Kurasa Ada Pengkhianat di Antara Kita
Apakah seseorang benar-benar membutuhkan krisis di dalam hidupnya? Tentu saja tidak. Tolong, biarkan hal semacam itu tidak pernah terjadi.
Juhwan duduk menyandarkan punggungnya pada roda gerobak dan menempelkan kepalanya pada dinding kereta kayu itu, lalu memejamkan matanya.
Ia pernah membaca di suatu tempat bahwa manusia menghabiskan energi dalam jumlah yang mengejutkan hanya dengan sekadar melihat. Kapasitas informasi yang diterima oleh mata jauh lebih besar daripada yang disadari oleh kebanyakan orang.
Mungkin itulah sebabnya, setiap kali ia punya sedikit waktu luang, sekadar memejamkan mata sudah cukup membuatnya merasa rasa lelahnya sedikit berkurang.
"Sampai kapan mereka akan terus membuntuti kita?"
Telah terjadi serangan bandit lagi pada malam harinya. Kali ini, kelompok pedagang yang berada di barisan paling belakang yang menjadi sasarannya. Sementara posisi-posisi lain sama sekali tidak tersentuh.
Aneh.
Ada banyak posisi lain di luar kelompok ini yang sama sekali tidak diserang selama beberapa hari terakhir. Walaupun begitu, ada sesuatu tentang fakta ini yang mengganggu pikirannya. Sensasinya mirip seperti saat kau merasa sedang diawasi oleh seseorang.
Apa karena kelompok kami menyewa seorang penyihir?
Di antara seluruh karavan pedagang ini, perusahaan dagang tempatnya bernaung adalah satu-satunya yang bepergian dengan membawa seorang penyihir. Mungkin para bandit itu juga mengetahui fakta tersebut.
Tapi aneh rasanya jika bandit rendahan bisa mengetahui informasi semacam itu.
Ya. Itu jelas sangat aneh.
Masih bersandar pada dinding kereta, Juhwan membuka kedua matanya. Berbeda dengan situasi di bawah sana yang penuh ketegangan, langit di atasnya terlihat begitu tenang. Langit yang belum lama ini gelap gulita perlahan telah berubah warna, tampak seperti tinta pekat yang dicampur dengan air.
Begitu hari sudah terang, para bandit itu tidak akan menyerang. Setelah beberapa hari menyadari fakta itu, orang-orang mulai terbiasa, dan karavan perlahan mulai bergerak dengan rasa gelisah.
Di seluruh penjuru karavan, orang-orang mulai sibuk memeriksa apakah ada bagian kereta yang rusak atau barang dagangan yang dicuri, mengelompokkan para korban luka, dan memindahkan mereka ke atas gerobak perawatan. Mereka yang lukanya sudah terlalu parah dan tinggal menunggu maut bahkan sudah diperlakukan layaknya mayat.
Juhwan berdiri dan mencari keberadaan Leonard, si pemilik perusahaan dagang.
Leonard sedang menatap tajam ke arah menghilangnya para bandit itu. Pria itu tampak sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Apakah tidak apa-apa kalau aku mengganggunya? Juhwan sempat ragu sejenak, lalu pandangannya tertuju pada beberapa kereta kuda dari perusahaan dagang lain di dekat barisan depan yang perlahan mulai memisahkan diri dari iring-iringan. Tatapan Leonard pun ikut bergeser ke arah yang sama.
Juhwan mengambil beberapa langkah mendekati Leonard, yang kelihatannya sudah bersiap-siap untuk bergerak.
"Ada apa?"
Juhwan tadinya mengira Leonard tidak menyadari kehadirannya, tetapi Leonard tiba-tiba menolehkan kepalanya dan langsung bertanya.
Juhwan melangkah lebih dekat lagi dan merendahkan suaranya agar tidak ada orang lain yang bisa mendengarnya.
"Ada yang aneh. Hanya kelompok kita yang tidak pernah diserang."
Mata Leonard langsung tertuju pada wajah Juhwan. Tatapannya sangat tajam, bagaikan seekor macan tutul yang sedang menatap mangsanya.
Dia tidak sedang mencurigaiku, 'kan?
Juhwan membalas tatapan Leonard tanpa ragu dan melanjutkan ucapannya.
"Kurasa ada pengkhianat di antara kita."
"Benarkah begitu?"
Tiba-tiba, Leonard tersenyum.
"Apa kau ini seorang pemburu?"
"Aku belajar sedikit-sedikit."
"Begitu rupanya. Kau pasti punya guru yang sangat hebat. Langkah kakimu nyaris tidak menimbulkan suara sama sekali."
Leonard melirik ke arah busur yang digenggam Juhwan.
"Itu busur yang sangat tidak biasa."
"...Orang yang mengajariku yang membuatkannya untukku."
"Dulu sekali, aku pernah melihat seseorang dari negara asing menggunakan busur semacam itu. Dia bilang busur itu bisa dibuat dari berbagai jenis kayu dan proses pembuatannya sangat mudah. Sangat jarang bisa melihat busur seperti itu di negara ini."
Leonard memberikan isyarat kepada Gordon, si kapten pengawal. Gordon, yang sedari tadi sedang berbicara dengan para penjaga lainnya, langsung berlari menghampiri. Sambil menatap Gordon yang kian mendekat, Leonard bertanya,
"Berapa banyak korban luka parah yang bisa kau sembuhkan dalam satu hari?"
"Setidaknya sebanyak jumlah total pengawal di karavan ini. Aku memang belum pernah mencobanya, tapi kalau memperhitungkan jumlah mana milikku, seharusnya itu sangat mungkin."
Leonard, yang awalnya sedang memperhatikan kedatangan Gordon, langsung menoleh kembali ke arah Juhwan dengan ekspresi terkejut.
"Kau bisa menyembuhkan puluhan orang yang terluka parah dalam satu hari?"
"Kalau cuma segitu sangat mudah. Bahkan tidak butuh waktu seharian penuh."
"Sungguh luar biasa."
Saat Leonard mengakhiri kalimatnya, Gordon tiba di hadapan mereka.
"Gordon. Kalau kita biarkan semuanya seperti ini, akan ada lebih banyak perusahaan dagang yang mulai memisahkan diri. Temui dan bujuk mereka semua. Katakan pada mereka bahwa kalau mereka pergi sekarang, mereka cuma akan jadi makanan empuk para bandit. Kurasa itulah yang sebenarnya sedang diincar oleh para bandit itu. Mereka sengaja ingin memecah belah kita satu per satu supaya bisa memangsa kita dengan mudah."
Gordon menundukkan kepalanya tanda patuh tanpa menunjukkan reaksi terkejut atau melontarkan pertanyaan apa pun.
"Dimengerti."
"Akan sulit untuk membujuk mereka kalau hanya mengandalkan kata-kata. Beri tahu mereka bahwa kita yang akan menanggung biaya sihir penyembuhan untuk setiap korban luka parah yang masih bisa diselamatkan."
Gordon, yang sedari tadi mendengarkan dalam diam, akhirnya bertanya,
"Itu akan memakan biaya yang sangat besar, Tuan."
"Mau bagaimana lagi. Kalau semua perusahaan dagang lainnya pergi, maka perusahaan besar seperti kita ini yang akan jadi target selanjutnya. Jumlah pengawal kita tidak sebanding dengan jumlah bandit-bandit itu."
Saat Gordon hendak berbalik pergi, Leonard menambahkan,
"Tapi jangan obati mereka yang sudah pasti akan mati, dan jangan pula mereka yang hanya menderita luka ringan. Hanya korban luka parah yang masih punya harapan hidup saja. Tegaskan hal itu baik-baik pada mereka."
Gordon segera pergi dengan membawa beberapa pelayan bersamanya. Sementara Gordon berlari ke arah kereta-kereta yang hendak memisahkan diri, para pelayan lainnya mulai mendatangi setiap perusahaan dagang untuk memberi tahu mereka bahwa Gordon akan segera datang.
Leonard menatap Juhwan dan menyeringai.
"Aku setuju denganmu. Kurasa memang ada tikus yang menyusup di antara kita."
Setelah itu, waktu berlalu tanpa ada masalah berarti. Meskipun Gordon sudah berusaha membujuk mereka, tetap saja ada beberapa kelompok pedagang yang nekat pergi, namun sebagian besarnya memutuskan untuk tetap tinggal.
Seusai menyembuhkan para korban luka dari perusahaan lain, Juhwan bergegas menuju kereta tempat Lizzie dan Dorothy berada. Ia belum sempat melihat wajah mereka dengan saksama selama beberapa hari terakhir. Ia terlalu sibuk menjaga kewaspadaan di luar sana, mengawasi setiap arah dengan tegang, sehingga tidak sempat masuk ke dalam kereta.
"Lizzie, ini aku."
Ia mengetuk pintu kereta sambil berbicara, dan tak lama kemudian, diiringi suara derik kayu, pintu pun terbuka.
Lizzie dan Dorothy langsung menghambur ke arahnya secara bersamaan.
"Ayah!"
Juhwan merentangkan kedua lengannya dan menarik mereka berdua ke dalam pelukannya. Lizzie dan Dorothy semakin mengeratkan pelukan mereka padanya seolah menjawab rengkuhannya.
"Juhwan, apa ada bagian tubuhmu yang terluka?" Lizzie bertanya dengan cemas.
Dorothy tiba-tiba mendongakkan kepalanya.
Dengan wajah yang terlihat seolah-olah ia akan menangis kapan saja, Dorothy menatap Juhwan dan berkata,
"Ayah tidak terluka, Ibu. Ayah itu sangat, sangat kuat, jadi Ayah tidak akan terluka. Benar 'kan, Ayah?"
Alih-alih terdengar yakin, ucapan anak itu justru lebih terdengar seperti sedang memastikan. Ada nada isak tangis yang tertahan di akhir kalimatnya.
Juhwan tersenyum lembut.
"Tentu saja. Ayahmu ini 'kan penyihir penyembuh, ingat? Sekalipun Ayah terluka, Ayah bisa langsung menyembuhkannya."
"Benarkah?"
Dorothy akhirnya bisa menghela napas lega.
Topi itu, bersama dengan Oz, masih bertengger manis di atas kepala anak itu. Bahkan di saat ia sedang mencemaskan keadaan Juhwan, ia tetap tidak lupa untuk memakai topi kesayangannya itu. Memikirkan hal itu tanpa sadar membuat Juhwan tersenyum tipis.
Seorang anak kecil memang mudah ditenangkan, tapi lain halnya dengan orang dewasa. Lizzie masih menatapnya dengan penuh kekhawatiran, seolah belum bisa memercayai kata-katanya sepenuhnya.
"Aku baik-baik saja, Lizzie."
Saat ia mengatakannya sambil memeluk tubuh wanita itu lagi dengan lembut, tubuh ramping Lizzie sedikit melengkung ke belakang sebelum lengannya perlahan terangkat. Ia memeluk leher Juhwan erat-erat dan berbisik pelan,
"Hati-hatilah, Juhwan. Kalau situasinya jadi berbahaya, kau harus lari apa pun yang terjadi. Berjanjilah padaku kalau kau akan memprioritaskan keselamatanmu sendiri."
Kemudian, ia semakin merendahkan suaranya.
"Sekalipun aku dan Dorothy sedang dalam bahaya, kau tetap harus melakukan hal yang sama. Kau harus lari duluan, Juhwan. Kumohon."
Juhwan memeluk Lizzie dan Dorothy dalam diam.
"Situasi seperti itu tidak akan pernah terjadi, Lizzie. Aku tidak akan membiarkannya."
Ketika ia mengecup ringan bibir Lizzie, Dorothy langsung memanyunkan bibirnya seperti anak babi yang lucu. Setelah Juhwan mencium kening putrinya, kini giliran Oz.
Dorothy menyodorkan Oz ke depan, meminta Juhwan untuk mencium si kelinci bertanduk itu juga. Karena tak punya pilihan lain, Juhwan akhirnya mendaratkan kecupan kecil di dahi kelinci bertanduk tersebut.
"Pii."
Sebuah sensasi aneh tiba-tiba mengalir di dalam tubuhnya. Rasanya seolah-olah ada sesuatu yang baru saja terhubung antara dirinya dan kelinci bertanduk itu. Sensasinya sedikit berbeda dibandingkan saat ia mentransfer mana.
"Ayah, ada apa?" Dorothy memiringkan kepalanya bingung.
Juhwan menjawab bahwa itu bukan apa-apa dan kembali menatap Oz. Saat itulah ia menyadari bahwa bulu di dahi Oz telah berubah sedikit memutih.
Tidak banyak. Ukurannya benar-benar hanya sebesar kotoran di bawah kuku. Hanya ada beberapa helai bulu putih di sana.
Tapi, apa dari dulu memang ada corak putih seperti ini?
Bulu Oz berwarna cokelat tua belang-belang. Bagian perutnya memang memiliki warna yang berbeda, tetapi sebagian besar tubuhnya didominasi oleh warna cokelat tua itu, dan area wajahnya terlihat sedikit lebih gelap.
Seandainya memang ada bulu putih seperti ini sejak awal, seharusnya itu sangat mencolok. Namun, Juhwan tidak ingat pernah melihatnya sebelum ini.
Meskipun begitu, hal ini mungkin bukanlah pertanda buruk. Entah mengapa, instingnya mengatakan hal itu.
Juhwan membawa keluar pispot kotoran yang sudah terisi penuh selama beberapa hari terakhir. Ia melangkah sedikit menjauh dari kereta, menggali tanah, dan mengubur isinya.
Lizzie tadinya mencoba untuk melakukannya, tapi ia sama sekali tidak boleh dibiarkan meninggalkan area aman di sekitar kereta. Ancaman dari para bandit memang menjadi salah satu masalah utama, tetapi ada juga kemungkinan adanya pengkhianat di dalam perusahaan dagang ini. Tidak ada satu pun orang yang bisa dipercaya.
Saat ia sedang sibuk mengurus ini dan itu, karavan akhirnya mulai bergerak kembali. Juhwan masuk ke dalam kereta dan langsung berbaring.
Lizzie dan Dorothy berbaring di sampingnya dengan Juhwan berada tepat di tengah-tengah. Ruangan itu sangat sempit hingga tubuh mereka sedikit berdempetan. Ukuran tubuh Juhwan memang kelewat besar untuk tempat ini.
Juhwan mencoba menggeser tubuhnya ke sudut, tapi baik Lizzie maupun Dorothy langsung menggelengkan kepala tanda menolak. Keduanya ingin tetap tidur menempel padanya.
Karena tak ada pilihan lain, Juhwan akhirnya berbaring telentang, merengkuh mereka berdua dalam pelukannya yang sesak, dan memejamkan matanya.
Ia dengar tujuan mereka sudah tidak jauh lagi. Hanya tinggal beberapa hari perjalanan. Karena tempat yang mereka tuju adalah sebuah kota besar, pasti akan ada pasukan prajurit yang berjaga di sana. Mereka bisa mengutus beberapa orang lebih dulu untuk meminta bantuan. Sepertinya semua perusahaan dagang lainnya juga sangat mengandalkan rencana itu.
Tapi, kenyataannya tidak akan semudah itu.
Karena Leonard sebelumnya mencegah kereta-kereta lain pergi, besar kemungkinan taktik para bandit itu juga akan berubah. Akan sangat bodoh rasanya jika berpikir bahwa mereka akan menyerah dan mundur begitu saja setelah bersusah payah merencanakan semua ini. Hari ini, atau mungkin besok, pasti akan terjadi sesuatu.
Aku harus istirahat sekarang.
Ia harus memulihkan stamina dan mana miliknya semaksimal mungkin. Ia harus siap bertarung kapan pun mereka datang menyerang.
"Lizzie, Dorothy. Jangan bukakan pintu untuk siapa pun kecuali kalau itu aku. Entah itu orang dari perusahaan dagang, atau dari pihak pengawal, atau bahkan dari kelompok Pedang Merah sekalipun. Kunci pintunya rapat-rapat dan jangan tanggapi siapa pun."
"Baik."
Lizzie menjawab, namun tidak terdengar sahutan dari Dorothy. Juhwan menoleh sedikit untuk memastikan, dan rupanya anak itu sudah jatuh tertidur lelap.
"Dia belum bisa tidur nyenyak di malam hari. Sepertinya dia ketakutan."
Apakah dia merasa cukup aman hingga bisa langsung tertidur setelah berada di dalam pelukanku?
Jika ia berhasil memberikan perasaan aman padanya, membuat anak itu merasa bahwa ayahnya adalah sosok yang kuat dan melindunginya, maka hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia.
Saat ia semakin mengeratkan pelukannya pada anak itu, Lizzie mengulurkan tangannya melewati tubuh Juhwan dan membelai lembut kepala Dorothy.
"Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, tolong berhati-hatilah. Tolong prioritaskan keselamatanmu sendiri."
Sepertinya ia belum berhasil menenangkan Lizzie. Alih-alih, ia justru semakin membuat wanita itu cemas. Sambil memeluk erat istrinya untuk meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, Juhwan pun perlahan terlelap dalam tidur yang dangkal.
Namun bertolak belakang dengan dugaannya, tidak ada serangan bandit pada larut malam itu, atau bahkan saat waktu mulai mendekati fajar.
Jika mereka menunggu sedikit lebih lama lagi, fajar akan segera menyingsing. Selama beberapa hari terakhir, para bandit itu tidak pernah menyerang di jam-jam seperti ini.
Ketegangan di bahu orang-orang yang sedari tadi terus waspada perlahan mulai mengendur. Juhwan sama sekali tidak beranjak dari sekitar area keretanya. Ia tetap berada di dekat sana, matanya terus mengawasi ke segala arah.
Kemudian, tepat sebelum fajar tiba, di saat kegelapan malam berada di titik paling pekat—
Urat saraf para penjaga mulai mengendur, dan beberapa orang di sekitar kereta milik perusahaan dagang mulai sedikit bergeser dari posisi mereka.
Seseorang tampaknya pergi ke tempat terdekat untuk buang air kecil. Ia mendengar suara langkah kaki bergemerisik. Tak lama setelahnya, terdengar suara aliran urine yang membasahi tanah.
Tepat pada saat itu, seseorang di dekat deretan kereta milik perusahaan dagang menyalakan sebuah obor.
Jaraknya lumayan jauh dari Juhwan. Di antara banyaknya deretan kereta milik Perusahaan Perdagangan Miller, obor itu terletak di dekat barisan depan.
Dengan suara wussh dari nyala api, sebagian kegelapan malam seketika menjadi terang.
Ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang menyalakan obor itu. Ada beberapa orang yang berdiri menyebar di sekitar kereta. Namun, sepertinya tidak ada seorang pun yang sempat melihat wajah pelakunya saat obor itu dinyalakan. Jika ada yang melihatnya, mereka pasti sudah langsung meneriakkan nama orang tersebut.
Di saat semua orang sedang kebingungan, seseorang tiba-tiba berkata,
"Fajar sudah hampir tiba, jadi buat apa tiba-tiba menyalakan obor—"
Sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya, ia jatuh tersungkur.
Embusan angin yang mendadak bertiup kencang membuat nyala obor itu berkobar liar. Di bawah cahaya obor yang bergoyang-goyang itu, sosok pria yang terjatuh tadi terlihat samar-samar, ditelan oleh kegelapan.
Sebatang anak panah telah menancap tepat di kepalanya.
"Bandit! Ada bandit!"
Seseorang berteriak keras, dan orang-orang pun segera meraih senjata mereka.
Lalu, diiringi suara hantaman keras, sebatang anak panah melesat dan menembus tubuh seseorang.
Disusul oleh tembakan panah api.
Namun, tembakan itu tidak ditujukan ke arah kereta.
Anak panah yang telah dilumuri minyak itu jatuh di dekat kereta tanpa mengenainya, hanya untuk sekadar menerangi area di sekitarnya dengan cahayanya yang redup.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments