Bab 180: Pilihan yang Salah
Keesokan paginya, segera setelah Juhwan meninggalkan kamar tamu, Lizzie mengajak Dorothy dan Oz keluar dari kastil.
Berkat kereta kuda yang disediakan oleh pihak keluarga Margrave, tidak butuh waktu lama untuk mencapai jalanan di bawah kastil. Seorang pelayan dan pengawal mencoba menemaninya, tetapi Lizzie menolak mereka. Satu-satunya alasan ia meminta petunjuk jalan pada awalnya adalah karena ia tidak menyangka kediaman Margrave akan menyediakan kereta. Jika ia tahu jalannya, maka pergi berdua saja bersama sang kusir sudah cukup.
Duduk tenang di dalam kereta yang penuh hiasan, Lizzie menatap ke luar jendela. Yeonhwa, tanpa pelana di punggungnya, mengikuti di dekat kereta pada jarak tertentu. Juhwan telah memintanya untuk selalu menjaga Lizzie dan Dorothy.
Melihat Yeonhwa membuat Lizzie memikirkan wajah Juhwan. Suaminya yang baik hati, yang selalu mengkhawatirkannya. Juhwan pasti akan sangat membenci ini jika dia tahu.
Ia sedikit takut. Saat ini, ia akan melakukan sesuatu bahkan tanpa mendapat izin dari suaminya. Jantungnya berdegup kencang. Ketika Lizzie meminta izin pada Juhwan untuk pergi ke kota hari ini, suaminya tersenyum lembut.
Dia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya akan kulakukan.
Sejak mereka tiba di sini, Juhwan terus mendorongnya untuk pergi melihat-lihat jalanan Bern. Ia berkata ia berharap Lizzie akan menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama Dorothy selama dirinya bekerja. Ketika Juhwan mendengar Lizzie akan pergi keluar hari ini, pria itu sangat gembira. Juhwan menyuruhnya bersenang-senang, makan makanan enak, membeli barang-barang cantik, dan bahkan memberinya uang yang ia terima dari Margrave untuk biaya pengeluaran.
Maafkan aku. Karena melakukan ini seenaknya.
Hati nuraninya menjadi jarum besar dan menusuk dalam ke hatinya. Tetapi apa pun yang terjadi, ia ingin tetap berada di dekat suaminya. Ia tidak tahan membayangkan terpisah darinya.
Sejak kapan aku jadi serakah begini?
Lizzie mengalihkan pandangannya ke arah jalanan.
Moderni, tempat Perusahaan Miller pernah berada, adalah kota komersial, sehingga kota itu tampak mencolok dan halus. Namun kota ini terasa megah. Bangunan-bangunan tua berdiri berjejer, dan jalanan dipenuhi orang-orang yang lalu-lalang. Tempat ini sangat berbeda dari kota benteng yang ia lihat di perbatasan sehingga terasa aneh membayangkan bahwa keduanya ada di wilayah yang sama, pada waktu yang sama.
Ketika Lizzie melihat bunga tanpa nama mekar di bawah naungan sudut jalan, ia menjadi sangat murung. Dirinya yang dulu pernah berpikir sudah cukup baginya asalkan ia bisa hidup tenang, tak diperhatikan siapa pun, sama seperti bunga itu.
Aku jadi serakah. Lizzie memejamkan matanya.
Ia sangat mencintai suaminya. Suaminya sangat berarti baginya, sampai-sampai terkadang hatinya terasa sakit. Ia tidak tahu mengapa cinta membuatnya sakit. Terkadang, cinta hanya terasa pedih dan menyedihkan. Ketika ia membayangkan semakin menjauh dari suaminya, rasanya seolah-olah tanah tempatnya berpijak runtuh dan ia kehilangan tempat berpijak.
"Ibu, Ibu mengantuk?" Dorothy, yang sejak tadi antusias melihat ke luar jalan, bertanya.
"Tidak. Ibu cuma sedang memikirkan sesuatu."
"Oh ya? Dorothy juga memikirkan banyak hal setiap hari." Dorothy tersenyum cerah.
Anak ini akan menderita juga karena aku. Lizzie mengembuskan napas pelan dan membuka lengannya untuk Dorothy.
Dengan tawa yang berderai, anak itu dengan gembira menjatuhkan dirinya ke pelukan Lizzie.
"Maafkan Ibu, Dorothy."
"Untuk apa?" Dorothy memiringkan kepalanya, lalu segera mengangguk-angguk. "Tidak apa-apa, Bu. Aku memaafkan Ibu."
"Ya. Terima kasih."
Tok, tok. Kusir mengetuk jendela kecil yang terhubung ke kursi pengemudi. "Kita sudah sampai di alun-alun pusat, Nyonya."
Lizzie menegakkan punggungnya. Pakaian yang dikenakannya hari ini adalah gaun polos seperti yang biasa dipakai wanita rakyat jelata. Ia telah menanggalkan apa pun yang terlihat kebangsawanan. Kalung peringkat guild yang tergantung di lehernya juga disembunyikan dengan hati-hati di balik pakaiannya agar tidak terlihat.
Tidak akan ada yang tahu bahwa ia adalah anggota dari party kelas Santa.
"Dorothy, tunggu di kereta sebentar ya."
"Hah? Kenapa? Bukannya kita ke sini buat makan yang enak hari ini? Ayah bilang Dorothy harus makan banyak makanan enak."
"Benar. Kita akan mampir ke restoran dan beberapa toko hari ini. Tapi Ibu harus mengurus sesuatu dulu, jadi bisa tunggu sebentar saja? Kamu tidak boleh ke mana-mana."
"Mm, oke." Dorothy menjawab patuh dan duduk manis di kursinya.
Lizzie berbicara kepada Oz, yang sedang duduk di pangkuan anak itu. "Oz, kamu harus menunggu dengan tenang juga. Kalau Dorothy coba-coba pergi ke suatu tempat, hentikan dia."
"Pii!" Jawabannya penuh semangat.
Tetapi kedua anak ini tidak bisa dipercaya. Lizzie turun dari kereta dan memberikan instruksi yang sama kepada Yeonhwa sekali lagi.
"Nyonya, sesuai permintaan Anda, kami berhenti agak jauh dari guild. Guild-nya ada di sebelah sana."
Melihat ke arah yang ditunjuk kusir, Lizzie berjalan maju dengan langkah mantap. Ini adalah pertama kalinya ia pergi ke guild sendirian. Merasa tidak tenang, ia meraba karambit yang ia letakkan di saku samping roknya.
Kutu Santa yang ia sembunyikan di sana bersama dengan karambit untuk berjaga-jaga, menepuk punggung tangannya dengan tangannya yang mungil.
"Jangan khawatir, Nyonya Lizzie. Seekor Kutu Santa yang setia pada perintah Tuan ada bersama Anda."
"Terima kasih." Saat ia berbisik pelan, Kutu Santa tertawa di dalam sakunya. Ia merasa sedikit lebih tenang.
Sebelum masuk, ia harus menyiapkan mentalnya. Lizzie mendorong pintu hingga sedikit terbuka dan melihat sekeliling kantor melalui celah itu.
Kantor guild di kota ini jauh lebih besar daripada yang ada di desa petualang. Bahkan sepertinya lebih besar daripada guild di Moderni. Namun, tata letak dasarnya serupa. Dinding sebelah kiri dipenuhi kertas yang berisi daftar lowongan pekerjaan, dan di sebelah kanan terdapat meja dan kursi untuk tamu. Ia tidak bisa melihat dengan jelas karena banyaknya orang, tetapi jika seseorang berjalan lebih jauh ke tengah, akan ada konter resepsionis tempat staf duduk.
Orang-orang berbaris dalam dua atau tiga barisan. Sebagian besar dari mereka mungkin ada di sini untuk mencari pekerjaan terkait perang. Ia pernah mendengar bahwa rekrutmen terkait perang ditangani oleh guild. Tentara bayaran, orang-orang yang bisa membaca dan menulis, orang-orang yang tahu cara menangani kuda, dan banyak hal lain yang dibutuhkan oleh karavan pedagang.
Ia juga harus menceburkan dirinya ke antara orang-orang itu. Lizzie menelan ludah. Ia menahan perutnya dan mendorong pintu hingga terbuka dengan sekuat tenaga.
Begitu Lizzie melangkah masuk, beberapa pria mengalihkan pandangan ke arahnya. Para pria yang tadinya melirik tanpa berpikir itu langsung membelalakkan mata seperti lampion begitu melihatnya. Mulut mereka bahkan sedikit terbuka.
Lizzie mematung sebelum ia bisa masuk sepenuhnya.
Suara-suara keras para pria mulai hening, dimulai dari area di sekitar Lizzie. Seorang pria menyadari bahwa orang di sebelahnya tiba-tiba berhenti bicara, dan ia menoleh, bertanya-tanya ada apa. Kemudian dia melihat Lizzie dan ikut menutup mulutnya. Keadaan di sekeliling masih berisik, namun hanya di area sekitar Lizzie yang menjadi sunyi.
Kenapa mereka bersikap begitu? Apa mereka sadar aku istri Juhwan?
Akan merepotkan jika suaminya tahu sekarang. Jika Juhwan tahu, pria itu pasti akan menentangnya. Ia akan menyuruh Lizzie tetap di rumah. Ia harus memberi tahunya nanti, saat segalanya sudah berkembang ke titik di mana ia tidak bisa lagi menolak.
Jantungnya berdebar kencang. Ia tidak boleh membiarkan siapa pun memergokinya. Lizzie sedikit menundukkan kepala dan bergegas maju.
Seseorang tiba-tiba bergumam.
"Apa-apaan? Siapa wanita itu?"
"Ngapain wanita secantik itu ada di guild?"
Lizzie pasti salah dengar. Kata-kata yang tidak pernah sekalipun ia dengar sebelumnya menyebar dalam gumaman. Lizzie bertanya-tanya apakah ada wanita lain yang masuk dan melihat ke belakang, tetapi tidak ada siapa-siapa.
Ia menjadi sedikit bingung. Merasa tatapan para pria itu menusuk kulitnya, Lizzie berhenti berpikir. Ia menundukkan kepalanya lebih jauh dan berjalan cepat.
Mengangkat sedikit pandangannya, ia mencari tempat di mana pembaca bayaran (juru baca) mungkin berada. Ketika ia menemukan satu duduk di sudut, Lizzie menuju ke arah sana. Saat juru baca tidak ada pekerjaan sendiri, mereka membantu guild dengan tugas-tugas kecil. Dulu seperti itu di guild petualang, jadi mungkin di sini juga sama.
"Um, permisi, tapi pada siapa saya harus berbicara soal pekerjaan di karavan pedagang?"
Juru baca, yang terlihat cukup tua, membuat ekspresi "ah" dan menyeringai. "Kalau maksudmu rumah bordil yang terhubung dengan karavan pedagang perang, guild tidak mengurusnya. Kau harus pergi ke rumah bordil yang bergabung dengan karavan itu."
"Ah, tidak. Bukan itu maksud saya. Saya datang mencari pekerjaan sebagai pekerja cuci pakaian (laundress)."
"...Pekerja cuci? Kamu?" Juru baca itu mengamati wajah dan tubuh Lizzie dengan ekspresi aneh. Ekspresi itu sepertinya mengandung makna cabul, dan wajah Lizzie pun memerah.
Tapi detik berikutnya, seorang pria di meja resepsionis guild berteriak ke arahnya. "Hei, kau, nona! Silakan ke mari."
Ketika Lizzie mengangkat kepalanya, pria di balik meja itu memberi isyarat agar ia mendekat. Segera setelah mata mereka bertemu, pria itu memiringkan kepalanya seolah menemukan sesuatu yang aneh. Saat ia mendekat, pria itu bertanya dari seberang meja.
"Apa yang membawamu ke mari?"
"Saya ingin bekerja sebagai pekerja cuci pakaian (laundress) untuk karavan pedagang perang. Saya dengar guild merekrut orang."
"...Mm... kamu?"
"Ya."
Pegawai guild itu memandang wajah Lizzie dengan ekspresi khawatir.
Aneh sekali. Kenapa semua orang bertanya mengapa Lizzie ingin bekerja mencuci pakaian? Apakah ia terlalu muda untuk menjadi tukang cuci?
Desa tempat Lizzie pernah tinggal sangatlah terpencil sehingga ia hanya tahu sedikit tentang dunia. Namun, ia sering mendengar bahwa bekerja sebagai pencuci pakaian yang mengikuti tentara bayaran atau prajurit, bayarannya cukup bagus untuk seorang wanita. Mungkin itu karena di dunia ini hampir tidak ada pekerjaan yang memungkinkan wanita menghasilkan uang.
Setiap kali ada kabar tentang pekerjaan tukang cuci, para wanita akan membicarakannya dengan semangat di tempat cucian umum atau saat mereka berkumpul untuk kerja bakti di desa.
Seorang laundress, sesuai namanya, mencuci pakaian tentara, selimut, dan barang-barang lainnya demi imbalan uang. Penampilan tidak penting, dan usia juga tidak masalah. Selama seseorang bisa bergerak dan bekerja, itu sudah cukup. Mungkin karena itu, banyak wanita yang usianya jauh di atas tiga puluh tahun sepertinya mendaftar.
Namun, pekerjaannya konon berat. Seperti kebanyakan rakyat jelata, tentara tidak sering berganti pakaian. Bahkan banyak dari mereka yang menghabiskan setahun penuh dengan hanya satu atau dua pasang pakaian. Mereka akan memakai pakaian itu saat berbaris, merendamnya dengan kotoran tanah, dan terkadang bahkan tinja serta urine. Hidung orang yang mencucinya mungkin akan mati rasa.
Selain itu, jumlah tentaranya banyak, jadi jumlah cucian yang harus dikerjakan sekaligus sangatlah banyak. Membayangkannya saja sudah cukup membuatnya tahu betapa melelahkannya pekerjaan itu. Terutama di musim dingin, saat seseorang harus mencuci dengan air dingin, katanya itu sungguh sangat berat.
Tapi sekarang adalah musim semi. Dibandingkan musim dingin, kondisinya jauh lebih baik. Terlahir sebagai anak perempuan petani, ia sudah sering melakukan pekerjaan semacam itu sampai ia bertemu Juhwan. Pekerjaan mencuci tidak memerlukan keterampilan khusus. Seseorang hanya perlu mengerjakannya dengan rajin dan setia. Ia merasa ia bisa melakukannya dengan cukup baik.
Namun, pegawai guild itu menatap Lizzie dengan dahi berkerut dalam, lalu menghela napas panjang.
Apakah ada yang salah? Apakah ia akan menolaknya? Apa yang harus ia lakukan kalau begitu? Baru saja ia mulai merasa sedikit takut, pegawai guild itu membuka mulutnya.
"Kalau kami menolakmu di sini, apa kau akan pergi ke guild lain? Atau apa kau akan mencari karavan pedagang itu secara langsung? Kalau tidak, apa kau akan mencari jenis pekerjaan lain?"
Lizzie tidak menyangka ia akan ditolak, tapi pria itu mungkin benar. Ia mungkin akan mencoba mencari cara lain. Seolah memahami pikiran Lizzie, pegawai guild itu kembali menghela napas dan menunjuk ke arah sudut. Pria itu menunjuk ke arah pintu masuk di dekat konter pembelian.
"Masuklah dulu ke dalam. Mari kita bicara."
Sepertinya pria itu berniat setidaknya mendengarkan keadaan Lizzie. Lizzie menelan ludah dan bergegas ke belakang meja resepsionis.
Area di belakang konter sedikit rumit. Berbagai dokumen dan barang menumpuk, dan di dekat situ, staf penerima tamu terus-menerus menangani arus orang yang tiada habisnya. Dari seberang meja, beberapa pria bersiul ke arah Lizzie. Dari arah lain terdengar beberapa komentar kotor.
Lizzie menjadi sedikit takut dan meraba karambit yang tersembunyi di dalam roknya. Kutu Santa menepuk punggung tangan Lizzie seolah menyuruhnya untuk tidak khawatir.
"Diam! Ini bukan kedai minum. Kalau kalian terus bersikap begitu, akan kutendang bokong kalian dan kulempar kalian keluar!"
Saat pegawai guild itu berteriak, para pria yang tadi bersiul dan membuat lelucon kotor pun tutup mulut. Pegawai guild itu menggelengkan kepalanya, mengaduk-aduk kotak dokumen, dan mengeluarkan selembar kertas.
"Kau bilang kau ingin bekerja sebagai pekerja cuci?"
"Ya."
"Apa kau tahu jenis pekerjaan seperti apa itu?"
"Saya tahu."
"...Kau yakin?"
Ini aneh. Mungkin ia memang salah paham. Sambil menatap wajah pegawai guild itu, Lizzie dengan hati-hati membuka mulutnya.
"Sepengetahuan saya itu pekerjaan mengikuti pasukan dan mencuci pakaian. Saya juga dengar bayarannya cukup bagus untuk seorang wanita."
Kerutan dalam terbentuk di dahi pegawai guild itu. "Kalau uang yang kau cari, wanita cantik sepertimu akan lebih cepat dapat uang dengan menjadi wanita simpanan pedagang atau bangsawan rendahan."
Cantik. Ini kali pertamanya ada yang mengatakan hal semacam itu padanya, dan ia pun menjadi gelisah. Untuk sesaat, ia tidak tahu harus berbuat apa.
Tetapi itu tidak penting sekarang. Lizzie buru-buru menggelengkan kepalanya. Barulah ia menyadari bahwa ia telah menjawab dengan salah.
"Bukan itu. Suami saya juga akan ikut perang ini. Saya ingin setidaknya bisa sedikit membantu dia..."
Pegawai guild itu menatap Lizzie dengan pandangan kosong. Lalu ia bergumam pelan.
"Ini... Akan lebih baik menerimanya daripada sekadar menyuruhnya pergi. Untuk masa depan, lebih baik memastikan semuanya jelas."
Suara pegawai guild itu sangat pelan sehingga Lizzie tidak yakin ia salah dengar atau tidak. Selagi ia bertanya-tanya apa maksud pria itu dan makin bingung, pegawai guild itu menyodorkan kertas.
"Bacalah ini. Kalau kau masih ingin melakukan pekerjaan itu setelahnya, tulis namamu di bagian bawah. Kalau kau tidak bisa membaca, aku akan membacakannya untukmu."
"Ah, terima kasih. Saya bisa membaca."
"Bagus. Bacalah, dan kalau kau masih belum berubah pikiran setelah tiga hari, datanglah ke sini pagi-pagi sekali."
Lizzie segera memindai isi kertas itu. Tidak ada yang aneh. Di situ hanya tercantum nama toko yang mempekerjakan tukang cuci, gajinya, dan beberapa syarat.
Melihat gaji yang tertulis di bawah nama toko, Lizzie menekan jarinya ke arah angka tersebut. Satu koin tembaga kecil sehari.
Itu terlalu sedikit. Ia jelas pernah mendengar bahwa bayarannya lumayan bagus. Dengan jumlah ini, mustahil untuk bisa hidup meski hanya satu hari di kota.
Saat memikirkan hal itu, Lizzie tanpa sadar mengeluarkan suara kecil. "...Ah."
Ia teringat saat ia pertama kali mengunjungi kota petualang bersama Juhwan. Kalau saja ia melihat jumlah ini saat itu, ia pasti sudah senang.
Aku sudah berubah, ya?
Ungkapan "perut sudah terisi penuh" (grown full-bellied) sangat cocok untuknya. Ia telah menjadi kenyang dengan kelimpahan yang diberikan Juhwan kepadanya. Merasa malu pada dirinya sendiri, Lizzie menundukkan kepalanya.
Kertas itu menyatakan bahwa jatah makan dua kali sehari akan disediakan.
"Um... apa saya boleh membawa anak saya? Saya pernah dengar dulu itu diperbolehkan."
Pegawai guild itu menatap langit-langit seolah kehabisan kata-kata. Sepertinya Lizzie mengatakan sesuatu yang bodoh. Namun pegawai itu segera menundukkan kepalanya dan menjawab.
"Berapa umur anak itu?"
"Lima tahun."
"Boleh. Tapi hanya jatah makan untuk satu orang yang disediakan. Tidak akan ada makanan untuk anak itu."
Ia cukup makan sedikit lebih sedikit. Karavan itu juga akan didampingi oleh toko-toko yang menjual makanan. Jika ada yang kurang untuk sang anak, ia bisa melengkapinya di sana.
Lizzie menandatangani kertas itu dan menyerahkannya kepada pegawai guild. Pegawai guild itu menghela napas, terlihat agak lelah. Tetapi Lizzie tidak memikirkan dalam-dalam kata-kata atau tindakan pegawai itu. Ia terlalu bahagia karena ini artinya ia bisa tetap berada di dekat suaminya.
Ketika ia meninggalkan guild, Yeonhwa sedang mengawasi dari jarak yang tidak jauh dari kereta. Sepertinya kuda itu terus berjaga-jaga sejak tadi untuk memastikan tak terjadi apa-apa.
Setelah itu, Lizzie berjalan-jalan keliling jalanan sebentar bersama Dorothy, yang sudah menunggu dengan tenang di dalam kereta. Ia merasa bersalah karena mereka makan tanpa suaminya, tetapi mereka tetap menikmati makanan di restoran yang enak. Mereka melihat-lihat beberapa toko dan membeli tas kecil untuk Dorothy serta topi untuk Juhwan.
Sinar matahari sangat terik di siang hari. Topi itu akan berguna bagi Juhwan saat ia berbaris.
Dengan hati gembira, ia kembali ke kastil dan mengirim kabar kepada Juhwan bahwa mereka telah kembali dengan selamat.
Sampai Juhwan kembali ke kamar tamu malam itu dengan ekspresi marah, Lizzie menghabiskan waktunya dengan gembira.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments