Header Ads Widget

Chapter 37 - Akhir dari Perburuan Panjang yang Kian Dekat

 

 Akhir dari Perburuan Panjang yang Kian Dekat

Gus menahan napas dan mengamati dengan senyap dari tempat persembunyiannya. Ada sesuatu yang aneh. Kondisi perkampungan goblin saat ini terlihat sangat berbeda dari biasanya.

Goblin pada dasarnya adalah makhluk yang kasar, barbar, dan kejam. Mereka selalu berkelahi satu sama lain di dalam kelompoknya. Sudah menjadi hal yang biasa jika satu atau dua ekor goblin tewas akibat saling bantai hanya demi memperebutkan seorang wanita manusia.

Namun hari ini, para goblin tampaknya jauh lebih agresif dan bersemangat dari biasanya. Gus bisa mendengar suara perkelahian hebat beberapa goblin dari dalam gua tempat mereka menyekap para wanita curian. Sementara di area luar gua, beberapa goblin tampak sedang dikeroyok dan dipukuli secara brutal oleh puluhan goblin lainnya.

Dengan menjaga jarak tertentu, puluhan goblin berdiri berkerumun bagaikan sebuah pulau yang terisolasi di tengah lautan. Namun, alih-alih merasa terintimidasi oleh situasi itu, mereka semua justru tampak sangat bersemangat. Napas mereka terengah-engah memburu, seolah-olah sudah siap untuk menerkam mangsa kapan saja.

Bahkan goblin-goblin yang tadinya berada di tempat jauh pun tampaknya merasakan pergolakan ini dan mulai berjalan mendekat. Jumlah goblin yang berkumpul di depan area gua kian bertambah banyak dari waktu ke waktu.

'Jangan-jangan...'

Malapetaka yang paling ditakutinya telah benar-benar terjadi. Gus menyeka keringat dingin yang membasahi telapak tangannya ke celana.

Di dunia ini, tidak ada goblin berjenis kelamin perempuan. Gus pernah mendengar cerita kuno bahwa goblin perempuan memang eksis di masa lampau, namun tidak ada satu pun orang yang pernah melihat wujudnya di zaman sekarang. Mungkin jumlah mereka terlampau sedikit hingga luput dari perhatian, atau mungkin mereka sudah punah sepenuhnya. Tidak ada yang benar-benar tahu pasti apa yang sebenarnya telah terjadi pada ras mereka.

Bagaimanapun juga, hal inilah yang membuat para goblin begitu mendambakan wanita manusia yang memiliki kemampuan untuk bereproduksi. Persaingan untuk memperebutkan wanita di kalangan mereka jauh lebih sengit, brutal, dan berdarah dibandingkan dengan kawanan binatang buas atau monster lainnya. Mungkin faktor kelangkaan kaum perempuanlah yang memicu hal ini. Bagi seekor goblin, melampiaskan nafsu berahi jauh lebih utama dan mendesak daripada memuaskan rasa lapar di perut mereka.

Menilai dari atmosfer mencekam yang ada saat ini, sesuatu telah berubah akibat serangan terhadap kelompok manusia baru-baru ini. Tampaknya telah terjadi sebuah pemberontakan internal di antara hierarki mereka. Gus pernah mendengar rumor bahwa ketika rasa lapar dan nafsu berahi yang terpendam sudah melampaui batas toleransi makhluk-makhluk barbar ini, pergolakan perebutan kekuasaan seperti ini sesekali bisa pecah.

Ketika sebuah pemberontakan terjadi, kelompok goblin yang kalah akan diusir secara paksa dari kelompok utama. Dan jika mereka diusir dan telantar di dalam hutan, hanya ada satu tempat yang akan menjadi tujuan utama mereka: sebuah desa manusia yang dihuni oleh para wanita.

'Ini terlalu cepat.'

Para petualang tangguh yang diutus dari kota belum juga tiba di desa. Mereka dijadwalkan baru akan sampai nanti malam. Jika kawanan goblin pemberontak itu bergerak menyerbu desa sebelum waktu tersebut, maka seluruh rencana pencegahan yang disusunnya akan hancur berantakan.

Raut wajah Gus seketika mengeras. Dia selama ini selalu membawa sebuah benda khusus di pinggangnya untuk mengantisipasi situasi darurat seperti ini, berpikir bahwa skenario terburuk ini suatu saat bisa saja terjadi. Hari ini, dia mungkin terpaksa harus mempergunakannya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Gus selalu berusaha menghindari penggunaan benda tersebut, tetapi melihat perkembangan situasi yang kian mendesak, dia tidak memiliki pilihan lain.

Tiba-tiba, bayangan wajah putri dari mendiang penjaga gunung sebelum ini terlintas di dalam benaknya. Anak itu bertubuh kecil dan sangat jarang tersenyum. Dia selalu bersembunyi di dalam rumah setiap kali ada orang asing yang datang berkunjung, dan wajahnya selalu memasang ekspresi kosong yang datar setiap kali Gus melihatnya.

Gus sebenarnya tidak memiliki perasaan emosional atau keterikatan khusus apa pun pada anak itu. Bocah yang malang bisa ditemukan di mana saja di dunia yang kejam ini, dan di luar sana masih ada banyak sekali anak kecil yang nasibnya jauh lebih tragis daripada bocah perempuan tersebut. Namun, memikirkan bahwa anak itu belakangan ini akhirnya mulai bisa tersenyum kembali setelah tinggal bersama keluarga barunya, membuat hati Gus sedikit terasa perih. Hati Gus bagaimanapun juga tidak terbuat dari bongkahan besi murni. Dia tidak sekejam itu sampai bisa merasa senang melihat seorang anak kecil kembali menderita.

'Lagi pula, anak itu bahkan bukan target dari balas dendam ini.'

Juhwan dan keluarganya adalah darah luar, bukan keturunan asli dari penduduk desa bresek itu. Mereka bukanlah mangsa sejati yang selama ini menjadi sasaran utamanya. Namun...

Gus perlahan melonggarkan cengkeraman tangannya yang sempat mengepal kuat selama beberapa saat. Dia sudah tahu bahwa segalanya akan bermuara seperti ini sejak awal. Bagaimanapun juga, istri dan anak perempuan Juhwan sudah ditakdirkan untuk menjadi korban pengorbanan demi tujuannya. Sudah terlambat untuk memelihara rasa bersalah sekarang.

Tiba-tiba, dia teringat kembali pada untaian kata-kata yang diucapkan oleh ayahnya di saat-saat terakhir sebelum mengembuskan napas terakhir.

"Aku membesarkanmu sebagai seorang pemburu sejak usia yang terlampau dini. Kau tidak tahu banyak hal mengenai bagaimana cara menjalani hidup sebagai seorang manusia seutuhnya. Sifat dan kepribadianmu memang sangat sempurna untuk menjadi seorang pemburu, tetapi sangat cacat sebagai seorang manusia. Anakku, jalan hidupmu terlalu menyedihkan... Dan fakta bahwa kau sendiri bahkan tidak menyadari ketidakbahagiaan itu adalah sebuah kemalangan yang teramat besar. Sungguh kasihan nasibmu, wahai anakku..."

Yah, mungkin ucapan mendiang ayahnya itu ada benarnya. Sejak menginjak usia sekitar dua puluh tahun hingga hari ini, dengan mata yang selalu menatap ke arah kematian, Gus hidup semata-mata hanya demi bisa menuntaskan ritual perburuan terakhirnya.

Nilai luhur terbesar dari seorang pemburu sejati adalah kegigihan dan kesabaran. Dalam jangka waktu yang sangat lama, dia akan melacak setiap remah jejak yang ditinggalkan oleh mangsanya dengan penuh ketelitian, melangkah maju dengan ritme konstan yang tidak terlalu cepat namun juga tidak terlalu lambat. Dan dia akan terus menunggu hingga tiba momen di mana seluruh kekuatan sang mangsa telah terkuras habis tanpa sisa. Sampai saat yang tepat itu tiba, dia hanya akan terus membayangi tanpa kehilangan jejak, lalu menunggu. Itulah esensi sejati dari berburu.

"...."

Sang ayah sendirilah yang telah mengajarkan prinsip itu kepadanya dulu. Ayahnya selalu merasa bangga dan memujinya, mengatakan bahwa Gus terlahir dengan bakat alami sebagai seorang pemburu, serta mencurahkan kasih sayang yang jauh lebih besar kepadanya dibandingkan kepada anak-anaknya yang lain—menjulukinya sebagai satu-satunya putra mahkota yang akan meneruskan jejak kejayaannya. Rasanya akan sangat tidak bertanggung jawab jika dia menganggap seluruh ajaran hidup itu salah sekarang.

Di masa kanak-kanaknya dulu, sang ayah adalah sosok idola yang sangat dia agungkan. Namun seiring berjalannya waktu, ketika tubuhnya kian menua dan ajal mulai mendekat, ayahnya berubah menjadi seorang pria tua biasa yang lemah. Dia bukan lagi seorang pemburu yang perkasa.

'Ayah, kau bilang hidupku tidak bahagia, tapi kau salah besar.'

Sebenarnya apa itu arti kebahagiaan? Jika ada suatu tujuan besar yang sangat ingin kau capai bahkan dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri sebagai taruhannya, dan kau merasakan letupan sukacita yang teramat sangat saat berhasil mewujudkannya, bukankah hal itu sudah bisa disebut sebagai sebuah kebahagiaan?

Gus menatap telapak tangannya sendiri. Tangan tua itu tampak bergetar lamat-lamat. Segalanya akan segera selesai. Jika dia bisa bertahan sedikit lebih lama lagi, jika dia mau bersabar sebentar lagi, maka momen sakral yang telah dinanti-nantikannya selama puluhan tahun akan segera tiba. Seluruh sel di dalam tubuhnya seolah menyuarakan hal yang sama dan sedang tersenandika penuh kemenangan.

'Bukankah ini yang dinamakan kebahagiaan, Ayah? Kau keliru.'

Terlebih lagi, sekarang dia bahkan memiliki seorang murid tempat di mana dia bisa mewariskan kesaksian dari momen-momen terakhir hidupnya. Gus memang belum sempat mengajarkan seluruh rahasia ilmu yang dimilikinya, tetapi setidaknya dia telah berhasil menanamkan fondasi dasar yang kokoh bagi pria asing itu untuk bertransformasi menjadi seorang pemburu yang tangguh.

Pria itu kelak mungkin akan sangat membenci, menaruh dendam yang mendalam, dan tidak akan pernah mau memaafkan perbuatannya. Namun bagaimanapun juga, Juhwan telah mewarisi seluruh esensi dari keterampilan berburunya. Juhwan saat ini memang masih memiliki banyak sekali hal yang harus dipelajari. Dia masih berstatus sebagai seorang pemburu yang hijau dan belum matang.

Namun, Gus telah menurunkan semua pengetahuan unik dan berharga yang dimilikinya kepada pria itu. Juhwan mungkin belum menyadarinya saat ini, tetapi kelak dia pasti akan mengerti segalanya. Bahkan jika Juhwan sendiri belum menjadi seorang pemburu yang sempurna, hal-hal yang dia pelajari secara langsung dengan cara memperhatikan gerak-gerik Gus selama ini pasti akan terngiang kembali dan sangat berguna baginya di masa depan.

Ya, seluruh ilmu yang telah diajarkan oleh Gus pasti akan menjelma menjadi sebutir benih unggul yang luar biasa dan akan mekar dengan indah di dalam diri pria tersebut. Sosok pemburu ideal yang gagal diwujudkan oleh Gus sendiri—sosok legendaris yang selalu diimpikannya selama ini—akan mencapai titik kesempurnaannya melalui sosok Juhwan. Gus sangat meyakini hal tersebut.

'Ayah, jalan hidupku benar-benar sempurna.'

Tidak akan ada satu pun orang yang bisa menyangkalnya. Takdir hidupnya telah digenapi dengan sempurna berkat kedatangan Juhwan ke gunung terpencil ini.

Gus kembali mengalihkan fokus pandangannya ke arah perkampungan goblin.

Sesosok goblin yang penampilannya terlihat seperti sang pemimpin suku tampak melangkah keluar dari dalam gua. Postur tubuhnya terlihat sekitar satu kepala lebih tinggi dibandingkan dengan goblin-goblin lainnya. Pemimpin suku itu menggenggam sebatang gada kayu yang besar di tangannya.

Sang pemimpin suku berjalan dengan langkah lambat mendekati kawanan goblin yang tergeletak tak berdaya di atas tanah akibat perkelahian tadi. Dia langsung mengayunkan gadanya dan menghantam salah satu dari mereka dengan keras. Pekikan jerit kesakitan goblin tersebut seketika menggema membelah udara.

Kelompok pemberontak yang tampaknya baru saja mengobarkan aksi kudeta itu terlihat berada di kubu yang sama dengan goblin yang sedang dipukuli, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang berani memberikan perlawanan. Beberapa di antaranya tampak menggeliatkan tubuh mereka dengan gelisah atau bergerak-gerak seolah hendak melompat menyerang, namun tidak ada satu pun yang memiliki keberanian untuk menantang otoritas sang pemimpin suku yang kejam.

Pemimpin goblin itu secara brutal terus memukuli satu target itu tanpa ampun. Dia baru menghentikan ayunan gadanya setelah bagian wajah korban pengeroyokan itu hancur total hingga tubuhnya terkulai lemas tak bernyawa di atas tanah.

Sang pemimpin melempar gada kayu di tangannya, lalu memungut sebilah pedang besi yang tampaknya merupakan barang jarahan yang dirampas dari tangan manusia. Saat dia mengeluarkan suara geraman dan raungan yang sangat mengancam ke arah kelompok pemberontak, sekitar lima puluh ekor goblin dari kubu pemberontak langsung tersentak ketakutan dan melangkah mundur secara serentak.

Goblin-goblin lain yang menghuni desa itu perlahan-lahan mulai mengepung dan mendekati kelompok pemberontak tersebut. Kubu pemberontak itu pun kian tersudut hingga akhirnya dipaksa melangkah mundur meninggalkan area perkampungan, seolah-olah sedang diusir secara paksa dari wilayah suku mereka.


Jebakan Aroma Kesturi

Gus segera bergerak gesit mengikuti arah ke mana kelompok goblin pemberontak itu pergi. Dia tahu dirinya tidak boleh berada terlalu dekat dengan mereka. Dengan tetap menjaga jarak aman yang konstan sembari sesekali memastikan tanda-tanda keberadaan mereka melalui remah jejak di tanah, Gus membayangi pergerakan mereka secara senyap.

Meskipun pola hidup kaum goblin tergolong sangat primitif, mereka bagaimanapun juga memiliki sistem bahasa komunikasi dan strategi berburu mereka sendiri. Sudah barang tentu, mereka juga mengetahui dengan sangat pasti di mana lokasi koordinat desa manusia terdekat yang dihuni oleh para wanita.

'Sudah kuduga, mereka memilih jalur yang ini.'

Letak pondok milik Juhwan sebenarnya berada tepat di rute utama menuju ke arah desa, namun ada satu jalur alternatif lain di hutan ini yang tidak melewati area sekitar pondok tersebut. Dan kawanan goblin pemberontak itu saat ini sedang melangkah menyusuri rute alternatif yang memutar tersebut.

Gus meraba pinggangnya dan mengeluarkan sebuah kantong kain berukuran kecil. Di bagian dalamnya, terdapat sebuah kotak mini yang disegel dengan sangat rapat menggunakan lilin malam. Di dalam kotak misterius itu tersimpan butiran bubuk halus yang terbuat dari organ tubuh kijang kesturi (musk deer) yang telah dikeringkan.

Menurut cerita kuno yang beredar, beberapa generasi yang lalu, ada seorang penguasa wilayah (lord) yang sengaja mendatangkan spesies kijang tersebut dari sebuah daratan asing yang sangat jauh untuk dilepaskan di kawasan pegunungan ini. Kijang kesturi jantan memiliki kelenjar aroma unik dengan wewangian khas yang biasa digunakan untuk memikat lawan jenisnya di musim kawin. Ekstrak aroma kesturi ini dulunya sempat menjadi primadona yang sangat populer di kalangan para bangsawan tinggi karena khasiatnya yang konon dipercaya mampu meningkatkan gairah berahi secara instan.

Namun, upaya untuk mengembangbiakkan mereka di gunung ini berakhir dengan kegagalan total, dan sebagian besar dari kijang-kijang impor tersebut mati tanpa sisa karena tidak cocok dengan iklim. Orang-orang mengira bahwa spesies itu sudah punah sepenuhnya dari area ini, tetapi beberapa tahun lalu Gus secara tidak sengaja berhasil menemukan satu ekor yang tersisa. Waktu itu, dia menyaksikan seekor goblin yang sedang dalam masa berahi puncak tengah memburu kijang kesturi itu seperti makhluk gila yang kehilangan akal.

Sadar bahwa aroma kuat dari kesturi memiliki daya pikat yang sangat mematikan bagi indra penciuman kaum goblin, Gus menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk melacak keberadaan hewan tersebut. Hingga akhirnya beberapa tahun yang lalu, dia berhasil menangkap kijang itu dan mengekstrak butiran bubuk berharga ini. Jumlah yang dimilikinya memang teramat sedikit, tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk menjalankan rencananya.

Gus mulai merusak segel lilin pada kotak kecil itu untuk memancing atensi kawanan goblin pemberontak agar mengubah rute mereka. Butiran bubuk itu sengaja dibagi-bagi ke dalam beberapa kantong kain mini, di mana masing-masing kantong hanya diisi dalam takaran yang sangat mikro—begitu sedikit hingga teksturnya lebih menyerupai remah debu halus yang menempel daripada gumpalan bubuk nyata.

Dia mengeluarkan salah satu kantong kain kecil tersebut, lalu mengibas-ngibaskannya dengan lembut mengikuti arah embusan angin yang sedang bertiup menuju rute alternatif para goblin.

Di kejauhan, salah satu goblin tampak mendadak tersentak kaget dan mulai mengendus-endus udara di sekitarnya dengan hidungnya yang pesek. Makhluk itu memutar kepalanya, menatap waspada ke segala penjuru arah.

Seulas senyuman sinis langsung terkembang di wajah Gus. Sesuai dugaan, umpan ini berhasil dengan sempurna.

Begitu ada satu goblin yang menunjukkan reaksi, goblin-goblin lainnya tampak ikut menangkap rangsangan aroma memikat tersebut. Kelompok pemberontak itu seketika menjadi sangat gaduh dan gelisah, mengalihkan pandangan mereka dari jalur desa menuju ke arah sumber bau.

Gus dengan cepat menggosok-gosokkan kantong kain berisi kesturi itu ke beberapa batang pohon di sekitarnya, lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak penyimpanan. Dia segera melesat meninggalkan area tersebut dan berlari kencang menuju ke arah pondok Juhwan. Sepanjang rute pelariannya, Gus sengaja mengoleskan aroma kesturi itu pada batang-batang pohon yang dilewatinya di sana-sini. Dia hanya meninggalkan intensitas aroma yang tipis agar kawanan goblin itu terus melacak jalurnya tanpa bisa mengejar posisinya dengan terlalu cepat.

Kawanan goblin itu kini mengubah arah pergerakan mereka dan berlari lurus menuju ke arah pondok—persis seperti skenario jebakan yang telah dirancang oleh Gus.


Batasan Sihir dan Perubahan Hati Juhwan

Sementara itu, di tempat lain, Juhwan menghela napas panjang.

Percakapan api yang keluar dari ujung jari-jarinya sejauh ini masih berukuran sekecil nyala korek gas biasa. Bahkan ketika dia mencoba untuk membakar suatu objek, dia tetap belum bisa menciptakan kobaran api yang berskala besar sesuai keinginannya. Dia memang bisa menghanguskan sesuatu yang berukuran sekecil tubuh kelinci dalam sekejap mata, namun hal itu menjadi sangat sulit diimplementasikan pada objek yang memiliki dimensi lebih besar. Dia belum pernah lagi berhasil menciptakan amukan api besar seperti momen krusial saat dirinya pertama kali berhadapan dengan serigala hutan dulu.

Terlebih lagi, tampaknya dia tidak bisa dengan mudah merenggut nyawa makhluk hidup menggunakan sihir apinya secara langsung. Dia pernah bereksperimen sekali saat berhasil menangkap seekor kelinci liar, namun hewan itu ternyata tidak mati dengan mudah oleh apinya. Hanya sebagian kecil dari tubuh si kelinci yang terbakar, dan tampaknya sihirnya membutuhkan pasokan energi yang jauh lebih besar atau durasi waktu yang lebih lama agar kobaran api bisa melahap seluruh anatomi tubuh hewan tersebut secara utuh.

Pada akhirnya, Juhwan terpaksa harus menyembelih kelinci yang setengah terbakar itu menggunakan pisau berburunya. Ada perasaan bersalah yang sempat menyelinap di hatinya karena telah menyebabkan hewan itu menderita kesakitan akibat luka bakar, namun dia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa tindakan eksekusi ini adalah hal yang mutlak diperlukan demi bertahan hidup.

Rasa bimbang dan guncangan batin yang hebat yang dirasakannya saat pertama kali memanah dan membunuh seekor kelinci dulu kini terasa bagaikan sebuah kebohongan fiktif belaka. Juhwan sampai saat ini sebenarnya masih belum bisa memahami sepenuhnya makna terselubung di balik setiap instruksi berburu yang diberikan oleh Gus selama ini. Mungkin ada maksud yang jauh lebih mendalam di balik semua itu daripada apa yang sekadar dipikirkan oleh isi kepalanya. Mungkin suatu hari nanti, dia baru akan bisa mengerti niat sejati dari pria tua itu.

Namun setidaknya, intensitas keragu-raguannya untuk membunuh dan memanfaatkan hewan buruan demi kepentingannya kini sudah jauh berkurang. Pengalaman menangkap dan menyembelih kelinci liar setiap hari secara langsung telah menumpulkan kepekaan emosionalnya terhadap darah.

"...."

Juhwan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bayangan visual dari kelinci-kelinci yang dieksekusinya itu sebenarnya masih kerap terbayang di dalam benaknya; memori itu tidak pernah hilang begitu saja. Namun, rasa muak atau ngeri yang dulu selalu menyertai kini telah memudar tanpa sisa.

'Aku benar-benar telah berubah.'

Rasanya seolah-olah ada selembar lapisan aspal tebal yang baru saja dihamparkan di atas permukaan hatinya yang dulu lembut. Sama halnya dengan aliran air sungai yang tidak akan pernah bisa berdiam diri di satu titik yang sama, dirinya pun saat ini sedang bergerak mengalami perubahan rasa. Dia sendiri tidak tahu apakah transformasi karakter yang menjadi lebih dingin ini merupakan sebuah pertanda baik atau justru sebaliknya.

Juhwan kembali melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak hutan. Sembari melakukan rutinitas memeriksa jerat hewan setiap harinya, dia juga aktif memantau kondisi keamanan kawasan pegunungan yang mengelilingi rumah tinggalnya. Hari ini pun tidak ada hal aneh atau mencukurigakan yang terlihat di sekitar sana. Semuanya aman. Tidak ada tanda-tanda kawanan serigala maupun kemunculan hewan pemangsa yang berbahaya.

Namun bagaimanapun juga, ini adalah sebuah gunung liar yang dihuni oleh makhluk mistis sejenis kelinci bertanduk. Tidak akan ada yang pernah tahu monster jenis apa lagi yang bisa tiba-tiba muncul dari balik semak-semak hutan. Oleh karena itu, dia harus selalu berada dalam kondisi siaga satu.

Terlebih lagi, mengingat area pegunungan ini memiliki bentangan yang sangat luas, rute patroli memutar yang dilakukannya setiap hari sebenarnya masih jauh dari kata sempurna. Masasih ada banyak sekali titik-titik koordinat tersembunyi yang luput dari pengawasannya dan terlewat begitu saja. Jumlahnya cukup banyak. Mungkin memang merupakan sebuah hal yang mustahil untuk bisa memantau seluruh area gunung raksasa ini secara presisi dengan hanya menjadikan rumah tinggal mereka sebagai titik poros pusatnya.

'Bagaimana kalau hari ini aku mencoba menjelajahi rute alternatif yang agak berbeda?'

Waktu yang dimilikinya saat ini masih tergolong longgar. Berkat penguasaan medan hutan yang kian membaik dari hari ke hari, dia sudah berhasil menyelesaikan pengecekan di seluruh rute patroli standarnya, sementara sisa waktu menuju jam makan siang masih terhitung cukup lama.

Juhwan memungut sebatang ranting pohon berukuran kecil dari atas permukaan tanah. Dia memotong ranting itu hingga seukuran telapak tangannya, lalu mulai mencoba menyalurkan energi sihirnya ke dalam serat kayu tersebut sembari terus melangkah berjalan.

Kali ini, fokus tujuannya bukanlah untuk menghanguskannya secara instan. Dia ingin mencoba melatih kontrol energinya agar api bisa terus menyala stabil di atas permukaan ranting tanpa merusak material kayunya. Jika dia berhasil mempertahankan nyala api pada media kayu seperti ini, maka fungsi pemanfaatannya di masa depan akan meningkat drastis. Untuk saat ini, satu-satunya aplikasi praktis yang terlintas di dalam otaknya hanyalah pembuatan anak panah api, tetapi tidak menutup kemungkinan ada banyak fungsi hebat lainnya yang bisa dieksplorasi nanti.

Namun kenyataannya, teori itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Begitu dia menyalurkan energi sihir dan memicu letikan api, ranting kecil itu langsung hangus terbakar menjadi abu dalam sekejap. Skala kekuatan sihirnya tampaknya masih terlampau masif dan destruktif untuk media kayu sekecil itu.

'Hah...'

Dia sudah tahu akan hal itu; dinamika kehidupan memang tidak pernah berjalan dengan mudah. Jika ada satu hal positif yang bisa dijadikan sebagai pelipur lara, itu adalah fakta bahwa kontrol kemampuan eksekusi sihir apinya kini sudah terasa sedikit lebih luwes dan terlatih dibandingkan dengan sebelumnya.

Walaupun dari penampakan luar fisik apinya tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok, sensasi rasa yang dirasakannya secara personal sudah sangat berbeda. Berdasarkan batasan intuisi rasa yang dikuasainya, kini dia sudah mulai bisa membatasi dan mengurangi volume pasokan energi sihir yang disalurkannya agar tidak terlalu luber. Namun tetap saja, takaran minimal yang bisa diputuskannya saat ini masih terhitung terlalu kuat hingga langsung menghanguskan ranting kayu dalam sekali picu.

Juhwan kembali menghela napas pasrah, lalu mengambil sebatang ranting baru lainnya dan mulai menyalurkan energi sihir ke dalamnya. Namun, kayu itu kembali hangus terbakar menjadi abu dalam sekejap. Dia kembali mengembuskan napas panjang yang sarat akan keletihan batin.

'Mungkin kalau aku mengosongkan perut dan sengaja melewatkan beberapa waktu makan, kontrol sihirku bisa menjadi lebih stabil.'

Api yang telah diresapi oleh energi sihirnya anehnya sama sekali tidak memancarkan hawa panas yang membakar selama kobaran api itu masih berada di dalam genggaman telapak tangannya sendiri. Namun, begitu lidah api itu lepas dari kontak fisiknya, suhunya akan langsung melonjak drastis menjadi sangat panas membara seperti api pada umumnya hingga tidak bisa disentuh lagi oleh kulit. Mungkin hal itu terjadi karena aliran energi sihirnya masih terhubung secara kontinu selama melekat pada tubuhnya. Juhwan sendiri masih belum tahu pasti apa formula ilmiah di balik fenomena aneh tersebut.

Juhwan sengaja menunggu hingga sisa potongan ranting yang kini telah menjelma menjadi bara merah membara itu mendingin sepenuhnya, sebelum akhirnya melemparkannya ke atas tanah dan memungut sebatang ranting baru lainnya untuk dicoba kembali. Walaupun seluruh rangkaian latihan yang dilakukannya saat ini terlihat tidak memberikan hasil nyata apa pun dan tampak sia-sia, dia tahu ini adalah sebuah proses krusial yang wajib terus dia latih secara konsisten tanpa henti.

Sama halnya dengan teknik melayangkan pukulan dalam bela diri, menjaga ritme dan takaran energi yang tepat adalah kunci keberhasilan yang paling vital. Jika kau mengerahkan seluruh pasokan tenagamu secara jor-joran di fase awal pertempuran, kau hanya akan berakhir dengan kegagalan total akibat kehabisan napas di momen-momen krusial terakhir.

Dia memang belum pernah dihadapkan pada situasi krisis yang mengancam nyawa seperti itu sejauh ini, tetapi tidak akan ada satu pun orang yang bisa menjamin bagaimana jalannya takdir di masa depan nanti. Sama seperti visualisasi seorang manusia yang sehat bugar bisa saja tiba-tiba tewas mengenaskan akibat kecelakaan tragis esok hari, malapetaka dan bahaya bisa datang menyambar secara tiba-tiba bak kilatan petir di siang bolong kapan saja tanpa ada pemberitahuan awal.

'Aku sendiri sudah pernah mengalami fase pahit seperti itu beberapa kali di hidupku.'

Suatu hari nanti, dia mungkin saja harus berhadapan dengan kepungan musuh dalam jumlah yang tak terhitung, atau bertarung melawan entitas makhluk yang jauh lebih kuat daripada dirinya sendiri. Jika posisinya saat itu sedang hidup sebatang kara seorang diri, dia mungkin masih bisa menggunakan berbagai cara untuk melarikan diri dan menyelamatkan nyawanya sendiri. Namun situasi sekarang sudah berbeda; kini dia memiliki tanggung jawab penuh atas keselamatan Lizzy dan Dorothy. Dia sama sekali tidak boleh kalah, apa pun risiko dan konsekuensi yang harus dihadapinya nanti.

Namun, kenapa kontrol energi ini masih belum kunjung berhasil juga? Sembari menekan rasa frustrasi dan mengasihani diri sendiri yang mulai membuncah di dalam dada, Juhwan kembali menyalurkan energi sihirnya ke sebatang ranting kayu baru. Hasilnya tetap sama: gagal lagi. Meski begitu, dia menolak untuk menyerah dan kembali mencobanya sekali lagi.

Untuk sesi latihan berikutnya, mungkin dia benar-benar harus mencoba mempraktikkannya dengan kondisi perut yang kosong sehabis melewatkan beberapa waktu makan. Tiba-tiba, di dalam benaknya seolah terngiang lengkingan suara Dorothy yang sedang berkata, "Ayah kasihan sekali..."

"...."

Lamunannya buyar seketika saat dirinya melangkah menyusuri sebuah jalur alternatif yang sangat jarang dilewatinya dan berjalan sedikit lebih jauh masuk ke dalam vegetasi hutan. Sesosok makhluk hidup tiba-tiba melompat keluar dengan cepat dari balik semak-semak yang rimbun.

"!"

Makhluk itu ternyata adalah seekor rusa hutan. Ukuran dimensi tubuhnya terlihat sedikit lebih besar dibandingkan dengan spesies rusa air Korea yang biasa dia ketahui. Selama melakukan perburuan bersama Gus dulu, dia bahkan belum pernah sekalipun melihat keberadaan hewan ini berkeliaran di area sekitar sini, namun entah bagaimana hari ini hewan tersebut bisa berjalan turun hingga ke titik koordinat ini. Juhwan sempat tersentak kaget karena kemunculannya yang tiba-tiba.

Sang rusa yang tampaknya ikut terkejut melihat kehadiran Juhwan langsung membelalakkan sepasang mata bulatnya, lalu berbalik kilat melompat masuk melarikan diri ke dalam rimbunnya vegetasi hutan yang lebih dalam.

"Ah."

Juhwan baru tersatukan sedetik kemudian bahwa dirinya seharusnya langsung memburu dan menangkap hewan tersebut. Pasokan daging dari seekor rusa utuh tentu akan bisa menyediakan stok logistik bahan makanan yang jauh lebih melimpah dan lezat bagi keluarganya dibandingkan dengan daging serigala hutan yang keras. Namun karena gerakan tangannya terlambat sepersekian detik saat hendak meraih persediaan anak panah di punggungnya, sosok siluet tubuh rusa itu kini telah hilang lenyap sepenuhnya ditelan lebatnya pepohonan hutan.

'Lain kali, aku bersumpah tidak akan membiarkan mangsa seperti itu lolos lagi dari bidikanku.'

Juhwan berdecak lidah dengan kesal, lalu kembali mengayunkan langkah kakinya untuk melanjutkan perjalanan patrolinya. Namun tepat pada momen itulah, sepasang matanya menangkap adanya cetakan jejak kaki asing yang sama sekali tidak familier di atas permukaan tanah.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments