Bab 152: Pria Hujan
Setelah menghabiskan malam di dekat hutan tempat desa makam itu berada, mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalan yang gersang.
Tempat itu benar-benar terasa berat. Sekarang setelah mereka pergi cukup jauh, Juhwan bisa merasakannya dengan jelas. Udara di hutan dekat desa makam itu hampir tidak bergerak sama sekali. Rasanya seperti ia sedang mendorong tubuhnya melewati spons tak kasatmata. Memang tidak sulit untuk bernapas, tetapi dadanya terasa sesak dan terbebani.
Namun, saat mereka bergerak menjauh dari hutan, atmosfer yang menekan itu lenyap sepenuhnya. Rasanya seperti akhirnya merangkak naik ke daratan kering setelah bersusah payah berjuang melewati air.
Lizzie dan Dorothy tampaknya merasakan hal yang sama. Ekspresi wajah mereka terlihat jauh lebih lega.
Namun, ada satu masalah.
"Ayah, Ayah terlalu basah."
Dorothy menatap Juhwan dengan matanya yang bulat. Kemudian ia menggeliat dan menggeser pantatnya untuk duduk lebih dekat ke arah Lizzie.
"Iya. Maaf ya."
Juhwan menghela napas saat melihat jarak di antara mereka di kursi kusir. Jaraknya terasa seperti sejuta tahun cahaya.
Sebelum mereka meninggalkan hutan, Dorothy selalu menempel erat di sisinya. Kini, sedikit demi sedikit, jarak di antara mereka semakin menjauh.
Penyebabnya adalah kelembapan yang terus berkumpul di sekitar tubuh Juhwan.
Rasa lembap yang mengikutinya keluar dari hutan masih menempel pada tubuhnya. Rasanya enggan menghilang. Seolah-olah seluruh tubuhnya terbungkus kabut tebal yang penuh dengan air.
"Haaah..."
Juhwan menghela napas panjang.
Pakaiannya telah menyerap kelembapan dan menjadi berat serta basah. Terkadang tetesan air bahkan terbentuk di kulitnya. Ini sangat merepotkan. Pakaian dan kulitnya basah, dan rasanya hampir seperti ia sedang memancarkan air dari seluruh pori-pori tubuhnya.
Kalau begini terus, aku bakal mulai ditumbuhi jamur. Lama-lama aku bisa gila. Yang paling parah adalah Dorothy menolak untuk berada di dekatnya. Anak itu bilang Ayahnya terlalu basah dan terus saja menempel pada Lizzie.
Lizzie pun begitu. Ia memang tidak mengatakannya secara langsung, tetapi sesekali, ia tampak berusaha menjaga jarak darinya.
Haaah. Keluhan kembali keluar dari mulut Juhwan.
Aku harus mencari cara mengatasi ini. Namun, ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sihir biasa sangatlah mudah. Sihir terjadi hanya dengan memikirkannya saja. Namun, kelembapan ini bukanlah sesuatu yang ia ciptakan melalui pikiran atau niat. Ini juga bukan muncul karena ia membutuhkannya. Ia tidak yakin apakah ini cara yang tepat untuk menjelaskannya, tetapi hal ini sekadar mengikutinya ke mana-mana.
Parahnya lagi, jangkauannya secara bertahap semakin meluas.
Awalnya, kelembapan itu hanya menempel di tubuh Juhwan. Sekarang, kelembapan itu telah membengkak di sekelilingnya seperti baju astronot yang terlalu mengembang. Jika dibiarkan, lama-lama kelembapan ini mungkin akan menutupi seluruh kereta kuda.
Masalah lain selain rasa lembap yang membungkus tubuhnya adalah saat ia menoleh dan melihat ke belakang. Tanah di sepanjang jalur yang dilalui kereta itu basah kuyup, seolah-olah ada sungai kecil yang baru saja mengalir di atasnya. Jalur air itu terlihat seperti gaun panjang yang diseret oleh seorang pengantin wanita di pernikahannya. Namun dalam kasus ini, yang diseret bukanlah kain, melainkan air.
Sejak meninggalkan desa makam, keadaannya terus seperti ini. Ke mana pun mereka pergi, selalu ada jejak basah panjang yang tertinggal. Jika Si Peniup Seruling memimpin tikus-tikus, Juhwan merasa seolah dirinya sedang memimpin air.
"Ini benar-benar konyol," gumam Juhwan sambil menghela napas dalam-dalam, membuat Lizzie terkikik.
"Kamu memang terlihat seperti selalu diikuti oleh awan hujan."
Mendengar ucapan Lizzie, mata Dorothy mulai berbinar.
"Ayah, itu keren banget! Pasti seru kalau punya awan hujan sendiri. Dorothy juga mau punya awan hujan Dorothy!"
Tapi tetap saja, tidak ada satu pun dari mereka yang mau berada di dekatnya. Ini sama sekali tidak keren.
Merasa sedikit merajuk, Juhwan mencondongkan tubuh bagian atasnya ke samping di kursi kusir. Saat ia dengan pelan menyandarkan kepalanya di pangkuan Dorothy, anak itu memekik kaget, lalu meledak dalam tawa.
Juhwan menengadahkan kepalanya dan menatap wajah Lizzie dari bawah. Wanita itu juga sedang tertawa.
"Ayah! Dorothy sekarang jadi kayak tikus kecebur air!"
Entah kenapa, mereka semua jadi basah kuyup seolah tiba-tiba diguyur hujan lebat.
Serius, kelembapan ini terlalu aneh. Ia tidak bisa terus hidup seperti ini, jadi entah bagaimana, ia harus segera belajar mengendalikannya. Sayangnya, ia sama sekali tidak tahu harus mulai dari mana.
Mereka menghentikan kereta di atas tanah kering nan gersang, lalu Lizzie dan Dorothy mengganti pakaian mereka.
"Juhwan, kamu bakal masuk angin kalau diam saja seperti itu."
Lizzie mendesaknya untuk ikut berganti pakaian, tetapi Juhwan menolak. Kalaupun ia ganti baju, ia akan basah kuyup lagi dalam waktu singkat. Jika ia terus basah sepanjang hari dan mengganti bajunya setiap kali hal itu terjadi, pakaian kering mereka akan habis tak tersisa.
Lagipula, dunia ini tidak punya mesin cuci. Semuanya harus dicuci dengan tangan.
Lizzie tidak suka menyerahkan pekerjaannya pada Juhwan, jadi sulit baginya untuk membantu. Paling banter, ia hanya bisa membawakan ember air untuk Lizzie atau membantu memeras cucian yang basah.
Jika ia bisa menggunakan sihir api untuk menarik hawa panasnya saja, itu akan sangat praktis. Sayangnya, sejauh ini ia belum bisa mewujudkan hal itu tanpa memunculkan api sungguhan. Jika ia salah langkah, ia bisa-bisa berlarian ke sana kemari dengan tubuh terbakar.
Di luar kereta, Dorothy sedang berlarian mondar-mandir dengan sibuk. Sepertinya ia sedang memunguti dahan-dahan yang bisa dijadikan kayu bakar. Oz si kelinci mengikuti di sampingnya, mematahkan dahan-dahan yang lebih panjang menjadi potongan-potongan kecil.
Kalau dipikir-pikir, ini sudah waktunya makan.
"Dia sudah mulai mengumpulkan kayu bakar sendiri sekarang."
Anak itu sepertinya sudah banyak berkembang. Saat Juhwan menggumamkan hal itu dengan perasaan terharu, Lizzie tersenyum lembut memandangi Dorothy.
"Dia benar-benar sudah banyak berubah. Dulu saat dia pertama kali keluar bersamaku, dia hampir tidak pernah bicara."
Mungkin Lizzie teringat akan masa lalunya. Sesaat, ekspresinya menjadi sendu.
Juhwan berniat merangkul bahu Lizzie, lalu tersadar bahwa dirinya kini adalah pria hujan, dan ia pun mengurungkan niatnya.
Haaah. Ia benar-benar tidak bisa terus begini. Ia harus segera mencari jalan keluarnya. Ia tak bisa hidup dengan kondisi seperti ini.
Sambil makan, Juhwan memeriksa peta dan dokumen-dokumen yang telah disiapkan oleh Si Cerewet untuknya. Saat Juhwan disibukkan dengan undangan Margrave, Si Cerewet dengan sigap menyelidiki beberapa wilayah yang banyak terdapat monster.
Karena apa pun yang disentuh Juhwan akan menjadi basah, Lizzielah yang menggelar kertas-kertas tersebut di sebelahnya.
"Ayah, Dorothy juga bantu."
Dorothy membawakan beberapa kerikil kecil dan meletakkannya di ujung-ujung kertas. Sepertinya ia berusaha menjaga agar kertas-kertas itu tidak tertiup angin.
Saat Juhwan mencoba mengelus kepalanya untuk berterima kasih, Dorothy langsung lari menghindar.
Dengan perasaan sedikit murung, Juhwan kembali memusatkan pandangannya pada dokumen-dokumen itu.
Peta itu sendiri kemungkinan digambar oleh orang lain, tetapi catatan terpisahnya terlihat seperti tulisan tangan Si Cerewet. Huruf-hurufnya yang tersusun rapi tidak terlihat seperti tulisan rakyat jelata pada umumnya.
Si Cerewet membuat tanda-tanda kecil pada peta, lalu menuliskan penjelasan terpisah untuk masing-masing tanda. Ia mendeskripsikan desa mana yang tertimpa insiden seperti apa akibat serangan monster, atau monster jenis apa yang dikabarkan terlihat di suatu tempat.
Dan untuk mempermudah pencarian beberapa desa, ia telah membuat gambar ilustrasi terpisah di lembar penjelasannya.
Lizzie mengatur kecepatan membalik halaman dengan mengikuti arah pandangan Juhwan, lalu tiba-tiba tertawa.
"Gambar ini jelek sekali."
Ia mungkin menggambarnya untuk mempermudah penjelasan dengan caranya sendiri, tetapi hasilnya terlihat seperti lukisan abstrak Picasso.
"Aku tidak bisa menebak ini gambar apa. Apakah ini pohon atau gunung?" "Mungkin ini batu?" "Jangan-jangan ini kolam."
Dorothy memajukan kepalanya untuk melihat kertas itu, lalu menggeleng.
"Bukan, Ayah. Ini monster. Kayak orang-orang yang kita lihat kemarin."
Juhwan ragu apakah tebakan itu benar, tetapi tergantung dari sudut mana melihatnya, gambar itu memang sedikit terlihat seperti monster. Kalaupun Dorothy menggambarnya menggunakan kakinya, hasilnya mungkin masih lebih bagus dari ini.
Si Cerewet sepertinya sadar bahwa ia payah dalam menggambar. Di sebelah gambar tersebut, ia menambahkan sedikit penjelasan tertulis tentang maksud gambar tersebut.
Mending dia tidak usah menggambar apa-apa sejak awal. Rupanya, sifat cerewetnya masih terbawa bahkan saat ia menulis. Ia memperpanjang penjelasannya secara berlebihan, dan kata-katanya terus melenceng membahas hal-hal acak yang tak ada habisnya.
Sangat cocok dengan kepribadiannya, pikir Juhwan.
Juhwan dan Lizzie tertawa melihat hasil karya Si Cerewet untuk beberapa saat, lalu menyelesaikan makan mereka dan mulai melanjutkan perjalanan.
Saat Juhwan duduk di kursi kusir dan memegang tali kekang, Lizzie duduk di sebelahnya sambil memeriksa dokumen-dokumen, memberikan arah. Ia memberi tahu Juhwan bahwa sepertinya mereka harus pergi ke arah sini, atau mungkin ke arah sana.
Kini, Lizzie sudah bisa membaca sebagian besar huruf-huruf itu. Semua ini berkat usahanya yang selalu berlatih setiap ada waktu luang setiap harinya.
Mungkin ia merasa bangga dengan hal itu, karena meskipun sempat tersendat di tengah-tengah, wajahnya sedikit terangkat saat ia membacakan tulisan di kertas itu dengan lantang.
Apakah berlebihan jika Juhwan menganggap seolah-olah Lizzie sedang berkata, Lihatlah aku. Aku adalah wanita yang hebat sekarang? Menurut Juhwan, itu sangat lucu.
Di sebelah Lizzie, Dorothy sedang menunggu gilirannya dengan antusias. Setelah giliran Ibunya selesai, ia bilang bahwa dirinyalah yang akan menjadi pemandu jalan selanjutnya.
Melihat mereka berdua, Juhwan merasa beban berat yang ia rasakan di desa makam, serta kesedihan dari mimpi malam itu, perlahan terkubur jauh di dasar hatinya.
Ah. Ia merasa bahagia.
Akankah ada hari lain yang membahagiakan seperti ini?
Merasa hampir menangis karena terharu, ia menatap ke langit. Kelembapan yang berkumpul di sekitarnya berubah menjadi air dan mengalir deras ke bawah.
Ah, sungguh... Ia harus segera menghilangkan ini. Ia bisa gila rasanya.
Sebagian besar penduduk di desa kecil yang hanya dihuni tiga puluh atau empat puluh orang itu punya hubungan keluarga satu sama lain, baik keluarga dekat maupun jauh.
Kepala keluarga di rumah sebelah adalah paman seseorang. Nenek di seberang jalan adalah bibi dari ayah seseorang. Keluarga di ujung desa yang hubungannya buruk dengan semua orang pun masih punya ikatan melalui mertua sepupu.
Terkadang mereka bertengkar, bahkan sampai baku hantam. Terkadang mereka menolak berbicara satu sama lain selama bertahun-tahun. Namun, ketika masa sulit datang, mereka saling membantu.
Di desa terpencil yang hampir tidak pernah dikunjungi orang luar, mustahil bagi mereka untuk hidup sendirian. Untuk bertahan hidup, mereka harus melipat dalam-dalam semua ketidakadilan dan rasa benci di hati mereka, dan bekerja sama dengan warga desa lainnya.
Gadis itu meletakkan handuk lembap di dahi ayahnya yang bersimbah peluh.
Ayahnya, yang menjadi sakit-sakitan setelah kakinya terluka, meraih tangan gadis itu dengan raut penuh penyesalan.
"Hati-hati." "Jangan khawatir, Ayah. Semuanya berangkat sama-sama kok."
Gadis itu memberikan senyuman kecil, lalu memanggul pikulan airnya. Ember air yang menggantung di kedua ujung tiang kayu panjang itu bergoyang pelan.
Tempat ini berjarak agak jauh dari hutan. Di sekelilingnya hanyalah tanah kering dan tandus. Sumur yang dulunya digunakan desa itu telah benar-benar mengering beberapa tahun yang lalu.
Penduduk desa harus berjalan tiga atau empat jam menuju sungai untuk mengambil air. Karena binatang buas mungkin saja muncul, mereka selalu pergi secara berkelompok.
Meskipun begitu, alasan mereka tidak bisa meninggalkan desa ini adalah karena sebidang tanah di ujung desa. Ukurannya kecil, tetapi selama disirami sedikit air, gandum dan jelai bisa tumbuh subur di sana.
Berbeda dengan lahan pertanian lainnya, tanah ini tidak perlu dibiarkan kosong selama setahun setelah panen. Asalkan musimnya tepat, apa pun yang mereka tanam akan tumbuh dengan lebat.
Hasil panennya memang hanya pas-pasan bagi penduduk desa untuk bertahan hidup, tetapi jika mereka menambah persediaan makanan mereka dengan berburu hewan kecil seperti kelinci dan tikus yang terkadang muncul, mereka setidaknya bisa terhindar dari kelaparan.
Mereka mengumpulkan ranting-ranting dari pinggiran hutan sebagai kayu bakar, dan satu atau dua kali setahun, saat pedagang keliling lewat, mereka menjual kulit kelinci yang telah mereka kumpulkan. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan barang-barang seperti garam, panci, dan sekop.
Asalkan mereka tidak kurang beruntung hingga jatuh sakit seperti ibu gadis itu.
Ibunya telah menghabiskan masa akhir musim gugur dua tahun lalu dengan terus batuk-batuk. Kemudian suatu hari, ia tertidur dan tidak pernah bangun lagi.
Bagaimana kalau Ayah juga bernasib sama? Gadis itu menoleh ke arah rumahnya beberapa kali dengan hati yang cemas. Kemudian, setelah yang lain mendesaknya untuk bergegas, ia akhirnya mulai berjalan.
Orang-orang yang pergi bersamanya untuk mengambil air biasanya selalu orang yang sama. Kali ini pun, dua wanita paruh baya dan seorang pria dewasa berangkat bersamanya, seperti biasa.
Konon, jalan menuju sungai ini dulunya adalah sebuah hutan. Sekarang, hutan itu berada jauh dari desa, padahal aslinya, desa itu sendiri dulunya berada tepat di pinggir hutan.
Namun, ketika kutukan dewa jahat menutupi dunia, tanah di sekitar desa itu kehilangan semua tanaman hijaunya dalam sekejap. Kini, ke arah mana pun mereka memandang, hanya hamparan tanah retak tak berujung yang terlihat.
Saat mereka berjalan tertatih-tatih, panas dan debu mengepul dari tanah yang kering kerontang itu. Debu kering itu menggores tenggorokannya, memicu batuk yang tak tertahankan.
Setelah berhenti sejenak karena terbatuk-batuk begitu keras hingga air mata menggenang di pelupuk matanya, perutnya yang sudah keroncongan terasa semakin kosong. Penduduk desa terus berjalan dalam diam.
Melihat yang lain sudah jauh berjalan di depannya, gadis itu buru-buru membungkuk. Ia masih sedikit terbatuk, tetapi ia memaksanya untuk berhenti.
Ia mengaitkan kembali ember-embernya ke pikulan yang sempat ia letakkan di tanah, melipat kain di bahunya beberapa kali lagi, lalu mengangkat pikulan itu ke bahunya dan berdiri.
Tepat saat ia hendak melangkah, ia mendengar suara dari kejauhan.
Ia menoleh dan menatap ke belakang. Di ujung daratan tandus sana, ia melihat seekor kuda besar yang menarik sebuah kereta.
Tunggu, apakah itu... kuda? Bentuknya aneh. Hewan itu tampak seperti kuda putih, tetapi ia memiliki sebuah tanduk panjang. Gadis yang menghabiskan seumur hidupnya di desa terpencil ini sama sekali tidak tahu makhluk apa itu.
Jangan-jangan itu... monster? Rasa takut seketika mencengkeramnya. Gadis itu segera berbalik menghadap penduduk desa yang berjalan menjauh dan berteriak.
"Permisi! Ada sesuatu yang aneh menuju ke mari!"
Mendengar teriakan gadis itu, pria desa menoleh ke belakang. Matanya, yang awalnya terlihat kesal, tiba-tiba terbelalak lebar. Orang-orang dewasa desa itu bergumam di antara mereka sendiri, lalu bergegas kembali ke arah gadis itu.
"Kau tahu, kan? Kau tidak boleh berbicara sembarangan," kata pria itu sambil terus menatap kereta yang semakin mendekat.
Gadis itu mengangguk. Tanah pertanian itu adalah rahasia desa. Mereka tidak boleh menceritakannya kepada siapa pun. Itu adalah sesuatu yang terus diulang-ulang kepadanya sejak ia masih terlalu kecil untuk bisa mengingatnya.
Namun, satu-satunya orang luar yang datang ke desa ini hanyalah pedagang keliling dan orang-orang dari desa lain yang datang untuk menikah. Hampir tidak ada kesempatan bagi mereka untuk menceritakan hal itu kepada siapa pun.
"Tapi makhluk apa itu?" tanya gadis itu sambil memandangi kuda bertanduk cantik yang semakin mendekat.
Pria itu menatap dalam diam sejenak, lalu berkata, "Itu mungkin makhluk yang disebut unicorn. Aku pernah mendengarnya saat masih muda, tetapi aku tidak tahu bahwa makhluk itu benar-benar ada."
"Cantik sekali," gumam gadis itu dengan suara kecil.
Kereta yang ditarik oleh unicorn cantik itu membawa seorang anak perempuan dengan pakaian yang indah serta seorang wanita yang tak kalah cantiknya. Gadis itu belum pernah melihat siapa pun mengenakan pakaian sebagus itu sebelumnya.
Namun, pria besar di sebelah mereka terlihat sedikit menakutkan. Pria itu benar-benar raksasa. Jauh lebih besar dari pria mana pun di desa.
Hampir bersamaan saat mata gadis itu terbelalak, pria dan wanita-wanita di sampingnya mengeluarkan suara keterkejutan.
Kecuali mata mereka semua sedang menipu mereka, sepertinya ada gerimis lembut yang turun di sekeliling tubuh pria yang mengemudikan kereta tersebut.
"A-apa... itu?"
Seorang anak yang manis, seorang wanita yang cantik, dan seorang pria yang menurunkan hujan. Ada sesuatu yang sangat aneh dengan kombinasi itu.
Wanita di sebelahnya tiba-tiba menggumam, "Cubit aku."
Seseorang pasti benar-benar mencubitnya, karena wanita itu memekik lalu memukul orang di sebelahnya dengan keras.
Sementara itu, kereta tersebut melaju kencang seperti hembusan angin lalu berhenti tepat di depan gadis itu dan kelompoknya.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments