Header Ads Widget

Chapter 80 - Aku Bertemu Anak Itu, Sebuah Contoh dari Zentangle

 


Bab 080: Aku Bertemu Anak Itu, Sebuah Contoh dari Zentangle

Gadis itu berlari. Berlari. Dan terus berlari.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menjejakkan kakinya ke tanah dan berlari dengan bebas, merasakan embusan angin sepuas hatinya.

Hari ini terasa sangat berbeda dengan hari kemarin. Karena hari ini, ia telah bertemu dengan anak itu.

Saat ia mengucapkan kata itu tadi, gadis itu sebenarnya tidak terlalu mengerti apa artinya. Namun sekarang, ia merasa sudah memahaminya. Hal itu membuatnya merasa seolah ia menjadi lebih pintar.

Tapi dia berbeda dari apa yang kubayangkan.

Ia sempat mengira anak itu akan sedikit lebih manis. Sedikit lebih rupawan. Karena nenek buyutnya selalu bilang bahwa anak itu sangat kecil dan imut. Jadi, gadis itu membayangkan, saat ia bertemu dengannya suatu hari nanti, anak itu adalah seseorang yang lembut, hangat, dan menggemaskan.

Tapi anak itu ternyata bertubuh raksasa. Wajahnya… yah, mungkin tidak sepenuhnya salah jika disebut imut.

"Pfft."

Mungkin inilah yang dulu disebut oleh suami nenek buyutnya sebagai 'koreksi ingatan'.

Setiap kali sang nenek bilang bahwa anak itu adalah anak yang imut, suaminya akan tertawa dan bertanya apanya yang imut dari raksasa besar itu. Seorang anak sekolah menengah yang tubuhnya lebih besar dari kebanyakan orang dewasa mana mungkin bisa disebut sebagai anak kecil yang imut.

Gadis itu tidak tahu apa itu 'sekolah menengah', tapi ia tidak pernah bertanya. Ia tidak ingin mengganggu mereka berdua. Ia sekadar suka mendengarkan mereka mengobrol.

Saat ia pertama kali bertemu dengan pasangan itu, wajah mereka masih mulus. Namun seiring berjalannya waktu, kerutan mulai bermunculan di wajah mereka berdua. Orang-orang mulai memanggil mereka nenek dan kakek.

Meskipun begitu, di dalam ingatan gadis itu sekarang, mereka berdua terlihat sangat muda. Entah kenapa, mereka kembali ke wujud saat pertama kali ia bertemu dengan mereka. Ia harus berusaha keras jika ingin mengingat wajah keriput mereka saat mereka meninggal. Sepertinya versi yang lebih rupawan lebih mudah menetap di kepalanya.

"Apakah ini yang namanya koreksi ingatan?"

Rasanya aneh. "Anak imut" yang diceritakan sang nenek adalah hasil koreksi ingatan. Wujud muda kedua orang itu yang diingat oleh si gadis juga merupakan hasil koreksi ingatan.

Bisa mengikuti dan memahami apa yang dipikirkan serta dirasakan oleh kedua orang itu membuatnya merasa sangat bahagia.

Makam pasangan itu berada di belakang rumah tempat gadis itu tinggal hingga baru-baru ini. Sampai orang yang dipanggil Kepala Guild datang untuk membawanya pergi, gadis itu terus tinggal di rumah yang berdampingan dengan makam tersebut.

Ia berlari ke sana dalam satu tarikan napas, lalu menaburkan rumput yang baru saja ia cabut dari ladang. Seharusnya, seseorang memberikan bunga. Ia pernah dengar bahwa bunga itu bernama krisan. Eh, atau bukan ditaburkan, melainkan diletakkan begitu saja? Mana saja boleh, yang penting seseorang memberikan bunga ke sebuah makam.

Bunga sangat sulit ditemukan di musim seperti ini, jadi ia tidak punya pilihan selain membawa rumput paling cantik yang bisa ia temukan.

Ia berlutut di depan makam dan merebahkan tubuhnya hingga rata dengan tanah. Ini disebut bersujud. Ia mempelajarinya dari sang kakek.

Setelah bersujud, sang kakek pernah bilang bahwa akan lebih baik jika ia menuangkan minuman keras juga. Minuman keras adalah sesuatu yang disukai kakeknya. Tapi harga minuman keras sangat mahal. Gadis itu tidak punya cukup uang untuk membelinya.

Jadi ia tidak punya pilihan selain mengisi kantong kulit peninggalan mereka berdua dengan air dari danau. Setelah ia menuangkan kedua persembahan itu, hatinya terasa penuh.

"Saat kau bertemu anak itu, aku ingin kau menuangkannya ke atas makam kami nanti. Jangan sebelumnya. Jangan lakukan apa pun sebelum itu. Dan kalau waktu yang lama telah berlalu dan kau masih belum juga bertemu anak itu, pergilah cari Santa dan hajar dia sampai setengah mati. Mengerti?"

Itulah pesan terakhir yang ditinggalkannya. Kakeknya saat itu hanya tersenyum dalam diam.

Aku sudah bertemu dengannya. Aku sudah bertemu anak itu.

Ia berbicara pada makam kecil tersebut. Seperti biasa, tidak ada jawaban yang kembali.

Sedikit air mengalir dari matanya. Gadis itu mengusap sudut matanya dengan jarinya, melihat cairan basah itu, lalu tertawa.

"Aku menangis."

Kedua orang itu meninggal bersama-sama. Karena banyak kerutan telah terbentuk di wajah sang nenek, dan matanya perlahan mulai tidak bisa melihat. Orang-orang bilang beliau jatuh sakit. Orang-orang bilang beliau sekarat.

Itulah sebabnya sang kakek meminta gadis itu untuk membuat Zentangle pada mereka.

"Aku tidak ingin dia mati sendirian. Aku ingin masuk ke liang lahad bersamanya. Aku ingin aku dan istriku meninggal tanpa rasa sakit."

Setelah mendengar kata-kata itu, putra angkat mereka berdua menangis sangat lama. Lalu putri dari putra angkat itu juga ikut menangis sangat lama.

Tapi gadis itu tidak menangis. Saat itu, ia tidak terlalu mengerti apa itu menangis. Ia tidak paham kenapa putra angkat dan putrinya itu menumpahkan air dari mata mereka seperti itu.

Sesuai permintaan, ia menggambar pola-pola indah di tubuh kedua orang itu. Lingkaran, persegi, segitiga, bunga, dan bintang. Ia memenuhi tubuh mereka berdua dengan hal-hal paling indah yang bisa ia pikirkan.

Pola-pola buatan gadis itu, yang ia sebut Zentangle, membuat semua rasa sakit kedua orang itu menghilang. Lalu, pola itu membuat napas mereka berhenti dengan tenang, seolah-olah mereka hanya jatuh tertidur. Mereka berdua mengembuskan napas terakhir dengan pola-pola indah yang menutupi kulit mereka.

Baru jauh setelahnya ia mengerti kenapa putra angkat dan putrinya itu menangis. Ketika seseorang masuk ke dalam makam, mereka tidak bisa lagi berbicara. Itulah yang dinamakan kematian.

Ia pernah mendengar penjelasannya, tapi ia baru benar-benar mengerti apa artinya setelah sekian lama berlalu sejak mereka berdua dimakamkan bersama.

Saat ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi melihat mereka, gadis itu pun menjadi sedih. Tapi bahkan saat ia merasa sedih, air matanya tidak mau keluar. Ia sudah belajar apa itu menangis, tapi air matanya tidak kunjung datang... Ia sempat merasa sedikit frustrasi akan hal itu, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan.

Namun sekarang, ia juga bisa menangis. Ia tidak tahu kenapa ia menangis padahal ia sedang tidak sedih, tapi air matanya terus mengalir keluar.

Agak terlambat, gadis itu baru menyadari bahwa ia telah melakukan sebuah kesalahan. Ia terlalu terburu-buru datang ke makam untuk memberitahu mereka bahwa ia telah bertemu anak itu, sampai-sampai ia lupa memberitahu anak itu namanya sendiri.

Saat manusia bertemu, saling menyebutkan nama adalah peraturannya.

Nenek dan kakeknya telah memberinya nama Yeonhwa. Itu adalah nama yang mereka berikan padanya agar, bahkan setelah mereka meninggal dan menghilang dari dunia ini, gadis itu tidak akan merasa kesepian. Yeonhwa, kata mereka, adalah namanya.

"Jika kau membawa namaku, maka itu sama saja dengan kita selalu bersama. Bahkan jika kau bertemu Santa dan melayangkan satu pukulan telak padanya, itu akan sama seperti aku yang menghajarnya. Bagus, 'kan?"

Kata-katanya terngiang di kepala Yeonhwa.

Sejak nenek dan kakeknya masuk ke dalam makam, Yeonhwa mulai lebih sering berimajinasi. Agar ia tidak melupakan hal-hal yang pernah mereka katakan, ia terus memikirkannya berulang-ulang.

Gadis itu, Yeonhwa, mengangguk. "Ya. Itu bagus."

Apa yang harus ia lakukan mulai sekarang adalah tetap berada di sisi pria itu setiap saat dan melindunginya. Dan melayangkan satu pukulan telak pada Santa.

Tentu saja, karena ia sudah bertemu anak itu, ia tidak perlu lagi menghajar Santa. Namun Santa telah membuatnya menunggu terlalu lama. Nenek buyutnya mengira beliau akan bisa bertemu anak itu selagi masih hidup, tapi semuanya sudah terlambat. Kalau Yeonhwa jadi neneknya, ia pasti sudah memukul Santa satu kali.

Yeonhwa tersenyum cerah ke arah makam dan berkata, "Aku tidak akan bisa sering-sering datang mulai sekarang. Tapi aku akan datang untuk menangis sesekali. Kalau bunganya mekar, aku akan bawakan bunga. Aku akan bawakan minuman keras kalau aku punya uang."

Apa yang neneknya minta dari Santa, saat beliau berbaring di dalam makam itu, adalah sebuah eksistensi yang akan selalu berada di sisi putra kesayangannya dan melindunginya. Permintaannya telah terkabul.

Karena mulai sekarang, Yeonhwa yang akan selalu melindunginya.

Lizzie, yang tadinya merasa sangat bahagia berkat Screaming Carrot, kini mendadak diselimuti awan mendung di hatinya.

Padahal, karena satu koin perak telah berubah menjadi satu koin emas, hari ini seharusnya menjadi hari yang benar-benar membahagiakan.

Juhwan berjalan melintasi alun-alun tengah kota dengan satu lengannya merangkul bahu sang istri. Langkah kakinya, yang diperlambat untuk mengimbangi langkah Lizzie, terasa sangat lembut.

Mungkin rumor tentang Screaming Carrot telah menyebar, karena sesekali ada beberapa orang yang sengaja lewat hanya untuk melihat wajah mereka.

Awalnya, Dorothy juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi saat orang-orang terus menoleh dan bergumam "wortel, wortel", anak itu pun paham.

Dorothy menarik turun bukaan saku depannya, membiarkan wajah Oz menyembul keluar, dan mengangkat hidungnya tinggi-tinggi. Hidungnya naik semakin tinggi dan makin tinggi. Kalau terus begini, orang-orang di depannya akan bisa melihat langsung ke dalam lubang hidungnya.

Melihat tingkahnya, Lizzie tersenyum kecil. "Akhirnya kamu tersenyum juga."

Saat Juhwan mengeratkan rengkuhan tangannya di bahu Lizzie, wanita itu menyandarkan kepalanya pada suaminya. "Maafkan aku." "Untuk apa?"

Lizzie kembali menjadi murung. Tubuh mungil dan rampingnya tampak semakin meringkuk.

"Lizzie, aku tahu apa yang kamu khawatirkan. Tapi kamu tidak perlu cemas. Kamu dengar sendiri tadi kalau aku adalah Kontraktor Santa, 'kan? Itu memang benar. Aku membuat permohonan dan datang ke negara ini."

"Kamu tahu apa yang kuminta?" Tubuh Lizzie sedikit menegang.

Mungkin ia berpikir suaminya telah meminta sihir yang kuat, kekuatan seorang penyihir api, uang, atau semacamnya. Melihat hal-hal yang dimiliki Juhwan sekarang, sangat wajar jika ia berpikir begitu.

"Hal yang kuminta adalah seorang istri dan seorang anak. Itu artinya kamu dan Dorothy."

Lizzie mengangkat kepalanya dari dada Juhwan dan menatap pria itu. "Kamu dan Dorothy adalah permintaanku."

"...Benarkah?" "Iya."

Mereka sedang berada di tengah alun-alun. Orang-orang berlalu-lalang, dan bahkan ada beberapa yang sengaja datang untuk melihat wajah mereka. Namun Lizzie mendadak menghentikan langkahnya dan mulai menangis tersedu-sedu.

Dalam sekejap, begitu banyak air mata yang tumpah hingga matanya nyaris tak terlihat. "##" Orang-orang melirik saat mereka lewat, berbisik-bisik, lalu menoleh lagi.

Juhwan yang panik tidak tahu harus berbuat apa. Ia memegang bahu Lizzie dengan satu tangan, melepaskannya, lalu memegangnya lagi. Ia ingin mengusap air mata istrinya, tapi seluruh wajah Lizzie sudah basah kuyup. Kalau ia mengusap wajah Lizzie dengan tangannya sendiri, ia merasa seluruh wajah istrinya akan menjadi kotor seperti lumpur.

Dorothy buru-buru memasukkan tangannya ke saku depan gaunnya. Setelah merogoh-rogoh di bawah pantat Oz, ia mengeluarkan sebuah saputangan kecil. "Ayah, ini!"

Itu adalah saputangan yang dibuat Lizzie untuk Dorothy. Seekor kelinci kecil disulam di sudutnya. Sulaman itu tidak dibuat dengan benang sulam mahal, melainkan dengan benang jahit biasa. Meski begitu, Dorothy sangat menyukainya sampai-sampai ia tidak pernah meminjamkan saputangan ini kepada siapa pun. Dorothy sendiri pun hampir tidak pernah menggunakannya. Ia hanya menyimpannya layaknya harta karun.

Fakta bahwa ia langsung mengeluarkan saputangan berharganya itu berarti, di mata Dorothy, ini adalah situasi darurat.

Sejujurnya, ini juga situasi darurat bagi Juhwan. Sambil memegang saputangan mungil itu di tangannya yang besar, ia dengan hati-hati menyeka wajah Lizzie.

Lizzie tertawa di sela-sela tangisnya. Kalau saja Juhwan tahu kata-katanya bisa sangat melegakan hati istrinya, ia pasti sudah memberitahunya sejak awal. Ia merasa sedikit bersalah.

Awalnya, mereka berencana untuk berbelanja, tapi mereka akhirnya langsung kembali ke penginapan. Lizzie menangis terlalu banyak hingga ia kelelahan, membuatnya tak punya tenaga lagi untuk berjalan-jalan.

Malam itu, mereka memesan menu spesial dari penginapan. Mereka disuguhi daging tebal yang dibumbui dengan garam dan rempah-rempah, sup rebusan yang padat dengan berbagai bahan, dan roti dengan cita rasa pedesaan yang kasar. Meski disebut menu spesial, bukan berarti ada yang luar biasa dari makanan itu. Porsinya saja yang hampir dua kali lipat lebih besar, dan sudah termasuk anggur murah.

Meskipun begitu, rasanya sama enaknya dengan makanan yang mereka makan di Kota Moderni. Dorothy dan Lizzie makan dengan jauh lebih lahap dari biasanya.

Oz juga mendapat sepotong daging tebal yang setara dengan porsi satu orang dewasa. Kelihatannya ia hanya mengeratnya sedikit demi sedikit dengan mulut kecilnya, tapi daging itu lenyap dalam sekejap mata.

"Hebat, Oz! Kamu luar biasa!" Dorothy bersorak gembira, tapi Lizzie justru tampak pusing. Sepertinya ia mulai mengkhawatirkan biaya makan mereka mulai dari sekarang.

Saat Juhwan tertawa karena melihat tingkah keduanya yang sangat menggemaskan, ibu dan anak itu malah sedikit marah. Melihat hal itu membuat Juhwan berpikir bahwa mereka berdua sangat mirip, padahal mereka tidak memiliki hubungan darah. Jika lebih banyak waktu berlalu, akankah mereka bertiga, bersama dengan Juhwan, mulai terlihat mirip satu sama lain? Pemikiran itu memberinya perasaan yang aneh.

Setelah Dorothy tertidur, tibalah waktu khusus bagi suami istri tersebut. Di bawah cahaya lampu yang temaram, Lizzie terlihat salah tingkah dengan cara yang aneh, dan itu sangat menggemaskan. Padahal kulit mereka sudah sering bersentuhan berkali-kali, istrinya itu tetap saja tampak tersipu malu.

Apakah ini juga salah satu hadiah dari Santa?

Dibandingkan saat mereka pertama kali bertemu, hari berikutnya terasa lebih berharga. Dibandingkan dengan momen saat ia menyadari bahwa ia mencintainya, waktu setelahnya terasa jauh lebih berharga. Dibandingkan dengan hari kemarin, hari ini Lizzie terasa semakin pantas untuk dicintai.

Seperti butiran pasir di dalam jam pasir yang perlahan jatuh dan menumpuk di hamparan pantai luas di bawahnya, perasaannya terus mendalam sedikit demi sedikit. Rasa sayangnya membengkak di dadanya, dan kata-kata itu meluncur keluar dari bibirnya sebelum ia menyadarinya.

"Aku mencintaimu."

Saat Juhwan membisikkan hal itu, seluruh tubuh Lizzie memerah hingga rona itu terlihat jelas bahkan di bawah cahaya lampu yang redup.

Tangan Lizzie, yang sudah terbiasa bekerja keras sejak ia masih kecil, terasa sedikit kasar. Namun tubuhnya selembut kulit bayi yang baru lahir. Saat Juhwan membelainya dengan ringan dan mengecap rasanya, Lizzie mengerang dengan suara yang sangat manis. Malam ini, suaranya terasa sangat istimewa.

Pada hari mereka menjual Screaming Carrot berwarna merah-hitam, Juhwan mendengar bahwa Red Sword telah memesan karambit dari toko senjata. Karena mereka pergi bersama Juhwan pada kunjungan pertama mereka, sepertinya mereka mendapat sedikit diskon. Namun karena belum ada yang selesai dibuat, mereka harus menunggu lima hari penuh, dan ketiga wanita itu sudah sangat tidak sabar.

Juhwan menerima beberapa permintaan quest lagi. Karena jumlah orangnya tidak pas, ia memutuskan untuk bekerja terpisah dari Red Sword. Red Sword sepertinya akan terus mengumpulkan tanaman herbal. Karena Juhwan berniat untuk terus bepergian dengan kereta kuda ke depannya, ia menghabiskan beberapa hari membantu pekerjaan perbaikan kereta kuda.

Dunia ini tidak memiliki layanan di mana, seperti di Bumi, kau bisa menelepon seseorang saat kendaraanmu mogok dan mereka akan datang untuk menderek mobilmu. Perbaikan resmi bisa diserahkan pada ahlinya, tapi kalau tiba-tiba ada kerusakan di tengah jalan, kau harus melakukan perbaikan darurat sendiri. Untuk bisa bertahan hidup di tempat ini, ia tidak punya pilihan selain menjadi semacam tukang serba bisa yang sanggup mengotak-atik segala macam hal.

Membuat keranjang pikul, berburu makanan sendiri, membagi daging dan kulit, memperbaiki kereta kuda… Hari demi hari, hal-hal yang bisa ia lakukan semakin bertambah.

Sampai pada titik ini, aku sudah cukup terbiasa dengan dunia ini. Ia merasa sedikit bangga, seolah ia telah menjadi sosok suami yang cukup bisa diandalkan.

Sementara Juhwan membantu memperbaiki kereta kuda, Lizzie membawa Dorothy dan mengambil pekerjaan menambal pakaian bekas. Kabarnya, seorang pedagang yang telah memborong pakaian dalam jumlah besar dari seorang bangsawan tingkat rendah telah mengajukan permintaan ke guild. Kudengar bayarannya lumayan tinggi. Karena ini adalah pekerjaan menjahit, permintaan tersebut diserahkan kepada para wanita desa, bukan kepada petualang.

Pihak guild sepertinya punya beberapa identitas petualang palsu yang sudah disiapkan untuk saat-saat seperti ini. Seorang petualang dengan nama samaran dari guild menerima pekerjaan tersebut, lalu mempekerjakan kembali para wanita untuk melakukan pekerjaan aslinya. Pada akhirnya, ini sama saja seperti guild yang mempekerjakan wanita desa secara langsung.

Cukup banyak wanita di desa petualang itu yang memperebutkan pekerjaan ini. Karena pekerjaan sampingan seperti ini sangat langka, antusiasme para wanita desa sungguh luar biasa.

Menjahit juga merupakan pekerjaan fisik yang berat. Juhwan sempat bertanya-tanya apakah Lizzie benar-benar harus melakukan pekerjaan semacam itu juga, tapi antusiasme istrinya tak kalah besarnya dengan mereka.

Pekerjaan menjahit itu dibagi ke dalam beberapa kelompok. Beberapa wanita berkumpul untuk menjahit sambil mengobrol, jadi suasananya tampak menyenangkan. Dorothy kabarnya membantu melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil selagi orang dewasa menjahit. Juhwan dengar anak itu membawakan jarum, benang, dan potongan kain kecil, serta memijat bahu para wanita.

Upah untuk Dorothy adalah dua buah boneka seukuran telapak tangan dan beberapa perca kain. Oz sama sekali tidak melakukan apa pun, tapi entah kenapa, kelinci itu mendapat sebuah jubah kecil yang cantik.

Pemandangan kelinci kecil yang mengenakan jubah itu sangat menggemaskan. Saat Juhwan dan Lizzie melihatnya dan memujinya lucu berkali-kali, Dorothy tampak sedikit kesal.

"Dorothy juga bakal lucu kalau pakai jubah."

Di sisi lain, Oz sepertinya sangat tidak nyaman dengan jubah itu. Begitu dipakaikan, ia duduk diam untuk waktu yang lama, tidak bergerak sama sekali, seolah-olah ia membeku. Pada akhirnya, Lizzie melepaskannya. Setelah itu, setiap kali ada orang yang membawa jubah itu ke dekatnya lagi, ia langsung kabur secepat kilat.

Baik perbaikan kereta kuda maupun penambalan pakaian bekas adalah pekerjaan yang dilakukan di dalam area desa petualang. Karena pekerjaan itu selesai sebelum matahari terbenam, setelah itu, Juhwan menemui Red Sword dan bertanya atau mendengarkan hal-hal yang perlu diketahui oleh seorang petualang.

Setiap kali bertemu, Red Sword mengajarinya beberapa hal yang kebetulan terlintas di pikiran mereka. Di antara hal-hal tersebut, ada juga urusan yang berkaitan dengan rumah bordil. Mendengar hal-hal semacam itu dari mulut para wanita rasanya… sangat canggung sampai-sampai ia tidak berani menatap wajah siapa pun dan hanya bisa menatap lurus ke langit-langit.

Tiga kali seminggu, ia juga menerima pelajaran membaca dan menulis dari pegawai wanita pembaca surat di guild. Ia tidak tahu latar belakangnya lebih dalam, tapi pembaca surat itu sepertinya adalah putri dari keluarga bangsawan. Sikap dan cara bicaranya sama-sama menunjukkan tanda bahwa ia telah menerima tingkat pendidikan tertentu sejak usia muda.

Lizzie mengamati gerak-geriknya dengan saksama, dan saat sedang sendirian, diam-diam ia menirunya. Di ruangan yang kosong, ia berlatih mengambil barang dengan lembut menggunakan jari-jarinya, meniru intonasi kalimat seperti, "Halo, saya Lizzie," dan mencoba berpose dengan sedikit menundukkan kepala. Ia terlihat persis seperti anak kecil yang sedang bermain peran.

Mungkin sikap pembaca surat itu terlihat anggun dan cantik di mata Lizzie. Namun di mata Juhwan, senyuman cerah Lizzie jauh lebih anggun dan cantik.

Saat Juhwan secara halus mengatakan hal itu padanya, Lizzie baru sadar bahwa suaminya telah memergokinya berlatih, dan ia menjadi sangat malu.

"Lizzie, dari apa yang kulihat, bahkan kalaupun kamu tidak meniru hal-hal seperti itu, kamu benar-benar sudah cantik. Imut dan sangat pantas untuk dicintai." "...Juhwan, kamu ini benar-benar..."

Lizzie meliriknya dari sudut mata dan tertawa kecil. Juhwan mengatakannya dengan tulus, tapi Lizzie sepertinya menganggap itu cuma rayuan gombal.

Dan entah kenapa, gadis yang memberitahu mereka tentang Rudolph itu sepertinya sudah mulai menetap dan tinggal di desa ini. Juhwan tidak tahu di mana tepatnya gadis itu tinggal, tapi ia sesekali melihat sosoknya.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments