Header Ads Widget

Chapter 41 - Goblin Itu Terlihat Berlari

 


Goblin Itu Terlihat Berlari

Juhwan memanggul barang bawaan yang berat di punggungnya, sementara sebilah pisau kecil dan kapak terselip erat di ikat pinggangnya. Jika tiba-tiba dia berpapasan dengan goblin di jalur pegunungan, tidak akan ada waktu untuk melepas barang bawaan tersebut secara perlahan. Dia harus bisa memotong tali pundak tasnya dengan cepat demi bisa segera menghadapi musuh. Pisau kecil itu disiapkannya khusus untuk tujuan darurat tersebut.

Pada hari biasa, suara burung-burung gunung akan menghangatkan hatinya, tetapi hari ini suara itu justru terdengar begitu mengerikan dan membawa pertanda buruk. Lizzy merapatkan tubuhnya ke arah Juhwan dengan raut penuh kecemasan. Juhwan menggendong Dorothy dengan satu lengan, sementara tangan satunya menggenggam erat tangan Lizzy. Di tengah udara gunung yang dingin, kehangatan tubuh mereka terasa jauh lebih nyata dari biasanya.

Krak, krak, suara langkah kaki mereka memecah keheningan ke segala arah. Bahkan Dorothy, yang biasanya selalu cerewet dan bising, kini tampak terdiam seribu bahasa.

Baru sekarang, setelah pertempuran sengit itu berakhir dan waktu sedikit berlalu, Juhwan benar-benar menyadari betapa mengerikannya peristiwa hari ini.

Setelah berjalan cukup lama, rasa lega akhirnya menyelimuti hatinya saat dia melihat dinding luar desa dari kejauhan.

Gerbang belakang yang menghubungkan jalur gunung tampak terbuka lebar. Meskipun matahari belum sepenuhnya terbenam, sinarnya akan segera tenggelam di balik gunung. Malam datang dengan sangat cepat. Juhwan pernah mendengar bahwa gerbang ini biasanya sudah ditutup pada jam-jam seperti ini, jadi mengapa sekarang justru terbuka?

Sambil menepis perasaan tidak tenangnya, Juhwan menutup rapat gerbang tersebut. Hari ini telah menjadi hari yang sangat melelahkan bagi mereka semua. Dorothy bahkan sudah mulai terkantuk-kantuk dan kepalanya terkulai.

Setelah mendekap anaknya dengan aman di balik pakaian tebalnya, Juhwan melangkah memasuki desa bersama Lizzy. Meskipun dinding desa tampak runtuh di beberapa bagian, dia merasa sangat lega begitu berhasil berada di dalam area pemukiman.

Desa ini memang tidak pernah ramai, tetapi hari ini suasananya terasa jauh lebih sepi dan mati. Saat mereka berjalan menyusuri jalanan desa yang sunyi, mereka akhirnya berpapasan dengan beberapa orang penduduk.

Para penduduk desa yang melihat Juhwan dan Lizzy seketika tampak agak gugup dan salah tingkah. Mereka tidak berani mendekat. Mereka hanya mengawasi dari kejauhan sambil saling berbisik satu sama lain.

"...."

Ada sesuatu yang aneh. Bukan sekadar fakta bahwa para penduduk memperlakukan mereka seperti orang asing, melainkan atmosfer di sekitar yang terasa sangat mencurigakan. Tatapan tajam para penduduk tampaknya bukan hanya karena barang bawaan besar yang dipanggul di punggung Juhwan.

Isyarat bahaya yang sudah terasah akibat menghadapi kawanan goblin membuat naluri Juhwan semakin menajam. Dia diam-diam membenahi posisi pakaiannya agar bisa menarik kapaknya kapan saja jika diperlukan.

Lizzy dengan cepat menjulurkan kedua tangannya. Ketika Juhwan mengeluarkan Dorothy dari balik pakaiannya, anak itu langsung mengulurkan tangan ke arah ibunya meskipun matanya masih setengah terpejam karena mengantuk.

Walaupun Dorothy makan dan tidur dengan baik, tubuhnya masih tetap sangat kurus dan kecil. Ukuran tubuhnya cukup mungil untuk bersandar dengan nyaman di dalam dekapan Lizzy.

Lizzy menyangga bagian bokong anaknya dengan satu tangan dan berjalan beriringan di dekat Juhwan. Telinga kelinci yang mencuat dari kantong depan baju Dorothy tampak bergerak-gerak di antara tubuh Lizzy dan Dorothy.

Dari apa yang samar-samar terdengar, para penduduk tampaknya sedang meributkan masalah makanan. Kelompok petualang menuntut makanan dan pelayanan yang lebih layak, sementara penduduk desa terlihat sangat kesulitan dan terdesak.

Begitu Juhwan berjalan mendekat, sang kepala desa dan para penduduk yang tadinya sedang beradu mulut dengan orang-orang asing itu seketika tersentak dan mendadak bungkam.

Pandangan para petualang itu pun kini beralih tertuju pada Juhwan. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu dari kepala kembali ke kaki, orang-orang asing itu mengamati Juhwan dengan tatapan penuh selidik.

Sang kepala desa berdeham beberapa kali untuk mencairkan suasana, lalu bertanya kepada Juhwan.

"Ada angin apa kamu datang ke sini? Dan untuk apa membawa barang bawaan sebanyak itu?"

Sebelum turun ke desa ini, Juhwan sudah mempelajari kata untuk menyebut "goblin" dalam bahasa dunia ini. Lizzy yang telah mengajarkannya.

Juhwan membuka mulutnya sembari terus mengamati gerak-gerik para petualang.

"Kawanan goblin telah muncul. Jumlahnya ada lima puluh ekor."

"Apa?!"

Kepala desa, penduduk, dan bahkan para petualang semuanya tersentak kaget. Kepala desa yang panik langsung berteriak berang.

"Omong kosong macam apa ini! Lima puluh ekor?!"

"...."

Juhwan memandangi wajah orang-orang yang berkumpul di sana satu per satu. Mereka semua tampak kebingungan dan syok. Namun, ekspresi mereka seolah bukan terkejut karena mendengar kata "goblin". Melainkan seperti....

Suara bisik-bisik warga mulai berdengung di sekeliling mereka. Topik yang mereka bicarakan lebih berfokus pada jumlah monster yang disebutkan, ketimbang eksistensi goblin itu sendiri. Angka "sepuluh ekor" samar-samar terdengar disebut di sana-sini.

Salah seorang petualang, dengan wajah yang memerah karena amarah, angkat bicara.

"Kamu berbohong! Kami mendengar dengan sangat jelas sebelumnya. Jumlahnya hanya sepuluh ekor!"

"Bukan, itu benar. Kami tidak berbohong. Gus sendiri yang bilang kalau jumlahnya sepuluh ekor."

Tidak begitu jelas apakah kalimat pembelaan itu keluar dari mulut kepala desa atau penduduk yang berdiri di sampingnya. Atau mungkin keduanya melontarkan kalimat yang senada demi meyakinkan para petualang.

Pada saat itulah, pikiran Juhwan seketika berputar cepat, menghubungkan berbagai kata, bayangan, dan informasi yang dia dapatkan sekaligus.

'Orang-orang ini... mereka semua ternyata sudah tahu.'

Reaksi penduduk desa dan kata-kata yang baru saja dia dengar perlahan-lahan menyusun sebuah kesimpulan utuh di dalam benaknya.

Para penduduk desa sebenarnya sudah tahu bahwa ada kawanan goblin yang bersarang di gunung. Mereka tidak sekadar tahu secara samar-samar tentang keberadaan monster itu, mereka bahkan tahu perkiraan jumlahnya, meskipun data mereka salah.

Semua orang, seluruh penduduk desa ini tahu fakta tersebut, dan hanya Juhwan serta Lizzy yang sengaja dibiarkan buta dalam ketidaktahuan.

Meskipun mereka tahu ada kawanan goblin di gunung dan tempat itu sangat berbahaya bagi siapa pun yang tinggal di sana, tidak ada satu pun orang yang sudi memperingatkan Juhwan dan keluarganya.

[Gus bilang jumlahnya sepuluh ekor.]

Kalimat yang baru saja lolos dari mulut penduduk desa itu mendadak menyala seperti lampu peringatan bahaya di dalam kepala Juhwan.

Gus, sosok yang selama ini dia anggap sebagai orang paling dekat dan paling berjasa di desa ini, ternyata juga tahu segalanya. Tidak hanya tahu tentang eksistensi goblin di gunung, tetapi dia bahkan tahu sampai ke detail jumlahnya.

Dan Gus telah berbohong kepada orang-orang ini.

Jika Gus tahu keberadaan para goblin dan bahkan telah melakukan pengintaian yang cukup mendalam hingga bisa menyebutkan sebuah angka, dia pasti tahu seberapa besar skala kelompok monster tersebut. Mustahil dia tidak tahu kalau jumlah mereka sebenarnya jauh lebih banyak dari sepuluh ekor.

Gus telah berbohong, bahkan kepada penduduk desanya sendiri. Segala tindak-tanduk yang dilakukan Gus selama ini mendadak terlintas kembali di ingatan Juhwan satu per satu dengan sangat cepat.

Seperti apa ekspresi wajah Gus saat mereka sedang mencari jejak binatang buas dulu? Bukankah saat itu dia tampak seperti sedang mencari sesuatu yang jauh lebih besar?

Gus bertindak dengan sangat hati-hati dalam membersihkan sisa-sisa buruan setelah mereka menjegal binatang buas. Meskipun lokasi perburuan berada sangat jauh dari pemukiman warga, dia menghapus jejak-jejak itu dengan teramat teliti.

Gus beralasan bahwa hal itu dilakukan demi menghindari binatang karnivora. Ya, mungkin itu salah satu alasannya, tetapi bukankah tujuan sebenarnya adalah karena keberadaan goblin? Bukankah dia cemas jika kawanan goblin akan memperluas wilayah kekuasaan mereka karena terpancing oleh bau jeroan binatang buruan?

Tiba-tiba, bayangan tentang goblin yang menyerangnya di awal kembali melintas. Kondisi makhluk itu sangat aneh. Itu jelas bukan kondisi yang alami. Saat itu Juhwan masih merasa ragu, tetapi sekarang dia bisa memastikannya dengan mutlak.

Gus telah merencanakan sesuatu.

"...."

Mereka harus segera angkat kaki dari tempat ini sekarang juga. Situasi ini persis seperti metode jebakan dan jerat yang pernah diajarkan Gus kepadanya. Ini adalah sebuah proses menggiring mangsa secara perlahan menuju satu titik mati, sembari menyamarkan lingkungan sekitar agar sang mangsa tidak merasakan kejanggalan apa pun hingga semuanya terlambat. Persis seperti itulah yang sedang terjadi saat ini.

Begitu menyadari kenyataan mengerikan itu, Juhwan langsung menoleh ke arah Lizzy.

"Di mana letak kereta barangnya?"

Lizzy menjawab dengan sigap tanpa menunda.

"Ke arah sana! Di sebelah sana!"

Istrinya tampaknya juga menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Juhwan segera melangkah lebar menuju arah yang ditunjuk oleh Lizzy. Dia bergerak dengan sangat cepat. Jantungnya berdegup kencang didera rasa cemas dan firasat buruk yang hebat.

Kepala desa yang panik beserta beberapa pria desa mencoba bergerak maju untuk menghadang jalannya.

Tanpa ragu sedikit pun, Juhwan langsung mencabut kapaknya. Di saat yang sama, dia melayangkan tendangan keras tepat ke arah dada kepala desa yang menghalanginya dari depan.

Krak! Sensasi patahnya tulang terasa samar menembus sol sepatunya yang tebal. Sang kepala desa menjerit histeris dan langsung ambruk terjungkal ke tanah.

Tepat di sebelah mereka, ada beberapa kursi kayu yang berjejer. Juhwan mengayunkan kapaknya dengan liar, menghancurkan dua buah kursi hingga hancur berkeping-keping, lalu melemparkan tatapan membunuh kepada orang-orang di sekitarnya.

"Jangan berani menghalangiku. Kalau tidak, akan kubunuh kalian semua."

Melihat mata kapak yang berkilat tajam dan berlumuran darah, para penduduk desa seketika menelan kembali jeritan mereka karena ketakutan. Juhwan terus melangkah maju sembari memberikan tatapan mengancam kepada kerumunan orang di depannya.

Menyaksikan intimidasi Juhwan yang begitu mengerikan, para penduduk desa perlahan-lahan mundur teratur. Jalur di depan Juhwan seketika terbuka lebar layaknya Laut Merah yang terbelah.

Para petualang yang berada di belakangnya terdengar melontarkan sumpah serapah dengan kesal, namun Juhwan sama sekali tidak sudi memedulikan mereka. Dia sudah tidak punya waktu lagi. Dia tidak tahu skenario busuk apa lagi yang menanti, yang pasti mereka wajib meninggalkan desa ini sekarang juga.

Kereta barang itu berada di area belakang rumah kepala desa. Ukurannya ternyata jauh lebih besar dari yang dia bayangkan. Kereta itu sama sekali tidak memiliki dekorasi yang mewah, melainkan sebuah kereta barang kokoh yang terbuat dari kayu-kayu yang tebal.

Bagian atapnya berbentuk melengkung setengah lingkaran, dan di bagian sisinya terdapat sebuah jendela kecil yang dilengkapi dengan papan penutup kayu.

Di atas kursi kusir, terdapat sebuah atap kayu kecil yang terpasang membentuk huruf 'L'. Tampaknya atap itu sengaja dibuat untuk menghalau air hujan atau guguran salju. Ada celah yang cukup lebar antara kursi kusir dengan badan utama kereta.

Pintu masuk di bagian belakang berupa sebuah pintu kayu yang tebal. Spesifikasi kereta seperti ini dirasa sudah lebih dari cukup untuk menahan gempuran dari serangan kawanan goblin.

Entah karena alasan apa, tali kekang yang menghubungkan antara kereta barang dengan kuda sudah tergelar dengan rapi di atas tanah. Tampaknya semua ini sengaja disiapkan untuk dirakit sesuai urutan tersebut.

Juhwan membuka pintu belakang kereta barang dan langsung melemparkan seluruh barang bawaannya ke dalam. Ada banyak sekali barang yang tersimpan di dalam sana, namun dia tidak memiliki waktu untuk memeriksa isinya satu per satu.

Sementara Lizzy sibuk mengangkat Dorothy untuk masuk ke dalam kereta, Juhwan bergegas menuju ke sebuah bangunan yang posisinya agak menjauh di dekat sana. Bangunan itu tampaknya difungsikan sebagai kandang hewan sekaligus gudang jerami. Di dalamnya terdapat dua ekor kuda, sementara tumpukan jerami kering menggunung di sisi yang berlawanan. Di dalam area bangunan yang pintunya sedikit terbuka itu, beberapa ekor kambing dan ayam tampak berkeliaran bebas tanpa diikat.

Juhwan teringat pernah membaca suatu informasi bahwa kuda adalah hewan yang sangat mudah terkejut dan penakut. Oleh karena itu, Juhwan menuntun kedua kuda tersebut keluar dengan sangat hati-hati, memastikan agar mereka tidak panik atau mengamuk.

Bilah kayu panjang yang menghubungkan kereta barang dengan kuda dilengkapi dengan cincin besi dan tali-tali kulit. Saat Juhwan bergerak meraba-raba karena kebingungan dan tidak tahu bagaimana cara memasangnya dengan benar, Lizzy langsung turun tangan membantu dari samping.

Juhwan pernah mendengar cerita bahwa di desa tempat tinggal Lizzy dulu, beberapa kepala keluarga sering menggunakan kuda secara bergantian. Tampaknya Lizzy berhasil mempelajari cara memasang tali kekang kuda dari pengalaman masa lalunya tersebut.

Tepat ketika proses pemasangan tali kekang hampir selesai, istri kepala desa berlari kencang menuju ke arah kereta bersama seorang pria muda yang tampaknya adalah anak laki-lakinya. Berbeda dengan anaknya yang tidak menunjukkan kemarahan, istri kepala desa justru datang dengan kondisi emosi yang meledak-ledak. Anak laki-lakinya tampaknya hanya bergerak mengikuti langkah ibunya.

Istri kepala desa berteriak histeris sembari menangis. "Kereta itu milik kami! Barang-barangku, makananku, semuanya milikku!" Kalimat yang keluar dari mulutnya bercampur aduk dengan suara tangisan yang tersedak, membuat perkataannya sangat sulit untuk dicerna dengan jelas.

Juhwan adalah pria yang memegang prinsip untuk tidak pernah melayangkan tangan kepada seorang wanita. Dia belum pernah melakukannya seumur hidupnya. Namun, wanita di depannya ini sudah benar-benar keterlaluan.

Istri kepala desa mengabaikan Juhwan dan langsung menerjang ke arah Lizzy, mencoba mencengkeram rambut istrinya dengan kasar.

Juhwan seketika mengangkat lengannya demi melindungi sang istri. Dengan menggunakan punggung tangan kirinya, dia melayangkan tamparan keras tepat ke arah pipi istri kepala desa. Tubuhnya yang gempal seketika terpental ke belakang dan dia jatuh terduduk dengan keras.

Anak laki-lakinya melirik ke arah tangan Juhwan dan kapak yang dipegangnya dengan raut wajah yang dipenuhi ketakutan. Pria muda itu segera menarik ibunya menjauh dari sana. "Ibu, ayo kita pergi, hentikan semua ini." Meskipun anaknya sudah membujuk dan menarik tubuhnya, istri kepala desa tetap saja meraung-raung histeris dan menolak untuk beranjak. Karena tidak memiliki keberanian untuk menantang Juhwan secara langsung, dia meluapkan amarahnya dengan melontarkan berbagai sumpah serapah keji ke arah Lizzy.

Sudah tidak ada waktu lagi untuk meladeni wanita itu. Juhwan segera mengangkat tubuh Lizzy masuk ke dalam kereta dan membanting pintunya hingga tertutup rapat.

Dia melompat naik ke atas kursi kusir lalu menyentakkan tali kendali dengan kuat. Mungkin karena gerakannya yang masih sangat canggung, kedua kuda itu justru bergerak ke arah yang saling berlawanan. Juhwan kesulitan untuk mengarahkan mereka. Kendati demikian, begitu kedua kuda itu akhirnya mulai melangkah maju, kereta barang itu mulai bergerak maju dengan suara berderit keras, meninggalkan lokasi tersebut dan melaju menuju ke arah pusat desa.

Beberapa orang tampak berteriak ke arah Juhwan dan mencoba mengejar kereta barangnya dari belakang. Namun, tidak ada satu pun orang yang memiliki nyali untuk menghadangnya secara langsung. Sang kepala desa sendiri masih tampak terkapar tak berdaya di atas tanah.

Tepat ketika kereta yang dikemudikannya melewati tempat berkumpulnya para petualang, sosok Gus tiba-tiba muncul di kejauhan. Pria itu berdiri di dekat area pintu masuk desa. Tampaknya Gus juga baru menyadari keberadaan Juhwan secara mendadak.

Jantung Juhwan seketika berdegup kencang didera firasat buruk yang luar biasa.

Gus menjulurkan lengannya ke udara dan menggoyang-goyangkan sebuah benda kecil yang bentuknya menyerupai kantong. Apakah itu bubuk? Jarak yang terlalu jauh membuatnya sulit untuk melihat dengan jelas. Jumlahnya tampak sangat sedikit, dan setelah selesai menggoyangkannya, Gus segera memutar tubuhnya dan berlari pergi dengan cepat.

Seketika itu juga, sebuah jeritan melengking terdengar dari arah belakang. Saat Juhwan memutar tubuhnya untuk melihat, gumpalan asap hitam tampak mulai membubung tinggi dari arah pagar pembatas desa. Seseorang telah sengaja menyulut api. Menilai dari arah datangnya asap, lokasi kebakaran itu berada di pinggiran desa, kemungkinan besar tepat di area pagar pembatas.

Juhwan segera memalingkan wajahnya kembali ke depan. Mereka harus meloloskan diri secepat mungkin. Mereka wajib mengarahkan kereta menuju ke pintu masuk utama desa.

Namun, tepat ketika dia mengangkat tali kendali untuk memacu langkah kuda-kudanya agar bergerak lebih cepat, pandangannya justru menangkap pemandangan mengerikan: beberapa ekor goblin tampak sedang berlari kencang dari arah pintu masuk desa.

Jeritan histeris seorang wanita kembali menggema memecah udara dari suatu tempat. Suara itu tidak berada di dekatnya, melainkan datang dari arah jalur yang dilewati Juhwan saat pertama kali datang tadi—tepat di dekat gerbang belakang dinding luar desa.

"Kita telah masuk ke dalam jebakan."

Hati Juhwan seketika mencelos jatuh. Layaknya seekor binatang buruan yang malang, dia kini telah sepenuhnya masuk ke dalam perangkap mematikan yang dipasang oleh Gus.

───────────────

Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments