Header Ads Widget

Chapter 208 - Penyerahan Tyrone

 

Bab 208: Penyerahan Tyrone

Darren memenggal kepala Raja Tyrone dan menjambak rambutnya. Ia mengangkat kepala itu tinggi-tinggi ke udara. "Lihatlah! Kepala Raja Tyrone!" Teriakan luar biasa terdengar, disusul oleh suara gemuruh tabuhan drum. "Waaaaaaah!" Sorak kegembiraan para prajurit membumbung tinggi, seakan menembus langit.

Juhwan memandang ke seberang perbatasan. Pasukan musuh mundur layaknya air pasang yang surut. Ia diberi tahu bahwa pangeran mahkota ada di sana, jadi Juhwan mengira pria itu akan menerjang balik, bertekad membalas dendam ayahnya. Tapi tentara Tyrone mundur dengan wajar, seolah-olah mereka sudah bersiap menghadapi situasi ini. Reaksi mereka terlalu cepat. Juhwan mengarahkan Yeonhwa mendekati Darren. Darren juga sedang memelototi mundurnya pasukan Tyrone. "Cih. Bajingan-bajingan licik," gumam Darren dari balik gigi yang terkatup.

"Kita tidak mengejar mereka? Kalau kita bergerak sekarang, kita bisa memusnahkan mereka." Mendengar ucapan Juhwan, wajah Darren berkerut. Ia melirik kepala Raja Tyrone di tangannya, lalu berkata, "Ayahku sudah memberiku perintah sebelumnya. Jika musuh mengalami kekalahan telak dan mundur, aku dilarang mengejar mereka sampai habis. Melihat mereka lari ketakutan karenamu, aku yakin mereka tidak akan sanggup melawan kalau kita mengejar mereka sekarang. Tinggal mematahkan leher mereka seperti mematahkan leher kelinci."

Jika pasukan penguasa perbatasan meninggalkan tempat ini dan maju terlalu jauh ke wilayah musuh, Raja Daniel tak akan punya tempat untuk bersandar. Dan jika pasukan penguasa perbatasan melemah karena terus berperang, posisi Daniel secara otomatis akan tidak stabil. Bila hal itu terjadi, negara ini akan kembali jatuh ke dalam perang saudara. Juhwan juga memahami hal itu. Tetapi jika mereka memburu pangeran mahkota sekarang, mereka tidak perlu masuk terlalu dalam ke wilayah musuh. Apalagi dengan kehadiran Juhwan, pihak mereka tidak akan menanggung kerugian. Lalu kenapa mereka sengaja membiarkan pangeran mahkota hidup?

Juhwan memperhatikan tentara musuh yang perlahan bergerak semakin jauh. "Apakah lebih menguntungkan bagi kita jika pangeran mahkota Tyrone tetap hidup?" "Sesuai dugaan, kau sangat peka, Tuan Juhwan." Darren menyeringai. "Sejak awal perang saudara, Ayahku mencurigai jika Raja Tyrone mati, musuh mungkin akan mundur. Jika itu terjadi, Ayah bilang pangeran mahkota kemungkinan besar akan meneruskan wasiat sang raja. Dan jika dia memang pangeran mahkota semacam itu, maka dia adalah orang yang dibutuhkan Simoni."

Raja Tyrone adalah penguasa yang luar biasa. Setidaknya, ia jauh lebih pintar dan lebih cakap ketimbang raja Simoni. Alasan Simoni bisa bertahan bertahun-tahun tanpa diinvasi Tyrone bukan karena rajanya yang luar biasa, melainkan karena prajurit dari keluarga Bern. Darah para prajurit yang meresap ke tanah inilah yang melindungi negara, bukan sang raja. Mungkin karena itulah raja Simoni justru menjadi semakin tidak kompeten.

"Ayahku bilang, jika Raja Tyrone benar-benar cakap, maka ia pasti sudah mengajari pangeran mahkotanya apa yang harus dilakukan jika mereka kalah perang." Jika hal itu sesuai dengan ekspektasi penguasa perbatasan, pangeran mahkota akan menjanjikan ganti rugi perang yang sangat besar, alih-alih membiarkan Tyrone menjadi medan pertempuran. Namun, itu tidak serta-merta menguntungkan Tyrone. Mereka mungkin bisa menunda kehancuran, tetapi pangeran mahkota akan menghadapi kritik tajam dari rakyat maupun bangsawan karena kalah perang dan menjanjikan ganti rugi. Bukannya memusatkan perhatian ke Simoni, bajingan-bajingan Tyrone akan membuang-buang kekuatan nasional mereka karena saling bertengkar tentang siapa yang benar dan siapa yang lebih hebat.

"Kata Ayahku, sementara Tyrone melemah dengan sendirinya, jika Yang Mulia bisa mengendalikan Simoni dengan baik, kita akan punya banyak kesempatan untuk menyerang mereka nanti." Juhwan tersenyum getir. Itu adalah cara berpikir seorang pemburu. Perlahan melacak mangsa, menyudutkannya ke tempat di mana ia tak bisa bergerak lagi, lalu menangkap si hewan buas saat ia sudah selemah mungkin. Persis seperti yang diharapkan dari penguasa perbatasan, pria yang memang hobi berburu.

"Tapi jika mereka tidak menyerah hari ini juga, kita akan mengejar mereka. Kita harus mengambil kepala pangeran mahkota," ujar Darren sambil tersenyum lebar. "Kalau mereka menyerah sendiri, itu masalah lain. Tapi jika tidak, maka kehormatan mencabut nyawa pangeran mahkota harus jatuh ke tangan wilayah perbatasan kita." Tatapan Juhwan beralih ke kepala Raja Tyrone. Raja yang sudah mati itu, yang matanya bahkan belum tertutup, seakan memelototinya penuh dendam sementara darah menetes dari lehernya yang terpenggal.

Ajudan yang selalu mengikuti Darren bagaikan anak ayam mengikuti induknya melepas sebuah karung dari pinggangnya dan menyodorkannya. "Apa? Kau sudah mau menyimpannya?" "Tuan berencana membawanya keliling sampai kapan?" "Aku bukan anak kecil, tahu... Ah, sudahlah. Haaah. Meskipun musuh sudah mundur, lihat ke sana. Para undead masih tersisa. Pekerjaan kita masih menumpuk." Berdecak mendengar ucapan adiknya, Darren memasukkan kepala Raja Tyrone ke dalam karung. Karung itu langsung terasa berat di tangan sang ajudan. Melihat bagian bawah karung yang dengan cepat basah oleh darah, Juhwan memalingkan wajahnya.

Setelah musuh mundur sepenuhnya, para prajurit sekutu mulai bergerak dengan lebih tenang. Beberapa pria berkumpul, memblokir undead menggunakan perisai, lalu meretas mereka dengan kapak. Beberapa prajurit membawa obor. Sepertinya ada yang sudah menyiapkan bubuk resin pinus setelah melihat aksi Juhwan tadi. Mereka menaburkan bubuk itu ke arah undead dan membakarnya. Tetapi api bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah mengubah tubuh manusia menjadi abu. "Oh, gawat," gumam Juhwan. Juhwan bisa langsung membakar undead menjadi abu karena menggunakan sihir. Prajurit itu mungkin tidak tahu.

Lebih parah lagi, undead adalah makhluk yang terus bergerak bahkan setelah tangan dan kaki mereka terpotong. Ketika seekor undead yang terbungkus api mulai berkeliaran ke segala arah, situasinya malah jadi makin merepotkan. Beberapa prajurit menjerit dan lari menjauh dari makhluk itu. Kalau ini terjadi di tengah malam, pasti akan jadi krisis serius. Tapi di siang bolong begini, dikelilingi oleh begitu banyak tentara, adegan itu malah terlihat agak konyol.

"Ayo pergi, Yeonhwa." Saat Juhwan menggerakkan pergelangan tangannya sedikit, Yeonhwa mendengus seperti menghela napas. Mungkin manusia-manusia itu terlihat menyedihkan baginya. Di belakangnya, Darren tertawa terbahak-bahak melihat undead yang terbakar itu sedang mengejar seorang prajurit. "Kakak! Hentikan. Tolong perbaiki kebiasaanmu menertawakan hal-hal sepele." Ajudannya memarahinya. Orang-orang ini tidak berubah, bahkan di medan pertempuran di mana hidup dan mati saling bersilangan. Mungkin perang sudah jadi rutinitas sehari-hari mereka.

Prajurit yang dikejar undead sepertinya sadar tak ada pilihan lain dan lari ke arah mereka. "T-tolong aku!" Adegan itu tampak seperti di film komedi. Melihat undead di belakang prajurit itu, Juhwan berbicara pelan pada Yeonhwa. "Ayo cepat, Yeonhwa." Undead itu pasti sangat kesakitan.

Seolah menjawab Juhwan, Yeonhwa meringkik dan berlari. Saat Yeonhwa melewati prajurit yang melarikan diri, Juhwan mengirimkan kekuatan sihir ke undead. Api yang hanya membakar sebagian tubuh undead itu membesar dalam sekejap, menelan seluruh tubuhnya. Undead yang masih meronta itu berubah menjadi abu dan perlahan hancur ke tanah. Melihat Juhwan bertindak, para prajurit mulai menggiring undead bersama-sama dengan perisai kayu. Undead yang tadinya berkeliaran ke sana kemari perlahan terkumpul di satu tempat. Beberapa kapsul udara buatan Kutu Santa masih tersisa. Setelah cukup banyak undead yang berkumpul, Juhwan meledakkan kapsul-kapsul itu dan mengubah undead menjadi abu. Tak butuh waktu lama, situasi sepenuhnya berhasil dikendalikan.

Ayahnya telah meninggal. Saat Pangeran Mahkota Glenn menyadarinya, ia langsung memerintahkan pasukannya mundur. Suara tabuhan genderang menyuarakan perintah penarikan mundur. Namun bahkan sebelum perintah itu diberikan, para prajurit sekutu sudah mulai melarikan diri dari medan perang. Para bangsawan dan komandan unit yang tadinya mencoba mengumpulkan para pembelot juga mulai mundur ketika mendengar genderang. "Jangan terburu-buru! Bergerak perlahan sambil menunggu pasukan kita berkumpul. Pasukan tombak, jaga bagian belakang dan waspadai pengejaran musuh!" Atas perintah Glenn, para prajurit bergegas patuh.

Meskipun mereka menyerah, ada perbedaan besar antara pangeran mahkota ditangkap dengan tidak ditangkap. Dengan matinya sang raja, jika dirinya ikut ditangkap atau dibunuh, posisi Tyrone yang sudah melemah akan jadi semakin menyedihkan. Glenn mengeringkan air mata di pelupuk matanya dan perlahan memimpin seluruh pasukannya mundur. Tapi musuh tidak mengejar mereka. Mereka hanya bersorak dan mengejek. Pemandangan itu membuatnya merasa seolah musuh sudah menduga hasil hari ini sejak awal, dan perasaan itu tak tertahankan.

Benar-benar tidak ada yang mengejar. Setelah memastikannya, Pangeran Mahkota Glenn menghentikan pasukan di sebuah tempat yang jauh dari perbatasan. Ajudannya, yang entah bagaimana masih memegang kertas dan pena bahkan saat mundur, menyerahkan benda-benda itu padanya. Kini, ia harus menulis surat menyerah. Glenn menahan hatinya yang terasa seperti terbakar dan mengambil pena tersebut. Air mata mengaburkan pandangannya. Glenn mengatupkan rahangnya erat-erat. Hari ini, aku menyerah. Tapi besok akan berbeda. Dan lusa juga akan berbeda. Aku akan membangun kekuatanku dan membalas dendam, apa pun yang terjadi.

Apakah ayahnya juga pernah merasakan hal yang sama? Kebencian diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mungkin perang ini, dendam ini, tidak akan pernah berakhir sampai salah satu dari Tyrone atau Simoni hancur total. Sementara ajudan dan para bangsawan meneteskan air mata di sekitarnya, Glenn memilih utusan yang akan menyampaikan surat penyerahan mereka.

Setelah mengobati yang terluka dan memeriksa sekali lagi untuk memastikan tidak ada undead yang tersisa, Juhwan berjalan di antara para prajurit, memeriksa sendiri setiap sekutu yang gugur di tanah. Para prajurit berbicara kepadanya. "Silakan temui istri dan Dorothy sekarang. Kami yang akan memeriksa tempat ini." "Kalau ada yang terluka, kami akan segera membawanya, jadi jangan khawatir, Pahlawan."

Seolah-olah didorong oleh para prajurit, Juhwan meninggalkan area tersebut. Saat ia melirik ke belakang, para dukun dan pendeta yang sedari tadi menunggu sudah mulai berkeliling dan memberikan pemberkatan pada jenazah. Kali ini pun, sepertinya yang meninggal akan dikremasi dengan kekuatan sihir Juhwan. Para prajurit kabarnya meminta hal itu. Mereka ingin kembali kepada Tuhan melalui tangan sang Pahlawan. Juhwan mengetukkan kapaknya yang berlumuran darah ke tanah, merontokkan sebagian kotoran. Saat Juhwan kembali melangkah, Yeonhwa berjalan mengikutinya.

Begitu ia berada agak jauh dari medan perang, bau amis darah sedikit memudar. Sebagai gantinya, datanglah bau yang menyengat. Bau daging terbakar. Di tempat-tempat bom Kutu Santa dikubur, mayat undead dan tentara musuh berserakan. Sepertinya cukup banyak tentara musuh yang melintas ke arah sini juga. Sebagian besar dari mereka tewas atau terbakar karena bom, tapi ada juga beberapa yang tampak telah diurus oleh Oz. Beberapa mayat undead tergeletak dengan organ dalam yang telah menjadi debu. Juhwan sudah melihatnya berkali-kali, namun kemampuan Oz memang benar-benar brutal. Bagaimana bisa makhluk dengan wajah semanis itu punya kemampuan seperti ini?

Saat Juhwan telah membakar hampir semua undead di area itu menjadi abu, ia melihat Dorothy menghentakkan kakinya di kejauhan. Sepertinya bocah itu berusaha untuk tidak melanggar perintah agar tidak mendekat, namun ia sudah melangkah sedekat mungkin ke batasnya. Lizzie berdiri di belakang Dorothy. Lizzie juga ada di sini.

Saat Juhwan mendekat, Dorothy mengayunkan tangannya dengan penuh semangat dan berlari menghampiri. Kutu Santa yang terseret oleh gerakannya ikut terbang di udara. Kepakan sayap dan gerakan tangan-kakinya yang mungil membuatnya terlihat seperti sedang meronta panik. "Ayah! Ayah! Ayah terima pesan yang Dorothy kirim, tidak?" "Hm?" "Peringatannya! Dorothy memberi Ayah peringatan. Apa Ayah tidak dengar kalau ada orang yang mati-tapi-hidup di sana? Oz mengirimnya begini... dengan tanduknya yang berkelap-kelip." Tangan kecil Dorothy naik ke dahinya dan bergoyang-goyang. Ia seolah sedang menirukan lampu yang berkedip-kedip hidup dan mati.

"Dorothy, jadi kau yang memberitahuku?" "Rerumputan yang memberitahuku. Pesannya sampai ke Ayah dengan benar, kan?" "Ya. Berkatmu, Ayah selamat." Saat ia mengangkat anak itu ke dalam pelukannya, Lizzie langsung lemas dan terduduk. Juhwan dengan sigap melingkarkan lengannya di pinggang Lizzie dan menahannya. Lizzie menghembuskan napas lega di dada Juhwan. Wanita itu rupanya sangat khawatir.

Dorothy menatap ibunya dengan mata berbinar. "Lihat, Ibu! Dorothy benar, kan? Dorothy bilang Dorothy yang akan urus semuanya! Selama Dorothy ada di sini, tidak perlu mengkhawatirkan Ayah. Dorothy kan sudah jadi kakak sekarang." Kata-katanya agak belepotan, tapi kali ini, Juhwan memang benar-benar selamat berkat Dorothy.

"Haaah. Rumput-rumputnya berisik sekali. Mereka terus saja mengoceh dan ngoceh pada Dorothy." "Begitu, ya." "Iya, Ayah. Dorothy capek sekali menghadapinya. Tidak ada yang mau mendengarkan Dorothy. Mereka cuma mau membicarakan apa yang mereka mau katakan saja." Dorothy menghela napas panjang. Kutu Santa mendarat di atas kepala Dorothy dan menghembuskan napas sambil mendengkur pelan.

"Tuan, syukurlah Anda selamat. Paeng. Tentu saja, aku sudah tahu kau akan selamat. Paeng. Yeonhwa memberitahuku. Paeng. Tapi kali ini, aku benar-benar terkejut. Paeng. Astaga. Paeng. Kekuatan sihir bercampur? Paeng. Bukankah itu sangat berbahaya? Paeng." "Seperti mencampur sup?" Saat Dorothy menyela dengan sok tahu, Kutu Santa menekan kepala Dorothy dengan tangannya yang kurus.

"Anak manusia! Apa menurutmu sup dan sihir itu sama? Paeng. Beraninya kau menyamakan kekuatan sihir dengan sesuatu seperti sup! Paeng. Itu penghinaan terhadap sihir! Penghinaan! Paeng!" "...Ayah, Dorothy hebat, kan? Kakak-perempuan-Dorothy mungkin tak terkalahkan." Dorothy mendengus bangga dan mengangkat hidungnya tinggi-tinggi. Sepertinya ia memutuskan untuk mengabaikan ocehan Kutu Santa. "Bocah nakal! Hatimu pasti sudah bengkak karena terlalu berani! Paeng! Beraninya kau mengabaikan kata-kata suci Kutu Santa! Paeng!"

Saat Juhwan mendengarkan Kutu Santa dan Dorothy bertengkar, Lizzie menyandarkan dahinya ke tubuh Yeonhwa. "Yeonhwa, kau melindunginya. Terima kasih." Bahu ramping Lizzie bergetar pelan. Menilik dari usahanya menyembunyikan wajahnya, ia mungkin sedang menangis. "Semua baik-baik saja, Lizzie. Semua bahaya sudah berlalu sekarang. Mulai sekarang, benar-benar tidak akan ada lagi yang perlu dikhawatirkan."

Lee Jeonghwa dan Kang Tae-hyung sudah mati. Sekarang, Juhwan adalah satu-satunya Pahlawan dari Bumi yang tersisa. Tidak akan ada lagi bahaya. Benar-benar tidak ada. Juhwan memegang bahu Lizzie dengan lembut. "Ibu terlalu khawatir. Selama Dorothy ada, Ibu tidak perlu khawatir sama sekali." Mendengar Dorothy bicara dengan sangat bangga, Oz mengeluarkan bunyi pii kecil. Entah kenapa, suaranya terdengar tidak puas.

Ah. Juhwan tersenyum lembut. "Benar juga. Oz, aku lupa berterima kasih padamu." Saat Juhwan tersenyum, Oz melompat ke bahunya. Pipi berbulunya menggembung, dan ia mengeluarkan bunyi pii lagi. Tuk, tuk, tuk, tuk. Kaki kecil Oz memukul-mukul bahu Juhwan, dan entah kenapa itu terasa agak menyakitkan. Makhluk kecil ini pasti mengerahkan tenaga yang cukup kuat. "Baik, baik. Maaf aku melupakanmu." Juhwan meminta maaf, tapi bahkan setelah beberapa saat berlalu, pukulan kaki Oz di bahunya masih terasa cukup sakit.

Sekitar dua jam kemudian, utusan dari Tyrone tiba. Ia membawa surat penyerahan dari pangeran mahkota. Baru saat itulah terasa bahwa perang benar-benar telah berakhir.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments