Header Ads Widget

Chapter 36 - Pintu Pagar Baru dan Rahasia si Anak Kelinci

 

Pintu Pagar Baru dan Rahasia si Anak Kelinci

Juhwan melangkah ke luar rumah dengan sangat pelan agar tidak membangunkan Lizzy.

Gus sempat mengatakan bahwa dia tidak akan bisa datang berkunjung selama beberapa hari ke depan. Pria tua itu tampaknya sedang sibuk karena suatu alasan.

Setelah berada di luar, Juhwan menambah sedikit kayu ke dalam api unggun untuk menghalau dingin, lalu mulai melanjutkan pembuatan pintu pagar yang belum sempat dia selesaikan kemarin. Pekerjaan itu ternyata jauh lebih sulit dari perkiraannya. Karena ingin membuat pintu yang cukup mulus dan ringan agar mudah dibuka oleh Lizzy maupun Dorothy, Juhwan merasa keterampilannya yang pas-pasan ini benar-benar diuji.

Tepat sebelum langit mulai terang, Lizzy terbangun. Sisa-sisa kantuk masih terlihat jelas di wajah istrinya saat dia melangkah keluar untuk memeriksa keadaan Juhwan. Melihat hal itu, Juhwan menghentikan pekerjaannya sejenak dan pergi mengambil air bersih dari mata air.

Sementara Juhwan mengambil air, Lizzy mulai mencuci pakaian. Di dunia yang tidak memiliki mesin cuci ini, mencuci adalah sebuah pekerjaan besar yang sangat menguras tenaga. Pakaian yang telah direndam di dalam air campuran abu semalaman dibilas, lalu dicuci kembali menggunakan air bersih sejak pagi-pagi buta. Semua pakaian itu sudah harus selesai digantung di jemuran tepat saat matahari terbit.

Baju-baju ukuran kecil milik Dorothy tentu masih mudah ditangani. Namun, barang-barang berukuran besar seperti selimut kain sangatlah sulit untuk diperas oleh tenaga seorang wanita sendirian, apalagi untuk dibentangkan di atas bilah-bilah bambu tinggi agar kering. Tanpa adanya mesin pengering, kain tebal yang basah kuyup rasanya jauh lebih berat dari yang dibayangkan.

Setiap kali Juhwan ada di rumah, dia pasti akan selalu turun tangan membantu. Namun entah mengapa, Lizzy cenderung selalu ingin menyelesaikan semua pekerjaan itu sendiri tanpa membebani suaminya. Masalahnya, setiap kali Lizzy mulai mencuci, Dorothy pasti akan bersikeras ikut "membantu", yang ujung-ujungnya malah membuat tugas mencuci menjadi semakin berantakan dan merepotkan.

Untungnya, cucian mereka hari ini tergolong sedikit. Hanya ada satu gaun milik Dorothy dan beberapa helai pakaian Juhwan sendiri.

Juhwan kembali melanjutkan pekerjaannya memasang pintu pagar. Pada saat dia akhirnya berhasil menggantung pintu pagar bambu tersebut dengan pas, matahari sudah menjulang tinggi di atas kepala.

Kemarin dia sama sekali tidak memeriksa perangkap hewan miliknya. Karena sehari sebelumnya tidak ada satu pun kelinci yang tertangkap, dia sempat berpikir bahwa tidak perlu memeriksa jerat-jerat itu setiap hari.

Dorothy sempat merasa sangat kecewa karena hal itu. Anak kecil itu tampaknya berpikir bahwa dua atau tiga ekor kelinci bisa ditangkap dengan mudah setiap harinya. Jujur saja, Juhwan pun sebenarnya merasakan kekecewaan yang sama. Dia mengira setidaknya mereka bisa mendapatkan satu ekor kelinci per hari. Dia sangat berharap hari ini keberuntungan berpihak pada mereka.

Sebelum berangkat ke hutan, Juhwan menyempatkan diri untuk merapalkan sihir penyembuh pada anak kelinci yang baru saja terbangun dan sedang menggeliat aktif di keranjangnya. Meskipun bulu-bulu halus belum tumbuh kembali di area bekas luka, daging di tubuhnya sudah lumayan menutup dengan baik. Organ-organ dalamnya pun seharusnya sudah pulih sebagian besar.

Tepat ketika dia merasa telah menyalurkan energi sihir yang cukup, seberkas cahaya redup tampak merembes keluar dari dahi si anak kelinci. Tepat di bagian tonjolan tanduknya. Cahayanya tidak memancar terang ke mana-mana, melainkan terasa seperti ada sebuah bola lampu kecil yang mendadak dinyalakan di balik selembar kain tebal.

Namun, saat Juhwan mengerjapkan mata dan melihatnya kembali dengan saksama, makhluk itu sudah kembali berwujud seperti kelinci biasa. Hewan kecil itu hanya menatap balik ke arah Juhwan dengan mata hitamnya yang bulat lebar.

'Gus tidak pernah mengatakan hal seperti ini tentang kelinci bertanduk.'

Aneh sekali. Kemarin, saat mereka sedang belajar memanah, Juhwan sempat bertanya kepada Gus mengenai karakteristik kelinci bertanduk yang mereka temukan. Apakah hewan itu berbahaya, apakah aman untuk dipelihara di dalam rumah, dan pertanyaan-pertanyaan sejenisnya.

Juhwan memang tidak memahami seluruh kosakata yang diucapkan Gus, tetapi dari garis besar yang berhasil dia tangkap, kelinci bertanduk adalah sejenis hewan yang disebut dengan "masu" yang hidup di dalam hutan atau padang rumput liar. Berdasarkan pemahaman kasarnya, makhluk itu bisa dikategorikan sebagai monster atau binatang mistis jika di Bumi.

Dari penjelasan Gus, tampaknya masu bertanduk yang hidup di alam liar memiliki sifat yang sangat agresif dan berbahaya. Jika kau gegabah mendekatinya, mereka bisa saja menggigit dan bahkan membunuh anak-anak kecil. Namun, jika kau memelihara dan menjinakkannya sejak usia yang masih sangat dini, hal itu sama sekali tidak berbahaya. Gus bahkan sempat menjelaskan menggunakan isyarat tangan bahwa di luar sana memang ada orang-orang yang sengaja memelihara masu.

Meski begitu, bahkan setelah mengingat-ingat seluruh detail percakapan mereka, Gus sama sekali tidak menyebutkan hal apa pun tentang kemampuan tubuhnya yang bisa mengeluarkan cahaya. Jika Gus tahu, dia pasti akan menceritakannya. Atau jangan-jangan, ada jenis lain dari kelinci bertanduk ini?

Juhwan akhirnya mencoba berbicara langsung kepada anak kelinci yang masih menatapnya dengan mata bulat tersebut.

"Kau... kau sendiri juga tidak tahu kenapa dahimu bisa bercahaya begitu, kan? Apa kau benar-benar hanya seekor kelinci bertanduk biasa? Awas saja ya kalau kau ternyata makhluk aneh yang berbahaya. Kau sama sekali tidak boleh melakukan sesuatu yang mengancam keselamatan Lizzy dan Dorothy."

"...."

Anak kelinci yang sejak tadi hanya diam membisu itu tiba-tiba menggerakkan moncong mulutnya yang kecil dan mengeluarkan suara yang unik.

"Bip."

"...."

Aneh sekali. Memangnya kelinci bisa mengeluarkan suara "bip"? Makhluk masu ini mungkin sekilas memang terlihat seperti kelinci pada umumnya, tetapi bisa jadi mereka adalah jenis spesies hewan yang sama sekali berbeda.

Juhwan merendahkan tubuhnya, mencoba menatap lurus-lurus ke dalam manik mata kelinci bertanduk itu dengan ekspresi serius.

"Kau bisa mengerti kata-kataku?"

"Bip."

"Kau tidak bisa mengerti ya?"

"Bip."

Tampaknya hewan kecil ini memang tidak memahami ucapan manusia. Untuk memastikannya sekali lagi, Juhwan kembali merapalkan sihir penyembuh pada tubuh anak kelinci itu, tetapi kali ini bagian dahinya tidak memancarkan cahaya lagi. Dia sempat berpikir bahwa penglihatannya tadi mungkin hanya sebatas ilusi optik belakangan, tetapi dia tahu itu nyata. Cahaya misterius itu jelas-jelas bersumber dari tempat tanduknya berada.

'Lain kali jika aku bertemu Gus, aku harus bertanya apakah ada jenis masu yang memiliki karakteristik seperti ini.'

Juhwan segera mengemasi busur dan persediaan anak panahnya lalu melangkah ke luar rumah. Dia memilih untuk tidak membawa bekal makan siang hari ini. Tempat di mana dia pertama kali memasang jerat kelinci bersama Gus memang terletak sangat jauh di dalam hutan, tetapi belakangan ini setelah sering berkelana sendirian, dia berhasil menemukan banyak jejak kelinci di area yang dekat dengan rumahnya. Jadi, tidak ada alasan untuk berjalan terlalu jauh lagi.

Dari total lima jerat yang dipasangnya tempo hari, tiga di antaranya berhasil menangkap kelinci dengan sempurna.

Setelah dengan cepat membereskan hasil buruannya dan memasukkan kelinci-kelinci itu ke dalam tas kain, Juhwan menyempatkan diri untuk berjalan-jalan memutari area sekitar, mencari tahu apakah ada jejak kaki atau kotoran dari hewan liar jenis lain.

Dia memang belum mengenali seluruh jenis jejak kaki binatang di hutan ini. Sejauh ini dia baru belajar mengenali perbedaan jejak kelinci dan rusa dari Gus, sementara untuk hewan-hewan lainnya dia masih buta sama sekali. Namun, esensi utamanya adalah penting untuk sering melihat dan belajar langsung di lapangan. Begitulah cara Gus melatihnya selama ini. Bahkan jika kau tidak bisa langsung mengetahuinya saat itu juga, yang terpenting adalah melatih kepekaan mata untuk terbiasa melihat pola-pola jejak tersebut.

Salju masih menumpuk dengan cukup tebal di beberapa sudut hutan, sehingga dia sesekali masih bisa menemukan cetakan jejak kaki dengan jelas. Sebagian besar dari jejak yang ditemukannya berukuran kecil.

Anehnya, beberapa jejak kaki hewan liar di sini memiliki bentuk yang terlihat persis menyerupai anatomi manusia. Contohnya adalah jejak kaki tupai hutan. Bentuk cetakannya terlihat seperti struktur susunan tulang manusia berukuran mini yang tertinggal di atas permukaan salju. Untungnya ukuran jejak itu sangat kecil serta memiliki jumlah jari tangan dan kaki yang berbeda, kalau tidak, pemandangan itu pasti akan terasa sangat mengerikan dan mengundang bulu kuduk berdiri.

Tidak ada jejak kaki binatang besar yang mencolok di sekitar sana. Sebagian besar hanyalah sisa-sisa tanda yang ditinggalkan oleh satwa-satwa kecil. Juhwan menjelajahi kawasan gunung itu selama beberapa saat sambil terus menatap ke arah tanah, memeriksa apakah ada sesuatu yang bisa ditangkap atau buah liar yang bisa dipetik untuk dimakan. Namun, selain tiga ekor kelinci di dalam tasnya, tidak ada hasil buruan lain yang bisa dibawa pulang.


Kejutan dari Dorothy dan Kegelisahan di Desa

Sekitar waktu makan siang, Juhwan akhirnya tiba kembali di depan rumahnya.

Pintu pagar bambu yang baru dipasangnya tampak terkunci rapat dari dalam. Juhwan memang sengaja menginstruksikan Lizzy untuk selalu menguncinya demi keamanan.

Saat Juhwan melangkah mendekati pagar, dia baru saja hendak membuka mulutnya untuk memanggil nama Lizzy. Namun sebelum sempat mengeluarkan suara sepatah kata pun, dia mendadak mendengar pekikan suara Dorothy dari balik celah sempit di pintu.

"Ayah!"

"Dorothy?"

Terkejut karena kehadirannya langsung diketahui, dia menatap ke arah pintu pagar. Melalui celah kecil yang sedikit terbuka, dia bisa melihat sepasang mata bulat anak itu sedang mengintip keluar dengan jenaka.

"Ayah, Dorothy mau buka pintunya!"

Bersamaan dengan teriakan nyaring itu, terdengar suara palang kayu penutup yang ditarik dengan susah payah dari sisi dalam. Pintu pagar langsung terbuka lebar, dan bocah kecil itu melompat keluar dengan raut wajah penuh kemenangan.

"Ayah, lihat! Dorothy yang buka pintunya sendiri!"

"Oh ya? Apa kau sengaja berdiri di sana untuk menunggu Ayah pulang?"

"Iya! Dorothy nungguin Ayah pulang dari tadi. Nungguinnya banyaaak, banyaaak bangeeet!"

Dorothy menjulurkan sepuluh jari tangannya yang mungil ke depan Juhwan, lalu menunjukkannya sekali lagi dengan bersemangat. Tampaknya anak itu terus berjalan bolak-balik sejak tadi, mengintip melalui celah sempit di pintu hanya demi bisa menjadi orang pertama yang membukakan pagar untuk ayahnya.

"Terima kasih banyak ya, Dorothy."

"Sama-sama! Dorothy sekarang sibuk sekali!"

Anak itu tersenyum dengan sangat cerah lalu berbalik berlari kembali ke dalam rumah. Kali ini, dia berteriak dengan lantang memanggil ibunya.

"Ibu! Ayah sudah pulang! Ayah sudah datang!"

Melihat tingkahnya, bocah itu tampaknya memang terlihat sangat sibuk dengan dunianya sendiri. Juhwan mengunci kembali pintu pagar dari dalam lalu melangkah masuk menyusul langkah putrinya.

Karena Dorothy telah berhasil memenuhi janjinya membukakan pintu, sekarang dia langsung menagih janji Juhwan untuk memberikan nama pada anak kelinci bertanduk dan boneka barunya. Juhwan sebelumnya memang sempat berkata bahwa dia membutuhkan waktu untuk memikirkan nama yang bagus, tetapi entah bagaimana hal itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah syarat pertukaran di mata Dorothy.

Dia memutuskan untuk memberi nama kelinci itu Oz. Jika ada seorang anak perempuan bernama Dorothy, maka kehadiran sosok Oz adalah hal yang mutlak. Sementara untuk boneka kainnya, dia beri nama Toto—nama anjing peliharaan Dorothy yang setia di dalam kisah novel terkenal dari Bumi.

"Jadi namanya adalah Dorothy, Oz, dan Toto."

Mata Dorothy langsung berbinar-binar gembira mendengar nama-nama tersebut. Tampaknya dia sangat menyukai pilihan nama dari ayahnya.

"Dorothy, Oz, Toto!"

Dorothy berjalan berkeliling memutari setiap sudut ruangan rumah selama beberapa waktu, terus meneriakkan nama-nama itu berulang kali dengan riang sambil mendekap anak kelinci dan boneka kainnya di dalam keranjang.


Sementara itu, suasana di dalam maupun di luar area desa sedang diliputi oleh kebisingan yang tidak biasa. Bahkan saat hanya ada dua orang penduduk yang berkumpul di pinggir jalan, mereka akan langsung asyik berbisik-bisik membicarakan perihal goblin dengan raut wajah yang penuh dengan kecemasan mendalam.

Mereka sudah sering mendengar cerita dari para tetua sejak zaman dahulu bahwa goblin adalah makhluk yang sangat kejam dan mengerikan, dan para kakek buyut mereka sering menceritakan kisah-kisah mengerikan di masa lalu tentang kehancuran akibat ulah makhluk tersebut... Penduduk desa akan saling melempar pandang penuh ketakutan, dan begitu mereka membuka mulut untuk berbicara, topik yang dibahas pasti tidak akan jauh dari masalah goblin.

Seluruh warga desa merasa sangat tidak tenang dan gelisah setelah mengetahui kabar bahwa Gus baru saja menemukan keberadaan suku goblin di area pegunungan mereka. Atmosfer mencekam yang dipenuhi aura ketakutan ini sepertinya akan terus berlanjut hingga petualang yang diutus oleh pihak guild kota tiba di desa mereka.

Pada kenyataannya, para petualang tingkat rendah sebenarnya bukanlah sesuatu yang luar biasa, tetapi bagi para penduduk desa yang tidak berpendidikan dan tidak memiliki kekuatan bertarung sama sekali, orang-orang luar yang memiliki kemampuan untuk bertarung melawan monster terlihat bagaikan sosok pahlawan yang sangat mengagumkan.

Di tempat lain, kepala desa sedang menatap istrinya yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah dengan ganjalan wajah yang cemberut masam. Brak, brak! Wanita itu sengaja menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras dan menutup pintu rumah dengan kasar. Dia tampak sedang menyimpan rasa ketidakpuasan yang sangat besar di dalam hatinya.

Kepala desa menghela napas panjang melihat tingkah istrinya, lalu bertanya sambil menatap ke arah bagian belakang kepala wanita itu.

"Apakah seluruh pekerjaan membersihkan kereta kudanya sudah selesai kau lakukan?"

"Sudah," jawab istrinya singkat sambil melirik ketus ke arah suaminya.

Wajahnya masih menunjukkan ekspresi jengkel yang kentara. Nada suaranya terdengar sangat grutu, raut wajahnya masam, dan bibirnya maju beberapa senti ke depan seperti paruh bebek.

"Sebenarnya apa lagi yang membuatmu merasa begitu tidak puas?" tanya kepala desa dengan nada yang mulai tersulut kesal.

Mendengar pertanyaan itu, istrinya langsung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menumpahkan seluruh unek-unek kekesalan yang dipendamnya sejak tadi.

"Pekerjaanku sehari-hari di rumah ini saja sudah menumpuk sampai membuatku kewalahan setengah mati! Lalu kenapa sekarang kau tiba-tiba memintaku untuk membersihkan dan merawat sebuah kereta kuda besar yang bahkan sudah puluhan tahun tidak pernah kita gunakan? Kereta itu bahkan bukan milik pribadi keluarga kita, kenapa harus aku sendiri yang menanggung semua pekerjaan melelahkan itu?"

"Itu semua dilakukan karena..."

Kepala desa mencoba memberikan penjelasan, tetapi istrinya dengan cepat memotong kalimat suaminya tanpa memberi celah.

"Oh, lalu apa gunanya statusku sebagai istri seorang kepala desa di tempat ini? Bahkan jika aku telah bersusah payah merawat dan menyimpan kain-kain berharga itu dengan hati-hati selama ini, begitu pihak desa memintanya, aku dipaksa untuk menyerahkannya begitu saja demi kepentingan orang lain! Aku selalu dipaksa untuk melakukan semua kerja bakti komunal sendirian, padahal kereta kuda tua itu sudah telantar dan tidak pernah digunakan selama berpuluh-puluh tahun. Apa benda usang itu bahkan masih bisa berjalan dengan baik?"

Tampaknya wanita itu sebenarnya masih menyimpan rasa dendam dan tidak terima karena dipaksa menyerahkan persediaan kain berharganya kepada istri sang penjaga hutan tempo hari. Benar-benar tipe istri yang sangat merepotkan, pikir kepala desa.

Kepala desa kembali menghela napas panjang dan mencoba membuka mulutnya kembali. "Sudah kubilang kepadamu sejak awal tadi. Urusan kereta kuda itu sebenarnya..."

Namun, usaha kepala desa lagi-lagi harus kandas di tengah jalan. Istrinya yang terkenal bermulut cerewet itu kembali memotong pembicaraannya seperti burung beo yang tak bisa diam.

"Aku juga sudah tahu! Kau menyiapkan kereta itu untuk berjaga-jaga jika seandainya kawanan goblin benar-benar datang menyerang desa kita, atau jika jumlah mereka ternyata jauh lebih banyak dari perkiraan semula, sehingga keluarga kita bisa menggunakannya untuk melarikan diri dengan cepat! Tapi kan Gus sendiri sudah menegaskan bahwa jumlah goblin di atas gunung itu paling banyak hanya sekitar selusin saja!"

"Bisa diam dan dengarkan penjelasanku dulu tidak?!" teriak kepala desa dengan nada tinggi.

Pekikan itu seketika membuat istrinya tersentak kaget dan langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Akhirnya, suasana di dalam ruangan itu kembali diliputi oleh ketenangan. Benar-benar, jika kau selalu bersikap terlalu sabar dan diam saja sebagai suami, wanita ini akan mengira dia bisa menginjak-injak kepalamu sesuka hati. Kepala desa menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan emosinya.

"Tentu saja Gus berkata demikian berdasarkan apa yang dilihat oleh matanya saat itu. Tapi apakah kau bisa menjamin bahwa tidak ada goblin lain yang bersembunyi di tempat tersembunyi yang terlewat dari pengawasannya? Mereka bisa saja merupakan gabungan dari beberapa suku yang berbeda! Dan jika mereka tiba-tiba datang menyerbu desa ini di saat kita sama sekali tidak memiliki persiapan pertahanan atau rencana evakuasi, apa yang akan kau lakukan?!"

"...."

"Tidak semua hal di dalam dunia yang kejam ini akan selalu berjalan mulus sesuai dengan prediksi kasar kita. Sudah berapa banyak tragedi dan kejadian tak terduga yang telah aku saksikan dan lalui selama menjabat sebagai kepala desa di sini? Aku memiliki alasan yang sangat kuat untuk mengambil tindakan pencegahan ini, jadi berhentilah mengomel dan turuti saja perintahku."

"Tapi Sayang, jika memang tujuannya hanya untuk berjaga-jaga, kita kan sebenarnya bisa memuat barang-barang berharga kita ke atas gerobak kayu milik keluarga kita sendiri saja. Kenapa harus repot-repot membersihkan dan menggunakan kereta kuda besar komunal yang sudah lama telantar dan berdebu itu?"

Istrinya rupanya masih merasa sangat tidak rela karena harus menghabiskan tenaganya untuk membersihkan dan melakukan perawatan pada kereta kuda besar itu sendirian. Meskipun nada suaranya kini sudah mulai mengecil karena takut, dia tetap saja terus menggumamkan keluhannya.

Kereta kuda yang dimaksud oleh istrinya adalah sebuah kereta berukuran besar yang dibeli menggunakan dana bersama dan digunakan secara komunal oleh seluruh penduduk desa sejak zaman dahulu kala. Di masa-masa keemasan desa dulu, kereta itu kerap digunakan untuk mengangkut barang-barang hasil bumi dalam jumlah besar ke kota-kota besar untuk dijual dengan harga tinggi.

Sementara di masa-masa kelam atau saat bencana kelaparan hebat melanda wilayah tersebut, kereta yang sama juga digunakan untuk membawa dan menjual orang-orang atau anak-anak desa kepada pihak luar demi mendapatkan makanan agar penduduk yang tersisa bisa bertahan hidup.

Terkadang, kereta itu juga dialihfungsikan untuk mengantar anak perempuan desa yang menikah ke wilayah yang sangat jauh, atau untuk mengangkut para pria muda yang ditarik paksa untuk pergi ke medan perang. Benar-benar sebuah kereta komunal yang menyimpan banyak sejarah dan fungsi yang beragam.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, kondisi kereta itu kian menua dan usang. Ditambah lagi dengan populasi penduduk desa yang terus mengalami penyusutan drastis serta kondisi ekonomi yang kian menjepit dari tahun ke tahun, kereta itu menjadi sangat jarang digunakan lagi untuk kegiatan operasional. Kini, benda besar itu hanya berdiri telantar dan berdebu di lahan kosong yang terletak tepat di belakang rumah kepala desa.

Meskipun kondisinya sudah sangat tua, benda itu bagaimanapun juga tetap berstatus sebagai aset milik bersama seluruh desa. Oleh karena itu, setiap beberapa tahun sekali, para penduduk desa akan mendapatkan giliran secara berkala untuk membersihkan, memeriksa apakah ada komponen kayu yang mulai lapuk atau rusak, serta melakukan perbaikan ringan agar kereta tersebut selalu berada dalam kondisi siap pakai kapan saja diperlukan.

"Gerobak kayu milik kita itu bentuknya benar-benar terbuka lebar tanpa ada atap atau kain penutupnya sama sekali di bagian atas! Jika kita tiba-tiba menaikkan banyak barang berharga dan persediaan makanan ke atas gerobak itu di siang bolong, seluruh mata penduduk desa akan langsung melihatnya! Mereka akan langsung berpikir bahwa kepala desa mereka sedang bersiap-siap untuk melarikan diri dan menyelamatkan dirinya sendiri secara sepihak!"

"...."

"Sudah, hentikan semua ucapan omong kosongmu itu. Cepat masukkan beberapa persediaan bahan makanan pokok ke dalam kereta kuda besar itu secara diam-diam di saat tidak ada satu pun mata penduduk desa yang sedang memperhatikan ke arah belakang rumah."

"...."

"Kau mengerti maksudku, kan?"

"Iya... aku mengerti."

"Pastikan kau memuatnya dalam jumlah yang banyak dan royal. Jika pada akhirnya tidak terjadi hal buruk apa pun di desa ini, kita tinggal membongkar dan menurunkannya kembali ke gudang nanti. Jadi, jangan bersikap pelit atau ragu-ragu saat memasukkan barang-barang itu ke dalam kereta."

"....Sudahlah, berhenti mengoceh panjang lebar di depanku. Aku bilang aku sudah mengerti, kan."

Istrinya kembali mencebikkan bibirnya dengan kesal, lalu berjalan menghentakkan kakinya dengan kasar menuju ke arah dapur.

'Benar-benar seorang wanita yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk membaca situasi dan bahaya yang sedang mengancam,' batin kepala desa sambil mengernyitkan dahinya dalam-dalam dengan ekspresi penuh beban.

Sebenarnya, perjalanan terakhirnya saat pergi ke kota untuk menemui informan rahasianya tidak berjalan dengan semulus yang dia bayangkan sebelumnya. Keberadaan seorang penyihir dengan spesialisasi Penyembuh (Healer) memang dikatakan sebagai aset yang sangat langka dan dicari-cari oleh banyak pihak akhir-akhir ini. Namun, sang informan kota tidak serta-merta langsung menawarkan diri untuk menghubungkan kepala desa dengan pihak bangsawan tinggi dari wilayah lain.

Informan itu justru mengajukan banyak sekali pertanyaan mendetail yang menyelidik; seperti menanyakan di desa mana posisi penyembuh itu berada saat ini, dan seberapa kuat serta efektifkah skala kemampuan sihir penyembuhan yang dimiliki oleh pria asing tersebut.

'Pria informan itu memang berjanji akan segera menghubungi dan memberiku kabar kembali setelah dia mendapatkan jaringan yang tepat, tapi entah kenapa firasatku rasanya benar-benar tidak enak sejak kembali dari sana.'

Setidaknya, dalam pertemuan tersebut kepala desa berhasil mengikat janji resmi agar informan kota itu tidak membocorkan atau menjual informasi berharga mengenai keberadaan Juhwan kepada jaringan informan saingan lainnya, dan dia juga sudah berhasil mengantongi sejumlah kecil uang muka sebagai jaminan kesepakatan awal mereka.

Hal itu setidaknya bisa memberikan sedikit embusan napas lega bagi hatinya yang cemas. Namun, kepala desa tetap tidak bisa menahan desah napas beratnya yang sarat akan kekhawatiran saat memikirkan kemungkinan terburuk bahwa informasi mengenai sang penyihir misterius ini ternyata tidak bernilai setinggi atau sefantastis dari apa yang telah dia harapkan selama ini.

Sungguh, roda kehidupan di dalam dunia yang penuh misteri ini memang tidak akan pernah bisa berjalan persis seperti apa yang telah diprediksikan oleh akal pikiran manusia.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments