Header Ads Widget

Chapter 25 - Mengamankan Bahan Pangan Darurat

 


025: Mengamankan Bahan Pangan Darurat

Kelinci yang telah mati itu langsung dikuliti di tempat.

Anak panah yang terbuat dari bambu ternyata memiliki ukuran yang jauh lebih tebal dari perkiraan Juhwan. Darah segar mengalir deras dari bekas luka tusukan yang diameternya setebal jari tangan, membuat bulu kelinci yang suhunya belum sepenuhnya mendingin itu basah kuyup.

Namun, bagian tubuh lain yang tidak tertusuk panah masih tergolong relatif bersih. Aliran darah yang keluar sebagian besar tertahan oleh bulunya yang tebal, sehingga proses ini tidak menjadi terlalu berantakan.

"...."

Juhwan sudah sering melihat proses memotong dan menguliti kelinci di masa lalu, tetapi ini adalah kali pertama dia mempraktikannya dengan tangan sendiri. Saat menangani serigala sebelumnya, dia telah melakukan banyak kekeliruan. Dia bertekad tidak boleh mengulangi kesalahan amatir yang sama. Juhwan memfokuskan seluruh perhatian ke ujung jarinya, mencoba memanggil kembali memori tentang apa yang pernah dilakukan oleh kakeknya.


Kilas Balik Kehidupan di Bumi

Masa-masa hidup bersama kakeknya hanya berlangsung selama setahun lebih sedikit, tepatnya ketika Juhwan masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Kakeknya mengembuskan napas terakhir setelah mereka tinggal bersama dalam waktu yang singkat itu.

Setelah kepergian sang kakek, Juhwan sempat berpindah-pindah dan menumpang di beberapa rumah kerabatnya selama beberapa minggu, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mencari sebuah rumah kecil dan hidup mandiri seorang diri.

Dia menjalani hidup dalam kesendirian yang pekat, tetapi dia tidak pernah menyalahkan siapa pun atas takdirnya.

Di antara lingkaran kerabatnya, sempat beredar rumor miring bahwa kedua orang tua serta kakeknya meninggal dunia akibat kutukan yang dibawa oleh Juhwan. Ironisnya, Juhwan sendiri sempat memercayai dogma kelam tersebut. Semua orang yang berada di dekatnya, semua orang yang sangat dia sayangi dan lindungi, pada akhirnya selalu berakhir dengan kematian.

Bagi seorang anak yang merasa selalu diikuti oleh bayang-bayang kematian, hidup mengasingkan diri dalam kesendirian adalah sebuah pilihan yang logis. Dia menerima garis takdir itu dengan lapang dada. Namun, jauh di lubuk hatinya, Juhwan sebenarnya memendam luka emosional yang sangat dalam. Manifestasi dari rasa sakit itu membuat dirinya tumbuh menjadi remaja temperamental saat menginjak bangku SMA; dia akan langsung melayangkan pukulan mentah setiap kali terlibat senggolan kecil dengan orang lain.

Namun, di dunia baru ini, dia bersumpah tidak ingin kehilangan siapa pun lagi. Lizzy dan Dorothy... Tidak, sosok Santa sudah memberikan jaminan mutlak untuk keselamatan mereka, jadi segalanya pasti akan baik-baik saja. Dia sangat yakin akan hal itu.


Pelajaran Penting dari Seorang Mentor

Sambil memikirkan berbagai hal acak itu, Juhwan terus melanjutkan proses menguliti kelinci dan membersihkan isi perutnya. Gus berdiri diam di sampingnya, mengawasi setiap pergerakan Juhwan dengan saksama.

Sesekali, Gus akan menepuk lengan Juhwan dengan ringan sebagai isyarat agar dia menghentikan gerakannya sejenak. Pria tua itu kemudian memberikan instruksi detail mengenai hal-hal minor, seperti teknik memegang pisau yang benar atau sudut sayatan yang ideal pada kulit hewan. Di luar koreksi teknis tersebut, Gus sama sekali tidak berniat mencampuri sisa pekerjaan Juhwan.

Setelah seluruh proses penanganan kelinci selesai, mereka menggantung tubuh hewan itu di dahan pohon untuk sementara waktu, lalu mulai membongkar jerat tambang yang terpasang di tempat tersebut. Struktur jerat itu sebenarnya sangat sederhana, hanya berupa seutas tali yang dibentuk melingkar, sehingga proses pemasangan dan pembongkarannya bisa dilakukan dengan sangat cepat.

Gus mengeluarkan sebuah alat logam berbentuk mirip pengait dari tasnya. Dia menggunakannya untuk mengeruk permukaan tanah gunung yang keras, lalu mengubur seluruh jeroan kelinci ke dalam lubang tersebut. Proses itu diakhiri dengan menutup permukaannya menggunakan gumpalan salju yang berada di sekitar sana.

Karena lokasi ini terletak sangat jauh dari rumah mereka, Juhwan berpikir bahwa seandainya ada hewan predator yang mencium bau darah lalu berkumpul di tempat ini pun, hal itu tidak akan memicu masalah besar. Namun, jika demikian, apa urgensi dari tindakan mengubur sisa jeroan ini? Sebuah pertanyaan mendadak melintas di kepalanya.

"Apakah tidak apa-apa... meninggalkan bekas darah ini?"

Ketika Juhwan melontarkan pertanyaan menggunakan kombinasi kosakata dan pelafalan yang masih kaku, Gus menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Buruk. Binatang... besar... luas... tidak boleh."

Karena tidak bisa menangkap maksud ucapan Gus secara utuh, mereka akhirnya terlibat dialog singkat yang diwarnai banyak kesalahpahaman kosakata. Di tengah jalannya percakapan, Juhwan baru menyadari bahwa selama ini dia telah keliru dan mencampuradukkan antara kata "besar" dan "luas" dalam bahasa lokal dunia ini.

Begitu dia berhasil mengoreksi pemahaman kosakata yang keliru tersebut, makna dari ucapan Gus langsung tergambar dengan sangat jelas di kepalanya. Karena wilayah jelajah dari hewan-hewan karnivora di gunung ini tergolong sangat luas, maka adalah sebuah keharusan bagi seorang pemburu untuk selalu mengubur dan melenyapkan seluruh jejak pembantaian setelah berhasil mengeksekusi hewan, meskipun lokasi berburu tersebut berada di wilayah yang sangat jauh dari gubuk kediaman mereka.

Juhwan juga mencatat satu hal menarik: meskipun Gus dan Lizzy menggunakan bahasa yang sama, terdapat sedikit perbedaan struktural pada bagian akhiran kalimat atau penekanan emosi saat didengarkan. Tampaknya terdapat perbedaan gradasi antara bahasa yang digunakan oleh pria dan wanita, atau mungkin intonasi suaranya mengalami sedikit pergeseran berdasarkan faktor usia.

Juhwan bertanya-tanya dalam hati, apakah suatu hari nanti dia akan sanggup memahami perbedaan linguistik yang sangat halus dan mendetail seperti itu jika sudah sepenuhnya terbiasa dengan bahasa di dunia ini. Untuk saat ini, level kemampuannya jelas masih sangat jauh dari ekspektasi tersebut.

Melihat Juhwan tampaknya sudah mulai menangkap poin penjelasannya, Gus kembali menambahkan beberapa patah kata peringatan.

"Pemburu... juga... berbahaya."

Juhwan mengangguk paham. Selama mereka masih berkeliaran di dalam kawasan hutan pegunungan yang liar, para pemburu pun memiliki probabilitas yang sama tingginya untuk berpapasan dengan hewan karnivora yang mematikan.

Mengingat potensi risiko yang ekstrem seperti itu, memang jauh lebih bijaksana untuk tidak meninggalkan jejak sekecil apa pun di tempat mana pun. Setiap tindakan yang diambil oleh seorang pemburu berpengalaman ternyata memiliki makna filosofis tersendiri, bahkan untuk urusan sekecil apa pun. Juhwan mencoba mengingat kembali setiap detail tindakan yang pernah diperlihatkan Gus selama mereka pergi bersama.

Meskipun Gus tidak menjelaskannya secara verbal, pasti ada beberapa aturan mutlak yang tidak boleh dilanggar sama sekali dalam dunia perburuan. Mungkin saja ada banyak tindakan yang menurut pandangan awam Juhwan terasa sepele, tetapi sebenarnya memegang fungsi yang sangat krusial bagi keselamatan hidup mereka.

‘Aku harus lebih jeli memperhatikan detail-detail seperti ini di masa depan.’


Sisi Kelam Sebuah Perburuan

Ada lebih banyak hal yang bisa dipelajari untuk menjadi seorang pemburu sejati dengan cara mengamati dan meniru secara langsung, daripada hanya sekadar mengandalkan teori lewat untaian kata. Seseorang tidak boleh meremehkan suatu instruksi hanya karena merasa dirinya sudah mengetahui hal tersebut.

Meskipun pemikiran itu tertanam kuat di dalam kepalanya, proses implementasi di lapangan ternyata tetap terasa sangat sulit. Masih terlalu banyak detail krusial yang kerap terlewatkan oleh indranya tanpa disadari.

Setiap kali Juhwan mengingat kembali momen saat dia melepaskan anak panah tadi, sepasang mata kelinci yang menatapnya dengan sorot penuh rasa sakit dan ketakutan hebat selalu kembali terbayang di depan mata.

Dia tidak boleh melupakan esensi dari kejadian hari ini. Meskipun dia memiliki kapabilitas untuk mengakhiri nyawa makhluk itu dalam satu kali serangan bersih, dia justru sengaja menorehkan rasa sakit yang menyiksa demi sebuah latihan egois. Tindakan semacam itu jelas tidak bisa dikategorikan sebagai aktivitas berburu yang normal maupun tindakan yang benar; itu adalah sebuah aksi keji yang menyalahi kodrat dan tatanan alam. Namun, Juhwan tahu pasti bahwa Gus memiliki alasan yang sangat fundamental mengapa dia bersikeras memaksanya melakukan metode brutal tersebut.

‘Sorot mata ketakutan itu... tampaknya akan menetap di dalam hatinya seumur hidup.’ Juhwan menghela napas pendek.

Mendadak, sebuah proyeksi mengerikan melintas di benaknya. Dia membayangkan seekor beruang monster atau kawanan serigala liar berhasil mendobrak masuk ke dalam gubuknya, lalu mulai menganiaya Lizzy dan Dorothy tanpa ampun. Hewan-hewan itu menggigit tangan mereka dan mengoyak kaki mereka hingga lumpuh tak berdaya... Tatapan mata penuh ketakutan dari keluarganya yang bersimbah darah mendadak tumpang tindih dengan sorot mata kelinci buruannya tadi.

‘Cukup. Hentikan pikiran bodoh ini.’ Juhwan menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir visualisasi buruk tersebut.

Dia sudah memiliki peralatan yang memadai sekarang. Dengan material dan perkakas pertukangan yang dibawa oleh rombongan kepala desa kemarin, dia bisa mulai membangun pagar pembatas yang kokoh di sekeliling area rumahnya. Dia memutuskan untuk memulai proyek pembangunan pagar itu hari ini juga.

Aktivitas berburu sama sekali tidak memiliki unsur romantis di dalamnya. Ini murni merupakan urusan pertarungan demi bisa bertahan hidup, baik bagi pihak manusia maupun pihak binatang. Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan: manusia bukanlah satu-satunya pihak yang berperan sebagai pemburu di dunia ini. Hewan-hewan liar di luar sana juga melakukan aktivitas berburu yang sama, dan sering kali mereka mengeksekusinya dengan teknik yang jauh lebih efisien dan mematikan.


Rencana Pangan Masa Depan

Gus tampak merobek keheningan dengan merogoh bagian dalam tas kulitnya. Ukuran tas milik Gus memang sedikit lebih besar dibanding milik Juhwan, dan benda itu terbukti sanggup menampung volume barang yang jauh di luar perkiraan.

Dari sudut terdalam tasnya, Gus mengeluarkan sebuah buntelan kain kecil yang tergulung rapi. Begitu gulungan itu dibuka, benda itu bertransformasi menjadi sebuah kantong yang terbuat dari potongan kain usang. Gus menyerahkan kantong kain itu kepada Juhwan.

"Ini, masukkan kelincinya ke dalam sini dan bawalah pulang."

Tampaknya kelinci pertama yang berhasil mereka amankan hari ini sengaja dialokasikan sepenuhnya untuk menjadi bagian Juhwan. Tanpa berniat melakukan penolakan yang tidak perlu, Juhwan menerima kantong itu sambil membungkukkan tubuhnya sedikit.

"Terima kasih banyak."

"...."

Gus hanya merespons ucapan itu dengan senyuman misterius dalam sunyi.

Juhwan memasukkan tubuh kelinci yang sudah dikuliti beserta lembaran bulunya ke dalam kantong kain tersebut. Dia mengikat bagian ujung kantong menggunakan seutas tali panjang yang terpasang di dekat lubang masuknya, lalu mengaitkan buntelan itu di bagian pinggangnya. Bobot kelinci yang berada di dalam kantong membuat area pinggangnya terasa berat, dan secara linier, hatinya pun ikut dirayapi oleh perasaan yang tidak kalah berat.

Masih ada beberapa titik lokasi lain di mana jerat tambang mereka dipasang. Meskipun tidak ada hewan yang tertangkap selama pengamatan tadi malam, hari ini seekor kelinci lain terbukti berhasil diamankan pada titik jerat yang kedua.

Untuk perburuan kali ini, Gus yang turun tangan langsung secara personal untuk mengeksekusinya. Setelah memberikan instruksi agar Juhwan memperhatikan setiap detail gerakannya dengan cermat, Gus dengan kecepatan yang luar biasa langsung mematahkan leher kelinci tersebut dan mulai mengulitinya.

Metode eksekusi yang diperlihatkan oleh Gus memiliki karakteristik yang agak berbeda dengan teknik Juhwan. Gerakan pria tua itu terkesan jauh lebih cepat, efisien, namun kasar. Hebatnya, jumlah sisa ceceran darah yang tertinggal di area sekitar daging dan kulit kelinci justru jauh lebih sedikit. Juhwan menilai akan jauh lebih baik bagi perkembangannya jika dia meniru metode milik pria tua ini di masa mendatang. Juhwan memutar kembali rekaman gerakan Gus di dalam memorinya berulang-ulang kali untuk menghafalnya.

Kelinci kedua itu menjadi hak milik Gus sepenuhnya. Gus memasukkan hasil buruannya ke dalam kantong kain miliknya sendiri lalu menggantungkannya di pinggang, persis seperti yang dilakukan Juhwan sebelumnya.

Pada titik jerat yang ketiga, mereka tidak menemukan hasil apa pun; perangkap tambang mereka tampak kosong melongpong. Namun ketika mereka melangkah menuju lokasi jerat yang keempat—yang merupakan titik perangkap terakhir mereka—ada seekor kelinci lain yang kembali terperangkap di sana.

Gus menyunggingkan senyum lebar, mengindikasikan bahwa hari ini adalah hari keberuntungan mereka.

"Kau... kelinci ini... ambil."

Tampaknya kelinci terakhir ini sengaja dialokasikan untuk menjadi bagian milik Juhwan lagi. Jika ingin menerapkan sistem pembagian yang adil, mereka sewajarnya harus membagi dua total hasil buruan hari ini. Namun, Juhwan memilih untuk tidak memusingkan formalitas kesopanan atau aksi saling memberi konsesi yang rumit tersebut; dia memutuskan untuk menerima pemberian Gus dengan penuh rasa syukur.

Namun, saat Juhwan melangkah mendekati lokasi jerat untuk mengeksekusi kelinci tersebut, langkah kakinya mendadak terhenti di tengah jalan. Sebuah ide baru yang cemerlang tiba-tiba melintas di dalam benaknya—bagaimana jika dia membawa kelinci ini pulang dalam kondisi hidup untuk diternakkan?

Aktivitas memelihara dan menangkarkan kelinci bukanlah sebuah urusan yang terlampau sulit untuk dieksekusi. Selama seseorang bisa menjamin ketersediaan pasokan pakannya secara reguler dan rajin membersihkan area kandangnya, proses ini tidak akan menguras banyak energi. Berdasarkan sisa memori kolektif yang dia ingat saat berada di Bumi, aroma kotoran yang dihasilkan dari peternakan kelinci juga tidak terlalu menyengat atau mengganggu kenyamanan.

Meskipun secara visual rupa kelinci di dunia ini terlihat sedikit lebih sangar dan ganjil, sistem ekologi dan karakteristik biologis makhluk ini kemungkinan besar masih memiliki banyak kemiripan dengan kelinci di Bumi. Atau mungkin polanya sama persis, mengingat makhluk ini pada dasarnya tetaplah dikategorikan sebagai sejenis kelinci.

Kelinci adalah jenis mamalia yang memiliki tingkat kesuburan yang sangat luar biasa; mereka bisa melahirkan banyak anak dalam waktu singkat. Juhwan ingat kakeknya dulu sering menggerutu kesal karena kawanan kelinci peliharaannya beranak-pinak terlalu cepat dan terlalu sering, hingga membuat sang kakek kewalahan karena harus terus-menerus menyabit rumput liar untuk memenuhi pakan mereka.

Di masa-masa sulit di mana mereka gagal mendapatkan hasil buruan di hutan atau saat musim kelaparan melanda, penangkaran kelinci ini bisa bertransformasi menjadi sebuah sumber pasokan pangan darurat yang sangat ideal. Bayangan tentang postur tubuh Lizzy dan Dorothy yang kurus kering seketika melintas di pelupuk matanya. Jika dia berhasil membangun sistem peternakan kelinci yang stabil di gubuknya, dia bisa menjamin pasokan daging segar secara konstan untuk keluarganya, sekaligus mencegah kedua orang terkasihnya itu harus kembali menderita akibat didera rasa lapar.

"...."

Kakeknya di Bumi terkadang memang membeli pakan konsentrat pabrikan, tetapi sebagian besar waktu, kakeknya hanya memanfaatkan sisa jerami dari tanaman padi atau jelai (barley), serta rumput liar yang tumbuh subur di area sekitar pekarangan. Sementara itu, wilayah pegunungan tempat dia tinggal saat ini dipenuhi oleh hamparan pohon lebat dan vegetasi hijau yang melimpah. Masalah ketersediaan pakan jelas tidak akan menjadi kendala yang berarti bagi rencananya.

"Apakah ada masalah?" Gus melontarkan pertanyaan dengan raut wajah penuh kebingungan saat melihat Juhwan mendadak mematung diam di tempat.

Juhwan mengalihkan pandangannya untuk menatap mata Gus, lalu membuka mulutnya.

"Gus. Kelinci ini... bawa pulang. Bunuh... jangan."

Dia mengombinasikan untaian kosakata terbatasnya dengan gerakan tubuh yang heboh untuk mengomunikasikan keinginannya bahwa dia berniat membawa kelinci tersebut dalam kondisi hidup-hidup untuk dipelihara di rumah. Setelah mengamati gestur Juhwan selama beberapa saat, Gus akhirnya berhasil menangkap esensi dari maksud pria besar itu. Pria tua itu spontan langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan; entah mengapa, dia tampaknya sedang menahan ledakan tawa yang luar biasa geli.

Gus menganggukkan kepalanya kuat-kuat, berucap "oke, oke" sebagai tanda bahwa dia tidak memiliki niat untuk menentang rencana tersebut. Namun, jika dinilai dari ekspresi jenaka yang terpatri di wajah tuanya, sangat jelas terlihat bahwa Gus menganggap pemikiran Juhwan sebagai sebuah gagasan yang sangat konyol dan kekanak-kanakan.

Meski begitu, karena Gus memberikan lampu hijau, Juhwan menyimpulkan bahwa aktivitas menangkarkan kelinci liar bukanlah sebuah tindakan yang dilarang oleh hukum adat desa maupun menyimpan potensi bahaya tersembunyi. Mengenai alasan mengapa Gus sampai tertawa terpingkal-pingkal seperti itu, Juhwan memilih untuk tidak memedulikannya untuk saat ini. Bagaimanapun, selama rencana peternakan kelinci ini aman untuk dieksekusi di wilayah gunung, hal itu sudah lebih dari cukup baginya.

Saat Juhwan melangkah mendekati kelinci yang ketakutan itu, Gus menyerahkan sebuah kantong kain baru kepadanya. Ketika Juhwan memasukkan tubuh kelinci itu ke dalam kantong, makhluk itu sempat memberontak secara agresif di awal, tetapi tak lama kemudian pergerakannya perlahan mulai tenang. Kelinci itu memilih untuk diam meringkuk di dalam kegelapan kantong kain.

Juhwan sempat dirayapi kekhawatiran sesaat mengenai risiko aroma kelinci hidup ini akan memancing kedatangan hewan predator berbahaya seperti serigala selama perjalanan pulang. Namun, melihat Gus merespons situasi ini dengan santai bahkan sambil terkekeh geli, dia berasumsi skenario buruk itu tidak akan terjadi. Tampaknya ada beberapa hukum alam di dunia ini yang belum dipahami oleh Juhwan, tetapi selama hal itu tidak mengancam keselamatan nyawanya, dia memutuskan untuk mengabaikannya.


Rahasia di Dalam Gudang Senjata

Setelah menyelesaikan seluruh urusan di lokasi jerat, Gus tidak langsung menuntun Juhwan berjalan pulang ke gubuknya sendiri, melainkan membawanya menuju kediaman pribadi Gus.

Jika pada kunjungan-kunjungan sebelumnya Juhwan selalu diminta untuk menunggu dengan patuh di area pekarangan depan rumah, kali ini Gus justru menuntun langkah kakinya menuju ke sebuah bangunan gudang yang terletak di area belakang rumahnya. Gudang kayu berstruktur sederhana itu sebenarnya tidak memiliki banyak perbedaan visual dengan gudang penyimpanan yang berada di rumah Juhwan; penampilannya tergolong sangat biasa. Mengingat Gus sudah memiliki tempat terpisah untuk menimbun kayu bakar, Juhwan berspekulasi bahwa komoditas yang disimpan di dalam gudang ini kemungkinan besar adalah barang-barang yang jauh lebih bernilai.

Karena belum mengetahui alasan pasti mengapa dirinya diundang masuk ke tempat privasi ini, Juhwan sempat menunjukkan gestur ragu-ragu di depan pintu masuk. Gus membuka pintu kayu gudang tersebut lebar-lebar, lalu melambaikan tangan memanggilnya.

"Masuklah ke dalam."

"...."

Begitu melangkah masuk mengikuti instruksi Gus, indra penciuman Juhwan langsung disambut oleh aroma pekat dari serat kayu yang menguar di udara. Meskipun saat ini hari masih siang menderang, atmosfer di dalam ruangan gudang ini terasa agak temaram dan gelap akibat minimnya bukaan ventilasi cahaya.

Juhwan spontan melebarkan kedua matanya dalam emosi terkejut yang kentara saat pandangannya menyapu sekeliling ruangan.

Di satu sisi dinding gudang, terdapat sebuah rak kayu besar yang dipenuhi oleh ratusan anak panah bambu yang ditata secara horizontal dengan sangat rapi. Jumlahnya benar-benar luar biasa banyak. Beberapa di antaranya sudah dilengkapi dengan mata panah yang tajam, sementara sebagian lainnya dibiarkan polos tanpa mata pisau. Karakteristik mata panah logamnya pun sangat bervariasi; ada yang memiliki ujung tumpul, dan ada juga yang dilengkapi dengan mata kait logam berbentuk duri yang mengerikan. Selain varian logam, terdapat pula tumpukan anak panah yang strukturnya murni terbuat dari kayu utuh, di mana bagian ujungnya hanya diruncingkan secara manual menggunakan pisau.

Di atas lantai kayu yang terletak tepat di samping rak tersebut, berjajar beberapa tong kayu berukuran besar. Tong-tong itu terisi penuh oleh ribuan batang bambu mentah yang masing-masing diameternya sudah dipotong merata seukuran ketebalan sebuah anak panah standar.

Sementara itu, di sudut ruangan yang berada di posisi berlawanan, terdapat sebuah tong khusus yang terisi penuh oleh ribuan helai bulu burung berukuran panjang. Di samping tong bulu tersebut, diletakkan sebuah wadah barel kecil yang menampung ratusan mata panah logam mentah yang belum dirakit.

Juhwan mengalihkan poros pandangannya ke arah lain. On dinding yang terletak tepat di depan pintu masuk, terdapat puluhan bilah papan kayu datar setinggi postur tubuh Juhwan yang ditancapkan secara vertikal di dalam sebuah wadah barel besar. Jumlah papan kayu itu juga tidak kalah mengagumkan. Berbeda dengan material anak panah yang seluruhnya menggunakan bambu, papan-papan kayu panjang ini tampaknya diproduksi dari berbagai jenis varietas pohon yang berbeda.

Meskipun materialnya beragam, seluruh papan tersebut memiliki kesamaan dalam hal pola bentuk dasar. Beberapa di antaranya memang masih berwujud papan datar polos yang kasar, tetapi bilah-bilah kayu yang sudah melewati proses pemahatan tingkat lanjut terbukti memiliki bentuk geometris yang identik dengan busur panjang yang saat ini sedang disandang oleh Juhwan di punggungnya—di mana bagian tengah kayu diukir dengan kehalusan tingkat tinggi membentuk sebuah pola lingkaran melengkung yang simetris.

"Busur...?" Juhwan melontarkan pertanyaan retoris, dan Gus meresponsnya dengan anggukan kepala mantap.

Gus menunjuk ke arah sebuah sudut ruangan di sebelah kanan. Di sana terdapat sebuah meja kerja pertukangan yang terbuat dari kayu solid, dan di atas permukaannya tergeletak sebilah busur setengah jadi yang proses pembuatannya tampaknya baru berjalan separuh jalan.

Selama ini, Juhwan selalu berasumsi bahwa busur dan anak panah yang digunakan oleh para pemburu di dunia ini dipasok dengan cara dibeli dari toko persenjataan di kota atau wilayah pemukiman yang lebih besar. Namun, fakta di depan matanya saat ini membuktikan bahwa Gus memproduksi seluruh persenjataan tersebut secara mandiri dengan tangannya sendiri—kecuali untuk komoditas mata panah logam yang pengerjaan metalurginya memang sangat sulit untuk dieksekusi di wilayah pegunungan yang terisolasi.

"Gus... yang membuat ini semua? Busur? Anak panah?"

"Ya. Aku yang membuatnya sendiri. Dan aku... akan mengajarkan seluruh tekniknya kepadamu."

"Aku... belajar? Gus... mengajari?"

"Benar."

Tampaknya Gus memang berniat menurunkan seluruh warisan pengetahuannya mengenai tata cara pembuatan busur dan anak panah tradisional kepada Juhwan.

Detik itu juga, sebuah pemahaman baru mendadak melintas di dalam benak Juhwan. Dia akhirnya mengerti alasan logis mengapa busur-busur yang digunakan di dunia ini memiliki desain kelengkungan yang hampir mendekati garis lurus, sangat berbeda dengan struktur busur melengkung sempurna yang sering dia lihat di Bumi. Bahkan bagi seorang awam yang tidak memiliki basis pengetahuan pertukangan senjata sekalipun, Juhwan paham betul bahwa proses pembuatan sebuah busur dengan tingkat kelengkungan yang ekstrem adalah sebuah urusan yang luar biasa rumit.

Agar sebilah kayu keras bisa dipaksa menekuk membentuk pola melengkung yang permanen tanpa risiko patah, material kayu tersebut kemungkinan besar harus melewati proses penguapan dan penekanan konstan menggunakan alat cetakan khusus dalam skala waktu yang sangat lama. Eksekusi fabrikasi serumit itu jelas mustahil untuk dikerjakan secara mandiri oleh satu orang pemburu di tengah hutan tanpa bantuan mesin atau perangkat mekanis yang memadai.

Sebaliknya, dengan menerapkan desain busur lurus yang sederhana seperti milik Gus ini, proses produksinya menjadi sangat realistis untuk diselesaikan secara mandiri oleh satu individu menggunakan peralatan pertukangan manual yang minimal.

"Apakah aku... boleh melihatnya lebih dekat?"

Juhwan meminta izin untuk mengamati komponen busur dan panah itu dari jarak dekat, dan Gus memberikan anggukan tanda setuju.

Juhwan mulai melangkah perlahan mengeksplorasi setiap sudut bagian dalam gudang persenjataan tersebut, sesekali mendaratkan tangannya untuk menyentuh beberapa objek di sana. Dia mengelus deretan anak panah yang berjejer di atas rak kayu, lalu mengambil sehelai bulu burung dari dalam tong untuk mengamati struktur anatominya dengan saksama.

Dia menyadari bahwa lembaran bulu burung tersebut memiliki karakteristik bentuk yang agak ganjil. Beberapa helai bulu terlihat memiliki pola kelengkungan alami yang condong ke arah kanan, sementara sebagian helai lainnya justru melengkung ke arah kiri.


Keterbatasan Pengetahuan Modern

Sebelum melakukan pengamatan ini, Juhwan selalu mengasumsikan dalam kepalanya bahwa seluruh bulu burung pada dasarnya memiliki struktur garis yang lurus simetris. Namun, fakta fisik yang dia pegang saat ini terbukti sangat bertolak belakang dengan ekspektasi teoritisnya selama ini.

Tentu saja, struktur biologis dari bulu burung di dunia mistis ini tidak mungkin memiliki perbedaan evolusi yang terlampau ekstrem dengan burung-burung yang eksis di Bumi. Fenomena ini justru memicu sebuah perasaan aneh di dalam hatinya. Bukankah sewajarnya semua spesies unggas memiliki karakteristik bulu yang serupa?

Juhwan kembali melanjutkan langkah kakinya mengitari ruangan gubuk, menyentuh permukaan busur panjang yang sudah jadi serta meraba tekstur papan-papan kayu mentah yang belum melewati proses pemahatan.

Melalui impresi sentuhan kulitnya, dia bisa menyimpulkan bahwa material kayu tersebut harus melewati sebuah fase pengeringan alami yang sangat krusial dalam durasi waktu yang tergolong lama sebelum layak diproses menjadi sebuah busur atau anak panah yang berkualitas. Kadar kelembapan cairan yang tertangkap oleh indra perabanya pada setiap papan kayu memperlihatkan gradasi perbedaan yang cukup mencolok berdasarkan tingkat kematangannya.

Sejak pertama kali terlempar dan menginjakkan kaki di dunia baru ini, Juhwan semakin disadarkan secara paksa mengenai betapa minimnya esensi pengetahuan nyata yang dia kuasai selama ini. Sebagian besar materi pelajaran dan sains modern yang pernah dia pelajari dengan susah payah selama hidup di Bumi ternyata bertransformasi menjadi rona informasi yang sepenuhnya tidak berguna dan tidak bisa diimplementasikan di tengah kerasnya realitas kehidupan hutan pegunungan ini.

Sebuah senyuman pahit yang sarat akan ironi perlahan terukir di wajah maskulin Juhwan.


PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER

Post a Comment

0 Comments