Bab 139: Tiba di Kastil Margrave
Mata Lizzie melebar. Kereta yang dikirim oleh Margrave sangatlah megah. Atap dan badannya berwarna hitam, tapi bingkai jendela, pintu, dan bagian lainnya diukir dengan dekorasi berwarna-warni yang indah. Ia pernah melihat kereta hitam sebelumnya, tapi meskipun sama-sama hitam, yang ini benar-benar berbeda. Hal ini membuatnya bertanya-tanya, apakah warna yang dikenal rakyat jelata dan warna yang dilihat bangsawan adalah dua hal yang sama sekali berbeda?
Sementara kusir yang mengendarai kereta itu menaikkan koper besar satu per satu, Dorothy berlari ke dalam bersama Oz. Dorothy mengenakan celana panjang yang dibuat untuk anak laki-laki. Kemeja dan celana panjang. Pakaian yang sederhana, tapi kainnya sangat bagus. Pasangan lansia itu menyuruhnya memakai pakaian itu setiap hari, dengan alasan kalau Dorothy tiba-tiba memakai baju yang tidak biasa baginya, ia akan terlihat canggung.
Guru etika itu bukanlah orang yang cuma bisa bersikap tegas. Karena mereka memilih metode yang tidak membuat anak benci belajar, Dorothy, tanpa disadari siapa pun, telah terbiasa dengan gaun bangsawan maupun celana panjang.
Dorothy melihat sekeliling interior kereta dan berteriak, "Ibu, hebat banget! Keretanya berkelap-kelip!"
Dari balik suara antusias Dorothy, Lizzie bisa melihat bagian dalam kereta. Interiornya jauh lebih megah daripada bagian luarnya. Kursi dan dindingnya dibalut kain lembut yang begitu menyilaukan seolah cahaya memancar dari matanya. Tirai yang menutupi jendela disulam dengan pola padat yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Bukankah harga kain yang digunakan di kereta ini jauh lebih mahal dari pendapatan tahunan desa asal Lizzie? Jantungnya hampir copot melihat Dorothy berguling-guling di kursi, takut sepatu anak itu akan mengotori kainnya.
Lizzie maju selangkah untuk menghentikannya, namun tiba-tiba ia melihat ke arah Juhwan. Juhwan tidak melihat kereta itu. Ia sedang menatap Dorothy. Matanya menyipit dengan senyuman. Ia benar-benar berbeda dari Lizzie, yang pandangannya teralihkan oleh kemegahan kereta itu. Pria itu tampak tenang, seakan sudah biasa melihat hal-hal seperti ini.
Melihat wajahnya, Lizzie berpikir lagi, Ah, aku mengerti. Juhwan memang orang yang sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
Juhwan tidak senang dengan undangan Margrave ini. Jelas sekali ia menganggap koneksi dengan Margrave—sesuatu yang sangat didambakan orang lain—sebagai sesuatu yang merepotkan. Namun, Lizzie senang dengan undangan ini. Bukan karena ia akan masuk ke pergaulan bangsawan. Tapi karena ia mendapat kesempatan untuk dididik, sehingga saat ia berdiri di samping Juhwan, ia tidak akan mempermalukannya.
Ia terus iri dan mengagumi Annette, tapi sekarang ia mengerti. Annette yang ia irikan tentu saja adalah seseorang dengan status tinggi yang tak bisa dijangkau pandangan rakyat jelata biasa. Namun, dalam ruang lingkup kebangsawanan, pangkat Annette mungkin tidak terlalu tinggi.
Saat Lizzie membandingkan perilaku dan cara bicara Annette dengan pasangan guru etikanya, bahkan Lizzie yang terlahir dari rakyat jelata bisa melihat bedanya.
Lizzie menarik napas dalam-dalam. Di sinilah semuanya dimulai. Baru sekarang ia mencapai titik awal di mana ia bisa terus berada di sisi Juhwan tanpa merasa malu.
Suaminya adalah pria yang akan terus berkembang. Ia akan menjadi orang besar. Jika ia ingin berjalan di sampingnya, maka ia tidak bisa berdiam diri di posisinya saat ini. Ia harus bekerja lebih keras. Hanya karena Juhwan memandangnya dengan lapang dada, bukan berarti ia bisa membiarkan dirinya dimanja. Kalau ia menginginkan sesuatu, ia harus merebutnya.
Wanita tua itu pernah berkata padanya saat mereka berdua: "Bangsawan dan rakyat jelata itu sama saja. Kalau kau sangat menginginkan sesuatu, kau harus memperjuangkannya. Menendang, ditendang, menggigit dan digigit—perang semacam itu adalah keseharian di luar sana." "Dan bukan hanya pria yang hidup seperti itu. Masyarakat wanita pun sama. Tidak, bahkan lebih kejam." "Kalau kau puas dengan hidup yang diberikan padamu secara pasif seperti sekarang, tidak akan ada kemajuan. Tidak peduli seberapa besar suamimu mengizinkannya, suatu saat itu akan direnggut darimu. Sainganmu bukan hanya wanita lain. Dunia ini, perang, rasa lapar, kebosanan, waktu—semuanya adalah saingan kita sebagai wanita."
Mengingat kata-kata itu, Lizzie menguatkan hatinya. "Lizzie, pertarungan wanita berbeda dari pertarungan pria. Bertarung bukan berarti berbenturan langsung dengan lawanmu. Menjadi lebih anggun, lebih cantik, lebih memikat, lebih bijak, dan lebih cerdas—memoles dirimu dengan cara seperti itu sama saja dengan melangkah ke medan perang. Jadilah lebih cantik dan lebih bijak dari siapa pun. Itu akan menjadi kekuatan yang tidak hanya melindungimu, tapi juga suami dan anakmu."
Kata-kata wanita tua itu telah menyalakan pelita bagi Lizzie, yang selama ini tersandung sendirian menyusuri lorong gelap, berusaha mati-matian memperbaiki diri. Kini, ia akhirnya merasa tahu bagaimana ia harus bekerja keras, dan ke arah mana.
Lizzie meluruskan punggungnya. Sang kusir selesai memuat semua bagasi dan membungkuk. "Semuanya sudah siap."
Berdiri di dekatnya, Juhwan tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya. Lizzie meletakkan jemarinya dengan ringan di atas tangan itu dan melangkah maju. Kakinya yang dulu melangkah dengan kasar kini bergerak sehalus awan. Sebelumnya, ia bahkan tidak tahu bahwa ia menyeret kakinya saat berjalan. Ia baru menyadarinya setelah wanita tua itu mengajarinya cara berjalan yang baru, dan ia menjadikannya kebiasaan tubuh.
Ia merasa kini mulai sedikit paham kenapa bangsawan merendahkan dan mengejek rakyat jelata. Di mata mereka, sapi, babi, dan rakyat jelata mungkin terlihat berjalan dan berbicara dengan cara yang sama. Binatang berwujud manusia, tidak beda dengan anjing atau babi.
Dulu ia tidak tahu, tapi sekarang ia bisa melihat sedikit dari sudut pandang mereka dan memahaminya. Bukan berarti ia sepaham dengan bangsawan, ia juga tidak berpikir mereka benar.
Mata Juhwan pasti sudah melihat semuanya sejak awal. Meski begitu, pria itu memandangnya sebagai manusia. Kini, hal itu membuatnya bahagia dan bersyukur, sama seperti kebahagiaan karena Juhwan memandangnya sebagai seorang wanita. Hal itu juga baru ia sadari. Kurasa aku mengerti kenapa Juhwan sangat ingin mengajariku huruf.
Setelah naik ke kereta dan duduk di sebelahnya, Lizzie menangkup tangan Juhwan dengan kedua tangannya. Ia menunduk dan menciumnya.
"Lizzie, ada apa?" Juhwan sedikit menunduk dan menatapnya dengan raut bingung. Ke dunia ini, ke kehidupan tanpa satu pun harapan, sebuah hadiah bernama dirimu telah turun.
"Terima kasih," bisik Lizzie lembut, lalu mencium punggung tangannya lagi. Dan di dalam hatinya, ia berbisik pelan. Lebih dari saat kita pertama kali bertemu, lebih di hari ini, dan akan lebih lagi di esok hari, aku sangat mencintaimu hingga hatiku terasa seperti akan tercabik. Aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu.
Dorothy, yang dari tadi berguling-guling di kursi seberang, mendekat dan menjorokkan wajahnya. "Ibu, Ayah, Dorothy juga berterima kasih!"
Mendengar Juhwan tertawa, Lizzie mengangkat kepalanya. Senyum pun mekar di wajahnya. Lalu ia mendengar kusir berseru bahwa mereka akan berangkat.
Butuh beberapa hari untuk mencapai kastil Margrave. Kusir itu mengendarai kereta melewati rute yang tidak familier bagi Juhwan. Kalau mereka menempuh perjalanan seharian penuh, kalaupun tidak sampai di kota, mereka setidaknya bisa tiba di desa yang cukup besar.
Karena membawa undangan Margrave, akses masuk kota dan desa sangatlah mudah. Di malam hari, mereka menginap di penginapan terbaik. Kusir mengurus semua biayanya. Yeonhwa berlari di samping kereta, dan setiap kali ada hutan, ia kadang menyelinap pergi. Sepertinya ia sedang memburu monster. Terkadang saat ia kembali, ada darah di surai putihnya. Juhwan jadi bertanya-tanya, jangan-jangan makanan yang disediakan manusia tidak cukup untuknya. Atau mungkin ia cuma suka berburu, tapi karena mereka tidak bisa saling bicara, Juhwan tidak bisa tahu pasti.
Setelah beberapa hari, mereka tiba di kota tempat kastil Margrave berada, dan mulut Dorothy menganga lebar. Juhwan juga sedikit terkejut. Kota Moderni dulu juga dikelilingi tembok yang lumayan megah, tapi tempat ini levelnya berbeda.
Seluruh kota ini adalah benteng. Bahkan di dalam kota, ada pos penjagaan di mana-mana, dengan prajurit yang lalu lalang. Kalau bicara soal kemegahan kota, Moderni mungkin lebih unggul. Tapi soal kekuatan pertahanan, tempat ini tak diragukan lagi jauh di atasnya. Benar-benar terasa seperti kota benteng perbatasan.
Kereta terus melaju lurus di sepanjang jalan utama yang lebar, makin dalam ke pusat kota. Setelah melewati beberapa gedung, kereta berhenti di depan rumah besar yang memanjang dari satu sisi ke sisi lain.
Begitu kereta berhenti total, pintu terbuka dari luar sebelum Juhwan sempat menyentuhnya. "Selamat datang, Tuan." Yang membuka pintu adalah pria muda. Penampilannya persis seperti bayangan seseorang tentang "kepala pelayan". Di sebelahnya berdiri seorang wanita berpakaian pelayan (maid), dan wajahnya sangat mirip pria itu. Ia juga terlihat cukup muda.
Pria berbaju butler itu tersenyum cerah. "Saya Daniel Lee, dan ini Angelica Lee." "Ah." Juhwan sudah mendengar dua nama itu dari pasangan guru etika. "Saya diberitahu akan ada yang menunggu untuk membantu kami, tapi saya tidak menyangka kalian berpakaian seperti butler dan pelayan."
"Tolong bicara dengan santai pada kami, Tuan," Daniel tersenyum lembut. "Pertama, saya akan mengantar Anda ke kamar Anda." "Bagaimana dengan barang-barangnya?" "Tolong jangan khawatir. Para pelayan yang akan memindahkannya." Daniel melirik sekilas ke arah Yeonhwa. "Margrave secara khusus telah menyiapkan ruangan yang bisa dimasuki unicorn untuk Anda. Saya dengar itu adalah tempat yang dibangun Margrave agar beliau bisa tinggal bersama kuda kesayangannya."
Tampaknya Margrave memang orang yang cukup tidak biasa. Juhwan menggandeng Lizzie dan mengikuti Daniel. Ia merasa sebagian besar tata krama bangsawan tidak berguna, tapi yang satu ini setidaknya ia suka. Saat ia dengan lembut menggenggam tangan Lizzie dan menuntunnya seperti ini, Lizzie berjalan seringan dan seanggun bulu. Sungguh indah.
Angelica Lee yang mengikuti dari belakang tersenyum. "Kalian berdua benar-benar serasi. Aku mendengarnya dari Nenek, tapi melihatnya langsung rasanya sangat mengejutkan. Aku juga ingin bertemu suami seperti itu." "Nenek?"
Saat Juhwan mendadak berhenti dan berbalik, Angelica menjulurkan lidahnya. "Orang yang mengajari Anda berdua etika adalah kakek dan nenek kami. Kami adalah keturunan keluarga bangsawan tua yang telah jatuh miskin. Bisa dibilang, garis keturunan dan tata krama adalah satu-satunya kekuatan kami yang tersisa. Kami jatuh sangat dalam sampai-sampai hampir tak bisa makan, tapi kakek-nenek kami menemukan jalan keluarnya. Mereka menjual silsilah darah dan pendidikan." "Kalau bukan karena mereka, seluruh klan kami mungkin sudah mati kelaparan sekarang. Yah, meski begitu, tidak semua orang di klan menerimanya. Mereka hampir mati kelaparan hari ini, tapi masih duduk manis dan hanya memedulikan gengsi."
Saat Angelica mengoceh, Daniel yang berjalan di depan berkata pelan. "Angelica, meski mulutmu bengkok sekalipun, kau tetap harus bicara yang benar. Katamu tadi kurang pas. Harusnya kau bilang kita bukan hampir mati kelaparan hari ini, tapi kita sudah kelaparan sejak kemarin. Kakek dan Nenek-lah yang membangkitkan mayat-mayat kita."
Itu cukup sarkastis. Angelica menyeringai, lalu kembali memasang wajah formal.
"Tuan, Nyonya. Saya dan Daniel datang ke sini bukan cuma untuk membantu Anda berdua, tapi juga untuk mencari calon pasangan bagi diri kami sendiri. Garis keturunan kami tidak punya apa-apa selain darah bangsawan, jadi kami mencari pasangan yang kaya dan punya kekuatan militer tapi putus asa karena tidak bisa naik status." "Garis keturunan kami secara tak terduga memiliki sedikit darah kerajaan, jadi lumayan bernilai. Kami menantikan kerja sama dengan Anda."
Setelah Angelica, kali ini Daniel yang angkat bicara dari depan. "Dengan begini, bantuan yang Anda terima dari Perusahaan Miller dan kakek-nenek kami tidak akan menjadi utang budi sepihak lagi. Jarang sekali pria dan wanita lajang yang belum debut di masyarakat bisa melihat dan menilai satu sama lain secara langsung sebelum menikah. Kami menunggu kesempatan untuk menyusup ke tempat seperti ini." "Kami beruntung. Kami dapat kesempatan untuk memilih seseorang yang kami sukai. Orang tua kami meminta kami untuk menyampaikan rasa terima kasih mereka."
Ibarat kelinci melahirkan kelinci, rupanya dua bersaudara ini mewarisi sifat cerewet kakek dan nenek mereka. Juhwan tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya. "Mohon bantuannya juga."
Daniel dan Angelica bicara hampir bersamaan. "Serahkan pada kami. Mulai dari situasi politik saat ini, keseimbangan kekuatan antarkeluarga, kekuatan militer, hingga sebaran wanita lajang dan janda, tidak ada yang tidak kami ketahui." "Jangan khawatir. Kami mungkin tidak terlihat seperti itu, tapi kami veteran dari tak terhitung banyaknya pertempuran. Mulai dari mempercantik Anda berdua, sampai membongkar latar belakang rahasia orang-orang di pesta, semuanya bisa kami tangani. Kalau kami tidak tahu setidaknya hal itu, kami tidak bisa bertahan di pasar pernikahan masyarakat bangsawan." "Saya dan Daniel adalah kristalisasi pendidikan yang diciptakan kakek-nenek kami dengan sekuat tenaga. Mulai dari serangan obat perangsang sampai serangan rumor kotor, biarkan mereka datang—"
Tidak, pertarungan lumpur sekejam itu tidak mungkin terjadi. Mereka kan bukan sedang terjun ke bursa perjodohan. Mungkin karena menganggap keduanya lucu, Lizzie tertawa pelan. Daniel dan Angelica menyipitkan mata menatap Lizzie, lalu bicara bersamaan.
"Tuan benar-benar pria beruntung." "Bagus. Tanganku sudah gatal ingin bekerja. Anda boleh menantikan hari raya pestanya."
Juhwan tersenyum lembut. "Ah, saya juga merasa beruntung. Saya benar-benar menantikan hari pestanya." Mata Dorothy berbinar dan ia ikut menyeletuk. "Dorothy juga menunggunya!"
Angelica berkata dengan nada menyesal. "Anak-anak tidak boleh masuk ke ruang pesta orang dewasa, Nona Muda. Ada tempat terpisah khusus untuk anak-anak berkumpul." "Hah! Yah, itu nggak seru." Mata Dorothy membesar.
Daniel melirik Angelica, lalu tersenyum lembut pada Dorothy. "Nona Muda, jangan khawatir. Tempat kumpul anak-anak nanti akan menyajikan banyak makanan enak. Dan karena Anda membawa Ppullokki bersama Anda, Anda pasti akan sangat populer." "Hah, benarkah?" "Tentu saja."
Daniel, yang berjalan di depan, berhenti di sebuah pintu besar menuju ke dalam ruangan bangunan dan menoleh. "Ini kamar Anda menginap."
Saat pintunya terbuka, bagian dalamnya langsung terlihat. Tempat itu saking besarnya sampai bisa memuat beberapa rumah kecil. "Pintu di sebelah sana mengarah ke kamar Tuan, dan di baliknya adalah kamar Nyonya. Bangsawan yang sudah menikah pun memakai kamar terpisah. Kamar Nona Muda ada di seberang sana."
Di salah satu sisi ruangan ada area istirahat untuk kuda. Di sudut ruangan, terdapat sebuah pelana besar. "Itu hadiah dari Margrave. Beliau mengirimkannya untuk Anda pakai ke tempat berburu," Daniel menyeringai. "Saya dengar hati Margrave sakit saat melihat unicorn disuruh menarik kereta waktu itu. Margrave memang terkenal sangat menyayangi kuda. Ah, info itu saya dengar secara terpisah."
Utang budinya terus menumpuk. Hati Juhwan sedikit mencelos. Rasanya ia ingin mendesah.
Pestanya lusa. Sepertinya semua tamu undangan lain sudah tiba. Juhwan lah yang paling terlambat. Dari pihak serikat, Ketua Guild Purcell dan Leonard dari Perusahaan Dagang Miller akan hadir. Juhwan juga dengar ada beberapa orang tak dikenal yang ikut datang.
Sambil melihat para pelayan memindahkan barang, bahu Lizzie tampak sedikit turun, seolah kelelahan. Malam itu, seluruh keluarga tertidur pulas layaknya orang mati.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments