Bab 192: Karpet yang Diinjak oleh Raja Kematian
"Apakah Anda takut, Tuan Daniel?" Margrave bertanya.
Daniel tak bisa menjawab. Itu hanya satu kalimat. Siapa yang takkan takut pada orang yang bisa membunuh ribuan tentara dengan satu kata, tanpa mengayunkan pedang sekalipun?
Pria yang berdiri tegak di atas unicorn putih itu—Daniel bahkan tidak yakin lagi apakah dia benar-benar manusia yang sama dengan yang ia pikir ia kenal. Kukira dia hanya orang biasa dengan kemampuan yang luar biasa. Tapi ini bukan manusia. Bukankah ini seperti masa lalu yang jauh, di mana para dewa diceritakan mengambil wujud manusia dan hidup di antara umat manusia?
"Tuan Daniel, Anda tidak boleh salah paham." Salah paham apa? Ketika Daniel menatap Margrave, pria itu tersenyum, kerutan terbentuk di sudut matanya.
"Kekuatan itu bukan milik sang Pejuang. Itu milik Rudolph, kekuatan yang dipegang oleh kontraktor Santa." "J-jadi maksudnya..." "Ya. Pria itu bahkan belum menunjukkan kekuatannya sendiri." "Dia bisa menggunakan air, api, angin, dan sihir penyembuh. Masing-masing jauh melampaui penyihir biasa. Namun semua itu hanyalah sebagian kecil dari kekuatan yang dimilikinya."
Apakah dia benar-benar manusia? Mata Daniel membelalak, dan Margrave sedikit menundukkan kepalanya.
"Pada awalnya, saya juga membuat kesalahan karena saya tidak sabar. Namun saya mohon, jangan remehkan sang Pejuang atau kontraktor Santa." "Jangan berpikir untuk menyalahgunakan kekuatan mereka, maupun memanfaatkannya. Saya harap Anda akan menjadi raja yang puas asalkan mereka bisa hidup bebas di dunia ini, dengan tenang, tanpa perlu membenci umat manusia."
Daniel mengalihkan pandangannya ke arah Juhwan. Juhwan berdiri diam, menatap mayat-mayat yang bergelimpangan di sekelilingnya.
Dia terlihat seperti dewa perang. Rupanya, bukan hanya Daniel yang berpikir begitu. Para prajurit di sekitar mereka bersorak begitu keras hingga mengguncang langit dan bumi.
"Waaaaah! Tuhan bersama kita!" "Tuhan ada di pihak kita!" Seseorang berteriak, "Kita adalah prajurit Tuhan!" dan seruan itu menyebar ke seluruh pasukan bagai ombak.
Melihat para prajurit yang berteriak hingga wajah mereka memerah, Daniel mengangguk. "Ya... Anda benar sekali, Margrave." Sangat wajar para prajurit menjadi histeris. Bagi Daniel saja, Juhwan terlihat bagai dewa perang. Bagi para prajurit, pasti lebih dari itu. Apa yang akan terjadi jika pria dengan kekuatan seperti itu memutuskan untuk melakukan sesuatu? Atau jika dia membenci suatu kerajaan? Tak perlu dipikirkan.
Juhwan, yang tadinya berdiri bak patung, akhirnya bergerak. Dia perlahan mendekati gerbang kastil. Daniel melihat Yeonhwa dengan lincah menyelinap di antara mayat-mayat, dan punggung Juhwan di atasnya. Mayat-mayat yang berserakan di tanah tampak seperti hamparan karpet yang digelar untuk Raja Kematian.
Aku takut. Benar-benar takut...
Ketakutan yang pasti dirasakan para prajurit di tembok yang jauh sana seakan menyeberangi udara kosong dan menyentuh kulit Daniel. Meski tak ada suara yang mencapainya, dia merasa bisa mendengar jeritan mereka di telinganya.
Dia adalah pengintai dengan mata yang sangat tajam. Bahkan dari jarak yang sangat jauh, bahkan ketika sesuatu berukuran sangat kecil seperti semut, dia bisa melihat setiap detail ekspresinya. Dia tidak punya mana, tapi kadang dia bertanya-tanya apakah satu atau dua leluhurnya mungkin memiliki kekuatan semacam itu. Jika tidak, penglihatan setajam ini mustahil ada. Sebagus itulah matanya.
Berkat itu, bahkan setelah malang melintang di medan perang sebagai pengintai selama bertahun-tahun, dia berhasil tetap hidup. Dia menyadari bahaya mendahului siapa pun dan menghindarinya, sehingga risiko matinya rendah. Tentu saja, pasukan tempat dia bernaung juga jadi lebih aman. Karenanya, bayarannya cukup bagus. Prajurit dari kalangan rakyat biasa yang tak berharga seperti dirinya menerima upah ekstra dan bisa menghidupi istri serta anak-anaknya dengan lumayan nyaman. Hidup yang sama sekali tidak buruk.
Sampai sekarang, penglihatannya adalah kebanggaannya. Namun pada detik ini, dia sedikit membencinya. Seandainya saja dia tidak bisa melihat sejelas itu, mungkin rasa takutnya akan berkurang.
Bagaimana monster seperti itu bisa eksis? Fakta bahwa pria itu menunggangi unicorn sudah cukup menjadi peringatan, tetapi orang itu telah melampaui batasan kemampuan manusia. Dan meskipun yang lain tampaknya tidak menyadarinya, Pejuang itu mungkin benar-benar sesosok dewa yang mengenakan kulit manusia. Dia sedang berbicara dengan binatang ajaib. Saat Pejuang itu menggerakkan bibirnya dan berbicara, peri kecil berbulu bersayap dan kelinci bertanduk itu menjawabnya.
"Astaga. Pemandangan apa yang baru saja kulihat?" Dia membenci matanya karena melihat terlalu jelas. Pengintai itu menggemeretakkan giginya.
Tubuhnya mencoba lari dengan sendirinya. Rasa takut meresap ke dalam perutnya, membuat seluruh tubuhnya gemetar. "Sialan."
Karena matanya terlalu bagus, dia melihat seperti apa ekspresi yang ditunjukkan orang-orang saat mereka ambruk, dan di mana persisnya pola itu menyebar di kulit mereka. Walaupun semua orang telah tumbang dan hanya udara kosong yang tersisa, bayang-bayang peristiwa itu seolah terukir di balik kelopak matanya. Ini bisa membunuhku. Dia hanya ingin melarikan diri, tapi ini belum berakhir. Dia masih punya tugas pengintaian.
Pengintai itu mengeraskan perutnya. Sang Pejuang perlahan membimbing unicorn ke arah tembok kastil. Bayi kelinci bertanduk yang mungil melompat dan memanjat ke atas kepala unicorn. Tanduk kelinci itu mulai menyala sedikit demi sedikit, berkilauan bak bintang di langit malam. Tetapi jika diperhatikan, bukan hanya tanduk kelinci itu yang bersinar. Benda berbulu dengan sayap capung yang tersembunyi di dalam bulu kelinci juga membuat tanduk kecilnya menyala.
Setelah tanduk unicorn bersinar, orang-orang mati berguguran seperti biji jagung rontok dari tongkolnya. Apa yang akan dilakukan kelinci bertanduk dan gumpalan bulu itu?
Pengintai itu buru-buru naik ke kudanya untuk sedikit mendekat dan memeriksa. Kakinya gemetar begitu hebat sampai-sampai sulit baginya untuk naik ke pelana dengan benar. "Haa, sialan." Namun, dia entah bagaimana berhasil menaikkan tubuhnya ke punggung kuda dan melaju ke depan.
Di kejauhan, pengintai dari kamp lain juga bergerak. Situasi mereka sepertinya tak berbeda dengannya. Mereka semua bergoyang tak stabil di atas kuda, jauh dari kata seimbang. Para pengintai tak lagi berusaha menyembunyikan diri mereka. Pasukan Pangeran Ketiga sudah mati semua, dan Pejuang itu sepertinya tak berniat menghentikan para pengintai. Jika memang begitu, tak perlu takut pada pandangan siapa pun. Sejujurnya, setelah melihat kemampuan sang Pejuang, dia tak lagi punya keinginan untuk bersembunyi. Jika pria itu menginginkannya, menemukan beberapa pengintai lebih mudah daripada memakan bubur. Tak ada gunanya bersembunyi.
"Haa..." Membayangkan bahwa tugas pengintaiannya, yang selalu ia banggakan, kini terasa begitu tak berguna. Itu sudah cukup membuatnya sedikit kehilangan alasan untuk hidup. Setelah berkuda beberapa saat, dia menghentikan kudanya.
Berdiri di titik di mana dia bisa melihat Pejuang dan binatang ajaib itu dengan paling jelas, dia memanjangkan lehernya. "Kah..." Suara itu lolos begitu saja tanpa dia sadari.
Gelembung-gelembung yang tadi memenuhi udara mulai melayang memasuki ibu kota, seolah terbawa angin. Mereka mengambang melintasi tembok kastil yang tinggi. Pemandangan gelembung tak terhitung yang terbang di atas kepala Pejuang sangatlah menakjubkan. Itu benar-benar terlihat seperti keajaiban yang ditunjukkan oleh dewa. Begitu semua gelembung mengalir ke dalam kota, hujan mulai turun rintik-rintik di dalam tembok.
Pengintai itu menatap wajah sang Pejuang. Hujan ini... Pejuang itu pasti yang menurunkannya, kan? Dia pernah mendengar bahwa hujan nyaris tak pernah turun di ibu kota selama beberapa tahun terakhir. Hujan yang tiba-tiba turun sekarang—dan hanya di dalam tembok kota—pastilah keajaiban dari sang Pejuang.
Pejuang pembawa hujan. Pengintai itu teringat rumor yang beredar di kalangan rakyat biasa. Mereka bilang ke mana pun Pejuang pergi, hujan rintik yang lembut akan mengikuti. Mereka bilang tanah yang tersentuh hujan itu akan membangkitkan kembali tanaman layu yang nyaris mati, dan dalam kasus langka, bahkan orang yang hampir mati bisa hidup kembali.
Kukira itu hanya dilebih-lebihkan... Apa mungkin itu benar? Mungkin dia sedang berdiri di pusat sebuah legenda yang akan diwariskan dari generasi ke generasi. Sensasi seperti getaran merayap di kulit dan ke seluruh tubuhnya. Selama beberapa waktu, hujan yang sudah lama dirindukan menyelimuti seluruh ibu kota.
Benar-benar luar biasa. Yah, dia adalah Pejuang yang dipilih oleh wahyu yang turun di seluruh negeri. Tentu saja dia luar biasa. Berpikir demikian, pengintai itu menelan ludah dengan susah payah.
Tampaknya keajaibannya sudah hampir usai sekarang. Mungkin ini saatnya untuk kembali ke pasukannya. Aku akan menunggu sebentar lagi...
Detik berikutnya, pengintai itu begitu syok hingga dia jatuh dari kudanya. Tanduk kelinci itu bersinar lebih terang dari sebelumnya, memencarkan cahaya ke segala arah. Dan kemudian— "Astaga!"
Gerbang kastil yang raksasa mulai hancur menjadi serbuk. Bahkan jeruji besi tebal yang tertutup rapat pun hancur dalam sekejap, berubah jadi debu. Setelah dia berkedip beberapa kali, gerbang megah yang baru saja berdiri di sana telah lenyap tanpa jejak.
"Astaga! Astaga! Ya Tuhan!" Pengintai itu bergumam seolah akalnya sudah hancur, lalu tiba-tiba sadar dan melempar tubuhnya ke atas kuda. Benar-benar melempar dirinya—dia tidak naik dengan benar, hanya menyampirkan tubuhnya di punggung kuda.
Pikirannya terlalu kacau baginya untuk sekadar berpikir tentang berkuda dengan benar. Hanya ada satu pikiran di kepalanya. Dia harus melaporkan ini pada atasannya. Sekarang juga, segera! Setiap detik sangat berarti.
Satu ketukan kemudian, pengintai lain juga mulai bergerak kembali ke kamp masing-masing. Semuanya memacu kuda seperti orang gila. Tak perlu melihat apa yang terjadi selanjutnya. Satu-satunya jalan yang tersisa bagi mereka hanyalah penyerahan diri. Hanya menyerah.
Seakan wujud ketakutan itu sendiri sedang mengejarnya tepat di belakang kepalanya, pengintai itu memacu kudanya lebih keras lagi.
Saat mereka menghadapi binatang ajaib undead di wilayah Margrave sebelumnya, sihir penyembuh Juhwan tidak bekerja. Bahkan kekuatan Yeonhwa pun tak mampu membuat para undead itu tenang. Kemungkinan besar kali ini akan sama.
Kekuatan Kang Taehyung dan Lee Junghwa berbeda jenisnya, namun keduanya berasal dari dewa jahat yang sama. Manusia yang telah sepenuhnya berubah kemungkinan besar takkan bisa diselamatkan. Tetapi jika mereka masih dalam proses perubahan, mungkin mereka bisa dikembalikan seperti semula. Bahkan di wilayah Margrave, orang-orang yang belum sepenuhnya menjadi undead bisa disembuhkan.
Untuk itulah hujan ini diturunkan. Agar sedikit lebih banyak orang yang bisa diselamatkan. Agar jumlah orang yang harus dibunuh bisa berkurang meski hanya satu.
Pola yang tergambar pada gelembung-gelembung itu telah berubah menjadi bentuk yang berbeda. Sebelumnya, pola itu mengantarkan suaranya melalui udara, tapi kini mereka berfungsi membawa mana Juhwan ke dalam hujan. Hujan itu adalah air mata dewa jahat. Hujan itu tidak digerakkan oleh mana, melainkan oleh emosi. Dia tidak bisa memasukkan sihir penyembuh ke dalamnya.
Setiap gelembung Kutu Santa membawa sihir penyembuh Juhwan. Gelembung itu meleleh ke dalam hujan, melapisinya dengan kemampuan penyembuhannya. Dia belum tahu apakah ini akan berhasil dengan baik. Melihat hujan yang perlahan membasahi kota dan gelembung yang menempel padanya lalu larut, Juhwan bergumam pelan. "Kumohon."
"Pasti berhasil, Tuan. Pang. Kutu Santa adalah jenius serba bisa yang mampu melakukan apa saja. Pang. Saya ini jenius. Pang. Keinginan Tuan adalah keinginan Kutu Santa ini. Tentu saja saya akan mewujudkannya! Pang! Kalau gagal, saya akan terus mencoba sampai berhasil. Pang!" Kutu Santa, yang tadi bersembunyi di bulu Oz, melompat jungkir balik di udara. Layaknya beruang terlatih yang tampil di sirkus, dia melangkah dengan gaya aneh melintasi udara kosong, lalu mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi dengan penuh gaya.
"Ya. Aku mengandalkanmu." "Percayalah pada saya! Pang! Serahkan semuanya pada saya! Pang! Sekalipun tubuh Kutu Santa ini harus hancur jadi debu, saya akan mewujudkannya, pang!"
Mungkin Oz tak suka karena hanya Kutu Santa yang bisa berkomunikasi dengan Juhwan. Atau mungkin dia tidak senang Kutu Santa memonopoli perhatian Juhwan. Apa pun itu, Oz mulai menendang-nendang kepala Yeonhwa dengan cepat menggunakan kakinya. Yeonhwa mengeluarkan suara hee-eeng kecil, terdengar seperti helaan napas.
Tentu saja itu mungkin tidak sakit, tapi fakta bahwa dia tidak marah meski sudah ditendang berkali-kali sangatlah mengagumkan. Jika dilihat secara terpisah, Yeonhwa masih terlihat muda juga, tapi ketika mereka bersama seperti ini, dia benar-benar terasa seperti seorang kakak perempuan.
Juhwan menepuk tengkuk Yeonhwa, lalu mengulurkan tangannya ke arah Oz. "Oz, kau juga sudah bekerja keras. Kau hebat." Memahami maksud Juhwan, Oz melompat ke atas telapak tangannya.
Ketika Juhwan menoleh ke arah pasukan Margrave di belakangnya, dia bisa melihat para prajurit bersorak di kejauhan. "Kau lihat mereka? Semua prajurit di sana bersorak untukmu. Mereka memujimu, bilang apa yang kau lakukan itu luar biasa." "Ppii!"
Meskipun mungkin mereka tidak bisa melihat jelas, para prajurit sepertinya sadar bahwa Juhwan sedang mengangkat Oz ke arah mereka. Mereka mengacungkan tombak dan mengaum layaknya guntur. Hidung kecil Oz bergerak-gerak. Bulu dadanya membusung penuh kebanggaan.
"Sekarang pergilah. Pergi ke tempat Dorothy dan Lizzie, dan pamerkan apa yang sudah kau lakukan." "Ppi!" Oz menatap wajah Juhwan sekali, mengeluarkan suara ppi dengan bangga, lalu melompat ringan ke tanah. Menurunkan telinganya ke belakang, dia mulai berlari dengan kecepatan luar biasa.
Kutu Santa berteriak panik. "Kelinci bodoh! Bawa aku bersamamu!" Pola pada gelembung-gelembung itu sudah selesai. Yang tersisa hanyalah menunggu mana itu semakin larut ke dalam hujan. Tak ada lagi yang harus dilakukan Kutu Santa.
"Tak apa. Kau juga pergilah." "Dimengerti. Pang. Kutu Santa ini sekarang akan pergi melindungi istri dan anak Tuan. Pang." Kutu Santa berteriak lantang seperti seorang prajurit, lalu mengepakkan sayapnya dengan cepat. Sayapnya bergerak sangat cepat hingga tak terlihat, menghasilkan suara dengungan rendah. Seperti peluru, tubuh Kutu Santa melesat ke depan. Dalam sekejap, dia menyusul Oz dan berpegangan erat pada ekornya dengan aman.
Pergerakan mulai terlihat di atas tembok kastil. Tampaknya para prajurit ibu kota yang sempat tertegun beberapa saat, akhirnya mulai bergerak. Juhwan mengangkat satu tangannya dan memberi sinyal pada Margrave. Mulai dari titik ini, giliran pasukan Margrave.
Kemampuan Rudolph tidak mempan pada manusia yang dipenuhi oleh kekuatan dewa jahat. Orang-orang di dalam kota ini yang telah kehilangan akal karena Lee Junghwa harus ditangani secara fisik. Setelah menerima sinyal, pasukan Margrave mulai menyerbu maju diiringi raungan peperangan.
Hans ada di antara mereka. Dia berada tepat di samping Margrave dan Daniel. Dia pernah bilang dia jarang punya pengalaman berdiri di tengah pertempuran, dan memang Hans terlihat kebingungan, tak tahu apa yang harus dilakukan. Memperhatikan hal itu, Juhwan pun mengangkat kapaknya dengan mantap.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments