Bunyi Pip!
Begitu matahari terbenam dan kegelapan malam mencekam, jeritan dari segala penjuru desa terdengar kian jelas dan menyayat hati. Para goblin tampaknya jauh lebih aktif di malam hari—entah karena mereka memang makhluk nokturnal atau karena mereka sedang mabuk darah setelah membantai manusia.
"Fuuuh."
Hembusan napas berat lolos dari bibir Juhwan tanpa ia sadari. Ia berdiri tegak di depan kereta kuda, matanya mengedar tajam ke sekeliling. Setelah menumbangkan dua goblin terakhir, area di sekitar mereka akhirnya bersih. Monster-monster itu sepertinya telah pergi menjauh untuk mencari mangsa lain yang lebih lemah dan mudah diburu.
Juhwan sedikit melonggarkan cengkeramannya pada gagang senjata. Telapak tangannya terasa mati rasa akibat terus-menerus mengayunkan kapak tanpa jeda selama beberapa waktu.
Seorang petualang yang sedari tadi menjaga jarak sambil mengawasi sekitar tampak membungkukkan tubuhnya; ia juga terlihat sangat kelelahan. Tak lama, petualang lain yang sebelumnya beristirahat sambil bersandar di dinding belakang bangunan berjalan mendekati Juhwan, lalu menepuk pundaknya pelan.
"Giliranmu."
"...."
Juhwan mengangguk singkat lalu melangkah mundur.
Walau hanya dalam waktu yang singkat, Juhwan dan kelima petualang itu bergantian untuk beristirahat. Karena mereka tidak tahu kapan kawanan goblin akan menyergap lagi, hanya satu orang yang diizinkan rehat sejenak dalam satu waktu. Namun, sistem giliran ini terbukti jauh lebih meringankan beban ketimbang harus bertarung sendirian tanpa henti.
Kereta kuda mereka terparkir tepat di samping rumah kayu kosong tersebut.
Ketika pintu kereta terbuka, Lizzy bergegas keluar menghampiri Juhwan. Ia menyodorkan sepotong daging asin kering dan sebuah kantung kulit berisi air bersih. Juhwan mengambil tempat duduk di tepian kereta, tetapi ia hanya menerima kantung airnya. Ia sama sekali tidak memiliki nafsu makan saat ini.
"Makanlah barang satu gigitan. Kamu harus tetap menjaga tenagamu," bujuk Lizzy dengan raut wajah cemas, kembali menyodorkan daging asin itu.
Dengan agak enggan, Juhwan akhirnya mengambil sepotong daging tersebut lalu mengunyahnya pelan sambil melirik ke dalam kereta.
Di dalam sana, Dorothy sedang tertidur lelap di dekat kursi kusir. Bocah itu tampaknya habis berguling-guling bersama si kelinci bertanduk di atas tumpukan beberapa lapis bulu serigala dan kelinci. Tubuhnya terbungkus pakaian cadangan Juhwan yang dialihfungsikan sebagai selimut, dengan tangan dan kaki yang menjulur ke segala arah dalam posisi tidur yang aneh namun menggemaskan.
Sembari mengunyah daging, Juhwan meraih dan menggenggam tangan Lizzy. Ujung-ujung jarinya terasa sedingin es.
"Kamu kedinginan?"
Lizzy menggelengkan kepalanya perlahan menanggapi pertanyaan Juhwan. "Tidak. Aku tidak kedinginan. Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu sendiri?"
"Ya, aku baik-baik saja."
Lizzy berlutut lalu memeluk Juhwan erat-erat. Meskipun bibirnya berkata tidak apa-apa, hawa dingin malam tetap membuat tubuhnya terasa kaku.
Juhwan mengambil selembar kain tebal dari dalam kereta lalu menyampirkannya ke bahu Lizzy layaknya sebuah jubah. Sudah bisa ditebak; Lizzy pasti sebelumnya melipat kain ini rapi-rapi karena menganggapnya terlalu berharga untuk dipakai. Namun jika bukan dalam situasi darurat seperti sekarang, kapan lagi mereka akan menggunakannya? Bagian dalam kereta terasa cukup dingin karena mereka sama sekali tidak berani menyalakan api pemanas.
Setelah memeluk istrinya sekali lagi dengan erat, Juhwan kembali menutup pintu kereta kuda itu. Ia sengaja tidak menguncinya dari luar. Jika terjadi sesuatu yang buruk di luar kendalinya, anak dan istrinya harus bisa keluar menyelamatkan diri atas inisiatif mereka sendiri.
Satu hal yang cukup mengganggu pikiran Juhwan adalah fakta bahwa pintu kereta ini tidak memiliki grendel pengunci di bagian dalam. Mekanismenya hanya bisa dikunci dan dibuka dari luar.
'Aku harus membenahi ini nanti.'
Begitu mereka berhasil lolos dari bahaya ini, hal pertama yang akan ia lakukan adalah memasang sistem pengunci yang kokoh di bagian dalam kereta.
Juhwan menyandarkan telapak tangannya sejenak di pintu kereta. Keluarganya ada di dalam sana, dan ia wajib melindungi mereka dengan taruhan nyawa. Ia memejamkan matanya sesaat, lalu membukanya lebar-lebar dengan tekad yang kembali membara. Energinya kini telah terisi penuh.
Juhwan menggerakkan bahunya untuk melemaskan otot-otot yang sempat kaku, lalu melangkah kembali ke pos penjagaan depan. Begitu Juhwan memberikan anggukan isyarat, petualang yang berjaga langsung mundur dan mengambil posisi duduk bersandar di dinding bangunan.
Rumah di belakang kereta mereka tampaknya sudah sangat lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Pintu dan banyolan jendelanya sengaja dipaku mati menggunakan papan-papan kayu tebal agar tidak ada orang atau binatang yang bisa menyusup masuk.
Namun sekarang, pintu dan jendela itu sudah terbuka lebar. Setiap kali ada kesempatan di sela pertarungan, Juhwan dan para petualang sengaja menjebol papan-papan kayu tersebut untuk dijadikan bahan bakar api unggun di sekeliling mereka. Berkat cahaya api yang berkobar itulah, mereka tetap bisa menghalau dan membantai goblin bahkan di tengah kegelapan malam yang pekat.
Juhwan sempat berharap bahwa para goblin mungkin akan takut pada kobaran api, tetapi sayangnya perkiraannya meleset. Monster-monster itu sama sekali tidak gentar. Sebaliknya, cahaya terang dari api unggun itu justru tanpa sengaja memancing manusia lain yang sedang panik untuk berdatangan. Dari kejauhan, tampak sekitar belasan pria dan wanita sedang berlari kencang membelah kegelapan menuju ke arah mereka.
Tiba-tiba saja, orang yang berlari di barisan paling kiri disergap oleh seekor goblin yang muncul entah dari mana. Kulit goblin itu sangat gelap, membuat makhluk jahanam itu seolah-olah baru saja mewujud langsung dari bayangan hitam yang tak kasat mata.
Melihat pemandangan mengerikan itu, sisa rombongan yang lain justru berlari semakin kesetanan. Orang-orang yang semula berlari beriringan secara waspada langsung mencerai-berai ke segala penjuru. Masing-masing memacu kakinya sekuat tenaga menuju ke arah api unggun Juhwan. Tidak ada satu pun yang sudi menoleh, apalagi menolong rekan mereka yang baru saja tertangkap oleh goblin.
Salah seorang petualang tampak tersentak dan maju beberapa langkah, berniat memberikan bantuan.
"Hei, berhenti! Gara-gara keparat itu..."
Petualang lainnya segera menahan langkah rekannya sambil memaki kasar.
Juhwan sendiri sama sekali tidak bergeming dari tempatnya. Ia hanya memperhatikan pergerakan para penduduk desa itu dengan tatapan dingin. Merekalah orang-orang kejam yang sebelumnya tega membiarkan Lizzy dan Dorothy kelaparan dan terancam mati di atas gunung. Meskipun ia tidak berniat membalas dendam secara langsung dalam situasi karut-marut begini, ia juga sama sekali tidak sudi mengulurkan tangan untuk menyelamatkan mereka.
Terlebih lagi, meski saat ini mereka bertarung di kubu yang sama, para petualang ini bisa saja berubah menjadi musuh dalam sekejap mata. Juhwan tidak bisa memercayai mereka sepenuhnya.
Juhwan melangkah mundur, memposisikan dirinya lebih dekat ke badan kereta kuda. Hari ini, satu-satunya tugas utama yang harus ia selesaikan adalah melindungi keluarganya yang berada di dalam kereta—baik dari kebuasan serangan goblin, maupun dari ketamakan dan kelicikan sesama manusia.
Sejak para petualang menyadari bahwa Juhwan adalah seorang penyihir api, sikap dan gestur mereka berubah drastis. Dari gerak-gerik dan cara bicara mereka, jelas sekali mereka menganggap kemampuan sihir Juhwan berada di level yang sangat tinggi.
Para petualang itu berbisik-bisik di antara mereka sendiri, merasa heran mengapa seorang penyihir hebat bisa berada di desa terpencil seperti ini tanpa pengawalan dari kaum bangsawan atau pihak kerajaan. Mereka menggunakan beberapa istilah asing yang tidak sepenuhnya dipahami oleh Juhwan, tetapi atmosfer dari bahasa tubuh mereka mengindikasikan bahwa itulah inti dari obrolan mereka.
Detik itu juga, sebuah prasangka buruk melintas di benak Juhwan: bisa saja orang-orang ini menjual informasi tentang keberadaan dirinya kepada kalangan penguasa demi mendapatkan keuntungan pribadi.
Lizzy memang pernah menceritakan bahwa cap budak di tubuhnya adalah tanda kutukan yang tidak akan pernah bisa dihapus, tetapi siapa yang tahu kebenarannya? Mungkin saja para penguasa tingkat atas di dunia ini memiliki sihir hitam atau kutukan terlarang untuk mengendalikan kesadaran seseorang secara mutlak, persis seperti skenario yang sering ia baca di dalam novel-novel fantasi. Para petualang ini bisa saja nekat menyandera keluarganya demi menyerahkannya kepada kaum bangsawan.
Pikirannya mendadak berkecamuk hebat. Tampaknya rasa curiga yang akut dan paranoia mulai berakar kuat di dalam dirinya akibat pengkhianatan Gus serta kejamnya perlakuan penduduk desa. Ia merasa tidak bisa memercayai siapa pun lagi di dunia ini. Begitulah kenyataan pahit yang harus ia telan.
Para penduduk desa akhirnya tiba di dekat area api unggun. Dengan napas terengah-engah, mereka langsung memohon dengan sangat kepada para petualang yang berjaga di barisan depan.
"Tolong, selamatkan nyawa kami!"
"Izinkan kami tetap tinggal di sini!"
"Biarkan kami masuk dan bersembunyi di dalam rumah itu!"
Beberapa dari mereka sempat melirik bersalah ke arah Juhwan, tetapi tidak ada satu pun yang berani melangkah mendekatinya—kemungkinan besar karena mereka sadar akan perbuatan keji yang telah mereka lakukan pada keluarga Juhwan sebelumnya.
"Sialan!"
"Jangan mimpi!"
"Kalau kalian semua berkerumun di sini, para goblin justru akan berdatangan ke mari!"
Para petualang memaki dan mendorong orang-orang itu menjauh tanpa belas kasihan. Di antara kerumunan pengungsi itu, Juhwan menangkap sosok istri dan anak sang kepala desa yang sempat ia lihat sebelumnya.
"Kalian kan sudah menerima uang kami!" teriak salah seorang penduduk desa dengan nada murka dan frustrasi.
Orang-orang desa itu mulai mengangkat cangkul, sabit, dan kapak tani mereka, lalu merangsek maju mendekati para petualang seolah-olah siap melancarkan serangan fisik karena merasa dikhianati.
Di tengah kekacauan perdebatan itu, beberapa pria diam-diam mengelinap mendekati rumah kayu dan mulai berjalan merayap ke arah kereta kuda. Juhwan langsung bergeser, memblokir jalan mereka dalam keheningan yang mencekam.
"A-apa yang mau kamu lakukan?!"
Belum sempat pria di barisan paling depan menyelesaikan kalimat ancamannya, sebuah jotosan mentah yang sangat keras dari Juhwan mendarat telak di wajahnya.
Bugh!
Wajah pria itu terlempar drastis ke samping, disusul oleh seluruh tubuhnya yang ambruk kehilangan keseimbangan ke atas tanah. Menatap sisa pria yang membeku ketakutan di belakang rekan mereka yang tumbang, Juhwan mendesis dengan suara sedingin es.
"Bertarunglah. Kami tidak butuh benalu yang tidak mau mengangkat senjata."
Setelah Juhwan bersuara, perdebatan sengit antara petualang dan penduduk desa mendadak senyap seketika. Semua mata kini tertuju pada sosok Juhwan yang mengintimidasi. Salah seorang petualang menyeringai puas melihat tindakan tegas tersebut.
"Penyihir itu benar. Kalau kalian tidak berniat ikut bertarung, angkat kaki dari tempat ini! Sana pergi selamatkan diri kalian masing-masing!"
"...."
Penduduk desa bungkam seribu bahasa. Mereka hanya bisa saling lempar pandang dengan raut wajah kecut dan ketakutan.
Tepat pada saat itu, dua ekor goblin mendadak muncul dari kegelapan di kejauhan. Menyadari ada sosok wanita di antara kerumunan penduduk desa, monster-monster itu langsung berlari menerjang dengan buas sambil mengeluarkan pekikan melengking yang aneh. Mata mereka tampak berkilat merah memantulkan kobaran api unggun.
Setelah memastikan para penduduk desa menyingkir dari area sekitar kereta kuda, Juhwan melesat maju menyongsong kedatangan kedua goblin tersebut sambil mengayunkan kapaknya dengan presisi tingkat tinggi.
Brak! Brak!
Kepala kedua goblin itu hancur berurutan dalam hitungan sekon. Untuk goblin pertama, ia bahkan tidak perlu memastikannya lagi karena isi kepalanya sudah hancur berhamburan keluar. Namun, goblin kedua jatuh ke tanah dengan kondisi mata yang masih terbuka melotot buas.
Juhwan kembali mengayunkan kapaknya sekali lagi tanpa ampun, menebas putus leher monster yang sudah terkapar di tanah itu. Tanpa memandang sedikit pun jasad goblin yang terbelah rapi layaknya sebatang kayu batangan, Juhwan bergegas kembali ke posisinya di sisi kereta kuda.
Di bawah temaram cahaya api, para penduduk desa yang entah mengapa terlihat layaknya sekumpulan zombi kelaparan, perlahan-lapan bergerak mundur menjauhi Juhwan dan memilih berkumpul di sisi berlawanan. Kini tidak ada satu orang pun yang berani mendekati area kereta kuda. Hanya ruang di sekitar tempat Juhwan berdiri yang tampak lowong tak tersentuh.
Menganggap hal itu sebagai keuntungan, Juhwan kembali melemparkan pandangannya ke dalam kegelapan malam yang pekat.
Setelah kejadian tersebut, entah karena menyadari area di sekitar Juhwan adalah titik paling aman, para penduduk desa yang selamat mulai berdatangan satu per satu, atau dalam kelompok kecil berisi dua sampai tiga orang. Menjelang fajar menyingsing, sejumlah besar penyintas tampaknya telah berkumpul di sana.
Gertakan awal Juhwan rupanya terbukti efektif. Para penduduk desa mulai memberanikan diri ikut bertarung menghalau goblin menggunakan alat-alat pertanian seadanya. Beberapa wanita bahkan tampak menggenggam tusukan besi pemanggang atau cangkul kecil. Tampaknya, jumlah massa yang semakin banyak memberi mereka sedikit suntikan keberanian untuk bertahan hidup.
Seiring dengan itu, jumlah goblin yang mengejar para wanita juga meningkat. Pertempuran terjadi lebih sering dan intens, tetapi berkat bantuan dari penduduk desa yang ikut angkat senjata, Juhwan dan para petualang mendapatkan lebih banyak waktu untuk mencuri-curi kesempatan istirahat. Situasi ini dirasa cukup menguntungkan bagi ketahanan fisik mereka.
Ketika pagi menjelang dan siang kembali bergulir, jumlah goblin yang datang menyerang telah berkurang secara drastis. Setidaknya, sudah hampir tidak ada lagi monster baru yang menampakkan batang hidungnya dari luar. Karena sebagian besar wanita desa tampaknya sudah berkumpul di area perlindungan ini, kemungkinan besar jumlah goblin yang tersisa di seluruh penjuru desa sudah bisa dihitung dengan jari.
'Apakah ini saatnya untuk pergi?'
Bahkan saat fajar tadi, langit di kejauhan masih menampakkan rona merah membara yang pekat. Pagar luar desa kemungkinan besar masih dilalap api hebat. Namun, mestinya ada beberapa titik di mana kobaran apinya sudah mulai mereda.
Juhwan menatap telapak tangannya sendiri. Jika ia mengerahkan seluruh sisa energi sihirnya, ia mungkin bisa memusnahkan sebagian kobaran api yang menghalangi jalan tersebut. Jika ia memperkuat apinya sendiri untuk membakar habis rintangan itu hingga menjadi abu dalam sekejap mata, sebuah jalur pelarian yang aman bisa tercipta untuk keretanya.
'Masalahnya, energi sihirku akan benar-benar terkuras habis setelahnya...'
Namun, mengingat jumlah goblin yang sudah berkurang drastis sekarang, rasanya tidak masalah jika ia harus menghabiskan seluruh sisa sihirnya demi membawa keluarganya keluar dari sangkar maut ini.
Orang-orang tampak duduk melepas lelah di sana-sini. Setelah melirik mereka sekilas, Juhwan mendekati kelompok petualang dan berbicara dengan nada suara yang pelan namun tegas.
"Aku pergi sekarang. Terima kasih banyak sudah bertarung bersama."
"Oh!"
"Kamu mau pergi sekarang?"
"Tinggalah di sini sedikit lebih lama lagi!"
Para petualang saling pandang dan menyahut dengan terburu-buru, tampak berat melepaskan kekuatan tempur Juhwan.
"Tidak. Aku harus berangkat sekarang," jawab Juhwan sambil menggelengkan kepala mantap.
Mendengar keputusannya, para petualang memperlihatkan raut wajah kecewa. Namun, mereka tidak mencoba menahannya lebih jauh—kemungkinan karena menyadari ancaman goblin sudah hampir musnah sepenuhnya dari desa. Mereka sendiri masih harus menetap di desa untuk menagih sisa bayaran mereka dari kepala desa; mungkin dalam jumlah yang sama, atau bahkan jauh lebih banyak dari yang dijanjikan di awal sebagai kompensasi bahaya.
Saat Juhwan berbalik dan berdiri di dekat kursi kusir, petualang yang pertama kali menyelamatkan nyawanya melangkah mendekat. Ia merendahkan suaranya dan berbisik dengan sangat pelan.
"Saat kamu pergi dari sini, pergilah ke... Lebih baik kamu... sebelum kamu... ke pihak bangsawan. Kalau kamu... sebagai petualang di... kamu akan dilindungi."
Ada beberapa kata asing yang tidak tertangkap dengan jelas oleh telinga Juhwan karena bisingnya sekitar. Tiba-tiba, dari celah kecil antara kursi kusir dan badan kereta, terdengar suara ketukan pelan pada dinding kayu, seperti seseorang yang sedang memberikan kode rahasia.
Tok, tok.
Ketika Juhwan menolehkan pandangannya ke arah celah tersebut, ia melihat Lizzy sedang menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat dari dalam. Tampaknya, istrinya itu berhasil mendengar dan memahami kata-kata asing yang terlewat oleh Juhwan tadi.
Juhwan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Rupanya kebiasaan berjabat tangan sebagai tanda perpisahan dan rasa hormat juga berlaku di dunia fantasi ini, karena petualang itu langsung menyambut hangat genggaman tangannya.
"Terima kasih banyak atas segalanya."
Mendengar ucapan Juhwan, petualang itu menyeringai lebar. "Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Kamu sudah menyelamatkan nyawaku berkali-kali."
Saat Juhwan melepas tali kekang dari pilar kayu dan bersiap naik ke kursi kusir, istri kepala desa yang baru menyadari rencana kepergian mereka langsung berlari kencang sambil berteriak histeris dengan wajah berlumur air mata.
"Dasar pencuri sialan! Kereta dan kuda itu milik kami!"
Wanita itu berteriak histeris seraya dengan nekat menggelayuti bagian belakang kereta, lalu menarik pintu kereta hingga terbuka lebar. Juhwan berniat langsung melompat turun dari kursi kusir untuk bertindak tegas, tetapi langkahnya terhenti. Sesuatu telah lebih dulu melesat keluar dari dalam kereta.
*
Bosan banget!
Ibu dari tadi terus-menerus mengintip ke luar jendela dekat kursi kusir. Padahal Ayah sudah bilang berkali-kali kalau Dorothy sama sekali tidak boleh keluar dari kereta kuda. Dorothy kan anak yang penurut dan baik hati, jadi dia bakal dengerin kata Ayah dengan sangat-sangat patuh! Tapi tetap saja, rasanya bosan sekali di dalam sini.
Bocah kecil itu berguling ke sana kemari, telentang lalu tengkurap di atas lantai kereta yang beralas bulu. Sesekali ia memainkan skenario pernikahan antara Oz si kelinci bertanduk dan boneka kesayangannya yang bernama Toto, lalu berpura-pura menjadi Ibu Dorothy yang sedang mengasuh bayi kelincinya.
Kalau ingin buang air kecil, Dorothy harus duduk di atas sebuah ember kayu kecil. Tapi bagian bokongnya yang mungil selalu merosot masuk ke dalam ember karena lubangnya terlalu besar. Makanya, Ibu selalu harus memegangi tubuhnya setiap kali dia ingin buang air.
Dorothy merebahkan tubuhnya di lantai kereta lalu merosot turun ke tanah dengan sangat hati-hati. Tentu saja Dorothy sebenarnya bisa melompat turun dengan mudah karena dia adalah anak yang pemberani, tapi dia memilih turun perlahan karena Ibu selalu berpesan agar dia selalu waspada. Ini bukan karena dia takut ya, catat itu!
Begitu kakinya menapak tanah dan dia berlari menuju tempat wanita desa yang berteriak histeris tadi—di mana Oz juga berada—ayahnya mendadak mendaratkan telapak tangan di atas kepala Dorothy. Ayah, ini bukan waktunya untuk elus-elus kepala!
Mengabaikan intervensi dari ayahnya, Dorothy maju dan langsung menyambar tubuh Oz dari belakang. Kelinci bertanduk yang tadinya tampak liar itu seketika mendadak jinak dan tenang di pelukannya. Sembari mendekap Oz erat-erat, Dorothy berbicara dengan nada suara yang dibuat se-serius mungkin layaknya seorang guru.
"Oz! Kamu mau jadi kelinci nakal yang suka pukul orang ya?!"
Memukul atau menendang orang lain itu adalah perbuatan yang sangat-sangat buruk. Ayah kandung Dorothy yang sudah meninggal dulu selalu memukulinya setiap hari, dan itu adalah tindakan orang jahat. Ibu Lizzy yang memberi tahu hal itu padanya. Beberapa hari yang lalu, Ayah Juhwan juga mengatakan hal yang persis sama. Dorothy bukannya dipukul karena melakukan kesalahan; Ibu dan Ayah dengan jelas mengatakan bahwa orang yang suka memukul dialah yang jahat.
Oz kan masih bayi kelinci, jadi dia belum terlalu paham bahasa manusia. Tapi tetap saja, memukul orang itu dilarang! Hah... Dorothy benar-benar merasa menjadi anak kecil yang super sibuk hari ini. Nanti dia juga harus menasihati Ibu dan Ayah agar tidak boleh memukul orang lain.
Setelah menceramahi Oz panjang lebar, tampaknya kelinci itu tetap diam tidak mengerti. Mungkin karena dia memang tidak paham arti kata-kata Dorothy.
"Ayo cepat bilang 'Maaf'. Kalau berbuat salah pada orang lain, kamu harus bilang 'Maaf'."
Dorothy menyodorkan tubuh Oz tepat ke hadapan wajah wanita desa yang ketakutan itu. Namun, Oz tampaknya benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengucap kata maaf. Kelinci bertanduk itu hanya menatap kosong ke udara dengan wajah polos tanpa dosa. Ya maklum saja, namanya juga kelinci.
"Dorothy sibuk banget, deh."
Tanpa sadar kalimat keluhan itu lolos dari mulut mungilnya. Akhirnya, Dorothy memutuskan untuk meminta maaf secara langsung mewakili kelincinya. Mau bagaimana lagi, Dorothy kan adalah kakak tertua di sini!
Dorothy memajukan tubuhnya hingga wajahnya berada sangat dekat dengan wajah istri kepala desa tersebut. Kemudian, ia membungkukkan badannya dalam-dalam lalu berseru dengan lantang:
"Pip!"
"Pfft!"
Seseorang spontan menyemburkan tawa di dekat mereka. Ketika Dorothy mendongak dengan bingung, beberapa orang petualang di sekitar mereka tampak sedang berusaha keras menahan tawa sampai wajah mereka memerah.
Kenapa mereka malah tertawa? Saat Dorothy memiringkan kepalanya dengan heran, ia melihat ayahnya ternyata juga ikut tertawa kecil.
"Oz itu kan kelinci, jadi dia cuma paham bahasa kelinci. Makanya Dorothy juga harus minta maaf pakai bahasa kelinci biar Tante ini paham," jelas Dorothy dengan nada super polos dan meyakinkan.
Mendengar penjelasan tambahan dari Dorothy, kali ini giliran Ibu Lizzy yang ikut mengeluarkan suara tawa renyah dari dalam kereta.
Ih, orang dewasa benar-benar menyebalkan deh! Merasa dirinya sedang ditertawakan dan dipermainkan oleh semua orang, Dorothy langsung cemberut dan menghentak-hentakkan kedua kakinya ke atas tanah dengan perasaan kesal.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments