Header Ads Widget

Chapter 3 - Volume 1 Saikyou Kenja Fuufu no Kozukuri Jijou: Honoo to Koori ga Awasattara Sekai o Sukuemasu ka?

 Bab 3

Di tengah-tengah Desa Suzaku, sebuah pilar berwarna cerah menjulang tinggi layaknya pohon raksasa. Itu adalah kristal kutukan (curse crystal), 'Jushokaseru Kanata'. Sebuah malapetaka yang turun dari balik langit. Musuh beadi umat manusia. Meskipun kristal kutukan di Desa Suzaku telah berhenti memancarkan racun dan tidak lagi membahayakan nyawa secara langsung, benda itu tetaplah eksistensi yang menjijikkan.

Berdiri di atas puncak kristal kutukan tersebut, Shiranui menatap ke bawah ke arah desanya. Itu adalah desa yang asri dan indah. Namun, ukurannya sama sekali tidak besar. Shiranui melipat kedua tangannya di depan dada, berpikir keras. Tidak ada cukup lahan untuk menampung seluruh penduduk Byakko. Untuk memperluas lahan, mereka harus membuka hutan atau mengikis gunung.

Beberapa penduduk Desa Suzaku kemungkinan besar akan enggan mengubah bentuk tanah yang diwariskan dari leluhur mereka. Sejujurnya, Shiranui sendiri juga merasa agak enggan jika harus mengubah desa tersebut. Namun, karena mereka telah memilih jalan untuk hidup berdampingan antara kedua suku, tidak ada pilihan lain selain menerima perubahan. Bagi mereka yang masih menunjukkan keengganan, Shiranui akan terus berusaha membujuk mereka dengan sabar. (Bahkan jika kita memperluas Desa Suzaku, apakah itu akan benar-benar cukup...?)

Saat ia sedang berpikir, kristal kutukan di bawahnya tiba-tiba bergetar pelan. Shiranui menghentikan lamunannya dan menunduk. Ia melihat sesosok tubuh sedang berlari ke atas. Kristal kutukan itu berdiri hampir vertikal tegak lurus. Lerengnya sangat curam, membuatnya mustahil bagi orang biasa untuk bisa berlari ke atas.

Namun, sosok itu bukanlah orang biasa. Ia menciptakan pijakan balok es di bawah kakinya dan menggunakannya sebagai tumpuan untuk melompat. Dengan mengulangi gerakan itu secara berurutan, ia terus naik. Dalam sekejap, ia sudah berada tepat di hadapan Shiranui. "Ternyata kau ada di sini ya, Shiranui-san." "Aura." Wanita itu—Aura—tersenyum pada Shiranui.

Aura sedang berkunjung ke Desa Suzaku bersama adik laki-laki sekaligus wakil pemimpinnya, Blanc. Tujuan kunjungan mereka adalah untuk melakukan inspeksi dan menjalin interaksi dengan para penduduk Desa Suzaku. Penduduk Desa Suzaku menyambut Aura dengan baik. Para pria memujanya sebagai "kecantikan yang luar biasa," sementara para wanita, meskipun agak menaruh kasihan padanya karena dianggap sebagai "orang langka yang rela menjadi istri pemimpin yang pendiam," tetap menyambutnya dengan hangat.

Tadi, saat Shiranui sedang mengawal mereka mengelilingi desa, sekelompok wanita tiba-tiba berkumpul, menyebut perkumpulan mereka sebagai "pesta para gadis," dan hanya menarik Aura untuk ikut bersama mereka. Ditinggal sendirian, Shiranui pun hanyut dalam pikirannya di tempat ini, menunggu Aura dilepaskan. "Maaf soal ibu-ibu tadi. Sepertinya semua orang sangat tertarik padamu." "Aku sangat bersyukur kepada penduduk Desa Suzaku karena telah menerimaku dengan hangat. Mereka semua orang-orang yang sangat baik."

Setelah mengatakan itu, Aura bersendawa kecil. "E-eh, permisi. Memalukan sekali..." Shiranui tersenyum simpul. "Mereka pasti memaksamu makan dan minum lumayan banyak ya?" "Aku disuguhi makanan dan minuman yang berlimpah." Wajah Aura terlihat sedikit memerah, kemungkinan besar karena efek alkohol. Aroma manis dari anggur buah tercium samar-samar darinya.

"Desa Suzaku benar-benar tanah yang subur. Aku jadi mengerti kenapa leluhurmu tidak bisa meninggalkannya. Bagi seorang pemimpin, kehilangan rakyat karena kedinginan dan kelaparan adalah hal yang paling berat." Shiranui mengangguk. "Tapi era peperangan telah berakhir. Kita harus menciptakan era baru di mana kedua suku kita bisa hidup bersama." "Iya."

"Ini akan menjadi perjalanan yang panjang, tapi sebagai langkah pertama, aku ingin membangun sebuah rumah. Rumah kita." "Rumah..." "Pernikahan kita untungnya mendapat restu dari kedua belah pihak suku Suzaku maupun Byakko." Meskipun beberapa pria Byakko awalnya tidak terima dan menantang Shiranui, mereka pada akhirnya mau menerima Shiranui sebagai suami Aura. "Dengan hidup bersama dan, eh, menghasilkan keturunan, kita akan membuktikan bahwa kedua suku kita benar-benar bisa hidup berdampingan."

"Hidup bersama..." Wajah Aura, yang tadinya sudah memerah karena alkohol, kini semakin memerah. "A-apa kau tidak mau?" Aura langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak, sama sekali tidak! Bisa tinggal bersamamu, Shiranui-san, pasti akan... sangat, sangat menyenangkan." "T-terima kasih."

Mengingat bahwa memiliki anak adalah salah satu tujuan utama mereka, Shiranui sudah menduga bahwa Aura tidak akan menolak untuk tinggal bersamanya, tetapi persetujuannya yang begitu antusias terasa sangat melegakan sekaligus membahagiakan. Walaupun ia sempat jatuh pingsan karena mabuk di malam pertama mereka dan juga pingsan di pemandian air panas di Desa Byakko, sepertinya ia tidak kehilangan kasih sayang dari istrinya.

"Jadi, tentang hal itu. Aku ingin mendengar preferensimu untuk rumah kita nanti." "Preferensiku untuk rumah kita...?" "Karena kita akan menyimpan banyak sekali buku-buku sihir, kurasa kita butuh ruang yang cukup luas, tapi apakah ada hal lain yang kau inginkan?" "Hmm..."

Setelah berpikir cukup lama, jawaban Aura adalah, "Aku tidak punya keinginan khusus. Bisa tinggal bersamamu saja sudah lebih dari cukup untukku." "Begitu ya." Meskipun itu adalah jawaban yang menyenangkan, itu juga membuat Shiranui sedikit kebingungan. Adiknya, Hibari, pernah berkata, "Jika kau ingin membangun rumah, kau harus benar-benar mempertimbangkan keinginan Aura," dan Shiranui sangat setuju dengan hal itu. Namun, jika Aura tidak memiliki permintaan khusus, ia jadi bingung rumah seperti apa yang harus ia bangun.

(Kita pasti butuh banyak perpustakaan, tapi apa lagi...?) Bahkan Shiranui sendiri tidak memiliki gambaran konkret tentang rumah seperti apa yang ia inginkan. Namun, karena ini adalah rumah di mana ia akan tinggal bersama Aura, ia bertekad bulat untuk menjadikannya tempat yang membahagiakan bagi istrinya.

"Nanti kupikirkan lagi. Sebaiknya kita kembali sekarang?" "Um, karena aku masih merasa agak pusing karena alkohol dan keramaian tadi, bolehkah kita diam di sini sebentar lagi?" Shiranui mengangguk. "Ini tempat yang bagus untuk mencari angin. Sangat cocok untuk menjernihkan pikiranmu." "Iya. Dan di sini, hanya ada kita berdua..."

Aura mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Bahunya bersentuhan ringan dengan lengan Shiranui. (Ini...) Ia ragu-ragu, memikirkan apakah ia harus merangkul bahu istrinya. Ia harus. Tentu saja ia harus. Mereka berdua adalah suami istri. Tangan Shiranui bergetar saat ia mengangkatnya untuk merangkul bahu Aura.

(Ugh...!) Dua kali gagal melaksanakan tugas pembuatan anak telah membuat penghalang psikologisnya untuk menyentuh tubuh Aura menjadi sangat tinggi. Saat angin berhembus menerpa mereka, tangan Shiranui yang terangkat itu hanya bergetar canggung di udara.


"Rumah idaman Aura...?" Saat matahari terbenam dan langit berubah warna dari oranye menjadi biru tua, Shiranui berhasil mencegat Blanc dan mulai menginterogasinya. Aura sedang menyiapkan makan malam bersama Hibari. "Iya. Aku sudah bertanya langsung padanya, tapi dia bilang dia tidak punya preferensi khusus. Apa kau punya ide?"

Blanc menyentuh dagunya, memasang pose seolah sedang berpikir keras. "Istana, mungkin." Sesaat kemudian, itulah jawaban yang keluar dari mulut Blanc. "Seperti yang mungkin sudah Anda ketahui, rumah kakakku itu penuh sesak dengan buku-buku sihir." "Iya. Buku yang dia miliki bahkan mungkin lebih banyak dariku." "Faktanya, dia juga sangat menyukai buku cerita. Dia sangat suka dengan cerita yang menjadikan putri raja sebagai tokoh utamanya."

"Istana, ya..." "Iya. Putri raja kan tinggal di istana, bukan?" Blanc mendengus saat mengatakan hal tersebut. "Apakah Anda benar-benar berniat membangun istana untuk kakakku? Jangan cuma membangun rumah besar yang sedikit lebih mewah lalu menyebutnya istana lho ya."

Tampaknya Blanc sengaja memberikan tantangan yang tidak masuk akal sebagai bentuk pelampiasan rasa kesalnya kepada Shiranui. Namun, fakta bahwa Aura mendambakan kehidupan layaknya seorang putri kerajaan sepertinya memang benar adanya. "Terima kasih atas informasinya yang sangat berharga." Blanc menyipitkan matanya mendengar tanggapan Shiranui.

"...Apakah Anda benar-benar serius ingin membangun istana?" Atas pertanyaan Blanc tersebut, Shiranui menjawab. "Jika itu yang Aura inginkan, aku akan mewujudkannya."

Shiranui memiliki sebuah ide. Di sebelah utara Desa Suzaku terdapat daerah perbukitan yang dikenal sebagai Bukit Minel. Daerah itu dulunya merupakan wilayah Kekaisaran Berli, yang ibu kotanya terletak lebih jauh lagi ke arah utara. Dulunya ada sebuah kota di sana, tetapi empat puluh tahun yang lalu, sebuah kristal kutukan turun, memaksa seluruh penduduknya untuk mengungsi. Sejak saat itu, Bukit Minel telah berubah menjadi tanah kematian, yang hanya dihuni oleh seekor binatang buas kutukan (curse beast).

Kekaisaran Berli telah mengirim beberapa pasukan untuk memburu binatang kutukan tersebut, tetapi mereka semua selalu berujung dikalahkan. Begitulah sifat menyusahkan dari makhluk kutukan tersebut. Binatang kutukan yang berdiam di Bukit Minel memiliki ukuran yang sangat besar dan kuat, dan Kekaisaran Berli menjulukinya sebagai Yama. Shiranui pernah melihat Yama, sang binatang kutukan dari Bukit Minel. Meskipun ia tidak bisa melihat wujudnya dengan jelas dari kejauhan, ukuran raksasanya dan aura mengerikan yang sangat berbeda dari binatang buas magis mana pun sangat terasa mendominasi.

Pada saat itu, Shiranui juga memperhatikan adanya sebuah bangunan megah menyerupai istana di atas Bukit Minel. Bangunan itu sepertinya adalah kediaman milik penguasa wilayah tersebut. Shiranui pernah melakukan inspeksi ke Bukit Minel tiga tahun yang lalu. Istana itu seharusnya masih berdiri kokoh di sana. (Aku akan mengklaim istana itu.) Bukan hanya istana itu saja, melainkan seluruh kotanya.

Menurut aturan tidak tertulis sejak bencana kristal kutukan melanda, tanah yang dikuasai oleh binatang kutukan akan menjadi milik siapa pun yang berhasil membunuh binatang tersebut.

"Aku akan pergi ke Bukit Minel." Keesokan paginya, Shiranui memberitahu niatnya kepada Aura. "Eh?" Aura, yang sedang memandangi buku-buku sihir yang berjejer di rak perpustakaan bawah tanah Shiranui, menoleh ke arah suara dari belakangnya lalu memiringkan kepalanya. "Bukit Minel? Maksudmu bukit yang ada di utara itu...?" "Iya."

"Kukira daerah sana dihuni oleh binatang kutukan..." "Memang benar. Aku akan mengalahkan binatang kutukan itu." Mata Aura semakin membelalak lebar. "Binatang kutukannya? Aku dengar kalau binatang kutukan di Bukit Minel adalah entitas mengerikan yang bahkan tidak bisa ditangani oleh pasukan Kekaisaran Berli."

"Memang. Makhluk itu akan menjadi lawan yang sangat tangguh." "Kenapa kau harus melakukan hal senekat itu?" "Untuk menjadikan Bukit Minel sebagai tanah kita. Desa Suzaku terlalu kecil untuk dijadikan tempat tinggal bagi klan Suzaku dan Byakko bersama-sama. Hanya ada dua pilihan: memperluas lahan dengan menebangi hutan atau mencari lahan baru."

Aura mendengarkan dengan raut wajah kebingungan. Shiranui melanjutkan penjelasannya. "Aku berencana untuk mengambil kedua opsi tersebut. Kita memang akan membuka hutan, tetapi ada batasnya. Jika populasi terus bertambah dan kita terus mengeruk sumber daya dari hutan, kita akan kekurangan bahan makanan. Terlebih lagi, bagi suku Byakko, tempat ini adalah tanah air sekaligus tanah suci mereka. Pasti ada beberapa orang yang akan menentang keras jika kita melakukan perubahan yang terlalu drastis."

"Itu memang benar..." "Oleh karena itu, kita akan mengakuisisi Bukit Minel dan menjadikannya lahan baru tempat suku Suzaku dan Byakko bisa hidup berdampingan. Untungnya, sudah ada kota di Bukit Minel. Pasti masih banyak rumah layak huni yang tersisa di sana." Shiranui berencana untuk merekrut sukarelawan dari kedua suku untuk pindah ke sana.

"Aku mengerti." Aura meletakkan salah satu tangan di dadanya, menghela napas panjang, lalu berkata, "Aku akan ikut denganmu." Shiranui sudah menduga hal ini. Ia pun menggelengkan kepalanya. "Aku akan memburu binatang kutukan itu sendirian."

"K-kenapa begitu?" "Karena binatang kutukan adalah musuh yang sangat berbahaya." "Justru karena itulah kita harus melawannya bersama-sama!" Argumen Aura sangat masuk akal. Shiranui juga memahaminya.

"Demi kebaikan suku Suzaku dan Byakko, kita harus menghindari situasi di mana kita berdua terbunuh." "Kalau kau mati, kita tidak akan bisa memiliki anak! Dunia ini akan kiamat! Semuanya akan sia-sia kalau hanya aku yang tersisa! Aku tidak bisa menerima keputusan ini!" Aura benar. Shiranui tidak punya argumen bantahan. Jadi, ia tidak punya pilihan lain selain melakukan hal ini.

"Kumohon, biarkan aku pergi sendirian." Shiranui membungkuk dalam-dalam. "Kenapa...?" Shiranui tidak menjawab dan tetap mempertahankan posisi membungkuknya.

"...Itu curang namanya. Kalau kau memintanya seperti itu, aku tidak bisa menolaknya." Aura pada akhirnya menyerah kepada Shiranui, yang masih belum mengangkat kepalanya. "...Bisakah kau berjanji untuk pulang dengan selamat?" "Aku berjanji." Shiranui mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke dalam mata Aura saat ia menjawab.

"Kumohon, tolong jangan terlalu memaksakan dirimu." "Terima kasih, Aura." Merasa bersalah karena telah membuatnya khawatir, Shiranui pun meninggalkan Desa Suzaku seorang diri.

Sayap-sayap api yang membara menyapu angin, menebarkan percikan bunga api. Menunggangi punggung Suzaku yang ia panggil, Shiranui melesat menuju Bukit Minel. Ia tidak memberitahu siapa pun mengenai misi ini selain Aura. Bahkan Hibari atau Kagari sekalipun. Itu adalah keputusan yang ia ambil sepenuhnya atas inisiatifnya sendiri.

Namun, ini adalah sesuatu yang dirasa Shiranui harus ia lakukan. (Aura...) Raut wajah Aura yang diselimuti kekhawatiran masih terbayang jelas dalam ingatannya.

(Pada akhirnya, kami juga tidak berhasil membuat bayi semalam...) Semalam, Aura dan Blanc menginap di kediaman Kagari. Shiranui sebenarnya berniat untuk menginap di sana juga, tetapi gerombolan wanita desa tiba-tiba menyerbu masuk, melanjutkan pesta 'malam para gadis' mereka hingga larut malam, membuat rencana pembuatan bayi mereka berdua kembali gagal total.

Untuk memastikan mereka dapat membuat bayi tanpa gangguan apa pun, mereka membutuhkan sebuah rumah untuk dijadikan sebagai sarang cinta mereka. Dan itu harus menjadi rumah yang pantas untuk Aura, sebuah rumah yang ia idam-idamkan. (Aku telah secara paksa menjadikan Aura sebagai istriku.)

Ia tahu bahwa Aura bukannya tidak rela menerima pernikahan ini. Aura mempercayai dan sangat menghormati Shiranui, yang telah menjadi musuh bebuyutannya selama bertahun-tahun, bahkan sampai menaruh perasaan sayang padanya, yang mana hal itu justru semakin membuat Shiranui merasa sangat bersalah.

Shiranui masih belum memberikan apa pun untuk Aura. Ia ingin mencintainya dengan segenap jiwa raganya dan membahagiakannya. Ia ingin mengungkapkan hasrat itu dalam bentuk yang nyata. Dan jika itu dalam wujud fisik, itu haruslah sesuatu yang agung dan megah.

Istana adalah pilihan yang sempurna. Ia akan membuat Aura, yang selama ini mendambakan hidup layaknya seorang putri raja, tinggal di sebuah istana. Istana itu akan menjadi sarang cinta mereka. (Ini adalah harga diri dan mimpiku sebagai seorang pria.) Oleh karena itu, ia harus memenangkan pertarungan ini sendirian.

Jarak dari Desa Suzaku ke Bukit Minel kira-kira sama dengan jarak ke Desa Byakko. Ia harus melintasi dua gunung, yang mana tingkat kesulitannya sama jika ditempuh dengan berjalan kaki atau menunggang kuda, tetapi Suzaku akan membawanya ke sana dalam waktu kurang dari setengah hari. Bukit Minel mulai terlihat.

Minel adalah nama seorang dewi yang dipuja di bagian timur laut benua ini. Ia diyakini telah turun ke dunia ini dari kahyangan, didampingi oleh binatang suci "Naga", dengan membawa kedamaian dan kemakmuran. Bukit Minel dianggap sebagai titik lokasi di mana sang dewi turun—boleh dibilang, ini adalah tanah suci. Dan karena ini adalah tanah suci, Bukit Minel memiliki pemandangan yang sangat indah. Tanaman hijaunya yang rimbun berkilauan dengan cerah.

Racun yang dipancarkan oleh kristal kutukan membunuh semua makhluk hidup, termasuk tumbuhan, dan Bukit Minel pun dulunya pernah menjadi tanah kematian. Namun, tiga puluh tahun setelah racunnya berhenti memancar, tumbuh-tumbuhan hijau telah kembali bersemi. Di titik tertingginya, tepat di dekat tepi tebing, sebuah bangunan batu berwarna putih bersih mulai terlihat. Itu adalah istana yang menjadi tujuannya.

(Urusan istana bisa menunggu. Pertama-tama, aku harus membunuh binatang kutukan itu.) Shiranui memindai area di sekitarnya lalu menemukannya. Di sebelah barat istana, ada sebuah kota yang dibangun. Di pinggiran kota tersebut menjulang pilar-pilar berwarna mencolok. Kristal kutukan yang berdiri di Bukit Minel lebih tinggi dan lebih tebal daripada yang ada di Desa Suzaku. Jika kristal di Desa Suzaku diibaratkan seperti pohon yang tinggi, maka yang berdiri di Bukit Minel ini bagaikan sebuah menara.

Konon katanya semakin kuat suatu kristal kutukan, semakin kuat pula binatang kutukannya. Namun, ini tampaknya hanya sebatas pola dan bukan sebuah aturan mutlak. Pada kenyataannya, binatang kutukan di wilayah ini sangatlah kuat sampai-sampai pasukan militer Kekaisaran pun tidak bisa menandinginya. Shiranui mempertajam indranya dan memfokuskan pandangannya.

(――Itu dia.) Di balik kristal kutukan itu, bayangan dari sesuatu yang berukuran raksasa mulai terlihat jelas. Binatang kutukan cenderung tidak mau berkeliaran terlalu jauh dari kristal kutukannya, dan ini adalah sebuah keberuntungan. Ia jadi tidak perlu repot-repot mencarinya.

Shiranui menurunkan ketinggian terbang Suzaku lalu berakselerasi. Dalam satu tarikan napas, ia memangkas jarak menuju kristal kutukan dan terbang melewatinya seolah-olah menyerempet sisi pilar itu, melompat turun dari punggung Suzaku untuk memulai serangannya. Kemudian, Shiranui mengayunkan tangannya dengan cepat ke arah makhluk yang bersembunyi di dekat pilar-pilar berwarna mencolok tersebut.

"Serang, Suzaku!" Suzaku dengan gesit mengubah arah dan menerjang makhluk itu. Makhluk itu bergerak sangat lamban. Lemot. Suzaku menusukkan paruhnya yang membara ke dalam tubuh makhluk itu, yang seketika membuat tubuhnya meledak dahsyat. Bunga api raksasa mekar dengan indahnya di atas Bukit Minel.

Suzaku adalah burung elemental api. Api yang dihasilkannya bagaikan bencana kebakaran besar. Suzaku memiliki daya tembak yang sangat mematikan bahkan bisa meluluhlantakkan iblis raksasa menjadi abu atau bahkan menghancurkan gunung dalam sekejap mata.

Namun... Dari balik kobaran bunga api itu, makhluk tersebut muncul dengan tenang dan melangkah keluar. Asap putih mengepul bergulung-gulung dari tubuh raksasanya yang memanas, tetapi ia sama sekali tidak terbakar.

"Jadi, ini wujud binatang kutukan itu." Tidak ada keterkejutan dari Shiranui. Ia sudah mengantisipasi bahwa bahkan serangan dari Suzaku pun tidak akan mampu memberikan luka yang fatal. Dengan tenang, Shiranui memusatkan perhatiannya pada makhluk yang ada di depannya.

Bagian atas tubuhnya menyerupai wujud manusia. Dada, perut, kedua lengannya—semuanya memiliki otot-otot yang berkembang tidak wajar. Makhluk itu tak berbulu dan memiliki kulit sepucat dinding plester. Tiga buah mata dan sebuah mulut menghiasi kepalanya. Ujung bibirnya tertarik ke atas menyerupai sebuah senyuman, meskipun tidak ada gigi yang terlihat. Di atas kepalanya yang plontos terdapat belasan tonjolan yang menyerupai tanduk dengan panjang yang bervariasi. Bagian bawah tubuhnya adalah tubuh binatang berkaki empat, ditutupi bulu yang warnanya sama dengan kulitnya yang pucat. Bentuk wujud yang sama sekali tidak mirip dengan makhluk magis mana pun yang ada dalam pengetahuan Shiranui.

Penampilan binatang kutukan sangat beragam untuk setiap individunya. Konon wujud mereka sebagian merefleksikan bentuk asli dari makhluk yang menjadi wadah kelahiran mereka. Dalam kasus Yama—setengah manusia, setengah binatang... beberapa makhluk magis terlintas dalam pikiran, namun tak satupun yang benar-benar pas.

Keringat dingin merayap turun di sepanjang tulang punggung Shiranui, leher, dan telapak tangannya. Rasa jijik secara psikologis mengalahkan rasa takut, namun ia tak sedikit pun gentar. Dengan menarik napas dalam, Shiranui mengumpulkan kekuatan magisnya. "Namaku Shiranui. Pemimpin ketiga belas Suzaku, dan Sage Bermata Merah. Aku telah datang."

Apakah binatang kutukan ini memahami bahasa manusia? Merespons perkenalan diri Shiranui, binatang kutukan yang dikenal dengan nama Yama itu membuka mulutnya yang tak bergigi lalu mengaum keras. Kemudian ia melompat. Ukuran tubuhnya yang mengerikan itu mencapai ketinggian yang nyaris tak terlihat tanpa harus mendongakkan lehernya sejauh mungkin. (Kekuatan kaki yang luar biasa hebat!)

Bagian bawah tubuh wujud binatang Yama yang terlihat agak ramping dibandingkan tubuh bagian atasnya yang kekar, memberikan proporsi tubuh yang tampak tidak seimbang. Melompat setinggi itu benar-benar di luar nalar. Mencegatnya atau menghindarinya. Shiranui memilih opsi yang kedua.

Pada saat yang bersamaan ia melompat mundur, Yama mendarat tepat di posisi awal Shiranui berdiri. Keempat kakinya menapak terlebih dahulu, kemudian disusul oleh kedua tinjunya yang menghantam tanah. Guncangannya begitu hebat, Bukit Minel serasa bergoyang. Tanah hancur berkeping-keping, retak, dan bongkahan tanah yang tak terhitung jumlahnya menghujani layaknya proyektil tajam.

"Perisai Api!" (Flame Barrier!) Hujan tanah itu berbenturan dengan dinding api yang meletus di depan Shiranui, mengubahnya menjadi abu. "Hah." Menghembuskan napas pendek, Shiranui menendang tanah dengan kuat. Kali ini, bukannya melompat mundur, ia justru melesat maju menembus dinding apinya.

(―――Serang!) Binatang kutukan tidak hanya memiliki bentuk wujud yang bervariasi tetapi juga kemampuannya yang berbeda dari satu individu ke individu lainnya. Meski Shiranui belum sepenuhnya memahami seluruh kemampuan Yama, ia telah mengkonfirmasi kekuatan lengan, kaki, serta daya tahannya yang amat luar biasa.

Kekuatan fisiknya yang mampu membelah bumi sangatlah mengintimidasi, namun kekuatan kakinya adalah ancaman yang jauh lebih nyata. Dengan lompatan setinggi itu yang dilakukan tanpa menggunakan ancang-ancang, jika makhluk itu dibiarkan bergerak bebas sesuka hati, ia pasti akan sangat sulit untuk dikendalikan.

Bagaimana cara untuk menghentikannya berlari? Tidak ada cara lain selain terus-menerus menyerangnya tanpa henti untuk membatasi gerakannya. Shiranui mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah dari tangan kanannya ke langit. Titik-titik cahaya putih yang tak terhitung jumlahnya muncul di udara dari ujung kedua jarinya. Sangat menyilaukan. Masing-masing titik cahaya itu mulai bersinar dengan sangat terang. Jika saja hari sudah malam, cahaya-cahaya itu pasti akan terlihat seperti bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit malam.

"Mekaran Bunga Api Bintang!" (Stellar Flame Blossom!) Shiranui berteriak keras, lalu mengarahkan jari-jarinya ke Yama. Titik-titik cahaya itu langsung menghujani Yama layaknya hujan meteor yang lebat.

Yama, yang sempat dibuat linglung sesaat, tampak sedikit berjengit, kemungkinan karena cahayanya yang menyilaukan. Titik-titik cahaya itu menghantam tubuh kolosal pucat Yama secara beruntun, menciptakan ledakan demi ledakan.

Ledakan Cahaya Bintang. Di antara deretan mantra yang bisa digunakan Shiranui tanpa rapalan lisan, Mekaran Bunga Api Bintang memiliki daya hancur yang paling dahsyat. Setiap cahaya bintang itu memendam kekuatan yang setara dengan beberapa bola api sekaligus. Sihir yang pada mulanya dirancang untuk disebar dalam cakupan luas saat melawan pasukan besar ini, kini seluruh proyektilnya ia arahkan sepenuhnya hanya pada Yama.

Saat gemuruh suara ledakan tersebut mereda, Yama kembali mengaum nyaring. (Sepertinya tidak terlalu berpengaruh.) Sosok Yama sempat tertutup oleh kepulan asap ledakan, tetapi terlihat jelas bahwa serangannya itu tidak terlalu bekerja. Tidak ada luka yang fatal.

Namun, gerakan makhluk itu berhasil dihentikan. Serangan pembukanya telah mencapai tujuan utamanya. "Merah adalah awal mula. Merah adalah akhirnya. Biarkan kerinduan dalam hatiku membakar surga dan menghanguskan bumi ini."

Shiranui mengulurkan kedua telapak tangannya lurus ke depan, melebarkan Mata Merahnya (Scarlet Eyes), dan melafalkan mantra yang sarat akan kekuatan murni. Di ujung telapak tangannya, titik-titik cahaya merah kemunculan. Cahaya tersebut menyerap udara panas yang tersisa dari serangan sebelumnya dan perlahan-lahan membengkak.

"Pembakaran Langit Api Crimson!" (Crimson Flame Heavenly Scorch!) Bola api merah raksasa menelan habis tubuh kolosal Yama, lalu berubah menjadi pilar api yang membumbung tinggi menyentuh kahyangan.

Sebuah sihir agung yang pada awalnya ia ciptakan untuk duel dengan Aura, kini ia kerahkan dalam wujud paling sempurnanya. Meskipun sihir tersebut dulunya sempat diimbangi oleh sihir agung milik Aura, kali ini ia melancarkannya dengan kekuatan penuh. Kobaran api yang menyentuh kahyangan itu merambat luas, mewarnai langit yang tadinya biru berubah menjadi merah menyala (crimson).

Shiranui terus menatap pilar api itu tanpa berkedip, waspada penuh. Dan benar saja, Yama perlahan-lahan merangkak keluar dari dalam pilar api tersebut. Aroma daging hangus yang menyengat langsung menyapa penciumannya. Kulit Yama yang sepucat plester kini hangus menghitam, mengekspos daging merah di baliknya.

"Kuh..." Shiranui menggertakkan giginya kesal. (Sihirnya memang mempan. Terlihat ada efeknya, tetapi hanya sebatas pada permukaannya saja.)

Dengan keempat kakinya menancap kuat ke tanah, dan bagian tubuh atasnya yang kekar kini memancarkan kekuatan yang kian menakutkan. Makhluk ini benar-benar tangguh. Shiranui tidak menyangka bahwa ia bisa mengalahkannya hanya dengan satu pukulan, sekalipun menggunakan serangan terkuatnya, namun tampaknya membakar permukaan kulit dan dagingnya adalah kemampuan maksimal yang bisa ia lakukan saat ini.

Yama membuka mulut lebarnya yang ompong lalu mengambil napas panjang. (Datanglah............!) Tepat saat instingnya merasakan ada bahaya, tubuh Shiranui secara refleks bergerak. Shiranui melompat menyamping dengan kecepatan penuh, nyaris saja gagal menghindari semburan panas yang amat mematikan itu.

Yama menyemburkan api besar dari mulutnya. Wajah Shiranui mengernyit menahan rasa panas yang begitu menyengat. Shiranui, dengan Mata Merahnya, sejatinya kebal terhadap bahaya api maupun hawa panas. Kendati demikian, semburan api tadi nyatanya cukup mengerikan untuk membuat bulu kuduknya merinding.

(Menjauhlah............) Shiranui berusaha memperlebar jarak di antara mereka, namun Yama sama sekali tidak membiarkannya. Tubuh raksasa Yama dengan gesitnya memangkas jarak hingga sudah berdiri tepat di depan mata Shiranui. "Perisai Api!"

Tak sempat menghindar, Shiranui berupaya bertahan menggunakan sihirnya, sayangnya tinju Yama dengan gampangnya menembus perisai apinya. Dihantam tinju Yama yang keras layaknya bongkahan batu besar, Shiranui terlempar hebat melayang di udara.

Selama sesaat, kesadarannya sempat memudar, membuat sihirnya tak dapat digunakan. Di saat tanah semakin cepat mendekati kepalanya, Shiranui berhasil meminimalkan benturan menggunakan tangan kanannya, dan dengan susah payah berusaha untuk bangkit berdiri kembali. "...!" Shiranui mengerang kesakitan hebat saat rasa nyeri yang tajam menjalar dari lengan kirinya.

Shiranui sempat menyilangkan tangannya untuk menahan pukulan Yama tadi, namun sepertinya tulang di lengan kirinya telah patah. "Haah...... haah......" Tiba-tiba, ritme pernapasannya mulai tidak teratur. Rasa lelah akibat menggunakan sihir tingkat tinggi begitu terasa sangat membebani. Rasa sakit di lengannya sangat tak tertahankan. Lebih dari itu, napas Shiranui kian memburu karena mulai dilanda kepanikan.

Dengan yakin akan kemenangannya, Yama berjalan perlahan mendekat. (Tenanglah.) Katakan pada dirimu sendiri, "Senjata utama Shiranui adalah sihir. Sekalipun ada satu lengan yang patah, itu bukanlah sebuah masalah besar." Sihir sama sekali belum kehilangan taringnya. (Tenanglah.)

Ia kembali mensugesti dirinya. Ritme pernapasannya, yang tadinya memburu dan sangat cepat, mulai terasa rileks. (Jangan panik saat menghadapi musuh seperti ini.) Shiranui sudah sangat terbiasa dengan pertarungan hidup dan mati. Ia telah melewati seratus satu pertarungan sengit, menghadapi musuh yang jauh lebih tangguh daripada makhluk ganjil di hadapannya ini.

Yama menyipitkan ketiga matanya, nyaris seperti sedang tersenyum mengejek. "Kau merasa dirimu hebat, hah? Jangan remehkan kekuatan manusia, wahai makhluk kristal kutukan. Kekuasaanmu di tanah ini akan berakhir pada hari ini juga." Shiranui membalas senyumannya, membentuk energi magisnya.

"Pembakaran Langit Api Crimson!" Sebuah bola api crimson raksasa kembali menelan Yama hidup-hidup, dan pilar apinya yang membara menyapu surga. "Cukup sampai di sini, hanguslah menjadi abu!" Shiranui tidak mengubah strateginya sedikitpun. Ia kembali mengunci gerakan Yama dengan Mekaran Bunga Api Bintang, lalu menghajarnya dengan Pembakaran Langit Api Crimson.

Ini adalah serangan ketujuhnya. Tingkat kerusakan akibat serangan sihir agung itu perlahan tapi pasti semakin berakumulasi. Akan tetapi, tubuh kolosal Yama, walau seluruh permukaannya hangus terbakar dan sebagian kulitnya terkelupas, tetap tidak juga tumbang. Seakan makhluk itu sama sekali tak bisa dihentikan.

"Mekaran Bunga Api Bintang!" Sambil meneriakkan geraman tertahan penuh rasa sakit, Shiranui kembali mengunci pergerakan Yama yang mencoba keluar dari dalam pilar api dengan serangan beruntun. "Merah adalah sang primodial. Merah adalah segala-galanya..." Tanpa memberikan celah, Shiranui bersiap untuk melancarkan Pembakaran Langit Api Crimson lagi, namun kakinya tiba-tiba lemas lalu ia pun berlutut di atas tanah.

"Gah...!" Rasa sakit yang teramat sangat menyiksa di sekujur tubuhnya tak kuasa menahannya untuk tidak berteriak kesakitan. (Apakah kekuatan magisku mulai mengamuk...?!)

Penggunaan sihir agung membutuhkan suplai kekuatan magis yang terlampau besar. Ia bahkan sudah melakukannya sebanyak tujuh kali berturut-turut. Ditambah lagi, ia juga berulang kali menggunakan sihir-sihir destruktif dengan kapasitas yang amat masif. Terus-menerus memanipulasi kekuatan magis dalam jumlah raksasa itu membuat sihir tersebut membesar tak terkendali di dalam tubuh Shiranui, dan mulai berontak di luar kendalinya.

Fenomena ini dikenal sebagai status sihir yang mengamuk (magic power berserk). Ini adalah sebuah kondisi yang dapat terjadi ketika pengendalian magis penggunanya masih belum matang atau sihir tersebut dirapal melampaui batas wajar tubuhnya. Ini sangat menyakitkan. Tulang dan otot-ototnya terasa nyeri parah tak tertahankan, namun yang paling menyiksa adalah sakit kepalanya. Rasanya bukan sekadar seperti kepalanya dibelah, melainkan seakan-akan kepalanya baru saja dipukul sekeras-kerasnya dengan sebuah palu raksasa.

Yama meraung nyaring. (Riwayatku sudah tamat...!) Makhluk ganjil itu mengayunkan tinjunya, bergerak mendekat dengan ancaman yang mematikan. Sudah tak ada ruang tersisa bagi Shiranui untuk melarikan diri. (Aura...) Menatap kematian yang tak terhindarkan di depan mata, Shiranui menjeritkan nama istrinya dengan lirih dari dalam hatinya.

"Dinding Es Ketabahan!" (Ice Wall of Fortitude!) Udara yang sejak tadi terasa panas membakar akibat serangan beruntun sihir Shiranui tiba-tiba terkoyak oleh sebuah suara yang lantang. Bunyi benturan keras menggema. Dengan pandangan yang berkunang-kunang, Shiranui memekik menahan rasa sakit saat ia mendapati sebuah dinding es tebal telah berhasil menangkis tinju kuat Yama dan, tepat di baliknya, berdiri sesosok wanita berambut hitam panjang.

"Aura..." Hanya memalingkan sebagian wajahnya, Aura menegaskan, "Aku tidak akan membiarkanmu mati." Kemudian, Aura melangkah mundur mendekati Shiranui lalu, "Dinding Es Ketabahan!" Menciptakan satu dinding es baru yang saling tumpang tindih dengan dinding es yang pertama. Perisai dinding es dua lapis itu berdiri sangat kokoh untuk menahan tinju Yama.

"Kekuatan magismu sedang mengamuk, kan?" Aura, yang telah berlutut di sisi Shiranui, membungkuk dan dengan lembut menempelkan salah satu tangannya ke atas dahi Shiranui. "A-apa...?" Menanggapi kebingungan Shiranui, Aura hanya tersenyum tipis, membuka lebar mata biru esnya, dan dengan hati-hati menempelkan telapak tangannya di dahi Shiranui. "......!"

Merasakan lonjakan kekuatan magis yang meluap-luap luar biasa dari tubuh Aura, mata Shiranui refleks terbelalak ngeri. Rasa sakit di sekujur tubuhnya perlahan mulai mereda. "...ah" Dalam sepersekian detik, Shiranui paham apa yang sedang dilakukan Aura padanya.

Aura sedang mensinkronisasikan energi magisnya dengan energi magis milik Shiranui, berupaya menenangkan kekuatan magisnya yang sedang mengamuk. Teknik berbahaya ini bukan cuma menuntut penguasaan manipulasi magis tingkat tinggi, namun juga mengharuskan pihak penyembuhnya memiliki jumlah kapasitas energi magis yang melampaui lawannya. "Sekarang, kau seharusnya akan baik-baik saja." Aura menyipitkan mata biru esnya yang sebelumnya terbuka lebar, memejamkannya rapat-rapat, dan tubuhnya terlihat sedikit limbung.

Shiranui dengan gesit segera bangkit berdiri dan mendekap Aura dengan lengan kanannya yang masih utuh. Sambil bangkit berdiri, ia memapah Aura di pundaknya lalu menjauhkannya dari jangkauan serangan Yama. Shiranui berlari mundur menuju ke jalanan kota yang ada di belakangnya.

Yama memiliki penglihatan. Mata yang dapat mendeteksi pergerakan Shiranui. Oleh karena itu, Shiranui berasumsi bahwa jika mereka bersembunyi di tempat yang banyak memiliki rintangan, hal ini akan cukup untuk mengulur waktu bagi mereka berdua. Shiranui menyandarkan punggung Aura pada salah satu dinding bangunan terdekat.

"Shiranui-san..." Aura masih belum kehilangan kesadarannya. Walaupun ia bisa tersenyum simpul, raut wajahnya mengisyaratkan tanda-tanda keletihan yang teramat sangat.

Itu sangat wajar terjadi. Kapasitas keseluruhan energi magis Shiranui dan Aura sebenarnya tidak berbeda jauh. Demi dapat menjinakkan kekuatan magis Shiranui yang tengah mengamuk, Aura harus meracik dan mengeluarkan kekuatan magis yang kuantitasnya melebihi energi magis Shiranui. Itu tak ubahnya sama saja dengan tindakan mempertaruhkan nyawa.

"Aura, kenapa..." "Aku sangat khawatir padamu, jadi aku mengejarmu ke sini." Shiranui menundukkan kepalanya dalam-dalam. (Betapa menyedihkannya diriku ini...) Setelah sebelumnya aku memamerkan kemampuanku seolah-olah aku pria paling kuat, dan nyatanya sekarang malah jadi seperti ini. Kalau bukan karena pertolongan Aura tadi, aku pasti sudah mati. (Apa yang harus aku lakukan sekarang...?)

Sampai saat ini masih belum terlihat tanda-tanda Yama tengah mengejar mereka. Berkat jinaknya sihirnya yang mengamuk tadi, kini ia sudah dapat kembali menggunakan sihirnya. Cara yang paling bijaksana yang bisa ia lakukan saat ini adalah dengan memanggil Suzaku untuk mundur bersama Aura. Namun...

"Tolong jangan berpikir buruk soal dirimu seperti itu." Aura angkat bicara, seolah-olah ia dapat mendengarkan pikiran kalut Shiranui. "Kau sama sekali tidak perlu melarikan diri, Shiranui-san. Aku yakin kau pasti sanggup menumbangkan binatang kristal kutukan itu."

Ujung-ujung jari Aura dengan lembut membelai pipi Shiranui. Entah apakah itu disebabkan karena keletihan, jemarinya terasa sedingin bongkahan es. "...Apakah kau benar-benar mempercayaiku?" "Tentu saja aku percaya padamu. Soalnya, suamiku ini adalah penyihir terhebat di dunia... Tidak, kau adalah seorang Sage." "Aura..." Shiranui meraih tangan Aura yang tengah membelai pipinya lalu dengan perlahan menggenggamnya erat.

"Kalau memang begitu katamu, bahkan dewa sekalipun pasti akan kutebas habis. Cuma sekadar binatang kristal kutukan yang bahkan bukan berwujud dewa sama sekali bukan tandinganku." Mendengar tekad dari Shiranui tersebut, Aura mengukir seulas senyum lega lalu mengangguk kecil. Meskipun berat untuk melakukannya, Shiranui melepaskan genggaman tangannya dari tangan Aura lalu bangkit berdiri. Ia memutar tubuhnya ke belakang dan menyentuh lengan kirinya yang sedang patah menggunakan tangan kanannya.

"Api Regenerasi." (Flames of Regeneration.) Cahaya merah terang yang mirip kobaran api membalut lengan kirinya, kemudian pudar. Ia mengangkat perlahan lengan kirinya lalu mulai menekuk jari-jarinya berulang kali. Masih tersisa sedikit rasa ngilu, namun lengannya sudah bisa ia gerakkan dengan normal.

Api Regenerasi hanya secara temporer mendongkrak kemampuan pemulihan alami tubuhnya. Merapal kemampuan ini pada orang lain sangat sulit karena kompensasinya berupa rasa panas yang membakar kulit pada area yang disembuhkan, namun bagi Shiranui, panas adalah sebuah anugerah.

"Tolong tunggu aku di sini." Pesan Shiranui kepada Aura dari arah belakang, lalu dengan gesit ia melangkah mantap kembali ke arena pertarungan.

Sama seperti momen pada saat Suzaku menerjang untuk yang pertama kalinya, posisi Yama masih tetap berada di dekat area kristal kutukan, kali ini makhluk itu terlihat seperti dalam posisi meringkuk. Kendati sifat alamiahnya yang tak sanggup untuk melangkah terlampau jauh dari sumber kristal kutukannya, sejatinya kota ini juga masih termasuk ke dalam jangkauan aktivitas Yama. Lalu kenapa Yama malah tak memburunya?

Ekologi dari makhluk-makhluk kristal kutukan tersebut masih diliputi misteri yang belum banyak diketahui manusia. Walaupun dari masing-masing individunya ada ketidaksamaan yang signifikan, namun kesimpulan sementara Shiranui adalah kemungkinan besar Yama juga telah menerima kerusakan fatal.

Seluruh sekujur tubuh Yama saat ini masih terlihat hangus parah. Meskipun sebagian dari spesies makhluk ini memiliki daya regenerasi ekstrem yang bahkan bisa menyembuhkan cedera yang sangat fatal dengan begitu cepat, namun tampaknya Yama tidak diberkati dengan kemampuan sehebat itu. Yama dengan lamban mendongakkan kepalanya. Sewaktu pandangannya menangkap kembali sosok Shiranui di dekatnya, tiga pasang matanya membelalak lebar.

"Mari kita selesaikan ini sekarang." Shiranui mulai menganyam mantra sihirnya seraya memanipulasi energi magis di sekitarnya. "Mekaran Bunga Api Bintang!" Sinar yang gemerlap layaknya bintang-bintang berkelap-kelip berhamburan dari atas dan mulai berdentum. Tersapu oleh kobaran api yang meledak-ledak, Yama melolong keras lalu melengkungkan tubuh raksasanya ke belakang.

"Bagus, serangannya ampuh." Shiranui sangat yakin akan hal itu. Ia telah menyadari adanya perubahan yang aneh saat ia tengah mengobati lengan kirinya yang patah—kondisi kekuatan sihirnya hari ini entah kenapa bisa berada pada tahap yang sungguh maksimal. Ia sekarang dapat memanipulasinya lebih gahar serta gesit dari sebelumnya.

Sudah tak bisa diragukan lagi bahwa ini adalah berkah yang diterimanya dari Aura. Melalui penyelarasan energi magis untuk menenangkan sihirnya yang sebelumnya sempat mengamuk, secara tidak langsung Aura sudah memoles kembali sihir Shiranui sehingga kekuatan murninya jauh melebihi kapasitas alaminya.

(Sekarang, kalau...) Shiranui menyatukan dan mengatupkan kedua tangannya rapat-rapat di depan wajahnya. "Dunia, hari penentuan telah tiba." Kobaran api seketika membuncah keluar dari sela-sela jemarinya. "Wahai para pendosa, bertobatlah. Wahai para insan suci, bertobatlah. Kobaran api ini akan memangsa habis kalian semua secara merata."

Ia mulai perlahan merenggangkan telapak tangannya yang sedari tadi terkepal erat, lalu menampakkan wujud sebuah bola api yang berukuran segenggaman tangan melayang-layang manis di tengah-tengah telapak tangannya. Begitu Shiranui merentangkan tangannya ke arah langit, bola api tersebut turut melayang membumbung tinggi menyusul. "Turunkanlah kemurkaan para dewa detik ini juga." Melayang jauh di atas kepala Shiranui, bola api tersebut meliuk-liuk sebelum pada akhirnya membesar berlipat-lipat ganda dari ukuran semulanya, warna merahnya kini telah memudar dan perlahan digantikan dengan warna keemasan yang kemilau.

"Api Kepunahan!" (Flames of Extinction!) Sebuah bola api berwarna emas keemasan raksasa yang menyilaukan meluncur deras dari langit dan memendarkan percikan-percikan cahaya yang berkelap-kelip ke seluruh penjuru arah.

Hampir mirip dengan sifat dari sihir Pembakaran Langit Api Crimson, Api Kepunahan sejatinya juga salah satu wujud sihir agung yang memang sengaja ia ciptakan sebagai kartu as untuk menumbangkan Aura dalam duel yang dijalaninya. Tapi pada kenyataannya, jurus pamungkas ini malahan tak ia gunakan sama sekali ketika berduel dengannya. Atau lebih tepatnya, sebenarnya dia bukannya enggan namun lebih kepada tak bisa melancarkannya—karena di masa itu, keahlian Shiranui dalam mengontrol energinya belum sampai ke tahap yang mumpuni untuk dapat menjinakkan kekuatan mengerikan Api Kepunahan.

Namun untuk saat ini, kapasitas Shiranui secara tak langsung telah melonjak naik pesat melalui ajang adu nyawa yang dilaluinya dalam pertarungannya dengan Aura yang terlampau sangat ekstrem. Lebih dari itu, karena sentuhan tangan Aura, sihir yang ia punya di detik ini jauh lebih kuat dan disempurnakan ketimbang yang sebelumnya. Instingnya yang membisikkan bahwa sekaranglah momen krusial yang ia tunggu selama ini terbukti tidak meleset sama sekali.

Bola api berwarna keemasan yang membawa titah kehancuran mutlak menyelimuti dan melumat habis raga Yama di saat bola tersebut memuntahkan ledakan dahsyat, yang deburannya bahkan ikut menghempaskan kristal kutukan yang tak jauh darinya. Bagaikan ulangan peristiwa ketika langit sempat diwarnai warna crimson oleh sihir Pembakaran Langit Api Crimson sebelumnya, kini hamparan langitnya malah berubah corak kemilau berwarna keemasan.

Raungan terakhir Yama menggema ke penjuru Bukit Minel. Entah jeritan tersebut mengandung amarah yang amat sangat, ataukah hanya erangan parau menjelang ajal, Api Kepunahan mutlak adalah satu-satunya jurus pemusnah paling digdaya yang kini mampu dirapal Shiranui.

Sihir api yang benderang berwarna emas ini juga memiliki kesaktian berbau unsur ketuhanan di baliknya. Kekuatan semacam ketuhanan inilah yang kerap jadi kutukan nyata untuk makhluk-makhluk tak tak kasat mata dari ranah entitas yang bukan bagian dunia manusia. Wujud-wujud sejenis ini di antaranya didominasi bangsa para roh, namun entitas seperti kawanan monster binatang kristal kutukan yang asalnya merangkak keluar dari ranah asing penuh kutukan dari dimensi luar sana juga bisa terkena paparan efek tersebut.

Saat pilar api raksasa tersebut menguap lenyap dipecah menjadi pijar dan perlahan sirna seutuhnya, tubuh makhluk berwujud aneh dari bangkai Yama ini lalu terpapar dengan cukup jelas di pandangan. Sosok itu rupanya telah hancur total karena telah kehilangan sebelah badannya dan kepalanya. Karena telah lenyap sisa raga keseimbangannya, jasad makhluk malang raksasa itu kemudian terhuyung-huyung jatuh tak memiliki napas untuk selamanya.

"Aku... telah menang..." Shiranui menarik napas berat panjangnya dalam keheningan. Ia sukses membantai mati seekor monster makhluk buas terkutuk—meski wujud musuhnya hanya tinggal satu jasad ganjil sisa perlawanannya namun ini tetap sosok penjahat terbesar pengancam nasib di dunianya.

Kendati begitu... Raut kecut tergurat pahit menyiratkan aura ketidaksenangan ketika memandang mayat sisa Yama yang tersisa di sana. "Meski aku mengeluarkannya, ternyata Sihir Api Kepunahan, Escaton Flore, saja juga tak punya kesaktian mumpuni dalam memusnahkan monster kristal tersebut untuk rata menjadi kepingan tak tersisa wujud abunya secara sepenuhnya." Rasa puas atas pencapaian kemenangan malahan terbenam di palung kesal Shiranui dikarenakan sifat membandel yang dipamerkan tubuh dari binatang monster kristal kutukan ini yang terkesan abadi.

Shiranui langsung melempar jauh sisa tatapan bengis kecutnya menuju pilar kristal kutukan. Tugunya yang punya ciri rona terang yang terletak persis bersebelahan mayat dari Yama tersebut, sama sekali ternyata mampu kuat menahan beberapa tembakan pamungkas dengan balutan dari ragam kemampuan sihir tertinggi Shiranui namun anehnya kristal tersebut tetap mulus tiada setitik lecet goret pun pada bodi menara tersebut. Pada hakikatnya kristal-kristal ini punya tameng keabadian yang rupanya jauh lebih luar biasa hebat ketangguhannya mengungguli inang penghuninya yakni para ras binatang kutukan itu sendiri.

Faktanya Shiranui pun sudah pernah berkali-kali pula mereplika beberapa varian sihir dalam meneliti ketahanan yang menguji keabadian ragam jenis sihir ke pilar kristal kutukan di tanah kampungnya dan tentu maklum soal status mustahil memusnahkannya, hanya saja barulah sekarang ini, entah karena insting yang begitu menohok dari batin kalbunya, yang semakin memberikan penegasan bulat dengan keras mengenai pandangan eksistensi batu-batu kutukan ini merupakan tugu sakti keabadian tak terjamah di ranah logika pikir ras akal manusia normal.

"Shiranui-san." Suara lembut panggilan sosok dari arah di belakangnya memaksa badannya untuk berbalik. "Aura." "Suamiku ini memang sangat luar biasa jagonya, persis apa yang sudah kubayangkan."

"Oh, semuanya murni adalah utang budiku karenamu seorang. Kalau aku ini tak besar mulut yang congkak memamerkan lagak kalau aku ini sanggup sendiri untuk membereskannya, nasib hasilnya tentu beda. Jujur saja, aib memalukan macam apa ini..." Ia mendekat melangkahinya ke depan, lalu lembut dengan ujung telunjuk tangan Aura dihentikannya perkataan menyela ucapan apa pun celoteh muram keluhan dari raga Shiranui ini.

"Pada dasarnya kan kita sudah mampu membukukan rekor hasil cemerlang menumbangkan kekuatannya hasil dari kerja gabungan gotong royong sebagai partner suami istri sejoli kan. Bukankah wujud kesuksesannya ini saja sudahlah cukup buat diapresiasi rasanya?"

Senyuman manis terbalaskan balik dari bibir di raut tegang mimik muka dari Aura langsung dilempar Shiranui dalam sekejap tanpa aba-aba. "...Tepat apa yang kau bicarakan itu, katamu memang sungguh ada benarnya. Dengan kerja gabungan kompak kita, satu penjahat pengancam dunia sudah mati ditumbangkan. Kita seharusnya lebih mampu dapat merayakan hari piala sukacita kita bersama."

"Pasti dong!" Aura pun spontan balas menganggukkan wajah merona sukacitanya ini di antara mimik riangnya yang sangat polos. Shiranui bernapas lega ketika sorot netranya disuguhi panorama tawa renyah ini.

"Aura, aku menyiapkan hadiah kado rahasia istimewa spesial lho buatmu saja." "Kado rahasia...?" Suzaku lantas menampakkan pesonanya ketika sihir panggilan raga dari Shiranui lalu keduanya berjalan membimbing raga sang istrinya mendekat menapaki tanah tempat dari wujud kado kejutan yang dimaksudkannya tersebut.

Dalam kepakan singkat burung Suzaku, badan dari dua sejoli meroket membubung di antara udara kota lalu dengan manis pijakan kaki Suzaku singgah mantap mendiami puncak teras istana di lantai paling agungnya. Tentu sudah jadi instingnya Shiranui buat mendarat langsung meninggalkan tunggangan di pijakan lantai dari teras pilar menara di samping si Suzaku.

"Ke sinilah kau Aura, ayo hampiri aku." "Iya, baik." Setelahnya, barulah wujud raga Aura ikut melompat menjejak dari arah atas.

"Istana semegah ini..." "Inilah tahta singgasana peninggalan dari milik dari raja penguasa bukit wilayah Minel ini dulunya."

Pangeran tertingginya yakni Duke yang bernaung sebagai petinggi di bawah lindungan tahta keagungan di era Kekaisaran Berli pada waktu dulu konon katanya adalah penguasa atas tempat takhta tanah bukit wilayah Minel. Kedua suami istri sejoli ini saling menyelaraskan diri bersanding pada tepian sisi pandang bersama menyaksikan hamparan atap rumah kota ini yang luas membentang. Gedung keraton megah ini posisinya dibangun pas menempati koordinat tepian tebing belahan timurnya di bukit Minel. Seluruh rona panorama keindahan dari raga kota raya bisa ditangkap apik dari sudut lantai paling atas dari keraton istana ini. Bias pantulan cahaya siluet mentari tenggelam menggantung dari gugusan pegunungan bagian sisinya sebelah ujung perbatasan ufuk arah bagian barat, menyelimuti wujud paras kotanya terlumur pigmen dalam perpaduan corak keoren-orenan yang syahdu menenangkan.

"Atap rumah di penjuru raya kota dengan rupa bodi kemegahan di istananya ini utuh terjaga dengan apik elok rupawan." "Benar." Banyak gubuk hunian tempat rakyat kota berteduh masih kukuh awet wujud bangunan tembok kayunya sedari waktu. Begitupun wujud bentuk dari istananya tiada cacat.

"Menurutmu pandangan penilaian seleramu akan bangunan istana kerajaan besar ini seperti apa lho, Aura?" Manakala raga putaran kepala istrinya telah disamakan menghadap raga istrinya saat ia bertanya demikian, tubuh raga Aura pun menggerakkan kepalanya berputar dengan lirikan kepala mendongak menengadahkan bola netra memandangi bentuk rupa dari atap istana ini ke langit. "Melihat bentuknya ini sungguh cantik rupa istana idaman yang sangat indah nan memukau. Putih paras dinding kemulusan tembok istananya berpadu dengan keelokan elok mempesona. Terasa bak meresapi sungguhan seperti diistimewakan menjadi sepotong dinding putih keraton berbahan kapur suci."

"Sungguh rasa bungaku tumpah ruah rasanya jika hatimu terpikat." Rangkaian ujung tangannya dari sisi tubuh kirinya ia menuding menunjuk istana tersebut kala bersamaan sentuhan tangan tangannya raga sebelahnya perlahan lembut didekapkan tangan raga dari sisi sebelah kanannya mengelilingi menyusup mendekap peluk pergelangan kurus Aura.

"Diperuntukkan cuma murni hanya menjadi bagianmu sajalah rupa istana kastil besar kado spesial khusus ini dihibahkan ke dirimu." "Eh?" "Sebab hak asalku mendapatkan wujud harta keraton ini toh sejatinya juga nggak bisa sepenuhnya aku rebut kalau melulu aku saja yang mengais modal daya kemampuan dariku sendirian sih, makanya agaknya tidak pantas juga aku mendaku menganggap kado utuh yang lahir ini dari keikhlasanku seutuhnya lho..."

"Um, anu..." Ketika batin dari gundah gulana Aura ditangkap dengan cermat di netra Shiranui saat kebingungan, perlahan tabir beban rasa segan gundahnya dilontarkan dengan lirih ke pendengarannya. "Jujur aku... Secara brutal tanpa perasaan hati aku tega membelenggumu jadi pihak memaksamu masuk merengkuh tahta menjadi permaisuri istrinya aku dengan bermodalkan dalih menang kuat jago kandang secara fisik dari kemampuan daya kuasaku bertarung saat memenangkan hak duel taruhan pertarungan masa depan. Ya, sungguh walau motivasi hal kelam kotor yang di balik raga perbuatan semacam itu toh semata buat kebaikan ras orang ramai dan memikirkan dunia, cuma kelakuan sekejinya itu sungguh bagai pisau yang berbilah menoreh dalam dosa laknat rasa nurani menyiksa beban dosa kalbu sedari awal hatiku memikirkannya."

"Rasa bersalah...? Beban beban perasaannya macam semacam pikiran dari rasa bersalah seperti apa ya ini di otakmu yang buat mengganjal kalbumu itu yang sedari kemarin nggak bisa kutebak dan sama sekali tak kurasakan gelagatnya ada lho dariku sama kamu kok. Jujur rasa hatiku sungguh malah tak karuan senangnya teramat dalam dan sangat bersyukur tak terkira mendapati anugerah bisa dipilih resmi sebagai jodoh menjadi teman pasangan selamanya di bahteranya biduk suamimu bernama Shiranui-san seorang. Murni hal itu adalah kemuliaan berharga lho di hidupku selama menjadi orang kebanggaanku."

Anggukan muka pun diberikan sebagai respon dari perkataan panjang lebarnya ini oleh Shiranui secara khidmat menanggapi. "Sebenarnya pun lidah aslimu kan juga sedari sananya nggak bakal mengutarakan dalih dusta jadi sudah kupastikan dari tebakan asliku bahwa akan begini sih kata-kata itu bakalan kamu sampaikan padaku nantinya. Dan sudah bisa kuraba ucapan tulusnya kejujuran itu tak bernada bualan penipu. Sebatas pelampiasan rasa keinginan di nafsu gila murni rakusnya keegoisan saja sih hal gundahku. Di sela gundahnya hal tersebut, turut jadi pertaruhan urusan arogansi rasa gengsinya martabatku atas eksistensiku sebagai hakikat kewajibanku selayaknya lelaki seutuhnya dalam wujud pertaruhan." "Shiranui-san..."

"Makanya rasa inginku hasrat mengumpulkan bentuk fisik perasaan dalam wujud cinta di asmaraku biar tak abu-abu kubulatkan menyerahkannya mengalir meresap di hadiah kado khusus pemberianku ke dirimu ini. Cuma dari alasan semata-mata hal tulah kuberikan hak persembahan kastil mulia besarnya padamu di harimu kelak."

"Um... Anu... Aku... Begitu dadakan kagetnya hatiku melayang-layang ditawari syok macam yang gila luar biasa hebatnya, jadi sampai kehabisan kosakata patah lisan omonganku mendadak kelu nggak tau balasan membalas lisan lidahku menimpalinya bagaimana ke dirimu lagi..." Di wajahnya jelas kentara kalau wanita cantik bernama Aura lagi di mabuk dalam kemelut awang-awang rasa bingung campur syok bingung teramat besar melanda jiwa perasaannya yang gundah riuh di pikirannya.

"Shiranui-san, ungkapan balasan dari rasa nuranimu yang hangat pedulinya tulus padaku sudah luar biasa sangat kurasakan berharganya membalut jiwaku yang raga bersyukur beruntung teramat sangat memujanya. Tapi mendadak dikasih suguhan ganjaran sedemikian megahnya kemewahan wujud istana super agung ini lho... Aduh kalut sungguh rasa diriku mengelola kebingungan besar mau ngatur perasaan di hatiku yang bingung syok menanganinya..."

"Ayo mendingan kita tempati segera berdua saja hunian tinggal yang besar barunya di keraton baru megah kita ini yuk." Perkataannya ini mendadak mengagetkannya membuat matanya kian dipelebarkannya. "Jadinya tahap fase awalnya ayolah kita awalkan beradaptasi bagi dua sejoli suami istri. Yuk lekas lekas bobo saling pelukan selimut berdampingan nyenyaknya memejamkan bersamanya mata saling menemani di lelap ranjang ranjang tidur, bergegas kompak raga dua pasutri membuka di waktu pagi terbangun bersama dengan bertatap manja pasca melek, lantas nikmatilah romansa di jam harian santai bersama selayaknya raga orang berumah tangga di hunian baru megah aslinya di sini. Kemudian pasti, berujung ke fase bakal dianugerahi sekerumun buah hati anak yang lahir di rahimmu pasutri suami istri ya pastinya juga kita berdua dapat."

"Shiranui-san sama aku, raga kita dua-duaan serumah di tanah bukit daerah sini..." Helaan parau suaranya mendesah dengan berujar bergumam rendah kecil saat dia menengadahkan kembali matanya memutar wajah arah di keraton tinggi di sisi dekatnya yang menyita pandangan takjub Aura, lalu dengan membelalak terkejut berteriak kaget spontan, "Ah!" "Tapi... Cuma saja, ya misal seumpamanya ya kan semisal jika beneran ya kejadian kita mendiami serumah bareng-bareng beneran pindah kemari bertempat kumpul bareng nginap bareng mendiami rumah kita ini di daerah ini... Otomatis desa Byakko serta rombongan Suzaku klan sekalian kan malah ujungnya bakalan kekosongan tahta kursi jatah lowong petingginya ditinggalkan oleh pimpinannya berdua secara berjamaah dong ya jadinya kalau pindah ke sini kita."

Anggukan ringan dari gerak mimik paras Shiranui kembali ia berikan dan langsung cepat ditanggapi balik sang istri Aura ini. "Makanya murni niatan asliku di rencanaku yakni aku pengen ngerubah murni wilayah area ini ditransformasikan jadi negeri dataran wilayah kampung permukiman halaman area lokasi peradaban rumah bagi rakyat masyarakat komplit buat kalangan ras rakyat marga dari suku marga Suzaku lalu marga anak buah dari masyarakat klan warganya dari suku dari suku suku Byakko kumpul bareng rukun kumpul serumpun."

"Hah?" "Wilayah dari Desa asal usul kita yang letaknya di tanah klan aslinya area dari Desa bermarga nama di tanah permukimannya wilayah bagian milik ras klan Suzaku itu jujur sungguh dibilangnya agaknya agak berdesakan memprihatinkan karena kapasitas yang terlalu kecil pengap kesempitannya andai buat ditambahkan lagi untuk berhimpitan di saat marga keduanya harus bareng berdampingan ngumpul desak-desakan satu kampung. Kendati demikian, dataran seputar lereng area Bukit di penjuru area Minel Hill luas area panjang wilayah dataran keliling membentang dari sini luasnya membentang sungguh masih berasa lapang sisa amat lebar ukurannya meskipun umpama kita tambah populasi marga warga di suku populasi manusianya dibanjirkan dikalikan lagi hingga melonjak lipat sepuluhan juga kan sisa tanahnya tetep sisa lebar nyamannya lho."

"Ooh apa kamu punya niatan nekat buat sengaja membiarkan menelantarkannya dan bakalan takkan digubris dan murni desa aslinya si klan dari tanahnya yang aslinya marga asal usul rakyat milik Suzaku bakalan mau ditinggal kabur melupakannya dan minggat angkat kaki pindahan mengacuhkannya ya jadinya?"

"Asal tanah waris cikal mula Desa dari permukiman suku asal mulanya leluhur dari moyang si ras Suzaku tersebut tetap suci dan berstatus bak tanah suci harga mati kampung leluhurnya dua kelompok aslinya Suzaku dan waris asli nenek moyang tanah buat marga dari keturunannya kelompok marga kawanan para pihak warganya masyarakat rakyat Byakko. Ya kita murni nggak bakalan gila tak punya etika berniat membuang acuh tak peduli asal usul merelakan dibiarkannya diabaikannya dilupakan. Nantinya secara bertahap kita bisa mencari menjaring merekrut para barisan anak relawan muda dan merelokasinya supaya kelompok dari pemudanya dimigrasi murni memandu rutenya direlokasi diajak berhimpun migrasi mendiami pindahan kumpul hijrah merantau kesini semua di kawasan baru."

"...Hanya saja hal semacamnya apa menurutmu emangnya tak jadi masalah yang bakal dibikin ribut runyam andai seenaknya diklaim serampangan wilayah sejauh dan seluas mata areanya sejauh ini dikuasai didapuk jadi tanah asal yang dikuasai untuk kedaulatan baru diklaim mutlak di bawah kita ya jadinya? Dulu banget sebelum dihancurkan wilayah sini pun murni dulu status aslinya seutuhnya dikuasainya mutlak di teritori bawah kekuasaannya tanah dari wewenang aslinya kerajaannya kubu ras asalnya milik tanah dari kawasan propertinya penguasa tahtanya tanah naungan wewenang otoritas dari naungannya kedaulatannya punya Kekaisaran pihak dari kedaulatan aslinya tanah miliknya tahta penguasa kekaisarannya si pihak asalnya kan kubu Kekaisaran Berli ya bukan?"

Perlahan tangan dari ujung pergelangannya dengan santun dirapatkan Aura dari dada sebelah depan tubuh dadanya lalu ia menundukkan posisi badannya dan raga kepalanya merendah ke depan. "Semua batas tanah patokan ukur penjuru yang mutlak diklaim milik area berburu takhta hak eksklusif kawasan mutlak yang telah ditundukkan tunduk merajai milik hak cipta mutlak sang ras di daerah sang raja monsternya pihak kubunya kawanan dari sang raja si pihak makhluk kawanan asal monsternya ras para monster dari wujud jenis dari kelompok yang lahir wujud dari hewan binatang para binatang ras makhluk kutukan murni langsung dipindahtangankan jatuh dialihkuasakan langsung diklaim berbalik dikuasakan diambil ganti diambil milik hak tahtanya bagi pemenang pihak dari pihak pembantainya siapa saja kelompok pahlawan pejuangnya pihak di pihak gerombolan dari sang para manusia di pihak pihak pemburu pihak pemburunya dari kawanan para siapa pihak pengalah dari pelenyap yang merobohkannya murni wujud aslinya yang menumbangkan menewaskannya makhluk raga para monster binatang ras monster wujud kristal raga monsternya ras si monster si bintang buas binatang dari monster si kutukan kutukan tadi. Memang begitulah isi hukum aturan konvensi dunia mutlak tak usah ditanyakan tak resmi namun hakiki murni yang diterapkan dari pakem tata laku dunia global ini sesaat ketika sejak pertama awalnya raga wabah zaman di abad yang tertimpa tertimpa kiamat wujud wujud wabahnya kiamat malapetaka datangnya kebangkitan hancurnya serbuan wabah yang timbul lahirnya dari zaman malapetaka kemunculannya musibahnya asal hantaman tragedi kristal wujud kutukan dimulai. Dan sebagai pihak lakon yang udah sanggup menghempaskan Yama di neraka tadi, sah mutlak pihak kita resmi langsung memegang murni otoritas memenangkannya merengkuhnya berkuasa wewenang hidup aman merantau pindah murni raga pihak sah pihak dari kedaulatan kedaulatan buat mendiami tahta menaunginya dan berdiam menghuni raga naungannya wewenang di atas naungannya kedaulatan menempati tinggal di tahta kedaulatannya di area asalnya tanah kekuasaannya tanah area perbatasan wewenangnya hak asalnya milik mutlak di buminya tempat wilayah kedaulatan hak aslinya tanah dataran ini."

"Wah bila faktanya beneran hal aslinya status dari hukumnya membenarkan lurus mutlak jalurnya lurus gitu sih..." Aura secara canggung menaikkan dagu leher wajahnya mendongak dari kepalanya perlahan di angkat diangkat ke angkasa atas perlahan malu ragu perlahan sungkan. "Mari kita rombak mutlak tempat daratan besar sejauh jangkauan besar besarnya sejauh tanah arealnya wilayah sejauh mata wujud wilayah sini sepenuhnya diangkat dinaikkan didaulat diganti wujud barunya dinaikkan pangkat gelarnya dijadikan peradaban resmi cikal bakalnya peradaban diwujudkan dimutlakkan dideklarasikan dijadikan mutlak sah kampung halaman desa kawasan naungan marga daerah kampung halaman pemukiman tanah murni tanah kampung kampung kita yang desa dari naungan kedaulatan resmi raga pemukiman peradaban kampung dari pihak kawasan desa murni wewenang sah kita desa untuk kita wilayahnya kampung pihak yang terbaru peradaban dari asal pihak daerah kampung pemukiman wilayah asal desa pemukimannya tempat kedaulatannya desa dari tempat naungan pihak kampung dari sahnya pihak buat kedaulatannya dari desanya pihak buat naungannya kita ini nanti."

"Bukannya jadi bentuk kampung atau desa," Kata Shiranui mengeluarkan instruksi suara seruan menegaskan lantang nada ucap suaranya mengklaim suaranya lantang mantap keras tanpa beban di batin. "Tapi kita deklarasikan untuk membangun memutlakkannya wujud tatanannya kita memproklamirkannya menjadi negara."

Dibuatnya Aura langsung melebarkan besarnya dari raut matanya dari mata biru es jernih matanya membola tak sanggup tak terbelalak tak kagetnya. Terbuka bengong menganga mangap wujud bibirnya tercengang kaget syok bengong takjub dari arah kaget mulutnya menganga lebar nganga di raut mulutnya terpana syok heran tak kagetnya tak terbendung lagi terkejut dibuatnya terpana syok kaget tak menganga rahangnya mulutnya jatuh terbuka saking saking luar biasa takjubnya karena heran ternganga syok terheran keheranan terbengong dari kaget mulutnya terperangah dengan wajah terkaget syok keheranan mangap bibirnya bengong.

"Maukah kamu... Murni menjadi dirimu sendiri ya wujud dari murni jadi beneran istriku dirimu... Sudi maukah pihak dirimu sedia raga kamu ketersediaan siap untuk didaulat dikukuhkan menjadi merangkap dinaikkan jabatannya resmi raga dirimu menjabat bertahta didaulat ratu permaisurinya ratu bertahta di kerajaan tahtanya sang ratunya untuk dinaikkan gelarnya tahta bertahta merangkap menjadi tahta dari sang ratu bertahta menjabat ya di kerajaan ini dirimu sedia jadi bertahta di istana dinaikkan derajat wujudmu bertahta merangkap ratu diangkat jabatannya tahta sang jadi seorang sang permaisuri merangkap menjabat ratu didapuk merangkap bertahta di ratu buat dirimu sedia diangkat bertahta bersedia sudi kesediaan kesiapan sudi jadi diangkat bertahta didaulat naik takhta menjabat permaisurinya tahta dari ratunya ratu di kerajaannya tahta kerajaannya menjadi kesediaan diangkat diangkat bertahta didaulat naik takhta menjadi ratu?"

"Ratu...? Eh? Ratu...?" "Maaf karena kau tidak menjadi seorang putri, tetapi istri dari seorang raja disebut Ratu."

Dengan mata terbelalak, Aura bergumam keheranan. "Jadi... Shiranui-san adalah raja, dan aku adalah ratunya..." "Aku diberi tahu oleh Blanc. Katanya kau sangat mengagumi sosok seorang putri." "Eh?"

Shiranui memiringkan kepalanya melihat reaksi Aura. "Apakah aku salah?" "T-tidak. Ini sedikit memalukan, tapi aku memang suka membaca cerita, terutama 'Ayuria dari Kerajaan Naga'. Aku sudah membacanya berkali-kali sejak kecil. Ayuria, sang putri dalam cerita itu, pemalu tetapi memiliki hati yang kuat. Aku mengaguminya karena namanya mirip denganku." "Jadi, kau hanya mengagumi karakter Ayuria, bukan berarti kau benar-benar ingin menjadi seorang putri?" "Aku tidak pernah bermimpi menjadi seorang putri. Aku hanya selalu ingin menjadi pemimpin yang terhormat dan memenuhi harapan semua orang." "Begitu ya..."

Shiranui mengerti. Terlahir dengan mata merah tua, menjadi pemimpin yang terhormat adalah sebuah tugas mutlak bagi mereka. Mereka tidak pernah membayangkan jalan hidup yang lain.

"Tapi meskipun aku tidak pernah ingin menjadi putri, aku pernah sesekali berpikir ingin tinggal di sebuah kastil." Aura tersenyum tipis dan menatap kastil itu. Lalu ia melanjutkan, "Kastil tempat Ayuria tinggal sangat cantik luar biasa meski dilihat dari jauh, sebuah bangunan dari batu kapur putih. Jadi, ketika aku melihat kastil ini, aku berpikir ini terlihat persis seperti kastil Ayuria."

Ia menyipitkan matanya seolah silau. "Satu lagi mimpiku yang kuanggap tidak akan pernah menjadi kenyataan kini telah terwujud." Aura menoleh ke arah Shiranui, air mata menggenang di pelupuk matanya.

Lega melihatnya sebahagia itu, Shiranui merasakan kepuasan pencapaian sebagai seorang suami, sebagai seorang pria, untuk pertama kalinya. "Eh...?" Shiranui memikirkan kata-kata Aura dan merasakan sedikit kekhawatiran. "Kau bilang 'lagi'? Apa maksudmu?" "Iya." "Apakah aku telah melakukan sesuatu yang memenuhi salah satu mimpi Aura?" "Tentu saja sudah."

Aura menghambur ke dalam pelukan Shiranui. "Kau menjadikanku pengantinmu." "Eh... Tapi itu kan..." "Aku tidak pernah berpikir itu bisa terjadi. Tidak, itu adalah mimpi yang sangat jauh sampai-sampai aku bahkan tidak menyadari bahwa aku memiliki keinginan seperti itu. Tetapi kau mewujudkannya."

Ia memeluk Shiranui erat-erat. "Kau telah memberiku begitu banyak hal." "Aura..." Shiranui membalas pelukannya.

(Begitu ya. Aku benar-benar telah menjadi suami yang baik bagi Aura.)

Rasa cinta membuncah di dalam dirinya. Di saat yang sama, ia merasa bahwa sekadar pelukan saja tidak cukup, dan ia pun mengeratkan rengkuhannya. Kehangatan dan kelembutan Aura terasa begitu jelas menembus pakaiannya.

Desahan lembut yang tertahan meluncur dari bibir Aura. "A-apa... itu sakit?" "Tidak. Saat Shiranui-san memelukku seperti ini, kepala dan tubuhku menjadi hangat... dan suaraku keluar begitu saja."

Mendengar kata-kata Aura tersebut, runtuhlah akal sehat Shiranui. Konon, saat menghadapi kematian, manusia akan mengalami peningkatan hasrat reproduksi. Ya, itulah yang dipelajari Shiranui dari buku-buku. Setelah baru saja bertarung melawan monster kristal kutukan yang melambangkan kematian, Shiranui mendapati dirinya mengalami lonjakan hasrat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Karena itu, meskipun ia kehilangan akal sehatnya, ia membenarkan pada dirinya sendiri bahwa ini adalah hal yang tidak bisa dihindari.

"A-Aura!" Shiranui merengkuh Aura. "I-Iya?" "Aku juga memiliki sesuatu yang kuinginkan." "A-apa itu?" "Itu adalah dirimu. Aku menginginkanmu. Tubuhmu, hatimu, segalanya tentangmu."

Dengan napas memburu, Shiranui menyatakan perasaannya. Wajah Aura memerah saat ia menjawab, "Seluruh diriku adalah milikmu. Tolong, lakukan apa pun yang kau inginkan." "Kalau begitu, aku tidak akan sungkan-sungkan!"

Shiranui memasuki kastil dari arah teras dan melompat ke ruangan pertama yang dilihatnya. Itu adalah ruangan yang megah dengan meja dan kursi mewah, serta sebuah tempat tidur berkanopi. Dinding dan lantainya dihiasi dengan sangat elegan. Sepertinya ini adalah kamar tidur sang penguasa atau mungkin kerabatnya. Shiranui membersihkan debu dari sebuah kursi dan mendudukkan Aura di sana.

"Tolong tunggu sebentar, aku akan bersiap-siap." Dan Shiranui mulai merapikan tempat tidur.

Meskipun perabotannya telah lapuk dimakan usia, ranjang itu sendiri masih kokoh. Shiranui menyingkirkan seprai dan debu dari tempat tidur tersebut. Ia begitu menggebu-gebu. Meskipun ini adalah kastil yang megah, mendapati reruntuhan semacam ini untuk pertama kalinya memberinya perasaan campur aduk, namun ia segera menyingkirkan semua pikiran itu ke sudut benaknya.

"Persiapannya sudah selesai! Sekarang, Aura. Mari kita ciptakan sesuatu yang luar biasa!" Shiranui menanggalkan mantelnya dan berdiri setengah telanjang. Namun, saat ia mendekati Aura, ia menyadari sesuatu.

"Aura...?" Aura, yang duduk di kursi, telah menutup matanya dan tertidur pulas dengan napas yang lembut. "T-Tidak...!" Shiranui sangat terkejut, namun ia segera memahaminya.

Aura telah menguras seluruh tenaganya untuk menenangkan sihir Shiranui yang lepas kendali dan ia benar-benar kelelahan. Shiranui jatuh berlutut dengan perasaan hampa. Akal sehatnya yang telah kembali mendesaknya untuk menyerah.

(Ah, aku mengerti.)

Menjawab pasrah di dalam hati, Shiranui mengangkat tubuh Aura dengan lembut dan membaringkannya di tempat tidur. Aura tidak terbangun, ia tertidur sangat lelap. Shiranui duduk di tepi ranjang dan memandangi wajah damai istrinya. Wajah itu tampak begitu polos dan tanpa pertahanan dalam tidurnya.

"Shiranui-san..." Aura bergumam di tengah tidurnya. "Aku mencintaimu..."

Shiranui tersenyum lembut dan membalas dengan suara pelan, agar tidak membangunkan sang istri. "Aku juga mencintaimu, Aura."


Beberapa hari kemudian, Shiranui mengumpulkan para petinggi dari klan Suzaku dan Byakko di kediaman Kagari. Dari klan Suzaku, hadir Shiranui sendiri, Tetua Kagari, dan Wakil Kepala Hibari. Dari klan Byakko, hadir Aura, Tetua Floro, dan Wakil Kepala Blanc.

Kagari bersandar malas dalam balutan kimono dengan posisi kaki terbuka, tangannya memegang sebuah pipa rokok. Di sebelahnya, Floro duduk tegak dengan postur seiza. Shiranui duduk menghadap Kagari, dengan Aura di sampingnya. Hibari duduk di sebelah kiri depan Shiranui, sementara Blanc di sebelah kanan depannya.

Shiranui berbicara kepada para pemimpin yang berkumpul, menjelaskan bahwa ia telah mengalahkan monster kristal kutukan yang menguasai Bukit Minel. Ia menyampaikan niatnya untuk mendirikan sebuah negara di tanah tersebut, sebuah tempat di mana klan Suzaku dan Byakko yang kini hidup bersatu dapat berkembang maju.

"Hahaha! Kau ingin membangun sebuah negara sementara kau masih sibuk dengan proses 'pembuatan anak'? Ini sungguh mahakarya!" Kagari tertawa terbahak-bahak. "Apakah bocah ini akan menjadi seorang raja? Kenaikan status yang luar biasa," kekeh Floro dengan nada meremehkan, namun tidak mengajukan keberatan.

Akan tetapi, para Wakil Kepala menunjukkan keraguan. "Kakak, apa kau serius? Bukit Minel pada awalnya adalah bagian dari wilayah Kekaisaran Berli, kan? Jika kita mendirikan negara di sana, pihak Kekaisaran tidak akan tinggal diam..." "Bukan hanya Berli. Sejak monster kristal kutukan itu mengambil alih, Bukit Minel telah menjadi zona penyangga antara Berli di utara, Asuram di barat, dan Domudo di selatan. Hal ini juga akan menarik perhatian dari pihak Asuram dan Domudo," Hibari dan Blanc mengutarakan kekhawatiran mereka.

Kekhawatiran mereka sangat beralasan. Mendirikan sebuah negara bukanlah hal yang mudah, dan Shiranui sangat menyadari hal itu. Namun, ia memiliki alasan lain mengapa ia ingin mewujudkannya. Shiranui pun menjelaskan alasannya.

"Aku ingin negara yang kita bangun menjadi tempat perlindungan bagi orang-orang yang terusir dari tanah mereka akibat bencana besar."

Bencana besar yang akan datang. Shiranui berniat untuk melindungi dan membesarkan anaknya bersama Aura, bersiap untuk melewati bencana besar tersebut. Bagaimanapun juga, ia percaya bahwa batu kutukan yang berjatuhan pastinya akan menciptakan banyak pengungsi, sesuatu yang tidak dapat mereka cegah sepenuhnya.

Kita butuh tempat untuk para pengungsi. Bisakah negara kita menjadi salah satu tempat itu?

Shiranui menatap mata Aura. Aura tersenyum dan mengangguk. Aura sudah membahas alasan lain di balik pembentukan negara ini sebelumnya dan ia langsung setuju. Dan bahkan di saat ini pun,

"Aku, Aura, pemimpin Macan Putih, sebagai istri Shiranui dan salah satu dari Tujuh Orang Bijak, juga mendukung pembangunan negara ini. Aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku." Ia mendukung penuh Shiranui.

Sebagai Orang Bijak. Itu adalah sudut pandang yang amat penting. Shiranui dan Aura telah diangkat sebagai Orang Bijak secara langsung oleh pendeta wanita dari Menara Dunia. Dan bukan sembarang Orang Bijak. Mereka adalah Orang Bijak dari Bintang Tujuh, sosok esensial untuk mempertahankan dunia melawan bencana besar. Sebagai Orang Bijak dari Bintang Tujuh, sudah menjadi tugas mereka untuk melakukan persiapan sebanyak mungkin dalam menghadapinya.

"Yah, lakukan sesukamu." "Mari kita lihat sejauh mana mereka bisa melangkah." "Jika Aura berkata begitu... Ya, dimengerti. Aku juga akan bekerja sama!"

Kagari dan Floro memercayakan keputusan tersebut pada Shiranui dan Aura. Hibari, yang sempat menunjukkan keraguan, juga berjanji untuk bekerja sama, tetapi hanya Blanc yang tetap menentang.

"Aku menentang. Perkara ini terlalu besar. Tolong pertimbangkan lebih serius bahwa keputusan ini bisa membahayakan rakyat Byakko maupun Suzaku."

Ia tidak mengubah sikap menentangnya, tetapi Shiranui sangat menghargai pemikirannya itu. "Terima kasih, Blanc. Poin-poinmu sangat masuk akal. Tolong terus utamakan keselamatan rakyat Byakko maupun Suzaku dan berikan aku nasihat." "...Sebenarnya itu adalah peran yang sangat tidak menyenangkan." "Justru karena itulah aku memintamu." "...Dimengerti."

Blanc akhirnya setuju meskipun ia sedikit mendecakkan lidahnya. "Tolong ya, Blanc." "Serahkan padaku, Kak. Kau tidak perlu mengkhawatirkan desa. Bangunlah saja negara yang hebat."

Shiranui mendecakkan lidah. Sementara Aura tersenyum menyegarkan layaknya seorang gadis muda yang baik hati. Sikap Blanc memang tidak tergoyahkan, tetapi Shiranui berpikir bahwa keteguhannya itulah yang justru membuatnya dapat dipercaya.

"Jadi, apa nama negaranya?" Sambil menggaruk dadanya yang tak tertutup rapi, Kagari bertanya.

Shiranui menegakkan posturnya. Nama negara itu sudah ia pikirkan matang-matang. Dengan khusyuk, Shiranui menyuarakan nama tersebut. "Auralia."

Setelah menarik napas dalam-dalam, Shiranui mengulanginya, kali ini dengan menambahkan asal-usulnya. "Auralia. Aku menamainya dari orang yang paling kucintai dan kuhargai dalam hidupku."


Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments