Bab 135: Kamu Tidak Bisa Menilai Seseorang dari Penampilannya
Semua orang tidak bersemangat.
Mereka akhirnya kembali ke kota, menyantap makanan yang lezat, dan punya segala alasan untuk hanyut dalam suasana perayaan yang riuh. Namun, seluruh keluarga itu malah menundukkan kepala, bahu mereka melorot lesu. Rasanya seakan-akan ada telinga kelinci yang terkulai lemas menempel di atas kepala Lizzie dan Dorothy. Telinga yang tidak seharusnya dimiliki manusia.
Yang benar saja. Apa penglihatanku memburuk akhir-akhir ini? Juhwan bergumam pada dirinya sendiri dan tertawa pelan. Itu bukan lelucon. Ia sungguh melihat ada telinga kelinci transparan yang menempel di kepala mereka.
Di belakang Lizzie, Dorothy, dan Oz, Yeonhwa berjalan bebas tanpa zirah atau tali kekang, hanya mengenakan kalung yang menandakan dirinya sebagai monster peliharaan.
Beberapa orang membuat keributan, meneriakkan kata-kata seperti unicorn dan hewan ajaib. Mereka pasti orang-orang yang baru saja tiba di kota ini. Kota ini cukup besar, tetapi saat ini, nyaris tidak ada penduduk sini yang tidak kenal Yeonhwa. Juhwan bisa mendengar orang-orang di dekat sana tertawa sambil memberikan penjelasan tentang unicorn itu kepada pendatang baru.
Penjelasan mereka juga dibarengi kalimat, "Kalau kau mendekatinya, dia bakal menggigitmu." Tampaknya insiden saat itu telah meninggalkan kesan yang sangat kuat di benak orang-orang.
"Apa-apaan? Hanya karena ini kota petualang, masa monster ajaib pun dihitung sebagai warga? Kenapa semua orang tenang-tenang saja? Itu unicorn tahu, sebuah unicorn! Makhluk legendaris! Saking spesialnya dia bikin kelinci bertanduk kelihatan biasa saja..."
Seseorang berbicara dengan nada tidak percaya. Ekor Yeonhwa mengibas dengan tajam. Apakah itu tanda sedikit kekesalan? Dorothy dan Oz senang saat perhatian orang-orang tertuju pada mereka, tapi Yeonhwa berbeda. Dia tampaknya tidak suka jadi pusat perhatian.
Ayah dan Ibu bilang mereka hidup jauh di dalam pegunungan hampir seperti bersembunyi gara-gara Yeonhwa, kan? Apakah itu sebabnya dia benci ditatap?
Mungkin Yeonhwa berpikir bahwa cara terbaik untuk hidup adalah dengan membaur diam-diam di antara manusia, tanpa terlihat mencolok.
Ketika mereka sampai di alun-alun tempat Guild berada, area tersebut sudah bising dari luar. Entah karena para petualang yang ikut penaklukan tidak muat di dalam Guild, atau karena mereka dilempar keluar, mereka memenuhi alun-alun, duduk, berdiri, dan mengobrol dengan suara keras.
Saat mereka melihat Juhwan, orang-orang itu melompat berdiri dan menundukkan kepala. Ada yang membungkuk begitu dalam hingga tubuh mereka hampir membentuk sudut siku-siku.
"Anda sudah datang, Tuan Penyihir." "Selamat datang kembali." "Selamat datang, Kapten."
Pasukan penakluk sudah dibubarkan, dan Juhwan hanya menjadi pemimpin regu ketiga. Selama penaklukan sebenarnya, tidak ada satu pun orang yang memanggilnya kapten. Terlebih lagi, lebih dari setengah orang yang menyapanya berasal dari regu penaklukan lain.
Sejak kapan ia jadi kapten dari gerombolan pria-pria berwajah sangar ini?
Juhwan melihat banyak dari mereka adalah orang-orang yang ia rawat lukanya atau ia tolong, jadi ia tidak berkata apa-apa dan hanya membalas bungkukan mereka sedikit.
Memanggilnya kapten dan membungkuk begitu dalam mungkin adalah cara mereka mengungkapkan rasa terima kasih. Sang Margrave telah membayar semua biaya pengobatan, jadi yang bisa mereka lakukan hanyalah menunjukkannya melalui tindakan mereka.
Para petualang menyeringai dan melemparkan sapaan pada Dorothy, Oz, dan Yeonhwa juga. Dorothy dan Oz, yang tadinya murung, mengangkat wajah mereka sedikit. Suasana hati mereka sepertinya agak membaik.
"Apa ada banyak orang di dalam?" Ketika Juhwan bertanya, para petualang itu tertawa.
"Enggak begitu banyak kok, tapi ada beberapa orang yang mulai bertengkar, jadi kami semua diusir keluar." "Rasanya makin hari sikap pihak Guild sama kita makin kasar saja," keluh seorang pria dengan wajah memar kebiruan, yang mungkin salah satu orang yang ikut bertengkar.
Orang-orang di sebelahnya langsung meninjunya satu per satu. "Dasar bajingan, itu semua gara-gara kamu." "Tidak menghunus pedang di dalam Guild itu aturan mutlak ke mana pun kamu pergi, dasar bodoh."
Bahkan para pria yang berdiri agak jauh ikut mendekat dan menampar punggungnya keras-keras satu per satu. Di saat yang sama, para petualang terus-menerus membungkuk hormat kepada Juhwan sebelum pergi berlalu.
Pada awalnya, mereka mungkin tidak begitu mengenal satu sama lain. Tetapi setelah terikat bersama sebagai pasukan penakluk, bertarung dan berjuang bersama-sama, mereka tampaknya jadi akrab. Mungkin begitulah jaringan koneksi di antara para petualang terbentuk.
Dan itu tidak terbatas hanya pada petualang saja. Para pengrajin dunia ini, penduduk biasa yang tinggal di kota, semuanya pasti sama. Pasti sangat sulit hidup di dunia ini tanpa punya koneksi semacam itu. Hampir semua urusan akan diselesaikan melalui relasi dari orang yang saling kenal.
Dan pada saat itulah, Juhwan sadar bahwa ia telah masuk jauh ke dalam jaringan para petualang tersebut.
Rasanya seolah ia telah diterima oleh dunia ini.
Awalnya ia berpikir ia akan puas asalkan ada keluarganya dan ia bisa menemukan Santa agar bisa menghidupkan orang tuanya kembali. Bahkan sekarang pun, itu sudah cukup. Ia tidak menginginkan hal lain.
Tapi diterima oleh masyarakat memberinya perasaan aneh yang spesial. Bagaimana ya cara mengatakannya? Rasanya seolah ia benar-benar telah menjadi bagian dari dunia ini.
Seperti satu kunang-kunang yang melayang di udara, sesuatu yang kecil bergerak jauh di dalam hatinya. Berkelap-kelip. Sesuatu yang kecil dan misterius muncul, menghilang, lalu berkilau lagi. Hal itu begitu kecil hingga ia ragu apakah itu punya makna, namun ia enggan menghilang. Alasan ia tak bisa menamainya adalah karena ini pertama kalinya ia merasakan hal ini. Sebelum ia punya keluarga, masyarakat dan hubungan dengan orang lain sama sekali tak berarti baginya.
Kini setelah keluarganya ada bersamanya, sesuatu yang lain mulai lahir dari hal tersebut. Sungguh perasaan yang aneh.
Menyembunyikan sedikit rasa malu akibat gejolak emosi itu, Juhwan memasuki Guild.
Bahkan di dalam, sapaan langsung dilemparkan padanya begitu orang melihatnya. Sebagian besar memanggilnya Penyihir atau Kapten.
Entah kenapa, Dorothy dan Oz, yang mood-nya telah membaik, berjalan di depan Juhwan dengan dada dibusungkan. Cara mereka berjalan dengan gaya sombong itu membuat mereka terlihat seperti kaisar telanjang dari buku dongeng. Tidak, mungkin lebih tepatnya ibarat rubah yang meminjam kewibawaan seekor harimau.
Karena tak bisa ikut masuk, Yeonhwa mengeluarkan ringkikan pelan yang terdengar hampir seperti decakan lidah dan dengan ringan menghentakkan kukunya ke tanah. Mungkin ia bergumam, Dasar orang-orang bodoh.
Saat Juhwan berjalan menuju meja resepsionis, si cerewet berhenti bekerja dan buru-buru menghampirinya.
"Selamat datang! Anda sungguh bekerja keras. Kami terus menerima laporan di sini, jadi saya tahu semua yang terjadi. Anda sungguh luar biasa. Memilih Tuan Juhwan sebagai kapten unit penaklukan adalah keputusan yang sangat bagus. Berkat Anda, lebih banyak orang kembali hidup-hidup dari penaklukan ini daripada yang diperkirakan. Benar-benar sangat beruntung. Ah, kami bisa langsung menyelesaikan upah hadiah Anda. Kami memang belum menerima uang dari Margrave, tapi Guild akan membayarnya pada Anda lebih dulu. Dan kami akan menagihnya pada Margrave belakangan."
Kata-kata pria cerewet itu meluap tanpa henti. Seperti biasa, orang ini tidak memberi lawan bicaranya kesempatan untuk bicara. Juhwan melihat pria cerewet itu hendak membuka mulut lagi, jadi ia buru-buru memotong duluan.
"Saya ingin mengajukan sebuah request (permintaan misi) hari ini." "Hah? Anda, Tuan Juhwan?" "Ya." "Hmm. Luar biasa. Kenapa tiba-tiba jantung saya berdebar? Sebuah request dari petualang Kelas Santa. Saya merasa akan ada sesuatu yang luar biasa yang keluar."
Mata pria cerewet itu berbinar saat ia mengambil kertas dan pena. Di bagian atas kertas itu tertulis kata Formulir Request.
"Apakah Anda ingin nama klien didaftarkan atas nama kelompok (party), atau nama pribadi, Tuan Juhwan?" "Keduanya boleh." "Baiklah. Kalau begitu mari gunakan nama kelompok."
Pria cerewet itu mencondongkan wajahnya ke atas meja resepsionis dan menatap Dorothy yang berdiri di sebelah Lizzie.
"Ah, saya juga dengar teman si nona kecil ikut main peran penting di penaklukan ini. Namanya Oz, kan? Nama si kelinci bertanduk? Saya dengar dia mematahkan kaki monster ajaib."
"Iya! Dorothy dan Oz latihan sama-sama tiap hari." "Ohh, sungguh menakjubkan. Sangat hebat." Pria cerewet itu tersenyum hangat, lalu kembali menatap Juhwan.
"Sebenarnya saya tidak terlalu suka anak-anak. Tentu saja, sampai detik ini pun, saya tetap tidak terlalu menyukai mereka. Anak-anak kan tidak bisa diajak bicara pakai nalar. Tapi Dorothy adalah seorang petualang. Walaupun masih anak-anak, dia tetap petualang sejati, jadi sesekali saya harus memberikan sedikit servis. Anak-anak jadi gampang senang kalau Anda memujinya atau bilang mereka hebat."
Kamu itu terlalu jujur. Saat Juhwan menatapnya tak percaya, Lizzie tertawa pelan.
Ucapan pria cerewet itu sepertinya terlalu panjang untuk ditangkap Dorothy. Dia hanya mendengar bagian awalnya, dan dengan diam-diam ia bertanya kepada Lizzie, "Ibu, apa paman Guild itu nggak suka sama Dorothy? Paman itu selalu senyum kalau lihat Dorothy, tapi sebenarnya nggak suka sama aku?" "Mm, Dorothy, itu..."
Lizzie memegang tangan Dorothy dan bergeser ke arah meja yang agak jauh. Sepertinya dia sengaja menjauh agar tidak mengganggu.
Melihat sekeliling, Juhwan menyadari bahwa pegawai Guild lain diam-diam telah mengusir orang-orang di dekat meja resepsionis untuk agak menjauh. Sekarang tidak ada siapa-siapa di dekat Juhwan.
Apakah ia sengaja mengajak bicara si anak agar mereka bisa membersihkan area itu selama prosesnya? Si cerewet mencelupkan penanya ke tinta dan membuka suara.
"Nah, mari kita lanjutkan mencatat request Anda. Apa yang ingin Anda minta?"
"Saya ingin mencari informasi tentang Desa Santa atau Santa itu sendiri. Bakal lebih baik kalau saya bisa menemukan orang yang tahu di mana Santa berada. Kalaupun tidak, saya mau bertemu dengan siapa pun yang tahu apa saja tentang Santa atau punya barang yang berhubungan dengan Santa."
Pria cerewet itu memiringkan kepalanya, lalu mengerutkan dahi. "Biasanya, kalau Anda mau cari informasi, cara tercepat adalah menyewa pialang informasi (information broker). Tapi Santa... itu bukan ranah yang biasa dipegang oleh pialang informasi. Sebagian besar pialang menjual info soal hal-hal yang sedang terjadi saat ini. Adventurers’ Guild juga biasanya tidak secara khusus berjualan murni soal informasi."
"Lalu apa yang harus saya lakukan?" "Pertama-tama, akan sangat baik untuk bertanya pada sang Guildmaster (Ketua Guild). Kami akan terima request ini sebagai masalah internal untuk saat ini. Saya akan kirim pesan ke ketua. Kalau soal urusan Santa, orang itu mungkin yang tahu paling banyak. Cuma, saya enggak tahu soal Desa Santa. Emangnya ada tempat bernama Desa Santa?"
Si pria cerewet bertanya seakan dia merasa itu aneh. Ketika Juhwan menceritakan tentang bagaimana dia menemukan jejak Desa Santa, mata pria itu terbelalak.
"Wah, aneh sekali. Begitu rupanya. Monster ajaib di dekat Desa Santa... Daerah sana sangat berbahaya sampai hampir tidak ada yang berani masuk jauh ke dalam. Orang-orang sama sekali tidak mendekatinya. Bahkan pasukan tentara pun tidak masuk ke tempat semacam itu. Mungkin itu sebabnya tidak ada yang tahu. Ah, paham. Jadi, daerah yang paling banyak sarang monsternya itu lokasi Desa Santa, ya. Hmm. Kalau begitu kasusnya, Guild tentu saja bisa mencari tahunya buat Anda. Kalau Anda suruh kami menunjukkan lokasi persis Santa, kami memang enggak tahu, tapi ya, kalau sebatas wilayah dengan jumlah monster ajaib yang tidak wajar banyaknya, kami tidak perlu membebankan biaya informasi pada Anda."
Si cerewet itu menulis sesuatu dengan tekun di formulir request, lalu mengangkat kepalanya. "Saya akan segera mengirim pesan ke beberapa cabang Guild. Setiap cabang biasanya memantau wilayah dengan jumlah monster ajaib terbanyak."
Pria itu kemudian menghela napas panjang. "Satu lagi, ada sebuah hadiah dari Margrave. Kudengar isinya adalah sebuah jubah bersulamkan lambang keluarga aslinya. Barangnya dibungkus, jadi saya belum membukanya, tapi saya sudah dengar penjelasannya dari kurir yang mengantarkannya. Katanya, desainnya cocok dipakai sama pakaian petualang, jadi Anda bisa memakainya santai-santai. Baju biasa butuh waktu untuk dibuat, jadi sepertinya mereka memilih ngasih jubah. Lagipula, membuat baju butuh pengukuran badan secara langsung dengan penjahit, makanya pilihan mereka jatuh ke jubah.
Mereka memang enggak bilang jujur, tapi sepertinya jubah ini sudah disiapkan dari jauh-jauh hari oleh pihak bengkel (workshop) jahit keluarga Margrave lalu baru dikirim ke sini. Sulam lambang keluarga kan bukan hal yang bisa dikerjakan instan. Pengrajin kelas atas harus menyulamnya dengan tangan satu per satu."
"Itu..." Tepat ketika Juhwan membuka mulutnya, pria cerewet itu langsung menggeleng.
"Kalau Anda berpikir untuk menolaknya, sama sekali tidak boleh. Tentu saja, sebagai petualang Kelas Santa, Anda memang tidak perlu merendahkan diri secara sembarangan pada kaum bangsawan. Sehebat itulah gelar Kelas Santa. Nanti saya akan jelaskan perlahan-lahan betapa luar biasanya Kelas Santa ini. Petualang Kelas Santa yang pertama itu sangat legendaris lho."
Pria cerewet itu mendesah panjang. "Tapi walau begitu, menolak pemberian Margrave tetap tidak bisa diterima. Anda harus menerima hadiah ini dulu. Dia bukan sekadar bangsawan biasa. Dia seorang Margrave. Anda mungkin tidak tahu Tuan Juhwan, tapi di negara ini, Margrave adalah bangsawan besar yang kekuatannya hanya berada satu tingkat di bawah Raja. Memang ada gelar Duke, tapi praktiknya, kekuatan Margrave jauh lebih kuat dari mereka. Wilayah kekuasaannya luas, tapi lebih dari itu, kekuatan militernya sangat luar biasa. Tidak peduli seberapa gencar musuh menyerang perbatasan, Margrave menangkis semuanya, makanya negara ini masih tetap utuh berdiri. Baik raja maupun para Duke tak ada yang berani meremehkan Margrave. Sepenting itulah posisinya."
Pria cerewet itu mengangkat bahu kecil, lalu nyengir. "Anda menerima jubah berukir lambang Margrave itu, jadi di luar Guild pun, Anda sekarang punya pelindung yang luar biasa. Harusnya Anda senang. Ah, saya juga dengar dia tidak cuma ngirim jubah buat Anda, tapi juga nyelipin hadiah barang-barang buat istri dan anak Anda. Entah apa isinya. Sepertinya Margrave sangat menghormati Anda, Tuan Juhwan."
"Mm. Tapi saya kan belum melakukan apa-apa." Mendengar ucapan Juhwan, pria itu diam-diam menatap wajahnya sejenak, lalu mengangguk.
"Sepertinya saya paham. Mungkin dia ingin bertarung latihan tanding melawan Anda kapan-kapan. Yah, saya sih ragu dia ngirim hadiah hanya karena hal itu, tapi pasti ada niat ke situ juga. Otak pria itu lumayan penuh sama otot. Dia si Otot-Tolol. Dia lebih suka bertarung daripada makan. Kalau dia tidak menjabat sebagai kepala keluarga, dia pasti sudah beralih profesi jadi tentara bayaran atau petualang."
"Kamu tahu banyak soal dia, ya." "Tentu, dia ayah saya."
"...Apa?" Juhwan merasa seolah telinganya salah dengar. Si pria cerewet hanya mengangkat bahu dan bicara seolah itu bukan apa-apa.
"Ada sedikit masalah, lalu saya bikin gara-gara dan akhirnya ditendang keluar keluarga." "Kalian... sama sekali tidak terlihat mirip."
Dilihat dari penampilannya saja, Juhwan tidak akan pernah berpikir mereka ayah dan anak. Berbeda dengan Margrave, pria cerewet ini benar-benar terlihat seperti petugas sipil biasa.
"Ah, itu karena saya mirip pihak ibu. Mungkin gara-gara itu juga, kekuatan bertarung saya sangat menyedihkan sejak lahir sampai-sampai orang-orang ragu apakah saya benar-benar anggota keluarga itu. Tapi berkat hal itu juga, sepertinya mereka justru punya ekspektasi lumayan tinggi pada saya. Mungkin mereka berharap saya bisa jadi pengurus administrasi yang kompeten. Toh, anggota keluarga yang lain semuanya gerombolan idiot berotot tanpa otak. Lagian kalau anggota keluargamu sendiri yang jadi asisten dan ngurus kerjaan penting, mereka enggak akan berkhianat, kan? Kyle, si pria mata keranjang licik itu juga dapat perlakuan khusus dan posisinya aman karena alasan yang sama. Dia dari keluarga cabang."
"Apa enggak apa-apa kamu cerita soal urusan rahasia seperti ini dengan santai?"
"Haha. Itulah makanya saya ditendang. Karena saya terlalu banyak omong. Para bangsawan kan punya rahasia yang tidak boleh dibongkar ke publik, tak peduli apa pun kebusukan yang mereka kerjakan di belakang layar. Semacam aturan tak tertulis. Sayangnya saya melanggar aturan itu..."
Si cerewet mendesah, lalu menyodorkan formulir request pada Juhwan. "Tolong dibaca dan tanda tangani. Kalau tidak bisa nulis, kami bisa bantu corat-coretkan sedikit, tapi yah, Anda bisa nulis kok, Tuan Juhwan."
Kertas itu berisi detail permintaan dan hal-hal yang perlu ditanyakan ke cabang Guild lain. Termasuk juga informasi soal Desa Santa yang ditemukan oleh Juhwan. Begitu Juhwan selesai menandatanganinya, si pria cerewet mengeluarkan sebuah kotak besar dari dalam.
"Ini hadiah dari Margrave. Karena ini menyandang lambangnya, mohon dijaga baik-baik agar tidak hilang. Kalau sampai ada bajingan nyasar yang dapat ini terus dipakai buat nipu orang-orang, bisa kacau balau nantinya."
Apa dia benar-benar harus menerimanya? Seolah menyadari pikiran Juhwan, pria itu menyeringai dan berkata, "Anda tidak akan pernah tahu apa yang bakal terjadi dalam hidup. Ini pasti bakal sangat berguna buat keselamatan istri dan anak Anda suatu hari nanti."
Setelah mendengar kalimat itu, Juhwan tak punya celah sama sekali untuk menolak.
"Ah, tapi urusan ini mungkin bakal sedikit merepotkan. Daerah dengan banyak monster ajaib biasanya berada di hutan perbatasan. Petualang pemburu monster memang bebas berburu di hampir semua wilayah, tapi ada banyak area terlarang di dekat perbatasan. Anda butuh surat izin. Masalahnya, perbatasan itu langsung berbatasan dengan negara musuh, jadi di kondisi normal sangat sulit buat dapat izin masuk..."
"Mari kumpulkan informasi dulu saja, jadi tolong sabar sedikit. Pasti ada cara buat dapat izinnya. Metode terbaik ya bertemu langsung dengan Margrave dan minta izin dari beliau."
Kalau Anda ngelakuin itu, si bajingan Kyle pasti bakal cari gara-gara lagi, gerutu pria cerewet itu pelan.
Awalnya Juhwan berpikir ia harus mencari informasi keberadaan Santa seorang diri. Ia sempat merasa sedikit kebingungan harus melangkah ke mana, tapi tampaknya Guild mau turun tangan membantunya secara aktif. Ia merasa sedikit lega. Rasanya seperti memiliki teman andalan di sisinya.
Tapi orang ini... tadinya kupikir dia cuma pria cerewet biasa yang tidak ada spesialnya, tapi ternyata dia orang yang luar biasa kan?
Mereka bilang kamu tidak bisa menilai seseorang dari penampilannya saja. Ternyata itu memang benar.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments