Lahirnya Peringkat Sinterklas
Ketika seseorang hidup cukup lama, mereka pada akhirnya akan mengalami segala macam hal.
Bahkan sebelum ia beranjak dewasa, ia sudah menjadi seorang petualang. Kehidupannya dimulai dari mengumpulkan tanaman herbal, dan sejak saat itu, hidupnya dipenuhi dengan setiap kejadian aneh yang bisa dibayangkan.
Di antara semua hal itu, ia selalu berpikir bahwa hal yang paling mengejutkan adalah ketika ia berhasil menjadi ketua serikat di sebuah tempat bernama Desa Petualang Bern.
Tidak semua ketua serikat di dunia ini berasal dari petualang tingkat tinggi. Terkadang, seorang petualang biasa yang terbiasa hidup susah dan bergelimang lumpur sepertinya juga bisa berakhir menjadi seorang ketua. Apalagi di cabang-cabang serikat terpencil yang jauh dari kota-kota besar, hal-hal seperti itu terkadang bisa saja terjadi.
Meskipun begitu, posisi ketua serikat tetaplah sebuah kedudukan yang istimewa. Posisi ini bukanlah sesuatu yang bisa diraih oleh sembarang orang. Sejujurnya, ia selalu menganggap bahwa pencapaiannya menjadi ketua serikat adalah sebuah keajaiban yang tidak masuk akal.
Namun kini, sang ketua yang pernah mengalami keajaiban konyol itu baru saja dihadapkan pada satu lagi kejadian yang sama tidak masuk akalnya.
"Rudolph."
Sang ketua memiringkan kepalanya. Ia memang tidak terlalu pintar membaca, tapi setidaknya ia masih bisa mengeja kata 'Rudolph'.
"Kenapa kau tiba-tiba membicarakan binatang buas magis legendaris?"
Si Pria Cerewet bertanya, sementara dirinya sendiri masih tidak bisa pulang meskipun hari sudah tengah malam. Hidungnya hampir terkubur di balik tumpukan dokumen dan kedua tangannya bergerak sibuk menyortir kertas, namun entah bagaimana, mulutnya masih bisa menyempatkan diri untuk mengomel.
"Benar, 'kan? Rudolph itu pada dasarnya cuma legenda."
"Omong kosong macam apa itu? Tolong berhentilah bermain-main dan kerjakan tugasmu. Gampang, kok. Kau cuma perlu menandatangani dokumen-dokumen yang sudah aku siapkan ini."
"Mm, tapi begini ya, kurasa aku tidak punya waktu untuk tanda tangan sekarang. Sepertinya cabang kita kedatangan seekor Rudolph."
Mendengar perkataan sang ketua, Si Pria Cerewet menghela napas panjang.
"Ketua, aku menghormatimu dengan caraku sendiri. Aku juga sangat berterima kasih karena kau sudah menyelamatkanku saat aku hidup menggelandang di jalanan dan hampir mati kelaparan. Tapi, aku benar-benar tidak tahan dengan sikap santaimu terhadap pekerjaan. Aku tahu kau benci mengurus dokumen, tapi kau cuma perlu memberikan tanda tanganmu. Tanda tangan. Tolonglah, aku mohon, tandatangani saja semua ini. Kalau tidak, aku tidak akan bisa mengirimkan dokumen-dokumen ini ke markas pusat."
Pria itu berbicara cepat tanpa jeda napas sedikit pun. Sang ketua sudah melihat pemandangan ini setiap saat, namun ia masih selalu dibuat takjub olehnya.
"Tidak, tentu saja aku memang benci mengurus dokumen. Tapi soal Rudolph ini bukan lelucon. Ini sungguhan. Kelinci bertanduk itu. Aku menerima surat yang mengatakan bahwa kelinci itu mungkin saja seekor Rudolph."
Si Pria Cerewet, yang sedari tadi wajahnya terbenam di balik tumpukan kertas, sontak mengangkat kepalanya.
"Apa?"
Mulutnya sedikit ternganga. Ia terlihat sangat konyol.
"Kenapa kau bereaksi begitu? Sudah kubilang, 'kan? Aku kenal seseorang yang paham betul soal binatang buas magis. Aku meminta tolong kenalanku dari masa-masa petualangku dulu untuk memeriksanya, dan balasan yang kuterima hanya menyebutkan kata Rudolph."
"Atas dasar apa dia menyimpulkan bahwa itu adalah Rudolph?"
"Mana aku tahu? Dia cuma mengirimkan satu kata 'Rudolph'."
"Orang itu benar-benar tipikal kenalanmu, Ketua."
Si Pria Cerewet mengangguk-angguk kecil.
"Memotong bagian awal dan akhir penjelasan, lalu hanya mengirimkan bagian tengahnya yang aneh... kelakuannya persis sepertimu."
Ekspresi Si Pria Cerewet perlahan berubah sedikit serius.
"Apakah perkataan orang itu bisa dipercaya? Kita selalu mendengar klaim tentang seseorang yang menemukan Rudolph setidaknya sekali dalam setahun. Secara pribadi, sulit bagiku untuk menelan mentah-mentah hal semacam itu. Ada banyak orang yang sengaja melukai hewan untuk membuatnya terlihat seolah-olah ada tanduk yang tumbuh di kepalanya, serta berbagai macam trik murahan lainnya. Bahkan ada juga yang..."
Perkataan Si Pria Cerewet terhenti, lalu ia bergumam pelan sambil ber-"ah" ria.
"Kalau orang itu adalah seseorang yang berani kau jamin kehebatannya, Ketua, maka mungkin saja dia tidak berbohong."
Si Pria Cerewet berdiri dan melangkah menuju sudut ruangan. Ia mulai mengobrak-abrik rak yang dipenuhi tumpukan dokumen pendaftaran tua.
"Di mana waktu itu, ya? Aku yakin sekali pernah melihatnya."
Sambil bergumam sendiri, Si Pria Cerewet menarik sebuah kotak dokumen dari rak, mengembalikannya, lalu menarik kotak yang lain dan mulai mencari-cari di dalamnya.
Pada awalnya, tidak ada seorang pun yang bisa membedakan apa isi kotak-kotak itu atau di mana dokumen tertentu disimpan di rak tersebut. Namun sejak kedatangan Si Pria Cerewet, tempat itu perlahan-lahan mulai tertata rapi. Kini, dokumen-dokumen itu sudah mulai disusun berdasarkan kategori dan tanggal, setidaknya sampai batas tertentu.
Bagi sang ketua, tempat itu sudah terlihat sempurna, namun menurut Si Pria Cerewet, masih butuh waktu lama sebelum tumpukan itu benar-benar tertata rapi sesuai standarnya. Kehadiran satu karyawan yang cakap memang membuat fisiknya lebih santai, namun di saat yang bersamaan, batinnya merasa tertekan. Ia berharap pria itu bisa sedikit lebih rileks, tetapi Si Pria Cerewet ini kelewat rajin kalau sudah menyangkut pekerjaan.
Setelah cukup lama mengobrak-abrik kotak dokumen, Si Pria Cerewet akhirnya menghampiri sang ketua dengan selembar kertas yang tersisa di tangannya.
"Ketua, bolehkah aku memanggil orang ini ke mari? Atau mungkin kita harus mengirim penyihir penyembuh ke tempat mereka?"
"Siapa dia?"
"Aku juga tidak tahu. Tapi berdasarkan dokumen ini, sepertinya orang ini tahu banyak soal Rudolph. Ada catatan yang ditinggalkan oleh ketua yang sebelumnya. Aku masih ingat karena dokumen ini terlihat mencolok saat aku sedang merapikan barang-barang."
Si Pria Cerewet menghela napas panjang.
"Dilihat dari situasinya, baik penyihir itu maupun si anak kecil sepertinya tidak tahu banyak tentang Rudolph. Kenyataannya, mereka tampaknya sama sekali buta mengenai binatang buas magis pada umumnya. Akan lebih baik bagi mereka untuk mempelajarinya. Sekalipun hewan itu bukan Rudolph yang asli dan hanya binatang buas magis biasa, kelompok petualang itu tetap saja sangat berharga bagi kita."
"Bagus. Kita akan menggunakan dana serikat untuk memanggil orang ini."
"Terima kasih. Walaupun aku tidak yakin apakah orang ini masih hidup atau tidak."
Si Pria Cerewet kembali menghela napas.
"Mulai sekarang, sepertinya aku harus menulis laporan untuk dikirimkan ke markas pusat. Sudah jelas kau tidak akan mau menulisnya, Ketua. Tapi meskipun tulisanmu jelek, kau harus terus berlatih menulis supaya lebih baik."
Sepertinya pria itu akan langsung kembali bekerja. Si Pria Cerewet menyingkirkan dokumen yang sedang dikerjakannya dan mengeluarkan selembar kertas baru.
"Tapi urusannya akan jadi sedikit merepotkan mulai dari sekarang. Fakta bahwa dia adalah seorang penyihir penyembuh dengan kemampuan dua elemen saja sudah cukup untuk membuat para bangsawan ngiler memperebutkannya. Apalagi kalau kita menambahkan fakta tentang eksistensi Rudolph di sana, bahkan keluarga kerajaan sekalipun mungkin akan membuang wibawa mereka demi bisa ikut campur."
Entah kapan, sebuah senyuman nakal telah terukir di wajah Si Pria Cerewet. Sang ketua bisa langsung menebak apa yang sedang dipikirkan pria itu.
"Kau pasti lagi kegirangan gara-gara membayangkan wajah ajudan kerajaan yang bakal kena omel itu, kan?"
Mendengar tebakan sang ketua, sudut bibir Si Pria Cerewet sontak menurun. Namun sedetik kemudian, ia kembali tersenyum lebar.
Dasar pria picik.
Apa jangan-jangan dia menyukai wanita yang sedang dijodohkan dengannya itu?
Padahal pria ini terlihat sama sekali tidak tertarik pada wanita. Selama ada seseorang yang bisa diajak mengobrol dan mau mendengarkan ocehannya, sepertinya ia tidak akan peduli apakah lawan bicaranya itu pria atau wanita. Tapi mungkin saja, di luar dugaan, pria ini mendambakan romansa dan pernikahan juga.
Si Pria Cerewet tiba-tiba bersuara.
"Ketua, cabang kita akan segera memiliki seorang petualang Tingkat Lima. Kalau itu benar-benar Rudolph, berarti mereka adalah Kontraktor Sinterklas."
"Kalau dipikir-pikir lagi, kau benar. Kita sedang menjadi saksi mata atas lahirnya seorang petualang Peringkat Sinterklas."
"Dulu aku kira peringkat kelima itu cuma buat pajangan."
"Aku juga mikirnya begitu. Aku tak pernah menyangka bakal melihatnya sendiri dengan mata kepalaku selama aku hidup. Sepertinya kita juga harus mengajukan pembuatan kalung Sinterklas."
"Bagaimanapun juga, akan jauh lebih baik untuk merahasiakan masalah petualang Tingkat Lima ini sebisa mungkin. Kita harus menunda penyebaran informasinya selama yang kita bisa."
"Sudah pasti itu."
Tapi pertanyaannya, siapa kontraktor aslinya?
Anak itu? Atau si penyihir?
"Kita harus mencari tahu hal itu terlebih dahulu."
Sang ketua bergumam sambil membungkukkan bahunya.
Munculnya petualang Peringkat Sinterklas memang sebuah berita baik, tapi ia sudah merasa pusing duluan memikirkan tumpukan pekerjaan tambahan yang akan menyertainya.
Perjalanan karavan pedagang berlanjut dengan tenang tanpa ada insiden berarti.
Juhwan dipekerjakan sebagai penyihir penyembuh, tapi ia nyaris tidak melakukan apa-apa selain bersantai.
Terkadang memang ada seseorang yang mendapat luka kecil, tapi tak ada seorang pun yang memintanya untuk bekerja. Sepertinya ini karena kesepakatan bahwa ia akan dibayar untuk setiap pengobatan yang ia berikan.
Lagi pula, luka sekecil itu akan sembuh dengan sendirinya jika dibiarkan, jadi tidak perlu membuang-buang mana untuk sihir. Walaupun begitu, seiring berjalannya hari di mana ia terus menerima bayaran tanpa melakukan apa pun, Juhwan mulai merasa sedikit tidak enak hati.
Mungkin ini karena ia sudah terbiasa menjadi budak korporat sewaktu di Bumi dulu. Ketika ia mendapatkan uang tanpa perlu memeras keringat, ia bukannya merasa senang, melainkan merasa cemas.
Mau bagaimana lagi.
Di siang hari, Juhwan masuk ke dalam kereta dan tidur lelap. Lizzie mengambil alih kendali kereta menggantikannya. Bagi orang lain, mungkin kelihatannya si penyihir penyembuh sedang bermalas-malasan sambil membiarkan anggota kelompoknya melakukan semua pekerjaan.
Anggapan itu ada benarnya juga.
Ketika ia bangun, ia akan bermain bersama Dorothy, lalu mereka bertiga akan duduk berdampingan di kursi pengemudi, mengobrolkan hal-hal tak penting sambil tertawa.
Suasana terasa sangat damai dan bahagia.
Dan ketika malam tiba, ia akan tetap terjaga dan berkeliling menyusuri area di sekitar Perusahaan Perdagangan Miller. Sebagian besar orang bilang bahwa rumor mengenai komplotan bandit yang mengincar karavan ini hanyalah rumor murahan yang biasa beredar.
Tapi jika pihak karavan sampai repot-repot menyewanya, berarti mereka juga merasa khawatir. Kemungkinan besar ada sedikit benarnya dari rumor tersebut.
Jika memang ada yang menargetkan karavan pedagang, akan jauh lebih baik jika hal itu bisa diketahui sebelum menjadi masalah besar. Ia tidak perlu memusingkan seluruh kereta yang ada, namun setidaknya, alangkah baiknya jika ia tetap waspada untuk menjaga area di sekitarnya sendiri.
Bagaimanapun juga, Lizzie dan Dorothy ada di dalam sana.
Juhwan menerangi tanah di bawah kakinya dengan api kecil dari ujung jarinya saat ia berjalan menyusuri kegelapan malam. Ia melewati beberapa pohon besar dan kecil.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya suara serangga dan hewan liar yang terdengar di dekatnya, namun tak ada satu pun yang mencoba menyerangnya.
Ini sudah hari ketiga, tapi ia tidak melihat ada seorang pun yang mencoba membuntuti kereta mereka.
Ia memang sudah beberapa kali diingatkan untuk menghemat mana miliknya berjaga-jaga jika ia perlu menggunakan sihir penyembuhan, tapi ia tidak terlalu memusingkan hal itu.
Standar penyembuhan yang diharapkan oleh orang-orang ini sebenarnya sangatlah rendah. Jika sekadar menyembuhkan luka seukuran cedera pria berambut merah waktu itu saja sudah dianggap cukup, maka ia bisa mengobati sekitar seratus orang sekaligus, memejamkan mata untuk istirahat sejenak, lalu pulih sepenuhnya.
Jadi, meskipun ia menyempatkan diri untuk melakukan hal lain, seharusnya itu tidak akan jadi masalah.
Aku harus kembali sekarang.
Ia tak boleh pergi terlalu jauh. Juhwan membalikkan badannya. Di kejauhan, ia masih bisa melihat nyala api unggun yang dinyalakan oleh karavan pedagang. Ia pun berjalan cepat menuju api unggun tempat keretanya berada.
Kereta yang ditempati Lizzie dan Dorothy selalu dikunci dari dalam, dan ada Oz juga di sana, jadi ia tidak terlalu khawatir. Meski begitu, ia tidak pernah pergi terlalu jauh.
Jarak jangkauan patrolinya hanya sejauh batas pandangannya masih bisa menangkap cahaya dari perkemahan.
Karena di dalam hidup, kau tidak akan pernah tahu apa yang mungkin terjadi.
Kejadian itu berlangsung saat jaraknya dengan api unggun sudah lumayan dekat.
Di tengah kegelapan, ia melihat sebuah obor yang bergoyang dengan tidak stabil. Posisinya agak sedikit menjauh dari deretan kereta kuda.
Juhwan memadamkan api di ujung jarinya dan menghentikan langkahnya. Ia menajamkan pendengarannya.
Mmph, mmph.
Suara erangan pelan dari seseorang terdengar merayap menembus kegelapan malam. Kemudian, disusul oleh suara berat seorang pria.
"Jangan memberontak! Kau tahu 'kan apa yang bakal terjadi pada dua temanmu itu kalau kau berani melawan?"
Itu adalah suara yang pernah ia dengar sebelumnya. Kemungkinan besar itu adalah suara si penyihir api.
Setelah itu, terdengar suara sesuatu yang diseret paksa di tanah. Terdengar pula isak tangis tertahan dari seorang wanita.
Juhwan langsung paham apa yang sedang terjadi.
Malam ini adalah jadwal Karin dan Jessie untuk berjaga malam. Lizzie dan Dorothy pasti sedang tidur terlelap dengan kereta yang terkunci rapat.
Itu berarti, yang tersisa hanyalah Marie.
Kelompok Pedang Merah sudah memperingatkannya berulang kali agar tidak ikut campur dalam urusan orang lain. Mereka selalu mengatakan bahwa tidak ada untungnya mencampuri konflik pihak lain.
Namun, Juhwan tidak setega itu untuk menutup mata ketika melihat hal semacam ini terjadi di depan hidungnya.
Lagi pula, dia adalah pemandu kelompok kami.
Alasan itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuatnya ikut campur.
Juhwan mengingat bagaimana cara bajingan itu menatap Lizzie dengan penuh nafsu setiap kali mereka sedang makan.
Ya. Aku punya lebih dari cukup alasan untuk ikut campur.
Juhwan melangkah tanpa suara, menyusuri tanah dengan hati-hati menuju sumber suara.
Insting dan teknik berburu yang ia pelajari dari Gus sangat berguna di situasi seperti ini. Langkah kaki Juhwan nyaris tak menimbulkan suara sedikit pun.
Suara pria dan wanita itu terdengar semakin dekat. Sepertinya mereka sudah berhenti melangkah.
Setelah menancapkan ujung obornya sedikit dangkal ke tanah, pria itu mengumpulkan beberapa batu. Sepertinya ia sedang membuat penopang agar obor itu bisa berdiri tegak.
Sementara itu, Marie terduduk lemas di tanah, tak berdaya untuk melarikan diri. Isak tangis pelan mengalir memecah kegelapan malam.
Si penyihir api sama sekali tidak menyadari kehadiran Juhwan sampai pria itu sudah berdiri tepat di belakangnya. Ia terlalu sibuk menancapkan obornya.
Marie terlihat sangat terkejut saat melihat kemunculan Juhwan yang tiba-tiba. Kedua matanya membelalak kaget.
Tanpa menoleh sedikit pun ke arah si penyihir api yang masih kebingungan, Juhwan melangkah mendekati Marie. Ia mengulurkan sebelah tangannya, mencengkeram lengan wanita itu, dan membantunya untuk berdiri.
Dengan kaki yang bergetar hebat, Marie nyaris tak sanggup menopang tubuhnya sendiri.
"Ada apa ini, keparat! Aku duluan yang menemukannya. Kalau kau mau jatah juga, tunggu giliranmu!"
Juhwan membalikkan badan dan mengepalkan tinjunya erat-erat.
Bajingan kotor.
Namun tinju yang baru saja melayang di udara itu terhenti.
Marie menahan lengannya. Sambil menangis tersedu-sedu, wanita itu berucap,
"H-hentikan. Jangan. Kau tidak boleh melakukannya."
Saat Juhwan menunduk menatap Marie, wajah wanita itu sudah basah kuyup oleh air mata, dan bibirnya bergetar hebat saat ia berbicara.
"J-j-jangan berkelahi. Kumohon jangan..."
Tepat pada saat itu, seseorang berteriak lantang dari arah perkemahan kereta.
"Siapa di sana!"
Itu adalah suara Karin. Gara-gara teriakannya, beberapa orang lain sepertinya ikut menoleh ke arah mereka. Beberapa orang mulai melangkah mendekat.
"Sial! Selalu saja ada sampah tak berguna yang ikut campur..."
Begitu orang-orang mulai mendekat, si penyihir api segera mencabut obornya dan melenggang pergi. Sambil memperhatikan kepergian si penyihir api, seseorang tertawa meremehkan.
Karin berlari menghampiri dan langsung memeluk Marie erat-erat. Marie mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan menatap ke arah Juhwan.
"Tuan Juhwan yang menolongku, Karin... Terima kasih banyak."
"T-terima kasih."
Karin juga ikut menundukkan kepalanya beberapa kali sebagai tanda terima kasih.
Tetapi Juhwan masih belum bisa memahaminya.
Kenapa wanita itu menahannya saat ia hendak menghajar pria brengsek itu?
"Orang itu adalah seorang penyihir Tingkat Empat. Peringkatmu memang lebih tinggi darinya, tapi itu karena kau adalah seorang penyihir penyembuh. Berbeda denganmu, penyihir api itu adalah petualang Tingkat Empat yang punya kemampuan tempur. Aku tidak tahu apakah kau lihai mengayunkan kapak atau jago berkelahi, tapi kalau kau sampai nekat melawan petualang Tingkat Empat, kau pasti akan kalah. Dia sangat kuat, sampai-sampai kalau petualang Tingkat Lima seperti kami mencoba menyerangnya, kami pasti akan terbunuh dalam sekejap."
Marie menatap Juhwan sambil berusaha keras menahan isak tangisnya.
Apakah itu alasannya ia berniat pasrah menahan semuanya tanpa berani mengeluarkan suara?
Karena pria itu mengancam akan membunuh dua nyawa temannya sebagai sandera, ia bahkan tak pernah berpikir untuk mencoba melarikan diri?
"Apakah pihak serikat lepas tangan begitu saja?"
Orang yang menjawab pertanyaan Juhwan kali ini adalah Karin.
"Pihak serikat sebenarnya sudah berusaha memperhatikan kami lewat berbagai cara. Tidak semua pria punya tabiat seburuk penyihir itu. Ada juga pria-pria yang muak dengan hal semacam ini, contohnya sepertimu. Sebisa mungkin, serikat selalu berusaha mencarikan pekerjaan agar kami bisa berada satu kelompok dengan orang-orang baik seperti itu."
Karin memapah tubuh Marie dan mulai memapahnya berjalan kembali ke tenda.
"Tapi jumlah orang brengsek seperti si penyihir api itu jauh lebih banyak. Serikat tidak bisa ikut campur dan menjatuhkan hukuman untuk setiap kasus yang terjadi. Bukan cuma satu orang yang melakukannya. Lagi pula, pada dasarnya petualang adalah sekelompok orang yang kasar. Di profesi ini, kekuatan adalah segalanya."
Juhwan diam-diam mengikuti langkah mereka berdua dari belakang.
Tiba-tiba, Karin dan Marie menghentikan langkah mereka. Setelah terdiam ragu sejenak, Marie mulai membuka suaranya.
"Terima kasih banyak atas pertolonganmu malam ini. Tapi kau juga tak seharusnya terlalu banyak berurusan dengan penyihir itu. Para petualang di sini selalu menghindari konflik dengan orang-orang seperti mereka."
Karin dan Marie pun kembali melanjutkan langkah mereka.
Mungkin karena mendengar keributan, Jessie datang berlari menghampiri mereka.
Juhwan hanya memperhatikan dari jauh bagaimana ketiga wanita itu saling berpelukan dan menangis bersama, lalu ia memalingkan wajah dan melangkah pergi.
Masalah hari ini memang diselesaikan dengan cara yang sedikit canggung. Sebuah dendam telah tercipta.
Semakin picik sifat seseorang, semakin besar dendam yang akan ia simpan hanya karena masalah sepele.
Tapi meskipun hal yang sama terjadi lagi, aku mungkin akan tetap melakukan hal yang sama.
Dan itu bukan semata-mata karena Marie.
Selama bajingan macam itu masih ada di sekitarnya, keselamatan tubuh Lizzie juga akan terancam.
Tidak ada keraguan sama sekali dalam benak Juhwan ketika ia mengingat tatapan lapar yang dilontarkan pria itu kepada Lizzie. Untuk saat ini, incarannya baru jatuh pada target yang lebih mudah ditaklukkan, karena Marie ada di sana. Tapi dalam beberapa hari ke depan, pria itu pasti akan mencoba menargetkan Lizzie juga.
Juhwan bergumam di dalam hatinya.
Lain kali, aku sama sekali tak boleh melepaskannya.
Jika orang-orang mulai meremehkannya sejak awal, maka orang lain juga pasti akan ikut-ikutan menindasnya.
Prinsipnya sama persis seperti saat ia masih hidup di jalanan dulu, saat ia harus bertarung melawan para preman tengik.
Langkah kakinya mulai dipercepat.
Meskipun ia tahu mereka aman, ia baru bisa bernapas lega setelah berada cukup dekat dengan keretanya dan memastikan bahwa pintunya terkunci rapat dari dalam.
Lizzie, yang terbangun akibat suara keributan, langsung membuka pintu kereta.
"Juhwan, kau tidak apa-apa?"
"Ya."
Ia baik-baik saja.
Kali ini, tak ada seorang pun yang akan mati.
Memang benar bahwa Sinterklas adalah sosok bajingan tengik, tapi pria tua itu telah mengirimnya ke mari dengan satu harapan agar ia bisa bahagia.
Jadi, semuanya akan baik-baik saja.
Tak akan ada lagi orang yang menderita.
Tidak akan bagi Lizzie.
Tidak akan bagi Dorothy.
Dan tidak akan bagi dirinya sendiri.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments