Header Ads Widget

Chapter 76 - Mempertaruhkan Nyawa Demi Mengumpulkan Tanaman Herbal

 

Bab 076: Mempertaruhkan Nyawa Demi Mengumpulkan Tanaman Herbal

Setelah keadaan kembali tenang, para petualang kembali melakukan rutinitas mereka—menyebarkan rumor dari daerah lain atau sekadar mengobrolkan hal-hal yang tidak penting. Tentu saja, lelucon kotor menjadi menu wajib.

Obrolan tentang wanita mengalir ke sana kemari. Mungkin lebih dari separuhnya hanyalah bualan. Tidak, mungkin lebih dari sembilan puluh persennya. Pria mana di dunia ini yang sanggup "siap tempur" sepuluh atau dua belas kali sehari?

Sungguh, meski sudah dewasa, para pria ini tetap saja seperti anak kecil yang kasar.

Tentu saja, kalau Lizzie tidak keberatan, Juhwan sendiri sanggup melanjutkannya semalaman dan menyatukan tubuhnya dengan tubuh Lizzie berkali-kali. Sesuai dengan penampilannya, Juhwan punya stamina yang lebih dari cukup untuk itu.

Karin 'Si Pedang Merah' berjalan menuju sudut aula guild. Tempat itu adalah area bagi seseorang yang bertugas membacakan surat atau menuliskannya untuk orang lain. Seorang pria dan wanita bergantian bekerja di sana, dan hari ini, yang sedang duduk adalah seorang wanita yang tampak berusia tiga puluhan.

Saat Karin mengatakan sesuatu padanya, wanita itu mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya.

Juhwan berdiri di samping Lizzie dan mulai membaca satu per satu lembar permintaan kerja yang tertempel rapat di dinding. Dengan suara pelan, ia perlahan membacakan isi kertas-kertas itu untuk istrinya.

  • Merekrut penjaga desa selama tiga hari — 3,5 lina, sudah termasuk dua kali makan sehari.

  • Asisten perbaikan kereta kuda — 2 lina per hari.

  • Membeli kulit kelinci, ##, dan rubah — harga menyesuaikan harga pasar guild.

  • Membersihkan karat zirah, pemula diizinkan — 2 hingga 3 lina.

  • Mengumpulkan tanaman herbal, ###※ — 1 hingga 2 lina per kantong herbal kecil.

  • Mengumpulkan tanaman herbal, ## — 2 hingga 3 lina per kantong herbal kecil.

  • Mendesak: Dicari Screaming Carrot (Wortel Menjerit) — 1 koin perak per akar, harga bisa menyesuaikan harga pasar.

  • Dicari pengawal pribadi, jadwal keberangkatan sudah ditetapkan, petualang Tingkat 5 diterima!

Judul setiap lembar permintaan secara garis besar mencantumkan jenis pekerjaan dan bayarannya. Di bawahnya, terdapat detail seperti lokasi, kriteria petualang yang dicari, atau deskripsi tempat kerja.

Jika jumlah bayarannya tidak ditulis di judul, biasanya tertulis di detail bagian bawah. Setelah membacanya, Juhwan menyadari betapa kecilnya bayaran tersebut. Mungkin itulah sebabnya mereka tidak menuliskannya di judul.

Upahnya jauh lebih pelit dari yang ia bayangkan. Sepertinya ia sangat beruntung saat pertama kali mengambil pekerjaan mengawal karavan pedagang. Syukurlah ia bisa menggunakan sihirnya tanpa biaya.

Dibandingkan pekerjaan lain, harga tanaman herbal lumayan tinggi. Ia tidak tahu seberapa besar ukuran kantong herbal kecil itu, tapi sepertinya bayarannya jauh lebih baik daripada kebanyakan pekerjaan buruh harian. Ia mulai mengerti kenapa Karin menyarankan untuk mencari tanaman herbal.

Tapi, apa-apaan Screaming Carrot itu?

Apakah ia salah membaca hurufnya? Bakal gawat kalau ia salah membacakannya untuk Lizzie. Juhwan mengerutkan kening dan menatap tajam kata-kata di lembar permintaan itu, ketika sebuah suara terdengar dari sampingnya.

"Juhwan, sejak kapan kamu bisa membaca semua itu?"

Lizzie menatapnya dengan mata bulat.

Melihat sorot kekaguman di mata istrinya membuat Juhwan merasa sedikit malu.

Setelah meninggalkan kota Modeny, Juhwan mulai mengajari Lizzie membaca setiap kali ada waktu luang.

Namun, mereka menemui kesulitan sejak awal.

Lizzie, yang belum pernah belajar sebelumnya, sangat kaku dalam hal ini. Ia butuh waktu lama untuk menghafal setiap huruf, dan proses menggabungkan huruf sesuai pelafalannya juga sangat lambat. Dibandingkan dengan para pelajar di Bumi, ada jarak yang sangat jauh dalam kecepatan ia memahami dan menyerap pelajaran.

Bagi Lizzie, gagasan bahwa simbol-simbol tak bermakna bisa digabungkan untuk menciptakan makna khusus terasa sangat asing.

Bukannya Lizzie tidak suka belajar. Sebaliknya, setiap kali ia mengenali satu huruf, matanya akan berbinar, dan ia akan menatap huruf itu lama sekali. Ia terlihat seperti sedang memandangi sesuatu yang sangat berharga.

Terkadang, Lizzie menatap sebuah huruf dalam diam lalu menelusurinya dengan jarinya. Mungkin, jauh di lubuk hatinya, kehausan akan ilmu pengetahuan selama ini terpendam dalam dirinya.

Mungkin ia sudah menyerah dari awal hanya karena merasa belajar tidak ada gunanya bagi kehidupannya. Namun jauh di dalam sana, mungkin ia selalu iri pada orang-orang yang bisa membaca dan menulis.

Papan-papan huruf kayu yang mereka terima dari Gus, tak lama kemudian, menjadi salah satu harta karun kesayangan Lizzie.

Sejak saat itulah Lizzie mulai menatap Juhwan dengan penuh kekaguman. Mungkin karena ia menyadari bahwa belajar membaca jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Hal itu pasti membuat Juhwan terlihat sangat luar biasa di matanya, mengingat Juhwan bisa belajar serta menyerap bahasa lisan maupun tulisan secara otodidak, padahal pada awalnya suaminya itu sama sekali tidak mengerti bahasanya.

Tapi, mendapat tatapan memuja seperti itu hanya karena ia bisa membaca dan menulis benar-benar membuatnya malu. Rasanya seperti memamerkan trik sulap jempol terpotong kepada anak usia lima tahun. Padahal kenyataannya, ia hanya menekuk jempolnya dan menyembunyikannya.

Lizzie melihat lembar permintaan tersebut dan mencoba mencocokkan kata-katanya dengan apa yang baru saja dibacakan Juhwan. Ia memang kaku dalam belajar, tapi daya ingatnya tidak buruk.

Sambil mengulang perlahan apa yang diucapkan Juhwan, Lizzie menelusuri lembar permintaan itu dengan jarinya. Lalu, tatapannya tiba-tiba berhenti.

Ia menatap lekat-lekat pada tulisan "Screaming Carrot".

Kemudian Lizzie tersenyum cerah dan menatap Juhwan.

"Juhwan, alangkah senangnya kalau kita bisa mengumpulkan Screaming Carrot. Kalau kita bisa menemukan beberapa saja, koin peraknya..."

Ucapan Lizzie terhenti dan ia tertawa kecil. Ia sudah tampak sangat bahagia hanya dengan membayangkannya.

Jadi, Juhwan tidak salah baca. Ternyata Screaming Carrot itu benar-benar ada.

"Lizzie, kamu tahu apa itu Screaming Carrot?"

"Aku pernah mendengarnya, tapi belum pernah melihatnya langsung. Itu sangat mahal, jadi rakyat jelata dan miskin seperti kita hampir tidak pernah punya kesempatan untuk melihatnya. Baik bentuk aslinya, maupun obat yang dibuat dari tanaman itu."

"Begitu rupanya."

Mereka sedang mengecek beberapa permintaan lagi ketika anggota kelompok Red Sword dan si wanita pembaca surat mendekati mereka.

Pembaca surat itu memegang sebuah jam pasir kecil. Ia meletakkannya di rak samping dinding tempat kertas-kertas permintaan ditempelkan dan berbicara pada Karin.

"Saya akan mulai sekarang. Seperti yang sudah Anda ketahui, biayanya 1 lina untuk satu kali putaran jam pasir. Anda bilang ingin mencari permintaan pengumpulan tanaman herbal, benar?"

"Ya. Tolong carikan yang bayarannya paling tinggi lebih dulu."

"Dimengerti."

Butiran pasir halus mulai jatuh melalui celah sempit jam pasir. Wanita pembaca surat itu mulai memindai papan pengumuman, memilah apa pun yang berkaitan dengan tanaman herbal.

Mata dan tangan wanita itu sama-sama lincah. Ia membaca sekilas kertas-kertas itu dengan cepat, lalu mencabut beberapa lembar permintaan yang sesuai dan mulai membacakannya dengan lantang.

Dengan memperhatikan lembar permintaan yang dibacanya, Juhwan akhirnya menyadari bahwa kata-kata yang tak bisa ia baca sebelumnya adalah mistletoe (benalu) dan gastrodia (sejenis anggrek akar).

Karin memintanya untuk membacakan ulang beberapa permintaan yang telah dipilihnya. Di antara semua itu, yang dipilih Karin bukanlah permintaan Screaming Carrot, melainkan permintaan tanaman herbal lain yang bayarannya sedikit lebih tinggi dibandingkan yang lainnya.

Lizzie tampak sedikit kecewa. Sambil menatap penuh penyesalan pada lembar permintaan Screaming Carrot, ia bertanya,

"Karin, kenapa kamu tidak memilih Screaming Carrot? Itu bayarannya paling tinggi."

Karin tersenyum kecut.

"Screaming Carrot itu sangat langka, Lizzie. Kamu tidak akan bisa menemukannya dengan mudah. Kalau kita cuma memilih permintaan itu, kita mungkin akan menghabiskan waktu berhari-hari dan pulang dengan tangan kosong. Ditambah lagi, kalau kamu salah penanganan, jeritan dari tanaman itu bisa membuatmu tuli. Makanya harganya sangat mahal. Yah, kalau kamu memang berhasil menemukannya, itu benar-benar rejeki nomplok."

Rupanya Screaming Carrot itu benar-benar bisa menjerit.

Sekali lagi, Juhwan diingatkan bahwa ini adalah dunia lain. Tempat ini sungguh aneh.

Di samping mereka, Jesse menyeringai dan merangkul bahu Karin.

"Jangan terlihat kecewa begitu, Lizzie. Itu adalah permintaan tetap, jadi mereka akan membelinya kapan saja asalkan kamu berhasil menemukannya. Kita tidak perlu repot-repot membawa lembar permintaannya dari sini."

"Kuharap kita bisa menemukan Screaming Carrot."

Gumam Lizzie sambil melihat sang pembaca menempelkan kembali lembar permintaan Screaming Carrot ke dinding dengan tatapan menyayangkan.

Kalau dipikir-pikir, permintaan tanpa batas waktu atau kuantitas yang pasti memang memiliki beberapa salinan yang tertempel di dinding, tidak hanya satu lembar. Awalnya ia mengira ada beberapa klien yang berbeda, tapi ternyata mereka sengaja memasang beberapa salinan agar permintaan tersebut tetap ada meskipun seseorang telah mengambil salah satunya.

Pasirnya belum habis terjatuh. Karin melirik jam pasir itu dan berbicara pada sang pembaca surat.

"Tolong carikan beberapa pekerjaan jangka panjang juga. Pekerjaan yang menyediakan makanan. Apa saja yang bisa dikerjakan di sekitar area ini tidak masalah. Syukur-syukur kalau bayarannya lebih dari 5 lina."

Pembaca surat itu mencabut beberapa lembar permintaan dari sudut papan dan membacakannya keras-keras.

Karena Karin menyebutkan pekerjaan dengan periode yang lebih lama, mungkin ia sedang mencari pekerjaan untuk dilakukan saat ia tidak bersama Juhwan nanti, atau mungkin untuk persiapan setelah satu bulan berlalu.

Menyadari tatapan Juhwan, Karin mengangkat bahu dan tersenyum.

"Kalau syaratnya bagus, lebih baik kita pastikan dari awal dan ambil lembar permintaannya. Kalau tidak, orang lain yang akan merebutnya. Siapa cepat, dia dapat."

"Memangnya pihak guild tidak menegur soal itu?"

"Oh, kalau kamu mengambil lembar permintaannya, kamu tidak bisa menyimpannya begitu saja. Kamu wajib mendaftarkannya. Kalau kamu tidak menyelesaikan pekerjaan itu dalam batas waktu yang ditentukan, ada penalti denda, jadi kamu harus menyelesaikannya apa pun yang terjadi. Itulah sebabnya kamu tidak boleh sembarangan menerima permintaan yang tak bisa kamu tangani, meskipun bayarannya tinggi."

Pada saat itu, pasirnya sudah habis. Pembaca surat menerima bayaran 1 lina di tempat, lalu berbalik untuk kembali ke tempat duduknya.

"Ah, tunggu sebentar."

Ketika Juhwan memanggilnya, sang pembaca meletakkan kembali jam pasir itu ke rak.

"Apakah Anda ingin saya membacakan lembar permintaan untuk Anda?"

"Bukan. Bolehkah saya meminta kelas privat dengan Anda? Saya ingin belajar membaca dan pelafalan. Di hari libur Anda atau saat malam hari pun tidak masalah."

Mendengar kata-kata Juhwan, wajah pembaca surat itu langsung menegang.

"Maaf, tapi saya tidak melakukan hal semacam itu. Guild melarangnya."

"Ah… Saya minta maaf."

Apakah guild melarang pekerjaan sampingan? Ia benar-benar tidak menduganya.

Di sebelahnya, Jesse buru-buru buka suara karena panik.

"Bukan, bukan, bukan begitu maksudnya. Pria ini sangat tergila-gila pada istrinya, jadi dia tidak bermaksud ke arah sana. Dia benar-benar bermaksud meminta kelas privat sungguhan untuk belajar. Mungkin."

Pembaca surat itu menatap Juhwan dengan ekspresi sedikit kebingungan sebelum wajahnya berubah merah padam.

Jesse menatap Juhwan dan bertanya,

"Benar 'kan? Maksudmu benar-benar dalam arti harfiah... 'kan?"

"Memangnya ada arti lain dari kelas privat?"

Juhwan juga jadi sedikit bingung. Apakah ungkapan "kelas privat" punya arti lain di dunia ini? Sama halnya dengan orang yang berkata ingin pergi "memetik bunga" padahal maksudnya ingin pergi ke toilet?

Marie mulai terkikik.

"Nona ini hidup sendiri tanpa suami, jadi, yah, kau tahu. Beberapa pria mengira dia terkadang menerima 'pekerjaan semacam itu'. Pria-pria hidung belang biasanya mengundangnya dengan cara seperti yang baru saja kau lakukan."

Barulah saat itu Juhwan mengerti maksud mereka.

Tapi, apa iya ada pria gila yang berani meminta layanan seperti itu saat istrinya sedang berdiri tepat di sampingnya?

Lizzie sepertinya baru paham belakangan. Wajahnya seketika memerah, dan ia terlihat sedikit marah.

"Juhwan tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu…"

Awalnya Lizzie bicara dengan tegas, tapi suaranya sedikit mengecil di akhir kalimat saat ia menatap Juhwan dengan raut wajah khawatir. Meskipun ia sendiri yang mengatakannya, sepertinya ia tetap ingin memastikan, untuk berjaga-jaga.

"Aku benar-benar tidak melakukannya. Sekalipun langit runtuh, hal itu tidak akan pernah terjadi."

Baru setelah Juhwan mengatakannya dengan lantang dan jelas, Lizzie bisa bernapas lega.

Seolah ingin mendeklarasikan bahwa pria ini adalah miliknya, Lizzie menggenggam erat tangan Juhwan. Lizzie bukanlah orang yang terlalu ekspresif, jadi momen seperti ini cukup langka. Jika istrinya itu menunjukkan rasa posesif, itu adalah hal yang membahagiakan.

"Tidak melakukan apa?"

Dorothy, yang sejak tadi asyik bermain di dekat mereka, tiba-tiba menyelipkan wajahnya di antara Juhwan dan Lizzie lalu bertanya.

Semua orang dewasa di sana seketika terdiam.

Dorothy memiringkan kepalanya, lalu bertanya lagi.

"Tapi Ayah, apa langitnya akan runtuh? Kapan? Apa yang terjadi kalau langitnya hilang? Itu masalah besar."

Juhwan langsung menggendong anak itu.

Di sebelahnya, Lizzie diam-diam menjelaskan kepada Dorothy bahwa tidak akan terjadi apa-apa meskipun langit runtuh. Langit itu letaknya sangat tinggi, jadi meskipun runtuh, reruntuhannya tidak akan sampai menimpa mereka…

Bukan begitu, Lizzie. Bukan itu maksudnya.

Sang pembaca surat, yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Juhwan dan Lizzie, bertanya seolah ia menemukan sesuatu yang aneh.

"Ngomong-ngomong, dari apa yang saya lihat tadi, Anda sepertinya sudah bisa membaca. Kenapa Anda ingin belajar dari saya?"

"Barusan, saat saya mendengar Anda membaca, saya menyadari Anda pasti telah menerima jenis pendidikan yang biasa didapatkan oleh para bangsawan Roxy."

Wajah wanita itu sedikit menegang.

Mungkin Juhwan telah menyinggung sesuatu yang sensitif. Ia menundukkan kepalanya sedikit.

"Saya minta maaf jika ucapan saya lancang. Tapi saya pernah mendengar pelafalan serupa sebelumnya. Jika memungkinkan, saya ingin mempelajari cara bicara yang lebih halus. Saya juga ingin memperluas perbendaharaan kata saya dan mempelajari hal-hal semacam itu."

Kali ini, bukan hanya sang pembaca, tapi juga Lizzie dan para anggota Red Sword menatapnya dengan tatapan aneh. Wajah mereka seolah berkata, Kalau kau sudah bisa membaca dan menulis, apa lagi yang kau butuhkan?

Namun, apa pun yang dipelajari suatu hari nanti akan berguna dan mendarah daging. Juhwan tidak punya niat khusus untuk menjalin koneksi dengan para bangsawan, tapi siapa yang tahu apa yang mungkin terjadi di masa depan? Pengetahuan adalah kekuatan, dan kebenaran mutlak itu berlaku di dunia dan zaman mana pun.

Pembaca itu mengangkat bahunya sedikit dan tertawa kecil.

"Anda ini pria yang aneh. Saya bisa memberikan kelas privat. Bahkan, kalaupun yang Anda maksud memang 'pekerjaan' yang satunya, saya malah dengan senang hati melakukannya. Tapi saya punya satu syarat. Saya tidak mau menemui Anda berdua saja."

Itu tepat seperti yang Juhwan inginkan.

Ia tidak pernah punya niat untuk menemuinya secara terpisah dan meninggalkan Lizzie serta Dorothy.

Lagipula, jika memungkinkan, ia juga ingin meminta wanita itu untuk membantu pendidikan Lizzie. Jika Lizzie bisa belajar pelafalan dan huruf yang benar dari awal, itu akan jauh lebih baik.

Setelah berjanji untuk menentukan waktu dan bayarannya nanti, Juhwan mendaftarkan lembar permintaan itu kepada pegawai guild bersama Red Sword.

"Tidak ada jumlah pasti yang ditetapkan, jadi kalian boleh membawa sepuluh karung atau bahkan seratus karung. Namun, klien meminta tanaman herbal yang segar, jadi kalau kalian berhasil mengumpulkan beberapa, tolong bawa ke sini pada hari yang sama jika memungkinkan, atau paling lambat besok paginya. Kalian ingin karung jenis apa?"

"Karung yang kecil terlalu merepotkan, tolong beri kami tiga karung besar."

"Hati-hati jangan sampai tanamannya terlalu hancur. Kalau kualitasnya buruk, harganya akan dikurangi."

"Aku tahu."

Menanggapi peringatan resepsionis itu, Karin tersenyum kecut.

Berbeda dengan pekerjaan pengawalan, tidak ada token permintaan khusus untuk pekerjaan mencari herbal. Mereka hanya menerima karung-karung kain untuk menyimpan tanaman tersebut.

"Kalau kita bergegas, kita bisa mulai mengumpulkan beberapa hari ini."

Anggota Red Sword tampak sedikit tidak sabar. Memanggul karung seolah membawa karung beras, mereka segera beranjak meninggalkan kantor guild.

Tempat yang dituju oleh Red Sword berada di luar desa, butuh sekitar satu jam berjalan kaki. Lokasinya berada di pinggiran sebuah hutan. Ada jalan setapak sempit yang menuju ke dekat sana, tapi hampir tidak ada jejak apa pun yang menunjukkan bahwa tempat itu pernah dilewati. Sepertinya area ini sangat jarang dikunjungi orang.

"Para petualang berpengalaman masing-masing punya area berburu atau tempat rahasia pengumpulan tanaman herbal yang tidak diketahui orang lain. Mereka biasanya tidak akan memberitahukannya kepada sembarang orang. Ini adalah salah satu tempat yang sering kami kunjungi. Ada beberapa jenis tanaman herbal yang tumbuh di sini, dan monster atau hewan buas juga jarang muncul."

"Apa tidak apa-apa memberitahuku rahasia semacam itu?"

"Kami berutang budi padamu, Juhwan."

Karin menyibak rerumputan yang rendah dan melangkah maju. Pepohonan tinggi menjulang jarang-jarang ke angkasa.

"Kalian lihat benda-benda di atas sana, yang bentuknya seperti sarang burung?"

Saat menengadah ke langit, Juhwan melihat benda-benda bundar yang terbentuk di beberapa dahan pohon, posisinya begitu tinggi hingga membuatnya pusing melihatnya. Daripada disebut sesuatu yang 'mirip' sarang burung, bukankah itu memang sarang burung sungguhan?

"Itu namanya mistletoe (benalu). Bukan burung yang membuatnya. Itu adalah tanaman parasit yang tumbuh menumpang di pepohonan ini."

Juhwan sedikit terkejut. Dilihat dari sudut mana pun, benda itu murni terlihat seperti sarang burung, tapi ternyata itu hanyalah tanaman?

"Tapi posisinya tinggi sekali. Bagaimana cara kalian memanennya?"

"Kau lilitkan ini di pinggangmu, panjat pohonnya, lalu potong benalunya dengan pisau."

Benda yang dikeluarkan Marie dari tas di punggungnya adalah sebuah sabuk kulit melengkung dan beberapa potong kulit pendek yang telah dipasangi paku-paku besi. Ia menempelkan kulit berpaku itu ke sol sepatunya dan mengikatnya erat-erat. Setelah paku-paku tajam itu menancap kokoh di bawah sepatunya, ia menghentak-hentakkan kakinya beberapa kali untuk memastikan keamanannya.

Astaga.

Sepertinya ia benar-benar bermaksud memanjat pohon hanya dengan modal paku yang terpasang di sepatunya.

Ekspresi Juhwan pasti terlihat sangat lucu, karena Marie langsung menyeringai sambil melilitkan tali kulit tersebut ke batang pohon.

Sementara itu, Karin mengikat sebilah pisau kecil ke ujung sebatang bambu, menciptakan sebuah pisau panjang darurat. Ia lalu mengikatkan tali panjang ke pisau bambu itu dan mengamankannya di sekitar pinggang Marie.

"Tonton saja dulu untuk sekarang."

Marie mengencangkan lilitan tali kulitnya ke batang pohon dengan agak longgar, lalu menyelipkan tubuhnya ke dalam celah tali tersebut. Saat ia mencondongkan tubuhnya ke belakang, tali kulit itu langsung meregang kencang. Menggunakan tali itu untuk menyeimbangkan tubuhnya, Marie menancapkan paku besi di kakinya ke pohon dan mulai memanjat sedikit demi sedikit.

"Hati-hati!"

Saat Lizzie berteriak, Marie membalasnya dengan mengacungkan jempol. Beberapa saat kemudian, sosok Marie sudah berada sangat jauh di atas mereka.

Jantung Juhwan berdebar penuh kecemasan.

Setelah Marie mencapai tempat tumbuhnya benalu itu, ia menarik pisau bambu yang terikat di pinggangnya menggunakan tali, lalu memotong benalu tersebut.

Baru dapat satu potong.

Harga mistletoe, yang dikumpulkan sambil mempertaruhkan nyawa ini, ternyata hanya sekitar 1 hingga 2 lina, itu pun baru dibayar setelah beberapa potong berhasil dikumpulkan menjadi satu.

Setelah berhasil mengumpulkan beberapa mistletoe, mereka beralih menggali gastrodia. Gastrodia adalah sejenis akar yang terpendam di dalam tanah. Proses mencarinya jauh lebih aman dibandingkan memanjat demi mistletoe, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Mencari nafkah ternyata memang bukan hal yang mudah.

Sementara Juhwan dan Lizzie menggali gastrodia dalam diam bersama kelompok Red Sword, Dorothy dan Oz asyik berkeliling di sekitar sana.

Dorothy sepertinya juga sedang mencari sesuatu. Anak itu berjalan ke sana kemari dengan sangat sibuk, memberi perintah pada Oz untuk menggali di sini dan menggali di sana.

Juhwan terus mencuri pandang untuk memastikan Dorothy tidak lepas dari pandangannya sambil terus menggali gastrodia.

Lalu tiba-tiba, telinga Oz meruncing ke atas, dan anjing itu mulai menggali dengan gila-gilaan di satu titik.

"Oz! Apa yang kau lakukan?"

Dorothy berjongkok dan menatap Oz.

Namun, seolah tidak bisa mendengar suara Dorothy, Oz terus menggali secara membabi buta.

Tepat saat Juhwan merasa ada yang aneh dan bergerak mendekat, sebuah suara ganjil nan mengerikan bocor dari dalam lubang yang telah digali Oz—begitu cepatnya anjing itu menggali hingga tubuhnya tak lagi terlihat dari luar.

"Kkieh, kkieh, kkieeeeeh!"

Previous Chapter | LIST | Next Chapter



Post a Comment

0 Comments