Header Ads Widget

Chapter 140 - Ibu Menjadi Bunga

 

Bab 140: Ibu Menjadi Bunga

Wilayah kekuasaan Margrave dari Bern telah diganggu oleh invasi asing sejak zaman kuno, sejak awal manusia bermukim di tanah ini. Karena itulah, keluarga yang bertugas mempertahankan wilayah ini memfokuskan seluruh upayanya untuk memperkuat kekuatan militer.

Tanpa kekuatan, seseorang akan diinjak-injak. Tak peduli seberapa dermawan atau bijaknya suatu pemerintahan, tanpa kekuatan militer, pada akhirnya semuanya akan direbut oleh musuh yang kejam dan buas, dan semua orang akan dibunuh.

Kekuatan besar untuk melindungi keluarga, rakyat, dan tanah air—itulah keadilan. Pengalaman dan keyakinan tersebut telah meresap sampai ke tulang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Saking dalamnya, seolah otak mereka terbuat dari tulang.

Apakah karena itu? Semenjak bertemu pria bernama Juhwan, getaran di dadanya tak kunjung berhenti. Ia ingin mengadu pedang dengan pria itu setidaknya sekali. Undangan ini pun merupakan hasil dari hasrat tersebut.

Kalau ini perburuan monster, maka itu masih bisa jadi ajang adu tanding meski tanpa harus bertarung secara langsung. Memikirkannya saja sudah membuat darah di tubuhnya mendidih. Mana mungkin aku akan kalah.

Lalu ia berpikir: Jujur saja, aku tidak muda lagi, tapi aku masih meluap-luap dengan darah panas.

Margrave tersenyum pahit saat ia mengenakan pakaiannya dengan bantuan kepala pelayan. Kepala pelayan dengan tenang memberikan laporan singkat.

"Kepala Ajudan Kyle mencoba mengirim pelayan wanita ke penginapan penyihir kelas Santa itu, tapi gagal. Sang penyihir membawa pelayan wanitanya sendiri. Mereka adalah si kembar dari keluarga Li."

Kyle sepertinya berencana membujuk penyihir itu ke pihak mereka menggunakan kesempatan ini, tapi, yah, pria itu tidak akan goyah semudah itu. Margrave tersenyum getir. "Serikat pasti sangat bertekad untuk tidak kehilangannya kali ini. Tak kusangka mereka sampai meminta bantuan keluarga Li."

Banyak bangsawan tingkat tinggi menerima pelatihan etika dari anggota keluarga Li. Mereka yang dilatih biasanya adalah pewaris, bangsawan tinggi lainnya, atau wanita yang akan menikah dengan anggota kerajaan. Dari sanalah sumber kekuatan keluarga Li. Mereka tidak punya otoritas nyata, tapi memiliki posisi penting dalam koneksi antarbangsawan. Karena itu, mereka tidak bisa diabaikan.

"Tuan Muda sepertinya yang merekomendasikan mereka. Lagipula, Tuan Muda tidak suka melihat petualang memihak pada kubu ini." "Kau tidak seharusnya memanggil orang yang sudah diusir sebagai 'Tuan Muda'."

Kepala pelayan itu menyeringai. "Sekalipun Anda bilang begitu, Anda sendiri yang khusus meminta Ketua Serikat untuk menjaganya... Omongan Anda tidak meyakinkan, Tuanku." "Aku tidak memintanya. Hanya saja... kebetulan sang ketua membawa anak itu bersamanya." "Ya, ya." "Kalau anak itu dibiarkan begitu saja, dia benar-benar akan mati. Dia bahkan tidak bisa mengayunkan pedang dengan benar. Dan ada lebih dari satu atau dua orang yang marah padanya."

"Haah. Tolong jangan bilang siapa-siapa." "Seolah saya akan menyebarkan rahasia tuanku saja." "Ya. Tapi... jangan beri tahu istriku juga."

"Tidakkah lebih baik memberi tahu Nyonya saja sekarang? Daripada Anda terus dibenci seperti ini?"

Margrave terdiam sejenak, lalu menghela napas. Hubungannya dengan istrinya di permukaan masih baik. Mereka masih tidur seranjang beberapa hari sekali, dan tak pernah saling membentak kasar. Tapi di balik semua itu, kebencian terus menumpuk. Mereka telah kehilangan beberapa anak laki-laki setelah mengirim mereka ke medan perang. Setiap kali itu terjadi, rasa bencinya makin besar.

Di tambah lagi, ia telah mengusir putra mereka yang masih hidup. Karena itu, kebencian istrinya semakin dalam dan berbekas.

Tapi kalau ia memberi tahu istrinya yang sebenarnya, istrinya pasti akan pergi menemui putra mereka. Lalu orang lain juga akan tahu bahwa ia belum benar-benar membuang putranya dari hati. Itu akan jadi masalah. Anaknya telah melanggar salah satu aturan tak tertulis dari masyarakat bangsawan. Jika orang-orang tahu bahwa kepala keluarga sendiri mentolerir hal itu, akan timbul pertentangan. Mengurus keluarga akan jadi sulit.

Margrave menghela napas panjang. "Tetap saja, aku harap dia setidaknya mengerti perasaanku dari fakta bahwa aku tidak pernah menyebarkan surat pemutusan hubungan resmi." Kata-kata itu meluncur dari hatinya sebelum ia menyadarinya, dan kepala pelayan itu menatapnya dengan iba.

Kalau ia mengirim surat pemutusan resmi pada para bangsawan, hubungannya tak akan pernah bisa dipulihkan. Mereka akan jadi orang asing. Dengan kata lain, selama ia tidak melakukannya, ia masih bisa memanggil anaknya pulang kelak kalau ada kesempatan. "Dia dulu orang yang setidaknya bisa mengerti hal itu..."

Namun hati istrinya telah membeku sejak hari ia mengusir anak mereka. Ia benci suaminya yang tidak mampu menahan setidaknya satu putra yang masih hidup di sisinya. Terkadang, saat menatap istrinya, ia bisa merasakan es di hati wanita itu.

"Ini tidak akan pernah selesai sebelum aku membawa anak itu pulang."

Saat ia kembali mendesah, kepala pelayan mencoba mengalihkan perhatiannya. "Sepertinya penyihir kelas Santa itu juga menarik perhatian Tuan Leonard dari Perusahaan Miller. Kami dapat info dia akan hadir di pesta ini, awalnya saya pikir itu sulit. Tapi di luar dugaan, beliau sudah tiba dua hari lalu." "Hooh. Di waktu begini? Biasanya dia sudah pergi ke negara lain sekarang." "Sepertinya dia buru-buru menyelesaikan urusannya di sana karena penyihir itu. Beliau pasti sangat menyukai si penyihir kelas Santa."

Margrave mengusap dagunya dan tersenyum. "Ah, penyihir itu. Anehnya, aku juga merasa tertarik padanya. Ada sesuatu dalam dirinya yang menarik hati orang." "Saya hanya melihatnya sekilas, tapi yang saya rasakan hanyalah dia itu pria bertubuh besar..." "Kau akan paham kalau kau bicara langsung dengannya. Ada semacam kekuatan di matanya. Sesuatu yang memikat hati."

Setelah selesai berpakaian, Margrave menatap cermin yang dipegang butler-nya. Seorang pria tua membalas tatapannya dari dalam cermin. Ia terlihat seperti badut tua yang sedang pakai riasan. "Aku selalu memikirkan ini, tapi pakaian seperti ini tidak cocok untukku."

Juhwan. Pria itu juga besar dan tegap, sama sepertinya. Apakah dia juga akan merasa aneh mengenakan baju semacam ini? Memikirkan itu, Margrave merasa sedikit bersalah.

Ia tahu ia telah mengundangnya ke tempat yang canggung. Mengundang keluarga rakyat jelata biasa ke acara khusus bangsawan—tergantung sudut pandangnya, itu bisa dibilang semacam pelecehan. Ia tahu itu. Tapi tetap saja, di musim berburu besok, ia ingin berkuda di samping pria itu.

Setiap kali ia melihat Juhwan, semangat dan keberanian masa mudanya bangkit kembali. Rasanya seolah ia kembali ke masa muda saat kekuatannya masih bergejolak. "Katakan padaku. Apa aku ini kurang punya empati?"

Saat ia bertanya, sang kepala pelayan hanya tersenyum alih-alih menjawab. "Sudah kuduga." Ia bergumam pelan kesepian, dan kemudian seorang pelayan membawa pesan. "Persiapan Nyonya sudah selesai."

Margrave perlahan menggerakkan tubuh beratnya.

"Persiapan seorang wanita harus tetap menjadi misteri." Setelah mengatakan hal itu, Angelica Lee membawa Lizzie ke ruangan lain.

Sementara itu, Juhwan dibantu Daniel mengenakan pakaiannya. "Haaah." Ia menghela napas entah untuk yang keberapa ratus kalinya.

Daniel terkekeh. "Anda benar-benar benci ini, ya?"

Tentu saja ia benci. Pakaian era ini sangat berbeda antara rakyat jelata dan bangsawan. Sangat berbeda. Rakyat jelata biasanya pakai kemeja longgar dan celana panjang. Pemburu menambahkan rompi kulit, mantel, atau tas punggung. Tinggal gantungkan barang-barang di pinggang dan bahu, selesai.

Tapi bangsawan pakai baju dengan banyak kerutan mengembang di leher dan lengan. Mirip dengan baju di lukisan Raja Henry VIII, raja yang terkenal hobi memenggal istrinya. Celananya... Celananya seperti tights (celana ketat). Sangat ketat. Celananya turun sampai lutut, dan dari sana disambung dengan stoking panjang yang diikat dengan pita.

Tapi penghinaannya belum berakhir di situ. Ada hal yang lebih parah. Aku ingin mati.

Juhwan menatap kantung menonjol di antara kedua kakinya. Itu untuk tempat "barangnya". Haah. Ia bukannya salah sebut. Kantung itu benar-benar khusus menampung benda itu. Entah kenapa pria di zaman ini membuat kantung dari kain kaku untuk menutupi area tersebut. Ia tak habis pikir. Kenapa hal semacam ini... bahkan dihias dengan sangat indah. Terasa sekali kalau pembuatnya sangat berdedikasi.

Satu-satunya anugerah adalah karena atasan bajunya lumayan panjang sehingga sedikit menutupinya. Tidak. Itu tidak tertutup. Kalau ia menunduk, ia jelas bisa melihat kantung itu menonjol keluar. Ia bisa gila.

"Wah. Sangat mengesankan. Anda terlihat luar biasa."

Mendengar pujian Daniel, Juhwan diam saja. Entah itu pujian tulus atau bukan, ia cuma ingin mati. Haah. Aku jelas-jelas minta penjahit dan asistennya mengecilkan kantung ini, tapi ini malah dibuat makin besar.

Saat ia sedang menggerutu dalam hati, pintu kamar Lizzie terbuka. Dorothy berlari keluar dengan langkah kecil, lalu berhenti. Matanya melotot bulat. Sepertinya dia kaget melihat penampilan Juhwan. Namun, Juhwan jauh lebih kaget dari Dorothy.

Dorothy mengenakan sehelai kain tipis yang diikat di lehernya, berkibar seperti mau terbang. Pakaiannya mirip Juhwan: celana ketat, dan atasan dengan lipatan mengembang di lengan dan pinggang. Warna bajunya serasi dengan Juhwan. Rupanya mereka didandani berpasangan. Bedanya, Dorothy tidak memakai kantung pelindung untuk benda itu.

Tentu saja. Bakal jadi masalah besar kalau iya.

Juhwan membungkuk sedikit dan menatap Dorothy lebih dekat. "Dorothy. Kamu imut sekali." Baru saat itu Dorothy tampaknya sadar bahwa orang di depannya adalah ayah yang ia kenal. Wajah leganya mekar menjadi senyum lebar. "Ayah! Ibu jadi bunga. Ibu jadi bunga. Dia cantik banget."

Seolah ditarik keluar oleh kata-kata itu, Lizzie muncul dari dalam ruangan. Juhwan menatap istrinya tanpa bisa berkata-kata.

Dada dan pinggang istrinya dirampingkan oleh korset yang katanya terbuat dari tulang paus, dan ia mengenakan rok berkerangka bentuk lonceng dengan beberapa lapis cincin yang ditumpuk atas bawah. Di atasnya, ia memakai beberapa lapis korset luar dan rok, dengan kain selembut sayap capung menutupi sebagian dadanya.

Rambutnya disanggul tinggi bervolume, dengan topi kecil bertengger di atasnya. Bedak putih ditepuk-tepuk ke bagian wajah, leher, dan lengannya yang terbuka. Mulai dari alis hingga bibir dan pipinya, telah dipoles kosmetik yang belum pernah dilihat Juhwan sebelumnya. Terakhir, perhiasan dipasang di gaun, syal, dan topinya.

Maka, selesailah sudah. Bahkan saat di desa, ia sudah memakai gaun agar terbiasa. Tapi itu gaun sederhana. Ia belum pernah memakai gaun seformal ini sebelumnya.

Jantung Lizzie berdebar kencang. Apa dia akan menyukainya? Apa aku akan memuaskan hatinya?

Ia tidak berharap untuk jadi lebih cantik dari wanita lain. Setidaknya, ia cuma ingin terlihat pantas agar tidak mempermalukan suaminya saat berdiri di sampingnya. Ia ingin Juhwan menginginkannya sedikit lebih banyak.

Lizzie menempelkan kedua tangannya di dada. Tolong. Kumohon, biarkan penampilan ini memancing gairah di matanya. Biarkan ini menahannya cukup erat hingga ia tak merasakan secuil pun ketertarikan pada wanita lain. Kalau itu terjadi, aku akan sangat bahagia.

Setelah selesai mendandani, Angelica mundur selangkah dan menempelkan jari ke bibirnya. "Aku yang meriasnya, tapi ini benar-benar karya seni. Bukankah tanganku ini seolah diberkahi dewa?"

Dorothy, yang keluar duluan, terdengar sedang bicara pada Juhwan. Ia bilang Ibunya berubah jadi bunga. Angelica menyeringai. "Nyonya, Anda benar-benar cantik bak bunga. Tuan pasti akan menyukainya juga."

Angelica berputar dengan anggun dan mendekati pintu. Lalu dia berseru ke arah Juhwan di luar. "Persiapan Nyonya sudah selesai."

Melihat punggung lurus Angelica, Lizzie menarik napas dalam-dalam. Dorothy bilang ia seperti bunga. Angelica bilang ia cantik dan memesona. Juhwan mungkin akan menyukainya juga. Tidak, kalau pria selembut itu, ia pasti akan bilang Lizzie cantik. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Aku yakin aku tidak terlihat aneh.

Berpikir demikian, Lizzie melangkah masuk ke ruangan tempat Juhwan menunggu—dan langsung menahan napas.

Rambut hitam suaminya telah disisir ke belakang, dan tubuhnya dibalut kain yang memberinya aura megah dan berwibawa. Jika dewa perang turun ke bumi, mungkin akan terlihat seperti itu. Bagi Lizzie, yang selama ini hanya melihat sisi lembutnya, Juhwan terasa asing. Rasanya seperti sedang melihat orang lain.

Wajah Juhwan, yang beberapa saat lalu sedang tersenyum pada Dorothy, menoleh ke arahnya. Lizzie pikir ia akan mengatakan sesuatu. Cantik, atau manis, atau mungkin imut. Kata-kata yang sering ia ucapkan padanya. Namun, pria itu terdiam.

Sebuah kerutan tampak muncul di dahi Juhwan. Perlahan-lahan, wajahnya menjadi semakin sangar. Rasanya seakan jantung Lizzie jatuh merosot ke lantai.

Penampilannya yang tak biasa, sangat berbeda dari sehari-harinya, ditambah ekspresi kasarnya. Perasaan cinta dari suaminya yang biasanya terlihat jelas, kini tidak ditemukan di mana pun. Ia tidak bisa menebak apa yang sedang Juhwan pikirkan.

Sudah kuduga... Ini tidak cocok untukku. Gaun cantik dan perhiasan mewah seperti ini tidak pantas dipakai orang sepertiku. Saat ia berpikir seperti itu, dunia di depan matanya menjadi gelap. Kelembapan perlahan berkumpul di matanya.

Apa yang harus kulakukan? Dorothy terus-terusan bilang dia cantik seperti bunga, jadi dia memercayainya. Angelica juga bilang dia cantik, jadi mungkin dia merasa sedikit terlalu bangga. Ia memang cemas apakah Juhwan akan menyukainya, tapi di sisi lain, ada sedikit keangkuhan di hatinya—keyakinan bahwa suaminya pasti suka.

Angelica tidak memberinya cermin, dan Lizzie cuma mengira itu karena mereka ingin memberi kejutan. Tapi jangan-jangan itu karena penampilannya sangat memalukan... Aku harus melepasnya. Pesta bangsawan atau bukan, seperti ini, ia hanya akan mempermalukan Juhwan.

Tepat saat ia berpikir begitu dan hendak berbalik, Juhwan akhirnya angkat bicara dengan gigi terkatup. "Tidak. Kalau aku membawanya keluar seperti ini, dia akan diculik. Dunia ini terlalu jahat untuk orang secantik ini..."

Kata-katanya sangat aneh sampai-sampai otak Lizzie berhenti sejenak. Ia menatap Juhwan dengan ekspresi kosong seolah bertanya, Hah?

Dorothy bertanya, "Ayah, bukankah Ibu kelihatan seperti bunga?" "Dia terlihat seperti peri yang baru menetas dari dalam bunga." "Oh, makanya Ibu bakal diculik?" "Iya."

Daniel dan Angelica mulai tertawa. "Tuan, memang benar pria-pria akan mengerubungi wanita cantik. Terutama wanita bersuami sering kali dijadikan incaran. Pria bangsawan punya kebiasaan pamer pesona dengan memuji wanita dan diam-diam merayu mereka. Terkadang, kalau sang wanita tidak merespons sesuai keinginan mereka, mereka memakai obat perangsang. Dan kalau status wanitanya rendah, mereka sering pakai kekerasan juga. Ada banyak kasus seperti itu. Karena reputasi dan gengsi, banyak wanita yang tutup mulut setelah hal itu terjadi."

Daniel mengusap air mata dari sudut matanya dan melanjutkan. "Mungkin ada orang-orang seperti itu kali ini juga. Tapi Nyonya mengenakan bros berlogo Margrave yang terpasang kuat di dadanya. Kecuali orang itu sedang mabuk atau hilang akal, mereka tidak akan berani macam-macam terang-terangan."

Ah. Itu benar. Lizzie menunduk melihat bros yang tersemat pada lipatan kain di dekat dadanya. Bros itu dihias dengan indah menggunakan logam dan permata, bentuknya sama dengan lambang yang dibordir di jubah suaminya. Di sisi kiri dan kanan lambang perisai itu ada hewan yang menyerupai elang dan singa bersayap. Mungkin itu makhluk mitologi. Atau sejenis monster gaib. Pakaian Dorothy juga dipasangi bros dengan lambang yang sama, hanya ukurannya saja yang beda.

Juhwan mendekat dan meraih tangan Lizzie. Ia mengecup jemarinya dengan ringan dan menatap dalam-dalam ke matanya. Gairah memenuhi tatapan Juhwan.

Syukurlah... Syukurlah. Pria itu menginginkannya. Mata suaminya memberitahu bahwa pria itu menginginkannya.

Seluruh ketegangan menguap dari tubuhnya seketika. Juhwan melingkarkan lengan di pinggangnya dan berbisik di telinganya. "Kau benar-benar cantik, Lizzie. Kupikir jantungku mau berhenti." Ia menunduk, menyandarkan dahinya di bahu Lizzie, dan bergumam, "Ah, serius. Aku sangat takut seseorang akan merebutmu."

Tidak. Justru Lizzie-lah yang ketakutan. Ia tadi gemetar layaknya ada puluhan pisau diarahkan ke jantungnya, takut seseorang akan merebut Juhwan.

Saat Lizzie membisikkan hal itu pelan ke telinganya, Juhwan tertawa. "Kita berdua sama saja, kalau begitu." Hanya setelah mendengar gumaman itu, barulah hati Lizzie akhirnya tenang.

Tanpa disadari, Dorothy sudah mendekat dan mendengar semuanya. Gadis kecil itu menyembulkan kepalanya di antara mereka berdua dan berkata, "Kalau begitu, Ibu dan Ayah cuma perlu saling melindungi satu sama lain. Lalu tidak ada yang bisa mencuri kalian berdua."

"Dorothy, kamu pintar sekali." Juhwan tertawa. Seolah tertular olehnya, Lizzie pun ikut tersenyum.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments