Perburuan Pertama yang Istimewa
Seekor kelinci terperangkap di dalam jerat. Menilik dari kondisinya yang masih memiliki sisa-sisa tenaga, makhluk itu pasti belum lama terjebak—mungkin sejak fajar atau awal pagi tadi. Bagus. Sisa kekuatan yang seperti ini justru sangat pas untuk dijadikan target mangsa pertama.
Gus melirik ke arah Juhwan. Juhwan tampak agak bingung dan bimbang saat melihat wujud kelinci yang menggelepar di dalam jerat tersebut. Menilai dari reaksinya, ini seolah-olah menjadi kali pertama bagi pria itu melihat seekor kelinci.
‘Pria ini benar-benar aneh.’
Sulit untuk menjelaskan dengan tepat di bagian mana, tetapi ada sesuatu dari diri Juhwan yang terasa tidak selaras dengan dunia ini. Seperti sebuah tutup wadah yang dipaksakan, tetapi tidak bisa menutup dengan pas.
Namun, Gus memutuskan untuk tidak memedulikannya. Apakah pria itu seorang bangsawan atau rakyat jelata, seorang pendeta atau pendosa, itu semua tidak penting. Urusan memburu binatang adalah hal yang sepenuhnya terpisah dari urusan kehidupan manusia. Di tempat ini, hanya ada satu fakta sederhana yang tersisa: manusia yang membunuh binatang.
Melihat Juhwan yang berhasil menenangkan diri setelah sempat dirayapi kebingungan sesaat, Gus menyeringai kecil. Dia bisa menebak secara garis besar apa yang sedang berkecamuk di dalam kepala pria besar itu.
‘Tapi... kau keliru.’
Jika Juhwan berpikir bahwa hanya karena dia pernah membunuh binatang buas sebelumnya, maka dia tidak akan ragu dalam perburuan kali ini, dia salah besar. Membunuh seekor binatang buas yang menyerangmu demi mempertahankan hidup, dan memburu seekor hewan tak berdaya yang sudah terperangkap, adalah dua hal yang sepenuhnya berbeda.
Sama seperti segala hal lain di dunia ini, aktivitas berburu lama-kelamaan akan terasa familier dan menjemukan seiring berjalannya waktu. Namun, guncangan mental dan emosi yang dirasakan pada perburuan pertama kali akan membekas seumur hidup. Itulah alasan mengapa momen perburuan pertama selalu menjadi hal yang sangat krusial.
Kenangan Masa Lalu Gus
Perburuan pertama Gus terjadi ketika dia baru berusia dua belas tahun. Pada hari di mana ayahnya pertama kali mengizinkan dirinya memburu seekor binatang menggunakan busurnya sendiri, segala hal di sekitarnya terasa sangat familier—kecuali fakta bahwa dia sedang membidikkan anak panah ke arah mangsa hidup.
Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana suasana pegunungan dan kicau burung yang sudah lebih familier dibanding rumah-rumah di desa manusia itu, seolah menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Getaran di ujung jarinya kala itu murni karena rasa kegembiraan yang meluap, bukan karena ketakutan atau rasa jijik.
Banyak anak-anak pemburu yang terpaksa menapaki jalan sebagai pemburu karena paksaan dari ayah mereka, tetapi Gus berbeda. Dia sama sekali tidak merasa keberatan saat harus menguliti hewan-hewan hasil buruan ayahnya atau membiarkan kedua tangannya berlumuran darah merah pekat. Sebaliknya, dia justru sangat antusias.
Perburuan pertamanya pun tidak ada bedanya. Dia merasa sangat bahagia karena akhirnya diakui oleh ayahnya yang merupakan pemburu berpengalaman, dan merasa bangga bisa melepaskan anak panah dengan kedua tangannya sendiri.
Mangsa pertama Gus kala itu adalah seekor anak rusa yang baru saja lahir. Induknya sebenarnya berada di dekat sana, tetapi begitu sang induk menyadari bahwa anaknya akan mati, dia langsung kabur melarikan diri.
Berbeda dari biasanya, ayah Gus sama sekali tidak berniat menangkap sang induk rusa yang jelas-jenis memiliki nilai buruan lebih tinggi. Pria tua itu tidak melakukan apa pun dan menyerahkan seluruh prosesnya kepada Gus. Perburuan hari itu sepenuhnya menjadi milik Gus seorang.
Meski begitu, fakta bahwa ayahnya sedang mengawasi dari samping tidak berubah. Dia sedang dilindungi. Perburuan pertamanya berlangsung dalam kondisi yang sepenuhnya aman, dan hal itu sempat membuat Gus berpikir bahwa dirinya adalah bagian dari gunung ini—seorang pemburu terkasih yang menyatu dengan alam pegunungan.
Karena pemikiran arogan itulah, dia akhirnya berhasil ditangkap oleh goblin di masa lalu. Di sudut hatinya, dia selalu memercayai dogma konyol bahwa hanya dirinya sajalah yang akan selalu aman. Bahkan jika semua orang di sekitarnya mengalami kecelakaan tak terduga, dia percaya bahwa nasib buruk tidak akan pernah sudi menyentuhnya. Akibatnya, dia gagal menyadari adanya lubang hitam kematian yang sedang menganga tepat di bawah kakinya.
Perasaan superior itu masih tersisa di suatu tempat di dalam dirinya bahkan sekarang, di masa tuanya. Bahkan saat ini, ketika dia sudah menyadari dengan sangat menyakitkan bahwa pemikiran itu salah besar, ilusi tersebut tetap tidak bisa hilang sepenuhnya.
Perintah yang Kejam
Gus menarik napas perlahan, mengembuskan udara dingin ke dalam hutan, lalu berbicara singkat kepada Juhwan.
"Ambil anak panah yang kuberikan padamu tadi."
Juhwan kemungkinan besar adalah orang paling cerdas yang pernah dikenal Gus. Meskipun belum lama tinggal di area pegunungan, pria itu sudah bisa mengingat sejumlah besar kosakata dan menggunakannya untuk menyusun kalimat sederhana. Berbeda dari sebelumnya, kini mereka tidak memerlukan gerakan tubuh yang heboh lagi; mereka sudah bisa berkomunikasi secara garis besar.
Bahkan saat ini, Juhwan dengan cepat memahami ucapan Gus dan mengangguk. Namun, dia tampaknya salah menangkap maksud tersebut sebagai perintah untuk mengembalikan anak panah. Juhwan justru menyodorkan anak panah bermata logam yang diberikan Gus sebelumnya.
Gus menggelengkan kepalanya kuat-kuat, lalu menunjuk ke arah busur yang dipegang Juhwan. Dia memberi isyarat dengan tangannya agar Juhwan memasang anak panah itu di sana, lalu berucap:
"Kau yang akan berburu. Ini adalah perburuan pertamamu. Berburu adalah sebuah tindakan yang kejam, dan aku akan memastikan kau memahami esensi tersebut dengan baik. Kau tidak akan pernah bisa melupakan momen hari ini seumur hidupmu."
Gus mendorong tubuh Juhwan sedikit ke depan, menuntunnya berjalan mendekati lokasi jerat. Pria tua itu baru menghentikan langkahnya setelah mereka mencapai jarak yang cukup dekat—jarak yang bisa menjamin akurasi tembakan anak panah pasti mengenai sasaran.
Juhwan menatap bergantian antara Gus dan kelinci tersebut dengan wajah penuh kebingungan. Dia tampaknya tidak habis pikir mengapa dia harus melepaskan anak panah ke arah seekor kelinci yang sudah jelas-jelas tidak bisa kabur karena terikat erat di dalam jerat.
Namun, Juhwan adalah pria yang cerdas. Dia paham betul bahwa setiap kali Gus memaksanya melakukan sesuatu, hal itu selalu merupakan bagian dari proses pembelajaran. Jadi, meskipun tidak mengetahui alasan pastinya, Juhwan tetap mengangkat busurnya. Dia kemudian menatap Gus, seolah sedang bertanya apa langkah selanjutnya.
"Tembak. Incar bagian kakinya terlebih dahulu."
Gus memberikan instruksi dengan dingin.
"Kau tidak boleh membunuhnya dalam satu kali tebasan. Pertama, tembak kakinya, lalu bidik bagian tubuh lain yang letaknya jauh dari jantung. Ini adalah latihan untuk mengenai target hidup yang bergerak. Pertama-tama, target hewan yang tenang, lalu target yang menggeliat kesakitan, dan setelah itu..."
‘Kau akan mendapatkan sesuatu dari proses brutal ini. Juhwan, karena kau jauh lebih cerdas dariku, kau pasti akan mempelajari sesuatu yang sangat berharga—sesuatu yang berada di luar batas pengetahuanku.’
Kepada Juhwan yang masih belum menarik tali busurnya, Gus kembali menegaskan perintahnya sekali lagi.
"Sekarang, tembak."
Gunung adalah tempat yang adil. Tidak ada seorang pun yang menjadi istimewa di hadapan gunung. Alam pegunungan bersikap sama murah hatinya, sekaligus sama kejamnya, baik kepada manusia maupun kepada binatang buas.
Gus menatap lekat-lekat wajah Juhwan.
‘Pria ini pasti akan tumbuh menjadi seorang pemburu binatang yang luar biasa.’ Apakah Gus akan berumur panjang untuk bisa menyaksikan pembuktian itu dengan kedua matanya sendiri atau tidak, dia tidak tahu. Namun, naluri dari seorang pemburu tua berbisik dengan sangat yakin: pria di depannya ini adalah sosok yang istimewa.
Namun, tak peduli seberapa mahir dan berpengalamannya seorang pemburu, kesalahan tetaplah menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Momen di mana kau mulai merasa familier dengan gunung dan berpikir bahwa kau dicintai serta menjadi sosok yang spesial, saat itulah kau akan langsung terjerumus ke dalam bahaya yang fatal.
Untuk menghindari tragedi tersebut, Juhwan harus memahami secara mendalam bahwa berburu adalah sebuah pekerjaan yang kejam, dan bahwa semua makhluk memiliki derajat yang sama di dalam hutan. Posisi binatang yang diburu hari ini, bisa saja menjadi posisimu yang diburu esok hari.
Sadar bahwa Juhwan mungkin belum bisa menangkap seluruh arti dari kalimatnya yang rumit, Gus membuka mulutnya untuk menyederhanakan perkataannya.
"Gunung ini adil. Alam tidak akan pernah berpihak pada manusia. Jika kau terus bertindak kejam tanpa kewaspadaan, akan tiba masanya di mana para binatang yang akan berada di atas angin."
Melihat Juhwan yang berusaha keras untuk mencerna kata-kata dan tindakannya, Gus menyunggingkan senyum kecut.
"Jika kau ingin kembali ke rumahmu dengan selamat, jangan pernah melupakan hari ini."
Seorang pemburu adalah jenis manusia keji yang tega membidikkan senjatanya ke arah seekor induk yang sedang menyusui anaknya. Gunung dan binatang-binatang yang diburu mengetahui fakta kelam ini dengan sangat baik. Hanya manusia saja yang sering kali berpura-pura tidak memahami apa arti dari tindakan tersebut.
Jika kau terus berlari di sepanjang jalur yang melingkar, maka akan tiba suatu hari di mana makhluk yang berada di depanmu akan berbalik dan menginjak ekormu sendiri.
Kilas Balik Kereta Kuda dan Jeritan Pertama
Ketika Gus menyerahkan busur dan anak panah kepadanya di awal perjalanan, Juhwan berasumsi bahwa mereka akan memburu rusa atau burung hari ini. Busur dan anak panah sewajarnya memang digunakan untuk keperluan itu. Setidaknya, senjata tersebut tidak digunakan untuk mengeksekusi hewan yang sudah lumpuh di dalam perangkap. Juhwan mengetahui logika dasar sejauh itu.
Jika seekor kelinci berhasil tertangkap di dalam jerat, dia berpikir mereka hanya perlu langsung membunuhnya menggunakan sebilah pisau, lalu mengambil kulit dan dagingnya. Jika ada dua ekor yang tertangkap, mereka kemungkinan besar akan membaginya rata. Dan jika hanya ada satu, mereka akan memisahkan antara bagian kulit dan dagingnya untuk dibagi.
Jika mereka harus membagi hasil kulit dan daging dari satu hewan, Gus sewajarnya akan mengambil bagian yang paling bernilai tinggi, dan Juhwan akan mendapatkan sisanya. Juhwan sendiri sama sekali tidak keberatan apakah dia akan mendapat bagian kulit atau daging. Dia tidak berpikir Gus adalah tipe orang serakah yang akan merampas semuanya sendirian.
Faktanya, selama mengajari Juhwan berburu, Gus tidak pernah sekalipun menembak binatang dengan tangannya sendiri. Bahkan ketika ada kesempatan emas yang terbuka lebar di depan mata, pria tua itu tetap memilih untuk menahan diri. Juhwan sempat berspekulasi bahwa aktivitas berburu mungkin telah dilarang bagi Gus oleh hukum desa.
Namun, Juhwan meyakini bahwa Gus sebenarnya sering melakukan aktivitas berburu secara sembunyi-sembunyi di gunung ini. Pria tua itu memang tidak pernah memperlihatkan aksinya secara langsung, tetapi Juhwan bisa membaca tanda-tandanya dengan jelas.
Ada banyak petunjuk yang tertangkap oleh indranya: bercak darah yang sesekali menempel di pakaian atau tas kulit Gus, jumlah anak panah di dalam tabungnya yang sering berubah-ubah, hingga pengetahuannya yang luar biasa presisi mengenai seluk-beluk kotoran kelinci. Gus sendiri tidak berusaha menyembunyikan fakta tersebut, meskipun dia juga tidak berniat mengungkapkannya secara terang-terangan.
Para penduduk desa kemungkinan besar juga sudah mengetahui rahasia ini. Mungkin mereka sengaja menerima sedikit bagian daging sebagai imbalan untuk menutup mata atas aksi perburuan ilegal yang dilakukan oleh Gus. Karena Gus sudah memiliki cara sendiri untuk berburu secara mandiri, pria tua itu sama sekali tidak pernah mendambakan seekor kelinci pun setiap kali mereka pergi bersama. Juhwan telah mempelajari karakteristik Gus sejauh itu selama menghabiskan waktu bersamanya.
Oleh karena itulah, instruksi yang keluar dari mulut Gus saat ini benar-benar di luar ekspektasinya.
Gus menyuruhnya untuk menembak bagian kaki kelinci itu. Menembak titik seperti itu jelas tidak akan bisa membunuhnya secara instan. Tindakan itu murni hanya akan menorehkan rasa sakit yang menyiksa.
Juhwan tidak mengerti mengapa Gus menuntut tindakan sekejam itu darinya. Sebuah perasaan tidak nyaman yang mengganjal mulai merayap naik dari pangkal tenggorokannya. Ini sama sekali bukan sensasi yang menyenangkan.
"Mulai. Kaki kelinci... kepala... Terus tembak!"
Gus menunjuk ke arah lokasi jerat sekali lagi sambil berbicara dengan kosakata yang terputus-putus. Dari pengulangan tindakan dan perkataan Gus, Juhwan akhirnya menyadari bahwa ini adalah bagian dari simulasi latihan untuk menembak target hewan yang masih hidup.
Kelinci di dalam jerat tampaknya ikut mengendus atmosfer mengerikan yang sedang menguar di sekitarnya. Gerakan tubuhnya menjadi semakin liar. Wajahnya yang semula terlihat ganas kini berubah menjadi ekspresi penuh ancaman, seolah sedang memperingatkan Juhwan untuk tidak melangkah mendekat.
Namun, semakin keras makhluk itu berontak secara kasar, maka tali tambang jerat yang melilit tubuhnya justru menjadi semakin kencang mencekik. Entah karena didera rasa sakit yang luar biasa atau karena ketakutan yang mencekam, kelinci itu mulai mengeluarkan suara lengkingan yang aneh.
Juhwan menarik napas pendek untuk menenangkan diri, lalu mulai membidikkan anak panahnya. Tepat pada detik itu, sepasang netranya beradu langsung dengan mata sang kelinci.
Untuk sesaat, sebuah fragmen ingatan mengenai pemandangan di dalam kereta kuda saat dia pertama kali terlempar ke dunia ini mendadak melintas hebat di dalam benaknya.
Orang-orang yang mengenaskan, tubuh-tubuh kurus kering yang layu, mayat-mayat yang dibiarkan membusuk tanpa diurus bahkan setelah kematian menjemput mereka, sebuah ruang sempit yang pengap di mana manusia tidak lagi memperlakukan sesamanya seperti manusia. Di dalam kereta maut itu, semua orang yang masih bernapas saling bertarung brutal demi memperebutkan barang-barang milik orang mati untuk dipakai di tubuh mereka sendiri. Mereka yang sedang sekarat sudah langsung diperlakukan layaknya mayat. Juhwan sendiri terpaksa merangkak bertahan hidup dengan cara yang tidak kalah mengenaskan seperti itu.
Dia tidak tahu apa-apa tentang seluk-beluk hutan pegunungan maupun urusan berburu. Dia juga belum memahami banyak hal mengenai sistem kehidupan di dunia baru ini. Satu-satunya fakta yang dia ketahui dengan pasti saat ini adalah bahwa Gus sedang berusaha melatihnya agar bisa bertahan hidup sebagai seorang pemburu sejati.
Setelah mengembuskan napas ringan, Juhwan memantapkan bidikan anak panahnya ke arah kelinci. Jarak yang tergolong sangat dekat ini membuat probabilitas anak panahnya meleset menjadi hampir mustahil. Kelinci yang mulai merasakan firasat kematian yang mencekam itu semakin menggeliat panik.
Dengan latar belakang wajah kelinci yang bergerak liar, Juhwan menarik tali busurnya dalam sunyi, menunggu hingga posisi kaki makhluk itu terekspos dengan sempurna.
Membidik sebuah target diam yang statis dan menghadapi seekor hewan hidup yang terus bergerak ternyata adalah dua hal yang sepenuhnya berbeda. Kesulitannya bukan hanya terletak pada urusan akurasi bidikan yang menjadi rumit, melainkan gerakan putus asa dari hewan tersebut terbukti sanggup mengacaukan ketenangan mentalnya. Tatapan mata yang dipenuhi ketakutan pekat dari makhluk hidup itu menghantam dinding hatinya dengan sangat telak.
Kelinci itu terus berontak dan memelintir tubuhnya.
Namun dalam sepersekian detik, sebuah sudut tembak yang ideal akhirnya terbuka. Sebelum pikirannya sempat memproses lebih jauh, anak panah itu telah melesat lepas dari tangannya.
Jleb!
Anak panah itu meluncur deras, menembus tepat di bagian kaki kelinci sebelum akhirnya menancap kokoh di atas tanah.
Kwek, kwek!
Kelinci itu menjerit histeris dalam lengkingan rasa sakit yang memilukan sambil mengepak-ngepakkan tubuhnya dengan liar. Gus kembali berbicara dengan nada suara yang sangat tenang.
"Lagi."
Melihat Juhwan yang tampak diam terpaku seolah tidak memahami perintahnya, Gus menepuk lengan bawahnya sendiri. Dia sedang menginstruksikan Juhwan untuk menembak bagian kaki depan kelinci tersebut.
Demi Melindungi yang Terkasih
Tanpa sadar, Juhwan mengalihkan pandangannya untuk menatap wajah Gus. Pria tua itu tidak bergeming sedikit pun dari posisinya. Dia membalas tatapan Juhwan dengan sorot mata yang tenang dalam sunyi. Kedua pandangan mereka saling berbenturan di udara.
Juhwan menjadi orang pertama yang memalingkan wajah. Entah mengapa, melalui sorot mata Gus yang sedingin es itu, dia bisa membaca sebuah keyakinan absolut bahwa proses brutal ini adalah hal yang mutlak diperlukan untuk perkembangannya.
Juhwan segera memanggil kembali memori tentang wajah Lizzy dan Dorothy di dalam kepalanya, lalu mencengkeram erat busurnya sekali lagi. Kelinci yang didera ketakutan hebat itu terus mengepakkan tubuhnya yang terluka sambil menatap tajam ke arah Juhwan.
Meskipun dia belum memahami banyak hal tentang dunia ini, dia tahu pasti bahwa area pegunungan dan aktivitas berburu menyimpan potensi bahaya yang sangat besar. Di dalam hutan ini, mungkin saja terdapat makhluk-makhluk mistis yang jauh lebih mengerikan dan kuat daripada sekadar kawanan serigala. Jika seekor beruang mutasi tiba-tiba muncul di hadapannya, maka dengan postur tubuhnya yang kekar sekalipun, dia tidak akan memiliki jaminan untuk bisa menang. Di sebuah dunia yang terbukti memiliki eksistensi sihir seperti ini, siapa yang bisa menjamin makhluk mengerikan apa lagi yang sedang bersembunyi di luar sana.
Jika Gus menganggap proses pelatihan kejam ini adalah hal yang esensial, maka pasti ada alasan kuat di baliknya. Sebelum membiarkan hatinya dirayapi oleh rasa kasihan yang semu terhadap seekor binatang, dia harus memprioritaskan keselamatan Lizzy dan Dorothy terlebih dahulu. Untuk melindungi dan menghidupi kedua orang terkasihnya itu, Juhwan bahkan rela merubah dirinya menjadi sosok iblis atau pembunuh berdarah dingin sekalipun.
‘Ini hanyalah seekor binatang biasa.’
Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja, makhluk di depannya ini murni hanyalah seekor binatang biasa. Juhwan meyakinkan hatinya sendiri agar tidak mendengarkan suara lengkingan memilukan tersebut. Biarkan saja suara itu berlalu melintasi angin. Bagaimanapun, makhluk ini hanyalah seonggok daging binatang.
Sambil menutup telinga batinnya dari jeritan pilu sang kelinci, Juhwan melepaskan anak panah keduanya. Namun, meskipun jarak tembak mereka sangat dekat, anak panah itu meleset dari target kaki karena kelinci tersebut mendadak menghentakkan tubuhnya secara agresif. Anak panah itu justru meluncur lurus dan menancap di celah antara kepala dan telinga sang kelinci.
Gus melangkah maju mendekati lokasi jerat. Tanpa belas kasihan, dia menginjak tubuh kelinci yang sedang menjerit-jerit mencoba melarikan diri itu, lalu menarik keluar anak panah yang menancap di tanah.
Melihat pemandangan itu, Juhwan akhirnya memahami alasan logis mengapa Gus memaksanya untuk menggunakan anak panah khusus dengan ujung logam yang halus tanpa guratan gerigi. Karakteristik mata panah yang licin itu sengaja didesain agar mereka bisa mencabut kembali anak panah dari tubuh binatang dengan mudah, persis seperti yang dilakukan Gus saat ini.
Gus berjalan kembali ke posisinya lalu menyerahkan sebatang anak panah baru dari tabung bambunya kepada Juhwan. Gus berucap dengan artikulasi yang sangat tenang.
"Kaki depan."
"...."
Dalam keheningan hutan yang mencekam, hanya suara jeritan konstan dari kelinci itu yang terus bergema di sekeliling mereka.
Juhwan kembali memasang anak panah di busurnya. Dia menarik tali busur hingga menegang maksimal sebelum akhirnya melepaskannya ke udara. Anak panah itu melesat akurat dan menghantam telak bagian kaki depan kelinci yang pergerakannya sudah mulai melambat akibat kehabisan darah.
Sekali lagi, mengikuti rangkaian instruksi tanpa ampun dari Gus, dia melepaskan tembakan berikutnya untuk melumpuhkan satu sisa kaki kelinci yang masih utuh. Makhluk itu tetap tidak mati karena Juhwan sengaja menghindari titik-titik vitalnya. Kini, tangisan penderitaan sang kelinci menggema semakin memilukan, memecah kesunyian hutan yang lebat.
"...."
Gus tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi setelah itu. Tugas instruksinya telah selesai.
‘Apakah... aku sudah boleh mengakhiri penderitaannya sekarang?’ Juhwan membatin dalam sunyi.
Suara lengkingan kelinci yang semula berupa jeritan kemarahan dan ketakutan kini telah berubah menjadi suara isakan yang lemah. Makhluk itu mengeluarkan suara erangan yang panjang dan konstan, seolah-olah sedang memanggil kawanannya atau mengharapkan sebuah pertolongan yang tidak akan pernah datang.
Juhwan menarik tali busurnya untuk yang terakhir kali.
Anak panah final itu melesat cepat dan menembus tepat di tengah-tengah kepala sang kelinci. Tubuh makhluk itu sempat kejang-kejang dan gemetar hebat selama beberapa saat, sebelum akhirnya sepenuhnya diam dan kaku.
"...."
Wajah imut Dorothy dengan sepasang matanya yang bulat berbinar tiba-tiba melintas sekilas di dalam ingatan Juhwan sebelum akhirnya memudar perlahan. Membunuh binatang demi bisa bertahan hidup adalah sebuah keniscayaan yang mutlak di dunia ini. Dia sadar betul bahwa dia akan membunuh jauh lebih banyak binatang lagi di masa depan.
Juhwan mengembuskan napas pendek untuk melepaskan ketegangan yang mengungkung tubuhnya. Air liur yang dia telan saat ini terasa bercampur dengan rasa pahit yang pekat di dalam mulutnya.
0 Comments