Header Ads Widget

Chapter 45 - Mengapa Ada Santa di Sini?!

 


Mengapa Ada Santa di Sini?!

Seekor kuda tentu saja sangat berbeda dari sebuah mobil. Hewan adalah makhluk hidup. Juhwan tentu tahu fakta dasar itu, tetapi ia tidak benar-benar memahami realitas praktisnya sampai ia mengalaminya sendiri.

Seekor kuda butuh makan, buang air besar, dan beristirahat. Hewan itu makan jauh lebih banyak daripada yang ia bayangkan, dan parahnya, ia bisa buang air besar sambil terus berjalan. Kotorannya keluar dalam bentuk bulatan-bulatan besar yang padat.

"...."

Juhwan segera membuang muka demi menjaga kewarasannya. Ia melemparkan pandangannya ke arah deretan pegunungan di kejauhan. Jika gunung-gunung di Korea berbentuk menyerupai segitiga yang lancip, maka gunung yang ia saksikan saat ini lebih mirip seperti rangkaian perbukitan besar yang melandai dengan lembut.

"Ayah, kenapa Ayah malah melihat ke arah lain?" tanya Dorothy dengan polos.

"...."

Sepasang mata Dorothy tampak berbinar-binar penuh rasa ingin tahu. Padahal kuda di depan mereka sedang membuang hajat tepat di hadapan wajahnya, tetapi bocah itu tampaknya sama sekali tidak peduli atau merasa terganggu.

"Juhwan, kamu ini benar-benar aneh," Lizzy tertawa renyah di sampingnya. Bagi Lizzy, kecanggungan dan kegagapan Juhwan dalam mengurus seekor kuda hidup adalah pemandangan yang sangat menggelikan sekaligus tidak biasa.

Juhwan menyipitkan mata dan menatap wajah Lizzy.

Istrinya itu kini terlihat jauh lebih segar dan berenergi ketimbang saat mereka masih tinggal terisolasi di atas gunung dulu. Sejak mereka berhasil meninggalkan desa terkutuk itu, Lizzy menjelma layaknya seekor burung kecil yang baru saja mengepakkan sayapnya bebas ke udara. Meskipun kereta mereka terus melewati lanskap pemandangan alam yang monoton, Lizzy selalu menemukan hal baru untuk dikagumi dan takjub setiap detiknya.

Padahal, area pemukiman desa atau kabin gunung mereka sebelumnya tidak memiliki perbedaan yang mencolok dengan jalanan yang sedang mereka lalui saat ini. Hanya ada hamparan alam terbuka yang membentang luas dari ujung kiri ke ujung kanan pandangan. Namun, entah apa yang membuat pemandangan itu terasa begitu segar dan menyenangkan bagi istrinya.

Bukan hanya Lizzy, Dorothy pun tidak kalah bersemangat. Ibu dan anak itu terus-menerus mengobrol dengan riuh, saling bersahutan menunjuk burung yang terbang di kejauhan, pepohonan rindang di tepi jalan, hingga butiran salju yang mulai turun di sekitar mereka.

Tiba-tiba, Lizzy memutar tubuhnya dan menatap Juhwan. Ia mengulas sebuah senyuman yang sangat cerah. Sembari mengembuskan napas hangat yang seketika menguap di tengah udara musim dingin yang menggigit, Lizzy bersuara.

"Aku merasa sangat bahagia. Kecuali saat aku diculik dan dijual ke desa ini dulu, ini adalah kali pertama dalam hidupku aku bisa melangkah keluar meninggalkan batas desa."


Juhwan terenyak sejenak. Ah, benar juga. Kedua orang tercintanya ini selama ini dipaksa hidup mendekam di tempat yang sama dalam kurun waktu yang sangat lama. Jadi, meskipun bagi orang lain ini hanyalah pemandangan alam biasa yang membosankan, dunia yang terpantul di sepasang mata mereka saat ini adalah sebuah jalur tamasya indah yang belum pernah mereka jamah seumur hidup.

Meninggalkan rumah kayu yang sebenarnya baru saja mulai terasa stabil dan nyaman, demi memulai sebuah kehidupan baru yang tidak bisa diprediksi bahkan satu inci pun ke depan. Juhwan awalnya sempat dilanda kecemasan yang luar biasa, takut jika anak dan istrinya akan merasa tidak aman dengan perjalanan tak tentu arah ini. Namun sekarang, sudut hatinya dipenuhi oleh rasa syukur yang mendalam. Jika dalam situasi sesulit ini mereka berdua masih bisa menemukan alasan untuk berbahagia dan menaruh harapan pada masa depan, maka itu adalah sebuah keberuntungan yang tak ternilai bagi Juhwan.

Juhwan merentangkan lengan kokohnya lalu merangkul bahu Lizzy dengan erat. Dorothy yang duduk terjepit di bagian tengah seketika menggeliat kegelian dan tertawa lepas. Oz beserta boneka Toto yang berada di atas pangkuan bocah itu tampak agak tergencet akibat pelukan mendadak tersebut.

'Aku bersumpah akan membuat kalian bahagia. Mari kita hidup bahagia bersama.'

Dengan tekad bulat yang tertanam di dalam benaknya, Juhwan mengeratkan dekapannya, memeluk kedua orang paling berharga di hidupnya itu secara bersamaan dalam satu rengkuhan hangat.


Melalui kesempatan perjalanan ini pula, Juhwan akhirnya dipaksa sadar bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki bakat alami dalam menjinakkan atau mengurus hewan. Selama berada di desa dulu, ia tidak pernah mengemudikan kereta kuda dalam durasi yang lama, sehingga ia tidak tahu fakta bahwa Lizzy ternyata jauh lebih mahir dan lihai dalam mengendalikan kuda ketimbang dirinya sendiri. Kemungkinan besar hal itu dikarenakan Lizzy memiliki nada suara yang sangat lembut dan menenangkan. Kuda konon merupakan jenis hewan yang memiliki tingkat kepekaan dan kewaspadaan yang sangat tinggi.

Awalnya Lizzy dan Juhwan berniat untuk bergantian memegang tali kendali demi menghemat tenaga, tetapi lama-kelamaan, durasi Lizzy memegang kendali kuda justru menjadi jauh lebih dominan. Melihat Lizzy yang diam-diam mengulas senyum bangga dan bahagia setiap kali memegang kendali membuat Juhwan menganggap istrinya itu terlihat luar biasa imut.

Juhwan sebenarnya ingin mengambil alih kendali agar Lizzy tidak kelelahan, tetapi tampaknya sang istri memiliki pemikiran yang berbeda. Lizzy justru terlihat sangat bahagia ketika tanggung jawab dan tugasnya bertambah.

Sembari memperhatikan profil samping Lizzy yang sedang fokus mengemudikan kereta, Juhwan mendongakkan kepalanya menatap langit luas.

Ia mencoba merangkai kembali ingatan mengenai kosakata serta situasi percakapan yang sempat ia dengar dari para penduduk desa, lalu terus memutar dan melatih struktur bahasa dunia asing ini di dalam benaknya. Begitu ia berhasil menguasai pola kalimat dasar dan kata-kata yang paling sering digunakan, kini hampir tidak ada lagi hambatan bagi dirinya untuk memahami percakapan sehari-hari di dunia ini.

Seketika, ia tertawa kecil sendirian. Ia merasa dirinya sudah berjuang dengan sangat luar biasa keras. Begitu kerasnya ia belajar hingga rasanya sel-sel di otaknya sempat mau meledak dan terbakar menjadi abu. Jika ia bisa memutar waktu dan memberi tahu dirinya di masa lalu bahwa ia akan mempelajari sebuah bahasa asing dengan tingkat kegilaan seperti ini, dirinya di masa lalu pasti tidak akan pernah percaya. Namun sekarang, ia merasa sanggup mempelajari bahasa dari negara atau dunia mana pun dengan mudah. Ia merasa dirinya mendadak menjelma menjadi seorang jenius linguistik.


Setelah kereta kuda mereka melaju dalam durasi yang cukup lama, Lizzy mendadak menarik tali kekang dan menghentikan laju kereta secara tiba-tiba. Raut wajahnya seketika tampak sangat panik dan kebingungan.

"...Oh tidak."

"Lizzy, ada apa?"

Mendengar pertanyaan cemas dari Juhwan, Lizzy mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan ekspresi wajah yang tampak seperti ingin menangis. "Sepertinya... kita tersesat. Berdasarkan perhitungan waktu, seharusnya kita sudah tiba di tempat tujuan sejak lama."

"Ibu! Benaran?! Kita dalam masalah besar dong!" seru Dorothy dengan sepasang mata bulatnya yang melebar sempurna karena terkejut.

Tujuan perjalanan mereka sebenarnya adalah sebuah kota kecil yang letaknya hanya berjarak sekitar setengah hari perjalanan dari desa lama mereka. Tempat itu kabarnya merupakan sebuah pemukiman setingkat kota kecil yang cukup ramai; memiliki beberapa trayek kereta kuda reguler serta deretan toko yang lengkap, menjadikannya wilayah yang cukup besar untuk ukuran sekitar.

Destinasi utama mereka di kota tersebut adalah kantor cabang dari Serikat Petualang.

Lizzy teringat akan nasihat penting yang sempat dibisikkan oleh petualang desa sebelum mereka berangkat: jika identitas seorang penyihir hebat sampai terendus dan menarik perhatian kalangan bangsawan, hal itu bisa memicu masalah politik yang sangat rumit. Bahkan, ada banyak kasus di mana seorang penyihir akan dikurung dan ditawan secara paksa demi dijadikan aset tempur pribadi milik tuan tanah. Sebelum skenario terburuk itu terjadi, langkah paling aman adalah mendaftarkan diri secara resmi sebagai anggota Serikat Petualang. Kaum bangsawan tidak akan bisa dengan mudah mengintervensi atau menyentuh orang-orang yang berada di bawah naungan resmi pihak serikat. Karena itulah, mendaftar secepat mungkin adalah prioritas utama mereka saat ini.

Masalahnya, karena Lizzy adalah satu-satunya anggota keluarga yang mengklaim tahu rute jalan menuju ke sana, ia bertindak sebagai penunjuk arah di depan. Namun, jalanan di dunia fantasi ini tentu saja tidak dilapisi oleh aspal beton yang mulus. Jalur tanah yang mereka lalui terkadang terputus akibat rintangan alam, bercabang tak tentu arah, atau jejak roda kereta yang biasa menjadi panduan mendadak hilang tersapu angin. Mereka pasti telah mengambil belokan yang salah di suatu persimpangan di tengah jalan tadi.

Wajah Lizzy dan Dorothy seketika berubah pucat pasi, menatap pemandangan sekitar seolah-olah hari kiamat telah tiba.

Tidak, tidak, tidak apa-apa. Pikir Juhwan. Meskipun mereka salah mengambil jalur jalan, situasi mereka saat ini tidak sampai terjebak di dalam rawa berlumpur yang mematikan atau tersesat di dimensi lain yang membuat mereka tidak akan pernah bisa kembali pulang.

Tanpa sadar, sebuah senyuman tipis terukir di wajah Juhwan melihat kepanikan dramatis anak dan istrinya. Melihat senyuman itu, Lizzy dan Dorothy serentak berseru kompak dengan nada protes.

"Kamu keterlaluan!" "Ayah! Ini situasi gawat tahu! Kita tersesat! Kita tersesat!"

Menghadapi dua orang tercintanya yang sepasang matanya kini sudah berkaca-kaca siap menumpahkan air mata, Juhwan tetap mempertahankan senyuman tenangnya lalu berucap dengan lembut.


"Tidak apa-apa. Kita tidak sedang dikejar waktu, jadi santai saja. Tidak ada seorang pun yang sedang mengawasi atau memburu kita saat ini. Tidak ada majikan yang bisa memerintah atau menyiksa kita lagi di tempat ini. Kita sepenuhnya bebas menentukan arah langkah kaki kita sendiri."

Juhwan mengajak mereka mengubah pola pikir: anggap saja perjalanan ini sebagai sebuah petualangan tamasya yang menyenangkan. Jika mereka salah mengambil jalur jalan, mereka tinggal memutar balik kereta dan mencari jalan lain. Jika malam tiba sebelum mereka sempat menemukan area pemukiman desa terdekat, mereka tinggal berkemah dan tidur dengan nyaman di samping kehangatan api unggun.

Mendengar untaian kata penenang dari Juhwan, Lizzy mengerjapkan sepasang matanya dengan tatapan terkejut. Bagi seorang wanita yang sepanjang hidupnya selalu terkekeh oleh rantai aturan dan keterbatasan, prinsip kebebasan mutlak yang diucapkan oleh Juhwan terasa bagaikan sebuah paradigma baru yang sangat mengejutkan sekaligus melegakan hatinya.

Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk menyudahi perjalanan dan mendirikan tenda perkemahan darurat di tempat itu untuk bermalam.

Semburat warna merah keemasan dari matahari terbenam sudah mulai menghiasi hamparan langit luas. Bahkan jika mereka memaksakan diri memutar balik kereta untuk mencari rute jalan yang benar sekarang, malam dipastikan akan terlanjur turun menyelimuti bumi sebelum mereka berhasil menemukannya. Mengemudikan kereta kuda membelah kegelapan malam tanpa mengetahui medan jalan yang jelas adalah tindakan yang sangat berbahaya, jadi menetap di tepi jalan adalah opsi paling logis. Langkah ini juga dirasa bagus untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah kelelahan.

Meskipun area ini bukan merupakan wilayah pegunungan, daratan di dunia ini sebagian besar memang didominasi oleh hamparan padang rumput, tanah tandus, dan vegetasi pepohonan liar. Setidaknya, selama mereka berada di radius luar pemukiman yang tidak dihuni manusia, pasokan kayu bakar berkualitas bisa ditemukan dengan sangat melimpah.

Juhwan melangkah mengitari area sekitar perkemahan lalu menebang dua buah pohon kecil yang batangnya masih muda. Ukuran diameter batang pohon tersebut terhitung cukup ramping, bahkan pas dalam genggaman satu tangannya. Namun, kuantitas tersebut dirasa sudah lebih dari cukup untuk menjaga kobaran api unggun tetap menyala semalaman suntuk.

Tuk! Tuk!

Juhwan memotong-motong batang kayu tersebut menjadi beberapa bagian kecil, mengumpulkannya menjadi satu tumpukan, lalu mulai memantik api. Kemampuan sihir api miliknya benar-benar terasa sangat praktis dan efisien dalam situasi darurat seperti ini. Ia tidak perlu lagi membuang-buang energi dan waktu berharga hanya untuk menggesekkan batu demi memicu percikan api darurat. Terlebih lagi, kelebihan dari sihirnya adalah: bahkan kayu yang kondisinya masih basah atau hijau sekalipun bisa langsung terbakar dengan sangat cepat. Dari tumpukan kayu yang seketika berkobar hebat itu, kepulan asap tipis berwarna abu-abu tampak membubung tinggi, menari-nari membelah angkasa malam.


Mereka memarkir kereta kuda dalam jarak yang cukup dekat dengan posisi api unggun, lalu menyusun beberapa buah batu gunung untuk dijadikan sebagai tungku perapian darurat demi menaruh sebuah panci masak di atasnya. Panci itu rupanya sengaja dibawa oleh Lizzy dari kabin gunung dulu.

Plung! Plung!

Potongan daging asin dan taburan garam kasar dimasukkan ke dalam panci yang berisi air mendidih, disusul dengan sedikit campuran tepung gandum untuk mengentalkan kuahnya. Sesekali, Lizzy mengaduk ramuan sup tersebut menggunakan sebuah sendok sayur kayu berukuran besar. Begitu sup tersebut mendidih dengan letupan-letupan kecil dan aroma gurihnya yang menggugah selera merebak ke udara, perut ketiga anggota keluarga itu serentak mengeluarkan suara keroncongan yang cukup nyaring secara bersamaan.

Dorothy mengambil posisi duduk menempel sedekat mungkin di samping api unggun, sepasang matanya tidak berkedip sedikit pun menatap ke arah panci sup. Bocah itu tampaknya sudah terlanjur kelaparan tingkat dewa, sampai-sampai air liur tampak menetes tipis di sudut bibir mungilnya.

Setelah menyelesaikan sesi makan malam yang hangat di sekeliling kobaran api, mereka bersama-sama menggali sebuah lubang dangkal di area belakang kereta kuda yang tersembunyi. Lubang itu sengaja dipersiapkan untuk dialihfungsikan sebagai toilet darurat. Jika bagi Juhwan mengurus urusan pembuangan adalah hal yang mudah karena ia bisa pergi ke tempat yang sangat jauh dan menyelesaikannya di balik semak-semak mana saja, maka hal yang sama tidak berlaku bagi Lizzy.

Namun anehnya, Lizzy sama sekali tidak menggunakan toilet darurat tersebut bahkan sekali pun hingga malam kian larut. Hanya Dorothy yang tampak bolak-balik menggunakan fasilitas tersebut beberapa kali.

Tampaknya Lizzy sengaja menahan rasa ingin buang airnya sekuat tenaga karena merasa sungkan. Ketika ia akhirnya sudah berada di ambang batas pertahanan terakhirnya dan merasa sangat frustrasi, ia akhirnya memberanikan diri mendekati Juhwan dengan raut wajah yang tampak sudah memerah menahan tangis.

"Kumohon... tolong berjalanlah sedikit lebih jauh lagi ke arah sana."

Hmm... kenapa tidak bilang dari tadi coba? Juhwan terkekeh geli dalam hati, ia kemudian segera melangkah menjauh menuju ke sebuah titik di mana ia dipastikan tidak akan bisa mendengar suara apa pun dari arah kereta. Namun tentu saja, posisinya berdiri saat ini masih berada dalam jangkauan jarak pandang pengawasan yang aman untuk melindungi anak dan istrinya dari potensi bahaya luar.

Setelah urusan toilet darurat selesai, seluruh anggota keluarga akhirnya kembali berkumpul dan duduk melingkar di sekeliling api unggun yang hangat.

Dorothy tampak duduk bersandar di atas pangkuan hangat Juhwan sambil terkantuk-kantuk menahan kantuk yang luar biasa, sementara tubuh Oz si kelinci bertanduk tampak terbaring telentang dengan santai di atas perut bocah itu. Boneka kelinci Toto entah bagaimana ceritanya sempat terjatuh ke atas tanah sebelum akhirnya diselamatkan dan kini berakhir mendekam di atas pangkuan Lizzy.

Juhwan dan Lizzy duduk berdampingan dengan posisi yang sangat rapat, berbagi selembar selimut tebal yang disampirkan di atas bahu mereka berdua. Mereka merasa sangat bahagia saat itu. Hanya dengan membiarkan permukaan kulit tubuh mereka saling bersentuhan satu sama lain secara tipis, rongga dada mereka seketika langsung dipenuhi oleh sensasi kehangatan emosi yang sangat nyaman.

Tiba-tiba, Lizzy bergumam lirih dengan nada suara yang sangat lembut. "Aku merasa sangat bahagia saat ini."

Dari balik pekatnya kegelapan malam yang membentang di luar radius cahaya api unggun, terdengar suara pekikan sayup-sayup dari seekor burung malam. Dan dari sebuah titik yang letaknya sangat-sangat jauh di dalam hutan, lolongan panjang seekor serigala terdengar menyayat hati membelah kesunyian malam, seolah-olah sedang memanggil kawanannya.

Entah mengapa, di tengah atmosfer yang begitu tenang ini, bayangan sepasang mata Gus di sisa detik terakhir hidupnya tiba-tiba melintas kembali di dalam ingatan Juhwan. Alangkah indahnya jika saja pria tua itu tidak memilih untuk berdiri di kubu musuh. Meskipun durasi kebersamaan mereka terhitung sangat singkat, Juhwan sejujurnya menaruh rasa simpati dan menyukai kepribadian lelaki tua itu. Gus memiliki tempat tersendiri di dalam hatinya. Juhwan sempat mengira bahwa Gus memiliki beberapa karakteristik sifat yang sangat mirip dengan mendiang kakek kandungnya di dunia lama yang sangat ia rindukan.

Juhwan memiringkan kepalanya sedikit ke samping. Ia mendaratkan kecupan lembut penuh kasih sayang di atas permukaan rambut Lizzy yang posisinya berada sedikit lebih rendah di bawah bahunya, lalu berbisik dengan nada suara yang teramat lirih.

"Aku juga merasa sangat bahagia, Lizzy."

Lizzy tidak menyahut, ia hanya diam dalam keheningan yang nyaman seraya menyandarkan kepalanya dengan rileks di atas lengan kokoh suaminya. Sementara itu, bayangan sepasang mata Gus yang perlahan-lahan kehilangan binar cahayanya di atas tanah bersimbah darah masih terus menatapnya dalam keheningan di alam bawah sadar Juhwan.


*

Keesokan harinya, tepat di saat waktu sudah menunjukkan waktu tengah hari, mereka akhirnya berhasil tiba di gerbang pemukiman yang mereka tuju.

Dorothy, yang sedari tadi duduk manis di bagian tengah kursi kusir, mendadak langsung melompat berdiri tegak dengan heboh begitu sepasang matanya menangkap struktur dinding luar bangunan yang membentang di depan mereka.

"Ada dinding raksasa!"

"Dorothy! Cepat duduk kembali di tempatmu!" seru Lizzy dengan nada panik, buru-buru menyambar pergelangan tangan anaknya agar tidak jatuh terlempar dari kereta yang berjalan.

Namun, reaksi bersemangat yang diperlihatkan oleh bocah itu adalah hal yang sangat bisa dimaklumi. Berbeda jauh dengan struktur pagar pembatas kayu yang tipis dan ringkih di desa lama mereka sebelumnya, pemukiman yang ada di depan mereka saat ini dikelilingi oleh struktur dinding batu alam yang luar biasa kokoh dan masif. Ketinggian dinding batu tersebut terhitung sangat tinggi, mengindikasikan bahwa wilayah sekitar tempat ini pasti memiliki sumber tambang batu alam yang sangat berlimpah.

Jauh di balik bentangan dinding pemukiman tersebut, samar-samar terlihat lanskap sebuah kawasan hutan hijau yang kontur tanahnya menanjak dengan landai. Tampaknya, sebagian wilayah pemukiman ini berbatasan langsung atau bersentuhan dengan area hutan liar tersebut.

Pintu gerbang utama yang terpasang di bagian depan pintu masuk terbuat dari susunan balok kayu tebal yang diperkuat dengan lempengan-lempengan besi hitam di berbagai sudutnya. Struktur gerbang itu sama sekali tidak memiliki ornamen atau dekorasi estetis apa pun, tetapi penampilannya memancarkan kesan proteksi yang luar biasa kokoh dan sulit ditembus.

Dua orang petugas penjaga gerbang tampak berdiri siaga di kedua sisi pintu masuk. Gaya berpakaian dan zirah yang mereka gunakan sebenarnya tidak memiliki perbedaan yang mencolok dengan pakaian rakyat jelata pada umumnya; mereka tampaknya bukan merupakan pasukan tentara reguler bentukan kerajaan, namun ada sebilah pedang besi yang tergantung kokoh di pinggang masing-masing penjaga.

Sejak awal menapakkan kaki di sini, atmosfer tempat ini sudah terasa sangat berbeda jauh dengan desa lama mereka sebelumnya—di mana gerbang masuknya dibiarkan melongpong begitu saja tanpa ada satu pun petugas yang berjaga.

Melihat pemandangan sebuah pemukiman berskala besar untuk pertama kalinya seumur hidup, Dorothy didera rasa antusiasme yang luar biasa tinggi; tubuh mungilnya terus bergerak gelisah tidak bisa diam karena kegirangan.

"Ibu, Ayah! Lihat itu! Dinding batunya tinggi banget sampai mau menyentuh langit! Oz! Kamu kira-kira bisa nggak melompati dinding setinggi itu? Kalau Dorothy sih pasti bisa dengan mudah! Soalnya Dorothy kan anak yang pemberani!"

Entah apa motif di baliknya, Dorothy mendadak malah mengajak Oz si kelinci bertanduk untuk berkompetisi adu tinggi lompatan demi melewati dinding batu tersebut. Dan lucunya, bocah itu juga sekaligus bertindak sebagai pengisi suara tiruan untuk menyahut kalimatnya sendiri mewakili si kelinci.


Sudut hati Juhwan pun tidak bisa menyembunyikan getaran rasa takjub yang mendebarkan. Detik ini, ia merasa dirinya benar-benar telah melangkah masuk secara nyata ke dalam sebuah dunia fantasi abad pertengahan. Fakta bahwa ia telah terlempar ke dunia lain dan menjelma menjadi seorang penyihir kini terasa kian konkret dan meresap ke dalam kesadarannya. Astaga, aku benar-benar sedang berada di dalam dunia fantasi sekarang, batinnya takjub.

Tepat pada saat itu, tiga orang pria yang memiliki penampilan serta atribut khas seorang petualang tampak sedang melangkah masuk melewati pintu gerbang utama. Begitu mereka menunjukkan sebuah benda berbentuk lencana logam yang tergantung di leher masing-masing kepada petugas, sang penjaga gerbang langsung memberikan anggukan hormat. Ketiga petualang itu terus berjalan masuk ke dalam area pemukiman dalam kelompok kecil sambil mengobrol dengan riuh dan tawa yang keras.

Juhwan menggeser posisi duduknya ke bagian tepi kursi kusir lalu menatap wajah Lizzy. Sampai beberapa meter sebelum mencapai gerbang tadi, Juhwan-lah yang memegang kendali penuh atas laju kereta kuda mereka. Namun, demi keselamatan bersama, akan jauh lebih bijaksana jika Lizzy yang mengambil alih kemudi begitu mereka memasuki area pemukiman dalam desa. Jelas akan menjadi sebuah bencana kosmik yang memalukan jika Juhwan yang gagap mengurus kuda ini tidak sengaja menabrak pejalan kaki atau merusak fasilitas umum karena kecanggungannya.

Saat Juhwan menyerahkan tali kendali ke tangannya, Lizzy menyambutnya dengan ekspresi wajah yang tampak agak kaku dan tegang. Wanita itu jelas-jelas merasa sangat gugup didera kecemasan karena harus memasuki sebuah tempat asing yang belum pernah ia jamah sebelumnya.

Kereta kuda mereka perlahan-lahan bergerak mendekati area gerbang masuk. Begitu jarak mereka sudah sangat dekat dengan posisi petugas penjaga gerbang, Juhwan langsung melompat turun dari atas kursi kusir. Sang penjaga gerbang seketika melayangkan pandangan menyelidik, meneliti penampilan Juhwan serta kondisi kereta kuda mereka dari ujung atas hingga ujung bawah.

"Apakah ini kunjungan pertama kalian ke pemukiman ini?" tanya penjaga gerbang dengan nada suara formal.

"Ya, ini adalah kali pertama bagi kami," jawab Juhwan sesopan mungkin.

"Apakah kalian membawa tanda atau dokumen bukti ###?"


Juhwan seketika terpaku karena sama sekali tidak memahami arti dari istilah kata terakhir yang diucapkan oleh si penjaga gerbang. Ia melemparkan pandangan penuh tanda tanya ke arah Lizzy yang duduk di kursi kusir, dan sang istri langsung memberikan penjelasan dengan nada suara yang sangat pelan dari atas. Tampaknya, petugas tersebut sedang meminta dokumen resmi sebagai bukti identitas diri mereka.

Melihat Juhwan yang tampak kebingungan dan menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa mereka tidak memiliki dokumen pengenal apa pun, penjaga gerbang itu mengembuskan napas pendek lalu meminta mereka untuk menunjukkan bagian punggung tangan masing-masing.

Begitu Juhwan mengulurkan punggung tangan kanannya ke depan, petugas itu memberikan anggukan kecil setelah memeriksanya sekilas, lalu beralih melakukan inspeksi visual yang sama terhadap punggung tangan Lizzy dan Dorothy.

'Ah, aku paham sekarang. Mereka ternyata sedang memeriksa apakah kami memiliki cap tanda budak di tubuh kami atau tidak.'

Juhwan teringat akan penjelasan Lizzy sebelumnya bahwa cap tanda budak adalah sebuah kutukan permanen yang tidak akan pernah bisa dihapus atau dihilangkan dengan cara apa pun seumur hidup. Jika setiap sistem pengamanan di seluruh gerbang masuk desa dan kota di dunia ini menerapkan prosedur pemeriksaan ketat yang sama seperti ini, maka seorang budak yang melarikan diri dipastikan tidak akan memiliki ruang gerak sedikit pun untuk pergi ke mana-mana.

Menyadari betapa ekstrem dan berbahayanya situasi yang ia hadapi saat pertama kali terlempar ke dunia asing ini dulu, sebuah hawa dingin yang mencekam seketika berdesir di dalam dada Juhwan.

Ia mulai meragukan apakah sosok Kakek Santa misterius yang ia temui di dunia asalnya dulu benar-benar tulus berniat mengabulkan permohonan harapannya dengan cara yang baik. Pertemuannya dengan Lizzy dan Dorothy di awal perjalanan murni merupakan sebuah kebetulan kosmik yang tidak disengaja; rasanya ia hanya dilempar secara acak ke sembarang tempat berbahaya di dunia ini tanpa persiapan apa pun.

Petugas penjaga gerbang yang melihat Juhwan sempat melamun dengan raut wajah mencurigakan, kembali membuka suaranya dengan nada memperingatkan.

"Jika kalian belum menyelesaikan pembayaran ### tahunan kalian, aku sarankan agar kalian segera mengurus pembayarannya atau secepatnya mendaftarkan diri ke Serikat Petualang. Jika kalian sampai kedapatan belum melunasinya saat tim pemeriksa ### dari pihak lord datang melakukan inspeksi mendadak, urusannya akan menjadi sangat rumit dan membuat kepala kalian sakit. Pemukiman kami ini adalah jalur perlintasan utama bagi banyak pedagang luar, jadi inspektur pajak dari pusat ## ### cukup sering datang ke mari."

Setelah mereka diizinkan masuk, Lizzy bergegas memberikan penjelasan detail mengenai maksud dari untaian kalimat yang diucapkan oleh petugas penjaga gerbang tadi. Inti dari pembicaraan tersebut adalah mengenai kewajiban melunasi Pajak Kepala. Di wilayah ini, setiap individu yang menetap atau tinggal di dalam area kekuasaan milik sang lord (tuan tanah) diwajibkan untuk membayar pajak kepala secara rutin setiap tahunnya, begitu usia mereka telah menginjak 16 tahun.

Di daerah-daerah terpencil yang letaknya terisolasi dari pusat pemerintahan—seperti wilayah desa lama tempat mereka tinggal sebelumnya—pihak kepala desa-lah yang memiliki otoritas untuk memungut biaya pajak tersebut di awal secara kolektif dari para penduduk, untuk kemudian diserahkan langsung kepada inspektur pajak kerajaan saat masa inspeksi tiba.

Jika seseorang hanya berniat melakukan perjalanan pendek ke wilayah desa-desa tetangga yang letaknya masih berdekatan, mereka umumnya tidak diwajibkan untuk membawa dokumen sertifikat perjalanan khusus. Namun, jika seseorang berniat melakukan perjalanan jauh melintasi batas wilayah distrik, mereka terkadang akan meminta sebuah dokumen sertifikat tertulis resmi yang ditandatangani langsung oleh kepala desa setempat sebagai jaminan keamanan. Dokumen tersebut sebenarnya tidak memiliki format penulisan baku yang spesifik, namun wajib memuat informasi krusial seperti: nama desa asal domisili, identitas pihak penerbit dokumen, status pelunasan pajak kepala, usia yang bersangkutan, serta deskripsi karakteristik fisik tubuh secara mendetail.


Meski begitu, dalam realitas praktisnya, sangat jarang ada penduduk jelata yang repot-repot meminta dokumen sertifikat perjalanan seperti itu kepada kepala desa mereka. Selama seseorang masih melakukan aktivitas perjalanan di dalam batas wilayah kekuasaan lord yang sama, bahkan jika mereka sampai tidak sengaja tertangkap oleh inspektur pajak sekalipun, status kewarganegaraan mereka masih bisa dibuktikan seiring berjalannya waktu melalui proses verifikasi data, sehingga pihak berwenang sangat jarang menahan orang secara sembarangan untuk kasus ringan seperti itu.

"Petugas penjaga gerbang tadi sengaja memberikan peringatan keras seperti itu kemungkinan besar karena struktur wajah yang dimiliki Juhwan terlihat sangat asing dan tidak familier di mata mereka," jelas Lizzy seraya memiringkan kepalanya sedikit ke samping, menatap wajah suaminya dalam diam untuk beberapa saat.

Sebagai seorang keturunan Asia asli, garis wajah serta karakteristik visual yang dimiliki Juhwan memang memiliki perbedaan estetika yang sangat mencolok dan kontras jika dibandingkan dengan struktur wajah ras manusia yang mendominasi dunia fantasi ini. Apakah karakteristik asing itulah yang membuat penjaga gerbang tadi menaruh perhatian lebih padanya?

Seiring dengan langkah kereta kuda mereka yang kian merangsek masuk ke dalam area pemukiman desa, kepadatan dan jumlah bangunan rumah yang berdiri di sisi jalan tampak meningkat secara drastis. Atmosfer tempat ini benar-benar menyuguhkan pemandangan yang sangat kontras dan berbeda jauh dengan desa lama mereka; jumlah orang yang berlalu-lalang di sepanjang jalan terhitung sangat ramai dan padat.

Dorothy tampak menjulurkan leher mungilnya sejauh mungkin dari atas kursi kusir, sepasang mata bulatnya menatap tajam ke arah permukaan tanah yang mereka lalui dengan ekspresi luar biasa takjub.

"Ibu! Ayah! Lihat deh, tanah di bawah kita ada batu-batunya! Ini lantai batu alam, kan?! Keren banget! Luar biasa hebat!"

Kawasan pusat pemukiman desa ini rupanya telah ditata dan dibangun dengan sangat rapi menggunakan susunan balok-balok batu alam berukuran kecil yang disusun membentuk jalur jalan paving block yang indah.

Pemandangan lantai batu yang rapi itu tampaknya menjelma menjadi sebuah daya tarik visual yang sangat mempesona di mata Dorothy yang polos. Bocah itu sampai mengangkat bokongnya hingga setengah melayang di udara demi bisa menundukkan kepalanya sedekat mungkin ke arah permukaan tanah di bawah kereta.

Struktur anatomi tubuh seorang anak kecil pada dasarnya memiliki proporsi ukuran kepala yang relatif jauh lebih besar dan berat jika dibandingkan dengan volume keseluruhan tubuh mereka. Jika tidak berhati-hati, Dorothy bisa dengan mudah kehilangan keseimbangan dan jatuh terjungkal ke depan akibat beban dari berat kepalanya sendiri.

Melihat posisi anaknya yang berbahaya, Juhwan bergegas menjulurkan satu lengan kokohnya ke depan, memposisikan tangannya sebagai palang penyangga yang kuat tepat di bagian tengah perut dan dada bocah tersebut.

Namun, yang namanya anak kecil dipastikan tidak akan pernah bisa diam dengan tenang dalam waktu yang lama. Detik berikutnya, Dorothy justru mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi lalu nekat melompat berdiri tegak di atas bantalan kursi kusir yang bergoyang.

Tubuh mungilnya tampak terombang-ambing ke arah depan dan belakang mengikuti ritme guncangan kereta kuda yang sedang berjalan. Juhwan menarik napas pendek; jika saja sedari tadi tangannya tidak sigap memegangi tubuh bocah ini, Dorothy dipastikan sudah jatuh terlempar dari kereta sebanyak sepuluh kali berturut-turut. Hah... masa depan anak ini benar-benar terasa sangat mengkhawatirkan. Rasanya akan menjadi sebuah bencana besar jika ia sampai berani mengalihkan pandangan pengawasannya dari bocah aktif ini bahkan untuk satu sekon saja.

Tiba-tiba, sepasang mata Dorothy melebar sempurna dengan ekspresi luar biasa terkejut. Ia membuka mulutnya lebar-lebar seraya menjulurkan jari telunjuk mungilnya lurus-lurus ke arah depan dengan penuh semangat.

"Ayah! Cepat lihat ke arah sana! Ada Kakek Merah yang sangat besar di sebelah sana!"

Iya, iya, kakeknya berwarna merah... Juhwan terkekeh geli di dalam hati mendengar celotehan imajinatif anaknya. Ia mengira Dorothy mungkin baru saja melihat sosok seorang pria tua pemabuk yang wajahnya memerah padam akibat pengaruh alkohol, jadi ia memutar kepalanya dengan santai untuk melihat ke arah yang ditunjuk.

Namun, senyuman di wajah Juhwan seketika membeku kaku begitu sepasang matanya menangkap objek yang sedang ditunjuk oleh jari mungil Dorothy.

Sesuatu yang berhasil menarik perhatian anaknya itu ternyata sama sekali bukan merupakan sosok manusia hidup. Melainkan sebuah papan nama kayu berukuran sangat besar yang terpasang kokoh di dinding luar sebuah bangunan megah berlantai dua.

Pada permukaan papan nama tersebut, terukir untaian huruf alfabet lokal yang membentuk sebuah nama: "Serikat Petualang" (Adventurer's Guild).

Dan tepat di sebelah tulisan nama serikat tersebut, terdapat sebuah lukisan ilustrasi berukuran sangat besar yang menggambarkan sosok seorang kakek tua berbadan subur yang mengenakan setelan pakaian serba merah menyala lengkap dengan janggut putih panjang yang lebat menghiasi wajahnya.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments