Header Ads Widget

Chapter 75 - Kebenaran di Balik Pemanggilan Pahlawan

 


Bab 75: Kebenaran di Balik Pemanggilan Pahlawan

Manusia cenderung percaya pada apa yang mereka lihat. Jika hal itu dimanfaatkan dengan baik, menipu orang akan menjadi sangat mudah.

Menipu warga yang tidak tahu apa-apa bahkan jauh lebih mudah. Tunjukkan saja keberhasilan dan sembunyikan kegagalannya. Hanya dengan sedikit polesan, mereka akan bersorak dan percaya begitu saja.

Namun terkadang, ada hal-hal yang tidak bisa disembunyikan.

Helaan napas panjang keluar dari mulutnya. Glen berdiri di dekat jendela dan menundukkan pandangannya.

Seorang pria yang sedikit lebih pendek dari rata-rata pria Kerajaan Tyron sedang mengayunkan pedang. Tetapi kelihatannya tidak berjalan lancar. Pria itu menebas udara kosong dengan ilmu pedang yang sangat buruk, bahkan anak berusia sepuluh tahun pun mungkin bisa melakukannya lebih baik.

Wanita di sebelahnya bahkan lebih parah. Sudah hampir sebulan sejak ia mulai memegang pedang, namun ia masih belum bisa memasang kuda-kuda yang benar.

Dahi Glen berkerut dengan sendirinya.

Kedua orang itu adalah penyihir. Sama sekali tidak ada kebutuhan bagi mereka untuk memegang pedang. Glen sudah menjelaskan berkali-kali bahwa itu tidak perlu. Meski begitu, merekalah yang menuntutnya. Padahal mereka sama sekali tidak berniat melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Pernah juga ada masa ketika mereka berdua ingin memakai helm dan baju zirah. Namun begitu mereka benar-benar memakainya, mereka merasa kesulitan. Mereka langsung melepasnya hampir seketika, bahkan sebelum melangkah lebih dari beberapa tindak. Sepertinya mereka hanya berpikir bahwa pedang dan baju zirah itu terlihat keren.

Menurut laporan, mereka terkadang mengeluh bahwa kenyataannya berbeda dari apa yang mereka bayangkan. Setelah itu, mereka hanya akan mengenakan pakaian-pakaian yang terlihat mengesankan dan mengagumi diri mereka sendiri di depan cermin.

Tidak ada ketekunan. Tidak ada motivasi. Benar-benar tidak berguna.

Tetapi, bahkan jika mereka berdua termotivasi, mungkin tidak akan ada banyak kemajuan. Pedang adalah sesuatu yang harus dilatih sejak masa kanak-kanak. Orang dewasa yang baru mulai belajar akan sangat sulit untuk menjadi seorang ahli.

Lebih parah lagi, mereka berdua lamban dalam mempelajari segala hal. Mempelajari bahasa, mempelajari tata krama, dan bahkan mengendalikan sihir—hal yang paling penting dari semuanya—semuanya lamban.

Helaan napas kembali lolos dari mulut Glen sebelum ia menyadarinya.

Satu-satunya hal dari mereka berdua yang melampaui orang biasa hanyalah kekuatan fisik mereka. Tetapi kekuatan semata tidak bisa melakukan apa-apa. Kekuatan hanya bermakna jika seseorang bisa mengendalikannya. Kekuatan yang tak terkendali tidak lain hanyalah sebuah bencana.

Mulut orang-orang tidak bisa dibungkam selamanya.

Pihak kerajaan telah berhati-hati semampu mereka dan menutupi kenyataan ini sebaik mungkin. Tetapi suatu hari nanti, wujud asli kedua orang itu akan terungkap kepada rakyat. Akan sangat bagus jika mereka bisa memberikan sedikit hasil sebelum saat itu tiba, tetapi menilai dari penampilan mereka sekarang, sepertinya tidak ada harapan.

"Anda tidak boleh membuang waktu terlalu lama di sini, Yang Mulia." Suara ajudan menarik kembali perhatiannya.

Glen menatap sang Pahlawan wanita yang sedang membisikkan sesuatu kepada ksatria pengawalnya sambil tertawa, lalu melangkah mundur dari jendela. Terdengar samar suara marah dari pria Pahlawan yang melihat wanita itu dari balik jendela.

Dunia ini bukanlah panggung sandiwara atau lukisan. Jika seseorang kelaparan, ia akan merasa lapar. Jika terluka, ia akan berdarah.

Pahlawan pun sama. Mereka bisa jatuh sakit atau terluka, dan saat mereka menua, kekuatan mereka akan melemah.

Orang yang berakal sehat akan memahami situasinya sendiri dan menyiapkan langkah antisipasi. Mereka akan mencoba mengarahkan segalanya ke arah yang lebih baik dan mengamati lingkungan sekitar dengan saksama. Mereka akan menilai siapa yang bisa membantu mereka, lalu bekerja sama atau membangun ikatan persahabatan dengan orang tersebut.

Entah bagaimana caranya, mereka pasti akan melakukan sesuatu.

Tetapi dua orang ini sama sekali tidak mencoba melakukan apa pun. Mereka hanya bereaksi terhadap kesenangan dan pujian yang diberikan kepada mereka. Mereka terlihat seperti anak-anak polos yang tubuhnya saja yang tumbuh besar.

Akan jauh lebih baik jika mereka adalah orang-orang yang lebih beradab. Jika iya, Glen dan ayahnya—sang Raja—pasti sudah mendekati mereka dengan niat menempatkan mereka di posisi-posisi penting.

Namun, orang bodoh tak beradab yang hanya memiliki kekuatan semata cuma bisa digunakan sebagai alat sederhana. Beri mereka kekasih, uang, dan posisi dengan gelar yang terdengar hebat. Gunakan mereka, suruh mereka menghasilkan keturunan, dan selesai sudah.

Sungguh sia-sia, padahal mereka seharusnya adalah Pahlawan.

Tapi apakah mereka berdua benar-benar Pahlawan?

Awalnya, Glen merasa tidak ada keraguan. Namun sekarang, ia mulai mempertanyakannya.

Kerajaan Tyron tidak pernah melakukan ritual Pemanggilan Pahlawan. Dua orang itu tiba-tiba saja muncul di sebuah ruangan tempat lingkaran pemanggilan Pahlawan digambar. Tidak ada ritual yang dilakukan, tetapi secara alami, semua orang berasumsi bahwa mereka adalah Pahlawan. Mereka percaya para dewa telah mengirimkan keduanya untuk Tyron yang sedang berperang. Penampilan mereka dan tempat di mana mereka muncul tidak menyisakan ruang untuk keraguan.

Seharusnya kita menangani mereka dengan lebih hati-hati.

Menurut legenda dan catatan kuno, Pahlawan bisa menggunakan berbagai jenis kekuatan. Tetapi dua orang itu masing-masing hanya memiliki satu kekuatan. Tidak ada tanda-tanda munculnya kekuatan lain. Mereka memang memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, tetapi mereka terasa tidak lengkap.

Namun, Glen tidak bisa mengungkit hal itu sekarang.

Ayahnya dan kepala kuil juga sudah menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh, tetapi tidak ada yang berani membicarakannya lebih dulu. Mereka sudah telanjur menyebarkan kabar ke seluruh penjuru negeri bahwa kedua orang itu adalah Pahlawan. Rumornya bahkan telah menyebar luas ke negara-negara lain. Dan pihak yang mengipasi rumor tersebut menggunakan mata-mata tidak lain adalah sang raja dan Glen sendiri.

Glen mengembuskan napas pelan dan mempercepat langkahnya.

Hatinya terasa luar biasa berat saat ia pergi menemui ayahnya, tetapi menunda pertemuan itu tidak akan menyelesaikan apa pun.

Setelah melewati koridor panjang, ia tiba di depan ruang kerja. Pintunya terbuka bahkan tanpa ia perlu berhenti melangkah. Itu adalah bukti bahwa ayahnya sudah menunggu sedari tadi.

Beban di hatinya terasa semakin berat. Rasanya seolah ada tangan tak kasat mata yang menjulur dari lantai dan menariknya ke bawah. Dengan langkah yang terasa berat, ia memasuki ruang kerja. Ayahnya, yang tadinya berdiri di dekat jendela, berbalik.

"Kau sudah datang. Kau terlambat." "Saya minta maaf." "Tidak apa-apa."

Ayahnya berjalan menuju kursi di dekatnya. Setelah duduk, ia memberi isyarat dengan pandangannya ke arah kursi di seberangnya. Glen pun duduk di hadapan ayahnya, sedikit tegang.

"Bagaimana keadaan para Pahlawan?" "Tidak ada kekuatan baru yang muncul." "Apakah mereka menunjukkan tanda-tanda bisa menciptakan Rudolph?"

Ayahnya mungkin sudah tahu jawabannya. Glen sedikit menundukkan pandangannya dan menjawab. "Tidak. Hari ini pun, hanya dua monster sihir (demonic beast) yang mati."

"Mungkinkah mereka bukan Pahlawan dan juga bukan kontraktor Santa..." Ayahnya berhenti berbicara di tengah kalimat dan menutup mulutnya. Ia menatap tajam ke langit-langit. Setelah berpikir sejenak, ayahnya bertanya lagi.

"Apakah sudah pasti kalau mereka berdua bertemu dengan Santa?" "Ya. Hal itu sudah pasti. Saya dengar mereka bertemu dengannya saat mereka masih sangat muda." "Dan benarkah mereka mengajukan permohonan kepada Santa?" "Ya, Ayahanda. Mereka bilang mereka mengajukan permohonan beberapa kali. Tidak diragukan lagi bahwa Santa mengabulkan keinginan tersebut. Mereka dengan jelas menjawab bahwa mereka menerima hadiah." "Keduanya?" "Ya."

"Lalu kenapa..." Ayahnya menghela napas panjang.

Bahkan jika mereka bukan Pahlawan, akan sangat bagus jika mereka adalah kontraktor Santa. Kenyataannya, itu akan jauh lebih baik. Tetapi sekeras apa pun pihak kerajaan berusaha membawa monster sihir kepada mereka, kedua orang itu tetap tidak bisa menciptakan Rudolph.

"Ehm, Ayahanda." Ketika Glen membuka mulut dengan ragu, sang raja menatapnya.

"Saat ini sudah semakin sulit untuk mendapatkan monster sihir di dalam negeri. Jika kita mencarinya terlalu terang-terangan, rumor akan menyebar. Tetapi jika kita mencoba mendapatkannya secara rahasia, jumlah monster sihir yang ada terlalu sedikit."

Itulah masalah terbesarnya saat ini. Mereka masih belum tahu apakah para Pahlawan bisa menciptakan Rudolph atau tidak. Selama semuanya masih belum pasti, mereka tidak boleh menyerah terlalu cepat. Tetapi monster sihir adalah hewan yang paling sulit ditangkap hidup-hidup.

Sudah sangat sulit untuk mendapatkan sedikit monster sihir yang tersedia sembari mencegah rumor menyebar. Sekarang, hal itu sudah mustahil dilakukan.

Ayahnya mengangguk pelan. "Ya, kurasa begitu."

Sang raja memberi isyarat memanggil kepala pelayan. Ketika pria itu mendekat, raja berbicara dengan suara pelan.

"Hubungi pedagang dari Kerajaan Angin dan suruh dia mencari monster sihir. Jika dia mengajukan permintaan ke Guild Santa di Kerajaan Simoni, itu sudah cukup. Para pemburu monster sihir di sana terkenal akan keahlian mereka."

Kerajaan Simoni adalah negara yang saat ini sedang berperang melawan negara mereka sendiri.

Glen menatap ayahnya dengan ekspresi tercengang. "Tetapi Ayahanda, negara itu sedang berperang dengan kita. Mereka adalah musuh kita."

Ayahnya menyeringai. "Glen, tahukah kau bahwa keuangan negara kita sedang menipis akibat perang panjang ini?" "Tentu saja." "Lalu dari mana menurutmu asal uang untuk membeli senjata dan memberi makan para prajurit?" "..." "Penjarahan." "Apa?" "Negara kita merampas dari berbagai negara lain. Sudah saatnya kau mengetahui hal ini juga."

Astaga. Cerita itu sangat tidak masuk akal sehingga Glen pasti sedang memasang ekspresi kosong sekarang. Ayahnya terkekeh.

"Saat kita melakukan penjarahan, ada sebuah perusahaan dagang di Kerajaan Angin yang menyamarkan barang-barang tersebut dan membantu menyelundupkannya melewati perbatasan. Orang yang mengelolanya sangat cakap. Jika kita menyerahkan urusan ini kepadanya, dia akan menyembunyikan keterlibatan kita dan mendapatkan monster-monster sihir itu, jadi jangan terlalu khawatir."

"...Baik. Saya mengerti." "Kepala pelayan akan mengatur pertemuanmu dengannya nanti. Perhatikan baik-baik metode kerjanya." "Baik."

Percakapan dengan ayahnya berakhir di sana. Namun, rasa pahit di hatinya bertahan cukup lama.

Tidak kusangka raja mengizinkan penjarahan di negara-negara lain. Ini konyol.

Seorang penguasa yang mengelabui mata rakyat adalah sesuatu yang lumrah terjadi. Tidak, itu wajar. Politik memang tidak selalu bisa tetap bersih. Ia tahu itu. Tetapi penjarahan? Rasa jijik bergejolak di dalam dirinya.

Glen menyembunyikan emosinya, menundukkan kepalanya dalam diam, dan meninggalkan ruang kerja. Berbekal wajah tanpa ekspresi yang telah ia latih selama bertahun-tahun, ia menyusuri koridor.

"Yang Mulia."

Tiba-tiba, sebuah suara memanggil dari belakang, membuatnya menghentikan langkah. Saat ia berbalik, ajudannya sedikit menurunkan alis dan berbicara pelan.

"Sejak tadi Anda terus mengusap bibir Anda."

Baru pada saat itulah Glen sadar bahwa ia telah menggosok mulutnya dengan punggung tangannya. Glen mengepalkan tinjunya. "Aku pikir ada sesuatu yang menempel."

Ajudannya menundukkan kepala dalam diam.

Sambil terus mengepalkan tangannya erat-erat agar tidak terangkat lagi, Glen melanjutkan langkahnya. Dari balik jendela, ia mendengar suara tajam dari para Pahlawan. Sepertinya mereka sedang bertengkar.

Tanpa disadari, ia kembali mengusap bibirnya dengan tangannya. Manusia memang benar-benar cepat beradaptasi.

Perubahan di Guild Petualang

Sebenarnya, Juhwan baru datang ke Guild ini beberapa kali, tetapi rasanya ia sudah seperti keluar masuk tempat ini selama bertahun-tahun.

Begitu ia melangkah masuk, tatapan para petualang yang duduk di kursi sebelah kanan serempak beralih ke arahnya. Pemandangan itu, dan bahkan para petualang yang duduk di sana, terlihat sama seperti sebelumnya. Mereka tentu saja bukan pengangguran yang tidak ada kerjaan, lalu kenapa rasanya wajah-wajah yang ia lihat sebelumnya masih duduk di tempat yang sama?

"Tuan Juhwan, ada apa?" Lizzie memiringkan kepalanya dengan bingung.

Ketika Juhwan menjawab tidak ada apa-apa, Lizzie menggandeng tangan Dorothy, berjalan melewati sisi Juhwan, dan tersenyum. "Ayo masuk. Kelompok Red Sword pasti sudah menunggu."

Saat pertama kali datang ke sini, Lizzie dan Dorothy terlihat kaku karena gugup. Tapi kali ini, mereka melangkah masuk tanpa ragu sedikit pun. Lizzie berjalan dengan punggung tegak, dan posturnya terlihat anggun. Ia benar-benar tampak seperti seorang petualang.

Karena mereka selalu bersama, Juhwan tidak merasa Lizzie banyak berubah. Tetapi ketika melihatnya secara mendadak seperti ini, ia sadar bahwa wanita itu sudah sangat berbeda dari saat pertama kali mereka bertemu. Kesadaran bahwa Lizzie berubah setelah bertemu dengannya membuat wanita itu terlihat semakin menawan dan menggemaskan di matanya. Juhwan merasa seolah ia telah menjadi tukang kebun yang merawat setangkai bunga berharga dengan hati-hati hingga mekar sempurna.

Kelompok Red Sword (Pedang Merah) sedang duduk di sudut ruangan. Hanya area di sekitar merekalah yang memiliki atmosfer berbeda dari sebelumnya. Juhwan bertanya-tanya apa yang berbeda, lalu tiba-tiba menyadarinya.

Tidak seperti sebelumnya, para pria di dekat mereka tidak lagi mengganggu dengan kata-kata kasar atau menertawakan mereka. Pasti terjadi sesuatu.

Memikirkan hal itu, ia mendekat dan melihat noda darah di meja tempat kelompok Red Sword duduk. Tetesan darah merah menggenang di sekitar penyok bulat yang terlihat seperti bekas tancapan paku.

Pegawai Guild yang cerewet melontarkan teguran kepada kelompok Red Sword.

"Hei, kalian. Jangan pikir aku akan membiarkan ini begitu saja, tidak peduli siapa pun kalian. Kalau kalian merusak properti Guild, tentu saja kalian harus menggantinya. Apa kalian tahu seberapa besar lonjakan harga perabotan gara-gara orang-orang kasar seperti kalian? Itulah sebabnya meja dan kursi di Guild kita dibuat sangat kokoh. Kami beli yang mahal. Tahu kenapa? Karena petualang berdarah panas seperti kalian selalu merusaknya setiap saat! Yah, sudahlah. Kali ini mejanya tidak sampai hancur, jadi meskipun aku membiarkannya kali ini, pastikan kalian membersihkan penyok dan noda darah itu sampai tidak ada bekasnya. Kalau kalian gosok pakai ampelas, pasti akan hilang. Bersihkan juga darahnya sampai bersih."

Tidak, pegawai itu ternyata tidak cuma melontarkan satu teguran.

Wajah para anggota Red Sword tampak muram. Saat Lizzie berbisik bertanya apa yang terjadi, Mary menjawab dengan suara pelan.

"Ada cowok yang biasanya selalu cari gara-gara dengan kami. Dia datang lagi, melontarkan lelucon kotor dan menghalangi jalan kami, jadi Karin menancapkan paku ke meja. Dia cuma berniat menakut-nakutinya, tapi entah bagaimana malah menancap di antara sela jari si cowok itu."

Bukan begitu, kalau mau menakut-nakuti, kau harusnya menerjangnya seolah-olah kau benar-benar ingin membunuhnya, batin Juhwan.

Seorang petualang yang tadinya duduk diam di sudut ruangan tiba-tiba angkat bicara. "Bagus. Keparat itu pantas terluka sedikit. Dari yang kulihat sendiri, dia sudah ratusan kali menempel pada mereka dengan cara yang menjijikkan."

Ketika Karin menatap petualang itu, pria itu menyeringai. "Kau butuh nyali setidaknya sebesar itu untuk bisa bertahan hidup sebagai petualang. Kalau dia bertingkah mesum lagi lain kali, jangan cuma berhenti di tangannya. Hancurkan saja bijinya."

Mendengar ucapan petualang itu, para pria di sekitarnya meledak dalam tawa. Suasana pun sedikit mencair.

Seorang pria di dekat kelompok Red Sword mengangkat bahu dan berkata, "Sialan. Padahal cuma mengganggu dan curi-curi sentuh mereka sajalah satu-satunya hiburanku datang ke sini." "Keparat gila! Makanya kau tidak pernah bisa naik dari peringkat lima. Harusnya kau mikirin cara meningkatkan keahlianmu." "Brengsek, kau kan sama saja denganku. Ngomong apa kau ini?"

Para pria itu kembali tertawa terbahak-bahak. Tetapi tidak seperti sebelumnya, mereka tidak lagi memberikan tatapan lengket nan mesum ke arah kelompok Red Sword. Itu hanyalah obrolan kasar antar pria.

Pegawai Guild yang cerewet itu bertepuk tangan dengan keras dan berteriak, "Bawa obrolan rongsokan itu ke kedai minum! Ini adalah Guild yang suci!"

Tawa kembali meledak dari para petualang di sana-sini. "Si keparat gila." "Suci pantatku." "Konyol."

Juhwan tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan melihat Lizzie serta anggota Red Sword mengerutkan kening sembari melihat para pria itu tertawa.

Namun entah mengapa, pemandangan itu kini terasa seperti sebuah lukisan yang menyatu. Tidak seperti sebelumnya, di mana para wanita itu terasa seperti dipotong dan diasingkan dari semua orang.

Sedikit demi sedikit, Juhwan berharap mereka bisa berbaur ke dalam masyarakat ini. Bahkan jika itu dimulai dari hal-hal yang sepele, jika mereka berubah perlahan-lahan, mungkin suatu saat nanti hari itu akan tiba.

Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments