Menuju Desa
Tidak ada lagi musuh yang berdiri. Beberapa telah melarikan diri, dan mereka yang bersikeras mencoba menerobos masuk ke dalam rumah hingga akhir semuanya telah tewas. Juhwan menghabisi mereka dengan tangannya sendiri. Dia membunuh semuanya tanpa menyisakan satu pun.
Juhwan terengah-engah sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"...."
Area di sekitarnya tampak kotor, berlumuran darah dan cairan yang mengalir dari tubuh para goblin. Mata makhluk-makhluk yang tadinya bersinar terang itu kini tampak hancur seperti jeroan yang tergilas.
Rumah di pegunungan yang dulunya asri dan indah itu kini hancur berantakan. Padahal, dia baru saja mulai merasa kerasan dan menganggap tempat ini sebagai rumahnya sendiri. Wajah Juhwan berkerut masai. Dia mengembuskan napas berat seolah sedang meludah. Bau amis darah dan aroma busuk yang menjijikkan menusuk hidungnya.
Juhwan mulai melangkah menyusuri pagar. Tanah yang bersimbah darah melekat di sol sepatunya, memberikan sensasi lengket seolah-olah tanah itu menahan setiap langkah kakinya. Mengabaikan perasaan tidak nyaman itu, Juhwan memeriksa tubuh para goblin yang bertumbangan, memastikan apakah ada yang masih hidup atau sekadar berpura-pura mati demi mencari kesempatan untuk kabur.
Beruntung, tidak ada satu pun goblin yang tampak bernyawa. Semuanya dipastikan telah mati.
Merasa sedikit lega, Juhwan memantik api kecil di ujung jarinya. Dia perlu memeriksa seberapa banyak kekuatan sihir yang tersisa di dalam tubuhnya.
Nyala api itu tampak tidak berubah, tetapi dia tahu dia telah menguras cukup banyak energi sihir. Saat menghabisi goblin terakhir tadi, dia bisa merasakan aliran sihirnya mulai melemah. Tentu saja, perubahan ini hanya bisa dirasakan oleh dirinya sendiri. Bahkan sekarang pun dia tidak begitu yakin, tetapi dia merasa ada sesuatu yang kurang. Entah mengapa, dia berpikir demikian. Tidak ada perbedaan yang mencolok, dan kobaran api itu pun tidak mengecil. Itu murni hanya sebuah firasat.
Dia berpikir jika kawanan monster itu menyerang kembali, situasinya mungkin akan menjadi sulit. Rasa cemas mulai menyelinap di hatinya.
Pagar rumahnya juga tampak rusak ringan di beberapa bagian. Dia teringat kembali bagaimana para goblin itu begitu nekat memanjat pagar. Tinggi pagar itu mungkin cukup untuk menghalau binatang buas biasa, tetapi para goblin bisa memanjatnya dengan mudah.
Setelah memastikan tidak ada lagi goblin yang bersembunyi di hutan sekitar, Juhwan melangkah menuju gerbang pagar. Saat dia mendekati gerbang, di tengah keheningan yang mencekam, suara Lizzy terdengar.
"Juhwan?"
Sebelum sempat menjawab, terdengar suara gaduh dari dalam, lalu pintu rumah terbuka lebar. Lizzy berlari keluar.
Tampaknya dia terus mendengarkan situasi dari dalam rumah sejak tadi. Meski tahu bahwa semua goblin telah mundur dan tidak ada ancaman lagi di luar, dia tetap menahan diri dan menanti hingga Juhwan datang menghampiri.
Juhwan mendekap Lizzy dengan erat saat istrinya itu langsung menghambur ke dalam pelukannya. Juhwan ingin memujinya dan mengatakan bahwa dia telah berjuang dengan baik, namun tidak ada kata yang sanggup lolos dari tenggorokannya. Sebagai gantinya, dia mengecup kening istrinya dalam-dalam, menyalurkan seluruh perasaannya lewat ciuman itu.
Dorothy mengintip dari balik pintu. Di dalam dekapannya, ada seekor kelinci bertanduk. Setengah dari tubuh kelinci itu tersembunyi di dalam kantong pakaiannya. Begitu Juhwan membuka sebelah lengannya, Dorothy langsung berlari kencang dan memeluk erat kaki ayahnya.
"Lizzy, Dorothy..."
Suara Juhwan terdengar serak dan tercekat saat memanggil nama keluarganya.
Dia benar-benar sempat merasa sangat cemas. Tak peduli seberapa besar tekadnya untuk melindungi mereka, ada kalanya situasi bergerak di luar kendalinya. Alasan mengapa manusia tetaplah manusia adalah karena mereka tidak akan pernah bisa mengendalikan takdir sepenuhnya.
Juhwan mendekap erat keduanya lalu menarik napas dalam-dalam. Saat kehangatan tubuh mereka tersalurkan ke tangan dan tubuhnya, dia akhirnya benar-benar tersadar. Mereka masih hidup. Mereka tidak mati. Dia berhasil melindungi mereka. Tidak, tepatnya mereka semua berhasil bertahan hidup. Begitu pula dengan bayi kelinci itu. Semuanya telah berjuang bersama-sama.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Juhwan. Dia merasa sangat lega karena pertempuran ini berakhir tanpa harus kehilangan siapa pun. Dia benar-benar bersyukur karena semua orang selamat.
"Terima kasih."
Ucapan itu ditujukan tulus kepada Lizzy, Dorothy, dan juga kepada si bayi kelinci. Terima kasih atas kerja keras kalian. Terima kasih karena sudah bertarung bersama.
Dorothy mendongak menatapnya sambil sesenggukan, lalu bergumam, "Ayah menangis. Sama seperti Dorothy."
Tentu saja dia menangis. Membayangkan dia bisa saja kehilangan keluarganya, menyadari bahwa mereka kini masih berada dalam dekapannya berkat perjuangan yang mempertaruhkan nyawa, air mata tentu saja tidak bisa dibendung. Tangis Juhwan yang tadinya tertahan seketika tumpah seperti hujan deras. Untuk beberapa saat, keluarga kecil itu saling berpelukan erat dan menangis bersama layaknya anak-anak.
Beberapa saat kemudian, Juhwan bangkit berdiri.
Mereka harus segera meninggalkan gunung selagi matahari belum tenggelam. Dia memang tidak tahu bagaimana kebiasaan hidup para goblin, tetapi banyak binatang liar yang jauh lebih aktif di malam hari. Bisa jadi goblin juga memiliki karakteristik yang sama. Malam hari adalah waktu yang sangat merugikan bagi manusia.
Menatap wajah Lizzy yang masih basah oleh sisa-sisa air mata, Juhwan berkata, "Lizzy, kita harus pergi. Kita akan keluar dari gunung ini sekarang juga. Kemas barang-barang yang penting. Cepat, kita harus segera menuju desa. Kita butuh kereta barang dan kuda, setelah itu kita akan langsung pergi meninggalkan desa tersebut."
Jika terus tinggal di sini, mereka sebenarnya bisa berburu dan menyambung hidup dengan layak. Mengingat mereka juga sering menukar barang dengan pedagang keliling, kehidupan mereka di sini bisa dibilang cukup nyaman. Akan menjadi kebohongan besar jika dikatakan Juhwan tidak merasa bimbang sama sekali untuk meninggalkan semua kenyamanan itu.
Namun, setelah mengetahui ada ancaman mengerikan seperti kawanan goblin, bertahan di gunung ini sudah bukan lagi sebuah pilihan. Mereka harus turun ke desa untuk memperingatkan warga tentang bahaya goblin, lalu mencari kereta barang dan kuda untuk segera pergi sejauh mungkin.
Menetap di desa tersebut mungkin bisa menjadi salah satu pilihan alternatif. Namun, rencana itu tampaknya tidak akan berjalan mulus. Warga desa memberikan seorang wanita dan sebuah rumah kepadanya semata-mata agar dia menjadi pemburu mereka, jadi mereka pasti tidak akan membiarkannya tinggal di desa begitu saja. Desa itu sangat membutuhkan pemburu. Mengingat kembali bagaimana para goblin menyerang pagarnya tadi, ekspresi wajah Juhwan seketika menggelap.
Saat masih berada di Bumi dulu, dia hanyalah seorang murid yang payah. Dia sering terlibat perkelahian dan tidak pandai dalam pelajaran sekolah. Kini setelah waktu yang lama berlalu, dia bahkan hampir tidak ingat apa saja yang pernah dia pelajari.
Namun, dia samar-samar ingat tentang pelajaran sejarah Eropa abad pertengahan, di mana terdapat sistem tanah manorial yang dikuasai oleh para tuan tanah. Sang guru saat itu menjelaskan bahwa para petani terikat pada tanah tempat mereka tinggal, dan dia ingat sempat membatin dalam hati, 'Apakah hidup mereka lebih sengsara dariku, atau akulah yang sebenarnya lebih sengsara?'
Di masa mudanya dulu, dia selalu berpikir tidak ada orang yang nasibnya lebih malang daripada dirinya. Dia merasa dialah yang paling menderita. Namun sekarang, dia menyadari bahwa pemikiran itu salah besar. Ada banyak sekali orang di dunia ini yang hidupnya "jauh lebih sengsara".
Para penduduk desa mungkin tidak akan bisa meninggalkan tempat ini sesuka hati mereka. Bahkan setelah diperingatkan tentang bahaya goblin sekalipun, mereka kemungkinan besar harus tetap bertahan hidup di sini. Tidak, mereka memang terpaksa harus melakukannya. Menjadi seorang petani di era seperti ini memang menuntut nasib yang demikian. Mungkin merekalah orang-orang yang masuk ke dalam kelompok yang "lebih sengsara" tersebut.
Namun, setidaknya hal itu tidak berlaku bagi Juhwan yang sekarang. Tidak ada alasan baginya untuk hidup tidak bahagia, ataupun terikat pada desa ini. Terlebih jika mereka sampai berniat untuk menahan Lizzy di sini.
'Mungkin nanti akan terjadi sedikit bentrokan.'
Akan sangat bagus jika semuanya bisa diselesaikan dengan adu mulut atau perkelahian kecil, namun situasinya bisa saja menjadi jauh lebih brutal. Meski begitu, tidak ada jalan untuk mundur. Dia akan menggertak mereka jika perlu demi mendapatkan kereta barang serta kuda untuk pergi.
"...."
Lizzy tampaknya langsung memahami maksud dari perkataan Juhwan. Dia bergegas menyeka air matanya dan mengangguk setuju. Kemudian, dia mendongak menatap Juhwan seolah-olah teringat akan sesuatu.
"Ada sebuah kereta barang di desa. Keretanya sangat besar."
Lizzy memaksakan sebuah senyuman.
"Jika kita memberikan kulit serigala kepada mereka, kita pasti bisa menukarnya. Kereta itu sudah lama tidak digunakan."
Lizzy sepertinya tahu betul bahwa para penduduk desa tidak akan melepaskan mereka begitu saja. Namun, dia berusaha keras untuk menyembunyikan rasa cemasnya.
Lizzy sengaja memasang ekspresi cerah, menatap suaminya, dan tersenyum tipis seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Wajah kecilnya yang beberapa saat lalu sempat gemetar hebat karena didera ketakutan, kini justru memancarkan ketegaran yang memberikan kekuatan bagi Juhwan. Padahal, dia adalah seorang wanita yang jauh lebih lemah dan sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan suaminya.
Juhwan menyentuhkan keningnya dengan lembut ke kening Lizzy. Dia menyerap kekuatan dari kehangatan tubuh istrinya tersebut. Dia berharap Lizzy juga bisa mendapatkan tambahan kekuatan darinya. Tidak apa-apa, aku pasti akan mengatasinya entah bagaimana caranya. Jangan cemaskan penduduk desa itu, Lizzy.
"Semua akan baik-baik saja."
Lizzy tampaknya mengerti apa yang ada di dalam lubuk hati Juhwan; dia tersenyum cerah lalu menarik napas dalam-dalam, mencoba memantapkan tekadnya.
Dorothy, yang sejak tadi diam-diam mengamati interaksi kedua orang tuanya, ikut menyodorkan kening kecilnya ke arah Juhwan. Tampaknya dia juga ingin diperlakukan sama.
Selagi Juhwan menyentuhkan keningnya ke kening sang anak, Lizzy segera melangkah masuk ke dalam rumah dan mulai mengemas barang-barang. Dengan cekatan dia mengumpulkan barang-barang yang sekiranya bernilai jual tinggi, seperti kain dan kulit bulu binatang, serta menata makanan yang harus segera dikonsumsi ke dalam sebuah wadah berukuran besar.
Setelah menyuruh Dorothy masuk ke dalam, Juhwan pergi ke area luar untuk mengumpulkan benda apa saja yang bisa digunakan sebagai senjata.
Ke mana pun tujuan perjalanan mereka nanti, memiliki banyak persediaan senjata tentu akan jauh lebih baik. Pisau, tusukan besi besar, kapak, dan perkakas lain yang ada di dalam ruang kerja pemburu dikumpulkannya. Dia memutuskan untuk membawa semua yang bisa dibawa. Meski semua itu adalah barang inventaris milik pemburu berikutnya nanti, situasi saat ini sudah tidak memungkinkannya untuk peduli.
Selama beberapa saat, sempat terlintas di benaknya sebuah pemikiran untuk langsung pergi melarikan diri tanpa perlu melewati desa sama sekali. Dengan begitu, mereka bisa pergi dengan tenang tanpa diketahui oleh siapa pun.
"...."
Juhwan menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir pikiran tersebut. Rencana itu mungkin saja bisa dilakukan jika dia hanya hidup sebatang kara. Namun, akan sangat sulit untuk terus bergerak menempuh perjalanan jauh bersama seorang wanita dan anak kecil sambil memanggul tumpukan barang bawaan.
Mereka juga tidak mungkin meninggalkan seluruh harta benda mereka begitu saja. Dunia ini sangat berbeda dengan Bumi modern, di mana mesin ATM dan toko swalayan 24 jam bisa ditemukan di setiap sudut jalan. Di sini, mereka wajib membawa sendiri seluruh barang kebutuhan pokok serta persediaan makanan ke mana pun mereka pergi.
'Lagipula, kawanan goblin itu bisa saja melacak dan memburu kami.'
Ukuran keselamatan mereka bergantung pada seberapa cepat mereka bisa pergi sejauh mungkin. Memikirkan tentang ancaman goblin, Juhwan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
'Begitu kita berhasil mendapatkan kereta barang, kita harus langsung meninggalkan desa malam ini juga.'
Malam hari kian cepat menjelang. Gerakan tangan Juhwan pun menjadi semakin cepat dalam mengemas barang-barang.
Gus mempercepat langkah kakinya.
Petualang yang dia tunggu ternyata tiba lebih awal dari perkiraan. Ketika dia selesai memancing para goblin menuju pondok Juhwan dan kembali ke desa, para petualang itu rupanya sudah sampai di sana.
Tidak ada gunanya menunda-nunda rencana balas dendam ini hingga esok hari. Akan jauh lebih baik jika dia menuntaskannya hari ini juga. Begitu keputusan itu mantap diambil, langkah selanjutnya berjalan dengan sangat cepat. Ini adalah sebuah skenario yang telah dia pikirkan dan matangkan di dalam kepalanya setiap hari selama berpuluh-puluh tahun. Gus langsung berlari menuju sarang goblin.
Tampaknya ada beberapa goblin betina yang tewas atau terluka parah saat terjadi kudeta internal sebelumnya. Kondisi para goblin di sarang tersebut terlihat sangat gelisah dan agresif. Mereka saling berkelahi satu sama lain, dan beberapa di antaranya tampak menghantam pohon-pohon di sekitar tanpa alasan yang jelas.
Gus menaburkan sedikit bubuk kesturi pada beberapa batang pohon. Dia harus berhati-hati agar tidak memancing perhatian terlalu banyak monster sekaligus. Taburannya dibuat tipis, sedikit demi sedikit, sekadar cukup agar mereka bisa melacak aroma tersebut dengan indra mereka sendiri.
Salah satu goblin tampak mengendus-endus udara, lubang hidungnya kembang kempis. Makhluk itu tampaknya sudah mendeteksi bau tersebut berkat indra penciumannya yang sangat tajam. Gus segera mundur dan melangkah kembali ke arah desa, sambil terus meninggalkan jejak aroma kesturi di beberapa tempat sepanjang jalan. Dia mengatur takaran bubuk kesturi itu dengan sangat hati-hati agar kawanan monster tidak bergerak terlalu cepat, namun tetap bisa sampai di tujuan sebelum matahari sepenuhnya terbenam.
'Ini sudah lebih dari cukup.'
Dia hanya perlu memancing mereka hingga mendekati area desa. Gus kembali memutar tubuhnya. Sekarang saatnya menjemput Juhwan. Dia harus bergegas.
'Dia harus tetap selamat.'
Terselip sedikit rasa khawatir di benak Gus. Tak peduli seberapa kuatnya pria itu, dan bahkan jika dia bisa menggunakan sihir penyembuhan sekalipun, menghadapi kawanan goblin yang sedang dalam kondisi agresif dan mengamuk adalah hal yang sangat mematikan. Jika Juhwan bisa mundur pada momen yang tepat, dia mungkin tidak akan terluka parah, tapi tidak ada yang bisa menjamin keadaannya. 'Pria itu sangat menyayangi istri dan putrinya.'
Namun, ketika Gus akhirnya sampai di pondok Juhwan, sebuah pemandangan yang sama sekali di luar dugaannya terpampang nyata.
Mata Gus terbelalak lebar karena terkejut.
Dia mengira pada jam-jam seperti ini, para goblin sudah pasti akan berhasil menduduki dan menghancurkan rumah tersebut. Dia membayangkan Juhwan mungkin sudah terluka parah dan terkapar, atau sedang bersembunyi di suatu tempat sembari mengintai kesempatan untuk membalas.
'Astaga.'
Area di sekitar pondok justru dipenuhi oleh tumpukan mayat goblin yang bergelimpangan. Bagaimana mungkin pria itu bisa membantai monster sebanyak ini sendirian? Gus menyadari bahwa dia telah benar-benar salah menilai kemampuan Juhwan.
Terlebih lagi, sebagian dari jasad goblin itu hangus terbakar. Gus awalnya mengira tubuh mereka sengaja disulut api dari luar, namun pola lukanya berbeda. Kobaran api itu tampak membakar hangus dari dalam tubuh para goblin, bukan dari luar kulit mereka.
'Apakah dia bisa menggunakan dua atribut sihir sekaligus?'
Hanya ada sedikit sekali orang yang mampu menguasai lebih dari satu jenis sihir di dunia ini. Penyihir penyembuh saja sudah termasuk kategori langka, tetapi penyihir dengan multi-atribut jauh lebih langka lagi. Hanya penyihir tingkat atas yang berafiliasi langsung dengan pihak kerajaan yang sanggup melakukan hal sehebat itu.
Sebuah tawa sinis lolos begitu saja dari mulut Gus tanpa sadar. Rasakan itu. Riwayat sang kepala desa benar-benar sudah tamat sekarang. Hal ini bahkan sudah jauh melampaui batas kejahatan dari sekadar rencana busuk untuk menjual seorang penyihir penyembuh kepada bangsawan lain.
Ada sebuah hukum kuno yang hampir terlupakan terkait dengan keberadaan para penyihir. Itu bukanlah hukum resmi kerajaan, melainkan sebuah aturan khusus yang hanya berlaku di dalam wilayah kekuasaan tuan tanah ini saja. Gus pernah mendengar bahwa aturan itu dibuat di masa lampau demi mencegah agar aset penyihir tidak jatuh ke tangan penguasa atau tuan tanah lainnya. Siapa pun yang nekat menjual informasi tentang penyihir kepada bangsawan lain, atau sengaja menyembunyikan informasi terkait penyihir dari tuan tanah mereka sendiri, maka hukumannya adalah hukuman pancung.
Selama hampir seratus tahun terakhir, belum pernah ada lagi orang yang dieksekusi pancung karena alasan tersebut. Hampir tidak ada satu pun warga biasa yang mengetahui keberadaan hukum kuno ini. Bagi mereka yang tidak berurusan dengan dunia sihir, hukum itu seolah-olah dianggap tidak pernah ada.
Namun, penguasa wilayah yang sekarang menjabat ternyata pernah menggunakan hukum ini sebagai dalih untuk memancung kepala seseorang di masa lalu. Gus berhasil mengorek informasi berharga tersebut saat dia sedang giat mengumpulkan latar belakang demi bisa bekerja di bawah naungan seorang bangsawan.
Karena alasan itulah, Gus sengaja membocorkan informasi tentang kemampuan sihir Juhwan kepada sang kepala desa. Mengetahui bagaimana tabiat asli pria tua itu, Gus sudah sangat yakin sang kepala desa pasti akan menjadi serakah dan ingin menguasai sang penyihir untuk keuntungannya sendiri. Dan benar saja, sang kepala desa bertindak persis seperti yang telah Gus prediksikan sebelumnya. Sungguh menggelikan melihat betapa mudahnya isi kepala orang itu dibaca.
Gus terpaksa harus melepaskan jalan hidupnya sebagai seorang pemburu murni karena serangan kawanan goblin di masa lalu. Jika bukan karena monster-monster jahanam itu, dia pasti sudah berhasil menjadi pemburu terbaik di wilayah ini sekarang.
Namun, ada hal yang jauh lebih busuk dan kejam daripada monster goblin, yaitu tabiat asli para penduduk desa itu sendiri. Mereka mengundang seorang pemuda asing yang lugu dari tempat yang jauh, lalu mengirimnya naik ke atas gunung maut ini tanpa persiapan apa pun. Tidak ada satu pun orang yang sudi memperingatkannya tentang bahaya di atas sini, karena mereka takut pemuda itu akan langsung kabur jika mengetahui fakta yang sebenarnya. Mereka semua bersekongkol rapat untuk menipu pemuda tersebut. Seluruh warga desa terlibat dalam konspirasi busuk ini.
Dan pendosa paling besar di antara mereka semua tidak lain adalah sang kepala desa itu sendiri. Sosok yang menduduki jabatan tertinggi itulah yang telah menentukan keputusan kejam tersebut selama beberapa generasi. Kepala desalah yang menghasut dan mendesak seluruh warga untuk bertindak sekeji itu.
Gus menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan emosinya yang mulai bergejolak. Sekarang bukan saat yang tepat untuk terbawa suasana. Babak akhir dari rencana balas dendamnya sudah berada di depan mata, dan dia wajib bertindak dengan sangat hati-hati.
Setelah memastikan bahwa rumah Juhwan telah kosong, Gus segera melangkah turun menuju desa.
Sebagian besar orang-orang tua yang hidup di masa mudanya dulu memang sudah meninggal, namun generasi penduduk yang tinggal di desa itu sekarang memiliki tabiat busuk yang sama persis. Mereka masih terus menjebak orang-orang asing yang tidak tahu apa-apa dan menumbalkan mereka ke atas gunung.
'Semuanya harus mati saja.'
Tidak ada satu pun orang di desa jahanam itu yang pantas untuk tetap hidup. Termasuk dirinya sendiri, mereka semua layak untuk mati.
───────────────
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments