Bab 134: Pip? Pip Pip Pip?
Sumbu lampu yang berat oleh minyak mengembang dan menyusut seiring tarian nyala apinya. Sepertinya ada angin yang masuk. Ini memang musim semi, tapi angin malam masih terasa dingin.
Setelah menarik selimut menutupi Dorothy yang tidur dengan tangan dan kaki merentang lebar, Lizzie menarik tali penutup jendela kuat-kuat.
Berbeda dengan kamar lama mereka, penutup kayu di kamar ini posisinya agak tidak pas. Oleh karena itu, sudut-sudut kayunya terjepit kuat satu sama lain, namun justru menyisakan celah di bagian lain. Aliran angin tipis menyelinap masuk melalui celah tersebut. Jika ini musim dingin, dia tidak akan bisa membiarkannya seperti itu. Dia pasti harus menutupinya dengan kain atau sejenisnya.
Pemandangan di luar jendela juga berbeda. Tidak ada menara jam, melainkan sebidang tanah kosong tempat kereta-kereta kuda disimpan.
Karena kamarnya berada di ujung lantai dua, sinar matahari juga tidak masuk dengan baik. Karena rombongan pasukan penakluk, jumlah tamu meningkat, jadi mereka tidak bisa mendapatkan kamar yang lebih baik. Namun di antara kamar-kamar yang tersisa, kamar inilah yang tampaknya paling bersih.
Lizzie kembali ke tempat tidur dan memungut rompi kulit suaminya. Setelah bertarung melawan monster selama beberapa hari dan menjelajahi gunung, kulit rompi itu bernoda darah dan debu di sana-sini. Tas yang selalu dibawa Juhwan juga kondisinya sama.
Dia merasa seperti akan menangis.
Lizzie menggosok bagian yang kotor dengan sikat, dan menyeka bagian lainnya dengan kain basah yang telah ia peras kuat-kuat. Ada bagian yang tidak bisa ia lihat dengan jelas karena cahaya lampu redup. Ketika dia mendekatkan pandangannya untuk memeriksa, aroma yang dia pikir sudah memudar justru menusuk hidungnya dengan tajam.
Ini bau kematian. Saat pikiran itu terlintas, pandangannya langsung kabur.
Lizzie memejamkan mata erat-erat. Menangislah. Cepatlah menangis sampai tidak ada air mata yang tersisa. Sebelum suaminya kembali.
Dengan datangnya musim semi, penginapan telah menyiapkan bak dan air di belakang bangunan agar para tamu bisa mencuci diri. Karena ini adalah penginapan tempat banyak petualang menginap, fasilitas untuk mandi sepertinya adalah sebuah kebutuhan penting.
Juhwan telah pergi ke sana untuk mandi. Bahkan selama penaklukan, ia telah menyeka dirinya setiap hari dengan handuk basah, tetapi saat mereka tinggal di kabin, ia biasa memanaskan air dan mandi setiap hari.
Bagi Juhwan yang suka kebersihan, hidup berhari-hari tanpa bisa membersihkan diri dari kotoran pastilah menyiksa. Meskipun di luar sudah gelap, dia tetap keluar untuk mandi saat orang sudah mulai sepi. Masih butuh beberapa waktu sampai dia kembali.
Lizzie menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan air matanya tumpah ruah bagai banjir.
Kejadian kali ini benar-benar mengerikan. Mayat hidup (undead) yang ia lihat untuk pertama kalinya seumur hidupnya. Gerobak yang penuh sesak dengan tumpukan mayat. Semua itu terasa seperti kesialan yang mendekat dari ujung dunia.
Di desa terpencil yang jauh dari kota, cerita tentang perang datang paling lambat.
Di kampung halamannya, dan bahkan di desa tempat dia menikah, Lizzie hanya mengerti konsep peperangan secara samar. Para pria diseret pergi. Ladang-ladang hancur. Dia pikir perang hanya sebatas itu.
Namun di dekat perbatasan, benar-benar ada desa-desa yang tersapu oleh perang dan serangan monster. Ada jejak yang ditinggalkan oleh tentara musuh yang menyerbu.
Ada perbedaan besar antara sekadar tahu samar-samar dan melihatnya dengan mata kepala sendiri. Baru setelah melihatnya langsung, ia merasa seolah akhirnya mengerti apa itu perang yang sesungguhnya.
Undead, mayat, perang. Hal-hal itu menghantamnya sekaligus, membuatnya merasa seolah semua yang ada di sekitarnya sedang mengancam keluarganya.
Hiks, hiks. Dia menangis begitu kencang sampai suara aneh keluar dari tenggorokannya. Lizzie mengusap tangannya yang basah oleh air mata dengan kasar ke pakaiannya.
Juhwan itu kuat. Dia adalah penyihir api dan angin terkuat di dunia ini. Dia adalah penyihir penyembuh yang lebih hebat daripada pendeta terkenal sekalipun, mampu menyatukan daging yang terkoyak dan tulang yang patah dalam sekejap.
Tapi dia tetap manusia. Dia bukan dewa. Kalau dia terluka, dia berdarah. Kalau titik vitalnya terserang, dia bisa mati.
Ketika orang lain terluka, Juhwan bisa menyembuhkan dan menyelamatkan mereka. Tapi kalau dia yang terluka, siapa yang akan menyembuhkannya? Siapa yang akan menyelamatkannya? Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada orang di dunia ini yang bisa menyembuhkan sebaik Juhwan.
Begitu ia memikirkan itu, yang tersisa hanyalah rasa cemas dan ketakutan. Ia mungkin saja kehilangannya. Ketakutan itu menempel di belakang kepalanya bak bayangan hitam yang tidak mau hilang.
Di depan Juhwan, entah bagaimana dia bisa menyembunyikannya dan tersenyum, tapi saat dia memalingkan wajah, ketakutan itu merayap keluar lagi. Tidak peduli seberapa keras dia berusaha, dia tidak bisa menyingkirkannya.
Lizzie sedang terisak tak terkendali saat ia menyadari ada sesuatu yang lembut menyentuhnya. Dia mengangkat kepalanya.
Oz menatapnya dan mencicit, "Pip." Dia tampak khawatir. Lizzie menarik Oz ke dalam pelukannya.
"...Oz... Oz. Cepatlah jadi kuat. Tolong buat agar Juhwan tidak perlu terlalu khawatir. Tolong... jadilah cukup kuat agar dia tidak perlu meninggalkan Yeonhwa karena khawatir tentang kami. Cukup kuat supaya dia bisa berpikir tidak apa-apa membawa Yeonhwa bersamanya. Kumohon... jadilah sekuat itu."
Dia begitu kecil. Sangat kecil dan muda. Apa yang sebenarnya dia katakan pada anak semuda ini? Dia tahu itu bodoh. Tapi tetap saja, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memintanya.
Kalau Oz menjadi lebih kuat, Juhwan tidak akan terlalu khawatir. Kalau Juhwan yakin Lizzie dan Dorothy aman, maka di tempat yang berbahaya, Yeonhwa bisa ikut dengannya. Maka Juhwan akan jauh lebih aman daripada kondisinya sekarang.
"...Maafkan aku karena egois. Tapi tetap saja... kumohon." Saat Lizzie berbisik melalui air matanya, Oz memiringkan kepalanya.
"Pip? Pip pip pip?" Miring. Miring. Wajah kelinci putih itu condong ke kanan, lalu ke kiri. Dan sesaat kemudian, tanduk Oz bersinar merah.
Krak. Kaki piringan lampu di samping tempat tidur patah. Minyak lampu tumpah keluar. Nyala apinya hampir padam.
Lizzie bergegas meraih wadah lampu itu, sementara mata Oz berbinar seolah bangga pada dirinya sendiri. Dia mengeluarkan cicitan yang sedikit lebih keras. "Piiip!"
Mungkin dia salah paham dengan kata-katanya. Dia masih bayi, dan tak seorang pun tahu apakah dia dan Yeonhwa benar-benar mengerti bahasa manusia. Mungkin mereka hanya bereaksi pada suasana hati seseorang, alih-alih benar-benar mengerti kata-katanya.
Aku bodoh sekali. Pada saat Lizzie bergegas mengelap tumpahan minyak lampu dengan lap, air matanya sudah berhenti. Wadah lampu itu tidak bisa dipakai lagi sekarang, jadi mereka mungkin harus membayar sejumlah uang ganti rugi. Lizzie menatap diam-diam ke arah wajah Oz.
"...Maafkan aku. Aku baru saja ngomong sembarangan, ya? Maaf ya, Oz."
Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia benar-benar berharap Oz akan cepat tumbuh kuat. Dengan begitu, Juhwan bisa bergerak bersama Yeonhwa tanpa perlu terlalu khawatir. Kalau hal itu terjadi, semuanya akan baik-baik saja.
Oz mengeluarkan suara cicitan bangga yang kecil, lalu melompat ke arah Dorothy. Dia menggeliat masuk ke balik selimut. Setelah ekor bulat di bokongnya pun hilang di bawah selimut, suara kecil terdengar dari dalam.
Pip. Entah bagaimana, suara itu terasa seperti sedang memberitahunya untuk tidak khawatir. Seolah dia sedang membual bahwa dia sangat, sangat kuat.
Apakah dia sedang menghiburnya? Hatinya terasa sedikit lebih ringan.
"Terima kasih."
Sekarang, suaminya mungkin akan segera kembali. Lizzie bergegas mengelap wajahnya dengan handuk dan meraba dengan jari untuk memastikan apakah matanya bengkak. Sepertinya matanya sedikit sembap. Sambil memikirkan alasan apa yang harus ia berikan kalau suaminya bertanya, Lizzie memungut kembali rompi suaminya.
Geliat, geliat. Geliat, geliat. Lembut, geli, geli...
Oz, itu geli. Hentikan. Sesuatu yang berbulu halus bergerak di atas wajah Dorothy, lalu rasa geli menyentuh lehernya. Ekor Oz menyapu pipinya, dan tak lama kemudian, telapak kakinya mulai terasa gatal. Dia tidak bisa tidur.
Dorothy memaksa membuka mata yang masih menolak terbuka, lalu meraba-raba di balik selimut yang gelap. "Oz, sini. Aku nggak bisa raih kamu."
Tapi Oz tidak datang. Oz sedang duduk di atas kakinya, membuat suara-suara aneh seperti gong, gong, seolah-olah sedang buang air besar. Dia seketika sadar penuh.
"Oz, kamu lagi pup ya? Nggak boleh pup di dalam selimut. Nanti kalau ketahuan Ibu, kita dimarahi." Berbisik pelan, Dorothy menutup mulut dengan tangannya.
Seakan marah, Oz memukul-mukul kaki Dorothy dengan telapak kakinya secara cepat. Tap tap tap tap!
Dorothy selalu memikirkannya tiap kali melihat ini, tapi Oz sungguh sangat cepat. Kaki Oz sangat lincah. Keren banget.
Eh? Tapi di dalam selimut, tanduk Oz berkilauan. "Kenapa kamu pakai kekuatanmu?"
Ketika Dorothy berbisik, Oz mengerutkan hidungnya. Telinganya, yang sedikit kusut di bawah selimut, menegang seolah dia sedang mencoba bersikeras akan sesuatu.
"...Mm... latihan khusus?" "Pip!"
Wow. Jantungnya berdebar kencang. Latihan khusus di tengah malam. Rasanya ada hal hebat yang akan segera terjadi. Baiklah. Aku akan bantu. Dorothy menggeliat dan merangkak ke sebelah Oz seperti ulat. Saling berdekatan kepala dan berbisik satu sama lain, latihan khusus mereka pun segera dimulai.
"Satu, dua, tiga. Bagus. Sekarang. Aktifkan!" "Piiip!" "Ssst! Pelan-pelan. Kalau kita ketahuan, Ayah sama Ibu bakal dengar."
Latihan khusus di bawah selimut itu sangat menyenangkan dan keren. Cahaya merah yang berkilauan bersinar di dalam selimut layaknya bintang-bintang. Rasanya seperti mereka memasuki dunia penuh bintang.
Sesekali, dia penasaran apa sebenarnya yang sedang dibengkokkan oleh Oz. Tapi biarlah. Apa yang dia bengkokkan atau hancurkan tidaklah penting. Bagian yang keren adalah saat ini mereka berdua sedang melakukan latihan rahasia khusus bersama.
"Besok pagi, ayo kita tunjukkan hasil latihan khusus kita ke Ayah." Tap tap. "Hehe. Nanti Ayah pasti terkejut, kan?"
Dorothy berbaring dengan pipi menempel di kasur dan terkikik. Membayangkan mata Ayah dan Ibunya membulat karena terkejut melihat betapa hebatnya Dorothy dan Oz, membuatnya merasa sangat senang.
Mereka berlatih cukup lama, namun pada suatu titik, ia sepertinya tertidur. Cicitan Oz terdengar agak jauh.
Bagus, Oz. Kakak Dorothy mau tidur sebentar dulu nanti bangun lagi, kamu tetap kerja keras ya. Nanti pas aku bangun, kita latihan khusus bareng lagi.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Juhwan menatap kosong ke sekeliling ruangan, benar-benar tercengang.
Kaki kursi. Kaki meja lampu. Bahkan kaki tempat tidur yang ditiduri Dorothy dan Oz. Semua kaki perabotan patah terbelah.
Bukan hanya jadi satu bagian, tapi patah berkeping-keping. Krak, krak, krak, krak.
Satu-satunya yang masih utuh hanyalah tempat tidur yang ditiduri Juhwan. Pada pandangan pertama, mungkin terlihat seolah Oz sengaja tidak merusaknya agar tidak ketahuan, tapi bukan begitu. Oz tidak memiliki kelicikan sepandai itu. Kemungkinan besar, Oz membiarkannya utuh karena dia ingin Juhwan tidur nyenyak tanpa terbangun.
Fakta itu sedikit menghilangkan keinginan Juhwan untuk marah. Meski begitu, dengan banyaknya barang yang dirusak, Juhwan seharusnya terbangun, tapi ia tidak menyadarinya sama sekali. Sepertinya penaklukan kemarin membuatnya jauh lebih kelelahan dari yang ia duga. Atau mungkin ia terlalu santai karena ada Yeonhwa dan Oz.
Entah kenapa, Dorothy sepertinya bangun lebih awal. Sesuatu menggeliat di bawah selimut, lalu rambut yang mencuat ke segala arah seperti bulu angsa menyembul keluar. Hampir di saat bersamaan, dua telinga putih Oz juga muncul. Tapi mungkin karena Oz merasakan betapa tercengangnya Juhwan, telinganya terkulai lemas ke bawah.
Mata kelinci hitam itu dengan hati-hati menatap Juhwan. "Oz." Juhwan membuka mulut dengan nada suara yang tegas.
Anehnya, Lizzie justru menghampiri sisi Oz dan sedikit menundukkan kepalanya layaknya anak kecil yang sedang dihukum. "...Lizzie?"
Lizzie dan Oz sama-sama terlihat murung. Juhwan sama sekali tidak tahu alasannya.
Dorothy sepertinya menangkap suasana juga. Dengan ragu, dia berdiri berlutut di sebelah Lizzie dan menundukkan kepalanya dalam diam.
Betapa anehnya. Tanpa ia ketahui bagaimana mulanya, Juhwan seolah berada di posisi sedang memarahi Lizzie dan seluruh keluarganya. Juhwan menghela napas pelan. Tentunya Oz belum masuk ke fase pemberontak di umurnya yang baru empat setengah tahun, kan?
"Oz, kamu tidak boleh sembarangan merusak furnitur yang dipakai orang." Suara kecil yang sedih keluar dari mulut Oz.
Sepertinya itu bukan fase pemberontak. Ia mungkin saja salah paham mengenai sesuatu atau tidak menyadari apa yang ia lakukan. Karena Oz biasanya sangat tenang, pintar, dan patuh, Juhwan sering kali lupa kalau makhluk kecil ini masihlah bayi.
"Lain kali hati-hati, ya." "Pip."
Bersamaan dengan jawaban Oz, alis Lizzie sedikit turun. Ia memang tidak mengatakannya keras-keras, tapi wajahnya tampak seolah berkata, Maafkan aku.
Juhwan benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi perilaku mendadak Oz ini sepertinya berhubungan dengan Lizzie juga. Apakah ini berkaitan dengan kemurungan Lizzie kemarin?
Lizzie sepertinya ingin menyembunyikannya, jadi ia pura-pura tidak sadar, tapi kemarin Lizzie sangat sedih. Dia terus tersenyum di depan Juhwan, tapi dia bisa tahu. Bahkan ketika mereka pulang usai menyelesaikan penaklukan, wajahnya masih seperti itu.
Kejadian ini memang membuat perasaan Juhwan juga tidak enak. Bagi Lizzie, itu pasti terasa jauh lebih buruk.
Juhwan melingkarkan lengan di bahu Lizzie dan tersenyum lembut. "Meski begitu, kayaknya kita bakal diomeli pemilik penginapan."
Mereka mungkin harus membayar lumayan mahal sebagai ganti rugi semua ini. Lizzie sepertinya memikirkan hal yang sama, karena ekspresinya menjadi semakin memelas.
Beberapa saat kemudian, mereka harus pergi ke Guild. Saat mereka sedang merapikan barang dan bersiap, Dorothy dan Oz diam-diam menghilang. Ketika Juhwan melihat ke bawah melalui jendela, Dorothy dan Oz sedang duduk berlutut dengan sopan di depan Yeonhwa.
Yeonhwa menggaruk tanah sedikit kasar dengan kakinya. Surai putihnya berkibar. Entah dia benar-benar sedikit marah, atau sekadar pura-pura marah, bibirnya pun terlihat bergetar.
Kepala Dorothy dan Oz perlahan semakin menunduk. Melihat mereka seperti itu, ketiganya benar-benar terlihat seperti saudara kandung yang bisa saling berkomunikasi.
Saat Juhwan tertawa, Lizzie menghampiri sisinya dan menunduk melihat lewat jendela. "Yeonhwa benar-benar terlihat seperti kakak perempuan buat anak-anak itu, ya." "Benar, kan? Aku juga memikirkan hal yang sama."
Juhwan menarik pinggang Lizzie dan memeluknya erat, menyandarkan dagunya dengan ringan di atas kepala Lizzie yang kecil.
"Lizzie, ceritakan apa saja padaku. Kalau kau cemas, atau sedih, atau apa pun itu. Kita adalah suami istri, jadi kita harus melewati semuanya bersama-sama." "Oke."
Lizzie diam-diam menyandarkan kepalanya ke dada Juhwan. Untuk sementara waktu, keduanya berdiri seperti itu, melihat Yeonhwa, Dorothy, dan Oz dari balik jendela. Lalu mereka meninggalkan kamar.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments