Header Ads Widget

Chapter 26 - Kelinci dan Dorothy

 


026: Kelinci dan Dorothy

Saat masih hidup di Bumi, tidak ada hal khusus yang benar-benar ingin dilakukan oleh Juhwan. Harapan untuk bisa membangun sebuah keluarga yang harmonis perlahan-lahan mengikis seiring berjalannya waktu, membuatnya terpaksa menjalani hari-harinya secara mekanis layaknya sebuah mesin tanpa jiwa.

Namun sekarang, saat jemarinya menyentuh permukaan busur dan anak panah tradisional ini, dia merasakan sebuah sensasi emosional yang aneh. Rasanya entah mengapa sangat berbeda dibandingkan dengan atmosfer yang dia rasakan saat dia sibuk bekerja di dunia lamanya dulu.

Mungkin, metamorfosis mental ini terjadi karena sekarang dia telah berhasil memiliki figur keluarga kecil yang selama ini selalu diimpikannya di dasar hati. Kehadiran mereka otomatis mengubah total seluruh poros pola pikirnya.

‘Apakah suatu hari nanti aku juga akan memiliki kapabilitas untuk merakit busur dan anak panah sekualitas ini dengan tangannya sendiri?’ Saat pemikiran visioner itu melintas di benaknya, sebuah percikan ambisi kecil mulai membuncah dari dasar hatinya.

Sambil terus memandangi detail busur dan anak panah di sekelilingnya, pandangan mata Juhwan mendadak menangkap keberadaan beberapa plakat kayu yang terletak di dekat wadah penyimpanan mata panah besi.

"!"

Bentuk fisikal plakat tersebut sangat berbeda dari apa yang pernah dia saksikan saat pertama kali terlempar dan menginjakkan kaki di dunia baru ini. Unit angka-angka yang terukir di atas permukaannya memiliki skala kuantitas yang jauh lebih besar, ditambah dengan keberadaan beberapa karakter huruf asing tambahan yang tertulis rumit di sana. Juhwan menganalisis bahwa benda itu kemungkinan besar merupakan sebuah lembar formulir pesanan logistik—di mana nama komoditas barang, jumlah kuantitas, dan total nominal harga tertera dengan sangat jelas.


Ambisi Mempelajari Huruf Dunia Baru

‘Jika benda dengan sistem administrasi seperti ini bisa eksis di tempat terisolasi ini, jangan-jangan...’

Juhwan dengan tergesa-gesa memungut plakat kayu tersebut lalu melangkah lebar menghampiri posisi Gus.

"Gus, lihat ini!" seru Juhwan dengan raut penuh semangat yang tidak bisa disembunyikan. Dia menunjuk karakter huruf asing di plakat kayu itu dan berkata dengan untaian kata terbatasnya, "Gus, apakah kau tahu cara membaca karakter ini? Kau tahu artinya? Aku... ingin belajar. Gus, tolong ajari aku huruf-huruf ini. Ini, yang ini."

"Hah?" Kedua mata tua Gus seketika membelalak lebar. Pria tua itu menatap plakat kayu di tangan Juhwan lalu bergantian menatap lekat-lekat wajah muridnya, menganggap ketertarikan pria besar itu sebagai sebuah anomali yang agak aneh. Namun, berkat ketajaman instingnya, Gus bisa dengan cepat menangkap esensi keinginan Juhwan yang menggebu-gebu untuk menguasai ilmu literasi huruf tersebut. Gus pun melontarkan pertanyaan konfirmasi, "...Kamu benar-benar berniat mempelajari huruf-huruf ini?"

"Mau! Sangat, sangat mau, Gus!" jawab Juhwan secepat kilat.

Respons antusias yang diperlihatkan Juhwan kemungkinan besar merupakan sebuah fenomena yang sangat langka di dunia ini. Sebagian besar masyarakat dari kalangan rakyat jelata umumnya memiliki dogma berpikir bahwa menguasai kemampuan membaca huruf adalah sebuah hal yang sepenuhnya tidak berguna untuk bertahan hidup. Menilai dari ekspresi keterkejutan Gus, asumsi pragmatis tersebut tampaknya memang benar adanya.

Faktanya, Lizzy sendiri bahkan tidak mengetahui tata cara menulis angka dasar dan selalu didera kesulitan besar setiap kali dihadapkan pada urusan menghitung kuantitas secara manual. Meski didera keterbatasan, wanita itu pun tampak tidak memiliki ketertarikan atau urgensi apa pun untuk mempelajari sistem angka maupun huruf dunia ini.

Gus menggaruk rambut putihnya yang berantakan dengan ekspresi pasrah lalu menganggukkan kepalanya. "Ya, baiklah kalau itu maumu."

Gus memberikan isyarat tangan agar Juhwan menunggu dengan patuh di tempatnya, sementara pria tua itu melangkah menuju sudut ruangan terdalam. Dia mulai mengaduk-aduk isi sebuah kotak kayu besar yang dipenuhi oleh tumpukan berbagai barang rongsokan acak yang sudah berdebu.

‘Di mana ya aku menyimpannya waktu itu...’ Gus menggumamkan kalimat serupa berulang kali sambil terus membongkar kotak demi kotak, hingga akhirnya dia berseru, “Oh!” saat jemarinya berhasil memungut sebuah objek khusus.

Klak, klak! Suara kepingan kayu yang saling berbenturan satu sama lain menggema pelan di dalam gudang temaram.

"Ini, ambillah. Gunakan benda kuno ini untuk proses belajarmu..."


Proses Belajar Menggunakan Aksara Hangeul

Benda yang diserahkan oleh Gus ternyata merupakan seikat kepingan kayu kecil yang masing-masing bagian sudutnya telah dilubangi dengan rapi, lalu dijalin menjadi satu kesatuan menggunakan seutas tali tambang panjang. Sifat fisiknya memancarkan kesan yang sangat usang, di mana bagian sudut-sudut kayunya sudah mulai mengikis halus akibat faktor usia. Permukaan dari setiap plakat kayu kecil itu bahkan tampak mengilap—sebuah indikasi konkret bahwa benda tersebut dulunya merupakan barang yang sangat sering dipegang, disentuh, dan digunakan secara intensif oleh pemiliknya terdahulu.

Juhwan menatap lekat-lekat pada untaian kepingan kayu alfabet di dalam genggamannya. Setiap bilah kayu memuat satu ukiran karakter huruf tunggal yang pola strukturnya sekilas menyerupai susunan alfabet di Bumi. Beberapa karakter dilengkapi dengan tanda titik kembar di bagian atasnya—sangat mirip dengan gaya huruf Umlaut pada sistem bahasa Jerman—sementara sebagian karakter lainnya memiliki rupa ganjil yang sepenuhnya asing bagi indra penglihatannya.

Juhwan mendaratkan ujung jarinya tepat di atas karakter huruf pertama pada kepingan kayu tersebut lalu berucap dengan sopan, "Sekarang, tolong ajari aku cara melafalkan bunyi dari huruf-huruf ini, Gus."

"...."

Gus menyunggingkan senyuman lebar, menganggap Juhwan sebagai sosok pemuda yang luar biasa eksentrik. Namun, pria tua itu sama sekali tidak memiliki niat untuk menolak permintaan tersebut; dia mulai merapalkan suara pelafalan dari setiap karakter huruf pada plakat kayu usang itu satu per satu dengan artikulasi yang jelas.

Juhwan segera bergerak mengambil seonggok arang hitam yang berada di dekat meja kerja pertukangan, lalu mulai menuliskan cara pelafalan bunyi tersebut di bagian balik kepingan kayu sesuai dengan apa yang didiktekan secara lisan oleh Gus.

Juhwan sadar betul akan keterbatasan memorinya; dia tidak akan bisa menghafal seluruh karakter asing ini dalam satu waktu karena dia bukanlah sosok manusia genius yang bisa menguasai segalanya dalam sekejap. Menuliskan cara bacanya secara fonetik menggunakan sistem aksara Hangeul lalu merapalkannya secara repetitif adalah strategi pembelajaran terbaik dan paling efisien yang bisa dia eksekusi saat ini.

Menyaksikan Juhwan menulis dengan sangat lancar menggunakan aksara Hangeul, kedua mata Gus kembali membelalak terkejut untuk yang kesekian kalinya. Pria tua itu menatap coretan huruf kotak yang rumit tersebut dengan raut penuh ketakjuban yang mendalam. Meskipun kepalanya dimiringkan karena didera rasa penasaran yang besar, Gus memilih untuk menahan diri dan tidak melontarkan pertanyaan privasi apa pun; dia kemungkinan besar berasumsi bahwa coretan itu murni merupakan sistem tulisan resmi yang berlaku di negeri asing asal Juhwan.

Sistem aksara di negara dunia baru ini ternyata memiliki total 29 karakter huruf dasar. Namun, jumlah total kepingan kayu di dalam untaian yang dipegang Juhwan saat ini memiliki kuantitas sekitar dua puluh buah lebih banyak—Juhwan berspekulasi bahwa sisa kepingan kayu tambahan tersebut sengaja diukir untuk memuat untaian kosakata esensial yang paling mendasar dalam kehidupan sehari-hari.

Urusan memahami arti kata secara filosofis atau mempelajari tata cara mengombinasikan karakter huruf menjadi kalimat kompleks adalah urusan belakangan. Bagi Juhwan, selama dia berhasil menguasai cara pelafalan bunyinya dengan tepat, dia bisa menanyakan maknanya secara langsung kepada Lizzy di rumah nanti. Juhwan kembali melayangkan pertanyaan interaktif kepada Gus, dan pria tua itu dengan sabar mendiktekan cara pelafalannya, sementara Juhwan terus sibuk menyalin fonetiknya di balik kepingan kayu tanpa lelah.


Hadiah Busur Kastem dan Perpisahan Sementara

Proses penyalinan pelafalan bunyi tersebut berhasil diselesaikan dalam durasi waktu yang tergolong sangat singkat. Aktivitas itu tidak menguras banyak energi mental Juhwan karena dia hanya perlu menuliskan sistem aksara Hangeul yang sudah sangat familier di luar kepala sejak kecil. Juhwan sebenarnya memiliki ambisi untuk melanjutkan sesi belajar guna memahami makna dari setiap kata jika Gus memiliki waktu luang, tetapi pria tua itu mendadak bangkit berdiri dari posisi duduknya—sebuah sinyal tak terbantahkan bahwa sesi pembelajaran bahasa hari ini telah resmi berakhir.

Gus melangkah lebar menuju meja kerja pertukangannya lalu memberikan isyarat lambaian tangan agar Juhwan mendekat. Saat Juhwan tiba di samping meja, Gus mengeluarkan sebilah busur panjang kastem yang sedari tadi bersandar kokoh di dinding gubuk yang paling tersembunyi.

Dimensi fisik busur baru ini terasa jauh lebih besar, kokoh, dan tebal jika dikomparasikan dengan seluruh koleksi busur lain yang berada di dalam gudang persenjataan tersebut. Seluruh permukaan kayunya terlihat sangat mulus tanpa ada tanda-tanda keausan, cacat produksi, atau goresan sekecil apa pun, memancarkan impresi visual yang sangat kuat bahwa senjata mematikan ini baru saja selesai dirakit sepenuhnya.

"Ini adalah busur barumu... Hanya busur berspesifikasi tinggi seperti inilah yang baru bisa pas dan sanggup mengimbangi proporsi kekuatan fisik tubuh besarmu."

Gus berucap dengan nada suara berat sambil menyerahkan senjata mematikan tersebut ke dalam genggaman Juhwan. Meskipun ada beberapa kosakata lokal yang gagal dicerna secara utuh oleh indra pendengarannya, Juhwan bisa menangkap esensi maksud kalimat Gus secara garis besar melalui bahasa tubuhnya. Pria tua itu intinya ingin menyampaikan bahwa senjata ini sengaja dia rancang dan rakit secara khusus demi menyesuaikan postur tubuh kekar Juhwan, dan dia diinstruksikan untuk menggunakan busur baru ini sebagai senjata utamanya mulai hari ini.

Busur panjang yang diterima Juhwan pada awal pertemuan mereka sebelumnya memang memiliki ukuran yang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan mahakarya baru ini. Koleksi busur lain yang berjejer di dalam rak gudang tampaknya diproduksi massal mengikuti standar ukuran tubuh Gus pribadi, sehingga sebagian besar spesifikasi panjangnya dinilai terlalu pendek dan tidak ideal untuk digunakan oleh orang dengan postur raksasa seperti Juhwan. Di dalam gudang ini, hanya ada beberapa bilah busur saja yang memiliki ukuran masif.

Juhwan tidak tahu pasti apakah Gus selalu memproduksi busur baru secara personal untuk setiap individu yang ditemuinya. Namun, tampaknya pria tua ini memang memiliki dedikasi khusus untuk merakit busur kastem yang disesuaikan secara presisi dengan proporsi fisik dari beberapa anggota penjaga hutan (ranger) tertentu. Itulah alasan logis mengapa di dalam gudang pertukangannya terdapat beberapa bilah busur raksasa yang skalanya sama sekali tidak sinkron dengan ukuran tubuh pendek Gus pribadi. Senjata pertama yang dihadiahkan Gus kepada Juhwan sebelumnya kemungkinan besar adalah sebuah produk sekunder atau busur menganggur yang awalnya dirakit untuk menyesuaikan proporsi fisik orang asing lainnya yang pernah singgah di sana.

Juhwan menatap kosong ke arah busur panjang yang kini mantap berada di tangannya. ‘Apakah benar-benar tidak apa-apa jika aku menerima semua pemberian yang teramat berharga ini?’

Untaian kepingan kayu alfabet yang dia kantongi tadi jelas-jelas bukanlah sebuah komoditas murah yang bisa didapatkan dengan mudah oleh masyarakat awam. Dan sekarang, dia justru kembali dihadiahi sebilah busur kastem berspesifikasi tinggi yang nilai fungsionalnya luar biasa megah. Juhwan menyadari dirinya sudah menerima terlalu banyak limpahan kebaikan dan hak privilese dari sosok Gus. Bahkan jika proyek pelatihan berburu ini merupakan bagian dari kesepakatan formal konsensus desa—di mana Gus mungkin mendapatkan kompensasi materi atau keuntungan politik terselubung dari para tetua—fakta objektif bahwa pria tua ini telah mencurahkan banyak materi, waktu, dan ilmu berharga kepadanya secara tulus tetap tidak akan pernah bisa dihapus.

Menyadari bahwa muridnya sedang didera perang batin dan keraguan mental yang hebat, Gus dengan paksa mencengkeram jemari kekar Juhwan dan memantapkan posisi pegangan busur tersebut di dalam genggamannya agar Juhwan tidak berniat mengembalikannya.

"Busur ini sudah resmi menjadi milikmu. Gunakan dengan baik."

Meskipun tidak dilengkapi dengan ukiran dekoratif yang rumit atau dilapisi oleh rona cat yang mencolok, penampang permukaan kayu busur tersebut terasa luar biasa halus saat bersentuhan dengan kulit telapak tangannya. Tingkat presisi pengerjaan senjatanya terlihat jauh lebih matang, solid, dan mendetail jika dibandingkan dengan busur latihan standarnya terdahulu. Struktur bagian tengah busur didesain agak concave menyerupai bilah baling-baling helikopter, di mana seluruh area pegangan tersebut dilapisi oleh balutan kulit hewan berkualitas tinggi guna meminimalisir risiko slip akibat keringat saat digenggam di tengah pertempuran sengit.

Kedua ujung busur juga tidak luput dari balutan lapisan kulit serupa yang tampaknya telah melewati proses pemurnian menggunakan formula zat cair khusus, menghasilkan tekstur yang sangat kokoh dan solid saat ditekan indra peraba. Tali busur diikat dan dikaitkan secara permanen pada bagian ujung tersebut, di mana desain simpul talinya dipastikan akan tertahan dengan aman pada struktur kayu yang sengaja dibuat menonjol saat tali ditarik dengan kekuatan penuh. Senjata ini jelas merupakan sebuah produk mahakarya yang tingkat kualitasnya berada jauh di atas standar busur lamanya.

Juhwan menegakkan posisi busur panjang tersebut di depan dadanya lalu membungkukkan tubuhnya dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan tertinggi di depan sang mentor. "Terima kasih banyak, Gus. Terima kasih atas segala kebaikan dan bimbinganmu hari ini."

"Kamu pasti akan tumbuh menjadi seorang pemburu yang luar biasa hebat di gunung ini." Gus menyunggingkan senyuman hangat yang sarat akan rasa bangga, menyiratkan keyakinan absolut bahwa Juhwan pasti akan berhasil menaklukkan kerasnya hukum alam hutan pegunungan ini di masa depan.

Gus kemudian melangkah menuju sudut lain dan menyerahkan tiga buah kantong kulit besar yang terisi penuh oleh ratusan anak panah kepada Juhwan. Pria tua itu tampaknya memang sudah mempersiapkan amunisi ini jauh-jauh hari sebelumnya sebagai hadiah kelulusan latihan dasar Juhwan. Kantong pertama menampung varian anak panah yang strukturnya murni terbuat dari bambu polos tanpa mata logam, wadah kedua berisi anak panah dengan mata logam besi yang panjang dan berkilau tajam, sedangkan kantong ketiga diisi oleh varian anak panah bermata batu gunung yang kokoh untuk keperluan berburu binatang kulit tebal.

"Seseorang... mulai sekarang... harus berburu... sendiri."

Setiap kali mendeteksi ada banyak kosakata sulit yang gagal dicerna secara instan oleh Juhwan, Gus akan selalu mengulangi struktur kalimatnya berkali-kali dengan tempo yang lebih lambat agar muridnya bisa paham. Juhwan memfokuskan seluruh konsentrasi energinya, mencoba menebak dan menginterpretasikan maksud kontekstual dari untaian kata Gus. Dia melakukan konfirmasi ulang beberapa kali menggunakan kombinasi gerakan tubuh untuk memastikan bahwa pemahamannya tidak meleset dari instruksi asli sang mentor.

Melalui proses elaborasi tersebut, Juhwan akhirnya memahami bahwa Gus memberikan informasi bahwa dirinya tidak akan bisa mengunjungi gubuk kediaman Juhwan selama beberapa hari ke depan. Pria tua itu memberikan instruksi tegas bahwa Juhwan harus melakukan seluruh aktivitas perburuan dan pertahanan diri secara mandiri selama periode absensinya tersebut.

Sambil menganggukkan kepala tanda mengerti, Juhwan mencoba mengulangi perkataan Gus dengan mengombinasikan frasa-frasa dasar yang baru saja dia kuasai hari ini untuk membuktikan perkembangannya. Gus menepuk-nepuk pundak kekar Juhwan dengan raut wajah penuh kepuasan, mengindikasikan bahwa performa komunikasi muridnya telah mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Setelah melayangkan ucapan terima kasih sekali lagi atas hadiah busur megah dan pasokan amunisi tersebut, Juhwan akhirnya melangkah keluar meninggalkan area gudang persenjataan. Gus tampaknya masih memiliki beberapa urusan internal pertukangan yang harus diselesaikan, sehingga dia memilih untuk tetap tinggal di dalam ruangan gudangnya.

Klak, klak! Untaian plakat kayu alfabet di dalam genggaman tangan Juhwan menghasilkan melodi benturan yang jernih seiring dengan ayunan langkah kakinya meninggalkan pekarangan rumah Gus. Dia memiliki ambisi besar untuk bisa menguasai seluruh karakter huruf ini secepat mungkin, agar bisa segera meneruskan ilmu literasi tersebut kepada Lizzy dan Dorothy di rumah. Penguasaan literasi huruf jelas akan memperluas spektrum kapabilitas yang bisa mereka lakukan untuk membangun kehidupan yang lebih layak dan mandiri di masa depan—sebuah bekal investasi pengetahuan yang luar biasa berharga terutama bagi masa depan tumbuh kembang Dorothy agar anak itu tidak tumbuh menjadi warga buta huruf yang bisa ditindas dengan mudah oleh orang lain.

Di area pinggangnya, kantong kain berisi kelinci liar yang dia tangkap hidup-hidup tadi tampak menggeliat agresif, membuat wadahnya berayun konstan menghantam paha Juhwan. Membayangkan kelinci betina ini kelak akan melahirkan banyak anak di kandang barunya, dan anak-anaknya akan kembali beranak-pinak menghasilkan koloni peternakan mandiri yang masif, tanpa disadari membuat ritme langkah kaki Juhwan menjadi semakin cepat, ringan, dan bertenaga menuju gubuk kediamannya.


Misi Rahasia Pemburu Tua


Sungguh sosok pemuda asing yang sangat eksentrik dan sulit ditebak. Untuk apa seorang pemburu yang tinggal di tengah hutan pegunungan liar berniat keras mempelajari sistem huruf kuno yang rumit, dan keuntungan pragmatis apa yang bisa dia dapatkan dari penguasaan kemampuan literasi tersebut di tempat sekosong ini? Terlebih lagi, pria besar itu menuntut ilmu tersebut dengan ekspresi wajah yang memancarkan kebahagiaan luar biasa murni, seolah-olah baru saja menemukan sebuah harta karun legendaris.

Gus memutar kembali rekaman wajah antusias Juhwan di dalam benaknya, dan sebuah senyuman pahit yang sarat akan rasa ironi tanpa sadar terukir di bibir tuanya yang keriput.

Dia memang tidak pernah memiliki niat untuk membuang untaian plakat kayu alfabet kuno tersebut, tetapi benda itu sudah terlanjur terlupakan dan terkubur dalam tumpukan memori masa lalunya yang berdebu untuk jangka waktu yang sangat lama. Seandainya Juhwan tidak secara tidak sengaja menemukan keberadaannya hari ini, bilah-bilah kayu alfabet itu dipastikan akan terus mendekam dalam sunyi di sudut gudang rongsokannya hingga hancur dimakan waktu.

Plakat kayu alfabet itu sebenarnya merupakan sebuah komoditas berharga yang sengaja dia beli menggunakan seluruh sisa hasil tabungan darahnya di masa muda dulu—sebuah fase kehidupan di mana Gus masih dipenuhi oleh ambisi membara untuk mengukir prestasi gemilang sebagai pahlawan pemburu agar bisa diangkat dan dipekerjakan secara resmi sebagai bagian dari korps elit di bawah naungan keluarga bangsawan agung. Kala itu, seorang senior pemburu yang sangat dia hormati pernah memberikan wejangan berharga kepadanya bahwa menguasai kemampuan membaca dan menulis karakter huruf adalah sebuah prasyarat mutlak yang tidak bisa ditawar jika seseorang berambisi tinggi untuk meniti karier birokrasi di bawah administrasi kaum aristokrat. Usia Gus masih berada di pertengahan belasan tahun saat memori ambisius itu membakar jiwanya.

Kepingan kayu alfabet tersebut sejatinya merupakan sebuah perangkat edukasi bekas yang biasa dimanfaatkan untuk melatih anak-anak dari kalangan saudagar dan pedagang kaya di kota besar. Gus berhasil membelinya dengan harga miring saat lembaga sekolah dagang setempat berniat membuang dan memperbarui inventaris alat peraga mereka yang sudah usang akibat durasi pemakaian yang terlalu lama.

Pasca-keberhasilan mengamankan plakat alat peraga tersebut, Gus muda segera berjuang keras mencari sosok mentor yang bersedia mengajarinya dasar-dasar ilmu literasi dari nol. Di wilayah kota-kota besar, biasanya terdapat profesi khusus yang menawarkan jasa pembacaan dokumen hukum atau penulisan surat formal bagi kalangan masyarakat awam yang buta huruf. Dan sosok guru yang mendidik Gus di masa lalu adalah salah satu individu yang menggantungkan hidup dari profesi jasa administrasi jalanan tersebut.

Harga beli plakat kayunya sendiri saat itu sudah tergolong sangat menguras kantong bagi seorang pemuda hutan yang miskin, tetapi nominal biaya kursus belajar per jam yang dituntut oleh sang guru ternyata jauh lebih mencekik dan tidak masuk akal lagi. Proses internalisasi ilmunya terbukti memakan durasi waktu, materi, dan energi yang sangat luar biasa besar. Menghafal bentuk fisikal huruf, menyalin strukturnya agar terlihat presisi, serta menghafal arti dari untaian kata bukanlah sebuah perkara yang mudah untuk dieksekusi oleh kapasitas otak seorang pemuda hutan; Gus mengingat dirinya sering kali langsung melupakan seluruh materi pelajaran tersebut tepat pada detik pertama dia membalikkan badan meninggalkan pekarangan rumah gurunya.

Melalui perjuangan berdarah-darah, air mata, dan pengorbanan finansial yang masif itulah dia akhirnya berhasil menguasai ilmu membaca tersebut dengan matang. Namun ironisnya, di masa tuanya saat ini, satu-satunya fungsi nyata dari kemampuan membaca yang dia miliki murni hanya dimanfaatkan untuk memeriksa tulisan komoditas pada plakat kayu pemesanan setiap kali dia hendak memesan pasokan mata panah besi dari pandai besi kota.

Padahal kenyataannya, meskipun seorang pemburu buta huruf total sekalipun, mereka tetap bisa menggunakan jasa orang lain untuk membacakan isi plakat pesanan tersebut dengan hanya memberikan sedikit upah koin yang nilainya tidak seberapa. Tidak ada keunggulan absolut atau privilese khusus yang dia dapatkan dari penguasaan literasi huruf ini di tengah hutan; seluruh perjuangan masa mudanya itu terasa seperti sebuah investasi waktu dan materi yang sia-sia.

Gus menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba mengusir sisa-sisa memori nostalgia mengenai plakat kayu yang dulu pernah memayungi impian besarnya itu. ‘Jangan dipikirkan lagi. Semua ambisi masa muda itu sudah lama bertransformasi menjadi abu sejarah yang tidak berguna.’

Mulai hari ini, dia dituntut untuk menjelajahi area pegunungan yang jauh lebih liar dan dalam selama beberapa hari berturut-turut demi melacak keberadaan jejak-jejak pergerakan kawanan goblin. Makhluk-makhluk keparat bertubuh hijau itu pasti telah mendirikan sebuah koloni pemukiman rahasia di suatu tempat di dalam hutan pegunungan ini, tetapi hingga detik ini, Gus masih belum berhasil mengidentifikasi lokasi koordinat sarang utama mereka yang pasti.

‘Aku harus melangkah masuk jauh lebih dalam lagi ke area jantung pegunungan yang belum terjamah.’

Sama seperti karakteristik sebagian besar spesies binatang liar yang memasuki fase musim kawin saat fajar musim semi tiba, intensitas aktivitas pergerakan kawanan goblin juga akan mengalami lonjakan drastis pada periode waktu yang sama. Fase krusial sesaat sebelum musim semi menyingsing—di mana pasokan bahan pangan di alam mulai menipis secara ekstrem akibat hantaman badai musim dingin—selalu bertransformasi menjadi sebuah periode horor di mana intensitas kasus penculikan wanita manusia oleh kawanan goblin yang awalnya berhasil ditekan, mendadak melonjak naik secara masif, agresif, dan tidak terkendali di sekitar wilayah perbatasan desa.

‘Aku tidak boleh terlambat menemukan sarang mereka sebelum malapetaka itu terjadi.’

Dia wajib mengalkulasikan estimasi skala kuantitas koloni mereka terlebih dahulu sebagai langkah mitigasi awal. Jika struktur desa goblin tersebut terbukti belum terbentuk secara matang atau skalanya masih tergolong sangat kecil walaupun sudah berdiri, maka proses eksekusi serangan pembersihan sarang bisa ditunda hingga musim semi tahun depan demi keamanan. Namun, jika skenario buruknya membuktikan bahwa pemukiman mereka sudah terorganisir dalam skala masif dan matang, maka opsi terbaiknya adalah menemukan lokasi mereka secepat mungkin dan melancarkan serangan pembersihan total tepat sesaat sebelum musim semi dimulai—sebuah momen krusial di mana perhatian seluruh koloni goblin sedang terfokus penuh untuk menyusun rencana invasi ke desa manusia demi memburu para wanita untuk dijadikan mesin reproduksi mereka.

Jika situasi darurat berskala besar itu terbukti terjadi, dia bisa melayangkan permintaan bantuan resmi ke serikat petualang (adventurer) di kota, lalu dirinya bersama Juhwan bisa melebur ke dalam tim penyerbu tersebut untuk melakukan pemusnahan massal.

Progres perkembangan Juhwan dalam menguasai seluruh ilmu perburuan hutan terbukti berjalan dengan kecepatan yang sangat impresif, jauh di luar prediksi awalnya. Meskipun beberapa aspek gerakannya dinilai masih agak kaku dan kasar, Juhwan dipastikan akan sanggup mengeksekusi peran dan tugas tempurnya dengan sangat baik jika dikombinasikan dengan koordinasi taktis dari para petualang berpengalaman di lapangan nanti.

Kapabilitas memanah Juhwan memang saat ini masih jauh dari kata sempurna atau akurat, tetapi spesifikasi busur khusus kastem yang baru saja dirakit oleh Gus untuknya kali ini dipastikan akan mendongkrak daya hancur serangannya berkali-kali lipat. Varian kayu pilihan yang diaplikasikan sebagai material utama busur memiliki tingkat elastisitas dan ketahanan struktural yang luar biasa tinggi, sanggup menahan beban dari daya dorong tenaga monster milik Juhwan tanpa ada risiko patah. Kombinasi kekuatan fisik murni yang masif tersebut dipastikan akan sanggup menutupi seluruh kekurangan aspek akurasi tembakannya di medan tempur nyata; hantaman panahnya akan tetap mematikan di posisi mana pun serangan itu mendarat.

Gus dengan tergesa-gesa mengemas seluruh logistik pertahanan diri dan pasokan pangan yang dibutuhkan untuk menginap di tengah hutan liar selama beberapa hari berturut-turut, lalu melangkah keluar menerobos pintu gubuknya dengan cepat. Tak peduli seberapa berpengalaman dan familiernya seorang pemburu terhadap medan hutan pegunungan, area vegetasi liar saat kegelapan malam tiba selalu menyimpan potensi bahaya kematian yang absolut bagi siapa saja. Dia wajib tiba di titik lokasi pengamatan strategisnya dan membangun kamp pertahanan yang aman sebelum kegelapan malam sepenuhnya menyelimuti seluruh kawasan gunung.

Saat melangkah dengan ritme kaki yang pincang, area persendian tubuhnya yang mengalami cedera permanen akibat siksaan di masa lalu mendadak berdenyut menyiksa dengan intensitas yang tidak biasa akibat pengaruh hawa dingin. Goblin-goblin keparat sialan. Gus mengatupkan rahangnya kuat-kuat hingga membentuk garis tipis yang tegang menahan rasa sakit fisiknya. Kobaran api kebencian di dalam dadanya terus tumbuh semakin membara, pekat, dan beracun seiring dengan denyutan rasa sakit dari bekas luka lamanya yang tiada henti menyiksa fisiknya setiap hari.

"...."

‘Akan kuhabisi kalian semua tanpa sisa. Aku bersumpah demi sisa nyawaku, aku akan membantai seluruh ras keparat itu hingga punah dari muka bumi ini.’


Kegembiraan di Dalam Gubuk Juhwan


Sret, sret, sret...

Suara tajam dari bilah gunting besi yang memotong lembaran kain bergaung pelan memenuhi ruangan gubuk yang hangat. Lebih tepatnya, instrumen itu sedang memotong bahan tekstil mentah berkualitas baik sebelum dirakit menjadi sepotong pakaian anak-anak yang indah.

Dorothy menelan ludahnya dengan susah payah, sepasang mata bulatnya tidak berkedip sedikit pun memperhatikan setiap detail pergerakan tangan di depannya. Lizzy tampak sedang duduk bersila dengan anggun di dekat area tungku perapian yang menyala, sibuk menggunting selembar kain indah hasil pemberian kepala desa kemarin, disesuaikan dengan ukuran proporsi tubuh kecil anak itu.

"Apakah pakaian ini... benar-benar ditujukan untukku, Ibu?"

"Iya, Sayang. Ini untukmu," jawab Lizzy lembut.

"Benarkah untuk Dorothy?"

"Iya, benar sekali."

"Laju... kapan proses menjahitnya akan selesai?"

"...."

Lizzy perlahan meletakkan gunting besi berukuran besar tersebut di atas lantai kayu, lalu mengalihkan poros pandangannya untuk menatap langsung ke arah wajah Dorothy yang penuh harap. Tidak ada sedikit pun rona kemarahan atau kekesalan di wajah cantiknya meskipun aktivitas kerjanya terus-menerus diinterupsi oleh pertanyaan berulang yang sama sejak siang tadi; dia justru menyunggingkan senyuman manis yang sangat hangat.

"Dorothy, apakah kamu tahu sudah berapa kali kamu melontarkan pertanyaan yang persis sama sedari tadi kepada Ibu?"

"...Aku tidak tahu?" jawab Dorothy sambil mengerucutkan bibirnya yang mungil dengan ekspresi bingung.

"Ibu rasa jumlahnya sudah pasti lebih dari sepuluh kali, Sayang."

"...Masa sih? Ibu tidak salah hitung?"

Lizzy seketika meledak dalam tawa renyah yang sangat merdu, lalu mengeksekusi beberapa potongan final pada lembaran kain sebelum akhirnya menyimpan kembali alat gunting besarnya ke dalam kotak perkakas kayu. Dia memasukkan seutas benang ke lubang jarum dengan gerakan jemari yang telaten, lalu mulai menjahit potongan-potongan kain tersebut menjadi bentuk pakaian utuh.

Dorothy berdiri tegak di posisi yang sangat dekat di depan ibunya, mengamati setiap gerakan tusukan jarum Lizzy dalam keheningan yang khusyuk seolah sedang menyaksikan sebuah ritual suci. Objek yang sedang dirakit di depan matanya saat ini kelak akan bertransformasi menjadi pakaian barunya sendiri—sebuah busana yang diproduksi dari material kain bertekstur indah dan bersih yang belum pernah dia saksikan eksistensinya sepanjang hidupnya di gunung ini.

"Apakah ini benar-benar murni milikku sendiri?" Dorothy kembali memastikan dengan nada suara yang dipenuhi rasa tidak percaya, memancing Lizzy untuk kembali terkekeh geli melihat tingkah protektif putrinya.

"Dorothy, busana baru ini benar-benar murni diproduksi khusus hanya untukmu seorang."

"Benar-benar untuk Dorothy?"

"Iya, Sayangku."

Perasaan bahagia yang luar biasa besar langsung membuncah di dalam dada kecil Dorothy, membuatnya ingin melompat kegirangan. Pakaian rombeng yang melekat di tubuhnya saat ini sebenarnya merupakan sebuah pemberian dari salah seorang wanita paruh baya penduduk desa, jauh sebelum Lizzy datang mendampingi hidupnya di gubuk ini. Berdasarkan sisa memorinya yang samar, dia mendapatkan lungsuran baju bekas tersebut karena koleksi pakaian lamanya sudah terlanjur kekecilan hingga tidak layak lagi untuk membungkus fisiknya yang terus tumbuh. Kala itu, wanita desa tersebut terus-menerus merapalkan kalimat terima kasih berulang kali kepada sosok ibunya Dorothy terdahulu atas sebuah bantuan kecil.

Namun, kualitas dari baju lungsuran itu sebenarnya sangat mengenaskan dan tidak layak pakai; terdapat banyak lubang robekan besar di berbagai sudut dan penampilannya sama sekali tidak indah atau estetis. Bahkan ada noda kotoran aneh yang berkerak hitam di area bokong yang tidak bisa hilang, serta menguar aroma bau apak ganjil yang sangat menyengat indra penciuman.

Dorothy terpaksa harus terus mengenakan pakaian buruk bin kotor itu setiap hari sepanjang tahun hingga momen di mana Lizzy akhirnya datang mengubah total garis hidup mereka menjadi jauh lebih bersih dan manusiawi. Ah, dia mengingat detail perubahannya sekarang—saat pertama kali dia berpapasan dengan Lizzy, pakaian bekas yang dulunya terasa sangat longgar, kedodoran, dan kebesaran di tubuh kecilnya itu ternyata tanpa disadari sudah berubah menjadi sangat ketat, sesak, dan pendek akibat pertumbuhan fisiknya yang berjalan konstan.

Pasca-keberhasilan Lizzy mencuci bersih baju bekas tersebut menggunakan formula campuran air dan abu perapian, aroma bau ganjil yang melekat di serat kainnya memang berhasil dilenyapkan sepenuhnya dari pakaian tersebut. Namun, masalah kerusakan lubang robekannya tetap tidak bisa terselesaikan dengan sempurna karena keterbatasan bahan. Satu lubang besar yang awalnya berada di sana kini telah bercabang dan bertambah kuantitasnya menjadi tiga buah lubang baru yang menganga—sebuah fakta numerik menyedihkan yang sempat dijelaskan oleh Lizzy kepadanya saat mereka sedang menjemur baju.

Area jahitan di bagian samping baju juga sudah terlanjur koyak parah akibat serat kainnya yang sudah lapuk dimakan usia; meskipun Lizzy sudah berulang kali menjahit dan menambalnya kembali dengan penuh ketelatenan, serat kainnya akan selalu kembali robek dan terlepas setiap kali Dorothy bergerak aktif bermain di sekitar gubuk. Setiap kali pandangan mata Lizzy mendarat pada kondisi pakaian buruk berlubang yang membungkus tubuh anaknya tersebut, wajah cantiknya selalu otomatis berubah menjadi sangat muram dan didera rasa bersalah serta sedih yang mendalam karena belum bisa memberikan fasilitas yang layak.

"Baju baru yang cantik ini... murni milik Dorothy?"

"Iya, benar sekali, Sayang. Ini murni milikmu."

Mendengar penegasan verbal yang keluar langsung dari mulut Lizzy membuat kadar kebahagiaan di hati Dorothy semakin meluap-luap hingga rasanya dia ingin menari. Iya, benar sekali! Baju baru ini murni milikku! Dia rasanya ingin mendengarkan untaian kalimat konfirmasi indah itu berulang-ulang kali tanpa henti sepanjang hari agar hatinya tenang. Oleh karena itulah dia terus-menerus melontarkan pertanyaan yang sama, meskipun di sudut hatinya dia juga dirayapi rasa khawatir apakah aksinya yang cerewet ini kelak akan memancing kemarahan atau kejengkelan Lizzy atau tidak.


Kepulangan sang Ayah dan Kejutan Hidup

Tepat saat dia sedang membuka mulutnya kembali untuk menanyakan apakah baju itu murni miliknya untuk yang kesebelas kalinya, indra pendengarannya mendadak menangkap suara derit keras yang disertai guncangan dari arah pintu depan gubuk mereka.

Lizzy spontan langsung mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi dengan waspada, menyingkirkan potongan kain pakaian Dorothy ke samping lantai kayu, lalu bangkit berdiri dengan tergesa-gesa. Sambil melangkah cepat mendekati arah pintu, jemari Lizzy bergerak dengan sangat cekatan melepaskan dan mengikat ulang pita ikat rambutnya agar penampilannya terlihat rapi dan cantik di depan suaminya.

Dorothy tidak ingin ketinggalan momen penting ini; bocah kecil itu langsung melompat berdiri dari posisinya di dekat perapian. Meskipun start gerakannya sedikit terlambat jika dibandingkan dengan ibunya, kecepatan lari Dorothy terbukti jauh lebih superior karena posturnya yang ringan. Dorothy melesat kencang menyalip posisi berjalan Lizzy, di mana telapak kaki telanjangnya menimbulkan suara ketukan berisik yang ceria saat menghantam permukaan lantai kayu gubuk.

Pintu depan terbuka lebar dari luar, dan sosok pria bertubuh tegap kekar melangkah masuk ke dalam kehangatan rumah. Di dalam benak Dorothy saat ini, sosok pria besar itu bukan lagi diidentifikasi sebagai orang asing atau pelindung bernama Juhwan, melainkan dia adalah sosok Ayah kandungnya yang sah, pelindung absolut bagi hidupnya.

"Ayah!"

Dorothy berlari kencang sambil merentangkan kedua lengan mungilnya lebar-lebar ke udara, dan sang ayah dengan sigap langsung menangkap bagian ketiaknya lalu mengangkat tubuh kecilnya tinggi-tinggi ke atas langit-langit gubuk dengan satu gerakan mulus. Pria besar itu mendekap tubuh Dorothy dengan satu tangan kekarnya yang kokoh, memosisikan bocah itu dengan sangat nyaman di pelukan sisi tubuhnya yang hangat. Dorothy melingkarkan kedua lengannya erat-erat di sekeliling leher kekar sang ayah, lalu berteriak dengan nada suara yang melengking gembira di dekat telinganya.

"Ayah! Baju baru! Dorothy sebentar lagi punya baju baru yang sangat indah buatan Ibu!"

"Oh?"

Ayahnya merespons untaian kalimat heboh itu dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah maskulinnya yang ramah, tetapi—ah, iya, Dorothy baru teringat satu fakta penting bahwa ayahnya memang masih sangat payah dan kaku dalam urusan berkomunikasi menggunakan bahasa lokal dunia ini. Pria besar itu kemungkinan besar belum memahami esensi dari kombinasi kata "baju baru" yang dia ucapkan dengan penuh semangat tadi.

Dorothy sebenarnya berniat melanjutkan penjelasannya mengenai detail keindahan calon baju barunya dengan gerakan isyarat tangan yang heboh, tetapi fokus perhatiannya mendadak terdistraksi sepenuhnya saat dia menurunkan pandangan matanya ke bawah secara tidak sengaja. Ada sebuah sensasi aneh yang baru saja menyenggol permukaan telapak kaki kecilnya yang menggantung di udara.

Loh? Kok? Kenapa kantongnya bergerak-gerak sendiri?

Kantong kain baru yang tergantung kokoh di bagian pinggang ayahnya tampak menggeliat, berontak, dan bergerak-gerak sendiri secara agresif dari dalam! Ini benar-benar sebuah fenomena mistis yang sangat aneh bagi logika berpikirnya. Mengapa sebuah kantong kain mati bisa menunjukkan aktivitas pergerakan biologis yang begitu intens?

"Ayah... apakah ini adalah sebuah keajaiban sihir baru? Sihir kantong kain menari?"

Dia menatap lekat-lekat wajah ayahnya dengan raut penuh rasa takjub dan kekaguman yang luar biasa besar. Ayahnya kemarin terbukti memiliki kapabilitas magis untuk memanifestasikan percikan api dari ujung jarinya secara tiba-tiba, jadi bukanlah sebuah hal yang mustahil di dalam otak kecil Dorothy jika pria hebat ini juga baru saja membangkitkan varian sihir tingkat lanjut yang bisa memaksa sebuah kantong kain mati untuk bergerak sendiri.

Sang ayah hanya membalas pertanyaan imajinatif anak itu dengan kekehan geli yang rendah, lalu mulai menggerakkan sebelah tangan besarnya untuk mencoba melepaskan ikatan tali pada simpul kantong kain tersebut. Ayahnya memang diakui sebagai sosok pria yang luar biasa kuat, perkasa, dan pemberani yang sanggup menaklukkan serigala di mata Dorothy, tetapi untuk urusan motorik halus yang mendetail seperti membuka simpul tali, pria besar itu terbukti agak kikuk dan payah; dia didera kesulitan besar untuk membuka ikatan simpul pita kain tersebut hanya dengan mengandalkan satu tangan sementara tangan lainnya sibuk mendekap Dorothy.

Lizzy melangkah mendekati posisi mereka sambil melepaskan tawa renyah yang sangat manis, mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir Juhwan sebagai bentuk salam penyambutan kepulangan suaminya, lalu dengan gerakan jemari yang cekatan membantu mengurai ikatan simpul yang rumit tersebut dari pinggang Juhwan.

Ah! Jangan lupakan Dorothy! Dorothy juga menuntut jatah kecupan hangat dari Ayah!

Tepat saat bocah kecil itu sedang memajukan wajahnya dan memoncongkan bibir mungilnya ke depan untuk menuntut hak kecupannya, fokus netra Dorothy mendadak terkunci sepenuhnya pada sebuah objek ganjil yang mulai mengintip keluar dari balik celah lubang kantong kain yang perlahan dibuka oleh Lizzy.

Oh, oh! Benda berbulu apa itu sebenarnya?

"Kelinci...?"

Suara Lizzy bergaung memecah keheningan gubuk, diwarnai rona nada terkejut yang sangat kental saat pandangan matanya menangkap penampakan sepasang telinga panjang yang menyembul keluar dari balik kantong kain. Sepasang telinga panjang berbulu itu tampak bergerak-gerak aktif, berkedut-kedut ke arah kanan dan kiri dengan sangat lincah mengendus udara sekitar.

"Makhluk ini... benar-benar masih hidup dan bergerak!" Kedua mata bulat Dorothy seketika melebar maksimal hingga bulat sempurna.

Kelinci itu... benar-benar menunjukkan aktivitas pergerakan biologis yang sangat nyata dan lincah dari dalam wadahnya. Loh, kok bisa ada kelinci hidup di tangan Ayah? Based on basis pengetahuan terbatasnya yang dia saksikan dari hasil tangkapan Gus atau pemburu desa selama ini, bukankah semua komoditas kelinci hasil buruan sewajarnya harus selalu berada dalam kondisi terkulai lemas tanpa nyawa karena sudah dipotong lehernya? Mengapa kelinci yang dibawa oleh ayahnya kali ini justru bisa hidup dan bergerak seaktif ini? Seluruh persediaan daging kelinci yang dibawa pulang oleh ayahnya di masa-masa lalu selalu berwujud onggokan daging mati yang kaku, dingin, dan lemas...

Namun, entah karena alasan psikologis atau dorongan insting biologis apa yang berkecamuk di dalam perutnya, seiring dengan pengamatan intensifnya pada pergerakan aktif hewan berbulu yang tampak gemuk tersebut, cairan air liur mendadak menetes keluar mengalir deras dari sudut bibir mungil Dorothy yang mendadak merasa sangat lapar dan ingin makan daging panggang.

PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER

Post a Comment

0 Comments