Bab 170: Ayah, Dorothy Akan Menyelamatkanmu
Ada prajurit sekutu di sana. Prajurit-prajurit yang sudah mati, namun masih bergerak.
"Kami dikepung. Oleh sekutu kami sendiri." Selain tentara sekutu, ada juga orang-orang yang tampak seperti petani biasa. Mereka mungkin penduduk desa dari negara musuh. Jumlah mereka tidak begitu banyak.
Tapi di antara prajurit-prajurit yang telah menjadi undead, ada orang-orang yang sangat dekat dengan mereka—kawan-kawan yang telah berbagi hidup dan mati bersama mereka untuk waktu yang lama. Saat tentara ditempatkan di suatu tempat selama bertahun-tahun, secara alami mereka akan saling mengenal wajah satu sama lain. Di antara mereka, pasti ada orang-orang yang pernah saling menyelamatkan nyawa satu sama lain. Sebagian besar prajurit yang ditempatkan di perbatasan adalah kawan seseorang seperti itu.
Mereka terguncang. Mereka tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja. Mereka tidak sanggup mengangkat senjata melawan kawan-kawan yang dulu pernah menyelamatkan hidup mereka. Emosi-emosi itu saling bertautan dan menunda respons mereka.
"Di mana-mana kacau." Air mata mengalir di wajah sang ajudan.
"Para prajurit yang sudah mati itu menyerbu kami. Mereka tampak persis seperti boneka yang digantung dengan tali. Kami… kami tidak tahu harus berbuat apa. Pada akhirnya, semua orang mengangkat senjata mereka dan melawan mereka, tapi..."
Mereka jelas-jelas orang yang sudah mati. Namun, ketika mereka tertusuk tombak, mereka tampak merasakan sakit. Tubuh mereka membisu, tapi rasa sakit itu terlihat jelas di mata mereka. Tidak ada suara yang keluar dari mereka, tapi mata mereka seakan menjerit.
Sementara prajurit sekutu ragu-ragu melihat pemandangan itu, mayat-mayat bergerak itu mencengkeram kuda-kuda mereka.
"Kukira mereka juga menangis. Rasanya seperti... mereka tidak ingin melakukannya, tapi mereka tetap menyerang kami." Ajudan itu memeluk Darren dan membenamkan wajahnya di dada Darren. Bahu ajudan itu bergetar pelan.
Melalui air mata yang jatuh setetes demi setetes, ajudan itu berkata, "...Aku yang pertama tertangkap. Prajurit-prajurit mati itu menyeretku turun dari kudaku. Kakakku sebenarnya bisa lolos, tapi... dia mencoba menyelamatkanku... Gara-gara aku. Gara-gara aku... Seharusnya dia membuangku saja dan lari..."
Juhwan tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia tetap diam sejenak sebelum membuka mulutnya. "Apakah pesan sudah dikirimkan ke Margrave?" "Sudah. Kami mengirim utusan sekali segera setelah kami tiba di perbatasan, dan sekali lagi setelah kami tiba di tempat ini."
"...Aku tidak tahu apakah ucapanku akan memberi ketenangan, tapi semua yang kita alami pada akhirnya akan membantu kita di masa depan. Kejadian ini pastinya akan membantu Anda, tuan, dan Margrave suatu hari nanti." "...Terima kasih." Ajudan itu menjawab pelan dan menundukkan kepalanya.
Juhwan ragu sejenak sebelum berbicara. "Aku ingin mengunjungi daerah perbatasan itu sendiri."
Ajudan itu tiba-tiba mengangkat wajahnya. "Apakah Anda tahu sesuatu?"
Orang-orang ini mungkin tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa pahlawan yang bertanggung jawab. Pahlawan adalah orang-orang yang diutus oleh Dewa. Mereka tidak akan pernah melakukan tindakan keji seperti itu. Juhwan menghela napas kecil.
"Monster undead yang sebelumnya, dan kini insiden ini... Kurasa pahlawan Tairon mungkin sumber dari semua ini. Aku ingin pergi ke sana dan memastikannya."
Ajudan itu melebarkan matanya, lalu sedikit menggelengkan kepalanya. "Itu... kurasa itu tidak benar. Tuan Juhwan, Anda berkata seperti itu karena Anda belum melihat mereka. Orang-orang itu—mereka yang menjadi mayat—apa yang terjadi pada mereka bukanlah perbuatan Dewa. Itu lebih dekat pada kutukan. Jika ada kekuatan besar yang terlibat, maka itu pasti perbuatan dewa jahat."
Tidak ada yang bisa Juhwan katakan sebagai tanggapan. Karena kenyataannya, itu memang kekuatan dewa jahat. Justru karena itulah Juhwan harus memastikannya sendiri.
"Tapi terima kasih. Kami tak sanggup membunuh mereka. Berapa kali pun kami menebas mereka, mereka tidak mau tumbang. Kalau kaki mereka terpotong, mereka merangkak menggunakan lengan mereka." Mungkin karena teringat apa yang telah terjadi, wajah ajudan itu memucat. "Kalau Tuan Juhwan pergi ke sana, itu benar-benar akan sangat membantu."
Ajudan itu segera memanggil prajurit di luar. Melihat ajudan memerintahkan mereka untuk mengumpulkan prajurit untuk menemaninya ke perbatasan, Juhwan menghentikannya. "Aku tidak butuh pasukan. Cukup peta, atau satu prajurit untuk memanduku."
Ajudan itu terkejut. "Tidak peduli seberapa kuat Anda sebagai penyihir, Tuan Juhwan, Anda tak bisa menghadapi mereka sendirian. Makhluk-makhluk itu adalah..." "Tidak apa-apa."
Ia tidak bisa sepenuhnya yakin, tapi undead biasanya mengikuti kekuatan dan kemampuan yang mereka miliki saat masih hidup. Selain fakta bahwa mereka tidak bisa mati, mereka jarang memiliki kekuatan yang lebih besar daripada saat mereka masih hidup. Jika mereka adalah manusia biasa, maka walau jumlah mereka banyak, mereka tidak terlalu menakutkan. Ia seharusnya bisa menangani mereka.
Tapi... Prajurit yang tak bisa disembuhkan sebelumnya membebani pikirannya. Jika para pahlawan itu adalah pecahan dari dewa jahat, maka ini mungkin bukan ulah necromancer (ahli sihir kematian) biasa. Ada kemungkinan bahwa ada kekuatan aneh yang terlibat.
"Ini mungkin akan sedikit lebih berbahaya dari biasanya." Ditambah lagi, kekuatan Yeonhwa tidak bisa digunakan melawan undead. Racun Yeonhwa hanya manjur pada makhluk hidup. Ia telah mempelajari hal itu sebelumnya, saat mereka menangkap monster undead muda itu. Oz bisa menghadapi undead karena ia menggerakkan benda fisik, tapi ia masih kecil. Dibandingkan dengan Yeonhwa, kekuatannya lemah.
Seperti dugaan... aku sedikit tidak tenang jika membawa mereka bersamaku. Juhwan memikirkan wajah keluarganya dan menatap ajudan itu.
"Aku punya satu permintaan. Saat aku pergi ke perbatasan, bisakah kau melindungi keluargaku di kota ini?" "Tentu saja." Setelah mendengar jawaban tegas ajudan itu, Juhwan meninggalkan ruangan.
Kali ini, ia akan pergi sendirian. Kota benteng itu sendiri telah dibangun dengan sangat kokoh, jadi ada sedikit kekhawatiran tentang invasi musuh. Bahkan jika musuh menyerang atau terjadi situasi tak terduga, Yeonhwa bisa merasakan niat jahat dari orang-orang di dekatnya, jadi dia bisa menangani sebagian besar masalah dengan lancar. Berbeda dengan manusia, yang harus memperhatikan berbagai hal, Yeonhwa dan Oz hanya akan fokus pada keselamatan Lizzie dan Dorothy.
Mereka akan baik-baik saja. Bahkan, itu akan jauh lebih aman daripada menyerahkannya kepada manusia.
Apakah ini pertama kalinya? Ini adalah pertama kalinya ia akan berpisah dari keluarganya. "Kupikir aku tidak akan pernah menciptakan situasi seperti ini."
Keluarganya selalu menjadi yang utama. Itu tak berubah bahkan sekarang.
Tapi justru karena itulah aku harus pergi.
Saat ia berpikir bahwa para pahlawan itu hanyalah orang-orang berkekuatan tak biasa, ia sanggup mengabaikan mereka. Namun, jika mereka adalah sisa-sisa dewa jahat, ia tak bisa mengabaikan mereka. Masa lalu yang ia saksikan di hutan perlahan-lahan diputar ulang dalam benaknya.
Niat jahat yang bangkit dari darah yang ditumpahkan dewa jahat. Darah itu hanyalah sekadar darah yang ditumpahkan oleh sang dewa jahat. Darah itu tak punya kehendak sendiri, tak ada hubungannya sama sekali dengan pikiran dewa jahat. Namun tetap saja, bahkan hutan yang luas itu telah terinfeksi oleh darah dewa jahat dalam sekejap dan ternoda dengan kebencian.
Seperti dugaan, aku tidak bisa membiarkannya.
Jika tubuh dewa jahat itu datang ke dunia ini, maka ini bukan sekadar masalah bagi negara ini, atau bahkan Tairon saja. Hal ini mungkin akan memengaruhi seluruh dunia. Setiap langkah yang mereka ambil, dan bahkan pada saat mereka mati, kekuatan itu akan terus menyebar ke segala penjuru.
Aku harus menghentikannya.
Juhwan harus memastikan sendiri kekuatan macam apa yang dimiliki para pahlawan itu dan mengambil keputusannya. Kekuatan pahlawan perempuan itu sepertinya belum mekar sepenuhnya, namun jika ia adalah sisa dari dewa jahat, maka tak butuh waktu lama lagi. Kekuatan itu pasti akan mekar dalam sekejap. Mungkin ini sudah terlambat.
Sekarang aku paham. Juhwan menghela napas pelan.
Ya, sekarang ia tahu. Kekuatan pahlawan perempuan itu benar-benar milik sang dewa jahat. Pahlawan pria itu pun mungkin sama.
Begitu kekuatan mereka tersebar ke seluruh penjuru dunia, semuanya akan terlambat. Ia harus membereskan mereka sebelum hal itu terjadi. Sebelum menyebar ke seluruh dunia.
Tiba-tiba, ia teringat saat dewa jahat meninggalkan istrinya dan pergi. Bila hal semacam itu terjadi lagi... Jantungnya mencelos diselimuti firasat buruk.
Namun, mungkin akan terlalu berbahaya jika membawa mereka ikut bersamanya. Tak ada yang tahu situasi apa yang mungkin terjadi jika ia bertemu dengan pahlawan pria itu.
Juhwan meninggalkan gedung dan melangkah ke luar. Rencananya ia akan ke tempat kereta kuda, membereskan barang-barangnya dengan cepat, dan lalu bicara pada Lizzie. Tapi ketika ia benar-benar sampai di depan kereta, Juhwan menghentikan langkahnya.
Berdiri di sana adalah Lizzie dan Dorothy, keduanya sudah siap sedia untuk bepergian. Yeonhwa sudah diikat ke baju zirah kereta. Entah mengapa, Oz dan Kutu Santa membawa buntalan mirip barang bawaan. Oz menggendong buntalannya di punggung, dan Kutu Santa yang bersayap membawanya di depan.
"......"
Saat Juhwan berhenti, Lizzie melangkah maju. "Kau berencana meninggalkan kami di sini, kan? Tapi tidak. Aku akan ikut juga. Dorothy juga. Kita semua akan pergi bersama-sama. Kau sama sekali tidak boleh meninggalkan kami." "Bagaimana kau..."
Juhwan bergumam pelan, dan Kutu Santa membuang mukanya sambil mengepakkan sayap. "Um, maaf, pang. Tapi dasarnya kami ini penyelidik, kau tahu, pang. Kalau suasananya terasa aneh, insting profesional kami mulai bangkit, pang... Jadi, um. Aku diam-diam mengawasi, pang." Kutu Santa memutar matanya ke sana-sini, tidak sanggup menatap Juhwan. "Meskipun aku tahu, aku tidak berniat memberitahu siapa-siapa, pang. Tapi entah kenapa, waktu Nona Lizzie melihatku, hatiku berdegup, pang. Aku ingin melindunginya, dan aku ingin memberitahunya, pang. Rasanya seperti itu, pang. Aku juga tidak tahu alasannya, pang."
Mungkin karena Lizzie mirip dengan istri dewa jahat. Karena tubuh Kutu Santa terbuat dari mana Santa, ia pasti terpengaruh.
"Waktu aku tinggal di kampung halamanku, kebanyakan pria yang pergi ke medan tempur tak pernah kembali. Ada banyak wanita yang menunggu tanpa tahu apakah suami mereka masih hidup atau sudah mati." Lizzie menautkan tangannya erat-erat dan menatap Juhwan dengan ekspresi tegang. "Diberitahu bahwa suamimu mati sebetulnya adalah hal yang beruntung. Setidaknya setelah itu kau bisa berduka dengan benar, atau menikah dengan pria lain dan membesarkan anak-anakmu."
Daripada cinta atau kasih sayang, kelangsungan hiduplah yang utama. Di era ini, sangat sulit bagi seorang wanita untuk bertahan hidup sembari membesarkan anak seorang diri, jadi apa yang dikatakannya mungkin terasa wajar demi bertahan hidup.
"Seorang wanita yang menunggu tanpa tahu apakah suaminya hidup atau mati terus menunggu, tanpa tahu apakah dia harus menunggu setahun atau sepuluh tahun. Dan kadang-kadang seorang pria memang kembali hidup-hidup, tapi itu sungguh langka." Lizzie mencengkeram tangannya begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku benci itu. Menunggu tanpa tahu apakah kau masih hidup atau sudah mati—aku benci bahkan walau hanya sedetik. Itu bukanlah hidup, biarpun aku hidup. Entah aku hidup atau mati, aku ingin bersamamu. Kalau kau mati, maka aku..."
Suara Lizzie bergetar karena gugup. Untuk seseorang yang pemalu seperti dirinya yang mau menentang keinginan suaminya dan mengucapkan hal ini, seberapa banyak keberanian yang harus ia kumpulkan?
Juhwan melangkah maju dan menarik Lizzie ke dalam pelukannya. "Baiklah. Maafkan aku, Lizzie. Aku salah. Kupikir perjalanan ini akan berbahaya. Tapi kau benar. Hati seseorang yang tertinggal untuk menunggu itu sungguh menyakitkan." "...Iya." Merasa lega, Lizzie menghembuskan napas pelan dalam pelukannya.
Dorothy juga tampak tegang karena suasana yang tidak biasa. Gadis cilik itu menghembuskan napas panjang dan menyempil di antara Juhwan dan Lizzie. "Ayah, kalau nanti berbahaya, Dorothy akan menyelamatkanmu." "...Terima kasih." "Yeah! Percaya saja pada Dorothy!"
Juhwan menatap buntalan yang dibawa Oz dan Kutu Santa lalu tersenyum tipis. "Tapi apa itu?" "Itu... tekad kami. Untuk menunjukkan bahwa biarpun kau mencoba meninggalkan kami, kami pasti akan mengikutimu." "Haha."
Saat Juhwan tertawa, wajah Lizzie memerah. Sekarang setelah dipikir-pikir, sepertinya dia merasa sedikit konyol.
Oz menarik kencang rambut Juhwan dan memanjat ke atas kepala Lizzie. Seakan ingin menekankan buntalan yang diikat di dadanya, ia mendorongnya tepat di depan mata Juhwan. Mungkin buntalan itu bukan mewakili perasaan Lizzie, melainkan bentuk pemberontakan Oz. Sepertinya Oz tahu Juhwan telah memutuskan untuk meninggalkan semuanya karena merasa Oz tidak akan berguna.
Memikirkan hal itu, Juhwan menoleh pada Yeonhwa dan menyadari bahwa ia pun tampak agak lesu. Dorothy memiringkan kepalanya dan berkata, "Ayah, kata Yeonhwa dia sedih. Katanya dia tidak berguna. Dan... um... kata Oz dia sudah dewasa, tapi Ayah menyebutnya kecil, jadi dia marah. Tapi menurut Dorothy, Oz masih bayi."
"Ayah banyak membuat kesalahan hari ini." Ketika Juhwan membelai kepala Dorothy, anak itu tiba-tiba mengangkat wajahnya dan membelalakkan matanya. "Ayah bikin salah juga? Ada hal yang Ayah tidak tahu? Hah! Ayah juga bisa kacau?"
Dorothy tampak kaget. Kalau dipikir-pikir, sewaktu Juhwan masih kecil, ia juga berpikir ayahnya kuat seperti robot yang terbuat dari besi dan baja. Ada masa-masa ketika ia berpikir tak ada satupun yang tak bisa dilakukan oleh ayahnya di dunia ini. Wajar saja ia menganggap apapun yang dikatakan ayahnya adalah kebenaran, dan tidak ada sesuatu yang tidak ayahnya ketahui.
Apakah semua anak-anak itu sama?
Ia adalah seseorang yang membuat banyak kesalahan dan memiliki banyak kekurangan. Ia bertanya-tanya sedikit bagaimana Dorothy akan memandangnya kelak. Setidaknya, kuharap aku bisa menjadi ayah yang pertama kali ia ingat saat keadaan sedang sulit, dan seseorang yang bisa ia ajak bicara tentang apa saja.
Sedari tadi, Kutu Santa berceloteh berisik di samping mereka. "Kalau aku, pang, ini baru pertama kalinya aku bawa-bawa buntalan begini, pang. Luar biasa, pang. Hangat juga, pang. Di dalam buntalan ini ada topi, pang. Aku paling suka topi merah, tapi warna lain juga lumayan, pang. Tapi kupikir topiku sudah cukup sekarang, pang. Kalau bisa, aku mau alkohol, pang. Alkohol itu bagus, asal kau tahu, pang. Waktu kau meminumnya, kau bakal mabuk dan merasa enak lalu melayang-layang, pang. Rasanya kau bisa terbang tanpa sayap sekalipun, pang. Ah, tapi kita mau ke mana, pang? Ada apa di perbatasan, pang? Aku belum dengar bagian itu, pang."
Napasnya sungguh luar biasa. Ia berbicara tanpa jeda. Mungkin karena tubuhnya lebih berat dari biasanya, mengepakkan sayap jadi sedikit melelahkan. Kutu Santa terengah-engah sedikit.
Juhwan mengulurkan tangannya dan membiarkan Kutu Santa bertengger di lengannya. Lizzie juga tampak penasaran mengapa mereka harus pergi. Ia menatap Juhwan dengan hening.
"Kudengar undead muncul di perbatasan. Katanya orang mati bergerak. Aku mau memastikannya." Lizzie menarik napas kaget. Ia terlihat terkejut. Namun, ia menyembunyikannya dan mengangguk. "Aku mengerti. Aku akan menyiapkan diriku dengan benar."
Juhwan bertanya-tanya apa yang ingin dipersiapkan Lizzie. Apakah ia bermaksud menyiapkan mentalnya?
Kutu Santa, yang sedang bersantai di lengan Juhwan, tiba-tiba melompat dan berteriak. "Ah! Soal itu, pang. Kutu Santa ini sepertinya tahu apa itu, pang. Mungkinkah itu zombie, pang? Aku cuma pernah dengar ceritanya saja, pang. Di dunia lain, bukan yang ini—tempat yang bernama Bumi, asal kau tahu, pang—ada makhluk bernama zombie, pang. Mereka mengerikan, pang. Mayat memakan orang hidup, pang. Kudengar jumlahnya banyak, pang. Dan mereka tidak cuma muncul sekali, pang. Mereka muncul berulang-ulang, dan Bumi sudah hancur beberapa kali, pang."
Tubuh Lizzie dan Dorothy menjadi kaku. "Apa itu benar? Makhluk seperti itu sungguhan ada? Ayah! Kita harus bagaimana? Apa kita semua akan dimakan?" Dorothy gemetar hebat.
Juhwan tersenyum kecut dan menggendong anak itu. "Tidak, Dorothy. Yang dibicarakan Kutu Santa itu mirip seperti sandiwara."
Dorothy menghembuskan napas, terlihat sedikit lega. Teringat pada prajurit yang telah ia sembuhkan tadi, Juhwan menelan kembali kata-kata di mulutnya.
Sesuatu yang tadinya sekadar film di Bumi mungkin saja menjadi kenyataan di tempat ini. Begitu aku bertemu pahlawan itu, kami mungkin akan menjadi musuh. Hatinya terasa sedikit berat.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments