Header Ads Widget

Chapter 133 - Pahlawan Harapan

 

Bab 133: Pahlawan Harapan

Dunia ini adalah tempat yang luar biasa suram.

Para ayah menjual putri mereka. Suami memukuli istri mereka hingga tewas. Keluarga menikahkan anak-anak mereka ke sana-kemari layaknya barang, semua demi kepentingan rumah tangga.

Ini adalah dunia yang lebih keras bagi perempuan untuk bertahan hidup, tapi itu tidak berarti mudah bagi laki-laki. Mereka bekerja tanpa istirahat dari pagi hingga matahari terbenam untuk menghidupi keluarga, dan kehidupan seperti itu berlanjut sejak saat mereka lahir hingga mereka mati.

Semua orang di dunia ini menderita.

Namun, bahkan di dunia semacam itu, ada orang-orang yang mengorbankan diri mereka untuk orang lain. Ada orang yang menjadi umpan demi seorang pemburu muda, memancing monster menjauh sembari menutupi bocah itu dengan darahnya sendiri.

Bocah yang berlumuran darah dan tanah itu terus menangis dan menangis. Dia terus berteriak sampai tenggorokannya tercekat dan suaranya tak mau keluar lagi.

"Paman mati untuk menyelamatkanku." "Paman yang selalu memarahiku dan bilang aku tidak akan bisa menjadi pemburu kalau aku bersikap seperti itu, dia pergi sendirian untuk memancing monsternya." "Kapten… untuk menyelamatkanku…" "Maafkan aku." "Maaf aku sudah bersikap sombong." "Seharusnya aku mendengarkannya. Maafkan aku karena tidak patuh." "Aku sangat menyesal Anda mati karenaku."

Juhwan menutup matanya.

Mungkin mereka mampu mengorbankan diri karena mereka yakin mereka tidak akan bisa selamat. Mungkin pengejaran dan amukan monster itu begitu tak henti-hentinya sehingga mereka menyadari bahwa tidak ada kesempatan bagi mereka untuk hidup.

Pemburu dan petualang berpengalaman, orang-orang yang telah berulang kali melihat rekan mereka tewas, mungkin bisa merasakan hal itu. Ada kemungkinan mereka mengetahuinya melalui insting.

Jadi mungkin mereka mengambil keputusan seolah-olah mereka terdesak ke dalamnya: jika mereka toh akan mati, mereka setidaknya harus mencoba menyelamatkan satu anak.

Namun walau itu benar, kenyataannya mereka telah menyerahkan nyawa mereka untuk orang lain. Itu bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh sembarang orang.

Hal ini membuat Juhwan berpikir bahwa dunia ini masih layak ditinggali. Setidaknya, orang-orang di sini cukup tidak egois untuk memilih menyelamatkan seorang anak ketika ada beberapa nyawa yang dipertaruhkan.

Saat anak laki-laki itu terus menangis dan meneriakkan kata maaf dengan suara parau, para pemburu menutup mulut mereka rapat-rapat dan hanya mengawasinya dalam diam.

Juhwan menghela napas pelan dan berjalan mendekati bocah itu.

Tubuh anak itu juga tidak sepenuhnya tanpa luka. Dia terpotong dan terkoyak di beberapa tempat, dan darah mengalir darinya. Kakinya patah total, tulang putih menembus kulitnya.

Tapi dia sepertinya tidak merasakan sakit itu. Rupanya, ketika hati terlalu sakit, otak melupakan rasa sakit pada tubuh.

Juhwan memegang kaki anak laki-laki itu, yang bengkok di sudut yang aneh.

Jika dia menyembuhkannya seperti ini, kaki itu akan tersambung dengan bentuk yang aneh tersebut. Ia harus mengaturnya dengan benar sebelum menggunakan sihir.

Anak laki-laki itu masih menangis terisak-isak dengan suara serak. Dia menangis sambil menatap langit, lehernya menekuk ke belakang begitu jauh sampai terlihat seolah-olah bisa patah. Menyadari apa yang akan dilakukan Juhwan, sang kakak memeluk tubuh anak itu erat-erat.

"Ini akan sakit. Tahan sebentar." "Ya. Terima kasih."

Yang menjawab Juhwan adalah sang kakak. Masih menahan dahi adiknya yang menangis dengan satu tangan, ia berbicara dengan lembut padanya.

"Kakak tahu. Kakak tahu kau menyesal. Kakak mengerti. Tapi berhentilah menangis sekarang. Kebaikan yang kau terima hari ini, kau bisa membalasnya kepada anak lain suatu hari nanti. Kakak juga akan melakukannya. Kau dan aku. Ayo kita hidup seperti itu."

Membiarkan kata-kata sang kakak melewati telinganya, Juhwan mengembalikan posisi kaki bocah itu dengan benar. Terdengar bunyi retakan yang ngilu dari kaki itu, dan bocah tersebut menjerit. Sepertinya tubuhnya yang kelelahan tidak bisa lagi menahan rasa sakit. Matanya memutih, dan tubuhnya menjadi lemas.

Mungkin ini lebih baik. Ketika dia bangun setelah tidur, rasa sakitnya akan hilang.

Juhwan menyejajarkan tulang-tulang itu serapi mungkin agar kaki bocah itu bisa sembuh dengan baik. Kemudian dia meletakkan tangannya di tubuh anak itu dan menuangkan mana ke dalamnya. Luka anak laki-laki itu perlahan mulai kembali ke keadaan semula. Di bawah kulit yang terbuka, Juhwan bisa melihat tulang-tulang itu kembali menyatu.

Di masa lalu, hal seperti ini akan mengharuskannya untuk mengulang sihir penyembuhan beberapa kali. Sekarang, semuanya terjadi sekaligus. Sepertinya sama seperti ketika dia menjadi lebih mahir dengan sihir lain, kemampuan penyembuhannya juga telah meningkat. Bukannya jumlah mana-nya bertambah, tapi terasa seolah dia menjadi lebih ahli menggunakannya.

Para pemburu yang menonton di dekat sana bergumam kaget.

Juhwan membagi aliran mana menjadi beberapa gelombang dan menuangkannya ke dalam tubuh bocah itu sebelum akhirnya menarik tangannya.

"Aku telah merawat semua luka pentingnya. Sisanya bergantung pada kekuatannya sendiri. Biarkan dia istirahat dengan baik dan beri dia makanan bergizi. Dia tidak boleh memaksakan diri atau banyak bergerak."

"Terima kasih. Terima kasih... Penyihir." Mendengar suara kakak bocah itu, Juhwan bangkit dari tempatnya.

Pegawai Guild telah menyiapkan beberapa gerobak. Terakhir kali, hanya mayat yang dimuat berjajar, tetapi kali ini, ada satu orang hidup yang ditempatkan di atas gerobak.

Seolah mengawal gerobak itu, para pemburu mengelilinginya dan berjalan perlahan menyusuri jalan hutan. Suasana berat di sekitar mereka sedikit mereda. Bagaimanapun situasinya, manusia selalu mencari harapan.

Fakta bahwa anak laki-laki itu kembali hidup-hidup adalah hal yang sangat membahagiakan, tidak hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi yang lain. Sesekali, tawa pecah di antara mereka.

Seorang karyawan Guild yang berjalan agak jauh dari para pemburu menghela napas panjang. Juhwan samar-samar bisa mendengarnya bergumam.

"Apa yang harus kukatakan kepada keluarga korban?"

Ah, itu benar. Karyawan Guild adalah pihak yang akan memberitahu keluarga korban tentang kematian tersebut. Jika ada pemburu atau petualang yang dekat dengan almarhum, mungkin orang-orang itu yang akan memberi tahu mereka lebih dulu. Tetapi pihak yang mengantarkan tabungan almarhum atau uang kompensasi adalah karyawan Guild. Pada akhirnya, Guild yang harus mengurus semuanya. Merekalah yang akan menyampaikan akhir yang tragis dan menerima semua kebencian.

Wajah para keluarga korban tumpang tindih dengan wajah Lizzie. Ketika Juhwan berpikir bahwa jika dia mati, orang yang akan menerima kabar dari Guild adalah Lizzie, hatinya menjadi seberat batu.

Lizzie dan Dorothy sedang menunggu di desa yang digunakan sebagai markas penaklukan.

Setelah berjalan cukup lama diiringi suara gerobak yang berderak, desa akhirnya terlihat di kejauhan. Juhwan sedikit memperbaiki ekspresinya. Dia tidak ingin menemui istri dan anaknya dengan hati yang hitam dan menyedihkan. Ketika dia bersama mereka berdua, dia hanya ingin menunjukkan sisi cerianya.

Saat mereka semakin dekat ke desa, hal pertama yang ia lihat adalah Dorothy berlarian bersama Oz.

"Ayah!"

Saat Dorothy melihat Juhwan, dia melambaikan kedua tangannya dengan sekuat tenaga dan berlari mendekat. Pemandangan dirinya berlari begitu keras, dengan roknya yang berkibar, membuatnya tampak seperti ornamen malaikat kecil yang tergantung di pohon Natal.

Malaikat kecil yang agak nakal.

Juhwan merentangkan tangannya lebar-lebar dan mengangkat Dorothy ke dalam pelukannya. Kemudian ia menoleh ke samping dan menggendongnya di satu tangan agar mata anaknya tidak melihat mayat-mayat tersebut.

Gerobak-gerobak itu ditutupi dengan kain tebal, tapi siapa pun tahu isinya mayat. Bahkan anak kecil pun akan mengerti.

Sejenak kemudian, Oz berlari mendekat dan melompat ke arahnya. Setelah mendarat ringan di pelukan Dorothy, Oz menundukkan telinganya ke belakang dan mengendus Juhwan sambil merengek pelan. Sepertinya dia senang bertemu dengannya setelah beberapa hari berpisah.

"Apa kau mendengarkan Ibu dan jadi anak yang baik?"

"Iya! Ayah! Dorothy beneran, beneran anak baik. Aku bahkan menjahit sama Ibu! Dorothy sangat pintar menjahit. Nanti aku buatkan baju untuk Ayah juga." "Ayah akan menunggunya."

Saat Juhwan tertawa, mata Dorothy membulat dan dia mengangguk sungguh-sungguh. "Ibu bilang Dorothy jauh lebih pintar menjahit daripada Ibu. Ibu memuji aku banyak sekali."

Pemandangan itulah yang sangat ingin ia lihat. Saat ia berjalan sambil mengelus kepala anaknya dengan satu tangan, Lizzie berdiri agak jauh, memperhatikannya dalam diam.

Tatapan Lizzie sesaat beralih ke kereta yang membawa mayat sebelum dengan cepat berpaling. Wajahnya sedikit mendung. Namun saat dia mendekat, dia tersenyum cerah.

"Kau sudah bekerja keras." "Pasti sulit mengurus Dorothy sendirian."

Sebelum Lizzie bisa menjawab, Dorothy mendongakkan kepalanya dengan tajam. "Bukan, Ayah! Dorothy bukan anak kecil. Aku sudah jadi seorang wanita sekarang. Kalau bisa menjahit, berarti kamu seorang wanita dewasa." "Masih terlalu dini bagimu untuk menjadi wanita dewasa. Kalau Dorothy tumbuh terlalu cepat, Ayah akan sedih."

Ketika Juhwan tertawa, Dorothy mengibaskan rambutnya yang seperti permen kapas dan tersenyum cerah. "Kalau Dorothy jadi wanita, berarti Ayah jadi ayah dari wanita dewasa! Itu hal yang sangat bagus. Sangat, sangat luar biasa."

Gadis kecil itu tampaknya benar-benar percaya akan hal itu. Dorothy mengoceh beberapa kata lagi, lalu menyelinap keluar dari pelukan Juhwan dan melompat turun. Dia berlari pergi bersama Oz lagi.

Sambil menatap punggung anak itu saat dia berlari menjauh, Lizzie bertanya dengan pelan. "Apakah ada yang selamat...?" "Kami menemukan satu orang."

Lizzie melingkarkan lengannya di pinggang Juhwan dan memeluknya erat. Juhwan membalas pelukannya dalam diam untuk beberapa saat.

Agak jauh dari sana, Dorothy tertawa ceria. Entah kapan, dia mengambil cabang pohon yang panjang. Setiap kali Dorothy memberi aba-aba, Oz mematahkan cabang itu sedikit demi sedikit. Beberapa pemburu mengobrol dengan Dorothy dan tersenyum simpul.

Bicara dengan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa rasanya membuat realitas sedikit memudar. Tragedi yang terpampang nyata tepat di sebelah mereka menjadi sedikit kabur. Tepat seperti Juhwan, orang lain mungkin merasakan hal yang sama.

Di dunia manapun, anak-anak adalah penyelamat.

Setelah membereskan semua barang bawaan yang tertinggal di markas penaklukan, semua orang berangkat bersama keesokan harinya. Mayat-mayat itu dimasukkan ke dalam tas kain bersih berukuran besar dan dibagi ke beberapa gerobak.

Tujuan mereka adalah desa petualang tempat Guild berada. Setelah mereka menerima upah dan menyelesaikan urusan administrasi di sana, misi yang panjang dan suram ini akhirnya akan usai. Jalan yang mereka tempuh dengan derak suara gerobak mayat itu sangat gelap dan menekan.

Di luar desa petualang Bern, para pengungsi masih berkumpul dalam jumlah besar. Monster itu memang telah ditaklukkan, namun rumah-rumah orang yang tinggal di sana sudah hancur, membuat mereka tidak memiliki tempat tujuan. Mungkin karena itu, jumlah pengungsi justru tampak sedikit meningkat.

Juhwan berpisah dengan yang lain dan menuju penginapan. Kamar yang biasa dia tempati sudah dipesan oleh orang lain, jadi Juhwan menyewa kamar yang berbeda. Sepertinya beberapa petualang yang ikut penaklukan tersebut sedang berbagi kamar.

Baru setelah mereka meletakkan barang bawaan di kamar, turun ke restoran di bawah, dan memesan menu spesial hari itu, ketegangan akhirnya hilang dari bahunya. Rasanya seperti sudah pulang ke rumah.

Lizzie tampak merasakan hal yang sama. Ekspresinya sedikit rileks. Namun, sementara itu, harga makanan rupanya naik sebesar satu koin kecil.

"Maafkan saya. Harganya naik banyak sekali. Enggak mau turun-turun." Pemilik penginapan itu menghela napas menyesal. "Sebagai gantinya saya beri daging tambahan."

Menu hari ini adalah semur dengan daging, sayuran, dan bumbu herbal, disajikan dengan roti panggang buah tin kering.

Keduanya adalah makanan yang sangat disukai Dorothy. Dia terutama menyukai roti buah tin, yang langka. Itu hanya muncul sesekali, jadi Dorothy sangat senang.

Dorothy menggembungkan pipinya seperti tupai saat ia buru-buru memakan semur dan roti buah tin tersebut, sementara Juhwan dan Lizzie menikmati makanannya dengan lebih santai.

Ada cukup banyak orang di restoran tersebut. Ini sepertinya kondisi paling ramai yang pernah Juhwan lihat selama dia menginap di sini. Sebagian besar tampaknya adalah orang-orang yang hanya datang untuk makan, bukan tamu yang menginap.

Jika ia duduk diam, ia bisa mendengar orang-orang mengobrol di sana-sini.

"Syukurlah negara kita sekarang punya Pahlawan juga." "Tapi kudengar dia awalnya adalah Pahlawan Kerajaan Tyrone." "Katanya Tyrone penuh dengan bajingan jahat, jadi dia meninggalkan mereka dan datang ke sini." "Kudengar raja kita mengirim ksatria dan tentara untuk menyelamatkannya." "Ya, aku juga dengar begitu." "Katanya dia sebenarnya adalah Pahlawan negara kita dari awal, tapi para bajingan itu menyeretnya secara paksa." "Syukurlah. Apa yang akan terjadi kalau dia tetap ditahan di sana? Dia pahlawan perempuan... Pasti akan mengalami kejadian mengerikan."

Apakah ada hal lain yang terjadi saat ia pergi bersama pasukan penakluk? Juhwan tidak mengerti mengapa Pahlawan dari negara musuh tiba-tiba datang ke negara ini. Karena tidak ada internet atau TV di dunia ini, jika seseorang tidak mendengar rumor, mereka benar-benar akan tertinggal dan tidak tahu apa-apa.

Saat itu, sang pemilik penginapan mendekat membawa dua cangkir kayu besar.

"Astaga, kalian bekerja sangat keras. Saya dengar cerita para petualang yang kembali lebih awal. Mereka bilang perjalanannya sangat luar biasa. Ini gratisan dari saya. Saya senang monsternya sudah dibunuh."

Cangkir kayu itu berisi anggur. "Terima kasih. Omong-omong, apa ada sesuatu yang terjadi? Saya dengar Sang Pahlawan datang ke negara kita."

Ketika Juhwan bertanya, pemilik penginapan itu berseru kaget dan menepuk pahanya sendiri. "Kalian belum tahu? Tahu 'kan kalau desa kita ini punya kuil? Bangunan putih agak ke dalam dari alun-alun pusat itu. Katanya para pendeta di sana baru saja mengumumkannya. Ada wahyu ilahi bahwa Sang Pahlawan akan datang ke negara kita."

Pemilik penginapan itu menggelengkan kepalanya. "Yah, para bajingan jahat itu—maksudku bajingan Tyrone—kabarnya mereka menculik Pahlawan yang seharusnya datang ke negara kita. Entah apa yang mereka lakukan, tapi mereka menyeretnya pergi. Itulah sebabnya Tyrone punya dua Pahlawan. Padahal kan bukan begitu aturannya. Saya tidak pernah dengar ada satu negara punya dua Pahlawan. Saya sudah berpikir ada yang aneh."

Pemilik penginapan itu menggerutu marah, mengepalkan tinjunya dan mengayunkannya ke udara. Tampaknya cerita itu telah menyebar ke seluruh negeri melalui kuil.

"Begitu rupanya. Sungguh kejadian yang luar biasa."

Juhwan sudah beberapa kali mendengar tentang para Pahlawan. Berambut hitam dan bermata hitam. Berdasarkan apa yang ia dengar, tidak diragukan lagi bahwa Pahlawan itu berasal dari Bumi. Kemungkinan besar dari Asia Timur juga.

Aku ingin bertemu dengannya setidaknya sekali.

Ia tidak punya keterikatan yang tertinggal pada Bumi, tapi wanita itu berasal dari tempat yang sama dengannya. Ia setidaknya punya sedikit rasa penasaran.

Siapa tahu? Waktu dia berada di negara musuh, kupikir tidak ada kesempatan untuk bertemu, tapi kalau dia ada di negara yang sama sekarang...

Selain itu, ada hal yang ingin ia tanyakan kalau mereka bertemu. Ia ingin bertanya apakah Pahlawan yang datang ke sini itu benar-benar seorang ahli Necromancer (Sihir Kematian/membangkitkan mayat hidup), dan jika iya, apakah ia mengerti kondisi dari mayat hidup yang ia ciptakan. Juhwan tidak percaya seseorang yang pernah tinggal di Bumi akan dengan sengaja melakukan hal sekejam itu. Kalau penggunanya tidak tahu, maka ia harus memberitahunya.

"Sekarang karena Sang Pahlawan sudah datang ke negara kita, hal-hal baik akan terus terjadi. Pahlawan adalah hadiah dari Tuhan. Selalu begitu dari dulu. Ketika Pahlawan datang, panen akan melimpah dan hujan turun saat kemarau. Serangan monster juga akan berkurang. Keberadaannya saja akan membawa berkah bagi negara kita."

Pemilik penginapan tersenyum cerah.

Di luar desa, masih ada para pengungsi. Karena kemarau panjang, curah hujan sangat kurang. Harga-harga terus naik, membuat hidup orang-orang semakin sulit. Namun, Juhwan merasa aneh karena suasana di antara penduduk tampaknya terang benderang.

Rupanya, itu karena Sang Pahlawan. Jika ada sesuatu yang bisa menjadi harapan bagi orang-orang, maka itu adalah hal yang baik.

Juhwan tersenyum lembut. "Syukurlah Sang Pahlawan telah tiba." "Bukan main, kan? Akhir-akhir ini isinya berita buruk saja, jadi kedatangannya ini benar-benar melegakan."

Sang pemilik penginapan melintasi restoran itu dengan langkah kaki yang riuh dan energik. Saat ia membawakan makanan kepada tamu yang memesan, langkah kakinya terlihat sangat ringan.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments