Header Ads Widget

Chapter 191 - Kekuatan Satu Kata

 


Bab 191: Kekuatan Satu Kata

Para prajurit yang datang menyerbu dan menerbangkan debu, mengepung Juhwan dalam sekejap. Denting logam, derap langkah prajurit, dan suara tapak kuda menciptakan suara bising yang tak menyenangkan di atas tanah kering.

Juhwan menepuk ringan leher Yeonhwa yang sedikit bersemangat, lalu menatap para prajurit itu. Mereka tampak agak ketakutan melihat sang unicorn. Mereka menjaga jarak dan tidak berani mendekat. Lagi pula, mereka pasti tahu tentang ramalan wahyu tersebut. Menodongkan tombak pada pejuang yang dipilih Tuhan pastilah menakutkan. Jika diperhatikan saksama, ujung-ujung tombak yang dipegang para prajurit itu sedikit diturunkan.

Di sudut pandangannya, dari jarak yang masih lumayan jauh, lebih banyak prajurit bergegas ke arahnya. Di sana-sini, terlihat para bangsawan menunggang kuda. Di antara mereka, ada satu pria yang penampilannya sangat mencolok. Baju zirah dan pedang yang dibawanya dipoles begitu mengkilap sampai-sampai lalat pun akan terpeleset jika hinggap di sana. Tidak ada satu pun goresan. Kilaunya cukup terang untuk menyilaukan mata. Bahkan tali kekang kudanya pun tak memiliki setitik debu. Seberapa keras para pelayan pria itu harus bekerja untuk menjaga penampilannya tetap seperti itu di medan perang?

Beberapa pria yang tampak seperti ksatria pengawal mengelilinginya. Pria berbaju zirah berkilau dengan pedang mencoloknya itu menerobos barisan prajurit dan maju ke depan. Kudanya yang gelisah bergerak gugup, tapaknya berderak menghantam tanah. Tampaknya kuda itu secara insting tahu bahwa Yeonhwa adalah makhluk yang berbahaya. Kuda-kuda di pihak Juhwan tidak pernah bereaksi seperti ini. Mungkin biasanya Yeonhwa menekan mana-nya. Pengalaman yang didapat anak ini selama hidup di tengah masyarakat manusia sepertinya membantunya dengan cara yang bahkan mungkin tidak dia sadari.

"Jadi kau pejuangnya?" Pria penunggang kuda itu bertanya dengan nada sombong. "Aku tidak tahu apakah kau ini pemberani atau idiot, datang menghadapi kami sendirian."

Juhwan yang diam saja sepertinya membuatnya kesal. Pangeran Ketiga Gilbert menaikkan alisnya yang melengkung tajam. Namun, tampaknya ia sudah banyak mendengar tentang sang pejuang dari wahyu tersebut. Meskipun ekspresinya mengeras, Pangeran Ketiga entah bagaimana berhasil menahan amarahnya.

"Sepertinya Margrave pada akhirnya membuangmu. Apa dia melihat pasukan besar ini dan menawarkanmu sebagai tumbal?" Pangeran Ketiga melirik ke arah perkemahan tempat Margrave berada sambil mencibir. "Pejuang, jika kau tunduk padaku, aku akan memberimu gelar bangsawan dan memperlakukanmu dengan baik. Bagaimana menurutmu? Jika kau menolak, ketahuilah bahwa nyawamu akan berakhir detik ini juga."

Juhwan menengadah ke langit tak berawan dan menghela napas panjang. Hari ini, dia adalah iblis. Makhluk yang akan membunuh orang-orang yang tidak punya dendam dengannya. Seseorang yang bahkan lebih jahat daripada dewa jahat di masa lalu. Hatinya tenggelam berat saat memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang.

Apakah sudah waktunya untuk mulai?

Setelah memastikan bahwa hampir seluruh prajurit Pangeran Ketiga telah berkumpul, hingga ke ujung barisan, Juhwan memerintahkan Kutu Santa untuk membuat dan menyebarkan gelembung udara. Membaca pikirannya, Kutu Santa yang sudah bersiap-siap, seketika menciptakan sekawanan gelembung udara kecil dan menyebarkannya. Pemandangan itu terlihat seolah-olah sebuah pistol gelembung raksasa telah ditembakkan ke udara.

Gelembung-gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya melesat ke langit. "Apa... apa itu?" "Apa-apaan..." Para prajurit berteriak seolah menjerit saat melihat gelembung udara memenuhi angkasa. Dalam sekejap, gelembung-gelembung itu menutupi ruang di atas para prajurit dan memenuhi langit.

"L-lihat ke sana!" "Apakah itu... huruf?" "Apa itu? Apa pejuang itu yang melakukannya...?" "Astaga."

Pola-pola transparan terukir dengan warna merah di setiap gelembung. Beberapa prajurit yang ketakutan langsung jatuh tersungkur di tempat mereka berdiri dan menempelkan dahi mereka ke tanah. Para perwira dan komandan regu yang berdiri di antara para prajurit menendang atau membentak anak buahnya yang jatuh, mencoba menyuruh mereka berdiri kembali. Namun rasa takut itu justru menyebar semakin luas. Sebaliknya, jumlah prajurit yang bersujud di tanah perlahan bertambah.

Kutu Santa, yang duduk seolah bersembunyi di dalam bulu Oz, mengibaskan bulu putihnya dan berkata, "Tuan, gelembung speaker-nya sudah selesai, persis seperti yang Anda inginkan. Pang. Anda bisa bicara kapan pun Anda mau. Pang."

Gelembung speaker? Memikirkan hal itu, Juhwan mengukir senyum kecil di bibirnya, dan Kutu Santa tampak senang melihatnya. Menatap wajah Juhwan, Kutu Santa mengepakkan sayapnya. "Karena Tuan menjelaskan bahwa itu disebut speaker, saya memutuskan untuk menamainya begitu. Pang. Awalnya, kata 'speaker' terdengar agak aneh. Tapi setelah memikirkannya beberapa kali, itu benar-benar nama yang bagus. Pang. Dan begitu saya berpikir untuk membuat speaker, ide-ide terus bermunculan di kepalaku seperti air mancur. Pang. Pasti karena itu. Pang. Ini pertama kalinya saya melakukan ini, tapi hasilnya sangat ahli dan sangat bagus. Pang. Kutu Santa ini memang jenius serba bisa yang bisa melakukan apa saja. Pang."

Di balik bulu kelinci putih, sayap transparannya yang mirip capung berkilau terkena cahaya. Gelembung udara yang diciptakan Kutu Santa bukan sekadar untuk pertahanan. Sesuatu juga bisa dimasukkan ke dalamnya. Saat pertama kali Juhwan menyentuhnya, benda itu terasa seperti balon, jadi dia bertanya-tanya apakah hal itu mungkin dilakukan. Tapi ketika dia tahu bahwa suara bisa dimasukkan dan dibawa ke dalamnya, dia benar-benar terkejut.

Dan bukan cuma itu. Saat Juhwan berbicara, suaranya ditransmisikan ke gelembung-gelembung udara itu dan bergema secara bersamaan. Kemampuan anak-anak ini benar-benar luar biasa.

"Kerja bagus." Sebagai pujian, Juhwan menyentuhnya pelan dan menyalurkan mana kepadanya. Kutu Santa gemetar seolah-olah tersengat listrik.

"Uoooooh! Kekuatan! Kekuatannya meluap-luap! Pang!" Kutu Santa mengangkat lengan kurusnya ke udara dan bereaksi heboh. Sepertinya Oz cemburu karena hanya Kutu Santa yang menerima mana Juhwan. Oz menggoyangkan tubuhnya dengan keras dan menjatuhkan Kutu Santa.

"Dasar kelinci nakal! Jahat sekali sifatmu..." Kutu Santa yang nyaris tak bisa berpegangan pada ujung bulu Oz dan memanjat naik lagi, tak bisa menyelesaikan kalimatnya sebelum jatuh kembali. Oz menggoyangkan tubuhnya lebih keras lagi.

Di medan perang yang menyesakkan ini, hanya anak-anak ini yang merasa damai. Rasanya seperti mereka berdiri di ruang yang benar-benar terpisah dari medan tempur.

Tapi aku tidak bisa terus diam seperti ini. Dia sedari tadi menundanya karena tidak ingin melakukannya, tapi dia tidak bisa menunda lebih lama lagi. Juhwan menghela napas kecil dan mengalihkan pandangannya kembali ke Pangeran Ketiga dan para prajurit.

"Apa... apa itu?" Sepertinya Pangeran Ketiga Gilbert juga kehilangan ketenangannya melihat pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya. Dia menatap kosong ke udara. "Pejuang, apa ini ulahmu?"

Alih-alih menjawab, Juhwan membuka mulutnya dengan senyum dingin. [Kalian akan diberi kesempatan untuk hidup. Detik ini juga, mereka yang percaya pada Tuhan dan menyambut kedatangan sang Pejuang, bersujudlah di tempat kalian berdiri.]

Suara Juhwan menyebar ke seluruh area luas melalui gelembung udara yang memenuhi langit. Benda-benda itu benar-benar bertindak seperti speaker. Karena mereka mentransmisikan suaranya persis tanpa mengubahnya, benda ini mungkin bahkan lebih baik daripada speaker modern.

"Hiiik!" "Itu suara Tuhan!" "Tuhan telah datang!"

Para prajurit yang panik menjatuhkan diri ke tanah di sana-sini. Semua orang tampak ketakutan. Lagi pula, bagi orang-orang yang belum pernah melihat hal seperti speaker, wajar jika mereka salah mengiranya sebagai suara Tuhan.

Meski begitu, di antara ribuan prajurit, hanya sebagian kecil yang bersujud. Mungkin hanya beberapa ratus orang. Jumlah yang lebih kecil dari perkiraan itu membuat hati Juhwan kian muram.

Pangeran Ketiga yang sempat linglung sejenak, sepertinya telah kembali sadar dan berteriak ke segala arah. "Ini tipuan! Tidak mungkin suara Tuhan bisa didengar oleh kita manusia! Ini tak lebih dari sekadar tipu daya sang Pejuang!"

Kepanikan Pangeran Ketiga tampaknya menular pada kudanya. Kuda itu mendengus dan berputar-putar di tempat. Terlambat, para bangsawan lain juga mulai berteriak di sana-sini, mendesak para prajurit untuk bangkit. Namun mereka yang sudah bersujud tidak bergeming. Sebanyak apa pun mereka ditendang, mereka tidak mau berdiri.

"Sialan! Dasar bodoh!" Pangeran Ketiga tampak murka melihat beberapa prajurit yang masih belum bisa melepaskan diri dari rasa takut mereka, bahkan setelah mendengar kata-katanya.

Terutama seorang prajurit muda tepat di depan Juhwan, yang memucat pasi sampai-sampai wajahnya terlihat seperti selembar kertas, lalu nyaris membiru karena ketakutan. Setengah roboh dan gemetar di sekujur tubuh, dia bergumam pada dirinya sendiri. "A-ampuni hamba. Tolong ampuni hamba. Ampuni pendosa yang berani menentang Tuhan ini."

Melihat prajurit muda itu menatap Juhwan dengan ketakutan, Pangeran Ketiga mengangkat cambuknya tinggi-tinggi. Melihat itu, Juhwan kembali membuka mulut. [Hentikan, Pangeran Gilbert!]

Melalui gelembung udara, suara Juhwan menggema ke seluruh pasukan. Pada saat itu, tanduk Yeonhwa bersinar merah, dan pola merah mulai terbentuk di kulit Pangeran Gilbert. Pola yang menyerupai siput yang terhubung dengan beberapa segitiga yang tumpang tindih, berlanjut ke bentuk-bentuk seperti ameba, persegi, dan lainnya. Pola merah itu menyebar ke wajah dan jari-jarinya, dan kemungkinan juga ke seluruh kulit yang tersembunyi di balik pakaiannya.

Dalam sekejap, seluruh kulitnya tertutup tanda aneh. Gilbert membeku seperti patung batu, dengan cambuk yang masih terangkat tinggi.

"A-apa ini! Apa-apaan ini!" Hanya mulut Pangeran Ketiga yang bisa bergerak bebas. Melihat sang pangeran dalam kondisi ganjil tersebut, hampir seratus prajurit di dekatnya langsung merebahkan diri ke tanah.

Tetapi para prajurit yang berada lebih jauh tidak akan bisa melihat dengan jelas mengapa ini terjadi, atau pola merah apa yang menyebar di kulit sang pangeran. Bagi mereka, sang pangeran mungkin hanya terlihat berdiri mematung dengan tangan terangkat di udara. Di kejauhan dalam jarak pandang Juhwan, dia melihat beberapa lusin orang lagi berlutut di tempat, tetapi hanya itu.

Sementara para komandan yang bertanggung jawab atas prajurit, termasuk para perwira dan pemimpin regu, terus berteriak dan menendang, tak ada lagi yang menyerah. Setelah memastikan bahwa para pengintai dari kamp lain sudah tiba dan sedang mengawasi tempat ini, Juhwan mengalihkan tatapannya ke arah ribuan prajurit musuh.

Semua orang ini pastilah suami, ayah, dan anak seseorang. Hatinya berubah gelap. Juhwan memaksa hatinya, yang terasa seperti jatuh ke jurang terdalam, untuk bangkit kembali. Semoga kekejaman ini demi kebaikan di masa depan.

Setelah bergumam layaknya berdoa, Juhwan akhirnya membuka mulutnya yang terasa berat. [Kalian semua, diam.]

Suara beratnya mengendap di atas ruang luas di atas kepala para prajurit. Pola-pola merah terang mulai tergambar di tubuh ribuan prajurit.

"Ugh... uhh... apa... ini..." Dari ujung kaki, merambat ke kaki, melintasi dada mereka, lalu ke jari-jemari, pola merah itu menyebar. Tepat seperti yang diinginkan Juhwan, Yeonhwa perlahan mengukir tanda merah di tubuh orang-orang, perlahan-lahan memuncak rasa takut mereka.

Para bangsawan dan prajurit menjerit saat mereka melihat pola merah mewarnai tubuh mereka sendiri, serta tubuh orang-orang di depan mata mereka. Beberapa orang menggosok tubuh mereka, berusaha menghapus pola tersebut. Tapi meskipun mereka mencakar kulit atau memotong permukaannya dengan pisau, pola itu tidak akan hilang.

Jeritan, seolah tenggorokan mereka dikoyak, terdengar dari segala arah. Namun saat pola itu perlahan merambat ke leher dan menyebar ke wajah mereka, semua jeritan lenyap seketika. Bukan hanya kelopak mata, bahkan kulit yang tersembunyi di balik rambut mereka tertutup rapat oleh pola merah.

Keheningan turun menyelimuti orang-orang itu. Mata mereka yang dilanda ketakutan tampak seolah-olah sedang menjerit tanpa suara. Dalam keheningan itu, suara Juhwan memenuhi udara.

[Kematian bagi mereka yang menentang kehendak Tuhan.]

Itu terjadi di detik saat Juhwan mengucapkan kalimat itu. Orang-orang yang tadinya lumpuh oleh rasa takut, ambruk ke tanah secara serempak. Ribuan orang yang baru beberapa saat lalu berdiri tegak, terlihat seolah-olah lenyap entah ke mana.

Para prajurit yang telah bersujud mendengar kata-kata pertama Juhwan meringkuk ketakutan dan mulai berdoa pada Tuhan. Satu-satunya orang yang masih hidup hanyalah Pangeran Ketiga, yang masih duduk di atas kudanya dengan cambuk terangkat, dan para prajurit yang telah bersujud sejak awal.

"A-apa yang terjadi..." Pangeran Ketiga hanya menggerakkan matanya, melihat ke sekeliling yang kini kosong dan pucat pasi. Mata sang pangeran, dipenuhi syok, terbelalak lebar dalam keputusasaan yang kosong.

Tanpa sepatah kata pun, Juhwan menarik kapak yang tergantung di tali kekang Yeonhwa. Meski tanpa aba-aba, Yeonhwa memahami niatnya dan melompat maju beberapa langkah. Sebelum kaki Yeonhwa menyentuh tanah, Juhwan mengayunkan lengannya dan menebas leher sang pangeran.

Kepala sang pangeran, dengan mata masih terbelalak, berputar di udara. Untuk sesaat singkat, matanya seakan menatap wajah Juhwan. Namun sebelum Juhwan bisa memastikannya, kepala pangeran itu jatuh ke tanah dan menggelinding.

Tubuh sang pangeran perlahan jatuh dari atas kuda, dan untuk waktu yang singkat, waktu berlalu seolah semua suara di dunia telah lenyap. Tak ada suara yang terdengar. Pemandangan mayat-mayat itu terpantul di gelembung udara yang memenuhi langit.

Juhwan diam-diam melihat saat pola merah perlahan menghilang dari tubuh-tubuh yang tergeletak di tanah. Berapa lama waktu telah berlalu?

Tiba-tiba, sorak-sorai menggelegar meledak dari seluruh pasukan Margrave. Rasanya seakan langit dan bumi berguncang. Seseorang mulai membalik tombaknya dan menghentakkan pangkalnya ke tanah, yang kemudian menyebar ke seluruh pasukan. Sambil menghentakkan tombak mereka ke tanah, para prajurit mulai bernyanyi dengan lantang.

[Kita berbaris, kita berbaris, kita berbaris di bawah berkah Santa. Pasukan Margrave berbaris. Menyingkirlah, musuh! Pejuang kita maju! Pejuang Santa maju!]

Itu adalah lagu mars pasukan Margrave. Ujung-ujung tombak para prajurit, yang bernyanyi seolah berteriak sekencang-kencangnya, berkilauan terang di bawah sinar matahari.

"Piii." Oz meregangkan telinganya ke samping dengan kecewa. Yeonhwa, Kutu Santa, dan semua yang lain sudah melakukan sesuatu, tapi dia sendiri hanya duduk diam dan tidak berbuat apa-apa. Sepertinya itu membuatnya murung lagi.

Bulunya, yang tadinya belang cokelat saat Juhwan pertama kali bertemu dengannya, kini hampir seputih salju. Namun di sekitar mata dan dadanya, sedikit warna masa kecilnya masih tersisa. Karena bentuknya mirip tetesan air mata, Juhwan mengusapnya lembut dengan jarinya.

"Tidak perlu terlalu kecewa. Sekarang giliranmu." "Piiit!" Mata hitamnya menatap Juhwan dengan semangat yang kembali membara. Mudah kecewa, lalu kembali termotivasi—dia memang anak kecil yang sangat sibuk.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments