Serangan Bandit
Musim dingin sudah hampir mencapai penghujungnya. Ranting-ranting pohon gundul yang mereka lewati di sepanjang jalan kini mulai ditumbuhi tunas-tunas kecil musim dingin yang runcing.
Menurut para pedagang, karavan tersebut sudah melewati titik tengah dari perjalanan mereka. Secara bertahap, kereta-kereta kuda yang telah mencapai tujuan mereka mulai meninggalkan iring-iringan. Kemarin, satu kelompok memisahkan diri dari barisan karena mereka sudah berada di dekat kota yang dituju. Juhwan juga mendengar bahwa akan ada beberapa kereta lagi yang akan pergi dalam beberapa hari ke depan.
Mungkin karena hal itu, suasana menjadi sedikit tidak menentu. Ruang kosong yang ditinggalkan oleh kereta-kereta yang pergi belum sepenuhnya tertutup, sehingga jarak antarkelompok pedagang sedikit melebar. Karavan itu bergerak lambat, layaknya rantai longgar yang membentang di sepanjang jalan.
Setelah bergabung dengan karavan ini, Juhwan mempelajari suatu hal. Perusahaan dagang berskala kecil cenderung mengoordinasikan jadwal penjaga mereka dengan kelompok di sebelahnya, atau dengan perusahaan yang sudah mereka kenal. Jika mempertimbangkan jumlah penjaga dan pembagian jadwal jaga malam, melakukan hal tersebut rupanya sangat menguntungkan.
Cara itu cukup banyak memangkas biaya dan tenaga yang dibutuhkan untuk perlindungan. Kecuali jika mereka adalah perusahaan besar seperti Perusahaan Perdagangan Miller, sebagian besar kereta kuda di dalam karavan itu bergerak secara berpasangan atau dalam kelompok yang terdiri dari tiga kereta.
Meskipun beberapa kereta telah pergi, panjang keseluruhan karavan tidak banyak berubah.
Ketika malam kembali tiba, iring-iringan panjang itu berhenti di sebidang tanah yang sedikit lebih tinggi. Kegiatannya sama persis seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya. Api unggun dinyalakan, dan persiapan makan malam mulai dilakukan di sana-sini.
Berbeda dengan Perusahaan Perdagangan Miller, beberapa penjaga yang disewa oleh pedagang lain harus menyiapkan makanan mereka sendiri dengan biaya sendiri. Orang-orang tersebut memakan daging kering atau roti keras yang telah mereka bawa dari awal.
Bahkan di dalam karavan yang sama sekalipun, perlakuannya sangat berbeda. Makanan, upah, dan kondisinya, semuanya tidak sama. Persis seperti apa yang dikatakan kelompok Pedang Merah sebelumnya, Juhwan merasa dirinya sangatlah beruntung.
Di dunia ini, di mana tidak ada listrik dan hiburan sangat terbatas, orang-orang biasanya mulai beraktivitas sesaat sebelum matahari terbit dan tidur lebih awal begitu malam tiba. Orang-orang di karavan pun sama saja. Setelah makan, sebagian besar dari mereka mulai bersiap-siap untuk tidur.
Beberapa petualang ada yang membawa tenda, tetapi ada juga yang bepergian hanya dengan membawa selembar selimut yang digulung dan diikat ke punggung mereka. Orang-orang tersebut hanya perlu mencari tempat di dekat api unggun dan membungkus diri mereka dengan selimut seperti kantong tidur.
Dorothy sudah tertidur lelap lebih awal di dalam kereta. Lizzie sedang duduk di dekat api unggun, mengobrol dengan suara pelan bersama para wanita kelompok Pedang Merah.
Selama beberapa hari terakhir, Lizzie sudah cukup dekat dengan kelompok Pedang Merah. Kedekatan itu dimulai sejak Juhwan menyelamatkan Marie malam itu.
Lizzie pada dasarnya memang memiliki sifat yang lembut. Juhwan sempat khawatir apakah ia bisa bergaul dengan para wanita Pedang Merah yang kelihatannya agak kasar, tapi yang mengejutkan, kepribadian mereka ternyata sangat cocok. Terkadang, Lizzie dan anggota Pedang Merah saling berbisik pelan seolah sedang berbagi rahasia, lalu tertawa bersama-sama.
Ketika para wanita itu sedang berkumpul bersama, Juhwan berusaha untuk tidak mendekat. Ia berpikir bahwa kehadirannya mungkin akan membuat suasana menjadi canggung, dan sepertinya tebakannya itu benar.
Malam yang tenang dan damai itu mendadak hancur berantakan oleh suara gemuruh tapak kuda.
Dari suatu tempat di depan, suara kuda yang menghentak tanah terdengar menggelegar, disusul oleh suara jeritan dari barisan paling depan karavan. Karena barisannya sangat panjang, Juhwan tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi.
"Ada serangan! Kita diserang bandit!"
Sebuah teriakan lantang terdengar dari kejauhan. Kemudian, teriakan yang sama mulai menyebar saat orang-orang ikut meneriakkannya dari berbagai arah secara estafet.
Para wanita kelompok Pedang Merah langsung meraih pedang mereka dan berdiri. Para penjaga menyebar mengelilingi kereta, mengawasi setiap arah dengan waspada.
Gordon, si kapten pengawal, bersama para pelayan segera memeriksa kuda-kuda yang terikat pada kereta. Beberapa dari mereka juga berlari ke arah belakang untuk memeriksa gerobak-gerobak barang.
Leonard, si pemilik perusahaan, mengambil busur dan tabung anak panah dari dalam kereta. Juhwan tidak pernah mengira Leonard adalah sekadar pedagang biasa, tapi melihat pria itu menggunakan busur tetap saja merupakan pemandangan yang tidak terduga. Seandainya Leonard memang bisa menggunakan senjata, Juhwan mengira senjata itu pasti adalah pedang.
Juhwan juga mengambil busur dan anak panah dari keretanya. Ia memang bisa menggunakan sihir api, tapi jika musuhnya berada pada jarak yang jauh, busur akan jauh lebih efektif. Sekalipun ia gagal mengenai sasaran, tembakan itu akan sangat membantu untuk mencegah agar para bandit itu tidak mendekat.
Lizzie masuk ke dalam kereta. Setelah berpesan agar wanita itu mengunci pintu dari dalam, Juhwan memanjat naik ke atas atap kereta.
Tetapi, tidak ada satu pun penyerang yang datang ke arah mereka. Jeritan-jeritan histeris hanya terdengar bersahut-sahutan dari suatu tempat jauh di depan.
Momen mendebarkan yang membuat frustrasi itu berlalu tanpa mereka mengetahui dengan pasti apa yang sedang terjadi. Sepertinya para penjaga di barisan depan berhasil menghentikan para bandit. Suara pertempuran berlanjut selama beberapa saat, lalu perlahan mereda seiring dengan suara hentakan tapak kuda yang semakin menjauh.
Gordon berlari menuju bagian depan karavan. Salah seorang pelayan mengikutinya dari belakang.
Sebagian besar pelayan Perusahaan Perdagangan Miller yang ikut serta dalam tugas pengawalan rupanya juga tahu cara menggunakan senjata. Pelayan yang berlari mengikuti Gordon tampak menggenggam pedang di tangannya.
Beberapa saat kemudian, Gordon kembali.
"Para bandit itu sudah kabur. Kata mereka jumlahnya antara dua puluh sampai dua puluh lima orang. Jumlah mereka memang tidak banyak, tapi sepertinya mereka punya seorang penyihir. Penyihir angin, menurut kabar yang kudengar. Mereka bilang kekuatan dari lesatan senjata musuh luar biasa kuat."
"Bisa jadi itu adalah penyihir tingkat tinggi. Masalah ini bakal jadi sangat merepotkan. Kelompok mana yang diserang?"
Leonard bertanya dengan suara pelan, dan Gordon pun menjawabnya.
"Perusahaan dagang rempah-rempah yang diserang. Para bandit merampas beberapa barang dagangan dari dalam kereta. Kalau soal korban, ada dua pelayan pedagang dan lima orang penjaga yang terluka. Dua orang luka parah, sementara sisanya hanya luka ringan."
Kegelapan di sekeliling mereka kembali sunyi senyap. Belum ada tanda-tanda ada yang menyerang lagi.
Leonard mengangguk, lalu menatap kosong ke udara.
Gordon kembali berbicara.
"Orang-orang di depan meminta seorang penyihir penyembuh. Apa yang harus kita lakukan?"
Juhwan baru saja akan melompat turun dari kereta dan pergi ke sana, tapi Leonard segera mengangkat tangan untuk menghentikannya.
"Tunggu sampai kita benar-benar yakin situasinya sudah aman. Jangan sekarang."
Jika mereka menunggu, korban yang terluka parah itu pasti akan mati. Juhwan ragu-ragu sejenak.
Dengan kemampuannya, pengobatan tidak akan memakan waktu lama. Waktu tempuh Gordon untuk pergi ke sana dan kembali tadi seharusnya sudah lebih dari cukup.
Tetapi bagaimana jika, pada saat ia pergi sesaat, para bandit itu justru balik menyerang ke tempat ini?
Juhwan tidak bisa bergerak. Nyawa manusia memang penting. Tentu saja. Nyawa siapa yang tidak berharga?
Tapi, setiap orang punya nyawa-nyawa tertentu yang jauh lebih berharga bagi mereka dibandingkan nyawa orang lain.
Bagi Juhwan, Lizzie dan Dorothy jauh lebih berharga dibandingkan siapa pun di dunia ini.
Akan tetapi, bahkan setelah beberapa jam berlalu, para bandit itu tidak menyerang lagi.
Biasanya, hanya ada dua orang yang berjaga di malam hari. Namun setelah serangan itu, semua orang terus terjaga mengawasi keadaan sekitar.
Hingga fajar menyingsing keesokan paginya, barulah Juhwan akhirnya pergi untuk menemui para korban luka. Jessie dari kelompok Pedang Merah ikut menemaninya.
Satu dari dua pria yang terluka parah itu sudah meninggal dunia. Pinggangnya nyaris terbelah menjadi dua. Sekalipun Juhwan datang lebih awal, ia kemungkinan besar tetap tidak akan bisa menyelamatkannya.
Pria yang satunya lagi mengalami cedera parah di bagian bahu. Tebasan pedang mengenai bahunya begitu dalam hingga tulangnya terlihat. Ia kehilangan begitu banyak darah sampai-sampai ia dalam keadaan setengah sadar. Bahkan ketika Juhwan mengangkat kelopak matanya, pupil matanya tidak merespons.
Ketika Juhwan hendak mengobatinya, sang pemilik perusahaan dagang menghentikannya.
"Biarkan saja orang itu. Semuanya sudah terlambat. Tolong obati yang lain saja."
"Aku memang tidak bisa menjanjikan apa-apa, tapi dia mungkin masih bisa selamat."
Mendengar kata-kata Juhwan, sang pedagang menghela napas pelan.
"Walaupun begitu, aku tetap tidak bisa membiarkanmu mengobatinya. Sihir penyembuhanmu dibayar sesuai dengan kondisi pasiennya. Untuk luka separah itu, kami harus membayar beberapa kali lipat lebih mahal daripada luka-luka ringan yang bisa disembuhkan dengan cepat. Kami tidak sanggup mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk seorang penjaga. Jika seorang penjaga mati saat menjalankan tugas, kami memang harus membayar sedikit uang kompensasi tambahan, tetapi jumlah itu jauh lebih murah daripada..."
Juhwan memang tidak bisa menjamin bahwa ia pasti bisa menyelamatkan nyawa pria itu.
Tapi masih ada peluang.
Dengan kapasitas mana miliknya, ia seharusnya bisa menutup luka pria itu tanpa perlu membuang terlalu banyak energi.
Ia tidak sedang memikirkan hal-hal mulia, seperti menyelamatkan semua orang atau mendeklarasikan betapa sakralnya nyawa seorang manusia. Ia tidak punya niat sedikit pun untuk menjadi malaikat, apalagi sekadar berpura-pura menjadi malaikat.
Namun, Juhwan juga tidak sejahat itu hingga bisa membiarkan seseorang mati di depan matanya begitu saja.
Lagipula, ia tidak akan rugi apa-apa. Ia hanya perlu mengulurkan tangannya.
Tepat saat Juhwan diam-diam mulai mengalirkan mana miliknya ke tubuh pria itu, Jessie mencengkeram pergelangan tangannya.
"Jangan, Tuan Juhwan."
"Menurutmu apa yang bakal terjadi kalau kau mengobati pasien terluka secara gratis tanpa meminta bayaran sepeser pun?"
"Ada banyak penyihir penyembuh, bukan hanya di Serikat Petualang, tapi juga di kuil-kuil. Harga yang ditetapkan oleh pihak serikat itu dibuat setelah mempertimbangkan berbagai macam hal: tingkat keterampilan penyihir, biaya pengobatan di pasaran, kemampuanmu sendiri, dan banyak hal lainnya. Kalau kau mulai mengobati korban luka secara gratis, tatanan harga dan persaingan di antara para penyihir penyembuh akan menjadi kacau balau. Pihak serikat juga pasti akan habis dikritik."
Jessie menghindari tatapan Juhwan dan berbicara dengan suara parau.
"Semua petualang tahu persis apa yang akan terjadi dalam situasi semacam ini."
"Jadi tugas seorang pemandu sebenarnya adalah untuk mengajarkan hal-hal busuk seperti itu?"
Jessie terdiam seribu bahasa. Juhwan menatap pria yang sekarat itu sejenak, lalu memejamkan matanya rapat-rapat.
Ya, benar. Dunia ini memang sekejam ini.
Ia seharusnya sudah mempelajarinya dengan baik dari insiden di desa goblin.
Ada banyak alasan mengapa orang-orang menjadi begitu egois. Ia hanya perlu mengingat situasinya sendiri saat ia pertama kali tiba di tempat ini untuk memahaminya.
Ia sempat dibutakan oleh secercah kebahagiaan dan membiarkan hatinya melunak.
Ia salah besar mengira bahwa dunia ini adalah tempat yang hangat dan manusiawi.
Juhwan membuka kedua matanya dan menatap sang pemilik perusahaan dagang.
"Di mana para korban luka yang seharusnya aku obati?"
"Di sebelah sini."
Pedagang itu menuntun Juhwan ke sebuah area terbuka di sisi lain kereta.
Luka-luka yang dialami oleh para korban tidak terlalu dangkal maupun terlalu dalam. Sang pedagang hanya meminta agar Juhwan memberikan pengobatan yang cukup sekadar untuk menutup luka-luka mereka.
Setiap jenis penyembuhan punya harganya masing-masing. Tidak ada seorang pun yang mau meminta perawatan yang tak mampu mereka bayar. Pemilik perusahaan itu berpikiran seperti itu. Begitu pula para petualang.
Baru kali inilah Juhwan akhirnya mengetahui bahwa biaya sihir penyembuhan rupanya ditanggung setengah oleh pemilik perusahaan dan setengah lagi oleh sang petualang itu sendiri.
Juhwan menyembuhkan luka-luka mereka sedikit lebih baik daripada yang diminta oleh sang pedagang, lalu kembali ke tempat Perusahaan Perdagangan Miller.
Tanpa disadari, langit sudah mulai terang.
Beberapa waktu lalu, Jessie pernah berkata bahwa tubuh seorang petualang adalah aset terbesarnya. Kini, Juhwan akhirnya bisa memahami kebenaran di balik kalimat tersebut dari berbagai sudut pandang yang berbeda.
Kereta-kereta kembali bergerak, dan karavan pun melaju perlahan. Juhwan diam-diam mendekati Karin, sang pemimpin kelompok Pedang Merah, saat wanita itu sedang berjalan dalam diam.
Ketika Karin menatapnya seolah bertanya apa yang ia inginkan, Juhwan berbicara dengan pelan.
"Saat para bandit menyerang tadi, aku mengamati bagaimana cara kalian semua bergerak. Kalian sedang meniru gaya bertarung para pria, 'kan?"
"Ya."
Berbeda dari sifat agresifnya yang biasa, kali ini Karin mengangguk patuh.
Bagi orang yang tidak mengerti, cara bertarung para anggota Pedang Merah pasti terlihat sangat konyol. Mereka selalu marah kepada siapa saja dan semua orang, nekat menceburkan diri ke dalam perkelahian, tapi kemampuan bertarung mereka sangatlah menyedihkan.
Mereka menjadi bahan tertawaan dan ejekan ke mana pun mereka pergi.
Namun, itulah metode mereka untuk bertahan hidup. Hanya itulah satu-satunya cara agar mereka bisa tetap hidup.
Selama ini, mungkin saja ada banyak orang yang diam-diam membantu mereka dari belakang layar tanpa sepengetahuan mereka. Tidak, sudah pasti ada. Jika tidak, Juhwan yakin mereka tidak akan mungkin bisa bertahan hidup sampai sejauh ini.
Akan tetapi, bantuan saja tidaklah cukup.
Untuk bisa bertahan hidup, mereka harus mampu berdiri di atas kaki mereka sendiri. Jika tidak, mereka bisa kehilangan nyawa dengan sia-sia di suatu tempat, seperti pria yang baru saja mati tadi.
"Katak dan ular harus bertarung dengan cara yang sangat berbeda. Kalau seekor katak mencoba meniru gerakan ular, ia tidak akan pernah bisa menang."
"Karin, seekor katak tidak seharusnya mencoba mengalahkan seekor ular dalam pertarungan normal."
"Ada sesuatu yang aku rasakan sejak pertama kali bertemu kalian. Kalian sebenarnya tidak pernah berniat untuk benar-benar membunuh lawan kalian, 'kan?"
"Kalau kau memang tidak berniat membunuh, jangan pernah maju menyerang. Itu cuma akan membuat kalian terlihat konyol. Tapi kalau kau benar-benar marah dan menyerang seseorang, jangan pernah memikirkan soal menjaga harga diri. Menyeranglah dengan tekad bahwa meskipun kau harus mati, kau akan membawa bajingan itu mati bersamamu."
Hanya inilah sedikit nasihat yang bisa Juhwan berikan. Hal-hal penting seperti ini harus disadari sendiri oleh yang bersangkutan.
"Pedang itu terlalu berat untuk lengan kalian. Tombak atau alat penusuk akan jauh lebih baik. Kalau kau menikam mata seseorang, meskipun mereka tidak mati, mereka pasti akan cacat. Kalau matanya terlalu tinggi untuk diraih, incarlah titik vital di antara kedua kaki pria itu. Atau hidung, atau tenggorokan—incar bagian mana pun yang tidak akan pernah bisa disembuhkan, bagian mana pun yang akan membuat mereka mustahil untuk membalas serangan. Saat kau berkelahi, begitulah caramu bertarung. Jangan mencoba mengalahkan pria dengan menggunakan pedang pria."
Karin menatap Juhwan dengan tatapan sedikit terkejut.
"Jangan bertarung untuk menang. Bertarunglah untuk membunuh."
Setelah mengucapkan hal tersebut, Juhwan pun beranjak meninggalkan sisi Karin.
Selama perjalanan hari itu, para penjaga tidur secara bergiliran di atas gerobak logistik dalam kelompok-kelompok kecil.
Malam harinya, kereta lain kembali diserang. Itu adalah komplotan bandit yang sama.
Tetapi tidak seperti malam sebelumnya, kali ini mereka tidak hanya menyerang satu titik. Mereka menyerang dari berbagai arah sekaligus. Lima orang menyerang deretan kereta di bagian depan, sepuluh orang menyerang kereta di bagian belakang, dan begitu seterusnya, hingga mereka menyerang tiga atau empat tempat secara bersamaan.
Tidak seperti malam sebelumnya, kali ini rentetan anak panah berterbangan menghujani area perkemahan. Anak panah itu ditembakkan dari jarak yang seharusnya mustahil dicapai oleh tembakan busur biasa. Hal itu sudah cukup untuk memastikannya. Para bandit itu sudah pasti memiliki seorang penyihir angin di pihak mereka.
Mereka pun tak punya pilihan lain selain memadamkan api unggun. Saat orang-orang mulai terluka, suara lolongan serigala terdengar lebih dekat dari sebelumnya. Segerombolan serigala telah berkumpul setelah mencium aroma darah segar.
Malam itu berlalu tanpa ada satu pun orang yang bisa memejamkan mata.
Saat fajar tiba, mereka berusaha mencari jejak komplotan bandit itu, namun para penyerang tersebut sudah tak terlihat lagi di sekitar sana. Para penjaga tidak boleh pergi terlalu jauh dari posisi kereta. Karena hal itulah, mereka tidak bisa mengejar para bandit itu terlalu jauh.
Pihak yang diserang kini menjadi jauh lebih kelelahan daripada pihak yang menyerang. Seiring dengan semakin menumpuknya rasa lelah para penjaga, situasi di dalam karavan pun semakin memburuk.
Beberapa perusahaan dagang memutuskan untuk pergi meninggalkan karavan. Sepertinya mereka menganggap bahwa tetap bertahan dalam iring-iringan itu hanya akan membuat mereka menjadi sasaran empuk.
Malam berikutnya, tidak ada serangan sama sekali. Tetapi, tidak ada seorang pun yang tahu kapan para bandit itu akan kembali menyerang.
Tidak ada yang bisa tidur dengan tenang.
Juhwan menyadari bahwa ini sangat mirip dengan taktik perburuan. Sekali seorang pemburu menentukan mangsanya, ia akan terus mengejarnya tanpa henti, memojokkannya hingga mangsa itu tidak bisa lagi beristirahat, lalu akhirnya menangkap mangsa tersebut saat seluruh tenaganya telah terkuras habis.
Ia tidak tahu pasti apakah musuh mereka ini benar-benar sekumpulan pemburu atau bukan, tapi satu hal yang pasti, mereka bukanlah gerombolan bandit rendahan biasa.
Juhwan duduk terdiam di samping keretanya, tubuhnya terbungkus rapat oleh selimut, lalu ia memejamkan matanya.
Kalau musuh datang menyerang, ia pasti akan langsung menyadarinya. Sampai hal itu terjadi, ia harus mengistirahatkan tubuhnya semaksimal mungkin.
Jika ia sampai termakan taktik musuh, ia tidak akan bisa bertarung saat momen kritis itu benar-benar tiba.
Meskipun tubuhnya sangat kelelahan, entah mengapa pikirannya terasa sangat terjaga.
Meski begitu, ia harus tetap tidur.
Juhwan memejamkan mata dan memaksa dirinya sendiri untuk beristirahat.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments