengatakan bahwa pria ini bukan seseorang yang pantas berada di sini, dan membawanya pergi. Rasanya seolah-olah gadis itu akan memberitahu suaminya bahwa ia bukanlah orang yang seharusnya menetap di sisi orang tak penting seperti Lizzie.
Mungkin tanpa sadar ia telah mencengkeram lengan suaminya terlalu erat. Suaminya menundukkan kepala dan menatap wajahnya.
"Lizzie, tidak apa-apa." Meski tidak tahu apa yang ditakutkan istrinya, Juhwan menepuk bahu Lizzie dengan lembut.
Lizzie menstabilkan napasnya. Barulah setelah melihat wajah suaminya yang hangat, hatinya akhirnya bisa tenang.
Pria ini tidak akan mencampakkannya hanya karena ia menjadi kaya atau mendapatkan status kebangsawanan. Tidak apa-apa. Ia bisa terus berada di sisinya.
Hanya setelah meyakinkan dirinya sendiri akan hal itu, barulah ia bisa memaksakan sebuah senyuman. Agar ia tidak dicampakkan. Agar ia tidak menjadi wanita yang menyebalkan. Lizzie mengangkat sudut bibirnya selebar yang ia bisa.
Gadis itu sepertinya tidak terlalu pandai membaca situasi di sekitarnya. Ia mencondongkan tubuhnya melintasi meja, hampir seperti memanjat ke atasnya, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Juhwan dan berbisik, "Rudolph itu adalah zentangle."
Saat Juhwan secara naluriah bertanya tentang hal itu, gadis tersebut menatap matanya dan tersenyum cerah. "Sudah kuduga, kau tahu kata itu. Kata itu ditinggalkan oleh seseorang yang dulunya adalah Kontraktor Santa."
Kontraktor Santa tersebut dulunya adalah nenek buyut gadis ini. "Kudengar beliau mengeluh setiap hari. Tentang Santa busuk itu, dan bagaimana beliau tidak akan mengampuninya kalau sampai bertemu dengannya lagi."
Rupanya, Santa itu telah memenuhi permohonan semua orang dengan cara yang mirip dengan apa yang telah ia lakukan pada Juhwan. Tiba-tiba, Juhwan penasaran dengan permohonan apa yang pernah dibuat oleh nenek buyut gadis itu. Menanggapi pertanyaan Juhwan, si gadis terkikik. "Nenek buyut bilang beliau menginginkan sosok yang akan selalu berada di sisinya dan melindunginya."
"Dan apa beliau bertemu dengan sosok seperti itu?"
"Ya. Sudah pasti." Gadis itu menyeringai. "Santa jelas selalu menepati janjinya. Meskipun cara dia mewujudkannya mungkin agak sedikit bermasalah."
Percakapan itu sendiri berjalan normal, tapi gadis itu mulai menggerak-gerakkan hidungnya lagi. Di sela-sela kalimat, ia mengerutkan hidungnya dan mengendus. Ia terang-terangan mencoba mencium aroma Juhwan. Ia memang anak yang aneh.
"Jadi, apa itu zentangle?" Menjawab pertanyaan Juhwan, gadis itu memiringkan kepalanya. "Zentangle ya zentangle, 'kan?"
"Lalu apa maksudnya 'Rudolph itu zentangle'?"
Mata gadis itu sedikit membulat, seolah terkejut. "Apa sih arti zentangle?" Kali ini, malah gadis itu yang bertanya.
Zentangle yang Juhwan tahu adalah jenis teknik menggambar yang dibuat dengan mengulang pola yang sama berkali-kali. Saat ia menjelaskannya seperti itu, wajah gadis tersebut langsung berbinar.
"Apa? Jadi itu cuma soal gambar. Kupikir itu punya makna yang sangat luar biasa."
Setelah menggumamkan hal tersebut, gadis itu tiba-tiba berdiri. Ia berbalik seolah hendak pergi begitu saja tanpa pamit, namun sepertinya ia teringat akan sesuatu dan mencondongkan tubuhnya ke arah Juhwan lagi. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga pria itu dan berbisik, "Apa ada tanda merah yang muncul?"
"Ya."
"Nah, itu dia. Itu adalah kemampuan Rudolph. Setelah kau melihatnya beberapa kali lagi, kau akan cepat memahaminya. Semakin kuat kekuatan Rudolph, semakin banyak tanda itu bertambah. Persis seperti zentangle. Kakekku menggunakan kemampuan itu untuk berburu hewan magis."
Gadis itu berbisik nyaris tanpa menggunakan suara dari tenggorokannya. Suara itu hanya keluar lamat-lamat dari bibirnya. Suaranya sangat pelan hingga Lizzie mungkin tidak bisa mendengarnya dengan baik. Bahkan bagi Juhwan, bisikan itu nyaris tak terdengar.
Gadis itu kembali menegakkan punggungnya dan tertawa gembira. "Aku harus pergi sekarang. Aku akan datang menemuimu lagi nanti."
Ia tampak sangat senang karena telah mengetahui arti kata zentangle. Dengan ekspresi ceria, seolah ia akan mulai bernyanyi kapan saja, gadis itu berlari kencang menyusuri lorong.
Kepala guild sontak melompat berdiri dan berteriak, "Hei, Nak! Apa kau punya tempat tujuan? Rumahmu cukup jauh dari sini. Hei!"
"Tidak apa-apa! Bukan masalah!" Gadis itu melambaikan tangannya sambil terus berlari.
Tap, tap, tap. Suara sepatunya menghantam lantai kayu berangsur-angsur menjauh.
"Bukan masalah bagaimana, jaraknya benar-benar jauh lho," gumam kepala guild dengan nada cemas.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments