Header Ads Widget

Chapter 39 - Aku Melindungi Keluargaku (feat. Dorothy)

 


Goblin yang tadinya mengancam Dorothy dengan cakarnya tiba-tiba melompat mundur. Tampaknya makhluk itu merasakan bahaya; alih-alih menyerang Juhwan, ia justru berbalik dan melarikan diri.

Juhwan menegakkan punggungnya dan mengangkat kapaknya tinggi-tinggi. Dia mengayunkannya ke bawah dengan sekuat tenaga. Brak! Kepala goblin itu terbelah dua. Mata kapak yang tebal tertanam sangat dalam. Darah merah pekat si goblin bercampur dengan tanah dan menciprat ke tubuh Juhwan.

"Satu tumbang," gumam Juhwan sambil menendang goblin itu hingga terkapar. Kapak yang tadinya tertancap erat di antara daging dan otot terlepas dengan suara basah yang menjijikkan.

Tanpa memandang lagi ke arah goblin yang tewas, Juhwan langsung berlari ke depan.

Dari arah hutan, segerombolan goblin tampak mulai bermunculan. Juhwan kembali mengayunkan kapaknya ke arah goblin yang posisinya paling dekat dengan pagar.

Kapak yang ia incar ke arah leher justru bersarang di antara bahu dan leher makhluk itu. Ini tampaknya memang ciri khas fisik goblin—leher mereka jauh lebih pendek daripada manusia. Suara pekikan melengking mirip babi yang disembelih langsung meledak dari mulut goblin tersebut.

Saat menarik kapaknya kembali, Juhwan langsung mengincar bagian kepala. "Dua." Melihat kepala goblin itu hancur, Juhwan segera memutar tubuhnya.

Namun, ada sesuatu yang terasa ganjil. Mata dari beberapa goblin terlihat merah menyala seperti darah. Juhwan tidak tahu apakah semua goblin seperti itu, tetapi sebagian besar yang paling mencolok mata memang memiliki ciri tersebut.

"...."

Tingkah laku mereka juga terasa aneh. Apakah goblin dari awal adalah makhluk yang akan menyerang membabi buta tanpa memedulikan apa pun? Meskipun mereka melihat sendiri Juhwan membantai kawan-kawan mereka tepat di depan mata, mereka tetap saja berlari kencang menuju pagar rumah.

Tiba-tiba, Juhwan menyadari ada yang menonjol dari bagian depan tubuh beberapa goblin yang sedang menyerang. Kain buruk yang melilit pinggang mereka tampak menggembung.

'Bajingan-bajingan ini, target mereka adalah Lizzie.'

Juhwan teringat pernah membaca di sebuah novel bahwa goblin sering menculik wanita. Rasa amarah yang seketika memuncak membuat pandangannya sempat menggelap. Rasanya seperti ada sekring yang putus di dalam kepalanya.

Juhwan langsung mencengkeram tubuh goblin terdekat. Begitu ia menyalurkan sihirnya, kobaran api langsung meletup dari tangannya. Kobaran api ini bahkan jauh lebih besar dan dahsyat dibandingkan saat ia menghadapi kawanan serigala sebelumnya.

Sambil menjerit histeris, goblin itu berguling-guling di tanah. Ia berusaha keras untuk memadamkan api yang membakar tubuhnya, tetapi kobaran itu sama sekali tidak mau padam.

Tanpa memedulikan makhluk yang sedang sekarat itu, Juhwan mencengkeram goblin berikutnya dan membakarnya dengan sihir. Dalam sekejap, ada tiga atau empat goblin yang hangus terbakar.

Tidak ada waktu untuk memeriksa mereka yang sudah tumbang. Juhwan memutar tubuhnya, melompat ke arah kerumunan goblin, lalu mengayunkan kapaknya dengan lebar. Dua goblin langsung terjungkal begitu terkena tebasan kapak.

Namun, jumlah goblin terlalu banyak.

Satu goblin berhasil melompat dan menerkam punggung Juhwan. Makhluk itu melingkarkan lengannya di leher Juhwan lalu menggigit telinganya dengan kasar.

Juhwan tidak punya waktu untuk mengaduh akibat rasa sakit yang tajam itu. Dia langsung meraba ke belakang, mencengkeram rambut si goblin, lalu merenggutnya dengan paksa.

Kobaran api langsung meledak membakar tubuh goblin tersebut, membuat jeritan melengking bergema tepat di telinga Juhwan.

Dia melemparkan goblin yang terbakar itu menjauh.

Juhwan sama sekali tidak memeriksa apa yang terjadi pada makhluk itu karena goblin lain sudah kembali menerjang ke arahnya. Ia berlari ke depan sambil terus mengayunkan kapak.

Sekerang sudah tidak ada waktu lagi untuk mengincar bagian tubuh yang spesifik seperti kepala atau leher. Juhwan hanya terus menghantamkan mata kapaknya ke tubuh para goblin dan terus merangsek maju.

Dengan suara debukan keras, tubuh-tubuh kecil goblin itu bertumbangan satu demi satu ke tanah.

"Sialan!"

Umpatan kasar lolos begitu saja dari mulutnya tanpa sadar.

Beberapa goblin tampak mendekati pagar dari arah yang berada di luar jangkauannya. Juhwan berlari mengejar mereka, menjulurkan tangannya, dan langsung merilis sihir api.

Namun, dia tahu dia harus tetap tenang. Juhwan tidak boleh menghabiskan seluruh tenaganya sekaligus. Bisa jadi ada kelompok goblin lain selain yang ada di sini. Untuk melindungi istri dan anaknya hingga detik terakhir, dia harus menghemat stamina. Dia tidak boleh kalah oleh emosi dan dorongan sesaat.

'Tidak apa-apa. Aku pasti bisa melindungi mereka.'

Kalian pikir aku akan membiarkan keluargaku menderita di tangan makhluk-makhluk menjijikkan ini? Sama sekali tidak. Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh bahkan seujung jari atau sehelai rambut mereka pun.

Untuk mencegah pagar bambu itu roboh, Juhwan sebelumnya telah memasang bilah-bilah bambu secara horizontal di bagian tengah. Kini, beberapa goblin menggunakan celah itu sebagai pijakan kaki untuk memanjat naik.

Bagian atas pagar tersebut semuanya sudah dipotong runcing menyerupai tombak. Meskipun tubuh mereka tertusuk dan mereka menjerit kesakitan, para goblin itu tetap saja nekat merangkak naik.

Juhwan berlari ke sana dalam satu tarikan napas, lalu mencengkeram pergelangan kaki seekor goblin yang mencoba melompati pagar.


Jeritan keras menggema di udara. Lizzie segera menarik Dorothy masuk ke dalam. Ini bukan waktunya untuk termangu. Suaminya sedang bertaruh nyawa di luar sana...

'Tenang, Lizzie. Kuatkan dirimu.'

Meseipun dia tidak bisa memberikan banyak bantuan, setidaknya dia tidak boleh menjadi beban. Lagipula, dia tidak sendirian. Dorothy ada bersamanya.

Brak! Pagar bambu di dekat mereka mendadak berguncang hebat.

"Eek!"

Lizzie melonjak kaget.

Meskipun Juhwan sudah menancapkannya dengan sangat dalam, bambu tetap saja lebih lemah dibandingkan dengan pagar kayu yang tebal. Jika dihantam beberapa kali lagi seperti itu, pagarnya bisa roboh. Lizzie merasa sangat ketakutan hingga kakinya gemetar hebat.

Di balik pagar yang tinggi, tangan dan kepala seekor goblin tiba-tiba muncul. Matanya yang berkilat menatap tajam ke arah Lizzie dan Dorothy. Pemandangan itu begitu mengerikan hingga membuat tubuh Lizzie gemetar.

Namun tak lama kemudian, makhluk itu terseret kembali ke belakang diiringi jeritan yang aneh. Tampaknya Juhwan telah menariknya jatuh. Benar, suaminya ada di sana. Lizzie segera membalikkan tubuh menghadap ke dalam rumah.

"Dorothy, masuk ke dalam rumah. Cepat."

Lizzie mendorong punggung anak yang sedang menangis itu. Dia ingin ikut masuk bersamanya, tetapi dia tidak bisa.

Jumlah goblin sangat banyak, sedangkan Juhwan hanya sendirian. Goblin yang luput dari jangkauan Juhwan bisa saja menerobos masuk ke dalam rumah. Dia harus membantu menghadang dari dalam area pagar. Lizzie menatap Dorothy dengan senyuman yang dipaksakan.

"Tidak apa-apa, jangan khawatir, Dorothy. Ayah akan melindungi kita. Tapi kamu harus tetap di dalam. Kunci pintunya dan bersembunyilah di bawah tempat tidur seperti waktu itu."

"Bagaimana dengan Ibu?"

"Ibu akan membantu Ayah dari sini. Jadi..."

Tepat pada saat itu, mata Dorothy terbelalak lebar. Wajah kecilnya dipenuhi dengan rasa takut yang luar biasa.

Saat Lizzie berbalik, seekor goblin ternyata sudah bergelantungan di pagar, mencoba menyelinap masuk.

Lizzie dengan cepat mendorong anak itu ke arah rumah dan berlari sendirian ke tempat bilah-bilah bambu yang berserakan.

Masih ada beberapa potong bambu yang tersisa saat Juhwan membuat pagar dulu. Lizzie langsung menyambar potongan bambu terpendek yang ujungnya runcing.

Lizzie berteriak ke arah Dorothy yang masih berdiri termangu.

"Dorothy, masuk ke dalam! Cepat!"

Satu kaki goblin itu sudah berhasil melewati pagar. Darah menetes dari tangannya yang tertusuk ujung bambu yang runcing, tetapi goblin itu tidak berhenti.

Di balik pagar, jeritan para goblin masih terus terdengar. Juhwan masih bertarung tanpa henti tanpa jeda sedikit pun.

Lizzie menggigit bibirnya. Dia harus berani. Paling tidak, dia harus bisa memukul mundur makhluk-makhluk yang mencoba menerobos masuk. Dia harus membantu suaminya.

Lizzie menyeret bambu tersebut. Bambu yang biasanya diangkat Juhwan beberapa batang sekaligus dengan mudah, terasa sangat panjang dan berat bagi Lizzie.

Goblin itu sudah bersiap mencondongkan badannya untuk melompat turun. Lizzie mencoba bergerak lebih cepat, tetapi jaraknya masih terlalu jauh.

Tiba-tiba, tubuh goblin itu tersentak jatuh ke bawah, seketika dilalap oleh kobaran api. Di saat yang sama, beberapa bilah bambu yang dipanjat oleh goblin tersebut miring ke arah luar.

Jantung Lizzie rasanya seperti berhenti berdetak. Untungnya, pagar itu tidak patah atau roboh sepenuhnya, tetapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

'Apakah Juhwan baik-baik saja?'

Tangan-tangan goblin yang mencoba memanjat pagar bermunculan di sana-sini. Setiap kali itu terjadi, Juhwan akan langsung berlari menghampiri. Dia jelas-jelas sudah memaksakan dirinya melampaui batas. Jumlah goblin terlalu banyak. Bagaimana jika dia terluka? Lizzie merasa sangat cemas.

Kemudian, tangan seekor goblin kembali mencengkeram bagian atas pagar.

Lizzie menggenggam erat bilah bambunya. Dia berlari sambil memegang bambu yang ujungnya terseret di atas tanah.

Begitu kepala goblin itu menyembul, Lizzie mengangkat tombak bambu dan menusukkannya ke arah makhluk itu.

Namun, serangannya tidak berjalan mulus. Bambu yang diangkat ke udara itu ternyata jauh lebih berat dari yang dia duga, membuat ujung bambunya goyah di udara.

Lizzie akhirnya menumpukan ujung belakang bambu ke tanah dan mendorongnya ke arah pagar. Karena posisinya yang sangat dekat dengan pagar, dia berada sangat dekat dengan goblin itu, hingga ia bisa merasakan embusan napas makhluk yang menjijikkan itu menerpa tubuhnya melalui udara.

Tubuhnya sempat membeku karena didera rasa takut.

'Tidak apa-apa. Aku tidak takut.'

Lizzie mempertahankan posisi bambunya pada pagar dan mendorongnya ke atas dengan sekuat tenaga.

Ujung tajam bekas potongan Juhwan berhasil menembus tangan si goblin. Goblin itu menjerit kesakitan.

'Bagus, sekali lagi.'

Lizzie menarik sedikit bambunya ke bawah, lalu menusukkannya kembali ke atas.

Namun, goblin yang sedang menjerit itu justru menjatuhkan tubuhnya melewati pagar dan mencengkeram tombak bambu Lizzie dengan satu tangannya.

Tombak bambu yang dicengkeram oleh goblin itu sama sekali tidak bisa digerakkan. Lizzie merasa sangat panik. Dia mencoba menarik tombak itu kembali dengan sekuat tenaga, tetapi usahanya sia-sia.


Dorothy berdiri mematung, sama sekali tidak bisa menggerakkan kakinya seolah-olah lengket ke tanah. Ibunya Lizzie menyuruhnya lari ke dalam rumah, tetapi kakinya benar-benar kaku.

Suara-suara mengerikan memenuhi lingkungan sekitar. Wajah-wajah goblin terus bermunculan dari balik pagar. Itu sangat menakutkan.

Namun, ada hal yang jauh lebih menakutkan bagi Dorothy. Bagaimana jika ayah dan ibu menghilang? Bagaimana jika monster-monster itu memakan mereka?

Waktu ayahnya pergi ke gunung dan tidak kunjung kembali, Dorothy masih baik-baik saja. Dia tidak takut sama sekali. Tapi sekarang...

"Ibu... Ayah..."

Apa yang harus dilakukan? Apa yang harus Dorothy lakukan? Air mata mulai berlinang dan menetes ke bibirnya.

Kemudian, Dorothy melihat Ibunya Lizzie menusukkan bambu ke atas, dan pada saat itulah seekor monster mencengkeram bambu tersebut.

"Eek!"

Suara pekikan aneh keluar dari mulutku tanpa kusadari. Hiks, hiks... suara isakan aneh yang disusul oleh cegukan mulai menyerangku. Setiap kali aku tercegukan, tubuhku rasanya seperti melonjak.

Ini gawat. Ibunya Lizzie mencoba menarik tombaknya, tetapi monster itu jauh lebih kuat. Aku harus membantu Ibu. Kalau tidak, dia akan dimakan oleh monster itu. Kedua kakiku gemetar hebat.

"Ugh, Oz, aku takut."

Hiks, hiks... suara tangis dan cegukanku terus saja keluar.

Lalu, bagian depan bajuku mendadak terasa bergerak berat. Pop! Sepasang telinga kelinci mencuat keluar. Oz menggeliat dan berpegangan pada kantong bajuku, lalu tiba-tiba melompat keluar.

"Oz!"

Oz bergerak sangat cepat. Kelinci itu bergerak lincah seperti seekor tikus. Dia melompat-lompat dan berlari dengan sangat cepat.

"Hah?"

Oz berlari ke tempat Ibu berada, lalu tiba-tiba melompat tinggi ke udara. Dia benar-benar terbang ke atas. Hah, apakah kelinci bisa terbang? Padahal dia tidak punya sayap?

Oz, yang melesat ke langit, langsung menempel di wajah monster itu. Tampaknya tangan kecilnya sedang mencengkeram wajah si monster, jalannya terlalu cepat hingga aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Setelah itu, dia menggerakkan kaki-kakinya dengan kecepatan yang luar biasa. Oz mulai menendang-nendang wajah monster itu dengan kakinya.

"Cepat sekali!"

Dorothy berteriak keras tanpa sadar.

Ibu tampaknya juga terkejut. Dia hampir saja menjatuhkan bambunya, tetapi dengan cepat mencengkeramnya kembali.

Sementara Oz terus menendang monster itu bertubi-tubi, Ayah sepertinya sudah tiba di lokasi. Sebuah kapak besar melayang dan langsung tertancap di bahu goblin tersebut.

Oz mencicit pelan lalu melompat turun kembali ke tanah.

Goblin itu pun lenyap dari atas pagar.

"Sudah selesai! Oz, monsternya sudah kalah!"

Luar biasa. Saat Dorothy berlari mendekat, Oz menegakkan telinganya seolah-olah sedang memamerkan kekuatannya, lalu mencicit sekali lagi.

Mata Ibu terbelalak lebar. Dia segera memegang erat bambunya dan memutar tubuh, bersiaga menatap pagar kembali. Ibu juga sangat berani! Tubuhnya gemetar hebat, tapi dia tetap berani!

"Dorothy, kamu juga harus kuat!"

Sambil mendekap Oz yang berlari kembali ke pelukannya, Dorothy melihat ke sekeliling. Jika ada monster yang berani masuk, Dorothy yang akan menghentikannya. Dorothy sekarang sudah kuat.

Ibunya Lizzie juga masih mengawasi area pagar dengan bambu di tangannya.

Bagus! Kami semua pemberani! Dorothy adalah anak yang berani!

Kemudian, aku melihat tangan goblin lain mulai merayap naik melewati pagar.

Dorothy dengan cepat berbicara pada Oz.

"Oz! Di sebelah sana! Ada monster di sebelah sana!"

Telinga kelinci itu tampak bergerak-gerak. Mungkin karena Oz masih bayi, dia tidak mengerti apa yang aku katakan. Dia hanya mendongak menatap Dorothy dengan matanya yang bulat dan hitam, seolah merasa aneh.

Oz, kamu dan aku adalah satu tubuh dan satu pikiran. Jadi, pergilah. Pergi dan gigit mereka! Tendang dengan kaki-kakimu! Berlarilah dengan berani!

"Serang, Oz!"

Ketika Dorothy berteriak, Oz menegakkan telinganya dan mengendus-endus hidungnya seolah sedang membaui sesuatu. Oz yang konyol.

"Cepatlah! Monsterna mau datang!"

Begitu aku mengatakannya sekali lagi, Oz tampaknya baru mengerti. Dia melompat dari tangan Dorothy dan mendarat di lantai.

Lalu dia berlari. Sangat cepat. Dalam sekejap mata, dia sudah berlari sampai ke pagar tempat monster itu berada.

"Terbang! Oz, terbang!"

Asalkan Dorothy adalah pemimpinnya, Dorothy harus memberikan perintah. Oz adalah anak buah, jadi dia tidak bisa bertarung tanpa adanya perintah.

Begitu Dorothy berteriak, Oz langsung melesat tinggi ke langit.

Namun, sebelum Oz sempat mengalahkan monster itu, si penjahat sudah menghilang duluan. Pagarnya bergetar hebat dan dengan suara derit yang keras, makhluk itu terseret menjauh. Ayah sudah membereskannya lebih dulu.

"Oz, tidak apa-apa kalau Ayah yang mengambilnya duluan. Monster berikutnya baru bagianmu!"

Tanpa disadari, semua hal yang menakutkan kini telah hilang. Karena ada Ayah dan Oz di sini, semuanya akan baik-baik saja. Sekarang, Dorothy yang akan melindungi Ibu. Monster-monster itu pasti akan tamat kalau berani mengusik Dorothy!

"Oz, bertahanlah!"

Telinga kelinci kecil itu tampak bergerak-gerak dan mengepak pelan.

───────────────


Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments