Pendaftaran Party
Sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh petugas penjaga gerbang, jika seseorang terus mengikuti jalur jalan berbatu dari arah pintu masuk desa, mereka akan segera tiba di sebuah area alun-alun yang sangat luas.
Jalur jalan berbatu alam yang sebelumnya sempat membuat Dorothy terpesona setengah mati, tampak melebar secara drastis dan membentuk pola lingkaran yang masif begitu mencapai kawasan pusat alun-alun tersebut.
Beberapa gedung berukuran besar tampak berdiri kokoh, mengelilingi area alun-alun melingkar tersebut. Di sela-sela bangunan megah itu, terlihat beberapa jalur jalan setapak yang sempit, di mana deretan rumah-rumah penduduk kembali berjejer rapat di sepanjang jalurnya.
Gedung bertuliskan "Serikat Petualang" yang dipermukaannya dihiasi oleh lukisan ilustrasi sosok Kakek Santa Claus adalah bangunan dengan struktur arsitektur paling masif dan megah di antara seluruh gedung yang mengitari alun-alun tersebut.
'Tapi ini benar-benar aneh.'
Juhwan mengernyitkan dahinya bingung. Mengapa sosok Santa Claus bisa eksis di dunia asing ini? Lengkap dengan atribut topi dan setelan pakaian berwarna merah menyala. Terlebih lagi, penampilannya justru digambar secara mencolok tepat di atas papan nama resmi milik Serikat Petualang. Ia benar-benar tidak habis pikir apa korelasi logis di balik semua ini. Apakah Kakek Santa itu dulunya adalah sosok Master Serikat pertama yang mendirikan organisasi petualang ini atau bagaimana?
Di saat Juhwan masih sibuk menatap papan nama kayu tersebut dengan dahi berkerut, Lizzy perlahan-lahan mengemudikan kereta kuda mereka hingga berhenti tepat di area halaman depan gedung Serikat Petualang.
Begitu laju kuda penarik berhasil dihentikan sepenuhnya, seorang anak laki-laki yang usianya diperkirakan baru menginjak sekitar sepuluh tahun tampak berlari kencang dari suatu sudut arah jalan.
"Selamat datang! Apakah Anda sekalian adalah tamu yang berniat mengunjungi kantor serikat? Sepertinya ini adalah kunjungan pertama Anda di pemukiman desa kami!" seru bocah itu dengan nada suara yang sangat riang.
Anak laki-laki itu tampak sedang membawa sebuah kotak kayu berbentuk persegi yang ukurannya terhitung cukup besar dan berat jika dibandingkan dengan proporsi tubuh mungilnya. Kotak itu memiliki dua buah pegangan di kedua sisinya, dan si bocah terlihat harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendekap kotak tersebut menggunakan kedua belah tangannya.
Sebelum Juhwan sempat melangkah turun dari atas kereta, bocah itu dengan gerakan yang sangat gesit langsung meletakkan kotak kayu tersebut tepat di samping pijakan kaki kursi kusir.
"Tuan, silakan gunakan kotak ini sebagai pijakan untuk melangkah turun!"
Menyaksikan pemandangan tersebut, Juhwan seketika teringat akan gambaran profesi tukang semir sepatu jalanan yang sering ia tonton di dalam film-film jadul era lawas—jenis pelayanan agresif yang sengaja merebut paksa sepatu milik pelanggan yang sedang duduk demi mendapatkan uang.
Bocah itu kembali melanjutkan kalimat promosisinya dengan sebuah senyuman cerah yang menghiasi wajah polosnya. "Tuan, apakah Anda bersedia menyerahkan urusan pengawasan kereta dan kuda Anda kepada saya? Akan menjadi sebuah masalah kosmik yang besar jika sampai ada komplotan pencuri yang nekat menyusup dan menggasak barang bawaan Anda di tempat ramai begini. Lagipula, kuda penarik Anda juga pasti butuh waktu untuk beristirahat dengan layak."
"...."
Nggak, makasih. Justru karena gerak-gerikmu yang agresif begini yang membuatku mendadak merasa waspada dan curiga kalau kamu sendiri yang bakal menggasak barang-barangku. Batin Juhwan seraya menatap intens ke arah anak laki-laki di bawahnya dalam diam.
Anak itu tampak menyeka lelehan ingus di hidungnya menggunakan ujung lengan bajunya, lalu kembali menyeringai lebar. "Jika Anda sekalian bersedia menginap di tempat penginapan milik keluarga kami selama lebih dari tiga hari, kami akan memberikan diskon khusus berupa potongan harga setengah harga untuk biaya pakan kuda Anda. Jika Anda kebetulan belum menentukan tempat untuk bermalam, silakan datang ke tempat kami. Kami berjanji akan memberikan pelayanan terbaik dan mengurus Anda dengan sangat baik!"
Namun, tepat setelah bocah itu menyelesaikan kalimat promosinya, seorang pria paruh baya bertubuh kurus kering mendadak berlari kencang mendekati posisi mereka. Tanpa peringatan apa pun, pria itu langsung menjulurkan tangannya dan mencengkeram kerah baju bagian belakang si bocah dengan sangat kasar hingga tubuh anak itu terangkat ke udara. Meskipun si bocah tampak mulai tercekik dan terbatuk-batuk hebat akibat cengkeraman tersebut, pria kurus itu sama sekali tidak berniat melonggarkan cengkeraman tangannya.
"Hehe... Tuan, fasilitas dan mutu pelayanan di tempat penginapan milik saya jauh lebih superior dan berkelas dibandingkan dengan gubuk reot milik keluarga bocah ingusan ini," ujar pria kurus itu dengan senyuman culas yang dipaksakan.
Alis Juhwan seketika bertaut rapat, wajahnya otomatis menampakkan guratan ekspresi tidak senang. Ia paham bahwa kedua orang di depannya ini adalah kompetitor bisnis yang sedang berebut pelanggan, tetapi rasanya sama sekali tidak ada urgensi logis bagi pria dewasa itu untuk bertindak kasar dan bermain fisik terhadap seorang anak kecil di depan umum.
Bocah itu tampak meronta-ronta dengan sisa tenaganya, berusaha keras untuk melepaskan diri dari dekapan si pria kurus, namun usahanya berakhir sia-sia. Pria itu tetap menolak untuk melepaskan cengkeraman tangannya pada pakaian si bocah.
"Hentikan perbuatanmu."
Juhwan melangkah maju lalu mencengkeram pergelangan tangan pria kurus itu dengan remasan yang sangat kuat. Terkejut oleh kekuatan tekanan yang luar biasa dahsyat, pria kurus itu spontan melepaskan cengkeramannya, membuat tubuh si bocah langsung jatuh terduduk di atas permukaan lantai batu.
Pria kurus kering itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan gestur gugup dan ketakutan. Ia sempat mencoba melontarkan beberapa patah kata pembelaan diri lagi, namun begitu menyadari taktik diplomasinya sama sekali tidak mempan menghadapi tatapan intimidatif Juhwan, ia akhirnya memilih untuk bungkam dan buru-buru melangkah pergi menjauh dari area tersebut.
Sembari menahan butiran air mata yang mulai menggenang di sepasang matanya, anak laki-laki itu tampak sesenggukan membetulkan posisi pakaiannya.
"Terima kasih banyak, Tuan... Maafkan saya. Kondisi ekonomi keluarga kami memang sedikit memprihatinkan... dan ukuran penginapan kami juga terhitung sangat kecil... Ayah saya saat ini kondisinya terlalu lemah dan sakit-sakitan sehingga tidak bisa melakukan pekerjaan fisik apa pun. Beliau hanya bisa berdiam diri dan beristirahat di rumah sepanjang hari. Karena itulah, Ibu saya terpaksa harus membanting tulang sendirian demi menghidupi kami, dan situasi itu selalu terasa sangat berat baginya... Tapi saya berani bersumpah, mutu rasa makanan yang disajikan di penginapan kami benar-benar luar biasa lezat, Tuan!"
Mendengar penuturan kisah sedih dari si bocah, sudut hati Juhwan seketika dihinggapi oleh rasa iba yang cukup mendalam. Meskipun ia sendiri belum tahu pasti skenario apa yang akan terjadi pada keluarganya ke depan, namun jika tarif sewa yang dipatok memiliki nominal yang sama dengan tempat lain, menetap di penginapan milik keluarga bocah ini rasanya bukan merupakan opsi yang buruk. Mungkin ia bisa menanyakan detail informasi mengenai harga sewanya nanti setelah urusannya di dalam gedung selesai.
"Aku belum bisa memberikan keputusan sekarang. Mengenai apakah kami akan menginap di tempatmu atau tidak."
Mendengar untaian kalimat dari Juhwan, rona wajah anak laki-laki itu seketika berubah menjadi sangat cerah benderang. Bocah itu berulang kali membungkukkan kepalanya dalam-dalam sebagai bentuk rasa terima kasih yang teramat sangat, lalu menjulurkan tangannya ke depan dengan antusias. "Tuan, izinkan saya yang menjaga dan mengurus kuda penarik Anda saat ini! Selama saya berdiri siaga mengawasinya di sini, dipastikan tidak akan ada satu pun komplotan pencuri yang berani mendekati kereta Anda!"
Juhwan sempat merasa bimbang. Menolak tawaran tulus tersebut rasanya akan membuat hatinya didera rasa bersalah, terlebih jika pada akhirnya mereka justru memilih untuk langsung pergi meninggalkan pemukiman desa ini tanpa sempat menginap. Di sisi lain, insting kewaspadaannya juga terus mengingatkan bahwa ia belum bisa menaruh kepercayaan penuh seratus persen kepada anak kecil yang baru ditemuinya ini.
Di saat Juhwan masih dilanda keraguan, tiga orang pria petualang yang sempat ia lihat di gerbang masuk desa tadi tampak melangkah keluar dari dalam pintu utama gedung Serikat Petualang.
Melihat kemunculan ketiga petualang berwajah garang tersebut, tubuh si bocah seketika tersentak ketakutan. Ia bergegas membungkukkan badannya sekilas ke arah Juhwan dengan gestur terburu-buru. "Tuan, kalau begitu saya akan mengawasi kereta Anda dari jarak jauh saja! Jangan khawatir, saya jamin kereta Anda tidak akan digasak oleh pencuri!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, anak laki-laki itu langsung memacu langkah kakinya, berlari kencang menyusuri jalan dan bersembunyi di balik bayangan sebuah gang sempit.
Juhwan melayangkan pandangan bingung menatap kepergian si bocah. Apa-apaan itu tadi? Ia menundukkan kepalanya dan menyadari bahwa bocah itu bahkan pergi terburu-buru tanpa sempat membawa kembali kotak kayu persegi yang dibawanya tadi. Anak itu sama sekali tidak terlihat memiliki gelagat layaknya seorang penipu ulung atau komplotan pencuri, jadi apa yang sebenarnya membuat dia mendadak kabur ketakutan seperti itu?
Ketiga pria petualang itu berjalan santai menghampiri posisi Juhwan dan kereta kudanya.
"Hei, bukankah pria ini adalah orang asing yang kita lihat di gerbang masuk desa tadi?" "Apakah dia ternyata juga berprofesi sebagai seorang petualang?"
Orang-orang itu berdecak pelan seraya melemparkan pandangan sinis ke arah gang sempit tempat si bocah melarikan diri tadi. Salah seorang petualang bergumam dengan nada mencemooh. "Bocah itu langsung lari terbirit-birit begitu melihat kedatangan kita... Padahal dia sudah sering menerima amukan dan teguran keras, tapi tabiatnya yang suka menyebarkan berita bohong masih saja belum berubah."
Merasa penasaran dengan arah pembicaraan mereka, Juhwan melayangkan tatapan penuh tanya ke arah ketiga pria tersebut. Menyadari rasa penasaran Juhwan, petualang yang baru saja bergumam tadi langsung menyeringai lebar. "Tuan, apakah bocah ingusan tadi baru saja membual kepadamu bahwa ayahnya saat ini sedang menderita luka parah, sakit-sakitan, atau mungkin sudah mati?"
"Dia tadi mengatakan bahwa ayahnya dalam kondisi terlalu lemah dan hanya bisa berdiam diri menghabiskan waktu di rumah," jawab Juhwan jujur.
Mendengar jawaban Juhwan, ketiga pria petualang itu seketika meledak dalam tawa yang sangat renyah dan keras. "Hahaha! Ternyata dia mengganti skenario bualannya lagi setelah terakhir kali menerima amukan keras dari kami!" "Asal Anda tahu saja, kondisi fisik ayah dari bocah itu saat ini benar-benar sehat walafiat tanpa kurang suatu apa pun." "Ayah dari anak itu sebenarnya adalah seorang petualang aktif di serikat ini. Meskipun beliau sempat berniat untuk pensiun dini, sampai sekarang beliau masih sering mengambil beberapa misi kontrak petualangan berskala kecil secara berkala." "Kami semua juga sempat menjadi korban penipuan dari bualan sedih bocah itu saat pertama kali menapakkan kaki di pemukiman desa ini dulu." "Anak nakal itu rela melontarkan skenario kebohongan apa pun yang ada di dalam otaknya demi bisa menggaet dan menarik minat pelanggan asing." "Dan parahnya lagi, dia secara sembunyi-sembunyi akan menaikkan tarif harga minuman bir miliknya dengan nominal yang sangat tidak masuk akal kepada para korbannya."
Salah seorang petualang tampak melayangkan sebuah tendangan ringan ke arah kotak kayu persegi yang tergeletak di samping kereta. Kotak itu rupanya berisi deretan botol minuman bir dagangan milik keluarga si bocah.
Juhwan seketika terenyak diam, hatinya didera rasa terkejut yang cukup besar. Jika urusan menaikkan harga bir adalah trik dagang yang lumrah, maka aksi nekat menyebarkan berita bohong yang mengklaim bahwa orang tua sendiri sedang menderita sakit parah atau sekarat adalah tindakan yang sangat keterlaluan di matanya. Bagaimana jika untaian kalimat buruk itu kelak benar-benar mewujud menjadi kenyataan karma yang menimpa ayahnya?
"...."
Terlebih lagi, jika ia sampai nekat memutuskan untuk menginap di tempat penginapan milik keluarga bocah itu, identitas serta keberadaan mereka dipastikan akan langsung terendus oleh banyak pihak dalam waktu singkat. Apakah karena dia masih anak-anak? Dia tampaknya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk memikirkan dampak jangka panjang dari tindakannya.
"Hei kawan, jika kamu mengemudikan keretamu memutari bagian belakang gedung serikat ini, di sana terdapat sebuah fasilitas area khusus yang disediakan untuk memarkirkan kereta dan menyandatkan kuda. Di sana ada petugas resmi serikat yang berdiri siaga menjaga keamanan, jadi kamu tidak perlu didera kecemasan mengenai potensi aksi pencurian barang bawaan. Bocah nakal tadi sengaja berlagak menawarkan diri untuk menjaga keretamu semata-mata agar memiliki alasan kuat untuk memeras koin perak darimu sebagai imbalan jasa nanti."
"...Terima kasih banyak atas informasinya."
Juhwan mengangguk takzim. Di dunia lamanya, ada sebuah pepatah terkenal yang mengatakan bahwa jika seseorang berani memejamkan matanya sejenak saja di pusat kota Seoul, maka orang lain akan langsung datang dan mencuri hidung mereka. Realitas kejam yang sedang ia hadapi saat ini benar-benar merefleksikan kebenaran dari pepatah tersebut. Ia wajib menjaga tingkat kewaspadaannya tetap berada di level tertinggi setiap detiknya.
Setelah ketiga petualang itu melangkah pergi memasuki gang lain, Lizzy yang sedari tadi duduk diam di atas kursi kusir tampak memutar tubuhnya ke belakang dengan sepasang mata bulat yang melebar sempurna; ia tampaknya merasa sangat terkejut sekaligus tidak percaya setelah mendengar fakta kebohongan dari si bocah jalanan tadi.
Sementara itu, Dorothy sendiri tampak duduk dengan sangat tenang dan damai, sepasang mata polosnya terus menatap lekat ke arah papan nama gedung serikat tanpa memedulikan drama percakapan orang dewasa di sekitarnya.
Melihat tingkah polos anaknya, sebuah kesadaran mendadak menghantam lubang benak Juhwan. Jangan-jangan, Dorothy seumur hidupnya memang belum pernah melihat sebuah lukisan ilustrasi yang berwarna benderang seperti itu sebelumnya. Di desa terpencil mereka yang lama dulu, jangankan sebuah toko komersial, papan nama kayu sederhana pun sama sekali tidak ada yang terpasang di rumah-rumah penduduk. Wilayah itu hanya berisi deretan gubuk kayu tempat tinggal yang monoton. Terlebih lagi, akses terhadap fasilitas buku bacaan atau komik bergambar dipastikan bernilai nol besar di sana. Di sebuah fase usia emas di mana seorang anak kecil seharusnya sedang asyik menikmati keindahan buku cerita bergambar, Dorothy justru harus dipaksa hidup dalam keterbatasan total. Sebuah rasa iba dan penyesalan yang mendalam seketika kembali merayapi sudut hati Juhwan.
Ketika Lizzy mengemudikan kereta kuda mereka memutari area bagian belakang gedung serikat, mereka disambut oleh sebuah fasilitas lahan kosong yang sangat luas, yang memang sengaja dikhususkan sebagai tempat untuk menyandatkan kuda-kuda penarik.
Begitu mereka memarkirkan posisi kereta di salah satu slot yang lowong dan mulai mengikatkan tali kekang kuda pada tiang pancang, seorang petugas pelayan serikat tampak berjalan ramah menghampiri posisi mereka. "Selamat siang. Apakah kuda penarik Anda memerlukan pasokan pakan berkualitas atau pasokan air bersih saat ini? Hanya dengan membayar nominal sebesar 1 koin tembaga, kami berjanji akan mengurus dan memberi mereka makan dengan layak hingga malam tiba."
Mendengar untaian kata terakhir yang diucapkan oleh petugas tersebut, Juhwan sempat tertegun sejenak karena merasa asing dengan istilah satuan mata uang yang digunakan, sebelum akhirnya memori ingatannya berhasil merangkai kembali penjelasan yang pernah diberikan oleh Lizzy. Lizzy sebelumnya pernah mengajari Juhwan mengenai sistem dan tingkatan satuan mata uang yang berlaku secara universal di dunia fantasi ini. Satuan kata yang baru saja diucapkan oleh pelayan tersebut merujuk pada koin tembaga—jenis koin dengan nilai nominal terendah dalam hierarki sistem ekonomi.
Meskipun statusnya adalah koin dengan nilai terendah, dalam realitas praktis di desa terpencil mereka yang dulu, keberadaan koin tembaga ini pun terhitung sangat jarang digunakan oleh penduduk lokal. Bahkan saat rombongan pedagang keliling datang berkunjung ke desa sekali pun, mayoritas sistem transaksi ekonomi yang diterapkan oleh masyarakat masih mengandalkan sistem barter konvensional berupa pertukaran barang komoditas.
Hal itu secara otomatis memicu sebuah fakta krusial yang cukup menohok: saat ini keluarga Juhwan sama sekali tidak memegang uang sepeser pun. Benar-benar nol besar.
Juhwan awalnya merencanakan untuk menjual tumpukan bulu kelinci dan serigala hasil buruannya begitu mereka berhasil mencapai pemukiman kota ini demi mendapatkan modal uang, namun ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan langsung dihadapkan pada urgensi kebutuhan finansial secepat ini, bahkan sebelum sempat melangkahkan kaki memasuki pintu gedung.
'Apa yang harus kulakukan sekarang?' Apakah sebaiknya ia fokus mencari cara untuk menghasilkan uang terlebih dahulu sebelum mengurus pendaftaran?
"...."
Apakah pihak Serikat Petualang bersedia menerima dan membeli komoditas berupa pasokan bulu kelinci bertanduk milik mereka? Atau ia justru harus membuang waktu lagi untuk mencari lapak toko pengepul khusus di sudut desa lain demi menjualnya?
Juhwan mengembuskan napas pendek seraya melayangkan tatapan lurus ke arah petugas pelayan di depannya. "Maaf, saat ini saya kebetulan sedang tidak memegang uang tunai sepeser pun. Apakah pihak Serikat Petualang di dalam bersedia menerima dan membeli pasokan bulu kelinci hasil buruan?"
Mendengar pertanyaan tersebut, pelayan itu justru mengulas sebuah senyuman yang sangat ramah dan cerah di wajahnya. "Tentu saja mereka bersedia menerimanya, Tuan."
Petugas pelayan itu kembali melanjutkan kalimatnya dengan nada suara yang menenangkan. "Anda tidak perlu didera kecemasan. Pihak serikat sama sekali tidak memungut biaya sepeser pun untuk fasilitas penitipan kereta kuda di area ini. Terlebih lagi, grafik harga jual untuk komoditas bulu kelinci di pasaran saat ini sedang mengalami lonjakan kenaikan yang sangat signifikan belakangan ini. Saya pribadi yang akan berdiri siaga menjaga keamanan kereta Anda di sini, jadi silakan Anda melangkah masuk ke dalam gedung serikat dengan tenang tanpa perlu khawatir. Dan nanti, setelah Anda berhasil menyelesaikan transaksi penjualan bulu kelinci di dalam dan telah memegang modal uang, Anda cukup kembali ke mari dan membayar biaya pakan untuk kuda Anda. Nominal dari biaya pakan tersebut adalah sumber penghasilan tambahan utama saya untuk bertahan hidup di sini."
Juhwan langsung menangkap maksud implisit dari kalimat pelayan tersebut—bahwa biaya pakan itu nantinya akan dialokasikan sebagai uang tips komisi pribadi untuknya. Juhwan memberikan anggukan mantap seraya berjanji akan melakukan hal tersebut, lalu memutar tubuhnya berjalan mantap menuju ke arah pintu masuk utama kantor serikat.
*
Desain interior di bagian dalam gedung Serikat Petualang menyuguhkan sebuah ruang aula yang terhitung luar biasa luas dan megah. Tepat di sisi sebelah kiri dari arah pintu masuk utama, membentang sebuah struktur dinding masif yang permukaannya dipenuhi oleh ratusan lembaran kertas pengumuman misi kontrak yang tertempel rapi. Sementara di sisi sebelah kanan ruang aula, tampak berjejer beberapa set meja dan kursi kayu berukuran kokoh.
Meja-meja tersebut tampak diduduki oleh kerumunan pria dengan perawakan tubuh yang besar dan berwajah garang. Di sekeliling tempat duduk orang-orang tersebut, tampak bersandar berbagai jenis senjata tajam berukuran masif serta tas ransel berukuran besar. Dari atribut serta atmosfer intimidatif yang mereka pancarkan, sudah bisa dipastikan bahwa mereka semua adalah para petualang aktif yang sedang melepas lelah.
Tepat di area sisi seberang yang berhadapan langsung dengan pintu masuk, membentang sebuah meja konter resepsionis yang sangat panjang. Beberapa orang staf administrasi resmi serikat tampak duduk siaga di balik meja konter tersebut, menyuguhkan atmosfer visual yang terasa sangat familier di mata Juhwan—benar-benar mirip dengan tata letak meja konter pelayanan nasabah di sebuah bank modern di dunia asalnya.
Hanya ada satu titik meja konter pelayan yang letaknya berada di posisi paling ujung sebelah kanan yang memperlihatkan karakteristik desain yang sedikit berbeda dibandingkan dengan meja konter lainnya. Area ruang di sekitar meja tersebut terhitung memiliki ukuran yang sedikit lebih luas dan lowong.
'Apakah meja konter di ujung kanan itu adalah tempat khusus yang dialokasikan untuk melayani transaksi pembelian barang komoditas?' batin Juhwan.
Ia menaruh harapan yang sangat besar agar ucapan petugas pelayan parkir di luar tadi mengenai grafik harga bulu kelinci yang sedang meroket tajam adalah sebuah kebenaran mutlak. Mengingat kembali kalkulasi harga yang sempat ditawarkan oleh pedagang keliling yang ia temui di desa lama dulu, nominal keuntungan yang akan ia dapatkan dari hasil penjualan bulu kelinci di pusat serikat kota seperti ini dipastikan akan memiliki angka yang jauh lebih menggiurkan.
Juhwan kembali melayangkan pandangannya, menyisir setiap sudut arsitektur di dalam gedung megah tersebut sekali lagi, namun ia sama sekali tidak menemukan adanya dekorasi, ornamen, ataupun staf pelayan yang menggunakan setelan pakaian khas Santa Claus di dalam sana. Misteri mengenai alasan logis di balik pemilihan ilustrasi lukisan Kakek Santa pada papan nama luar gedung serikat masih tetap menjadi sebuah teka-teki yang belum terpecahkan di dalam otaknya.
"...."
Begitu langkah kaki Juhwan merangsek masuk melintasi ambang pintu ruang aula serikat, puluhan pasang mata milik para petualang yang semula sibuk mengobrol seketika serentak tertuju ke arahnya secara bersamaan.
Lizzy tampak berusaha keras mempertahankan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang dan anggun seperti biasanya, namun hal yang sama tidak berlaku bagi Dorothy. Begitu menyadari dirinya mendadak menjadi pusat perhatian dari puluhan pria berwajah garang dengan aura yang luar biasa mengintimidasi, tubuh mungil Dorothy seketika bergetar ketakutan. Bocah itu langsung merayap maju dan mencengkeram erat kaki celana Juhwan dengan sangat kuat, seolah-olah sedang mencari perlindungan mutlak.
Dorothy berbisik dengan nada suara yang teramat lirih dan gemetar. "Ayah... kenapa orang-orang berwajah seram di sana terus-menerus melotot menatap ke arah kita?"
"Tidak apa-apa, Dorothy sayang. Mereka menatap ke mari semata-mata karena kita adalah wajah baru yang asing di tempat ini," jawab Juhwan dengan lembut seraya membungkukkan badannya untuk mengangkat dan menggendong tubuh mungil anaknya ke dalam dekapan dadanya. Bersama dengan Lizzy yang berjalan setia di sampingnya, mereka melangkah mantap menuju ke area bagian dalam konter pelayanan.
Juhwan memilih untuk melangkah mendekati posisi seorang staf administrasi serikat yang duduk di bagian tengah konter, lalu membuka suara untuk bertanya. "Selamat siang. Saya berniat untuk melakukan transaksi penjualan bulu kelinci bertanduk hasil buruan saat ini. Apakah saya diwajibkan untuk mengurus prosedur pendaftaran diri sebagai anggota serikat terlebih dahulu, atau saya bisa langsung menjualnya secara langsung di sini?"
Mendengar pertanyaan tersebut, sepasang mata milik staf administrasi serikat itu seketika tampak berkilat cerah penuh minat. "Organisasi Serikat Petualang kami pada dasarnya memiliki regulasi ketat yang melarang segala bentuk transaksi perdagangan komoditas dengan masyarakat sipil atau warga umum. Kami hanya memiliki otoritas hukum untuk melayani transaksi jual-beli dengan individu yang telah terdaftar secara resmi sebagai anggota aktif di serikat ini. Tempat ini adalah zona khusus yang didedikasikan untuk para petualang. Jika Anda memang memegang komoditas bulu kelinci berkualitas, Anda dipersilakan untuk menjualnya setelah menyelesaikan seluruh rangkaian prosedur pendaftaran diri terlebih dahulu."
Staf administrasi itu kembali melanjutkan penjelasannya dengan sebuah senyuman ramah yang menghiasi wajahnya. "Apakah Anda bermaksud untuk meniti karier sebagai seorang petualang profesional saat ini? Jika Anda memang memiliki niat serius untuk mendaftarkan diri menjadi anggota baru, saya bisa langsung memulai proses administrasinya detik ini juga."
Pria staf serikat itu sempat melayangkan pandangan sekilas ke arah senjata kapak besi yang tergantung kokoh di pinggang Juhwan, lalu memberikan anggukan kepala sebagai tanda paham. "Apakah senjata utama yang Anda andalkan dalam pertempuran adalah sebuah kapak besi? Pilihan yang sangat bagus. Kapak adalah jenis senjata yang sangat mudah untuk didapatkan di pasaran, memiliki harga jual yang relatif murah, serta sangat praktis dan efisien untuk digunakan dalam berbagai medan pertempuran. Organisasi serikat kami membagi tingkatan klasifikasi para petualang ke dalam enam peringkat hierarki yang berbeda. Dan untuk setiap anggota baru yang baru bergabung, kalian semua diwajibkan untuk memulai karier dari peringkat terbawah, yaitu peringkat enam."
Juhwan belum sempat melontarkan kalimat tanggapan apa pun, namun otaknya sudah berhasil menangkap garis besar dari seluruh mekanisme penjelasan administrasi tersebut. Ini adalah sistem klasifikasi peringkat petualang yang sangat lumrah ditemui dalam formula cerita fantasi.
Tanpa memberikan celah bagi Juhwan untuk memotong pembicaraan, staf administrasi itu kembali mengoceh panjang lebar. "Apakah Anda saat ini sudah menyelesaikan kewajiban pelunasan Pajak Kepala tahunan Anda? Jika kebetulan belum sempat melunasinya, Anda diberikan dispensasi hukum untuk mengurus pembayarannya paling lambat sebelum musim dingin tahun depan tiba, setelah status keanggotaan Anda di serikat ini aktif. Faktanya, mayoritas orang nekat mendaftarkan diri bergabung dengan serikat kami semata-mata demi mengejar kelonggaran regulasi Pajak Kepala ini. Setiap tahunnya, ada ribuan warga jelata yang terpaksa jatuh miskin, terlilit utang piutang yang masif, dan berakhir tragis diturunkan status sosialnya menjadi seorang budak korporat semata-mata karena ketidakmampuan mereka untuk melunasi nominal Pajak Kepala yang mencekit leher. Dunia tempat kita hidup saat ini benar-benar sebuah tempat yang luar biasa kejam."
Sembari terus mengoceh, tangan staf serikat itu tampak bergerak lincah merogoh bagian bawah laci meja konter dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen kertas kosong ke atas meja. "Roda kehidupan di dunia ini memang tidak pernah berjalan mudah bagi siapa pun. Ada banyak sekali kasus di mana para pemula langsung tewas mengenaskan di dalam dungeon tepat beberapa hari setelah menyelesaikan pendaftaran mereka, dan tidak sedikit pula yang berakhir dengan kondisi mengenaskan karena tetap gagal melunasi utang Pajak Kepala mereka. Jika pada akhirnya Anda terbukti tidak memiliki grafik pendapatan yang mumpuni untuk melunasi kewajiban pajak tersebut, maka ya... kami dari pihak serikat tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Anda. Organisasi serikat kami bagaimanapun juga bukanlah sebuah lembaga amal sosial."
Pria staf administrasi itu menatap ke arah tas ransel besar yang digendong Juhwan dengan sepasang mata yang berkilat penuh rasa penasaran, lalu mencelupkan ujung pena bulu miliknya ke dalam wadah tinta hitam. "Sebagai langkah awal pengisian data, silakan sebutkan jenis spesifikasi senjata utama yang Anda gunakan dalam bertarung. Apakah saya bisa langsung menuliskan kata 'kapak besi' di kolom dokumen ini?"
Akhirnya, sebuah celah kesempatan bagi Juhwan untuk berbicara terbuka telah tiba. "Saya adalah seorang penyihir."
"...."
Staf administrasi itu seketika menghentikan gerakan penanya, memiringkan kepalanya sedikit ke samping, lalu kembali melontarkan pertanyaan dengan nada sangsi seolah-olah salah mendengar. "Maksud Anda... senjata kapak besi?"
"Saya adalah seorang penyihir," ulang Juhwan dengan nada suara yang sangat tenang dan penuh penekanan.
"A-apa?! Bagaimana bisa?!"
Pria staf serikat itu rupanya adalah tipe individu yang memiliki karakter suara yang cukup berisik dan ekspresif. Ia sampai nekat menjulurkan lehernya sejauh mungkin melintasi batas atas meja konter, sepasang matanya melotot tajam menatap lurus ke arah figur tubuh kekar Juhwan seraya berkomat-kamit dengan nada tidak percaya. "Ini benar-benar berhasil membuat saya terkejut setengah mati. Seorang penyihir hebat... dengan visual karakteristik fisik tubuh yang luar biasa kekar dan intimidatif seperti ini? Sungguh sebuah anomali yang luar biasa mengejutkan."
"...."
"Tentu saja, secara hukum memang tidak ada regulasi tertulis yang mewajibkan seluruh penyihir di dunia ini harus memiliki proporsi tubuh yang kurus kering, ringkih, dan lemah syahwat. Hmm... baiklah, saya paham sekarang. Seorang penyihir asli. Kasus yang terhitung sangat langka dan jarang terjadi di wilayah distrik kami. Namun, apakah Anda benar-benar sudah memikirkan dengan matang keputusan Anda untuk bergabung dengan Serikat Petualang jelata seperti kami ini? Dengan menyandang status sebagai seorang penyihir, Anda dipastikan akan bisa meraup pundi-pundi keuntungan finansial yang jauh lebih masif dan menjanjikan jika bersedia mengabdikan diri di bawah naungan kaum bangsawan atau pihak kerajaan."
Alis pria staf serikat itu tampak bertaut rapat dengan ekspresi kebingungan yang kentara. "Di dalam internal serikat kami, meskipun kalimat ini terdengar sedikit merendahkan instansi sendiri, namun faktanya akan jauh lebih menguntungkan bagi masa depan Anda untuk mengetuk pintu rumah seorang lord bangsawan jika Anda terbukti memiliki secuil bakat sihir asli di dalam tubuh. Ah... kecuali jika kapasitas kemampuan sihir yang Anda miliki saat ini ternyata hanya mentok berada di level rata-rata bawah yang hanya cukup untuk memenuhi syarat pendaftaran serikat, eh... maksud saya bukan begitu, hmm... maksud saya, ya... memang sesekali ada beberapa kasus anomali di mana seorang penyihir idealis lebih memilih meniti karier sebagai petualang jalanan ketimbang menjadi anjing penjilat kaum bangsawan."
Pria staf administrasi itu mendadak terlihat sangat gugup dan salah tingkah, menyadari bahwa untaian kalimat yang baru saja diucapkannya secara spontan berpotensi menyinggung harga diri Juhwan dan memicu amarah dari pria kekar di depannya. Kedua tangannya tampak bergerak gelisah merapikan kertas dokumen di atas meja, sementara sepasang matanya berulang kali melirik waspada ke arah kepalan tangan kekar Juhwan serta kapak besi yang tergantung di pinggangnya.
Well, Juhwan sendiri sebenarnya sama sekali tidak berniat untuk mengobarkan kemarahan kekanak-kanakan hanya karena ucapan sosiologis seperti itu. Namun, sebelum Juhwan sempat membuka mulut untuk menenangkan ketakutan si petugas, Dorothy yang berada di dalam dekapannya justru sudah lebih dulu menyahut dengan nada suara yang sangat lantang dan penuh kebanggaan.
"Ayah Dorothy itu adalah seorang penyihir yang luar biasa hebat tahu! Ayah bisa menciptakan kobaran api kecil yang sangat keren, terus Ayah juga bisa membantai habis kawanan goblin jahat dengan cara menghantam kepala mereka pakai kapak besi ini! Pokoknya Ayah Dorothy keren banget!"
Mendengar penuturan polos yang meluncur dari mulut si bocah, pria staf serikat itu kembali mengalihkan pandangannya menatap ke arah kapak besi di pinggang Juhwan, lalu memberikan anggukan kepala yang konklusif seolah-olah teka-teki di otaknya telah terjawab sempurna. "Ah... saya paham sekarang. Menggunakan kapak besi untuk menghantam kepala goblin... Wahai nona kecil yang manis, ayahmu ini rupanya memang memiliki kekuatan fisik yang luar biasa tangguh."
"Iya, bener banget! Ayah Dorothy emang super kuat! Meskipun terkadang kobaran apinya suka mendadak mati dan padam secara misterius, tapi Ayah tetep yang paling kuat di dunia!" seru Dorothy lagi dengan penuh semangat.
"...."
Pria staf administrasi itu mengeluarkan sekelumit suara gumaman canggung dari tenggorokannya, lalu memaksakan sebuah senyuman tipis yang sarat akan rasa maklum di wajahnya. "Anak kecil memang pada dasarnya tidak akan pernah bisa berbohong. Baiklah, tidak apa-apa. Selama saya mendedikasikan diri bekerja di kantor serikat ini, saya pribadi memang sudah beberapa kali berkesempatan untuk bertemu dengan beberapa oknum yang mengklaim diri sebagai seorang penyihir, namun insting bertarung mereka biasanya menggunakan instrumen senjata lain yang tidak biasa. Faktanya, memang tidak semua penyihir di dunia ini wajib bertempur murni menggunakan manipulasi mantra sihir jarak jauh. Tidak masalah, Tuan. Saya akan tetap menginput data registrasi Anda ke dalam sistem sebagai seorang penyihir saat ini. Sungguh tidak apa-apa, saya cukup menambahkan sebaris catatan kaki kecil di kolom dokumen yang menyatakan bahwa Anda juga mengandalkan kapak besi sebagai instrumen tempur sekunder."
Juhwan hanya bisa mengembuskan napas pasrah; staf administrasi itu tampaknya telah mengalami miskonsepsi dan kesalahpahaman total mengenai level kemampuan sihirnya akibat untaian kalimat testimoni polos yang diucapkan oleh Dorothy. Petugas itu pasti mengira Juhwan hanyalah seorang petualang fisik biasa yang hanya bisa memanipulasi sihir api tingkat rendah yang tidak stabil. Namun, ia memilih untuk membiarkan kesalahpahaman tersebut tetap bergulir karena hal itu justru menguntungkan untuk menyembunyikan kartu as kemampuannya.
Melihat ekspresi canggung petugas serikat serta kesalahpahaman yang terjadi, Lizzy yang berdiri di samping Juhwan tidak bisa menahan diri untuk tidak menutup mulutnya seraya cekikikan geli.
Sementara itu, Dorothy sendiri yang merasa bahwa dirinya baru saja berhasil menyelesaikan tugas besar berupa menyombongkan kehebatan sang ayah dengan sangat baik dan terstruktur, tampak membusungkan dada mungilnya dengan penuh rasa bangga yang meluap-luap dalam gendongan Juhwan. Akibat pergerakan tubuh dan riuhnya atmosfer obrolan di sekitar mereka, Oz si kelinci bertanduk yang sedari tadi sedang menikmati tidur nyenyak di dalam kantong saku pakaian Dorothy tampaknya mulai terbangun dari tidurnya; permukaan kantong saku tebal itu terlihat menggeliat dan bergerak-gerak aktif.
Tepat pada detik itu, staf administrasi yang bertugas di meja konter paling ujung sebelah kanan tampak melangkah mendekati posisi mereka lalu membuka suara untuk menginterupsi jalannya obrolan. "Selagi Anda menyelesaikan seluruh rangkaian prosedur administrasi pendaftaran keanggotaan baru, izinkan saya untuk membantu mengurus proses transaksi penjualan komoditas bulu kelinci Anda terlebih dahulu. Sebagai langkah awal, saya diwajibkan untuk melakukan inspeksi visual terhadap kondisi fisik serta mutu kualitas dari lembaran kulit bulu tersebut demi bisa menentukan nominal harga jual yang tepat."
Asumsi tebakan Juhwan sebelumnya ternyata terbukti seratus persen akurat; meja konter di ujung kanan itu memang dikhususkan sebagai pos transaksi pembelian barang komoditas hasil buruan. Begitu Juhwan menurunkan tas ransel besar miliknya yang berisi tumpukan bulu kelinci bertanduk dan meletakkannya di atas meja konter, staf penilai barang itu langsung membuka tali pengikat dan memeriksa bagian dalamnya. Detik berikutnya, pria itu spontan mengeluarkan suara pekikan takjub yang cukup nyaring. "Astaga, kuantitasnya ternyata sama sekali bukan hanya berisi satu lembar saja!"
Pria staf penilai barang itu tampak mengeluarkan selembar bulu kelinci dari dalam tas, meraba permukaan bulunya dengan sangat teliti, memeriksa bagian lapisan kulit dalamnya dengan tingkat kefokusan yang tinggi, lalu kembali bersuara dengan nada penuh kekaguman. "Tingkat mutu kualitas dari bulu kelinci ini benar-benar berada di level yang sangat luar biasa tinggi. Individu yang mengeksekusi proses penyamakan dan pengolahan kulit bulu ini dipastikan adalah seorang maestro yang memiliki keahlian mekanis tingkat tinggi. Sungguh sebuah fenomena yang sangat langka dan sulit ditemui di zaman sekarang, ada seseorang yang sudi mengolah kulit buruan dengan tingkat ketelitian dan kerapian yang semetris dan sesempurna ini."
"...Terima kasih atas pujiannya," jawab Juhwan seraya melirik ke arah Lizzy.
Lizzy yang menerima lirikan tersebut langsung menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona wajahnya yang memerah padam akibat didera rasa malu sekaligus perasaan bangga yang luar biasa yang membuncah di dalam dadanya. Menyaksikan reaksi malu-malu yang diperlihatkan oleh Lizzy, staf penilai barang itu tampak menaikkan sebelah alisnya dengan raut wajah sedikit terkejut. "Apakah seluruh rangkaian proses penyamakan kulit yang luar biasa rapi ini murni dieksekusi oleh sepasang tangan lembut milik seorang wanita? Gaya dan metodologi pengolahan kulit seperti ini benar-benar merefleksikan teknik penyamakan kuno yang biasa diterapkan oleh para pemburu legendaris di masa lampau."
"Saya... saya beruntung karena sempat mendapatkan bimbingan dan mempelajari teknik pengolahan ini secara langsung dari seorang pemburu tua yang sarat akan pengalaman," jawab Lizzy dengan nada suara yang pelan dan sopan.
"Itu adalah sebuah peluang emas yang sangat luar biasa bagi hidup Anda, Nona. Mengeksekusi proses penyamakan kulit menggunakan metodologi kuno seperti ini secara otomatis akan mendongkrak nilai nominal harga jual komoditas ini hingga ke tingkat tertinggi di pasaran. Mayoritas pengrajin di era modern saat ini sudah sepenuhnya meninggalkan teknik ini karena proses pengerjaannya terbukti menguras terlalu banyak porsi waktu, energi, serta menuntut ketelitian yang sangat melelahkan."
Staf administrasi yang bertugas mengurus proses pendaftaran keanggotaan Juhwan ikut menyahut, menimpali obrolan rekan kerjanya. "Kalian sekalian benar-benar dilingkupi oleh faktor keberuntungan yang luar biasa besar saat ini, Tuan. Akibat dampak dari eskalasi perang yang sedang bergejolak di wilayah perbatasan, seluruh jalur logistik perdagangan untuk impor komoditas bulu berkualitas tinggi saat ini berada dalam kondisi terblokir total oleh pihak militer. Bahkan kalangan bangsawan tingkat atas sekalipun saat ini sedang didera kesulitan yang luar biasa hanya untuk mendapatkan pasokan jubah bulu bermutu tinggi demi menghangatkan tubuh mereka di musim dingin. Realitas itulah yang membuat komoditas alternatif berupa bulu kelinci berkualitas tinggi seperti milik kalian ini mengalami lonjakan permintaan yang sangat masif di pasar pusat kota saat ini. Grafik harga jualnya benar-benar meroket tajam tak terkendali. Dan jika kondisi barang yang ditawarkan terbukti memiliki mutu penyamakan yang sesempurna ini? Anda sekalian bahkan memiliki otoritas penuh untuk menentukan sendiri nominal harga jual yang Anda inginkan kepada kami!"
Meskipun karakter suara pria staf administrasi ini terhitung cukup bising dan cerewet, Juhwan di dalam hati justru merasa sangat bersyukur dan berterima kasih atas asupan berbagai informasi sosiologis dan ekonomi makro yang meluncur bebas dari mulut petugas tersebut tanpa perlu repot-repot ia tanyakan terlebih dahulu.
Pria staf serikat itu kembali memegang pena bulunya, bersiap di atas lembar dokumen, lalu melayangkan pandangan ke arah Juhwan. "Kalau begitu, saya akan menginput data diri Anda ke dalam sistem sebagai seorang petualang dengan klasifikasi profesi 'Penyihir' untuk saat ini."
"Ah... mohon tunggu sebentar," sela Juhwan dengan cepat.
Juhwan menghela napas pendek sesaat, mencoba merangkai kembali untaian kalimat yang sepanjang perjalanan menuju ke kota ini telah ia pikirkan dan pertimbangkan matang-matang di dalam otaknya. "Apakah regulasi di serikat ini mengizinkan saya untuk melakukan proses pendaftaran kelompok secara kolektif yang melibatkan individu lain, dan bukan hanya mendaftarkan diri saya sendiri secara personal?"
"Ah... maksud Anda adalah pembentukan sebuah ##? Tentu saja hal itu sangat diizinkan secara hukum di sini."
Berdasarkan struktur fonetik kata yang diucapkan oleh petugas tersebut, Juhwan langsung menyimpulkan bahwa istilah kata asing untuk menyebut sebuah kelompok petualang di dunia fantasi ini adalah "Party". Juhwan memberikan anggukan kepala mantap sebagai tanda paham. "Ya, benar. Saya berniat untuk mendaftarkan diri kami secara resmi sebagai sebuah Party."
"Baiklah, tidak ada masalah. Silakan sebutkan identitas dari individu lain yang bermaksud Anda masukkan sebagai anggota resmi di dalam Party Anda saat ini?" tanya petugas serikat itu siap mencatat.
Juhwan mengulas sebuah senyuman tipis seraya memberikan jawaban yang tegas. "Dua orang yang saat ini sedang berdiri di samping saya ini."
"...."
Pria staf administrasi itu seketika menghentikan gerakan penanya untuk kedua kalinya. Ia memiringkan kepalanya sedikit ke samping, lalu melayangkan pandangan menyelidik yang bergantian menatap ke arah figur tubuh Lizzy dan Dorothy dengan raut wajah penuh keraguan yang kentara.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika kalimat ini terdengar kurang mengenakkan di telinga Anda, Tuan. Namun berdasarkan hukum tata tertib tertulis yang berlaku di instansi kami, setiap individu yang bermaksud untuk didaftarkan sebagai anggota resmi di dalam sebuah Party petualang diwajibkan untuk memiliki semacam... ya, setidaknya tingkat kapasitas kemampuan fungsional atau kontribusi nyata yang jelas untuk kelompok. Dalam mayoritas kasus yang terjadi di lapangan, sebuah Party umumnya diisi oleh sesama petualang tempur yang akan saling bahu-membahu bertarung di garis depan. Namun, jika skenario itu tidak memungkinkan untuk dipenuhi, individu yang bersangkutan setidaknya wajib memiliki spesialisasi keahlian sekunder yang mumpuni, seperti kemampuan untuk mengeksekusi manajemen logistik kelompok, keahlian memasak bahan makanan di alam liar, atau hal-hal fungsional sejenisnya."
Pria staf serikat itu kembali melanjutkan untaian kalimatnya dengan ekspresi wajah yang tampak sangat serba salah. "Regulasi instansi kami secara mutlak melarang proses registrasi anggota Party untuk individu yang terbukti tidak memiliki kontribusi fungsional apa pun dan hanya bertindak sebagai parasit di dalam kelompok. Itu adalah aturan hukum yang saklek dan tidak bisa diganggu gugat, Tuan."
Juhwan melayangkan pandangan matanya menatap ke arah Lizzy. Sepasang mata bulat milik istrinya itu tampak melebar sempurna, memancarkan ekspresi emosi yang luar biasa terkejut sekaligus cemas mendengar penjelasan dari petugas serikat.
Juhwan berdehem pelan untuk membersihkan tenggorokannya, lalu kembali bersuara dengan nada penuh keyakinan. "Wanita di samping saya ini adalah individu yang memegang kendali penuh atas spesialisasi proses pengolahan dan penyamakan kulit bulu hasil buruan kelompok, sekaligus bertindak sebagai manajer utama yang mengatur seluruh perputaran logistik domestik di dalam Party kami. Dan untuk anak kecil ini..."
Kalimat Juhwan mendadak terhenti di tengah jalan. Ia menundukkan kepalanya, menatap lekat ke arah wajah Dorothy yang berada di dalam dekapannya dengan dahi sedikit berkerut. Sial, alasan fungsional logis macam apa yang harus kuucapkan ke petugas ini untuk meloloskan pendaftaran seorang anak balita?
Tepat pada detik di saat otak Juhwan sedang berputar keras mencari ide, sepasang telinga panjang berbulu milik Oz si kelinci bertanduk mendadak menyembul keluar secara mencolok dari balik lipatan tebal pakaian yang dikenakan oleh Dorothy. Menyaksikan fenomena visual yang terjadi secara instan di depan matanya tersebut, Juhwan sempat tertegun ragu selama sepersekian sekon, sebelum akhirnya sebuah untaian kalimat nekat meluncur bebas dari bibirnya.
"Anak perempuan saya ini... memiliki bakat bawaan yang luar biasa untuk mengendalikan dan memerintah kawanan binatang buas."
"A-apa?! Bagaimana bisa?!"
Hampir secara bersamaan dengan suara pekikan takjub yang keluar dari mulut pria staf serikat yang melotot tidak percaya, Dorothy yang berada di dalam dekapan Juhwan mendadak ikut berteriak dengan nada suara yang sangat lantang dan penuh rasa penasaran.
"Ayah! Memangnya Dorothy beneran punya binatang buas yang super seram ya?! Di mana binatangnya, Ayah? Dorothy mau lihat!"
"...."
Juhwan hanya bisa terdiam seribu bahasa dalam keheningan yang canggung, sementara sudut matanya melirik pasrah ke arah permukaan kantong saku tebal di pakaian Dorothy yang kembali menggeliat aktif.
Yaaa... binatang buas yang kumaksud itu saat ini sedang bersembunyi dengan santai di dalam kantong sakumu sendiri, tahu... batin Juhwan pasrah.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments